Sang Penelan Pusaka

Bab 93Sidang Halaman

Panas.

Itu yang pertama kali Dira rasakan. Takut juga ada, menggumpal di perutnya seperti nasi yang belum matang. Tetapi yang pertama adalah panas. Hawa panas yang menyembur dari bilah Kyai Nagageni, sejengkal dari lehernya, seperti mulut tungku yang dibuka tiba-tiba.

Kain biru tua di lehernya mulai terasa hangat.

Lalu lebih dari hangat.

Di bawah kain itu, tanda di lehernya bergerak. Bukan berdenyut seperti biasa. Bergerak. Seperti binatang yang mencium bau api dan mulai mencakar dinding sangkarnya. Dingin menjalar dari lehernya ke bahu, ke dada, melawan panas Nagageni, dan di antara keduanya, di atas kulit Dira, udara mulai bergetar.

"Bocah," desis Ki Jalak. "Tahan. Tahan dia."

Siapa?

"Apa pun yang ada di lehermu. Kalau dia bangun sekarang, di depan semua orang ini..."

Dira memejamkan mata. Ia menarik napas, napas gunung, napas yang ia pelajari di malam purnama di atas atap dapur. Turun ke bawah pusar. Berputar sekali. Ia menyanyikan kidung itu di dalam kepalanya, tanpa suara, cepat-cepat. Turua, turu, cah bagus...

Dingin itu melambat. Tetapi tidak berhenti.

"Kalau aku menempelkan Nagageni ke kain di lehermu," kata Raden Bayuwisesa pelan, "dan membakarnya sampai habis, apa yang akan kulihat di bawahnya?"

"Bayu."

Suara itu datang dari barisan tetua. Tidak keras. Tetapi seluruh balairung mendengarnya.

Nyai Rukminiwati sudah berdiri.

Ia berdiri tegak di atas tikarnya, tangan kanan masih tersembunyi di balik lipatan kain sogan, tangan kiri tergantung di sisi tubuhnya. Wajahnya pucat seperti kapur. Tetapi matanya tidak pucat sama sekali.

"Turunkan," katanya.

Bayuwisesa tidak menurunkan kerisnya. "Nyai, abdi ini..."

"Aturan itu masih berlaku," kata Nyai Rukminiwati. "Siapa pun yang menyentuh kain di leher Sudira, siapa pun yang mencoba membukanya, akan menerima tiga puluh pukulan rotan. Tak peduli abdi, murid luar, atau murid dalam." Jeda. "Atau putra ketua."

Balairung itu begitu sunyi sampai bunyi nyala pelita terdengar.

"Turunkan, Bayu," kata Ki Ageng Suryadharma.

Raden Bayuwisesa menatap ayahnya. Lalu menatap Nyai. Lalu menatap Dira, lama, dengan mata yang tidak terbaca. Lalu, perlahan, ia menurunkan Kyai Nagageni. Cahaya merah di bilahnya meredup. Hawa panas surut. Ia menyarungkan keris itu dengan satu gerakan yang bersih.

Dingin di leher Dira berhenti bergerak. Pelan-pelan, binatang di dalam sangkar itu kembali berbaring.

Dira membuka matanya. Napasnya gemetar.

"Hampir," bisik Ki Jalak. "Bocah. Itu hampir sekali."


"Kita tidak akan memutuskan ini di sini," kata Ki Ageng.

Suaranya kembali rendah dan berat, suara gunung. Tetapi Dira, yang masih berlutut paling dekat dengannya, bisa melihat tangannya masih bergetar di sisi tubuhnya.

"Pencurian Kyai Geni Baskara bukan urusan dapur. Bukan urusan aturan abdi. Ini urusan seluruh padepokan. Dan karena itu, seluruh padepokan akan menyaksikannya." Ia menatap ke seluruh balairung. "Siang ini, ketika matahari tepat di atas kepala, kita akan bersidang di halaman. Terbuka. Di depan semua orang. Supaya tidak ada yang bilang ada yang disembunyikan."

Ki Wiradhana mengangguk dengan wajah penuh kebijaksanaan. "Keputusan yang adil, Ki Ageng."

"Sampai saat itu," kata Ki Ageng, "abdi ini diikat di tiang hukuman di halaman. Tidak boleh ada yang mendekatinya. Tidak boleh ada yang memberinya makan. Dan tidak boleh ada yang menyentuh kainnya."

Ia menoleh ke Nyai. Nyai mengangguk sekali.

"Brajanala. Kau yang menjaganya."

Ki Brajanala melangkah keluar dari barisan tetua. Wajahnya keras dan tidak terbaca. Ia berjalan ke depan, memegang lengan Dira, dan mengangkatnya berdiri dengan satu tangan.

"Jalan," katanya.

Dira berjalan. Tongkatnya tertinggal di lantai. Ki Brajanala memungutnya tanpa berkata apa-apa dan membawanya di tangan yang lain.


Tiang hukuman di halaman barak abdi masih berdiri di tempat yang sama. Tiang bambu yang ditanam di tengah halaman, yang dulu ia peluk ketika Joyokusumo mencambuknya sepuluh kali. Tanah di sekelilingnya masih sedikit gelap. Dira tidak tahu apakah itu bekas darahnya atau hanya bayangan.

Ki Brajanala mengikat kedua pergelangan tangannya di belakang tiang. Tidak terlalu kencang. Cukup longgar untuk tidak memutus aliran darah, cukup kencang untuk tidak bisa dilepas. Ia menyandarkan tongkat Dira di tiang, di sampingnya, dengan ujung berkain perca menghadap ke tanah.

Lalu ia berdiri tiga langkah dari tiang, menghadap halaman, dengan tangan bersilang. Punggungnya menghadap Dira.

"Ki Braja," bisik Dira.

Laki-laki besar itu tidak menoleh.

"Ki Braja tahu saya tidak..."

"Diam, Nak." Suara Ki Brajanala sangat pelan. Tidak lebih keras dari desau angin. "Aku tahu apa yang aku tahu. Dan aku tidak bisa mengatakannya, karena kalau aku mengatakannya, aku harus mengatakan semuanya." Ia menghela napas. "Sama seperti dia."

Dira tidak bertanya siapa dia.


Matahari naik.

Halaman barak tidak punya pohon peneduh. Cahaya jatuh lurus ke tanah, memantul dari pasir yang keras, menyengat kulit Dira yang masih kelabu oleh abu tungku. Keringat mengalir dari dahinya ke matanya. Mulutnya kering seperti karung goni.

Para abdi lewat di kejauhan, berjalan cepat, tidak menoleh. Murid-murid luar berkumpul di tepi halaman dalam kelompok-kelompok kecil, berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk. Seseorang melempar kerikil. Kerikil itu jatuh tiga langkah dari kaki Dira. Ki Brajanala menoleh ke arah pelemparnya, dan kelompok itu bubar dalam sekejap.

Menjelang pertengahan pagi, Satyaki muncul.

Ia berjalan dari arah sumur dengan sebuah gayung tempurung di tangan, penuh air, dan wajah yang sangat serius. Ia berjalan lurus ke arah tiang hukuman.

Ki Brajanala melangkah ke depannya. "Murid luar. Tidak ada yang boleh mendekat."

"Saya tidak mendekat, Ki." Satyaki mengangkat gayungnya. "Saya menyiram."

"Menyiram apa?"

"Tiangnya, Ki."

Ki Brajanala menatapnya.

"Tiang bambu, Ki," kata Satyaki dengan wajah sangat sungguh-sungguh. "Kalau kena matahari terus, nanti retak. Kalau retak, nanti tidak bisa dipakai menghukum orang lagi. Kalau tidak bisa dipakai menghukum orang lagi, padepokan rugi. Saya murid luar yang peduli pada harta padepokan, Ki."

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak mengeluarkan bunyi seperti tercekik.

Ki Brajanala menatap Satyaki untuk waktu yang sangat lama. Lalu, sangat pelan, ia menoleh ke arah lain. Ke arah lumbung. Seperti ada sesuatu yang sangat menarik di atap lumbung.

Satyaki melangkah ke tiang. Ia mengangkat gayungnya tinggi-tinggi, di atas kepala Dira, dan menuangkannya ke atas tiang bambu dengan sangat hati-hati. Air mengalir dari puncak tiang, menyusuri bambu, ke rambut Dira, ke wajahnya, ke mulutnya yang terbuka dan kering.

Dira minum. Dengan rakus. Air itu dingin dan berbau tempurung kelapa dan rasanya lebih enak dari apa pun yang pernah ia minum.

"Tiangnya haus sekali," kata Satyaki keras-keras, kepada tak seorang pun. Lalu, sangat pelan, sambil pura-pura memeriksa ikatan bambu: "Aku percaya padamu. Wulan juga. Si kembar juga. Kakang Ganda juga. Dia sedang menahan kambing Ji supaya tidak menyeruduk Gajahsora. Sudah dua kali hampir lepas."

"Satyaki..."

"Utang sepiring nasi." Satyaki tidak tersenyum. "Masih belum lunas."

Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, mengayun-ayunkan gayung kosongnya, bersiul-siul tidak jelas. Ki Brajanala masih menatap atap lumbung.


Menjelang tengah hari, ketika bayangan tiang sudah hampir hilang di bawah kakinya, seseorang lain datang.

Kali ini Ki Brajanala tidak menghalanginya. Ia hanya melangkah ke samping. Karena tidak ada yang menghalangi putra ketua.

Raden Bayuwisesa berdiri di depan tiang hukuman. Ia tidak membawa Nagageni di tangannya. Keris itu tersarung di pinggangnya. Ia menatap Dira dengan wajah dinginnya yang biasa.

"Abu jejak di lantai balai pusaka," katanya tanpa basa-basi, "sudah kututup dengan kain. Atas perintah ayahku. Tidak ada yang boleh menginjaknya. Tidak ada yang boleh menyentuhnya. Sampai sidang selesai."

Dira menatapnya, tidak mengerti kenapa ia diberitahu ini.

"Ayahku orang yang adil," lanjut Bayuwisesa. "Terlalu adil. Kadang-kadang aku berpikir keadilannya itu yang membuatnya lambat." Ia menatap halaman yang kosong. "Siang ini, aku akan menuntut supaya kau diusir dari Argasuryan."

Dira tidak berkata apa-apa.

"Bukan karena aku yakin kau mencuri," kata Bayuwisesa. "Aku tidak yakin. Kau bukan orang bodoh, dan menyimpan warangka di bawah tikar tempat kau tidak tidur lagi adalah perbuatan orang bodoh." Ia berhenti. "Aku akan menuntutmu diusir karena sejak kau dipilih oleh tak satu pun pusaka di altar itu, padepokan ayahku tidak pernah tenang. Murid-murid tertidur dan tidak bangun. Ikan-ikan di kolam mati. Orang tua pikun hilang dari kandang. Ada orang berjubah hitam di candi tua. Dan semalam, keris pendiri padepokan ini hilang."

Ia menatap Dira lurus-lurus.

"Aku tidak tahu apa yang kau bawa ke padepokan ini, abdi dapur. Tapi apa pun itu, ia membuat sesuatu datang. Dan aku putra ketua. Tugasku menjaga rumah ini. Bukan menjaga kau."

Ia berbalik untuk pergi. Lalu berhenti.

"Kodok besar," katanya tanpa menoleh. "Kau bau lumpur kolam teratai sampai sekarang."

Lalu ia pergi.

"Dia jujur," kata Ki Jalak pelan, setelah lama. "Orang yang berwajah dingin di luar tapi hangat di dalam. Aku pernah bilang itu. Sayangnya, kehangatan dia bukan untukmu. Untuk rumahnya."

Aku tidak bisa menyalahkannya.

"Aku juga tidak." Burung itu diam sebentar. "Itu yang membuatnya berbahaya."


Matahari tepat di atas kepala.

Kentongan dipukul tiga kali panjang.

Halaman utama padepokan, di depan balairung, sudah dipenuhi orang. Para tetua duduk di atas tikar di serambi balairung, di tempat yang teduh. Ki Ageng Suryadharma duduk di tengah, di atas tikar yang lebih tinggi. Di sampingnya berdiri Raden Bayuwisesa. Di sisi lain, duduk Ki Wiradhana, dengan warangka kosong Kyai Geni Baskara terbaring di atas kain jarik di depannya, seperti jenazah kecil.

Di halaman, di bawah terik matahari, berdiri semua orang yang lain. Murid dalam di depan. Murid luar di tengah. Abdi di belakang. Ratusan orang, berdesakan, berkeringat, diam.

Ki Brajanala membawa Dira ke tengah halaman, di depan serambi, dan menyuruhnya berlutut di atas pasir yang panas. Tangannya masih diikat di belakang punggung. Tongkatnya tergeletak di sampingnya.

Dira mengangkat matanya sekali. Hanya sekali.

Di serambi, di barisan tetua, Nyai Rukminiwati duduk dengan punggung tegak dan mata yang menatap lurus ke depan. Tidak ke arahnya. Tangannya terlipat di pangkuan.

Di tengah lautan murid luar, Wulansari berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras, matanya merah.

Di belakang, di antara para abdi, Gendhing dan Gendhis berdiri berdempetan. Mbah Karta berjongkok di samping mereka, menggaruk kakinya, menguap.

Dan di depan, berlutut di samping Ki Wiradhana, Gajahsora. Ia menatap Dira dan tersenyum. Sedikit sekali. Hanya sudut bibirnya.


Ki Wiradhana memaparkan semuanya sekali lagi, dengan suara yang penuh kesedihan dan kesabaran.

Jejak kaki di abu, yang satu terseret. Lubang-lubang tongkat. Telapak tangan berjelaga di dinding kapur. Kesaksian Gajahsora tentang sosok pincang dan bunyi tongkat, tok, tok, tok, di anak tangga batu. Tangan dan kaki Dira yang kelabu oleh abu. Dan warangka kosong di bawah tikarnya di gubuk orang sakit.

Setiap kali ia menyebut satu bukti, bisik-bisik di halaman semakin keras.

"Ki Ageng," katanya akhirnya. "Menurut adat Argasuryan, abdi yang mencuri pusaka padepokan dihukum lebih berat dari abdi yang mencuri lauk. Bukan cambuk. Diusir. Dibuang keluar tembok, tanpa bekal, tanpa nama padepokan, dan tidak boleh kembali seumur hidupnya." Ia berhenti sebentar. "Tapi saya mohon satu hal lagi, Ki Ageng."

Ki Ageng menunggu.

"Kain di lehernya." Ki Wiradhana menatap Dira dengan mata penuh iba. "Selama delapan belas warsa, kain itu tidak pernah dibuka. Ada aturan yang melindunginya. Saya menghormati aturan itu, Nyai." Ia menunduk sedikit ke arah Nyai Rukminiwati. "Tapi aturan Nyai berlaku untuk abdi. Bukan untuk maling pusaka pendiri. Kalau anak ini menyimpan sesuatu, ilmu hitam, jimat, tanda dari orang-orang berjubah hitam di candi tua itu, kita berhak tahu. Sebelum kita membuangnya ke luar tembok."

Bisik-bisik meledak menjadi gemuruh.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak mengepakkan sayapnya dengan keras. "Itu dia. Itu yang dia mau. Bukan kau. Kainnya. 'Bawakan aku kain lehernya.' Ingat?"

Dira ingat.

Di serambi, Nyai Rukminiwati tidak bergerak. Tetapi kepalan tangannya di pangkuan sudah memutih.

"Ayah." Raden Bayuwisesa melangkah maju. "Aku setuju dengan Ki Wiradhana soal pengusiran. Abdi ini harus keluar dari Argasuryan. Hari ini. Sebelum ada yang lain yang hilang. Sebelum ada yang lain yang tertidur dan tidak bangun." Ia berhenti. "Tapi soal kain itu, aku tidak setuju. Aturan Nyai adalah aturan tetua. Kalau aturan tetua bisa dilanggar setiap kali kita takut, apa artinya aturan?"

Ki Wiradhana tersenyum tipis. "Raden sangat bijak untuk usia Raden."

"Aku tidak bijak, Ki Wira. Aku cuma tidak suka ada yang terlalu ingin membuka kain orang lain."

Senyum Ki Wiradhana tidak berubah. Tetapi sesuatu di matanya menjadi lebih kecil.


"Sudira."

Ki Ageng Suryadharma menatap ke bawah, ke abdi yang berlutut di pasir panas dengan tangan terikat.

"Kau sudah mendengar semuanya. Kau dituduh mencuri Kyai Geni Baskara. Hukumannya pengusiran. Sebelum aku memutuskan, kau boleh bicara. Sekali. Apa yang ingin kau katakan?"

Dira mengangkat kepalanya.

Seluruh halaman diam. Ratusan wajah menatapnya. Beberapa menunggu dengan penasaran. Beberapa dengan jijik. Beberapa, sangat sedikit, dengan harapan.

Dira menarik napas.

"Sekarang," kata Ki Jalak. "Satu per satu. Seperti menghitung piring."

"Ki Ageng," kata Dira. Suaranya serak oleh haus, tetapi tidak gemetar. "Saya tidak minta dibebaskan. Saya tidak minta dikasihani. Saya cuma minta tiga hal."

Ki Ageng mengangkat alisnya.

"Pertama, sejumput abu dari lantai balai pusaka. Dari jejak kaki itu. Abu yang ditutup kain oleh Raden Bayuwisesa." Ia menelan ludah. "Kedua, sejumput abu dari tungku ketujuh di dapur. Tungku tempat saya tidur semalam." Ia menatap Ki Ageng lurus-lurus, untuk pertama kalinya. "Dan ketiga, sejumput jelaga dari dinding tungku pertama. Tungku tempat Kakang Gandawasa dulu menggoreng."

Halaman itu sunyi.

Lalu, dari barisan para abdi di belakang, dari tempat Mbah Karta berjongkok sambil menggaruk kakinya, terdengar bunyi kecil.

Bunyi orang tua yang menguap. Panjang.

Lalu berhenti di tengah-tengah, seperti orang yang tiba-tiba teringat sesuatu yang menarik.