Bab 97Bebas, Tapi Diawasi
Mereka mengangkat Gajahsora dengan tandu bambu.
Empat murid dalam, masing-masing memegang satu ujung tandu, berjalan cepat melintasi halaman menuju balai pengobatan. Tubuh besar itu terbaring di atasnya dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka, napasnya panjang dan teratur, sama sekali tidak terganggu oleh guncangan langkah para pengusungnya. Tangannya yang besar, dengan jelaga berminyak di bawah kukunya, terkulai dari sisi tandu dan berayun-ayun di udara.
Halaman memberi jalan. Tak ada yang berbisik. Tak ada yang menunjuk.
Dira memperhatikan mereka pergi. Di balai pengobatan, Gajahsora akan dibaringkan di samping Mbah Sarju. Di samping murid penjaga dupa yang ditemukan tertidur di anak tangga balai pusaka. Tiga orang yang tidur dan tidak bangun. Empat, kalau Kertapati dihitung, meski Kertapati masih bisa berjalan dan bicara, hanya saja ia terus melupakan sesuatu.
Semuanya orang yang tahu sesuatu, pikir Dira. Atau orang yang sudah tidak berguna lagi.
"Atau keduanya," kata Ki Jalak.
"Sudira."
Ki Ageng Suryadharma berdiri di tepi serambi. Ia menatap ke bawah, ke abdi yang masih berlutut di atas pasir panas.
"Kau dibebaskan dari tuduhan," katanya. Suaranya cukup keras untuk terdengar sampai ke barisan abdi di belakang. "Jejak di balai pusaka bukan jejakmu. Telapak tangan di dinding bukan telapakmu. Kesaksian yang memberatkanmu adalah kesaksian palsu, dan saksi itu sudah mengaku." Ia berhenti sebentar. "Padepokan ini berutang maaf kepadamu."
Halaman itu sunyi. Lalu, dari barisan belakang, seseorang bertepuk tangan. Sekali. Keras.
Gendhing.
Ia segera berhenti ketika Gendhis menyikut rusuknya. Tetapi beberapa abdi di sekitarnya mulai bertepuk tangan juga, pelan, ragu-ragu. Lalu beberapa murid luar. Tidak banyak. Tidak meriah. Tetapi ada.
Ki Ageng mengangkat tangannya, dan tepuk tangan itu berhenti.
"Kyai Geni Baskara masih hilang," katanya. "Dan siapa pun yang mengambilnya masih ada di luar sana. Atau di dalam sini." Matanya menyapu seluruh halaman. Lambat. Seperti orang yang menghitung kepala. "Mulai hari ini, kedua gerbang padepokan ditutup dari senja sampai fajar. Murid dalam berjaga bergiliran, berpasangan, tidak ada yang berjaga sendirian. Tidak ada yang keluar atau masuk tanpa izinku."
"Ki Ageng." Ki Wiradhana bangkit dari tikarnya. Wajahnya masih penuh duka atas murid dalam yang tertidur itu, tetapi suaranya mantap. "Izinkan saya memimpin pencarian Kyai Geni Baskara. Saya mengenal setiap sudut padepokan ini. Setiap bilik, setiap gudang, setiap lorong. Saya akan menemukannya."
Ki Ageng menatapnya lama.
"Terima kasih, Ki Wira," katanya. "Tapi Brajanala yang akan memimpin pencarian."
Ki Wiradhana tidak bergerak. Lalu ia membungkuk dengan sopan.
"Tentu, Ki Ageng. Ki Brajanala sangat cakap."
Ia duduk kembali. Wajahnya tenang. Senyumnya kembali, tipis sekali, seperti garis yang digambar dengan ujung kuku di atas lilin. Dira melihatnya. Dan ia melihat sesuatu yang lain: jari-jari Ki Wiradhana, yang terlipat di pangkuannya, bergerak sekali. Mengetuk. Satu kali. Seperti orang yang mencoret satu baris di daftarnya dan pindah ke baris berikutnya.
"Sudira," kata Ki Ageng lagi. "Kau bebas. Tetapi ada yang harus kukatakan."
Dira menunggu.
"Dua kali dalam satu musim, namamu muncul di tengah perkara besar di padepokan ini. Malam ingkung. Dan hari ini. Dua kali kau tidak bersalah." Ki Ageng berhenti. "Tetapi orang yang dua kali dijadikan sasaran adalah orang yang sedang diincar. Dan orang yang sedang diincar harus diawasi. Untuk kebaikannya sendiri, dan untuk kebaikan padepokan."
Ia menoleh ke samping.
"Bayu."
Raden Bayuwisesa, yang baru saja menyarungkan Kyai Nagageni, menoleh kepada ayahnya dengan wajah datar. Tetapi Dira melihat rahangnya mengeras.
"Mulai hari ini, kau mengawasi abdi ini. Ke mana pun ia pergi di luar dapur, kau tahu. Siapa pun yang mendekatinya, kau tahu. Kalau ada yang mencoba memfitnahnya lagi, kau yang pertama tahu."
Hening.
"Ayah," kata Bayuwisesa pelan. "Aku putra ketua. Aku murid dalam tingkat Prana Puncak. Ayah menyuruhku menjadi penjaga abdi dapur?"
"Aku menyuruhmu menjaga rumah ini," kata Ki Ageng. "Kau sendiri yang bilang itu tugasmu, tadi pagi. Di depan tiang hukuman."
Bayuwisesa membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Ia menoleh ke arah Dira, lalu kembali ke ayahnya. Ada sesuatu di wajahnya yang tampak seperti orang yang baru sadar ia sudah terjebak oleh kata-katanya sendiri.
"Ki Ageng mendengar," bisik Ki Jalak, terdengar sangat terhibur. "Ki Ageng mendengar semuanya. Siapa yang memberitahunya? Brajanala?"
Mungkin.
"Atau mungkin Ki Ageng sendiri yang mendengarnya. Dari jauh. Orang yang punya telinga seperti itu tidak perlu diberi tahu apa-apa."
"Satu hal lagi," kata Ki Ageng.
Ia menoleh ke barisan abdi. "Mbah Karta."
Juru masak tua itu, yang sudah kembali berjongkok di antara para abdi dan sedang mengupas kulit mati di telapak kakinya, mengangkat kepala.
"Hah?"
"Peyek kacangmu. Untuk selamatan Jumat Legi. Si kembar mengaku mencurinya semalam. Lima, kalau aku tidak salah hitung."
Di samping Mbah Karta, Gendhing dan Gendhis membeku seperti dua patung batu.
Mbah Karta mengerutkan dahi. Ia menatap Ki Ageng dengan mata keruh yang berkedip-kedip. Ia menggaruk kepalanya. Ia menatap si kembar, lalu Ki Ageng lagi.
"Peyek?" tanyanya. "Aku bikin peyek?"
"Kemarin sore, kata mereka. Satu tempayan."
"Aku tidak ingat bikin peyek." Mbah Karta menggeleng-geleng pelan, wajahnya sangat bingung. "Kemarin sore aku merebus kacang. Atau menggoreng kacang. Atau..." Ia mengernyit lebih dalam. "Mungkin itu sepasar lalu. Kepala orang tua, Ki Ageng. Kalau aku tidak ingat bikin peyek, berarti tidak ada peyek. Kalau tidak ada peyek, tidak ada yang bisa dicuri."
Ia kembali mengupas kulit kakinya.
Ki Ageng menatapnya untuk waktu yang sangat lama.
"Si kembar," kata Ki Ageng akhirnya. "Karena masuk ke dapur tengah malam tanpa izin, kalian mencuci semua tampah dan dandang untuk selamatan Jumat Legi. Sendiri. Berdua."
"Baik, Ki Ageng!" teriak Gendhing, sangat lega, terlalu keras.
"Dan Gendhing."
"Iya, Ki Ageng?"
"Obati kepalamu."
Sidang dibubarkan.
Orang-orang mulai meninggalkan halaman dalam kelompok-kelompok kecil, berbisik-bisik, menoleh ke belakang. Beberapa murid luar yang tadi pagi meludah di dekat kaki Dira kini berjalan cepat-cepat dengan wajah menunduk. Seseorang, Dira tidak melihat siapa, meletakkan sebuah kendi kecil berisi air di pasir di sampingnya, lalu pergi tanpa menoleh.
Dira meraih kendi itu dan minum sampai habis.
Ketika ia menurunkan kendinya, Raden Bayuwisesa sudah berdiri di depannya.
"Bangun," kata Bayuwisesa.
Dira bangun. Pelan. Tongkatnya sudah dikembalikan Ki Brajanala, ujung berkain perca dan bergetah nangka itu tertancap di pasir.
Mereka berdiri berhadapan. Putra ketua dan abdi dapur. Bayuwisesa setengah kepala lebih tinggi, ramping dan lurus, berbeskap murid dalam yang bersih. Dira kurus, berpasir, kelabu oleh abu, dengan kain biru tua di leher dan kaki kiri yang tidak bisa menahan tubuhnya.
"Aku tidak suka tugas ini," kata Bayuwisesa.
"Saya juga tidak, Raden."
"Bagus. Kita sepakat dalam satu hal." Bayuwisesa menatapnya dengan mata sedingin air sumur di subuh hari. "Aturannya sederhana. Kau di dapur, aku tidak peduli. Kau keluar dari dapur, aku tahu. Kau pergi ke tempat yang bukan tempat abdi, aku ada di sana sebelum kau sampai." Ia berhenti. "Dan kau tidak akan pernah lagi pergi ke kolam teratai di tengah malam."
"Saya tidak berencana berenang lagi, Raden."
Sudut bibir Bayuwisesa bergerak. Sedikit sekali. Lalu kembali lurus.
"Kodok," katanya, lalu berbalik dan pergi.
Dira akhirnya sampai di sumur belakang dapur ketika matahari sudah condong ke barat.
Ia menimba setengah timba air, karena itu yang bisa ia angkat dengan satu kaki dan satu tangan, dan menuangkannya ke atas kepalanya. Air dingin mengalir di wajahnya, di lehernya, di atas kain biru tua yang segera menyerap air dan menjadi lebih gelap. Abu kelabu luruh dari kulitnya dan mengalir ke tanah dalam aliran-aliran kecil berwarna kelabu.
Ia menimba lagi. Menuang lagi. Ia menggosok tangannya dengan segenggam abu gosok, lalu membilasnya. Ia menggosok kukunya. Lama. Ia tidak tahu kenapa. Kukunya tidak pernah menyentuh jelaga berminyak. Tetapi ia menggosoknya juga.
Ketika ia menoleh, mereka semua sudah di sana.
Wulansari, berdiri di dekat pohon sawo dengan mata merah dan rahang yang mengeras. Satyaki, dengan wajah datar yang masih ungu bekas menahan tawa dan Kyai Pring Kuning di tangan. Gendhing, dengan benjolan sebesar telur di kepalanya yang kini dibalut kain basah. Gendhis, dengan ulekan di tangan, karena rupanya Gendhis tidak pernah ke mana-mana tanpa ulekan. Gandawasa, dengan jerami di rambut dan kambing Ji di sampingnya.
Tidak ada yang berkata apa-apa.
Lalu Wulansari berjalan ke arahnya dan memeluknya. Keras. Tidak peduli bajunya basah. Tidak peduli Dira bau abu dan lumpur dan keringat.
"Hitungan ketiga," bisiknya di bahu Dira. "Dengan bunga. Kau harus bayar semuanya, Kangmas. Semuanya."
"Aku tahu."
"Kau hampir diusir."
"Aku tahu."
"Kau hampir dibakar Nagageni."
"Aku tahu, Wulan."
Wulansari melepaskannya dan menatapnya dengan mata yang basah. Lalu ia memukul bahunya. Keras. Di tempat yang memar karena jatuh tadi.
"Aduh!"
"Itu untuk tidak memberitahuku tentang kolam teratai."
"Telur kentongan," kata Satyaki.
Semua orang menoleh kepadanya.
"Benjolan di kepala Gendhing," kata Satyaki dengan wajah sangat serius. "Seluruh asrama murid luar sudah menamainya. Telur kentongan. Karena kepalanya berbunyi seperti kentongan waktu dipukul."
Gendhing menyentuh benjolannya dengan hati-hati. "Aku tidak keberatan," katanya. "Itu benjolan yang menyelamatkan nyawa orang. Itu benjolan pahlawan."
"Itu benjolan pencuri peyek," kata Gendhis.
"Pahlawan pencuri peyek."
Gandawasa mendengus. Kambing Ji mengembik, seperti setuju.
Dira tertawa. Tawa yang keluar begitu saja dari dadanya, keras dan tiba-tiba, sampai lukanya di bahu berdenyut dan rusuknya sakit. Ia tertawa sampai harus berpegangan pada bibir sumur. Dan di dalam Balai Sukma, Ki Jalak tertawa bersamanya, dan Sapu Angin bercicit-cicit melesat ke sana kemari, dan untuk sesaat, hanya sesaat, padepokan ini terasa seperti rumah.
Nyai Rukminiwati lewat ketika langit sudah merah.
Ia berjalan di jalan setapak antara dapur dan barak, sendirian, dengan langkah yang tegak dan teratur. Ia tidak berhenti. Ia tidak menoleh ke arah sumur, ke arah enam orang dan seekor kambing yang berkumpul di sana.
Tetapi ketika ia lewat, ia berbicara. Ke udara di depannya. Datar.
"Kau bau lumpur, Sudira. Mandi lagi."
Lalu ia sudah lewat.
Dira menatap punggungnya yang menjauh. Ia teringat pagi itu, beberapa candra yang lalu, pagi ketika Gandawasa merobek kain di lehernya untuk pertama kali, dan Nyai Rukminiwati berlutut di lumpur di sampingnya. Bangun. Mandi. Kau bau kambing.
Itu cara Nyai mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia katakan.
Malam turun.
Dira berbaring di samping tungku ketujuh. Tengkurap. Tikar di bawahnya bersih, karena Gendhis menggantinya sore tadi. Bara di tungku berdenyut merah. Mbah Karta mendengkur di dipannya, kali ini sungguhan, atau setidaknya terdengar sungguhan.
Dira tidak tidur.
Ia bangkit tadi, sebelum berbaring, untuk mengambil kendi air dari pintu depan dapur. Dan di ambang pintu itu, di bawah cahaya bulan yang mulai menebal, berdiri Ki Wiradhana.
Tidak ada yang lain. Hanya laki-laki tua berjanggut putih dengan beskap hitam bersulam matahari, berdiri di ambang pintu dapur seperti seorang kakek yang datang menjenguk cucunya.
"Ah, ngger," katanya lembut. "Sudah malam. Kau belum tidur?"
Dira menunduk. Seperti abdi menunduk kepada tetua. "Belum, Ki."
"Hari yang panjang." Ki Wiradhana mengangguk-angguk. "Hari yang sangat panjang. Kau sangat pintar hari ini, ngger. Sangat pintar. Abu tungku. Kaki kiri. Bayangan di air. Aku sungguh terkesan."
Dira tidak menjawab.
Ki Wiradhana tersenyum. Tipis. Lalu ia membungkuk sedikit, cukup dekat sehingga Dira bisa mencium bau tubuhnya. Bau minyak cendana. Bau beskap yang bersih. Dan di bawahnya, sangat samar, bau sambal kemiri.
"Lima," bisiknya.
Lalu ia menegakkan tubuh, menepuk bahu Dira dengan lembut, tepat di tempat yang memar, dan berjalan pergi ke dalam gelap.
Dira berdiri di ambang pintu dengan kendi kosong di tangan.
Lima.
Di candi tua, di balik dinding yang retak, ia mendengar Ki Wiradhana berbicara kepada sosok jangkung bermata merah. Empat ujian, dan dia lulus semuanya. Belum. Belum berarti belum diuji. Belum berarti masih diuji.
Sekarang lima.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Dia tidak kalah hari ini. Dia tidak pernah berencana menang hari ini."
Dira kembali ke tikarnya. Ia berbaring tengkurap. Ia memejamkan matanya.
Dan di dalam dadanya, di bawah pusarnya, di tempat napas gunung berputar setiap malam, sesuatu mulai terasa panas.
Bukan hangat. Panas. Seperti bara yang ditiup terlalu keras.
Panas itu berputar sekali. Dua kali. Tiga kali. Lebih cepat dari biasanya. Lebih liar. Seperti semua yang ia tahan sepanjang hari, takut di balairung, haus di tiang hukuman, malu ketika jatuh di pasir, marah ketika Ki Wiradhana membisikkan lima, semuanya terkumpul di satu tempat dan tidak mau lagi ditahan.
"Bocah." Suara Ki Jalak tiba-tiba sangat tajam. "Jangan bergerak. Jangan bangun. Jangan bersuara."
Apa ini?
"Ini," kata Ki Jalak, "datang."