Sang Penelan Pusaka

Bab 91Pencurian di Balai Pusaka

Untuk sesaat yang sangat panjang, tidak ada yang bergerak di dalam dapur.

Bara di tungku ketujuh berdenyut merah. Kentongan di kejauhan masih dipukul, tung-tung-tung-tung, dan teriakan-teriakan mulai bersahutan dari halaman. Langkah-langkah kaki berlari. Pintu-pintu bambu dibanting terbuka. Seseorang berteriak memanggil penjaga gerbang.

Nyai Rukminiwati duduk di atas dingklik dengan lengan kanan terbuka. Luka panjang dari siku ke pergelangan itu kini bersih, dibaluri ramuan hijau tua yang berkilat di bawah cahaya bara. Wajahnya seputih abu. Matanya menatap Dira.

Mbah Karta berdiri di sampingnya dengan cobek batu di tangan. Ia juga menatap Dira.

Dan Dira, yang masih tengkurap di atas tikar dengan dagu di atas lengan, menatap mereka berdua.

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Lalu Mbah Karta meletakkan cobeknya di lantai. Pelan. Tanpa bunyi.

"Wati," katanya. "Pergi."

Nyai tidak bergerak.

"Sekarang." Suara itu masih suara yang rendah dan jelas, suara yang bukan suara juru masak pikun. "Sebentar lagi semua orang akan berkumpul di balairung. Ki Ageng akan memanggil semua tetua. Kalau kau tidak ada di bilikmu ketika utusannya datang, dan ada yang melihatmu keluar dari dapur tengah malam dengan lengan terbuka..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.

Nyai Rukminiwati menarik lengan kainnya ke bawah, menutupi luka dan bebat yang baru setengah terpasang. Ia bangkit. Lututnya goyah sesaat, dan Mbah Karta mengulurkan tangan, dan Nyai menggenggamnya. Hanya sebentar. Hanya cukup untuk berdiri tegak. Lalu ia melepaskannya.

Ia berjalan ke pintu belakang. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh. Bukan kepada Mbah Karta. Kepada Dira.

"Kau tidur di sini sepanjang malam," katanya. "Kau tidak mendengar apa-apa. Kau tidak melihat siapa-siapa. Kau tidak tahu apa-apa."

"Nyai..."

"Sudira."

Dira menutup mulutnya.

Nyai Rukminiwati menatapnya sekali lagi. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Dira baca. Takut, mungkin. Atau sesuatu yang lebih buruk dari takut. Lalu ia melangkah keluar ke dalam kegelapan, dan pintu belakang tertutup tanpa bunyi.


Mbah Karta tidak membuang waktu.

Ia memungut cobek dan ulekan, membawanya ke gentong air, dan membilasnya sampai bersih. Ia mengambil mangkuk tembikar berisi sisa ramuan hijau dan menuangkannya ke dalam abu tungku ketujuh, lalu mengaduk abu itu dengan sepotong kayu sampai ramuan itu hilang tak berbekas. Ia mengambil kain-kain bebat yang berdarah, menggulungnya, dan menyelipkannya jauh ke dalam bara. Kain itu mendesis, mengeluarkan bau besi dan dupa yang tajam sebentar, lalu terbakar dan menjadi abu bersama yang lain.

Ia membuka pintu belakang sejengkal dan mengibaskan selembar tampah ke arah luar, berkali-kali, sampai bau melati, darah, dan ramuan hilang dari udara dapur, dan yang tersisa hanya bau asap kayu jati dan nasi kerak.

Semua itu ia lakukan dalam waktu kurang dari orang mengunyah sekapur sirih, tanpa sekali pun tergesa-gesa, dengan gerakan yang tenang dan pasti, seperti orang yang sudah melakukan hal semacam ini berkali-kali dalam hidupnya.

Dira memperhatikan semuanya.

"Bocah," bisik Ki Jalak. "Orang yang menyembunyikan bekas pengobatan secepat itu bukan juru masak."

Aku tahu.

"Dan bukan tabib juga."

Lalu apa?

Ki Jalak tidak menjawab.

Ketika semuanya selesai, Mbah Karta berjalan ke dipan bambunya, mengambil selendang lusuh yang biasa ia pakai, dan menyampirkannya di bahu. Lalu, di depan mata Dira, seluruh tubuhnya berubah.

Bahunya turun. Punggungnya membungkuk. Lututnya tertekuk sedikit, sehingga ia tampak lebih pendek sejengkal. Matanya yang tadi tajam menjadi keruh dan berkedip-kedip. Mulutnya sedikit menganga, memperlihatkan gusi yang setengah ompong. Ia menggaruk kepalanya yang botak dan menguap lebar.

Juru masak tua yang pikun.

"Ada apa ini?" gumamnya dengan suara serak yang dikenal seluruh padepokan. "Ribut-ribut tengah malam. Kentongan. Orang tua tidak bisa tidur..."

Lalu ia menatap Dira. Hanya sekejap. Dan dalam sekejap itu, matanya yang keruh tidak keruh sama sekali.

"Kau tidur," katanya pelan. "Ingat kata Wati. Kau tidur."

Lalu ia menyeret kakinya keluar dari pintu depan dapur, ke arah halaman, sambil terus bergumam tentang kentongan dan orang tua yang tidak bisa tidur.


Dira berbaring sendirian di samping tungku ketujuh.

Ia tidak tidur. Ia mendengarkan.

Teriakan-teriakan di halaman. Langkah-langkah yang berlari ke arah balairung. Suara Ki Brajanala, keras dan dalam, memerintahkan murid-murid dalam menjaga gerbang depan dan gerbang belakang. Suara seseorang menangis. Suara Ki Tirtakusuma, entah dari mana, berteriak bertanya apakah kucingnya sudah tertangkap.

Pusaka Ki Ageng hilang.

Dira tahu pusaka itu. Semua orang di padepokan tahu pusaka itu, meski hanya sedikit yang pernah melihatnya.

Kyai Geni Baskara.

Keris pusaka pendiri Argasuryan. Keris yang ditempa dua ratus warsa lalu, ketika padepokan ini masih berupa tiga gubuk bambu di lereng Lawu, oleh empu yang namanya sudah dilupakan. Keris yang diwariskan dari ketua ke ketua, dari tangan ke tangan, sampai ke tangan Ki Ageng Suryadharma. Konon bilahnya berwarna merah tembaga seperti matahari terbenam. Konon kalau dihunus di malam hari, cahayanya bisa menerangi seluruh balairung. Konon, menurut cerita Mbok Darsih yang selalu diceritakan dengan suara berbisik, selama keris itu berada di balai pusaka, tak ada roh jahat yang bisa melewati tembok padepokan.

Keris itu tidak disimpan di altar bersama pusaka-pusaka yang menunggu dipilih. Keris itu disimpan sendiri, di balai pusaka, bilik batu kecil di belakang balairung yang pintunya berukir matahari dan selalu dikunci. Setiap malam, seorang murid dalam membakar dupa di depannya. Setiap malam purnama, Ki Ageng sendiri yang datang dan bersemadi di sana.

Dan malam ini, keris itu hilang.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan.

Hm.

"Kau ingat kata Mbok Darsih? Selama keris itu di sana, tak ada roh jahat yang bisa melewati tembok."

Dira merasakan kulitnya meremang.

Kau pikir itu benar?

"Aku tidak tahu." Burung itu diam lama. "Tapi aku tahu satu hal. Malam purnama, mereka mengendus dari dalam Hutan Larangan. Dua malam lalu, mereka menunggu di candi tua. Selalu di luar tembok. Mereka menyuruh Ki Wiradhana membawa Mbah Sarju keluar. Mereka menyuruh pemuda bercincin itu mengejarmu, tapi pemuda itu pergi ketika obor datang. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman berlama-lama di dalam."

Dan sekarang keris itu hilang.

"Dan sekarang keris itu hilang."


Di dalam Balai Sukma, dinding beku di ujung balai sudah padam.

Dira memandanginya dari jauh, dari tempat ia biasa berdiri di atas lantai batu hitam. Retakan halus di dinding itu kini lebih panjang dari sebelumnya. Sejari. Tidak lebih. Tetapi Dira bisa melihatnya bahkan dalam gelap, seperti goresan putih di atas batu tulis.

Di balik dinding itu, tidak ada yang bergerak.

Tetapi Dira tahu sekarang. Ia sudah melihatnya. Sesuatu yang sangat besar, meringkuk, yang tadi mengangkat kepalanya ketika Nyai Rukminiwati menyanyikan bait ketiga.

Ki Jalak, katanya. Apa itu?

Ki Jalak bertengger di potongan dahannya. Sapu Angin meringkuk di sampingnya, rapat, seperti anak burung yang kedinginan. Keduanya menatap dinding beku.

"Aku tidak tahu," kata Ki Jalak.

Kau selalu bilang begitu.

"Karena aku selalu tidak tahu." Suara burung itu tidak marah. Hanya lelah. "Bocah, dengar. Aku ini keris kecil yang retak. Aku dipetik dari pohon yang terbakar, dan aku tidak ingat sebagian besar hidupku sebelum tumpukan besi di gudang itu. Aku tidak tahu apa yang tidur di dalam dirimu. Yang aku tahu..." Ia berhenti.

Apa?

"Yang aku tahu, waktu dia mengangkat kepalanya tadi, aku tidak takut." Ki Jalak memiringkan kepalanya. "Aneh, bukan? Aku gemetar mendengar nama Kala Ireng. Aku gemetar melihat mata merah. Tapi waktu sesuatu yang begitu besar bergerak di balik dinding itu, aku tidak takut sama sekali. Rasanya seperti..."

Seperti apa?

"Seperti mendengar langkah kaki pemilik rumah yang pulang."


Fajar datang kelabu dan dingin.

Kentongan dipukul lagi, kali ini bukan tanda bahaya. Tiga kali panjang, berulang. Panggilan untuk berkumpul. Semua orang. Tetua, murid dalam, murid luar, abdi. Semua.

Dira bangkit dari tikar. Kakinya kaku karena berbaring tengkurap semalaman. Ia meraih tongkatnya yang bersandar di dinding dekat tungku.

Ujung tongkat itu dibungkus kain perca.

Ia hampir lupa. Kemarin sore, ketika ia pertama kali menggelar tikarnya di samping tungku ketujuh, Mbah Karta merampas tongkat itu dari tangannya, mengomel panjang tentang bunyi tok-tok-tok yang katanya membuat sayur jadi tawar, lalu membungkus ujungnya dengan sobekan kain jarik bekas dan mengikatnya dengan benang rami. Tiga lilitan. Bukan simpul tiga lilitan yang saling mengunci. Hanya tiga lilitan biasa, kencang dan rapi.

"Supaya kau tidak membangunkanku setiap kali ke jamban," kata Mbah Karta waktu itu.

Dira menatap kain perca di ujung tongkatnya. Lalu ia berjalan keluar dapur, menuju balairung, mengikuti arus orang-orang yang sudah berbondong-bondong ke sana.

Tongkatnya tidak berbunyi sama sekali.


Balairung penuh.

Dira belum pernah melihatnya sepenuh ini. Bahkan di hari upacara pemilihan pusaka, para abdi berdiri di luar, di halaman, dan hanya melihat dari jauh. Pagi ini, semua orang dijejalkan ke dalam. Para tetua duduk di atas tikar di depan, menghadap ruangan. Murid-murid dalam berdiri di belakang mereka dengan sabuk berpola dan wajah tegang. Murid-murid luar berdesakan di tengah. Abdi-abdi berjongkok di belakang, di dekat pintu, di tempat yang selalu menjadi tempat mereka.

Dira berjongkok di sudut paling belakang. Di sampingnya Gendhing dan Gendhis, keduanya masih memakai kain tidur, keduanya pucat. Di depan, di tengah lautan kepala murid luar, ia melihat Wulansari menoleh mencari-carinya. Mata mereka bertemu. Wulansari menyentuh lehernya dengan dua jari. Simpulnya.

Dira menyentuh lehernya juga.

Di barisan tetua, ia melihat Nyai Rukminiwati.

Ia duduk tegak di atas tikar, berkain sogan yang rapi, rambut disanggul sempurna. Wajahnya pucat, tetapi tidak lebih pucat dari wajah-wajah lain di balairung pagi itu. Tangan kanannya terlipat di pangkuan, tersembunyi di balik lipatan kain. Ia tidak melihat ke arah Dira. Ia menatap lurus ke depan.

Di sampingnya, beberapa tikar jauhnya, duduk Ki Wiradhana. Janggut putihnya rapi. Beskap hitamnya bersih. Wajahnya sedih dan prihatin, wajah seorang kakek yang rumahnya baru saja kemalingan.

Dan di depan semuanya, berdiri di depan dinding berukir matahari, Ki Ageng Suryadharma.

Dira belum pernah melihat ketua padepokan itu seperti pagi ini. Biasanya Ki Ageng tenang. Biasanya ia berbicara dengan suara yang rendah dan berat, seperti gunung yang berbicara. Pagi ini, ia berdiri dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya, dan wajahnya yang biasanya tak terbaca tampak lebih tua sepuluh warsa.

Di sampingnya berdiri Raden Bayuwisesa. Putranya. Pemilik Kyai Nagageni. Wajahnya dingin seperti biasa, tetapi rahangnya mengeras, dan tangannya menggenggam gagang keris di pinggangnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Semalam," kata Ki Ageng, dan balairung yang penuh itu langsung sunyi, "sebelum kentongan ketiga, balai pusaka dibuka. Kyai Geni Baskara diambil dari tempatnya."

Bisik-bisik bergemuruh di seluruh ruangan, lalu mati lagi.

"Pintunya tidak dirusak. Gemboknya tidak dipatahkan. Murid dalam yang menjaga dupa ditemukan tertidur di anak tangga, dan sampai pagi ini belum bisa dibangunkan."

Tertidur, pikir Dira. Seperti Mbah Sarju. Seperti Kertapati.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak mengembangkan bulunya.

"Aku sudah memeriksa balai pusaka," lanjut Ki Ageng. "Bersama Ki Brajanala dan Ki Wiradhana. Pencuri itu meninggalkan jejak." Ia menoleh ke samping. "Ki Wiradhana. Sampaikan apa yang kita temukan."


Ki Wiradhana bangkit dari tikarnya.

Pelan. Dengan bantuan tangan di lutut, seperti orang tua yang sendi-sendinya sudah lelah. Ia berjalan ke depan, berdiri di samping Ki Ageng, dan menatap seluruh balairung dengan wajah yang penuh kesedihan.

"Di lantai balai pusaka," katanya dengan suaranya yang lembut, "di sekeliling tempat Kyai Geni Baskara bersemayam, ada abu dupa. Abu yang jatuh dari dupa yang dibakar setiap malam selama bertahun-tahun. Abu yang halus dan tebal seperti pasir." Ia berhenti sebentar. "Dan di atas abu itu, ada jejak kaki."

Bisik-bisik lagi.

"Jejak kaki telanjang. Satu orang. Datang dari pintu, ke tempat keris, lalu kembali ke pintu." Ki Wiradhana mengangkat satu tangannya yang keriput. "Tapi jejak itu aneh. Satu kakinya menapak biasa. Kaki yang lain tidak menapak. Kaki itu terseret. Meninggalkan garis panjang di abu, dari satu langkah ke langkah berikutnya, seperti orang yang kakinya lumpuh sebelah."

Balairung itu menjadi sangat, sangat sunyi.

"Dan di samping jejak kaki itu," lanjut Ki Wiradhana, "di setiap langkah, ada lubang kecil di abu. Bulat. Sedalam satu ruas jari. Seperti bekas ujung tongkat."

Dira merasakan darahnya berubah sedingin embun beku.

Tidak ada yang menoleh ke arahnya. Belum. Tetapi ia bisa merasakannya, seperti ia merasakan aliran udara dengan hadiah Sapu Angin. Ratusan kepala yang menahan diri untuk tidak menoleh. Ratusan pasang mata yang menatap lurus ke depan dengan sangat tekun, karena semua orang di padepokan ini tahu siapa satu-satunya orang yang berjalan dengan tongkat dan kaki terseret sejak pulang dari Hutan Larangan.

Di sampingnya, Gendhis meraih tangannya dan menggenggamnya keras.

"Dan satu hal lagi," kata Ki Wiradhana. Suaranya kini lebih pelan, lebih berat, seperti setiap kata menyakitinya. "Di dinding balai pusaka, di dinding kapur yang putih, tepat di samping tempat keris itu, ada bekas telapak tangan. Telapak tangan kanan. Hitam."

Ia menghela napas panjang.

"Hitam karena jelaga. Jelaga tungku. Jelaga dapur."

Lalu, untuk pertama kalinya pagi itu, Ki Wiradhana mengangkat matanya dari lantai dan menatap ke belakang balairung. Melewati para tetua. Melewati murid-murid dalam. Melewati lautan murid luar. Ke sudut paling belakang, tempat para abdi berjongkok.

Ke Dira.

Seluruh balairung menoleh bersamanya.

"Ah, ngger," kata Ki Wiradhana lembut, dan matanya basah oleh sesuatu yang tampak seperti air mata. "Ah, ngger, ngger."