Sang Penelan Pusaka

Bab 95Saksi Kembar

Lima ratus kepala menoleh ke barisan abdi.

Gendhing masih berdiri dengan tangan teracung. Wajahnya merah sampai ke telinga. Di sampingnya, Gendhis sudah berhenti menarik-narik lengan bajunya. Ia berdiri membeku, kedua tangan menutup mulut, wajahnya berubah dari merah ke putih ke merah lagi seperti bara yang ditiup angin.

Di serambi, Ki Ageng Suryadharma menatap mereka berdua.

"Maju," katanya.

Gendhing menurunkan tangannya. Lalu menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Lalu menelan ludah begitu keras sampai Dira bisa mendengarnya dari tengah halaman.

Para abdi di sekitar mereka bergeser memberi jalan, sama seperti mereka bergeser untuk Dira tadi pagi. Tetapi kali ini mereka bergeser dengan wajah yang berbeda. Bukan jijik. Kagum, mungkin. Atau kasihan. Gendhing berjalan ke depan dengan langkah seperti orang yang menuju tiang gantungan. Gendhis berjalan di belakangnya, menunduk begitu dalam sampai dagunya hampir menyentuh dada, sambil terus berbisik dengan suara yang terdengar sampai ke barisan murid luar:

"Aku akan membunuhmu. Aku sungguh-sungguh akan membunuhmu. Aku akan memasukkanmu ke dalam dandang dan merebusmu sampai lunak seperti ingkung."

Mereka berlutut di samping Dira. Gendhing di kanan, Gendhis di kiri. Gendhis tidak menoleh ke Dira. Gendhing menoleh, dan memberinya senyum yang sangat lebar dan sangat gugup.

"Bocah," bisik Ki Jalak. "Aku tidak tahu apakah ini akan menyelamatkanmu atau membuat kalian bertiga diusir bersama-sama."

Aku juga tidak.


"Gendhing," kata Ki Ageng. "Kau bilang kau melihat Sudira di dapur semalam. Pada kentongan kedua."

"Iya, Ki Ageng."

"Kenapa kau ada di dapur pada kentongan kedua?"

Gendhing membuka mulut. Menutupnya. Menoleh ke Gendhis. Gendhis menatap lurus ke tanah dengan wajah yang mengancam pembunuhan.

"Peyek, Ki Ageng," kata Gendhing akhirnya.

Hening.

"Peyek," ulang Ki Ageng.

"Peyek kacang, Ki Ageng. Mbah Karta membuatnya kemarin sore. Satu tempayan penuh. Untuk selamatan Jumat Legi besok. Disimpan di rak paling tinggi, di atas gentong beras, ditutup tampah dan diberi batu di atasnya." Gendhing berbicara dengan cepat sekarang, seperti air yang akhirnya menemukan jalan keluar dari bendungan. "Saya tidak bisa tidur, Ki Ageng. Saya terus memikirkan peyek itu. Baunya. Gurihnya. Kacangnya yang besar-besar. Saya berbaring di tikar dan saya bisa mencium baunya dari barak. Sungguh, Ki Ageng. Dari barak. Lalu saya pikir, satu saja. Satu peyek. Tidak akan ada yang tahu."

"Satu," kata Gendhis tanpa mengangkat kepala.

"Satu!"

"Tiga."

"Itu karena yang pertama patah!"

Seseorang di barisan murid luar tertawa. Lalu cepat-cepat menutup mulutnya.

"Lanjutkan," kata Ki Ageng. Wajahnya tidak berubah. Tetapi Dira, yang berlutut paling dekat, melihat sudut matanya bergerak sedikit.


"Jadi saya keluar dari barak, Ki Ageng," kata Gendhing. "Pelan-pelan. Tanpa pelita. Saya masuk ke dapur lewat pintu depan. Gelap. Cuma ada cahaya dari bara di tungku ketujuh. Dan di sana, di samping tungku ketujuh, di atas tikar, ada Dira."

"Apa yang dia lakukan?"

"Tidur, Ki Ageng. Tengkurap. Wajahnya menghadap tikar. Kain biru di lehernya." Gendhing berhenti, berpikir. "Dan dia ngorok."

"Dia tidak ngorok," kata Gendhis.

Gendhing menoleh kepadanya. "Dia ngorok!"

"Dia tidak ngorok." Gendhis akhirnya mengangkat kepalanya. Wajahnya masih merah, tetapi matanya sekarang menyala dengan sesuatu yang lebih kuat dari malu: keinginan untuk membetulkan saudaranya. "Itu bukan ngorok. Itu napas orang yang pura-pura tidur. Terlalu rapi. Terlalu teratur. Seperti orang yang menghitung napasnya sendiri." Ia menoleh ke Dira dengan mata menyipit. "Kau pura-pura tidur. Supaya tidak dimintai peyek."

Dira membuka mulut. Menutupnya.

Di serambi, Ki Ageng mengangkat tangan sedikit. "Tunggu. Gendhis. Kau juga di dapur?"

Gendhis membeku. Wajahnya kembali putih.

"Ceritakan," kata Ki Ageng.

Gendhis menatap tanah lagi. Lama. Lalu ia menarik napas panjang, seperti orang yang akan terjun ke sumur.

"Saya mengikuti Gendhing, Ki Ageng," katanya pelan. "Saya tahu dia akan mencuri peyek. Dia selalu mencuri sesuatu kalau tidak bisa tidur. Dan kalau peyek Mbah Karta berkurang besok pagi, yang disalahkan pasti saya, karena saya yang membantu Mbah Karta menggorengnya." Ia mengatupkan rahangnya. "Jadi saya mengikutinya. Untuk menangkapnya. Saya masuk lewat pintu belakang dan bersembunyi di balik gentong air. Supaya saya bisa menangkapnya dengan tangan di dalam tempayan."

"Dan?"

"Dan dia tidak tahu saya di sana." Gendhis menunjuk saudaranya dengan dagu. "Dia memanjat rak, mengangkat batu dari atas tampah, mengambil peyek, dan memakannya di atas rak seperti kera. Krak. Krak. Keras sekali. Saya heran Dira tidak bangun."

"Aku tidak keras!"

"Kau keras seperti kambing mengunyah bambu."


"Lalu?" tanya Ki Ageng.

Si kembar saling pandang. Untuk pertama kalinya, mereka berdua tampak sama-sama malu.

"Lalu," kata Gendhing pelan, "saya turun dari rak. Dan dalam gelap, saya menabrak sesuatu di balik gentong air. Sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang bernapas."

"Saya," kata Gendhis.

"Saya kira itu hantu, Ki Ageng. Mbok Darsih bilang ada hantu perempuan di dapur yang suka bersembunyi di balik gentong dan mencuri nasi kerak." Gendhing bergidik. "Jadi saya mau menjerit. Tapi sebelum saya menjerit..."

"Saya memukulnya," kata Gendhis.

"Dengan ulekan!"

"Saya kira dia maling!"

"Kau tahu itu aku! Kau mengikutiku!"

"Dalam gelap semua kepala sama bentuknya!"

Gendhing menoleh ke serambi dengan wajah memelas. Lalu ia menundukkan kepalanya dan menyibakkan rambutnya yang tebal dengan kedua tangan, di depan Ki Ageng, di depan para tetua, di depan lima ratus orang.

Di ubun-ubunnya ada benjolan. Bulat. Sebesar telur ayam kampung. Ungu kebiruan.

Halaman itu meledak.

Bukan dalam gemuruh marah seperti tadi. Dalam tawa. Tawa yang ditahan-tahan sejak pagi, tawa orang-orang yang sudah terlalu lama tegang, pecah sekaligus seperti bendungan jebol. Murid-murid luar terbungkuk-bungkuk. Beberapa abdi menutup wajah mereka. Bahkan di barisan murid dalam, beberapa orang terbatuk-batuk keras untuk menyembunyikan tawa.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak jatuh dari potongan dahannya.

Di serambi, Ki Ageng Suryadharma menutup matanya. Lama. Bahunya naik dan turun sekali, sangat pelan. Ketika ia membuka matanya lagi, wajahnya kembali seperti gunung. Tetapi gunung yang sedikit retak di satu sisinya.


"Kapan," tanya Ki Ageng, ketika halaman sudah tenang kembali, "Gendhis memukul kepalamu?"

"Kentongan kedua, Ki Ageng," kata Gendhing tanpa ragu.

"Bagaimana kau bisa yakin?"

"Karena tepat waktu ulekan itu kena kepala saya, kentongan kedua berbunyi di halaman. Tung. Tung." Gendhing menyentuh benjolan di kepalanya dengan hati-hati. "Saya kira yang berbunyi itu kepala saya, Ki Ageng. Sungguh. Saya kira kepala saya pecah dan bunyinya seperti kentongan."

Tawa lagi. Lebih pelan kali ini. Lebih hangat.

Dira menatap tanah di depannya. Ia teringat sesuatu.

Semalam. Ketika ia berbaring tengkurap di samping tungku ketujuh, menghitung semua yang ia ketahui tentang Nyai Rukminiwati. Satu. Dua. Tiga. Di tengah hitungannya, ia mendengar bunyi. Tok. Dari arah gentong air. Satu kali. Tumpul. Ia mengira itu tikus yang menjatuhkan sesuatu dari rak. Ia tidak menoleh, karena ia sedang menghitung, dan karena tikus di dapur bukan hal baru.

Lalu, samar-samar, kentongan kedua.

Lalu bisik-bisik yang sangat pelan, seperti dua tikus yang bertengkar.

Ia tidak menghiraukannya. Ia sedang memikirkan bekas simpul di lengan Nyai.

"Satu-satunya bunyi tok yang ada di dapur semalam," kata Ki Jalak, yang sudah naik kembali ke potongan dahannya dengan bulu-bulu berantakan, "adalah bunyi ulekan menghantam kepala anak itu."


"Berapa lama," tanya Ki Ageng, "kalian di dapur sesudah itu?"

"Lama, Ki Ageng," kata Gendhis. "Gendhing menangis, jadi saya harus menenangkannya. Lalu dia marah, jadi saya harus memarahinya balik. Lalu kami bertengkar dengan berbisik di bawah meja. Lalu dia lapar lagi karena menangis, jadi dia makan peyek lagi."

"Satu," kata Gendhing.

"Dua."

"Itu juga patah!"

"Kira-kira sepenanak nasi, Ki Ageng," kata Gendhis, mengabaikan saudaranya. "Sepanjang waktu itu, kami di bawah meja, dan meja itu menghadap tungku ketujuh. Dira tidak bergerak. Sama sekali. Dia tetap tengkurap. Cuma sekali dia bergerak."

"Bergerak bagaimana?"

Gendhis ragu. Lalu, dengan wajah merah, ia berbisik keras: "Menggaruk pantatnya, Ki Ageng."

Kali ini Dira yang ingin terkubur ke dalam pasir.

Di tengah lautan murid luar, Wulansari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang. Dira tidak tahu apakah adiknya menangis atau tertawa, dan ia curiga adiknya sendiri juga tidak tahu. Beberapa langkah dari Wulansari, Satyaki menggigit lengan bajunya sendiri sampai wajahnya yang datar menjadi ungu.

Dan dari barisan tetua, dari ujung serambi, suara serak Ki Tirtakusuma memecah keheningan.

"APA? APA KATANYA? PANTAT SIAPA?"

Tetua di sampingnya membisikkan sesuatu ke telinganya.

"OH," teriak Ki Tirtakusuma, puas. "KALAU BEGITU DIA PASTI TIDUR SUNGGUHAN. ORANG YANG PURA-PURA TIDUR TIDAK MENGGARUK PANTAT. AKU SUDAH SEMBILAN PULUH WARSA. AKU TAHU."

Ki Ageng memejamkan matanya lagi.

"Dan satu hal lagi," kata Gendhing tiba-tiba. Ia mengangkat tangannya lagi, seperti murid yang baru teringat jawaban. "Tongkatnya, Ki Ageng. Tongkat Dira bersandar di dinding dekat tungku. Dan ujungnya aneh. Ujungnya pakai sarung. Seperti keris. Dibungkus kain dan diikat tali." Ia menoleh ke Dira. "Aku mau tanya kenapa, tapi kau pura-pura tidur."

Di serambi, Ki Ageng menatap tongkat di samping Dira. Ke ujungnya. Ke kain perca dan tiga lilitan benang rami.

Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi ia menatapnya lama.

Di samping Ki Wiradhana, Gajahsora juga menatap ujung tongkat itu. Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak tersenyum.


"Ki Ageng." Ki Wiradhana mengangkat tangannya. Suaranya masih lembut, masih sabar, masih penuh kasih sayang. "Saya tidak meragukan kejujuran anak-anak ini. Sungguh. Mereka anak-anak yang baik. Tapi mohon diingat beberapa hal."

Ia menghitung dengan jari-jarinya yang keriput.

"Pertama, si kembar adalah sahabat terdekat Sudira di dapur. Pada malam ingkung, mereka juga bersaksi untuknya. Dan ternyata mereka tidak terus-menerus memperhatikannya." Satu jari. "Kedua, mereka baru saja mengaku, di depan seluruh padepokan, bahwa mereka masuk ke dapur tengah malam untuk mencuri peyek selamatan tetua." Jari kedua. "Pencuri peyek bersaksi untuk pencuri keris, Ki Ageng. Apa kata orang nanti?"

Gendhing menunduk. Gendhis mengatupkan rahang.

"Ketiga," lanjut Ki Wiradhana, "menurut adat Argasuryan, kesaksian dua abdi setara dengan kesaksian satu murid dalam." Ia menoleh ke samping. "Dan Gajahsora, seorang murid dalam, melihat orang pincang bertongkat di jalan setapak balai pusaka. Pada kentongan kedua. Pada saat yang sama."

Ia merentangkan tangannya dengan penuh penyesalan.

"Satu murid dalam melawan dua abdi pencuri peyek. Sama berat, Ki Ageng. Paling banter, sama berat."

Gajahsora mengangkat dagunya. "Saya bersumpah demi pusaka saya, Ki Ageng. Saya melihatnya. Saya mendengar tongkatnya. Tok, tok, tok."

Halaman itu sunyi lagi.

Tawa tadi sudah hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanya panas matahari, pasir yang menyengat, dan lima ratus orang yang menunggu.

Ki Ageng Suryadharma menatap Gajahsora. Lalu si kembar. Lalu Dira. Lalu, sebentar sekali, ia menatap ke barisan tetua, ke Nyai Rukminiwati yang duduk tegak dengan wajah seputih kapur dan mata yang menatap lurus ke depan.

"Kalau dua kesaksian sama berat," kata Ki Ageng perlahan, "maka adat menyerahkan keputusan kepada ketua. Dan ketua harus memutuskan dengan..."

"Ki Ageng."

Suara itu serak. Tua. Dan datang dari tempat yang tidak diduga siapa pun.

Dari barisan abdi paling belakang.

Mbah Karta sudah berdiri. Ia berdiri dengan punggung bungkuk, selendang lusuh di bahu, kaki yang sedikit gemetar seperti orang tua yang lututnya sudah lelah. Ia menggaruk kepalanya yang botak. Matanya keruh dan berkedip-kedip ke arah serambi, seperti orang yang baru bangun tidur dan tidak tahu ia sedang di mana.

"Maaf, Ki Ageng," katanya dengan suara serak juru masak tua yang dikenal seluruh padepokan. "Orang tua ini cuma mau tanya. Satu hal saja. Kepada anak muda yang gagah itu." Ia mengangkat jarinya yang keriput dan menunjuk. Ke depan. Melewati para abdi, melewati murid-murid luar, melewati murid-murid dalam.

Ke Gajahsora.

"Boleh?"