Sang Penelan Pusaka

Bab 98Prana Awal

Panas itu tidak berhenti berputar.

Biasanya, setiap malam sejak purnama di atas atap dapur, napas gunung yang Dira tarik akan turun ke bawah pusar, berputar tiga kali dengan pelan, seperti air yang berputar di dasar tempayan, lalu tenang dan mengendap. Hangat. Berat. Seperti batu yang dipanaskan matahari.

Malam ini, napas itu tidak mengendap.

Ia berputar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu empat. Lima. Lebih cepat setiap putaran, seperti pusaran air di sungai yang banjir, menarik semua yang ada di sekitarnya ke tengah. Dan yang ditariknya bukan hanya napas Dira sendiri. Dira bisa merasakannya. Sesuatu dari luar. Dari udara dapur yang hangat. Dari bara di tungku ketujuh. Dari tanah di bawah tikar. Dari malam di luar dinding gedek. Sesuatu yang halus dan tidak terlihat masuk ke tubuhnya lewat kulit, lewat setiap pori-pori, seperti air yang meresap ke dalam kain kering, dan semuanya mengalir ke satu tempat di bawah pusarnya.

Panas. Semakin panas.

"Prana," bisik Ki Jalak. "Bocah, itu prana. Prana dari luar. Tubuhmu membukakan pintunya sendiri."

Kenapa sekarang?

"Karena kau sudah terlalu lama di ambang pintu. Raga Puncak sejak purnama. Kau seharusnya sudah melangkah masuk sepasar yang lalu. Tapi kau keracunan ular, lalu kau kejar-kejaran di atap, lalu kau diikat di tiang. Tubuhmu terus menahan." Burung itu menegakkan kepalanya. "Hari ini, kau takut, haus, malu, marah, semuanya sekaligus. Lalu orang tua itu membisikkan lima. Dan bendungannya jebol."

Apa yang harus kulakukan?

"Pertama, jangan bersuara." Ki Jalak menoleh ke arah dipan bambu di sudut dapur, tempat Mbah Karta mendengkur. "Kedua, jangan bergerak. Ketiga..."

Ia tidak sempat menyelesaikannya.

Pusaran di bawah pusar Dira meledak.


Rasanya seperti seseorang menuangkan besi cair ke dalam tulang punggungnya.

Panas itu tidak lagi berputar. Panas itu naik. Dari bawah pusar ke tulang ekor, lalu menyusuri tulang punggung, ruas demi ruas, seperti api yang merambat di sepanjang sumbu pelita. Setiap ruas yang dilewatinya terbakar. Dira menggigit tikar di bawah wajahnya begitu keras sampai giginya terasa akan patah.

Jangan bersuara.

Api itu sampai di antara kedua bahunya dan terbelah.

Separuh ke kanan. Separuh ke kiri. Menyusuri bahu. Masuk ke lengan atas. Ke siku. Ke lengan bawah. Ke pergelangan. Dan di setiap tempat yang dilewatinya, ada sesuatu yang menghalangi. Sesuatu yang keras dan menggumpal, seperti daun busuk yang menyumbat selokan, seperti lumpur yang mengering di dasar parit.

"Meridianmu," kata Ki Jalak dengan suara yang tegang. "Aku sudah bilang dari dulu, bocah. Seperti selokan yang tersumbat daun busuk. Delapan belas warsa makan nasi jagung dicampur air, menimba sumur, mengangkat dandang, dicambuk, dipukul, keracunan. Tidak pernah ada yang membersihkannya. Prana ini sedang membersihkannya. Dengan paksa."

Api itu menghantam sumbatan pertama di siku kanan.

Dira merasakan sesuatu pecah di dalam lengannya. Bukan tulang. Sesuatu yang lebih halus. Sesuatu yang selama ini tertutup dan tiba-tiba dibuka dengan kasar, seperti pintu yang dikunci karat didobrak dengan bahu. Rasa sakitnya tajam, putih, menyilaukan. Seluruh lengan kanannya menegang. Jari-jarinya mencakar tikar.

Lalu sumbatan itu lepas, dan api mengalir terus ke pergelangan, ke telapak tangan, ke garis-garis telapak tangan kanan tempat Sapu Angin tidur.

Siku kiri. Pecah. Lepas.

Pergelangan kanan. Pecah. Lepas.

Pergelangan kiri.

Satu demi satu. Setiap sumbatan adalah pintu berkarat yang didobrak. Setiap pintu yang terbuka adalah rasa sakit yang menyilaukan, lalu kelegaan yang aneh, seperti napas pertama setelah lama menyelam.

Keringat mengucur dari seluruh tubuh Dira. Membasahi tikar. Membasahi kain biru tua di lehernya. Bau keringat itu tajam dan asam, bau yang belum pernah ia cium dari tubuhnya sendiri, seperti kotoran bertahun-tahun yang dikeluarkan sekaligus.

Ki Jalak, pikirnya, di antara gelombang-gelombang rasa sakit. Berapa banyak lagi?

"Lengan sudah," kata Ki Jalak. "Sekarang kaki."


Api itu turun.

Dari bawah pusar, kali ini ke bawah. Ke pinggul. Terbelah dua. Ke paha kanan, ke paha kiri. Paha kanan terbuka dengan mudah, karena kaki kanan adalah kaki yang selama berpasar-pasar ini menanggung seluruh tubuhnya, kaki yang sudah ditempa oleh ribuan lompatan dan tarikan. Lutut kanan. Betis kanan. Telapak kaki kanan. Panas menyembur keluar dari telapak kakinya seperti uap dari mulut dandang.

Paha kiri.

Lutut kiri.

Lalu api itu berhenti.

Di betis kiri, tepat di tempat luka sayatan dari tebing di Hutan Larangan, tempat racun ular berkepala dua masuk ke darahnya, ada sesuatu yang bukan sumbatan biasa.

Dira melihatnya. Bukan dengan mata. Dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang baru terbuka di dalam dirinya malam ini. Di betis kirinya, di dalam aliran yang sedang dibuka paksa oleh prana, ada genangan hitam. Kental. Mengilat. Seperti minyak jelantah di dasar wajan. Sisa racun. Sisa yang tidak keluar ketika kidung Wulansari dan ramuan Gendhis dan semua orang di gubuk orang sakit menahannya di depan jantung. Sisa yang turun ke kaki kiri dan mengendap di sana, dingin dan diam, seperti ular yang tidur di bawah batu.

Itu yang membuat kakinya tidak bisa menahan tubuh.

Api prana menghantamnya.

Genangan hitam itu tidak pecah. Genangan itu bergerak. Bergolak. Menggeliat seperti ular yang dibangunkan dari tidurnya. Dan dari genangan itu, dingin menyembur ke atas. Dingin yang sama seperti malam-malam di gubuk orang sakit. Dingin racun ular, yang melawan panas prana di setiap jengkal betis kirinya.

Dira menjerit.

Tanpa suara. Mulutnya terbuka lebar di atas tikar, tetapi tidak ada bunyi yang keluar, karena tenggorokannya terkunci. Tubuhnya melengkung seperti busur. Kaki kirinya menendang-nendang tikar. Di betis itu, di bawah kulit, ia bisa melihat dengan matanya sendiri sekarang, urat-urat menegang dan menggelap, menghitam, seperti akar-akar pohon yang terbakar.

"BOCAH!" Ki Jalak sudah berdiri di atas potongan dahannya dengan sayap terkembang. "Jangan biarkan dia naik! Kalau dia naik ke paha, ke pinggul, ke pusar..."

Aku tidak bisa...

"KAU BISA."


Lalu Sapu Angin bergerak.

Burung sriti kecil itu melesat dari potongan dahannya, menembus kegelapan Balai Sukma seperti anak panah kelabu, dan menghilang ke dalam tubuh Dira. Ke bawah. Ke kaki kiri. Dira merasakannya, ringan dan cepat, berputar-putar di dalam betisnya seperti angin yang berputar di dalam lorong sempit.

Dan di mana Sapu Angin berputar, api prana mengikutinya.

Bukan menghantam lagi. Mengalir. Seperti angin yang mengajari air jalan mana yang harus diambil. Sapu Angin melesat di celah-celah di antara genangan hitam itu, celah-celah kecil yang tidak terlihat, dan api prana mengalir mengikutinya, mengepung genangan hitam itu dari segala arah, menyusup di bawahnya, di atasnya, di sekelilingnya.

Genangan itu menyusut.

Pelan. Sangat pelan.

Lalu, dari tempat yang tidak terduga, datang sesuatu yang lain.

Dingin.

Bukan dingin racun. Dingin yang lain. Dingin yang Dira kenal lebih dari ia mengenal namanya sendiri. Dingin yang tinggal di bawah kain di lehernya sejak ia bayi. Dingin dari dinding beku di ujung Balai Sukma.

Retakan halus di dinding beku itu bersinar biru. Redup. Dan dari celah retakan itu, merembes keluar sesuatu yang tampak seperti kabut tipis. Kabut itu mengalir turun, ke dalam tubuh Dira, menyusuri tulang punggungnya yang terbakar, dan di mana kabut itu lewat, api prana mendingin sedikit. Tidak padam. Hanya menjadi lebih tenang. Lebih jinak. Seperti besi panas yang dicelupkan sebentar ke dalam air oleh tangan empu yang berpengalaman.

Kabut biru itu sampai di betis kiri. Dan ia menyentuh genangan hitam itu.

Genangan itu membeku.

Seketika. Dari cair menjadi padat. Dari ular yang menggeliat menjadi batu hitam yang retak-retak.

Lalu api prana, yang dipandu Sapu Angin, menghantamnya sekali lagi.

Batu hitam itu pecah menjadi debu.


Keringat hitam menyembur dari telapak kaki kiri Dira.

Hitam. Kental. Berbau busuk dan amis sekaligus, seperti lumpur rawa yang bercampur darah ikan. Keringat itu membasahi tikar di bawah kakinya, menghitamkannya dalam bentuk telapak kaki, lalu meresap ke tanah di bawahnya.

Dan api prana mengalir terus. Ke pergelangan kaki kiri. Ke telapak kaki kiri. Ke ujung-ujung jari kaki kiri.

Lalu tidak ada lagi sumbatan.

Lalu api itu kembali ke bawah pusar. Dari kedua tangan. Dari kedua kaki. Dari tulang punggung. Semuanya mengalir kembali ke satu tempat, seperti sungai-sungai kecil yang bermuara di danau. Dan di sana, di bawah pusar, api itu berputar sekali lagi. Pelan. Tenang. Lalu mengendap.

Tetapi kali ini, ia tidak mengendap seperti batu.

Ia mengendap seperti mata air. Hangat. Hidup. Berdenyut pelan. Dan dari mata air itu, ada aliran-aliran halus yang mengalir ke seluruh tubuh Dira, ke lengan, ke kaki, ke jari-jari, lalu kembali lagi. Terus-menerus. Seperti napas yang tidak perlu ditarik.

Dira terbaring tengkurap di atas tikar yang basah oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia tidak bisa merasakan apa pun kecuali aliran hangat itu, mengalir dan mengalir dan mengalir.

Di dalam Balai Sukma, Sapu Angin kembali ke potongan dahannya dan langsung jatuh tertidur dengan sayap terbentang. Ki Jalak bertengger di dahannya sendiri dengan bulu-bulu yang masih berantakan. Dan di ujung balai, dinding beku sudah padam. Retakan halusnya kembali gelap.

Tetapi Dira bisa melihatnya. Retakan itu tidak bertambah panjang malam ini. Tidak sejari pun.

"Dia membantumu," bisik Ki Jalak. Suaranya penuh keheranan. "Bocah. Apa pun yang tidur di sana. Dia membantumu. Dia mendinginkan apinya, supaya meridianmu tidak terbakar. Dan dia membekukan racun itu." Burung itu diam sebentar. "Lalu dia kembali tidur. Seperti orang yang bangun tengah malam untuk menyelimuti anaknya, lalu kembali ke tikarnya."

Dira tidak bisa menjawab. Ia terlalu lelah untuk berpikir.

"Prana Awal," kata Ki Jalak, lebih pelan. "Selamat, bocah. Kau baru saja naik satu anak tangga lagi."


Ketika Dira akhirnya bisa mengangkat kepalanya, Mbah Karta sudah duduk di tepi dipan bambunya.

Ia tidak lagi mendengkur. Ia duduk dengan punggung tegak, tangan di atas lutut, dan menatap Dira di seberang dapur yang remang-remang. Tidak ada mata keruh yang berkedip-kedip. Tidak ada mulut yang menganga. Hanya laki-laki tua dengan wajah yang tenang dan mata yang terlalu jernih.

Berapa lama ia sudah duduk di sana? Sejak awal? Sejak api itu pertama kali naik ke tulang punggung Dira?

Mbah Karta tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunjuk dengan dagunya. Ke kaki kiri Dira.

"Berdiri," katanya.

Dira menatapnya. Lalu menatap kakinya sendiri. Kaki yang tidak bisa menahan tubuhnya sejak Hutan Larangan. Kaki yang tadi siang membuatnya jatuh keras di atas pasir, di depan lima ratus orang.

Ia mendorong tubuhnya bangun dengan kedua tangan. Duduk. Lalu, pelan-pelan, ia menapakkan kaki kanannya ke tanah, lalu kaki kirinya. Ia mendorong dirinya berdiri. Dengan kedua kaki.

Lalu ia mengangkat kaki kanannya.

Kaki kirinya bergetar. Lututnya goyah. Betisnya terasa lemah, seperti kaki anak kambing yang baru lahir.

Tetapi ia tidak tertekuk.

Dira berdiri di atas satu kaki. Kaki kiri. Di tengah dapur yang remang-remang, di samping tungku ketujuh, dengan keringat yang masih menetes dari dagunya. Satu tarikan napas. Dua. Tiga.

Lalu ia jatuh terduduk kembali ke tikar, karena kakinya masih lemah. Tetapi ia sudah berdiri. Tiga tarikan napas. Di atas kaki kirinya sendiri.

Ia menatap Mbah Karta. Matanya basah.

Mbah Karta mengangguk sekali. Lalu ia mengendus udara. Wajahnya mengernyit.

"Racun ular itu," katanya, "sudah keluar bersama keringatmu. Bagus. Sekarang dapurku bau seperti kandang Ji setelah musim hujan." Ia bangkit dari dipannya dengan lutut berbunyi krek. "Bakar tikar itu sebelum subuh. Dan besok kau akan lapar seperti lima orang. Aku masak nasi dua dandang."

Ia berjalan ke tungku ketujuh, menambahkan sebatang kayu jati ke dalam bara, dan meniup baranya pelan.

Api menyala.

Dan untuk sesaat, hanya sesaat, nyala api itu berwarna biru. Biru pucat, seperti nyala belerang. Lalu kembali kuning.

Mbah Karta menatap api itu. Lalu menatap Dira.

"Prana Awal," katanya pelan. Bukan pertanyaan. Seperti orang yang mencoret sesuatu dari daftar yang sudah sangat lama ia simpan. "Delapan belas warsa."


Dira membakar tikarnya di tungku ketujuh sebelum kentongan subuh. Tikar itu menyala dengan asap hitam dan bau yang membuat matanya berair.

Lalu ia keluar dari dapur. Bukan jauh. Hanya ke ambang pintu belakang, karena Nyai melarangnya keluar dari dapur di malam hari, dan karena Raden Bayuwisesa mungkin sedang mengawasinya dari suatu tempat dalam gelap. Ia berdiri di ambang pintu dengan tongkat di tangan. Tetapi ia tidak bertumpu pada tongkat itu. Kaki kirinya menapak tanah. Lemah. Tapi menapak.

Ia menghirup udara pagi yang dingin.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat.

Ia melihat dengan sesuatu yang terbuka malam ini bersama meridiannya, dan matanya hanya ikut menyaksikan. Udara di sekitarnya tidak lagi kosong. Udara itu penuh. Penuh aliran-aliran halus yang bergerak pelan, seperti benang-benang sutra yang ditiup angin, seperti kabut tipis yang hampir tidak terlihat. Prana. Prana di udara pagi. Prana yang naik dari tanah yang basah oleh embun. Prana yang mengalir dari pohon sawo tua di dekat sumur, lebih tebal dan lebih hijau dari yang lain.

Ia memutar kepalanya. Menatap padepokan yang masih gelap.

Di atas balairung, prana mengalir tenang dan keemasan. Di atas asrama murid dalam, prana bergolak dan berwarna-warni, ratusan aliran kecil yang saling bersilangan. Di atas kandang kambing, prana mengalir lambat dan hangat.

Di atas balai pengobatan, tempat Mbah Sarju, penjaga dupa, dan Gajahsora tertidur, ada sesuatu yang lain.

Benang hitam.

Tipis. Sangat tipis. Seperti seutas rambut yang terbakar. Benang itu naik dari atap balai pengobatan, melayang di udara pagi, dan memanjang. Melintasi halaman. Melewati balairung. Menuju bilik-bilik di sisi timur padepokan. Bilik-bilik para tetua.

Dan di sepanjang benang itu, sangat pelan, seperti tetesan air di sepanjang tali timba, sesuatu mengalir.

Dari balai pengobatan. Ke bilik-bilik tetua.

Dari orang-orang yang tertidur. Ke seseorang yang terjaga.

"Bocah," bisik Ki Jalak. Suaranya sangat, sangat pelan. "Kau melihat apa yang kulihat?"

Dira menggenggam tongkatnya erat-erat.

Mereka tidak hanya ditidurkan, pikirnya. Mereka sedang diperas.

Dari arah balairung, kentongan dipukul. Lima kali panjang, tidak seperti tanda bahaya ataupun panggilan subuh. Panggilan yang belum pernah Dira dengar sepanjang delapan belas warsa hidupnya di padepokan ini.

Panggilan untuk sebuah pengumuman.