Bab 100Nama di Papan
Ujung kalam bambu itu menyentuh kayu.
Tinta hitam meresap ke serat-serat jati yang baru diserut, menyebar sedikit, lalu berhenti. Dira menggerakkan tangannya. Pelan. Hati-hati. Seperti dulu, di halaman belakang asrama anak asuhan, ketika ia berumur enam warsa dan Nyai Rukminiwati berjongkok di sampingnya dengan sebatang ranting, menggores aksara di atas pasir yang sudah diratakan dengan telapak tangan.
Ini sa, kata Nyai waktu itu. Lengkungnya seperti punggung orang yang membungkuk menanam padi. Jangan terlalu dalam. Jangan terlalu dangkal. Seperti orang yang bekerja, tapi tidak menyerah.
Dira menulis sa. Lengkungnya seperti punggung orang yang menanam padi.
Ini suku. Kaki kecil di bawah. Supaya sa menjadi su. Seperti orang yang menanam padi, lalu melangkah maju.
Ia menulis suku.
Ini da. Perutnya bulat. Seperti periuk nasi. Jangan biarkan perutnya penyok. Periuk penyok tidak bisa menanak nasi.
Ia menulis da. Perutnya bulat seperti periuk nasi.
Wulu. Seperti setetes embun di atas daun. Kecil. Bulat. Jangan seperti ulat.
Ra. Tegak. Seperti orang yang berdiri. Seperti orang yang tidak mau ditundukkan.
Ia menulis ra. Tegak.
Lalu ia mundur selangkah dan menatap papan itu.
Sudira.
Di atas kayu jati yang putih kekuningan, di bawah tulisan PESERTA UJIAN MURID LUAR, aksara-aksara itu berdiri dalam satu baris yang rapi. Tidak miring. Tidak ada yang penyok. Tidak ada yang seperti ulat. Hitam dan bersih dan jelas, seperti ditulis oleh juru tulis kadipaten.
Di bawahnya, lebih kecil, ia menulis asalnya. Sesuai yang diminta di papan: nama, lalu asal.
Abdi dapur.
Ia meletakkan kalam bambu itu kembali ke atas dingklik. Tangannya bergetar. Bukan karena takut. Karena sesuatu yang lain, sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Itu tulisan yang bagus."
Nyai yang mengajariku.
"Aku tahu." Burung itu diam sebentar. "Itu sebabnya bagus."
Langkah kaki di belakangnya.
Raden Bayuwisesa keluar dari balik pohon asam. Ia berjalan pelan, berhenti di samping Dira, dan menatap papan itu. Lama.
Ia tidak berkata apa-apa tentang abdi dapur yang mendaftar ujian. Ia tidak berkata apa-apa tentang tongkat yang bersandar di tiang gerbang, atau kaki kiri yang bergetar. Ia hanya menatap aksara-aksara di papan itu. Matanya bergerak dari su ke di ke ra, lalu kembali lagi.
"Abdi tidak diajari menulis," katanya akhirnya.
"Tidak, Raden."
"Lalu siapa yang mengajarimu?"
Dira menatap papan itu. "Pasir, Raden."
Bayuwisesa menoleh kepadanya. Matanya yang dingin menyipit sedikit. Lalu kembali ke papan.
"Tulisanmu lebih rapi dari tulisanku," katanya datar.
Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke balik pohon asam.
Kabut fajar mulai tersibak ketika murid-murid luar pertama datang untuk latihan subuh.
Mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil, menguap, menggaruk-garuk kepala, udeng biru miring di kepala mereka yang masih mengantuk. Mereka melewati gerbang lapangan murid luar seperti setiap pagi. Lalu salah satu dari mereka berhenti.
"Hei. Sudah ada yang mendaftar."
Yang lain berhenti juga. Mereka berkerumun di depan papan. Empat. Lima. Tujuh. Mereka membaca.
Sunyi sebentar.
Lalu seseorang tertawa.
Bukan tawa kecil. Tawa yang meledak dari perut, keras dan tiba-tiba, seperti orang yang baru mendengar lelucon paling lucu seumur hidupnya. Lalu yang lain ikut. Lalu yang lain lagi.
"Abdi dapur!"
"Si pincang! Yang kemarin dituduh mencuri keris!"
"Dia mau jadi murid luar?"
"Dengan apa? Dengan sendok sayur?"
"Ujiannya masak nasi, barangkali!"
"Dia mau menggosongkan lawannya!"
Tawa itu meledak lagi. Lebih keras. Murid-murid luar lain yang baru datang ikut berkerumun, membaca, lalu tertawa. Seseorang menepuk-nepuk papan itu seperti sedang menepuk punggung kawan yang konyol. Seseorang lagi pura-pura berjalan pincang dengan sebatang ranting sebagai tongkat, menyeret kaki kanannya, dan kawan-kawannya terbungkuk-bungkuk tertawa.
"Salah kaki," kata Dira dari tepi jalan setapak.
Mereka semua menoleh.
Dira berdiri di sana, bersandar pada tongkatnya, menatap pemuda yang sedang menirukan jalannya. "Kaki kiri," katanya. "Yang terseret kaki kiri. Kau meniru dari depan, jadi terbalik. Seperti bayangan di air."
Pemuda itu membeku dengan ranting di tangan. Wajahnya memerah.
Seseorang di belakangnya tertawa. Kali ini bukan kepada Dira.
Kabar itu menyebar lebih cepat dari kabar maling.
Sebelum matahari setinggi tombak, seluruh asrama murid luar sudah tahu. Sebelum matahari setinggi pohon kelapa, seluruh asrama murid dalam sudah tahu. Sebelum tengah hari, tak ada satu pun orang di dalam tembok padepokan yang tidak tahu bahwa nama pertama di papan pendaftaran Ujian Murid Luar, yang pertama setelah empat puluh warsa, adalah nama seorang abdi dapur pincang yang kemarin hampir diusir karena dituduh mencuri keris pendiri.
Dan seluruh padepokan tertawa.
Di lapangan murid luar, para pembimbing berhenti mengajar karena murid-murid mereka tidak bisa berhenti terkikik. Di asrama murid dalam, seseorang menggambar wajah Dira di dinding dengan arang: seorang pemuda kurus dengan tongkat di satu tangan dan sendok sayur di tangan lain, berdiri di depan dandang raksasa. Di barak abdi, beberapa abdi tua menggeleng-geleng kepala dan bergumam tentang anak muda yang tidak tahu diri.
Ketika Dira pergi ke sumur pada tengah hari, seseorang sudah menggambar sesuatu di papan pendaftaran. Di samping namanya. Dengan arang. Sebuah periuk nasi, dengan asap mengepul dari atasnya.
Di bawah periuk itu, seseorang lain menambahkan gambar kambing. Kambing dengan mata yang sangat jahat.
"Itu Ji," kata Ki Jalak, dengan suara yang tidak bisa memutuskan apakah ia marah atau terhibur. "Mereka menggambar Ji. Dan matanya mirip sekali."
Gendhing berdiri di depan papan itu ketika Dira kembali dari sumur.
Ia berdiri dengan tangan di pinggang, menatap papan dengan dahi berkerut, seperti orang yang mencoba membaca sesuatu yang sangat sulit. Benjolan di kepalanya, telur kentongan, sudah sedikit kempis, tetapi masih ungu.
"Dira," katanya tanpa menoleh. "Itu namamu, kan? Yang pertama?"
"Iya."
"Bagus." Gendhing mengangguk. Lalu ia menunjuk ruang kosong di bawah nama Dira. "Tulis namaku juga."
Dira menatapnya.
"Aku tidak bisa menulis," kata Gendhing dengan sangat tenang. "Tapi aku mau ikut. Aku sudah memutuskan. Tulis namaku di bawah namamu. Gendhing. Asalnya, abdi dapur juga. Lalu kalau ada yang menertawakanmu, mereka harus menertawakan kita berdua. Lebih susah menertawakan dua orang sekaligus."
Dira tidak tahu harus berkata apa.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Kadang-kadang aku lupa kenapa aku suka anak ini. Lalu dia mengatakan sesuatu seperti itu."
Sebelum Dira sempat menjawab, sebuah tangan muncul dari belakang Gendhing, mencengkeram telinganya, dan menariknya.
"Aduh! Aduh! Gendhis!"
"Kau mau ikut ujian?" Gendhis menariknya menjauh dari papan dengan satu tangan, ulekan di tangan yang lain. "Kau mau mati? Mereka akan menendangmu sampai ke Sumberwatu!"
"Lebih susah menertawakan dua orang sekaligus!"
"Lebih mudah menguburkan dua orang sekaligus!" Gendhis menoleh ke Dira dengan mata berkilat. "Dan kau. Jangan berani-berani menulis namanya. Kalau kau menulis namanya, aku akan memasukkan cabai rawit ke nasimu setiap hari sampai ujian."
Ia menyeret saudaranya pergi. Gendhing masih berteriak tentang dua orang dan tertawaan sampai suaranya hilang di balik sudut dapur.
Dira menatap ruang kosong di bawah namanya. Lalu ia tersenyum.
Menjelang sore, Ki Tirtakusuma datang ke papan pendaftaran.
Tidak ada yang tahu bagaimana ia bisa sampai di sana sendirian, dengan terompah kayu yang diseret dan mata yang hampir buta. Tetapi ia sampai. Ia berdiri di depan papan dengan tongkat kayunya, menyipitkan mata, lalu mengambil kalam bambu dari dingklik, mencelupkannya ke tinta, dan menulis sesuatu.
Besar. Miring. Seperti ayam mengais tanah.
TIRTA. 25 DI DALAM.
Lalu ia meletakkan kalamnya dan menyeret terompahnya pergi, bersiul-siul dengan sangat puas.
Seorang tetua menemukannya tak lama kemudian dan dengan hati-hati menggosok tulisan itu dengan kain basah. Tetapi tinta sudah meresap ke kayu jati. Tulisan itu tidak hilang. Hanya menjadi kelabu dan kabur, seperti hantu tulisan yang menolak pergi.
Murid-murid luar yang melihatnya tertawa lagi. Tetapi kali ini, untuk pertama kalinya hari itu, mereka tidak menertawakan Dira.
Ki Wiradhana lewat ketika langit mulai jingga.
Ia berjalan pelan dengan tangan terlipat di balik punggung, beskap hitamnya bersih seperti biasa, janggut putihnya bergoyang ditiup angin sore. Ia berhenti di depan papan. Ia membaca.
Dira melihatnya dari kejauhan, dari ambang pintu belakang dapur, tempat ia sedang memotong kayu bakar.
Ki Wiradhana menatap papan itu untuk waktu yang lama. Lalu ia mengangkat satu tangannya yang keriput dan menyentuh aksara-aksara itu. Ujung jarinya menyusuri lekuk su. Perut bulat da. Batang tegak ra.
Lalu ia menoleh. Ke arah dapur. Ke arah Dira.
Ia tersenyum. Ramah. Seperti kakek yang bangga.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk sekali, pelan, lalu melanjutkan langkahnya ke arah bilik-bilik tetua di sisi timur.
"Dia mengenali tulisan itu," kata Ki Jalak. Suaranya tidak lagi terhibur. "Bocah. Lihat cara dia menyentuh da. Dia pernah melihat perut periuk itu sebelumnya. Di tangan orang lain."
Dira menatap punggung laki-laki tua itu menjauh.
Nyai, pikirnya. Dia tahu Nyai yang mengajariku.
"Dan sekarang semua orang di padepokan ini tahu ada abdi yang bisa menulis seperti juru tulis kadipaten. Mereka akan bertanya siapa gurunya." Ki Jalak mengatupkan paruhnya. "Kau menulis namamu dengan benar, bocah. Persis seperti yang dia minta. Dan menulis dengan benar itu ternyata juga sebuah tanda."
Nyai Rukminiwati lewat ketika langit sudah gelap.
Dira hampir tidak melihatnya. Ia sedang mengangkat ikatan kayu bakar terakhir ke dalam dapur ketika ia melihat bayangan seseorang di gerbang lapangan murid luar, jauh di sana, di bawah pohon asam. Bayangan seorang perempuan bertubuh tinggi, berdiri diam di depan papan.
Nyai tidak membawa pelita. Ia hanya berdiri di sana, dalam cahaya bulan yang mulai naik. Menatap papan itu.
Lalu, sangat pelan, ia mengangkat tangan kirinya. Tangan yang tidak terbebat. Dan dengan ujung jarinya, ia menyentuh papan itu. Di satu tempat. Satu aksara.
Dira tidak bisa melihat aksara yang mana dari kejauhan. Tetapi ia bisa menebak.
Ra. Tegak. Seperti orang yang berdiri. Seperti orang yang tidak mau ditundukkan.
Nyai berdiri di sana untuk waktu yang lama, dengan ujung jarinya di atas papan kayu. Lalu ia menurunkan tangannya, berbalik, dan berjalan pergi ke dalam gelap.
Dira masuk ke dapur dan meletakkan kayu bakarnya. Ia tidak berkata apa-apa kepada Ki Jalak. Ki Jalak juga tidak berkata apa-apa kepadanya.
Malam itu, ia tidur lebih nyenyak dari yang pernah ia ingat.
Ia bangun sebelum kentongan subuh.
Yang membangunkannya adalah kain biru tua di lehernya. Kain itu tiba-tiba terasa dingin. Sangat dingin, seperti batu kali di subuh hari yang ditempelkan ke kulit.
Di bawah kain itu, tanda di lehernya berdenyut. Sekali. Keras. Lalu diam.
Dira duduk tegak di atas tikar barunya. Dapur gelap. Mbah Karta mendengkur. Bara di tungku ketujuh berdenyut merah.
"Kau merasakannya?" bisik Ki Jalak.
Apa itu?
"Aku tidak tahu. Sesuatu yang lewat. Di luar." Burung itu mengembangkan bulunya. "Dan baunya..."
Dira mengendus udara. Asap kayu jati. Nasi kerak. Dan di bawahnya, sangat samar, terbawa angin dari pintu depan dapur yang tidak tertutup rapat, bau manis dan pahit sekaligus. Seperti bunga yang membusuk.
Ia bangkit. Ia mengambil tongkatnya. Ia berjalan ke ambang pintu, karena fajar sudah menyingsing segaris tipis di ufuk timur dan aturan Nyai sudah tidak berlaku. Ia menatap ke arah lapangan murid luar.
Kabut pagi menyelimuti gerbang itu. Pohon asam tua. Balai bambu. Papan kayu.
Ia berjalan ke sana. Pelan. Di belakangnya, di kejauhan, ia merasakan aliran udara yang bergeser. Bayuwisesa. Mengikutinya.
Ia sampai di depan papan.
Namanya masih di sana. Sudira. Di bawahnya, abdi dapur. Di sampingnya, periuk nasi dan kambing bermata jahat. Di bawahnya lagi, hantu tulisan Ki Tirtakusuma, kelabu dan kabur.
Dan di samping namanya, tepat di samping aksara ra yang tegak, ada sesuatu yang kemarin tidak ada.
Bekas terbakar.
Bulat. Sebesar kepingan perunggu. Hitam di tengah, cokelat di pinggirnya. Bukan bekas api biasa. Bentuknya terlalu rapi. Terlalu sempurna. Sebuah lingkaran, seperti cincin, yang dibakar langsung ke dalam kayu jati, seperti ada yang menempelkan jari bercincin yang membara ke papan itu dan menahannya di sana.
Asap tipis masih naik dari lingkaran itu. Sangat tipis. Berbau manis dan pahit.
Dira mengenali bentuk itu. Ia pernah melihatnya di telapak tangan Ki Wiradhana, di candi tua, di bawah cahaya dupa hitam. Ia pernah memegangnya di telapak tangannya sendiri, sebutir abu membatu yang diberikan Ki Brajanala.
Tanda pengendus.
Dan di bawah lingkaran itu, digores dengan sesuatu yang tajam, dengan huruf-huruf kecil yang miring dan tergesa-gesa, ada satu kata. Satu kata yang ia dengar di halaman barak ketika ia berlutut memeluk tiang bambu dengan punggung berdarah. Satu kata yang ia dengar di candi tua, di balik dinding yang retak.
Belum.
Langkah kaki di belakangnya. Raden Bayuwisesa berhenti di sampingnya. Ia menatap papan itu. Ia menatap lingkaran terbakar itu. Ia menatap kata di bawahnya.
"Apa itu?" tanyanya pelan.
Dira tidak menjawab dengan segera. Ia menatap lingkaran itu, asap tipis yang masih mengepul, aksara ra yang tegak di sampingnya.
"Tanda, Raden," katanya akhirnya.
"Tanda apa?"
Dira menggenggam tongkatnya erat-erat. Di bawah kain biru tua, tanda di lehernya berdenyut sekali lagi. Pelan. Dingin. Seperti jawaban.
"Tanda bahwa mereka melihat saya."