Sang Penelan Pusaka

Bab 92Tertuduh

Ratusan pasang mata.

Dira pernah ditatap banyak orang sebelumnya. Di altar, pada hari upacara pemilihan pusaka, ketika cahaya fajar membelok di sekitar kepalanya dan tak satu pun pusaka mau mendekat. Di halaman barak, ketika ia berlutut memeluk tiang bambu dan Joyokusumo mencambuknya sepuluh kali. Di lapangan murid luar, ketika Gajahsora menamparnya dengan telapak yang dialiri prana.

Tetapi tak pernah seperti ini.

Di altar, mereka menatapnya dengan heran. Di halaman barak, dengan iba atau rasa ingin tahu. Pagi ini, di balairung yang penuh sesak, mereka menatapnya dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin dan keras. Sesuatu yang sudah memutuskan.

"Sudira," kata Ki Ageng Suryadharma. "Maju."

Dira bangkit.

Gendhis tidak melepaskan tangannya. Dira harus menarik tangannya pelan-pelan, satu jari demi satu jari, sampai gadis itu akhirnya melepaskannya dengan mata yang basah. Lalu ia berjalan.

Para abdi di sekitarnya bergeser memberi jalan. Tak ada yang menyentuhnya. Seperti ia membawa penyakit. Lalu murid-murid luar. Mereka juga bergeser, lebih cepat, lebih jauh. Seseorang meludah ke lantai di dekat kakinya. Dira tidak menoleh untuk melihat siapa.

Ia berjalan dengan tongkatnya. Kaki kanan, tongkat. Kaki kanan, tongkat. Kaki kirinya terseret di atas lantai kayu balairung, meninggalkan bunyi gesekan yang pelan, srrk, di setiap langkah. Bunyi yang tiba-tiba terdengar sangat keras di tengah keheningan.

Satu kaki terseret.

Ia bisa mendengar orang-orang menahan napas setiap kali kakinya bergesek.

"Jangan tunduk," bisik Ki Jalak. "Bocah. Dengar aku. Jangan tunduk. Orang yang tunduk di saat seperti ini terlihat bersalah."

Abdi selalu tunduk kepada tetua.

"Kalau begitu tunduklah seperti abdi. Bukan seperti maling."

Dira menegakkan punggungnya sedikit. Hanya sedikit. Ia menatap lantai di depan kaki Ki Ageng, bukan wajahnya. Tetapi ia tidak membungkuk lebih dalam dari yang diharuskan.

Ia sampai di depan. Ia berlutut. Kaki kirinya menolak, jadi ia menurunkannya dengan tangan, pelan, dan seluruh balairung menyaksikan itu.


"Di mana kau semalam," tanya Ki Ageng, "sebelum kentongan ketiga?"

"Di dapur, Ki Ageng. Tidur di samping tungku ketujuh."

"Sejak kapan kau tidur di dapur? Kudengar kau tidur di gubuk orang sakit sejak pulang dari Hutan Larangan."

"Sejak semalam, Ki Ageng." Dira menelan ludah. "Nyai Rukminiwati yang memerintahkan."

Ki Ageng menoleh ke barisan tetua.

Nyai Rukminiwati tidak bergerak. Wajahnya tetap menatap lurus ke depan. Lalu, setelah jeda yang terasa sangat panjang, ia berbicara. Suaranya datar dan tenang seperti biasa.

"Benar. Aku yang memerintahkannya, Kakang Ageng. Kemarin pagi. Dia masih lemah, dan gubuk orang sakit terlalu dingin."

"Kau melihatnya di dapur semalam?"

Jeda lagi. Lebih panjang.

Dira tidak mengangkat kepalanya. Tetapi ia tahu jawabannya sebelum Nyai mengucapkannya. Ia tahu, karena ia mendengar kata-kata Mbah Karta di dapur: Kalau ada yang melihatmu keluar dari dapur tengah malam dengan lengan terbuka...

"Tidak," kata Nyai Rukminiwati. "Aku di bilikku sepanjang malam. Aku baru pulang dari perjalanan dan sangat lelah. Aku memerintahkannya tidur di dapur. Apakah dia menurut atau tidak, aku tidak tahu."

Sesuatu di dada Dira terasa seperti diremas.

Ia tahu kenapa Nyai mengatakannya. Ia mengerti. Kalau Nyai mengaku berada di dapur semalam, Ki Ageng akan bertanya kenapa. Lalu orang akan melihat lengannya. Lalu orang akan bertanya tentang luka itu, tentang darah yang berasap, tentang pertemuannya dengan sesuatu di tepi hutan barat. Lalu Ki Wiradhana akan tahu bahwa Nyai tahu.

Nama itu pisau. Selama tidak ada yang tahu, pisau itu ada di dalam sarungnya.

Ia mengerti. Tetapi mengerti tidak membuat dadanya berhenti diremas.

"Dia melindungimu dengan cara satu-satunya yang dia bisa," bisik Ki Jalak. "Dengan meninggalkanmu sendirian."

Aku tahu.

"Aku cuma ingin kau mendengarnya dari orang lain juga."


"Mbah Karta," kata Ki Ageng. "Mbah tidur di dapur. Mbah melihat anak ini?"

Semua kepala menoleh ke barisan abdi di belakang.

Mbah Karta sedang berjongkok di dekat pintu, menggaruk-garuk pergelangan kakinya. Ia mengangkat kepala dengan wajah bingung, mata keruh berkedip-kedip.

"Hah?"

"Anak ini," ulang Ki Ageng lebih keras. "Dira. Semalam dia tidur di dapur?"

"Dira?" Mbah Karta mengernyit, seperti orang yang mencoba mengingat nama kambing. "Oh. Dira. Yang suka menggosongkan nasi." Ia mengangguk-angguk. "Tidur. Iya. Tidur. Ngorok." Lalu ia berhenti, mengerutkan dahi lebih dalam. "Atau itu Gendhing yang ngorok? Gendhing ngoroknya seperti kerbau. Dira ngoroknya seperti..." Ia menggaruk kepala. "Aku tidur, Ki Ageng. Orang tua kalau sudah tidur, kerbau lewat juga tidak terasa."

Beberapa murid luar tertawa kecil. Ki Ageng tidak.

"Seperti malam ingkung," kata Ki Wiradhana lembut, kepada tak seorang pun secara khusus. "Mbah Karta juga tidur waktu itu, kalau aku tidak salah ingat."

Tak ada yang membantah. Tak ada yang bisa.

Lalu, dari barisan abdi, seseorang berdiri.

Gandawasa. Masih berbau kandang, dengan jerami menempel di rambutnya. "Ki Ageng," katanya, suaranya serak dan terlalu keras. "Tongkat itu tongkatku. Semalam tongkat itu bersamaku. Di kandang."

Ki Ageng menatapnya lama. "Kemarin, di halaman, kau bilang kau membuat tongkat itu untuk anak ini, Gandawasa. Di depanku."

Gandawasa membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

"Tongkat yang sangat sibuk," kata Ki Wiradhana lembut, tersenyum kepada tak seorang pun. "Kemarin milik abdi kandang. Hari ini kembali milik abdi dapur. Duduklah, Gandawasa. Kesetiaanmu sungguh menyentuh hati."

Gandawasa berdiri di sana sebentar lagi, tangannya terkepal, rahangnya mengeras. Lalu ia duduk. Pelan. Seperti batu yang tenggelam.

Dira tidak menoleh ke belakang. Tetapi tenggorokannya terasa sangat sempit.


"Ada lagi," kata Ki Wiradhana.

Ia menoleh ke barisan murid dalam di belakang para tetua. "Gajahsora. Maju."

Dira merasakan perutnya mengerut.

Gajahsora melangkah keluar dari barisan. Tubuhnya besar, bahunya lebar, wajahnya kasar dengan rahang yang terlalu kuat. Ia berjalan ke depan dengan langkah yang berat dan percaya diri, dan ketika melewati Dira yang berlutut, ia tidak menunduk untuk menatapnya. Ia hanya menggeser kakinya sedikit, cukup untuk membuat ujung jariknya menyapu wajah Dira.

Ia berlutut di depan Ki Ageng, di samping Dira. Sangat dekat. Dira bisa mencium bau tubuhnya: keringat, minyak rambut kemiri, dan sesuatu yang lain, samar, yang tidak bisa ia kenali.

"Gajahsora," kata Ki Wiradhana. "Ceritakan kepada Ki Ageng apa yang kau ceritakan kepadaku tadi subuh."

"Semalam, Ki Ageng," kata Gajahsora dengan suara keras yang menggema di seluruh balairung, "saya bertugas jaga keliling di halaman belakang. Waktu kentongan kedua, saya lewat di samping balairung. Di jalan setapak menuju balai pusaka, saya melihat seseorang."

Ia berhenti. Menikmati keheningan.

"Seseorang yang berjalan pincang. Pakai tongkat. Kakinya terseret. Gelap, Ki Ageng, jadi saya tidak bisa melihat wajahnya. Tapi saya mendengar bunyi tongkatnya." Ia mengetuk lantai balairung dengan buku jarinya. Tok. Tok. Tok. "Seperti itu. Di atas anak tangga batu balai pusaka. Tok, tok, tok. Saya kira itu abdi yang tersesat mau ke jamban. Saya tidak curiga." Ia menundukkan kepala dengan wajah menyesal. "Kalau saja saya curiga, Ki Ageng. Kalau saja saya mengejarnya. Kyai Geni Baskara pasti masih di tempatnya."

Bisik-bisik bergemuruh.

Di dalam dada Dira, Ki Jalak menjadi sangat diam.

"Tok, tok, tok," ulang burung itu pelan.

Dia bohong.

"Tentu saja dia bohong." Ki Jalak memiringkan kepalanya. "Tapi dengarkan baik-baik, bocah. Dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh. Simpan itu. Jangan dipakai sekarang. Simpan."

Apa?

"Lihat ujung tongkatmu."

Dira melirik tongkat yang tergeletak di lantai di sampingnya. Ke ujungnya. Ke kain perca yang dibungkus tiga lilitan benang rami oleh Mbah Karta kemarin sore.

Supaya kau tidak membangunkanku setiap kali ke jamban.

Tongkat itu tidak berbunyi sejak kemarin sore. Tidak di lantai dapur. Tidak di jalan setapak tadi pagi. Tidak di lantai kayu balairung ini.

Dira menatap kain perca itu. Lalu ia menatap lantai lagi. Wajahnya tidak berubah.

Simpan, pikirnya.


"Sudira," kata Ki Ageng. "Tunjukkan tanganmu."

Dira mengangkat kedua tangannya. Telapak menghadap ke atas.

Seluruh balairung melihatnya.

Telapak tangannya kelabu. Bukan hitam pekat, tetapi kelabu kotor, kehitaman di lipatan-lipatan jarinya dan di bawah kukunya. Abu tungku. Ia tidur tengkurap di samping tungku ketujuh semalaman, dengan tangan di atas tikar yang tertutup abu halus, dan ia belum sempat membasuhnya pagi ini karena kentongan panggilan berbunyi sebelum ia sempat ke sumur.

Lututnya juga kelabu. Telapak kakinya. Pipi kirinya, tempat ia berbaring.

"Abu," kata Ki Wiradhana pelan, dengan suara orang yang sangat menyesal karena tebakannya benar.

"Saya tidur di samping tungku, Ki," kata Dira. "Tentu saja tangan saya kena abu."

"Tentu saja, ngger." Ki Wiradhana mengangguk dengan penuh pengertian. "Tentu saja. Seperti tangan pencuri yang menyentuh dinding balai pusaka juga kena abu."

Dira menutup mulutnya.

Ia tahu jawaban ini. Ia sudah mendengarnya sebelumnya, pada malam ingkung. Justru karena kau cerdas, ngger, aku tak bisa menganggap kebersihan tanganmu sebagai bukti. Apa pun yang ia katakan, Ki Wiradhana akan membaliknya. Bersih, berarti ia sudah mencuci. Kotor, berarti ia pencurinya.

"Diam," bisik Ki Jalak. "Belum saatnya. Biarkan dia bicara. Orang yang bicara terlalu banyak akhirnya menginjak kakinya sendiri."


Raden Bayuwisesa melangkah maju.

Ia tidak meminta izin. Ia hanya maju dua langkah dari samping ayahnya, berdiri tepat di depan Dira yang berlutut, dan menatap ke bawah.

Dira mengangkat matanya. Sebentar. Cukup untuk melihat wajah putra ketua itu.

Wajah itu dingin seperti biasa. Matanya sedingin air sumur di subuh hari. Tetapi di balik dinginnya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membara. Bukan kebencian. Lebih seperti orang yang rumahnya terbakar dan sedang menatap orang yang membawa obor.

"Di mana keris ayahku?" tanya Bayuwisesa.

Pelan. Tidak berteriak.

"Saya tidak tahu, Raden."

Bayuwisesa menatapnya lama. Sangat lama. Seperti sedang mencari sesuatu di wajah Dira. Seperti sedang menghitung.

Kodok besar, pikir Dira. Tiga kali dia memilih tidak melihat. Retakan di lapangan. Anak tangga ketiga yang tidak licin. Kolam teratai.

Dan sekarang?

Bayuwisesa tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan kembali ke samping ayahnya. Tetapi sebelum berbalik, matanya turun sebentar. Ke kain biru tua di leher Dira. Lalu ke tongkat di lantai. Ke ujungnya.

Hanya sebentar. Lalu ia pergi.


"Ki Ageng," kata Ki Wiradhana, dengan suara yang penuh kesedihan dan wibawa. "Saya tidak ingin menghukum anak ini tanpa bukti yang lengkap. Kita semua tahu apa yang terjadi pada malam ingkung, dan saya tidak ingin ada yang bilang saya terburu-buru." Ia mengangkat tangannya. "Karena itu, saya sudah meminta beberapa murid dalam memeriksa tempat-tempat anak ini biasa berada. Dapur. Barak abdi. Dan gubuk orang sakit, tempat ia tidur sampai kemarin."

Ki Ageng mengangguk pelan. "Dan?"

Pintu balairung terbuka.

Dua murid dalam masuk. Mereka berjalan cepat melewati barisan abdi, melewati murid-murid luar, melewati murid-murid dalam, ke depan. Salah satunya membawa sesuatu di kedua tangannya, terbungkus kain jarik kusam.

Ia berlutut di depan Ki Ageng dan membuka bungkusan itu.

Seluruh balairung menahan napas.

Di atas kain jarik itu tergeletak sebuah warangka. Sarung keris. Panjang, ramping, terbuat dari kayu timaha yang tua dan mengilap, berwarna cokelat kemerahan seperti tembaga. Di bagian atasnya yang melebar seperti perahu, di ladrangnya, terukir matahari dengan sinar yang menjulur ke segala arah.

Kosong.

"Kami menemukannya di gubuk orang sakit, Ki Ageng," kata murid dalam itu. "Di bawah tikar. Tikar yang biasa dipakai abdi ini."

Ki Ageng Suryadharma menatap warangka itu.

Ia tidak bergerak. Tidak berbicara. Tetapi Dira, yang berlutut paling dekat dengannya, melihat tangan ketua padepokan itu bergetar. Dan Dira melihat sesuatu yang lain lagi. Sesuatu yang membuatnya lebih takut daripada warangka itu sendiri.

Di sampingnya, Raden Bayuwisesa sudah menghunus Kyai Nagageni.

Keris itu bersinar merah gelap seperti bara di dalam tungku. Hawa panas menyembur dari bilahnya, membuat udara di sekitarnya bergetar. Ujungnya mengarah lurus ke leher Dira.

"Ayah," kata Bayuwisesa. Suaranya sangat tenang. "Izinkan aku bertanya sekali lagi."