Sang Penelan Pusaka

Bab 94Abu Tungku

"Abu?"

Gajahsora tertawa. Keras. Tawa itu menggema di halaman yang sunyi dan memantul dari dinding balairung.

"Abu, Ki Ageng! Dia minta abu!" Ia menoleh ke barisan murid dalam di belakangnya, mengangkat kedua tangannya. "Abdi dapur ini ketahuan mencuri keris pendiri, dan dia minta abu! Barangkali dia mau memasak sambal sebelum diusir!"

Beberapa murid dalam tertawa. Lalu beberapa murid luar. Tawa itu menyebar seperti api di jerami kering, sampai separuh halaman ikut tertawa, dan Dira berlutut di tengahnya dengan tangan terikat dan wajah kelabu oleh abu.

Ki Ageng Suryadharma tidak tertawa.

Ia mengangkat satu tangannya. Hanya itu. Tawa di halaman mati seketika, seperti nyala pelita yang ditiup.

"Brajanala," katanya. "Bayu."

Kedua orang itu melangkah maju.

"Ambilkan yang dia minta. Kalian berdua. Bersama-sama. Supaya tidak ada yang bilang ada yang ditukar." Ki Ageng menatap Dira. "Dan lepaskan ikatan tangannya. Orang tidak bisa menunjukkan apa pun dengan tangan terikat."

Ki Wiradhana mengangkat tangan dengan sopan. "Ki Ageng, apakah itu bijak? Kalau anak ini..."

"Kalau anak ini lari," kata Ki Ageng, "dengan satu kaki dan tanpa tongkat, di tengah lima ratus orang, aku akan sangat terkesan." Ia tidak tersenyum. "Lepaskan."

Ki Brajanala melepaskan ikatan di pergelangan Dira. Darah mengalir kembali ke tangannya dengan rasa seperti ditusuk seribu duri. Dira mengepal dan membuka jarinya pelan-pelan, sementara Ki Brajanala dan Raden Bayuwisesa berjalan pergi bersama, yang satu ke arah balairung, yang lain ke arah dapur.


Menunggu adalah bagian yang paling sulit.

Dira berlutut di pasir panas dan menatap tangannya sendiri. Kelabu. Abu di lipatan-lipatan jari. Abu di bawah kuku. Ia belum membasuhnya sejak bangun. Sejak fajar, ia digiring ke balairung, lalu ke tiang hukuman, lalu ke sini. Ratusan orang melihatnya sepanjang pagi. Tak ada yang melihatnya menyentuh air, kecuali air yang dituang Satyaki ke tiang, ke rambut dan wajahnya.

Tidak ke tangannya. Tangannya terikat di belakang tiang.

"Bagus," bisik Ki Jalak. "Itu bagus, bocah. Itu sangat bagus."

Kau yakin ini akan berhasil?

"Tidak." Ki Jalak berpikir. "Tapi kau yakin. Aku bisa merasakannya. Kau menghitung semalaman sambil tengkurap, dan kau menghitung sepanjang pagi di tiang itu. Hitunganmu jarang salah."

Hitunganku sering salah.

"Jarang salah soal dapur." Burung itu mengembangkan bulunya. "Kau tidak mengerti jurus. Kau tidak mengerti tingkat kultivasi. Kau tidak mengerti kenapa ada makhluk raksasa tidur di dadamu. Tapi kau mengerti dapur, bocah. Lebih dari siapa pun di halaman ini. Dan orang yang memfitnahmu memakai dapur untuk memfitnahmu."


Ki Brajanala kembali lebih dulu.

Ia membawa dua lembar daun pisang. Di atas yang satu, sejumput abu yang hampir putih. Kelabu pucat, halus seperti tepung, sangat ringan sampai sedikit berhamburan tertiup angin. Di atas yang lain, segumpal jelaga hitam pekat yang dikerok dari dinding tungku. Jelaga itu berkilat di bawah matahari. Lengket. Menggumpal.

Ia meletakkan keduanya di atas pasir di depan Dira.

Lalu Raden Bayuwisesa kembali. Ia membawa sejumput abu dari lantai balai pusaka di atas daun pisang ketiga. Dan di tangan yang lain, sehelai kain putih kecil yang sudut-sudutnya sudah kotor.

"Ayahku memintaku mengusap bekas telapak tangan di dinding dengan kain ini," katanya kepada seluruh halaman, "supaya bisa diperiksa tanpa membawa dindingnya."

Ia meletakkan kain itu di samping daun-daun pisang. Di tengah kain putih itu ada noda hitam. Noda yang tidak kering seperti abu. Noda yang meresap ke dalam serat kain, berkilat samar, dengan tepi kekuningan yang melebar seperti bekas minyak yang tertumpah.

Dira menatap noda itu. Ia tidak tersenyum. Tetapi di dalam dadanya, sesuatu yang sudah tegang sejak semalam mengendur sedikit.

"Bicaralah," kata Ki Ageng.


Dira mengangkat daun pisang pertama. Abu tungku ketujuh.

"Tungku ketujuh," katanya, cukup keras supaya terdengar sampai ke barisan abdi di belakang, "hanya dipakai untuk satu hal: merebus. Ramuan. Air. Bubur. Mbah Karta tidak pernah menggoreng di sana. Dan tungku ketujuh hanya dibakar dengan satu macam kayu." Ia menjumput abu itu dengan dua jari dan membiarkannya jatuh. Abu itu melayang turun seperti debu, kering dan ringan. "Kayu jati. Abu kayu jati warnanya pucat. Kering. Tidak lengket. Baunya manis seperti kayu."

Ia mengulurkan daun pisang itu ke arah serambi. Ki Ageng mengangguk ke salah satu tetua di sampingnya. Seorang tetua tua bertubuh kurus, Ki Sastrapawira, turun dari serambi, mengambil daun pisang itu, menciumnya, menggosok abu itu di antara jarinya.

"Kering," katanya. "Jati."

Dira mengangkat daun pisang kedua. Jelaga tungku pertama.

"Tungku pertama," katanya, "adalah tungku penggorengan. Setiap pagi, setiap siang, setiap sore. Tempe. Ikan asin. Peyek. Kerupuk. Kakang Gandawasa dulu menggoreng di sana bertahun-tahun, dan sekarang Kang Paidi. Selalu dengan minyak kelapa. Banyak minyak kelapa." Ia menjumput jelaga itu. Jelaga itu menempel di jarinya. Tidak jatuh. "Jelaga dari tungku penggorengan tidak kering. Asap minyak naik dan menempel di dinding tungku bersama asap kayu, bertahun-tahun, sampai jelaganya berminyak. Lengket. Kalau diusapkan ke kain..."

Ia menggosokkan jarinya ke ujung kain jariknya sendiri. Bekas yang tertinggal hitam, berkilat, dengan tepi kekuningan yang perlahan melebar ke dalam serat kain.

Persis seperti noda di kain putih Raden Bayuwisesa.

Halaman itu mulai berbisik.

Ki Sastrapawira mengambil kain putih itu dan mencium nodanya. Wajahnya yang keriput berkerut.

"Minyak kelapa," katanya. "Dan bawang merah."


"Telapak tangan di dinding balai pusaka," kata Dira, "dibuat dengan jelaga tungku penggorengan. Bukan dengan abu tungku ketujuh."

Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Telapak menghadap ke serambi. Ke seluruh halaman.

"Tangan saya kelabu karena abu jati. Saya belum membasuhnya sejak semalam. Semua orang di sini melihat saya sejak fajar, di balairung, di tiang hukuman, di halaman ini. Tidak ada yang melihat saya menyentuh air. Tangan saya diikat di belakang tiang sampai Ki Braja melepasnya tadi."

Ia menatap Ki Ageng.

"Kalau tangan saya semalam dicelup ke jelaga berminyak, lalu ditempelkan ke dinding balai pusaka, minyak itu masih di sini sekarang. Minyak kelapa tidak hilang dengan abu, Ki Ageng. Gendhis butuh tiga gayung air dan segenggam abu gosok untuk membersihkan tangannya setiap kali selesai menggoreng peyek." Ia menurunkan tangannya. "Silakan periksa."

Ki Ageng menoleh ke Ki Brajanala.

Ki Brajanala berlutut di depan Dira. Ia memegang tangan kanan Dira, membaliknya, menatapnya dari dekat. Ia menggosok telapak tangan Dira dengan ibu jarinya, keras, berkali-kali. Abu kelabu terlepas dan jatuh ke pasir. Di bawahnya, kulit telapak tangan Dira. Kasar. Kapalan. Penuh bekas luka bakar kecil dan bekas lecet tali timba.

Kering.

Ki Brajanala mengusap kulit itu dengan ujung kain jariknya sendiri. Bekas yang tertinggal kelabu pucat, kering, langsung luruh ketika kain itu dikibaskan.

Ia mencium tangan Dira.

"Jati," katanya. "Tidak ada minyak."

Bisik-bisik di halaman kini menjadi gemuruh.


"Ki Ageng." Ki Wiradhana mengangkat tangan dengan sopan, wajahnya masih penuh kesabaran. "Saya kagum dengan kecerdasan anak ini. Sungguh. Tapi bukankah sudah saya katakan di malam ingkung, anak secerdas ini pasti bisa..."

"Ada satu hal lagi," kata Raden Bayuwisesa.

Ki Wiradhana berhenti.

Bayuwisesa tidak menatapnya. Ia menatap ayahnya. "Waktu aku menutup jejak di balai pusaka dengan kain tadi pagi, aku menempelkan telapak tanganku sendiri di samping bekas telapak di dinding. Supaya aku ingat ukurannya." Ia mengangkat tangan kanannya. Tangan seorang murid dalam, panjang dan berotot. "Bekas di dinding itu lebih lebar dari tanganku. Dua jari. Jari-jarinya lebih panjang. Ibu jarinya lebih tebal."

Ia menurunkan tangannya dan menatap Dira, yang berlutut di pasir dengan tangan kurus seorang abdi dapur yang delapan belas warsa makan nasi jagung dicampur air.

"Tangan abdi ini lebih kecil dari tanganku," kata Bayuwisesa datar. "Siapa pun yang menempelkan tangannya di dinding balai pusaka, itu bukan dia."

Di barisan murid dalam, beberapa kepala menoleh tanpa sengaja ke arah Gajahsora. Ke tangannya yang besar, yang sedang mencengkeram lututnya sendiri di samping Ki Wiradhana.

Gajahsora tidak bergerak. Tetapi wajahnya yang kasar memerah dari leher ke dahi.


"Lalu jejak kakinya," kata Dira.

Ia menatap Ki Ageng. "Ki Ageng sudah melihat jejak itu dengan mata Ki Ageng sendiri. Boleh saya bertanya? Kaki yang mana yang terseret? Kiri, atau kanan?"

Ki Ageng terdiam. Ia berpikir. Ia menutup matanya sebentar, seperti orang yang mencoba melihat lagi sesuatu yang sudah dilihatnya.

"Kanan," jawab Ki Brajanala, sebelum Ki Ageng membuka mata. "Garis seretnya di sebelah kanan. Dan lubang-lubang tongkatnya juga di sebelah kanan."

"Kanan," ulang Ki Ageng pelan.

Dira mengangguk.

Lalu, di depan lima ratus orang, ia mencoba berdiri tanpa tongkat.

Ia menapakkan kaki kanannya ke pasir dan mendorong tubuhnya naik. Kaki kanannya menahan, kuat dan mantap, kaki Raga Puncak yang ditempa napas gunung. Lalu ia mengangkat kaki kanannya dari tanah. Mencoba berdiri hanya di atas kaki kiri.

Kaki kirinya tertekuk seperti batang pisang yang dipotong.

Ia jatuh. Keras. Bahunya menghantam pasir, dan debu panas mengepul di sekitarnya. Beberapa orang di barisan depan mundur selangkah. Seseorang memekik pelan.

Dira mendorong dirinya duduk lagi. Pasir menempel di wajahnya, di rambutnya, di kain biru tua di lehernya. Ia tidak membersihkannya.

"Kaki kiri saya," katanya, dan suaranya sedikit bergetar sekarang karena jatuh tadi sakit, "tidak bisa menahan tubuh saya sejak racun ular di Hutan Larangan. Semua orang tahu. Karena itu saya memakai tongkat di tangan kiri, untuk menggantikan kaki kiri. Karena itu kaki kiri saya yang terseret."

Ia menatap Ki Ageng.

"Kalau saya mau menyeret kaki kanan, saya harus berdiri di atas kaki kiri. Ki Ageng baru saja melihat apa yang terjadi kalau saya berdiri di atas kaki kiri."

Halaman itu sunyi.

"Siapa pun yang membuat jejak itu," kata Dira pelan, "pernah melihat saya berjalan. Dari depan. Dan menirunya." Ia mengangkat tangannya, membalik telapak tangannya ke kiri dan ke kanan. "Orang yang meniru dari depan selalu meniru seperti bayangan di air, Ki Ageng. Kirinya jadi kanan. Kanannya jadi kiri."

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak bersiul. Satu siulan panjang yang naik di ujungnya. Siulan yang belum pernah Dira dengar dari burung itu sebelumnya.

"Itu," kata Ki Jalak, "adalah siulan jalak kebo yang melihat elang menabrak pohon."


Ki Ageng Suryadharma diam untuk waktu yang lama.

Ia menatap tiga daun pisang di atas pasir. Kain putih dengan noda berminyak. Tangan kecil Dira yang kelabu dan kering. Tongkat di samping Dira, ujungnya terbungkus kain perca.

Lalu ia menatap Ki Wiradhana.

Ki Wiradhana tidak berhenti tersenyum. Itu yang paling mengerikan dari laki-laki tua itu, pikir Dira kemudian. Ia tidak pernah berhenti tersenyum. Senyumnya hanya berubah bentuk, seperti air yang berubah bentuk mengikuti wadahnya.

"Luar biasa," kata Ki Wiradhana lembut. "Sungguh luar biasa, Ki Ageng. Saya akui, jejak itu mungkin bukan jejaknya. Telapak tangan itu mungkin bukan telapaknya." Ia mengangguk-angguk pelan. "Tapi pikirkan, Ki Ageng. Pikirkan dengan tenang. Kalau jejak itu dibuat oleh orang lain yang meniru caranya berjalan, kenapa? Siapa yang mau repot-repot menirunya? Kecuali..." Ia membiarkan kata itu menggantung. "Kecuali anak ini punya kawan. Kawan yang meniru caranya berjalan dan meninggalkan jejak yang terbalik, justru supaya kita tertipu. Persis seperti yang terjadi sekarang."

Bisik-bisik di halaman berubah arah lagi. Seperti angin.

"Anak secerdas ini," kata Ki Wiradhana, "bisa saja merencanakan itu semua. Jejak yang terbalik. Jelaga yang berbeda. Supaya ia bisa berdiri di sini dan membuktikan dirinya tidak bersalah." Ia menghela napas penuh penyesalan. "Gajahsora tetap melihat orang pincang bertongkat di jalan setapak balai pusaka pada kentongan kedua. Warangka itu tetap ditemukan di bawah tikarnya."

Ia menatap Ki Ageng dengan mata yang basah oleh sesuatu yang tampak seperti kasih sayang.

"Satu-satunya yang bisa membebaskan anak ini, Ki Ageng, adalah orang yang melihatnya sendiri. Di dapur. Pada kentongan kedua. Tidur di samping tungku ketujuh." Ia merentangkan kedua tangannya ke arah halaman yang penuh. "Dan Nyai Rukminiwati ada di biliknya. Mbah Karta tidur seperti kerbau. Tidak ada saksi."

Ia tersenyum.

"Tidak ada."

Dira menunduk.

Ia sudah tahu ini akan terjadi. Ia sudah menghitungnya di tiang hukuman, di bawah terik matahari. Abu bisa membuktikan bahwa jejak itu bukan jejaknya. Tetapi abu tidak bisa membuktikan di mana ia berada. Dan satu-satunya orang yang bisa bersaksi, tiga orang yang melihatnya di dapur malam itu, tidak boleh mengatakannya.

Ia menatap kain perca di ujung tongkatnya. Simpan, kata Ki Jalak. Belum saatnya.

Tetapi kalau bukan sekarang, kapan?

Ia membuka mulut.

"ADA!"

Suara itu datang dari belakang. Dari barisan abdi. Nyaring, pecah, dan sangat, sangat keras, suara yang biasa dipakai untuk berteriak memanggil kambing di kebun.

Seluruh halaman menoleh.

Di antara para abdi, Gendhing sudah berdiri. Wajahnya merah padam. Tangannya teracung tinggi-tinggi ke udara seperti murid yang ingin menjawab pertanyaan guru. Di sampingnya, Gendhis menarik-narik lengan baju adiknya dengan wajah ngeri, berbisik keras, "Gendhing! Duduk! Kau mau kita dicambuk?"

Gendhing tidak duduk.

"ADA SAKSINYA, KI AGENG!" teriaknya. "SAYA! SAYA LIHAT DIA! SEMALAM! DI DAPUR! WAKTU KENTONGAN KEDUA!" Ia menelan ludah, menoleh ke saudarinya, lalu menoleh lagi ke serambi. "DAN GENDHIS JUGA LIHAT! KAMI BERDUA! TAPI DIA TIDAK MAU NGAKU KARENA DIA MALU KENAPA DIA ADA DI DAPUR!"

"GENDHING!"