Bab 88Tamu Tengah Malam
"Nyai," bisik Dira.
Nyai Rukminiwati tidak menjawab.
Ia berdiri di tengah gubuk orang sakit, di bawah lubang atap tempat cahaya bulan masuk seperti tiang perak yang tipis, dan menatap Dira yang tengkurap di atas tikar. Wajahnya sebagian dalam bayangan. Yang terlihat hanya dagunya yang tegak, bibirnya yang terkatup rapat, dan debu jalan yang menempel di pipinya seperti bedak yang kasar.
Lalu ia berlutut.
Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang lututnya sakit, atau seperti orang yang tidak ingin membangunkan siapa pun. Kebaya perjalanannya berdesir di atas tanah. Bau melati yang samar itu kini lebih dekat, bercampur bau keringat kuda dan bau lain, bau yang tajam dan besi, yang tidak bisa Dira kenali.
Ia meletakkan kain biru tua itu di atas tikar, di samping wajah Dira.
Dira menatapnya.
Kain itu utuh. Tidak sobek. Tidak terbakar. Simpul tiga lilitan yang saling mengunci masih terikat rapi di sana, persis seperti ketika Mbah Karta mengikatnya. Persis seperti ketika kain itu ditarik lepas lewat kepalanya di atas atap bilik tetua, menggantung dari jari-jari pucat pemuda bercincin seperti ular yang mati.
"Nyai," bisiknya lagi. "Bagaimana..."
"Duduk."
Suaranya pelan. Tetapi itu bukan permintaan.
Dira mendorong tubuhnya bangun dengan kedua tangan dan duduk bersila. Kaki kirinya menolak, jadi ia menariknya dengan tangan dan meletakkannya di posisi yang benar. Nyai memperhatikan itu. Matanya menyipit sedikit. Tetapi ia tidak berkata apa-apa.
"Buka kainmu."
Tangan Dira bergerak ke leher, ke kain kelabu berabu dari Mbah Karta. Lalu berhenti.
Ki Jalak?
Di dalam Balai Sukma, burung jalak kebo itu bertengger diam di atas potongan dahannya. Matanya yang kecil dan hitam menatap ke arah dinding beku di ujung balai, ke arah retakan halus di sana. Tetapi ia tidak sedang melihat dinding itu. Ia sedang mendengarkan.
"Lakukan," katanya akhirnya. Suaranya aneh. Pelan dan jauh, seperti suara orang yang sedang mencoba mengingat sebuah lagu. "Dia tidak takut, bocah. Aku bisa merasakannya. Dia tidak takut pada apa yang ada di lehermu."
Dira membuka simpul biasa di kain kelabu itu. Kain itu terlepas.
Cahaya biru merembes ke dalam gubuk.
Nyai Rukminiwati tidak terkejut.
Itu yang pertama kali Dira perhatikan, dan itu yang akan ia ingat bertahun-tahun kemudian. Wajah perempuan itu tidak berubah. Tidak ada mata yang melebar seperti mata pemuda bercincin. Tidak ada tangan yang berhenti seperti tangan Gandawasa. Tidak ada napas yang tertahan.
Yang ada hanya kesedihan. Kesedihan yang sudah sangat tua dan sangat lelah, seperti sumur yang airnya sudah dipakai menimba terlalu lama.
Ia mengangkat tangan kirinya dan, dengan ujung jari yang sangat ringan, menyentuh garis biru yang bercabang di leher Dira. Bukan cabang yang lama, yang menjalar dari tulang selangka ke belakang telinga. Cabang yang baru. Cabang kelabu kebiruan yang tumbuh sejak Sapu Angin, yang kini merayap ke arah tengkuk.
"Sudah sampai tengkuk," bisiknya.
Bukan pertanyaan. Bukan kepada Dira. Seperti orang yang bicara kepada dirinya sendiri. Seperti orang yang sedang menghitung sesuatu yang sudah lama ia hitung.
Dira tidak bernapas.
"Nyai," katanya, dan suaranya pecah di tengah. "Nyai tahu."
Nyai Rukminiwati tidak menjawab. Ia mengambil kain biru tua dari atas tikar, memegangnya dengan kedua tangan, dan membuka lingkarannya lebar-lebar. Lalu, seperti seorang ibu yang memakaikan kalung kepada anaknya, ia mengalungkan kain itu melewati kepala Dira. Melewati ubun-ubun. Melewati mata. Melewati hidung, mulut, dagu. Sampai kain itu jatuh dan melingkar di lehernya, tepat di tempatnya semula.
Sejuk.
Seperti air sumur di siang hari. Seperti bayangan pohon di musim kemarau. Getah Ringin Sungsang di dalam benang-benang kain itu menyentuh kulit Dira, dan cahaya biru di lehernya meredup. Lalu padam. Denyutnya melambat. Pelan. Pelan. Seperti binatang yang akhirnya tertidur.
Dira menutup matanya. Untuk sesaat, ia hampir menangis karena lega.
Ketika ia membuka matanya lagi, Nyai Rukminiwati sedang menarik tangannya kembali. Dan dalam gerakan itu, lengan kanan kebayanya tersingkap.
Ada dua hal di lengan itu.
Yang pertama adalah luka. Luka baru. Sayatan panjang dari siku sampai ke pergelangan, dibebat asal-asalan dengan sobekan kain yang sudah basah dan gelap. Darah merembes dari tepi bebatnya. Bukan merah. Merah yang terlalu tua. Merah yang hampir hitam, seperti darah yang tercampur sesuatu yang lain.
Bau besi yang tajam itu datang dari sana.
Yang kedua bukan luka. Atau lebih tepatnya, dulu luka. Sekarang hanya bekas. Di lengan bawah yang sama, sedikit di atas luka baru itu, melingkar mengelilingi lengan seperti gelang, ada tiga garis pucat yang sejajar. Tiga garis yang saling bersilang di satu titik, membentuk pola yang sangat Dira kenal.
Pola simpul.
Tiga lilitan yang saling mengunci.
Dira menatapnya. Dan di dalam kepalanya, kembali, suara Mbah Sarju yang bergumam di tengah lingkaran abu, di bawah asap dupa hitam:
Mas Karta... membebat lengannya... lengan perempuan itu... berdarah... membebatnya dengan kain... simpulnya aneh... tiga lilitan...
Delapan belas warsa. Malam hujan. Seorang perempuan dengan lengan berdarah. Seorang laki-laki yang membebatnya dengan simpul yang hanya bisa dibuka oleh tangan yang tahu cara mengikatnya. Bekasnya tidak pernah hilang. Bekasnya masih di sana, melingkar di lengan Nyai Rukminiwati seperti gelang yang tidak bisa dilepas.
Nyai melihat ke mana mata Dira tertuju.
Ia menarik lengan kebayanya ke bawah. Pelan. Tanpa tergesa-gesa. Seperti orang yang menutup jendela, bukan seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.
"Nyai terluka," kata Dira.
"Ranting."
"Itu bukan ranting."
"Ranting," ulang Nyai Rukminiwati dengan suara datar. "Di jalan. Malam gelap. Kudaku menerjang semak berduri."
"Darahnya hitam, Nyai."
Nyai menatapnya. Lama. Dan Dira, yang selama delapan belas warsa hidupnya tidak pernah membantah perempuan ini, yang selama delapan belas warsa hidupnya menunduk setiap kali dipanggil namanya dengan nada seperti itu, tidak menunduk.
"Bocah," bisik Ki Jalak, "hati-hati."
"Mbah Sarju," kata Nyai Rukminiwati akhirnya, seperti Dira tidak berkata apa-apa tentang darah. "Sudah di balai pengobatan. Ki Brajanala yang menggendongnya pulang. Dia tidur. Tabib bilang napasnya baik, jantungnya baik. Tapi dia tidak bangun. Mungkin tidak akan bangun untuk waktu yang lama."
Dira merasakan dadanya mengendur dan mengerut sekaligus. Hidup. Mbah Sarju masih hidup.
"Di mana Nyai menemukannya?"
"Di tepi hutan barat."
Sarju buang ke hutan barat, kata Ki Wiradhana di candi tua. Biar dikira tersesat.
Dira menatap kain biru tua di lehernya. Lalu luka di lengan Nyai, yang kini tersembunyi di balik kebaya. Lalu wajah Nyai.
Ia mulai menyusun.
Pemuda bercincin itu mengambil kain biru tua di atas atap. Lalu ia pergi. Tugasnya malam itu belum selesai. Ia harus membuang Mbah Sarju ke hutan barat, sesuai perintah Ki Wiradhana, supaya orang mengira orang tua pikun itu tersesat sendiri. Ia membawa Mbah Sarju ke barat. Ke tepi hutan.
Dan di tepi hutan barat, di jalan yang menghubungkan padepokan dengan desa-desa di sebelah barat, malam itu juga, ada dua orang yang sedang berkuda pulang. Lebih cepat dari jadwal. Menembus malam.
Kudaku menerjang semak berduri.
"Nyai bertemu dengannya," bisik Dira. "Pemuda itu. Yang membawa Mbah Sarju. Nyai bertemu dengannya di tepi hutan, dan Nyai mengambil kain ini dari..."
"Sudira."
Satu kata. Namanya. Diucapkan dengan nada yang sama seperti ketika Dira berumur tujuh warsa dan pulang dengan lengan patah karena jambu curian. Nada yang tidak keras. Tidak perlu keras.
Dira terdiam.
Untuk waktu yang lama, tidak ada yang berbicara. Di ambang pintu, Gandawasa mendengkur. Kambing Ji mendengkur. Di luar, jangkrik-jangkrik yang tadi diam mulai bernyanyi lagi, satu-satu, ragu-ragu, seperti orang yang mengintip dari balik pintu untuk memastikan bahaya sudah lewat.
Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak masih menatap dinding beku.
"Bocah," katanya tiba-tiba. Pelan sekali.
Apa?
"Waktu dia mengalungkan kain itu ke lehermu. Dinding itu." Burung itu memiringkan kepalanya. "Dinding itu bersinar. Sebentar. Biru. Seperti malam itu, waktu Wulansari menyanyikan bait kedua."
Dira menoleh ke dalam, ke Balai Sukma, ke dinding beku di ujungnya. Gelap. Diam. Retakan halusnya tidak bergerak.
Aku tidak melihatnya.
"Sebentar sekali. Seperti mata yang terbuka lalu terpejam lagi." Ki Jalak mengembangkan bulunya sedikit, seperti burung yang kedinginan. "Apa pun yang tidur di balik dinding itu, bocah... ia mengenal tangan perempuan ini."
Nyai Rukminiwati bangkit.
Ia melakukannya dengan sedikit terlalu lambat. Tangan kirinya menekan lutut. Bahunya sedikit miring ke kanan, ke arah lengan yang terluka. Untuk sesaat, ia berdiri di sana dengan mata terpejam, seperti orang yang menunggu pusing di kepalanya reda.
Lalu ia membuka matanya, dan ia kembali menjadi Nyai Rukminiwati. Tegak. Dingin. Tak tergoyahkan.
"Nyai." Dira menatapnya dari tikar. "Satu pertanyaan saja."
Nyai tidak menjawab. Tetapi ia juga tidak pergi.
"Di candi itu," kata Dira pelan, "Mbah Sarju bilang... waktu aku dibawa ke padepokan, aku dibungkus kain putih. Dan di pinggir kain itu, ada jahitan benang merah. Aksara. Mbah Sarju tidak bisa membaca. Tapi dia ingat bentuknya. Katanya seperti ka."
Ia menelan ludah.
"Nyai yang memberiku nama Sudira. Ki Ageng bertanya siapa yang memberiku nama itu, waktu upacara, dan tangannya mengepal ketika aku bilang Nyai. Dan orang berjubah hitam itu bilang Sudira bukan nama yang diberikan ibuku. Bahwa ada nama lain. Nama yang dijahit dengan benang merah." Suaranya bergetar. "Nyai. Apa nama itu?"
Gubuk itu sunyi.
Bahkan jangkrik-jangkrik di luar berhenti lagi.
Nyai Rukminiwati berdiri membeku di bawah tiang cahaya bulan. Wajahnya tidak berubah. Tetapi Dira melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat selama delapan belas warsa hidupnya. Bibir perempuan itu, yang selalu terkatup rapat, gemetar. Sedikit sekali. Sekali saja. Lalu terkatup lagi.
"Kau ada di candi itu," katanya.
Bukan pertanyaan.
Dira menyadari kesalahannya terlambat. Terlalu terlambat. Ia baru saja mengakui, dengan mulutnya sendiri, bahwa ia mendengar Mbah Sarju bergumam di tengah lingkaran abu. Bahwa ia ada di sana. Bahwa ia bersembunyi di balik dinding candi sementara Kala Ireng memeras ingatan orang tua itu.
"Kau," kata Ki Jalak dengan suara orang yang sangat lelah, "dan mulutmu yang berani itu."
Nyai Rukminiwati tidak marah.
Itu yang paling menakutkan.
Ia tidak berteriak. Ia tidak menampar. Ia tidak menunjuk dengan jari yang gemetar seperti waktu Dira berumur tujuh warsa. Ia hanya berdiri di sana, di bawah cahaya bulan, dan menatap Dira dengan mata yang begitu dingin dan begitu tenang sehingga Dira merasa ia sedang ditatap oleh telaga di puncak gunung di tengah malam.
"Besok pagi," katanya. "Setelah kentongan subuh. Pendapa. Sendirian."
Ia berbalik dan berjalan ke pintu. Melangkahi kaki Gandawasa tanpa membangunkannya. Kambing Ji mengangkat kepala, menatapnya, lalu menunduk lagi.
Di ambang pintu, ia berhenti. Tidak menoleh.
"Kau tidak akan pergi ke candi itu lagi, Sudira. Tidak besok. Tidak lusa. Tidak sampai aku mati." Suaranya sangat datar. "Kalau kau pergi lagi, aku sendiri yang akan mematahkan kaki kananmu, supaya kau tidak bisa pergi ke mana pun dengan kaki mana pun."
Lalu ia pergi.
Langkahnya menjauh di atas tanah yang lembap. Pelan. Teratur. Lalu, di kejauhan, dekat sudut dapur abdi, langkah itu tersandung. Satu kali. Lalu berhenti sebentar. Lalu berlanjut lagi, sedikit lebih lambat dari sebelumnya, sampai hilang.
Dira menatap pintu yang kosong.
Di ambang pintu itu, di atas batu datar yang menjadi anak tangganya, tepat di samping tumit Gandawasa yang mendengkur, ada setetes darah.
Gelap. Hampir hitam.
Dan dari tetesan darah itu, di bawah cahaya bulan, naik seutas asap yang sangat tipis. Begitu tipis sampai hampir tidak terlihat. Bergoyang pelan di udara malam. Berbau manis dan pahit sekaligus, seperti bunga yang membusuk.
Dira mengenal bau itu.
Ia menciumnya di candi tua. Di lingkaran abu. Di atas wajah Mbah Sarju yang kosong.
Bau dupa hitam.