Sang Penelan Pusaka

Bab 90Siapa Dia Sebenarnya

"Di samping tungku ketujuh?"

Gendhing menatap Dira seperti Dira baru saja mengaku telah ditunjuk menjadi adipati.

"Di samping tungku ketujuh," ulangnya. "Tempat paling hangat di seluruh dapur. Tempat yang selama tiga warsa kuincar setiap musim hujan. Tempat yang Mbah Karta bilang 'bukan untuk bocah yang tidurnya ngorok'." Ia menunjuk dadanya sendiri dengan sendok sayur. "Aku tidak ngorok!"

"Kau ngorok," kata Gendhis tanpa mengangkat kepala dari bawang yang sedang diirisnya.

"Aku bernapas dengan semangat."

"Kau ngorok seperti kerbau yang terjepit pintu."

"Bohong besar!" Gendhing berbalik ke Dira. "Dan kau. Kau datang ke dapur ini sebagai abdi yang tidak bisa memasak. Kau menggosongkan nasi tiga kali sepekan. Kau meledakkan karung beras. Kau mengundang selusin burung jalak masuk dan mematuk telingaku. Dan sekarang kau dapat tempat tidur di samping tungku ketujuh?"

"Nyai yang menyuruh," kata Dira lemah.

"Nyai!" Gendhing mengangkat kedua tangannya ke langit-langit yang hitam karena jelaga. "Tentu saja Nyai. Semua orang di padepokan ini menyayangimu. Nyai. Mbah Karta. Wulansari. Satyaki. Bahkan Kakang Ganda, yang dulu menamparmu setiap hari! Bahkan kambing! Kambing jahat itu tidur di perut Kakang Ganda dan menatapmu seperti menatap anaknya sendiri!" Ia menunjuk dirinya lagi. "Siapa yang menyayangiku? Siapa yang memberiku tempat hangat?"

Dari sudut dapur, dari balik tumpukan kayu bakar, suara Mbah Karta yang serak terdengar.

"Gendhing."

"Iya, Mbah?"

"Kalau kau mau tidur di samping tungku ketujuh, silakan. Malam ini. Ganti Dira."

Gendhing berseri-seri. "Sungguh, Mbah?"

"Sungguh. Tapi tungku itu harus tetap menyala sampai subuh. Kau harus bangun berkali-kali untuk menambah kayu. Dan kalau ada tikus yang lewat, kau harus menangkapnya dengan tangan. Dan kalau ada yang mencoba masuk dapur tengah malam..." Mbah Karta mengangkat pisau daging besar dari gantungan dan mengujinya dengan ibu jari. "...kau yang menghadapinya duluan."

Gendhing menatap pisau itu. Lalu menatap Dira. Lalu menatap tungku ketujuh.

"Aku rasa," katanya pelan, "Dira lebih cocok."

Gendhis tertawa sampai bawang yang diirisnya jatuh ke lantai.


Wulansari datang menjelang tengah hari, membawa bungkusan daun pisang dan wajah yang tidak tersenyum.

Ia sudah mendengar semuanya. Seluruh padepokan sudah mendengar semuanya, dalam berbagai versi. Maling di candi tua. Satyaki si pahlawan. Kambing yang menggigit jubah hitam. Kucing di atap Ki Tirtakusuma. Gandawasa yang dihukum membersihkan kandang. Nyai yang pulang lebih cepat dan tidak keluar dari biliknya sejak pagi.

Tetapi Wulansari bukan seluruh padepokan. Ia duduk di samping Dira di bangku sudut dapur, membuka bungkusan daun pisang, dan menyodorkan nasi jagung dan telur rebus. Lalu ia menunggu sampai si kembar pergi ke sumur.

"Kucing," katanya pelan.

Dira tersedak telur.

"Kucing yang jatuh ke kolam." Wulansari menatap kain biru tua di leher Dira. Lalu ke lecet-lecet di lengannya. Lalu ke kakinya yang terseret. "Dan kau bau lumpur. Masih. Meskipun sudah dibasuh."

"Kenapa semua orang bilang begitu?"

"Karena kau memang bau lumpur, Kangmas." Wulansari tidak tersenyum. Ia mengangkat jari kelingkingnya. "Kau janji. Tidak ada 'tidak apa-apa'. Kau janji akan menceritakan semuanya."

Dira menatap jari kelingking itu.

Apa pun yang kau dengar di candi itu, kau lupakan. Kau tidak akan menceritakannya. Kepadaku. Kepada siapa pun.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan, "kau berjanji kepada dua perempuan. Dan dua janji itu saling memakan."

Aku tahu.

"Lalu?"

Dira menghela napas. Lalu, dengan suara sangat pelan, ia menceritakan kepada Wulansari separuh dari semuanya. Candi tua. Orang-orang berjubah hitam. Mbah Sarju. Kejar-kejaran di atap. Kolam. Kain yang hilang dan kembali. Ia tidak menceritakan apa yang digumamkan Mbah Sarju di bawah asap dupa. Tidak tentang Mas Karta. Tidak tentang aksara benang merah. Tidak tentang Sang Kantha.

"Ada yang kau sembunyikan," kata Wulansari ketika ia selesai.

"Ada."

"Kenapa?"

"Karena Nyai menyuruhku." Dira menatap tangannya. "Dan karena aku sendiri belum mengerti apa artinya. Kalau aku sudah mengerti, Wulan. Aku janji. Kau orang pertama."

Wulansari menatapnya lama. Lalu ia menurunkan jari kelingkingnya. Pelan.

"Baiklah," katanya. "Tapi aku menghitung, Kangmas. Seperti kau. Setiap rahasia yang kau simpan, kuhitung. Dan suatu hari nanti, kau harus membayar semuanya. Dengan bunga."


"Wulan," kata Dira setelah beberapa saat. "Boleh aku bertanya sesuatu? Tentang Nyai."

Wulansari mengangkat alisnya.

"Waktu kita kecil," kata Dira hati-hati. Ia tidak menanyakan nama itu. Ia tidak melanggar aturan ketiga. Ia hanya menanyakan Nyai. "Kau lebih sering bersamanya daripada aku. Kau tidur di biliknya waktu demam. Kau yang dia ajari menyulam. Pernahkah kau melihat dia... melakukan sesuatu yang aneh? Sesuatu yang tidak dilakukan pengasuh biasa?"

Wulansari tidak langsung menjawab. Ia menatap tungku ketujuh yang menyala kecil. Lalu ia berbicara dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.

"Setiap warsa," katanya. "Satu malam. Malam hujan pertama di musim penghujan."

Dira menunggu.

"Nyai keluar dari biliknya tengah malam. Dia duduk di bawah pohon jambu air di kebun obat. Dia menyalakan pelita kecil. Dan dia duduk di sana sampai subuh. Tidak tidur. Tidak bergerak. Kehujanan." Wulansari memeluk lututnya. "Waktu umurku sembilan, aku mengikutinya. Aku bersembunyi di balik pagar bambu. Aku pikir dia sedang semadi. Tapi dia tidak semadi, Kangmas. Dia sedang memegang sesuatu."

"Apa?"

"Kain." Wulansari menatapnya. "Kain putih kecil. Seukuran kain bedong bayi. Sudah kekuningan karena tua. Dia memegangnya di pangkuan dan meraba pinggirnya dengan jari. Bolak-balik. Bolak-balik. Seperti orang yang meraba tulisan dalam gelap." Ia menelan ludah. "Dan dia menangis. Tanpa suara. Aku belum pernah melihat Nyai menangis sebelumnya. Aku juga belum pernah melihatnya lagi sesudahnya."

Dira tidak bernapas.

Kain bayi... kain putih yang basah... ada jahitan di pinggirnya... benang merah... aksara...

"Pinggir kain itu," bisiknya. "Kau lihat ada apa di pinggirnya?"

"Gelap, Kangmas. Hujan. Aku cuma lihat warnanya." Wulansari mengerutkan dahi, berusaha mengingat. "Merah. Ada sesuatu yang merah di pinggirnya. Seperti jahitan. Tapi aku tidak bisa membacanya dari jauh." Ia menatap Dira dengan mata yang tiba-tiba tajam. "Kenapa?"

"Tidak apa..." Dira berhenti. Kelingking. Janji. "Aku belum bisa bilang."

"Hitungan kedua," kata Wulansari pelan. "Dengan bunga."


Malam turun di atas padepokan.

Dira berbaring di atas tikar di samping tungku ketujuh. Tungku itu menyala kecil, baranya merah, kayunya jati, dan kehangatannya membungkus punggung Dira seperti selimut. Gendhing benar. Ini tempat paling hangat di seluruh dapur.

Ia berbaring tengkurap, wajah ke tikar, seperti yang diajarkan Mbah Karta. Kain biru tua di lehernya sejuk dan diam. Tanda itu tertidur di bawahnya.

Mbah Karta mendengkur di sisi lain dapur, di atas dipan bambu reyot dekat gudang beras.

Dira tidak tidur. Ia menghitung.

Satu, pikirnya. Nyai tidak terkejut melihat tanda di leherku. Dia tahu cabangnya sudah sampai tengkuk. Dia sudah lama menghitungnya.

Dua. Nyai punya bekas simpul tiga lilitan di lengannya. Simpul Mbah Karta. Dari malam hujan delapan belas warsa lalu.

Tiga. Nyai menebas pengendus Kala Ireng di tepi hutan barat, sampai yang tersisa hanya abu yang membatu. Pengasuh anak yatim tidak bisa melakukan itu. Ki Brajanala bahkan tidak terdengar heran waktu menceritakannya.

Empat. Nyai tahu siapa Wiradhana. Sejak sebelum aku bisa merangkak.

Lima. Nyai menyimpan kain bayi dengan jahitan benang merah. Dan setiap warsa dia menangisinya di bawah pohon jambu air.

Enam. Ki Ageng mengepalkan tangan waktu tahu Nyai yang menamaiku. Dan menurut Ki Wiradhana, Ki Ageng punya utang lama dari malam yang sama.

Tujuh. Nyai bilang 'orang-orang yang sudah delapan belas warsa menjaga pisau itu'.

"Delapan," kata Ki Jalak pelan.

Apa?

"Waktu dia mengalungkan kain itu ke lehermu, dinding beku bersinar. Apa pun yang tidur di balik dinding itu mengenal tangannya."

Dira menatap kegelapan.

Siapa dia sebenarnya, Ki Jalak?

"Aku tidak tahu, bocah." Burung itu diam lama. "Tapi aku tahu satu hal. Perempuan biasa tidak mengetuk gerbang padepokan di tengah malam hujan, dengan lengan berdarah dan bayi di dadanya, sambil berteriak supaya gerbang ditutup karena ada yang mengejar dari hutan. Perempuan biasa tidak membawa bayi orang lain sejauh itu."


Dira merasakannya sebelum mendengarnya.

Aliran udara. Halus sekali. Di tengkuknya, di garis-garis telapak tangan kanannya, tempat Sapu Angin tidur. Sejak menelan Kyai Sapu Angin, ia bisa merasakan udara yang bergerak, bahkan udara yang tidak terlihat bergerak. Dan sekarang udara di dapur bergerak. Dari arah pintu belakang. Pintu itu dibuka. Pelan sekali. Hanya sejengkal.

Lalu bau. Melati. Debu jalan yang sudah dicuci. Dan di bawahnya, samar, bau besi dan bunga busuk.

Di sisi lain dapur, dengkuran Mbah Karta berhenti.

Dira tetap tengkurap. Matanya terpejam. Napasnya ia buat panjang dan teratur, seperti orang yang tidur nyenyak. Tetapi telinganya terbuka.

Langkah kaki. Dua pasang. Yang satu ringan dan sedikit tidak rata, seperti orang yang menahan sakit. Yang lain berat, dan berhenti di ambang pintu, lalu tidak bergerak lagi. Ki Brajanala. Berjaga.

Dipan bambu berderit. Mbah Karta bangkit.

"Duduk," bisiknya. Suaranya bukan suara juru masak tua yang pikun. Suara yang rendah, tenang, dan sangat jelas. "Di sana. Jauh dari anak itu."

"Dia tidur?" Suara Nyai Rukminiwati. Lemah. Lebih lemah dari yang pernah Dira dengar.

"Dia pura-pura tidur. Napasnya terlalu rapi." Jeda. "Tidak apa. Biar dia dengar. Lebih baik dia dengar dariku daripada dari asap."

Dira hampir berhenti bernapas.

"Ketahuan," bisik Ki Jalak. "Tapi jangan bergerak. Kalau dia mau kau dengar, dengarkan."


Bunyi kain dibuka. Bunyi air dituang dari kendi. Bunyi sesuatu yang ditumbuk pelan di dalam cobek batu. Bau daun-daunan yang pahit. Lalu bunyi desis kecil, seperti air yang diteteskan ke atas bara, dan bau dupa hitam yang tiba-tiba menguat, lalu memudar.

Nyai Rukminiwati mengerang. Pelan. Ditahan di dalam tenggorokan.

"Racunnya masih di darahmu," kata Mbah Karta. "Kau terlambat dua malam. Kenapa tidak langsung datang kepadaku semalam?"

"Anak itu... kainnya... harus dikembalikan dulu..."

"Kain itu bisa menunggu."

"Kain itu tidak bisa menunggu, Kang." Suara Nyai pecah. "Tanpa kain itu, lehernya menyala seperti pelita. Kau tahu itu. Kau yang membuatnya."

Hening.

Kang, pikir Dira. Dia memanggilnya Kang.

"Ada yang lain," kata Nyai setelah lama. Suaranya kini lebih pelan. Bergetar. "Tadi siang. Waktu aku duduk di bilik. Aku mencoba mengingat wajahnya, Kang. Wajah Gusti. Aku mencoba mengingat, seperti setiap hari selama delapan belas warsa. Dan..." Napasnya tersendat. "Dan aku tidak bisa. Aku ingat matanya. Aku ingat suaranya waktu menyanyi. Tapi wajahnya... wajahnya seperti air keruh. Kang. Aku mulai lupa."

Bunyi cobek berhenti.

"Itu racunnya," kata Mbah Karta. Sangat pelan. "Bukan kau. Racunnya bicara."

"Kalau aku lupa dia, Kang, siapa lagi yang ingat?"

"Aku."

"Kau juga sudah tua."

"Karena itu kau tidak boleh lupa." Bunyi kain diperas. "Nyanyikan."

"Apa?"

"Nyanyikan, Wati. Kidung itu. Asap dupa itu takut pada kidung itu. Nyanyikan, dan pegang wajahnya di dalam lagu itu, seperti dulu."


Dan Nyai Rukminiwati bernyanyi.

Suaranya sangat lemah. Serak. Bergetar di setiap ujung kata. Tetapi Dira mengenal lagu itu. Ia mengenalnya lebih dari ia mengenal namanya sendiri.

Turua, turu, cah bagus,

lintang sumebar ing langit peteng...

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak mengatupkan sayapnya. Sapu Angin terbangun dan diam, tidak bercicit, tidak bergerak.

...sanadyan donya lali marang kowe,

aja nganti kowe lali marang jenengmu.

Bait pertama. Lalu Nyai menarik napas yang gemetar dan melanjutkan.

Turua, turu, cah bagus,

wit gedhe ngayomi ing pucuk gunung,

oyote ing langit, pange ing bumi,

ana sing ngentèni sliramu mulih.

Bait kedua. Bait yang Wulansari nyanyikan di malam Dira melawan racun ular. Bait yang membuat dinding beku bersinar biru.

Dira menunggu kidung itu selesai.

Tetapi Nyai Rukminiwati menarik napas lagi. Lebih dalam. Lebih gemetar.

Turua, turu, cah bagus...

Bait ketiga.

Dira belum pernah mendengarnya. Tidak dari Wulansari. Tidak dari mimpi-mimpi samar masa kecilnya. Tidak dari siapa pun.

...ing tangan kiwa getih, ing tangan tengen...

Suara itu pecah.

Nyai Rukminiwati berhenti bernyanyi. Napasnya tersengal. Lalu, untuk kedua kalinya dalam satu malam, Dira mendengar perempuan itu menangis. Tanpa suara. Hanya napas yang tersendat-sendat di dalam gelap.

"Cukup," bisik Mbah Karta. "Cukup, Wati. Bait itu bukan untuk malam ini."

Di dalam Balai Sukma, dinding beku di ujung balai bersinar.

Kali ini Dira melihatnya. Biru. Terang. Lebih terang dari malam purnama, lebih terang dari malam bait kedua. Dan di dalam cahaya itu, sesaat, sangat singkat, ia melihat sesuatu bergerak di balik dinding yang retak. Sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang tadinya meringkuk, dan kini, untuk pertama kalinya, mengangkat kepalanya.

Retakan halus di dinding beku itu memanjang. Sejari. Dengan bunyi yang tidak terdengar di dunia luar tetapi menggema di seluruh Balai Sukma seperti batu kali yang terbelah petir.

KRAAK.

Lalu cahaya itu padam.


Dira terbaring tengkurap di samping tungku ketujuh, jantungnya berdebar begitu keras sampai ia yakin Mbah Karta bisa mendengarnya.

Ki Jalak.

Tak ada jawaban.

Ki Jalak. Kau lihat itu?

"Aku lihat." Suara burung itu sangat pelan. Sangat kecil. Seperti suara anak burung yang bersembunyi di bawah daun. "Bocah. Dia bangun. Sedikit. Tapi dia bangun."

Dan sebelum Dira bisa bertanya apa yang bangun, sebelum ia bisa memutuskan apakah ia harus membuka mata dan menghadapi Mbah Karta dan Nyai Rukminiwati dan semua yang mereka sembunyikan selama delapan belas warsa, bunyi lain merobek malam.

Kentongan.

Bukan di dapur. Bukan di halaman. Dari arah balairung utama. Dipukul cepat, keras, panik. Tung-tung-tung-tung-tung. Kentongan tanda bahaya, untuk kedua kalinya dalam tiga malam.

Lalu teriakan. Suara seorang murid dalam, nyaring dan pecah oleh rasa takut.

"BALAI PUSAKA! BALAI PUSAKA DIBOBOL! PUSAKA KI AGENG HILANG!"

Di ambang pintu dapur, Ki Brajanala sudah tidak ada. Langkahnya berlari menjauh.

Dira membuka matanya.

Di sisi lain dapur, di bawah cahaya bara tungku yang merah, Nyai Rukminiwati duduk di atas dingklik kayu dengan lengan terbuka dan wajah sepucat abu. Mbah Karta berdiri di sampingnya dengan cobek di tangan. Keduanya menatap Dira.

Dan Dira, dengan perut yang tiba-tiba terasa sangat dingin, menyadari sesuatu.

Malam ini ia tidur di dapur, di samping tungku ketujuh, sesuai perintah Nyai. Satu-satunya orang yang bisa bersaksi bahwa ia tidak pernah meninggalkan dapur adalah Mbah Karta, Nyai Rukminiwati, dan Ki Brajanala.

Tiga orang yang tidak boleh ada yang tahu bahwa mereka berada di dapur malam ini.