Sang Penelan Pusaka

Bab 99Ujian Murid Luar

Halaman utama padepokan penuh untuk kedua kalinya dalam dua hari.

Tetapi pagi ini berbeda. Kemarin, orang-orang datang dengan wajah tegang dan berbisik-bisik tentang maling. Pagi ini, mereka datang dengan wajah bingung dan berbisik-bisik tentang kentongan lima kali panjang. Hampir tak ada yang tahu artinya. Bahkan banyak abdi tua yang sudah empat puluh warsa tinggal di lereng Lawu menggaruk-garuk kepala.

"Terakhir kali kentongan dipukul lima kali," kata Mbok Darsih dengan suara berbisik yang terdengar sampai tiga baris ke depan, "waktu aku masih gadis. Waktu Ki Ageng yang lama wafat dan Ki Ageng yang sekarang diangkat."

"Ki Ageng wafat?" Gendhing memekik.

"Bukan, bodoh. Ki Ageng masih berdiri di sana. Lihat."

Memang. Ki Ageng Suryadharma berdiri di serambi balairung, di depan dinding berukir matahari, sama seperti kemarin. Tetapi wajahnya tidak lagi seperti orang yang rumahnya baru dirampok. Wajahnya seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak akan mengubahnya.

Dira berdiri di barisan abdi paling belakang.

Berdiri. Bukan berjongkok. Dengan tongkat di tangan kiri, tetapi kaki kirinya menapak tanah, menanggung sebagian kecil berat tubuhnya. Setiap beberapa tarikan napas, ia memindahkan sedikit lagi beratnya ke kaki itu, dan setiap kali, betisnya bergetar, tetapi bertahan.

Di sampingnya, Gendhis menatap kakinya. Lalu menatap wajahnya. Matanya menyipit.

"Kau berdiri," bisiknya.

"Sedikit."

"Kemarin kau jatuh seperti karung goni di depan lima ratus orang."

"Semalam aku keringatan banyak."

Gendhis menatapnya lebih lama. Lalu ia mengendus udara di dekat Dira. Wajahnya mengernyit.

"Itu bau apa?"

"Mbah Karta bilang seperti kandang Ji setelah musim hujan."

"Mbah Karta terlalu sopan."


"Dua ratus warsa yang lalu," kata Ki Ageng Suryadharma, dan halaman langsung sunyi, "pendiri padepokan ini datang ke lereng Lawu dengan tiga orang murid dan satu keris. Ia membangun tiga gubuk bambu. Ia menanam pohon sawo di dekat sumur. Dan ia menuliskan satu aturan di atas batu, di depan gubuk pertama."

Ia berhenti.

"Lawang Argasuryan menga kanggo sapa wae sing kuwat ngethuk."

Hening.

"Pintu Argasuryan terbuka bagi siapa pun yang sanggup mengetuknya," terjemahkan Ki Ageng pelan. "Siapa pun. Tidak hanya anak yang dipilih pusaka di altar, atau putra tetua dan putri bangsawan. Siapa pun."

Bisik-bisik mulai bergerak di halaman seperti angin di atas sawah.

"Selama dua ratus warsa, aturan itu dijalankan. Setiap tujuh warsa, padepokan ini membuka Ujian Murid Luar bagi siapa saja. Anak petani. Anak pandai besi. Anak abdi. Siapa pun yang lulus menjadi murid luar, dengan pusaka atau tanpa pusaka." Ki Ageng menatap halaman. "Lalu, empat puluh warsa yang lalu, aturan itu berhenti dijalankan. Bukan dihapus. Tidak ada yang berani menghapus aturan pendiri. Hanya berhenti. Karena para tetua waktu itu berpikir, padepokan sebesar Argasuryan tidak perlu lagi anak-anak dari luar. Cukup anak-anak yang dipilih pusaka."

Ia diam sebentar.

"Dua hari yang lalu, keris yang dibawa pendiri ke lereng ini hilang dari tempatnya. Dan aku bertanya pada diriku sendiri: kapan terakhir kali padepokan ini mendengarkan pendirinya?"

Halaman itu sangat sunyi sekarang.

"Tiga puluh hari dari hari ini," kata Ki Ageng, "pada hari Anggara Kasih, Ujian Murid Luar akan dibuka kembali. Terbuka bagi siapa pun yang berumur antara lima belas dan dua puluh lima warsa, yang tinggal di dalam tembok padepokan ini atau di desa-desa di kaki Lawu. Abdi. Anak desa. Siapa pun. Pendaftaran dibuka mulai besok fajar, di papan kayu di gerbang lapangan murid luar."


Halaman meledak dalam keributan.

Ratusan orang berbicara sekaligus. Para abdi saling pandang dengan mata membelalak. Murid-murid luar saling sikut. Di barisan murid dalam, beberapa orang tertawa dengan nada mengejek, beberapa lagi mengerutkan dahi.

Dira tidak bergerak.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak sudah berdiri tegak di atas potongan dahannya, dan bulu-bulunya mengembang perlahan, satu demi satu, seperti burung yang baru saja melihat langit terbuka.

"Bocah," bisiknya.

Aku dengar.

"Bocah."

Aku dengar, Ki Jalak.

"Siapa pun."

"Ayah."

Suara Raden Bayuwisesa memotong keributan seperti pisau memotong benang. Ia melangkah maju dari samping Ki Ageng. Wajahnya dingin, tetapi suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.

"Ujian Murid Luar memerlukan pusaka. Setiap murid luar memakai pusaka di lapangan. Abdi tidak punya pusaka. Anak desa tidak punya pusaka. Bagaimana mereka akan..."

"Ujian itu," kata Ki Ageng, "tidak pernah bertanya tentang pusaka. Pendiri padepokan ini menulis kuwat ngethuk. Sanggup mengetuk. Bukan dipilih pusaka." Ia menatap putranya. "Peserta tanpa pusaka boleh memakai senjata biasa. Tongkat. Golok. Tangan kosong. Kalau mereka lulus, mereka akan menjadi murid luar. Dan setelah menjadi murid luar, mereka boleh berdiri di depan altar sekali lagi, pada upacara pemilihan pusaka berikutnya."

Bayuwisesa terdiam.

"Ki Ageng." Ki Wiradhana sudah bangkit dari tikarnya. Wajahnya bersinar, penuh semangat seorang kakek yang mendengar kabar gembira. "Keputusan yang luar biasa. Luar biasa! Saya sudah lama berharap padepokan ini kembali kepada aturan pendirinya. Saya sendiri yang akan membantu persiapannya, kalau Ki Ageng mengizinkan."

Ki Ageng menatapnya sebentar. "Terima kasih, Ki Wira."

Ki Wiradhana membungkuk dan duduk kembali, masih tersenyum lebar.

"Itu," kata Ki Jalak pelan, bulu-bulunya yang tadi mengembang mulai turun sedikit, "bukan senyum orang yang senang mendengar aturan pendiri. Itu senyum orang yang baru melihat pintu terbuka di tempat yang tidak dia duga. Hati-hati, bocah. Pintu yang terbuka untukmu, terbuka juga untuk orang lain."


Dira tidak tahu ia sedang menatap ke serambi sampai ia menyadari Ki Ageng menatapnya balik.

Hanya sebentar. Hanya sekejap. Di tengah keributan, di antara ratusan kepala, mata ketua padepokan itu menemukan abdi kurus bertongkat di barisan paling belakang dan berhenti di sana. Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada isyarat. Hanya tatapan, sekejap, seperti orang yang memastikan sesuatu masih ada di tempatnya.

Lalu tatapan itu berpindah.

Dira menoleh ke barisan tetua.

Nyai Rukminiwati duduk tegak di atas tikarnya. Wajahnya menatap lurus ke depan. Tidak ke Ki Ageng. Tidak ke Dira. Tetapi rahangnya terkatup begitu keras sampai otot di pipinya menonjol, dan tangan kirinya, yang terlipat di pangkuan di atas tangan kanan yang terbebat, mencengkeram kain sogannya sampai kusut.


"Aku mau ikut," kata Gendhing.

Mereka sedang berjalan kembali ke dapur. Abdi-abdi lain berjalan di sekitar mereka, masih ramai membicarakan pengumuman tadi. Beberapa abdi muda tertawa-tawa membayangkan diri mereka memakai udeng biru murid luar.

"Kau?" Gendhis menatap saudaranya. "Kau mau ikut Ujian Murid Luar?"

"Kenapa tidak? Aku umur sembilan belas. Aku kuat. Aku bisa mengangkat dandang besar sendirian."

"Kau pingsan waktu Mbah Karta menyembelih ayam."

"Itu karena ayamnya menatapku!"

"Kau lari waktu Ji mengembik."

"Ji itu buta kala berkaki empat!"

"Kau menangis waktu kupukul dengan ulekan."

"Itu bukan menangis! Itu kepalaku mengeluarkan air karena kaget!"

Dira tertawa. Ia tidak bisa menahannya. Tawanya keluar keras dan tiba-tiba, dan beberapa abdi menoleh kepadanya dengan heran, karena abdi yang kemarin hampir diusir tidak seharusnya tertawa seperti itu.

Lalu, dari arah serambi balairung, suara serak yang dikenal seluruh padepokan memecah udara pagi.

"AKU JUGA MAU IKUT!"

Ki Tirtakusuma. Berdiri di ujung serambi dengan selendang terbalik, mengacungkan tongkat kayunya ke udara.

"Ki Tirta," kata tetua di sampingnya dengan sabar, "ujian itu untuk yang berumur lima belas sampai dua puluh lima warsa."

"AKU MASIH DUA PULUH LIMA!" teriak Ki Tirtakusuma. "DI DALAM! TULANGKU SAJA YANG SEMBILAN PULUH!"

Kali ini seluruh halaman tertawa.


Mbah Karta benar. Dira lapar seperti lima orang.

Ia makan di bangku sudut dapur ketika matahari sudah tinggi. Satu piring nasi. Lalu dua. Lalu tiga. Lalu Mbah Karta, tanpa berkata apa-apa, mendorong seluruh dandang kecil ke depannya, dan Dira makan langsung dari dandang dengan sendok kayu besar.

Gendhing menatapnya dengan mulut menganga.

"Kau," katanya pelan, "kau sudah makan empat piring."

"Lima," kata Gendhis, yang sedang mencuci tampah dan dandang selamatan dengan wajah masam. Hukuman dari Ki Ageng. "Dengan yang di dandang ini, lima."

"Ke mana perginya? Kau kurus seperti bambu!"

Dira tidak tahu. Ia hanya tahu perutnya terasa seperti lubang tanpa dasar, dan setiap suap nasi yang masuk ke sana langsung berubah menjadi hangat, lalu mengalir, ke mata air di bawah pusarnya, lalu ke lengan, ke kaki, ke betis kirinya yang masih lemah. Setiap suap membuat betis itu sedikit lebih kuat.

"Meridianmu yang baru dibuka sedang lapar," kata Ki Jalak. "Seperti sawah yang baru dibajak. Tanahnya terbuka, dan ia mau minum air sebanyak-banyaknya. Makan, bocah. Makan semua."

Dira makan semua.

Di sudut dapur, Mbah Karta mengaduk dandang kedua tanpa menoleh, dan bersiul pelan. Siulan jalak kebo, naik turun. Siulan yang terdengar sangat puas.


Wulansari datang menjelang sore. Satyaki di belakangnya, membawa sebungkus kacang rebus, karena ia tahu Dira suka kacang.

"Kau akan mendaftar," kata Wulansari.

Bukan pertanyaan.

Dira menatapnya. Lalu menatap Satyaki. Lalu menatap kacang rebus di tangan Satyaki, karena kacang rebus selalu menarik perhatiannya lebih dari yang seharusnya, sejak Ki Jalak masuk ke dalam dirinya.

"Aku tidak tahu," katanya.

"Kau tahu," kata Satyaki, memberikan kacang rebus itu kepadanya. "Kau cuma takut."

"Aku tidak takut ujiannya."

"Bukan ujiannya," kata Wulansari pelan. "Nyai."

Dira tidak menjawab.

Untuk sekali ini dalam hidupmu, jadilah abdi dapur yang bodoh. Masak nasimu. Gosongkan. Kupas bawangmu. Tidur di samping tungkumu.

"Nyai melarangku ikut campur," katanya akhirnya. "Nyai bilang aku harus jadi abdi dapur yang bodoh. Kalau aku mendaftar ujian, di depan seluruh padepokan, di depan Ki Wiradhana..."

"Kangmas," kata Wulansari. Ia duduk di samping Dira di bangku dan menatapnya. "Kemarin, kalau kau abdi dapur yang bodoh, kau sudah diusir. Abdi dapur yang bodoh tidak tahu bedanya abu jati dan jelaga minyak. Abdi dapur yang bodoh tidak tahu orang yang meniru dari depan menirunya terbalik." Ia menggenggam tangan Dira. "Nyai tidak bisa melindungimu dengan membuatmu bodoh. Kemarin itu sudah terbukti."

"Adikmu," kata Ki Jalak, "semakin hari semakin pintar. Itu menakutkan."


Nyai Rukminiwati menemukannya di sumur belakang dapur ketika langit sudah jingga.

Dira sedang menimba air. Satu timba penuh. Dengan dua tangan, berdiri di atas dua kaki, kaki kirinya bergetar tetapi menahan. Ia menuang air itu ke gentong dan berbalik untuk menimba lagi, dan Nyai sudah berdiri di sana, di samping pohon sawo, dengan tangan kanan terbebat di balik kain sogan.

Dira meletakkan timbanya. Ia menunduk.

"Kau berdiri," kata Nyai.

"Sedikit, Nyai."

Nyai Rukminiwati menatap kakinya lama. Ada sesuatu di wajahnya yang berubah, sesuatu yang lembut dan cepat, lalu hilang lagi.

"Kau akan mendaftar," katanya.

Dira tidak menjawab.

"Aku melarangmu."

"Saya tahu, Nyai."

"Kalau kau menjadi murid luar, kau bukan lagi anak asuhanku. Kau bukan lagi abdi. Kau di bawah aturan murid. Aturan latihan. Aturan lapangan. Aturan yang bisa dipakai oleh orang-orang yang tahu cara memakainya." Suaranya datar. "Wiradhana tahu cara memakai semua aturan di padepokan ini lebih baik dari siapa pun."

"Aturan abdi juga bisa dipakai, Nyai," kata Dira pelan. "Malam ingkung. Kemarin. Aturan abdi dipakai dua kali."

Nyai tidak menjawab.

Mereka berdiri di sana, di dekat sumur, di bawah langit jingga, untuk waktu yang lama. Seekor burung kutilang hinggap di dahan sawo, memiringkan kepala ke arah mereka, lalu terbang lagi.

"Nyai menyuruh saya menjadi abdi dapur yang bodoh," kata Dira akhirnya. "Saya sudah mencoba, Nyai. Delapan belas warsa. Tapi yang datang tetap datang. Yang mencari tetap mencari. Saya tidak bisa bersembunyi di balik kebodohan." Ia mengangkat kepalanya. Menatap Nyai. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, ia tidak menunduk. "Saya cuma bisa bersembunyi di balik kekuatan. Dan saya belum punya."

Nyai Rukminiwati menatapnya.

Lalu ia berbalik. Ia berjalan pergi, ke arah jalan setapak, dengan langkah yang tegak dan teratur.

Tiga langkah. Lalu ia berhenti. Tidak menoleh.

"Tulis namamu dengan benar," katanya. Datar. Ke udara di depannya. "Jangan ada yang miring. Aku tidak mengajarimu aksara di atas pasir supaya kau menulis seperti ayam mengais tanah."

Lalu ia pergi.

Dira berdiri di samping sumur dengan timba kosong di kakinya. Ia tidak bisa bernapas.

"Bocah," kata Ki Jalak sangat pelan. "Itu tadi... itu tadi izin, kan?"

Kurasa, jawab Dira. Suaranya, bahkan di dalam kepalanya sendiri, bergetar. Kurasa itu cara Nyai mengatakan iya.


Fajar keesokan harinya datang kelabu dan berkabut.

Dira berdiri di depan gerbang lapangan murid luar. Di bawah pohon asam tua yang dahannya menjulur ke atas jalan setapak, di samping balai bambu beratap ijuk. Di gerbang itu, dipaku ke dua tiang kayu, tergantung sebuah papan. Papan kayu jati yang baru diserut, putih kekuningan, masih berbau getah. Di bagian atasnya, ditulis dengan tinta hitam yang rapi:

PESERTA UJIAN MURID LUAR. ANGGARA KASIH.

Di bawahnya, kosong.

Belum ada satu nama pun.

Di samping papan, di atas sebuah dingklik kayu, ada sebuah wadah tinta dari tempurung kelapa dan sebatang kalam bambu yang ujungnya sudah diruncingkan.

Dira menatap papan kosong itu.

Ia sudah keluar dari dapur sebelum kentongan subuh. Sebelum ada yang bangun. Ia tidak melanggar aturan Nyai, karena fajar sudah menyingsing di ufuk timur, meski hanya segaris tipis. Tetapi ia tahu ia sedang diawasi. Ia bisa merasakannya dengan hadiah Sapu Angin. Aliran udara yang bergeser di belakangnya, sepuluh langkah jauhnya, di balik batang pohon asam.

"Kau keluar dari dapur," kata suara Raden Bayuwisesa dari balik pohon.

"Ini bukan tempat abdi, Raden?"

Hening sebentar.

"Pagi ini," kata Bayuwisesa, "rupanya iya."

Ia tidak keluar dari balik pohon. Ia tidak mendekat. Ia hanya diam di sana. Mengawasi.

Dira menyandarkan tongkatnya di tiang gerbang. Ia berdiri di atas dua kakinya sendiri. Ia mengambil kalam bambu itu dari dingklik, mencelupkannya ke dalam tinta, dan mengangkatnya ke papan kayu yang putih dan kosong.

Ujung kalam itu bergetar sedikit di udara. Sejengkal dari papan.

Ia menarik napas.