Sang Penelan Pusaka

Bab 96Mbah Karta Bersuara

Seluruh halaman menoleh ke belakang.

Lima ratus kepala, lima ratus pasang mata, menatap seorang laki-laki tua bungkuk dengan selendang lusuh yang berdiri di antara para abdi sambil menggaruk-garuk kepala. Mulutnya sedikit menganga. Matanya berkedip-kedip keruh ke arah serambi. Jari telunjuknya yang keriput masih teracung, sedikit gemetar, ke arah Gajahsora.

Beberapa murid luar tertawa kecil. Lalu berhenti, karena Ki Ageng tidak tertawa.

"Mbah Karta," kata Ki Ageng Suryadharma perlahan. "Kau mau bertanya kepada Gajahsora?"

"Iya, Ki Ageng." Mbah Karta mengangguk-angguk, lambat, seperti kambing yang mengunyah. "Satu saja. Orang tua kalau bertanya banyak-banyak nanti lupa pertanyaannya sendiri."

Ki Wiradhana mengangkat tangan dengan sopan. "Ki Ageng, dengan segala hormat, Mbah Karta tadi pagi tidak ingat apakah yang ngorok itu Dira atau Gendhing. Saya khawatir..."

"Aku ingat sekarang," kata Mbah Karta. "Gendhing yang ngorok. Dira cuma napas." Ia menggaruk ketiaknya. "Kepala orang tua itu seperti dandang tua, Ki Wira. Kadang airnya baru mendidih kalau apinya sudah lama dinyalakan."

Beberapa abdi tertawa. Ki Wiradhana tersenyum dengan sabar.

Ki Ageng menatap juru masak tua itu untuk waktu yang lama. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Dira baca. Sesuatu yang mirip dengan cara Nyai menatap Mbah Karta di dapur dulu, setelah malam ingkung. Seperti menatap gunung yang selama ini dikira bukit.

"Majulah, Mbah," kata Ki Ageng.


Mbah Karta maju.

Lambat. Sangat lambat. Ia menyeret kakinya di atas pasir, srek, srek, melewati barisan abdi, melewati murid-murid luar yang bergeser memberinya jalan sambil menahan senyum. Di tengah jalan, ia berhenti, membungkuk, memungut sebutir kerikil dari tanah, mengamatinya, lalu membuangnya lagi. Seseorang terkikik.

Ketika akhirnya ia sampai di depan serambi, ia berhenti di samping Dira. Ia tidak menatap Dira. Ia menatap tongkat yang tergeletak di pasir.

Lalu ia membungkuk, dengan erangan panjang orang tua yang punggungnya sakit, dan memungut tongkat itu.

"Ini tongkatnya, ya?" tanyanya kepada siapa pun.

"Itu tongkat abdi itu, Mbah," jawab Gajahsora dari samping Ki Wiradhana. Suaranya kembali keras dan percaya diri. Ia sudah pulih dari keterkejutannya tadi. "Tongkat yang saya dengar di anak tangga balai pusaka. Tok, tok, tok."

"Tok, tok, tok," ulang Mbah Karta, mengangguk-angguk. "Keras?"

"Keras, Mbah. Jelas sekali. Di tengah malam, bunyi seperti itu terdengar sampai jauh."

"Oh." Mbah Karta menimbang-nimbang tongkat itu di tangannya. "Seperti ini?"

Ia berjalan ke anak tangga serambi balairung. Anak tangga batu. Batu andesit yang hitam dan keras, yang dilap setiap pagi oleh para abdi sampai mengilap. Ia mengangkat tongkat itu dan mengetukkannya ke anak tangga pertama.

Tidak ada bunyi.

Ia mengetuk lagi. Lebih keras.

Hanya bunyi puk yang sangat pelan dan tumpul, seperti orang menepuk bantal kapuk.

Ia mengetuk sekali lagi, sangat keras, dengan seluruh tenaga lengannya yang kurus, dan ujung tongkat itu menghantam batu andesit dengan bunyi yang sama sekali tidak terdengar oleh orang-orang di barisan ketiga.

Halaman itu hening.

"Kenapa tidak bunyi?" tanya Mbah Karta kepada tongkat itu dengan wajah bingung. "Tongkat ini rusak?"

Lalu ia memiringkan tongkat itu, seperti baru pertama kali melihatnya, dan menatap ujungnya. Kain perca. Tiga lilitan benang rami.

"Oh," katanya. "Aku yang membungkusnya. Kemarin sore." Ia menoleh ke Ki Ageng dengan wajah orang yang baru teringat sesuatu yang sepele. "Tongkat ini bunyinya tok-tok-tok di lantai dapur, Ki Ageng. Bikin sayurku tawar. Jadi kubungkus. Kuikat dengan benang rami, lalu kuolesi getah nangka supaya tidak lepas kalau kena air. Getah nangka itu, Ki Ageng, kalau sudah kering, kerasnya seperti kulit kerbau. Tidak bisa dibuka. Harus dipotong."

Ia mengulurkan tongkat itu kepada Ki Ageng.

"Silakan diperiksa. Kalau ada yang memotongnya semalam lalu mengikatnya lagi, pasti kelihatan. Orang tua ini memang pikun, tapi tangannya belum pikun. Ikatanku selalu sama."


Ki Ageng menerima tongkat itu.

Ia memeriksa ujungnya. Lama. Ia menekan kain perca itu dengan ibu jarinya. Ia mengetukkan kukunya ke benang rami yang melilit. Bunyinya kering dan keras, tik, tik, seperti mengetuk kulit kayu. Getah nangka yang mengering membuat benang itu kaku dan mengilap, menempel pada kain di bawahnya seperti satu lapisan.

Tidak ada bekas potongan. Tidak ada benang yang longgar. Debu jalan menempel rata di seluruh permukaan getah yang mengering, debu dari semalam dan pagi ini, tanpa celah.

Ki Ageng menyerahkan tongkat itu kepada Ki Brajanala. Ki Brajanala memeriksanya juga. Lalu Ki Sastrapawira. Lalu, tanpa diminta, Raden Bayuwisesa mengambilnya dari tangan Ki Sastrapawira dan mengetukkannya sendiri ke anak tangga batu.

Puk.

Bayuwisesa menatap Gajahsora.

"Tok, tok, tok," katanya datar.

Gajahsora membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Wajahnya yang tadi merah mulai pucat.

"Saya... mungkin saya salah dengar," katanya. "Gelap. Mungkin itu bunyi lain. Mungkin bunyi kaki. Tapi saya tetap melihat orang pincang bertongkat. Saya bersumpah demi..."

"Itu bukan pertanyaanku," kata Mbah Karta.

Semua orang menoleh kepadanya lagi.

Juru masak tua itu sedang menggaruk-garuk telinganya dengan jari kelingking. Ia memeriksa jari itu, mengibaskannya, lalu menatap Gajahsora dengan mata keruh yang berkedip-kedip.

"Soal tongkat itu tadi cuma pemanasan," katanya. "Orang tua kalau mau bertanya harus pemanasan dulu, seperti tungku. Pertanyaanku yang sebenarnya lain."

Ia melangkah mendekati Gajahsora. Pelan. Srek, srek. Sampai ia berdiri tepat di depan murid dalam yang berlutut itu, cukup dekat sehingga Gajahsora harus mendongak untuk menatapnya.

"Anak gagah," kata Mbah Karta dengan suara yang ramah dan serak, "semalam, sebelum kentongan pertama, waktu aku sedang tidur di dipanku, ada orang yang masuk ke dapurku."

Gajahsora tidak bergerak.

"Orang besar," lanjut Mbah Karta. "Langkahnya berat, tapi dia berusaha supaya ringan. Bau minyak rambut kemiri. Dia tidak menyalakan pelita. Dia langsung ke tungku pertama. Lalu aku dengar bunyi. Krek. Krek. Krek." Mbah Karta menggosok-gosokkan kuku jarinya ke telapak tangan, menirukan bunyi itu. "Bunyi orang mengerok dinding tungku. Mengambil jelaga."

Halaman itu sudah tidak bernapas lagi.

"Waktu itu kupikir aku mimpi," kata Mbah Karta, menggaruk kepalanya. "Orang tua sering mimpi. Kadang mimpi digigit kambing. Kadang mimpi ada orang mengerok tungku. Jadi aku tidur lagi. Baru tadi, waktu Dira bilang soal jelaga tungku pertama, dandang tua di kepalaku ini mendidih." Ia mengetuk pelipisnya. "Jadi pertanyaanku cuma satu, Nak. Satu saja."

Ia membungkuk sedikit. Matanya, yang keruh dan berkedip-kedip, berhenti berkedip.

"Boleh orang tua ini melihat kuku-kukumu?"


Gajahsora tidak mengangkat tangannya.

Ia berlutut di sana, di samping Ki Wiradhana, dengan kedua tangannya yang besar mencengkeram lututnya sendiri. Buku-buku jarinya memutih. Ia menatap Mbah Karta, lalu menatap Ki Ageng, lalu, sebentar sekali, begitu cepat sampai hanya orang yang memperhatikan bisa melihatnya, menatap Ki Wiradhana.

Ki Wiradhana tidak membalas tatapannya. Ia menatap warangka kosong di depannya dengan wajah sedih.

"Gajahsora," kata Ki Ageng. "Tunjukkan tanganmu."

Gajahsora tidak bergerak.

"Brajanala."

Ki Brajanala melangkah maju. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya membungkuk, memegang pergelangan tangan kanan Gajahsora dengan satu tangan, dan menariknya ke atas. Gajahsora melawan. Lengannya menegang, otot-otot di bahunya menggembung. Ia murid dalam, Prana Puncak, dan tubuhnya besar seperti gajah sesuai namanya.

Ki Brajanala menariknya ke atas seperti menarik rumput dari tanah basah.

Ia membalik tangan itu. Telapak menghadap ke atas. Ke matahari.

Tangan itu bersih. Dicuci dengan baik. Kulitnya bahkan masih sedikit kemerahan karena digosok keras, mungkin dengan abu gosok, mungkin berkali-kali.

Tetapi di bawah kuku-kukunya, di celah sempit antara kuku dan daging jari, ada garis hitam. Tipis. Berkilat sedikit di bawah matahari.

Ki Brajanala menggesekkan ujung kukunya sendiri di bawah kuku ibu jari Gajahsora. Ia mengangkat jarinya. Di ujungnya, sebutir kecil hitam yang lengket.

Ia menciumnya.

"Minyak kelapa," katanya. "Dan bawang merah."


Halaman meledak.

Gemuruh suara, teriakan, makian. Murid-murid luar berdiri berjinjit untuk melihat. Abdi-abdi saling dorong. Di barisan murid dalam, beberapa orang mundur menjauhi tempat Gajahsora berlutut, seperti ia tiba-tiba membawa penyakit.

"Minyak tidak hilang dengan abu," kata Mbah Karta, kepada tak seorang pun secara khusus. Ia menggaruk kepalanya lagi. "Anak muda zaman sekarang mencuci tangan cuma telapaknya. Kukunya lupa. Gendhis saja tahu itu."

Di barisan belakang, Gendhis mengangguk keras-keras dengan wajah yang sangat bangga.

"Aku..." Gajahsora menarik tangannya dari genggaman Ki Brajanala. Kali ini Ki Brajanala melepaskannya. Gajahsora menatap kukunya sendiri seperti menatap ular. "Aku cuma... aku disuruh..."

Ia berhenti.

"Disuruh?" Ki Wiradhana mengangkat kepalanya. Wajahnya penuh keterkejutan dan kesedihan. Ia menatap Gajahsora seperti seorang kakek menatap cucu yang ternyata mencuri. "Disuruh siapa, Gajahsora? Katakan. Katakan di depan Ki Ageng. Siapa yang menyuruhmu melakukan perbuatan keji ini?"

Gajahsora menatapnya.

Lama.

Dira, yang berlutut paling dekat, melihat sesuatu yang aneh di wajah murid dalam itu. Takut. Takut yang begitu dalam dan begitu tua, seperti takut seekor kerbau yang sudah dipukul terlalu sering.

"Tidak ada," kata Gajahsora akhirnya. Suaranya kecil. "Tidak ada yang menyuruh. Saya sendiri. Saya... saya benci abdi itu. Dia mempermalukan saya di lapangan murid luar. Saya ingin dia diusir."

"Bohong," bisik Ki Jalak. "Lihat matanya. Dia lebih takut pada orang tua berjanggut itu daripada pada Ki Ageng, Nagageni, dan pengusiran sekaligus."


Raden Bayuwisesa sudah menghunus Kyai Nagageni lagi.

Kali ini ujungnya mengarah ke leher Gajahsora. Hawa panas menyembur. Rambut Gajahsora yang berminyak kemiri mulai mengepulkan asap tipis di ujung-ujungnya.

"Di mana keris ayahku?"

"Saya tidak mengambilnya!" Gajahsora mundur dengan lututnya, menjauhi bilah yang membara. "Sumpah, Raden! Demi pusaka saya! Saya cuma membuat jejak! Saya masuk ke balai pusaka sebelum kentongan kedua, saya membuat jejak kaki di abu, saya menempelkan tangan di dinding, saya menaruh warangka di gubuk. Cuma itu!" Napasnya tersengal. "Kerisnya sudah tidak ada! Waktu saya masuk, Raden, kerisnya sudah tidak ada! Warangkanya tergeletak di lantai, kosong! Penjaga dupanya sudah tidur di tangga! Saya cuma... saya cuma diberi tahu supaya..."

Ia berhenti lagi.

Mulutnya masih terbuka. Tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Dira melihatnya terlebih dulu, karena ia yang paling dekat.

Mata Gajahsora. Matanya yang tadi melebar karena takut, perlahan-lahan, sangat perlahan, mulai mengatup. Bukan seperti orang yang memejamkan mata. Seperti orang yang mengantuk. Sangat mengantuk. Kelopak matanya turun, naik sedikit, turun lagi.

"Saya..." gumamnya. "Saya diberi..."

Tubuhnya miring ke samping.

Pelan. Seperti batang pisang yang ditebang. Kepalanya jatuh ke pasir di depan Ki Wiradhana, tepat di samping warangka kosong itu. Matanya tertutup. Mulutnya sedikit terbuka. Napasnya panjang dan teratur, seperti napas orang yang tidur sangat nyenyak di malam yang dingin.

Halaman itu kembali hening. Hening yang lain dari sebelumnya. Hening yang membuat bulu kuduk berdiri.

Ki Brajanala berlutut dan mengguncang bahu Gajahsora. Keras. Lalu lebih keras. Ia menampar pipinya. Ia berteriak di telinganya.

Gajahsora tidak bangun.


Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak berdiri di atas potongan dahannya dengan bulu mengembang seluruhnya.

"Bocah," bisiknya. "Cium udaranya."

Dira menarik napas pelan.

Di antara bau keringat lima ratus orang, bau pasir panas, bau rambut Gajahsora yang hangus sedikit oleh Nagageni, ada bau lain. Sangat samar. Begitu samar sampai hidung manusia biasa tidak akan menangkapnya. Tetapi hidung Raga Puncak, hidung yang pernah mengenali bau warangan di antara santan dan cabai, menangkapnya.

Manis dan pahit sekaligus. Seperti bunga yang membusuk.

Bau itu tidak datang dari udara. Bau itu datang dari pinggang Gajahsora. Dari sabuk murid dalamnya. Dari sebuah kantong kain kecil yang terselip di balik sabuk itu, kantong yang tidak diperhatikan siapa pun, dari mana kini naik seutas asap hitam yang sangat tipis. Begitu tipis sampai tampak seperti bayangan rambut di udara.

Lalu asap itu habis. Dan bau itu hilang.

"Mereka membungkamnya," kata Ki Jalak. "Di sini. Di tengah halaman. Di depan lima ratus orang, di depan Ki Ageng, di depan Nagageni." Burung itu diam sebentar. "Semalam keris Geni Baskara hilang. Dan siang ini, untuk pertama kalinya, dupa hitam menyala di depan mata seluruh padepokan."

Dira menatap Ki Wiradhana.

Laki-laki tua itu sedang membungkuk di atas tubuh Gajahsora dengan wajah penuh duka. Ia meletakkan tangan keriputnya di dahi murid dalam yang tertidur itu, seperti seorang kakek yang memeriksa demam cucunya.

"Ah, ngger," bisiknya kepada Gajahsora, cukup keras untuk didengar oleh barisan terdepan. "Ah, ngger, ngger. Apa yang sudah kau lakukan pada dirimu sendiri?"

Lalu ia mengangkat kepalanya.

Dan untuk sesaat, sangat singkat, matanya bertemu dengan mata Dira.

Tidak ada kesedihan di sana. Tidak ada iba. Tidak ada kasih sayang seorang kakek.

Yang ada hanya hitungan.