Sang Penelan Pusaka

Bab 89Jangan Ikut Campur

Kentongan subuh berbunyi tiga kali, dan Dira sudah berdiri di depan tangga pendapa.

Ia tidak tidur sama sekali. Sisa malam ia habiskan duduk bersila di atas tikar, menatap tetesan darah di batu ambang pintu sampai asap tipisnya habis dan tetesan itu mengering menjadi noda gelap seukuran kuku. Sebelum fajar, sebelum Gandawasa bangun, ia mengambil kain basah dan menggosok noda itu sampai hilang. Ia tidak tahu kenapa. Tangannya bergerak sendiri.

Pendapa itu besar dan sunyi. Tiang-tiang kayu jatinya yang berukir sulur-suluran menjulang ke atap yang tinggi. Lantainya batu yang dingin, dilap setiap pagi oleh abdi-abdi yang kini belum datang. Di ujungnya, di atas tikar pandan yang dibentangkan di depan dinding berukir, duduk Nyai Rukminiwati.

Ia sudah berganti kain. Kebaya perjalanannya yang berdebu sudah diganti dengan kain sogan yang bersih, rambutnya sudah disanggul rapi, dan di lengan kanannya, di balik lengan kain yang panjang, Dira bisa melihat bentuk bebat yang tebal. Bebat yang rapi. Bukan bebat asal-asalan seperti semalam.

Wajahnya pucat. Lebih pucat dari yang pernah Dira lihat. Tetapi punggungnya tegak, dan matanya, ketika ia mengangkatnya dari cangkir wedang jahe di depannya, setajam biasa.

Ia tidak sendirian.

Di samping tiang terdekat, bersandar dengan tangan bersilang, berdiri Ki Brajanala. Laki-laki tinggi berbahu lebar itu masih memakai baju perjalanan. Ada lumpur kering di kakinya dan goresan baru di pipinya. Ia menatap Dira ketika Dira menaiki tangga dengan tongkat, satu anak tangga demi satu anak tangga, dan matanya tidak memperlihatkan apa-apa.

"Duduk," kata Nyai.

Dira duduk. Tongkatnya ia letakkan di samping.

Nyai menatapnya lama. Lalu menatap Ki Brajanala.

"Braja."

Ki Brajanala tidak bergerak. "Nyai, saya pikir sebaiknya saya..."

"Braja."

Laki-laki besar itu menghela napas, mendorong dirinya dari tiang, dan berjalan menuruni tangga pendapa. Tetapi ia tidak pergi jauh. Dira mendengar langkahnya berhenti di bawah, di samping tangga, di tempat yang cukup jauh untuk tidak mendengar bisikan, tetapi cukup dekat untuk mendengar teriakan.


Sebelum Nyai sempat membuka mulut, terdengar bunyi lain dari samping pendapa.

Bunyi terompah kayu yang diseret. Pelan. Tidak teratur. Srek. Srek. Srek-srek. Lalu suara batuk yang panjang dan berdahak, dan sebuah kepala botak dengan rambut putih seperti kapas muncul dari balik tiang.

Ki Tirtakusuma.

Ia memakai selendang terbalik lagi. Matanya menyipit ke arah tikar pandan, ke arah dua sosok yang duduk di sana, dan ia jelas tidak bisa melihat siapa mereka.

"Rukmini!" teriaknya. Ia tidak berbicara. Ia selalu berteriak, karena ia sendiri tidak bisa mendengar suaranya. "RUKMINI! Itu kau?"

Nyai Rukminiwati menutup matanya sebentar. "Iya, Ki Tirta."

"Kau sudah pulang! Bagus! Aku mau mengadu!"

"Ki Tirta, saya sedang..."

"KUCING!" Ki Tirtakusuma menyeret terompahnya mendekat, srek, srek, dan berhenti di ujung tikar. "Kucing di atapku! Semalam! DUA MALAM YANG LALU! Dua ekor! Besar-besar! Berkejar-kejaran! Lalu yang satu jatuh ke kolam! BYUR! Aku dengar! Aku tidak tuli!"

Dira menatap lantai batu dengan sangat tekun.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak membenamkan kepalanya di bawah sayap. Bahunya berguncang.

"Ki Tirta," kata Nyai dengan suara sangat sabar, "akan saya suruh abdi mengusir kucingnya."

"Jangan diusir! Diusir nanti kembali! Kau harus membelikanku ANJING!" Ki Tirtakusuma mengacungkan jari telunjuknya yang keriput. "Anjing besar! Yang galak! Yang bisa memanjat atap!"

"Anjing tidak bisa memanjat atap, Ki Tirta."

"Makanya cari yang BISA!"

Lalu, seperti urusannya sudah selesai, Ki Tirtakusuma berbalik dan menyeret terompahnya pergi. Srek. Srek. Srek-srek. Di ujung pendapa, ia berhenti dan berteriak ke arah yang salah, ke arah tiang yang kosong: "Selamat pagi, Braja! Kau gendut sekali sekarang!"

Lalu ia pergi.

Dari bawah tangga, terdengar bunyi seperti orang tersedak.

Nyai Rukminiwati menatap tiang yang kosong itu untuk waktu yang sangat lama. Lalu ia mengangkat cangkir wedang jahenya dan meminumnya, dan Dira bersumpah ia melihat sudut bibir perempuan itu bergerak. Sedikit sekali. Lalu kembali lurus.

"Kucing," kata Nyai datar.

Dira tidak berani mengangkat kepalanya.

"Dua ekor. Besar-besar. Yang satu jatuh ke kolam." Nyai meletakkan cangkirnya. Tak. "Kau bau lumpur, Sudira. Masih. Meskipun sudah dibasuh."


Lalu senyum yang hampir ada itu hilang, dan yang tersisa adalah Nyai Rukminiwati yang sesungguhnya.

"Aku tidak akan bertanya apa yang kau dengar di candi itu," katanya. "Aku tidak mau tahu. Dan kau tidak akan menceritakannya. Kepadaku. Kepada siapa pun. Apa pun yang kau dengar di sana, kau lupakan."

"Nyai, mereka mengambil Mbah Sarju. Mereka memeras..."

"Aku tahu apa yang mereka lakukan."

"Ki Wiradhana ada di sana. Dia bukan cuma..."

"Aku tahu siapa Wiradhana."

Dira terdiam.

Nyai Rukminiwati menatapnya dengan mata yang tidak berkedip. "Aku tahu siapa Wiradhana," ulangnya, lebih pelan, "sejak sebelum kau bisa merangkak, Sudira."

Pendapa itu sunyi. Di luar, burung-burung pagi mulai berkicau. Sinar matahari pertama masuk dari celah atap dan jatuh di lantai batu di antara mereka, membentuk garis kuning yang tipis.

"Kalau Nyai tahu," bisik Dira, "kenapa Nyai diam saja?"

"Karena ada pohon yang akarnya sudah masuk terlalu dalam." Nyai menatap garis cahaya di lantai. "Kalau kau mencabutnya sekaligus, akarnya membawa seluruh rumah ikut roboh. Dinding. Lantai. Orang-orang yang tidur di dalamnya." Ia mengangkat matanya. "Termasuk kau. Termasuk Wulansari. Termasuk juru masak tua yang pura-pura pikun dan anak kurus yang tongkatnya menyala."

Dira merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.

Juru masak tua yang pura-pura pikun.

Pura-pura.

"Jadi kau akan mendengarkan aku," kata Nyai, "dan kau akan melakukan persis seperti yang kukatakan. Tidak lebih. Tidak kurang. Tidak ada akal-akalan seperti piring yang ditukar atau tikus besar di lumbung."

Dira membuka mulut. Menutupnya lagi.

Dia tahu itu juga, pikirnya. Dia tahu semuanya.

"Tidak semuanya," bisik Ki Jalak. "Kalau dia tahu semuanya, dia akan tahu tentang aku. Dan dia tidak akan duduk sedekat ini denganmu."


"Pertama," kata Nyai Rukminiwati. "Kain itu."

Ia menunjuk kain biru tua di leher Dira dengan dagunya.

"Kau tidak akan melepasnya. Tidak untuk mandi. Tidak untuk tidur. Tidak kalau ada yang memintanya. Tidak kalau ada yang memaksamu. Kalau ada yang mencoba melepasnya, kau berteriak. Sekeras-kerasnya. Seperti anak kurus itu berteriak maling."

"Simpulnya tidak bisa dibuka, Nyai. Mbah Karta bilang hanya bisa dibuka oleh tangan yang tahu cara mengikatnya."

Untuk sesaat, sesuatu bergerak di wajah Nyai. Lalu hilang.

"Mbah Karta benar," katanya. "Kedua. Malam hari, kau tidak keluar dari dapur. Kau tidur di dapur, di samping tungku ketujuh. Mulai malam ini. Bukan di gubuk orang sakit, bukan di barak abdi. Di dapur. Di tempat yang bisa dilihat Mbah Karta."

Dira mengangguk.

"Ketiga." Nyai berhenti. Ia menatap Dira untuk waktu yang lama, dan ketika ia berbicara lagi, suaranya lebih pelan. "Nama itu. Yang kau tanyakan semalam. Kau tidak akan menanyakannya lagi. Tidak kepadaku. Tidak kepada Mbah Karta. Tidak kepada Ki Ageng. Tidak kepada siapa pun."

"Kenapa?"

"Karena nama itu pisau, Sudira." Nyai menatap matanya. "Selama tidak ada yang tahu, pisau itu ada di dalam sarungnya. Selama pisau itu ada di dalam sarungnya, tidak ada yang terluka. Begitu ada satu orang yang mengucapkannya keras-keras..." Ia tidak melanjutkan.

Dira menatap tangannya sendiri di atas pangkuan. Tangan abdi dapur. Kasar. Penuh bekas luka bakar kecil dari tungku dan bekas lecet dari tali timba.

"Mereka sudah tahu, Nyai," katanya pelan. "Mereka sudah menyebutnya. Di candi. Sang Kantha."

Cangkir wedang jahe di samping Nyai bergetar.

Hanya sedikit. Hanya sekali. Seperti ada langkah berat yang lewat di dekatnya. Tetapi tidak ada yang lewat. Tangan Nyai Rukminiwati, yang berada di samping cangkir itu, di atas tikar, sudah mengepal begitu keras sehingga buku-buku jarinya memutih.

Lalu kepalan itu terbuka. Pelan. Satu jari demi satu jari.

"Itu," kata Nyai dengan suara yang sangat tenang, "adalah alasan yang lebih kuat lagi untuk menutup mulutmu."


Ia bangkit.

Seperti semalam, gerakannya sedikit terlalu lambat. Tangan kirinya menekan tikar. Bahunya sedikit miring. Tetapi ketika ia berdiri, ia berdiri tegak, dan menatap Dira dari atas.

"Nyai," kata Dira, mendongak. "Lengan Nyai."

"Sudah diobati."

"Darahnya berasap. Semalam. Di ambang pintu. Aku melihatnya. Baunya seperti dupa hitam di candi itu, dupa yang membuat Mbah Sarju lupa. Kalau racun itu masuk ke darah Nyai..."

"Sudira."

"...Nyai bisa lupa. Seperti Mbah Sarju. Seperti Kertapati. Seperti..."

"SUDIRA."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Nyai Rukminiwati meninggikan suaranya. Suara itu menggema di antara tiang-tiang pendapa, memantul dari atap, dan di bawah tangga, langkah Ki Brajanala bergerak, satu langkah, lalu berhenti.

Nyai berdiri di sana, napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Wajahnya yang pucat kini berwarna. Merah di pipi. Merah di ujung telinga.

"Ini bukan urusanmu," katanya. Pelan lagi. Tetapi setiap kata seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur. "Jangan ikut campur. Kau dengar? Jangan. Ikut. Campur. Kau bukan murid padepokan. Kau bukan pendekar. Kau abdi dapur yang pincang, yang baru beberapa hari lalu hampir mati karena racun ular, yang dua malam lalu hampir mati karena jatuh dari atap. Kau tidak bisa melindungi siapa pun. Tidak Mbah Sarju. Tidak aku. Tidak dirimu sendiri."

Dira menatapnya. Di dadanya, sesuatu terasa sakit. Bukan karena kata-katanya kasar. Karena kata-katanya benar.

"Untuk sekali ini dalam hidupmu," kata Nyai Rukminiwati, "jadilah abdi dapur yang bodoh. Masak nasimu. Gosongkan. Kupas bawangmu. Tidur di samping tungkumu. Dan biarkan orang-orang yang sudah delapan belas warsa menjaga pisau itu tetap di sarungnya, menjaganya sedikit lebih lama lagi."

Ia berbalik dan berjalan ke ujung pendapa. Ke pintu samping yang menuju bilik-biliknya. Di ambang pintu itu, ia berhenti, dan tanpa menoleh, ia berkata:

"Kau boleh pergi."

Lalu ia pergi.


Dira duduk sendirian di atas tikar pandan untuk waktu yang lama.

Garis cahaya di lantai sudah melebar. Burung-burung di luar berkicau semakin ramai. Dari arah dapur abdi, tercium bau nasi yang mulai ditanak.

"Bocah," kata Ki Jalak pelan.

Hm.

"Delapan belas warsa."

Aku dengar.

"Dia bilang 'orang-orang yang sudah delapan belas warsa menjaga pisau itu'. Orang-orang. Bukan aku. Bukan dia. Orang-orang." Burung itu memiringkan kepalanya. "Berapa orang yang menjaga namamu, bocah? Dan siapa saja mereka?"

Dira tidak menjawab. Ia mengambil tongkatnya dan bangkit, pelan-pelan, bertumpu pada kaki kanan. Lalu ia berjalan ke tangga pendapa.

Di bawah tangga, Ki Brajanala masih berdiri. Bersandar di tiang batu dengan tangan bersilang, menatap halaman yang mulai terang. Ia tidak menoleh ketika Dira turun. Tetapi ketika Dira sampai di anak tangga terakhir, ia berbicara.

"Kau pikir dia marah kepadamu."

Dira berhenti.

"Dia tidak marah kepadamu, Nak." Ki Brajanala masih menatap halaman. "Dia takut. Aku sudah mengenalnya dua puluh warsa. Aku cuma pernah melihatnya berteriak dua kali. Pagi ini. Dan delapan belas warsa lalu, malam hujan, ketika dia mengetuk gerbang belakang padepokan dengan lengan berdarah dan sesuatu yang dibungkus kain putih di dadanya."

Dira tidak bernapas.

"Waktu itu aku yang jaga malam," kata Ki Brajanala. "Aku sampai di gerbang belakang waktu abdi kandang tua itu sedang membukanya. Dan dia berteriak kepadaku, berteriak supaya aku menutup gerbang itu secepat-cepatnya, karena ada yang mengikutinya dari hutan." Ia diam sebentar. "Aku tidak pernah bertanya apa yang mengikutinya. Aku tidak pernah bertanya apa yang dia bawa di dadanya. Aku tidak pernah bertanya kenapa lengannya dibebat dengan simpul yang aneh."

Akhirnya ia menoleh. Matanya yang keras menatap kain biru tua di leher Dira.

"Simpul yang itu," katanya.

Lalu ia menegakkan tubuhnya dari tiang. Ia merogoh kantong di pinggangnya dan mengeluarkan sesuatu. Kecil. Hitam. Ia meletakkannya di telapak tangan Dira.

Sebutir abu. Abu yang membatu, keras seperti kerikil, berbentuk bulat sempurna. Dan di permukaannya yang hitam, samar, terlihat lingkaran kecil. Seperti cincin.

"Kutemukan di tepi hutan barat semalam," kata Ki Brajanala. "Di tempat orang berjubah hitam itu jatuh, setelah Nyai menebasnya."

Ia berjalan pergi tanpa menunggu jawaban.

Dira berdiri di anak tangga terakhir pendapa, menatap butiran hitam di telapak tangannya. Sebutir abu yang membatu. Dengan tanda cincin.

Tanda pengendus.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak berbisik dengan suara yang sangat pelan:

"Bocah. Kalau Nyai menebasnya dan yang tersisa hanya ini..."

Dira menggenggam butiran itu erat-erat.

"...maka pemuda bercincin itu bukan manusia."