Sang Penelan Pusaka

Bab 87Bukti yang Hilang

Dira membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Itu tanda lahir. Tanda lahir tidak bercahaya. Itu bekas racun ular. Racun ular tidak bercabang seperti akar. Itu pusaka yang kutelan. Itu jawaban yang benar, dan itu jawaban yang akan membuatnya dibakar di halaman padepokan sebagai siluman.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak diam. Burung itu tidak memberi saran. Kali ini tidak ada siulan pendek yang berarti bohong saja, atau dua siulan yang berarti diam saja. Hanya diam.

Gandawasa menunggu. Kain basah masih di tangannya. Matanya masih pada cahaya biru yang merembes dari retakan lumpur.

"Kakang Ganda," kata Dira akhirnya. Suaranya serak. "Aku..."

"Jangan."

Dira terdiam.

Gandawasa menurunkan kain basah itu. Ia menatap lantai tanah gubuk, bukan wajah Dira, bukan leher Dira. Rahangnya mengeras dan mengendur, mengeras dan mengendur, seperti orang yang sedang mengunyah sesuatu yang sangat alot.

"Jangan jawab," katanya. "Aku tidak bertanya."

"Tapi kau..."

"Aku tidak bertanya." Gandawasa mengangkat kepalanya. Matanya merah. "Waktu aku umur sembilan warsa, Dira, ayahku menukarku dengan sekarung beras. Kau tahu itu. Mbok Darsih pasti sudah cerita."

Dira mengangguk pelan.

"Yang belum kuceritakan," kata Gandawasa, "adalah ini. Di dapur Ki Brangas, ada banyak hal yang kulihat. Hal-hal yang tidak boleh dilihat anak sembilan warsa. Dan anak-anak yang melihat, lalu bercerita..." Ia berhenti. "Mereka tidak ada lagi di dapur itu. Pagi-pagi, tikar mereka sudah kosong. Ki Brangas bilang mereka kabur."

"Jadi aku belajar satu hal. Orang yang dijual tahu kapan harus tutup mulut. Dan orang yang dijual tahu kapan harus tutup mata." Ia mencelupkan kain itu ke kendi lagi dan, dengan gerakan yang sangat hati-hati, melanjutkan membasuh lumpur dari lengan Dira. Bukan dari leher. Dari lengan. "Aku tidak lihat apa-apa. Aku cuma lihat lumpur. Banyak lumpur. Kau bau seperti kubangan kerbau."

Dira menatapnya.

Lalu ia merasakan sesuatu yang panas naik ke matanya, dan ia harus memalingkan wajah ke dinding gedek.

Gandawasa membasuh lengannya, lalu kakinya, lalu punggungnya. Ia tidak menyentuh leher Dira sama sekali. Ketika semua lumpur sudah hilang kecuali yang di leher, ia bangkit, berjalan ke sudut gubuk, dan mengambil ikat kepalanya sendiri, kain hitam kasar yang selalu ia pakai sejak menjadi abdi kandang. Ia kembali, berjongkok, dan tanpa melihat, melilitkan kain hitam itu ke leher Dira di atas lumpur yang kering. Dua kali. Lalu mengikatnya dengan simpul mati yang biasa, simpul abdi kandang untuk mengikat kambing.

Cahaya biru itu hilang di balik kain hitam.

"Nah," kata Gandawasa. "Sekarang lehermu cuma leher."


"Aku salah tentang dia," kata Ki Jalak lama kemudian, setelah Gandawasa kembali berbaring melintang di ambang pintu dengan golok di samping tangannya.

Kau bilang dia ular sawah, jawab Dira. Kalau diam, artinya sedang menunggu.

"Itu kata Gendhis."

Kau setuju.

"Aku setuju waktu itu." Burung itu terdiam sebentar. "Orang berubah, bocah. Tidak semuanya. Tidak sering. Tapi kadang-kadang ada yang berubah. Dan ketika itu terjadi, yang paling sulit adalah mengakui bahwa kita juga harus berubah pikiran tentang mereka."

Ki Jalak.

"Hm."

Kainnya.

Hening.

Kain itu sekarang di tangan mereka, kata Dira. Dengan simpul Mbah Karta. Dengan bau getah. Pemuda itu melihat tanda di leherku. Dia melihatnya, Ki Jalak. Matanya melebar.

"Aku tahu."

Kalau mereka menunjukkan kain itu kepada Ki Ageng...

"Mereka tidak akan."

Bagaimana kau tahu?

"Karena untuk menunjukkan kain itu, mereka harus menjelaskan dari mana mereka mendapatkannya. Dan untuk menjelaskan itu, mereka harus mengakui bahwa mereka ada di atap asrama tetua tengah malam, mengejar seorang abdi dapur pincang. Ki Wiradhana tidak sebodoh itu." Ki Jalak mengatupkan paruhnya. "Tapi itu tidak berarti kain itu tidak berbahaya. Kain itu bukan bukti untuk diperlihatkan, bocah. Kain itu bukti untuk mereka sendiri. Sekarang mereka tidak menduga lagi. Sekarang mereka tahu."

Dira tidak tidur sampai subuh.


Mbah Karta datang sebelum kentongan subuh, membawa periuk bubur dan langkah yang lebih berat dari biasanya.

Ia melangkahi kaki Gandawasa di ambang pintu seperti biasa. Gandawasa tidak bangun, seperti biasa. Ia meletakkan periuk bubur di samping tikar Dira, duduk bersila, dan menatap kain hitam kasar di leher Dira.

Ia tidak bertanya. Ia hanya menunggu.

Dira menceritakan semuanya dengan suara berbisik. Candi tua. Mbah Sarju. Dupa hitam. Mas Karta. Mata-mata merah. Ranting yang patah. Atap. Kolam. Kain.

Ketika ia sampai pada nama Mas Karta, tangan Mbah Karta yang sedang mengaduk bubur berhenti sebentar. Lalu mengaduk lagi.

Ketika ia sampai pada kain biru tua yang tergantung dari jari-jari pucat pemuda bercincin, tangan itu berhenti dan tidak bergerak lagi.

Lama, Mbah Karta menatap bubur di dalam periuk. Uap tipis naik ke wajahnya yang keriput.

"Simpulnya," katanya akhirnya. "Masih terikat?"

"Masih. Kain itu lepas lewat kepalaku. Simpulnya utuh."

Mbah Karta mengangguk pelan. Sesuatu di wajahnya, sesuatu yang tidak bisa Dira baca, berubah. Seperti orang yang mendengar kabar buruk dan kabar baik sekaligus, dan belum tahu harus memilih yang mana.

"Mbah," bisik Dira. "Kain itu bisa menunjuk Mbah. Simpulnya. Getahnya. Mereka sudah curiga Mbah. Orang tinggi itu bilang Mbah seharusnya sudah lama mati. Dan sekarang..."

"Kain hanya kain, Le." Mbah Karta mulai mengaduk lagi. "Simpul hanya simpul. Yang menunjuk itu mulut orang. Dan orang-orang itu," ia mengetuk pinggir periuk dengan sendok kayu, tok, "tidak bisa membuka mulut di depan orang lain tanpa membuka jubah mereka sendiri."

"Tapi tandaku, Mbah. Tanpa kain itu..."

"Aku tahu." Mbah Karta meletakkan sendok kayunya. Ia merogoh kantong di pinggangnya dan mengeluarkan selembar kain tipis berwarna kelabu. Kain biasa. Kain belacu murahan yang biasa dipakai untuk menyaring santan. Kain itu kotor, hitam di beberapa bagian, seperti habis digosok ke dinding tungku.

"Getahnya sudah habis," kata Mbah Karta. "Yang kuteteskan ke supmu kemarin itu tetes terakhir. Pohon itu sudah lama terbakar, Le. Getahnya tidak bisa dipetik lagi seperti jambu."

Dira menatap kain kelabu itu.

"Ini abu tungku," kata Mbah Karta. "Tungku ketujuh. Tungkumu. Abu menutup bara, supaya bara tidak padam tapi juga tidak menyala. Tidak sebagus getah. Cukup untuk siang hari. Malam hari..." Ia mengangkat bahu. "Malam hari, kau tidur dengan wajah ke tikar."

Ia membuka ikat kepala Gandawasa dari leher Dira, membersihkan lumpur di bawahnya dengan kain basah, lalu melilitkan kain kelabu itu. Rasanya hangat. Kering. Berbau asap kayu jati dan nasi gosong. Bau dapur. Bau rumah.

Di bawahnya, tanda di leher Dira meredup. Tidak sedingin di bawah kain biru tua. Tetapi meredup.

Mbah Karta mengikat kain itu dengan simpul biasa. Bukan simpul tiga lilitan. Dira memperhatikannya.

"Mbah tidak memakai simpul yang..."

"Simpul itu," kata Mbah Karta, "cuma untuk sekali." Ia bangkit, lututnya berbunyi krek. "Makan buburmu. Pagi ini Ki Ageng mengumpulkan semua orang di halaman. Kau tidak datang. Kau sakit. Kau demam. Kau sudah tiga hari demam."

"Aku memang..."

"Kau demam kuning," kata Mbah Karta dengan wajah sangat serius. "Gendhing sudah menyebarkannya ke seluruh barak abdi. Jangan mengecewakannya."


Dira tidak datang ke halaman.

Tetapi ia tidak perlu datang. Menjelang tengah hari, Gendhing dan Gendhis datang ke gubuk orang sakit membawa nasi, sayur bening, dan cerita yang begitu panjang dan begitu bersemangat sehingga Dira merasa seperti ia berdiri sendiri di tengah halaman itu.

"Semua orang," kata Gendhis, duduk bersila dan mencomot tempe dari bungkusan yang ia bawa untuk Dira. "Semua. Murid luar, murid dalam, abdi, tetua. Bahkan Ki Tirtakusuma. Dia datang pakai kain tidur dan selendang terbalik."

"Dia bilang semalam ada kucing kawin di atap biliknya," kata Gendhing.

"Gendhing!"

"Dia yang bilang! Keras-keras! Di depan Ki Ageng!" Gendhing mengangkat kedua tangannya. "Ki Ageng sedang bertanya soal maling, lalu Ki Tirtakusuma tiba-tiba berteriak, 'MALING APA? YANG ADA CUMA KUCING! DUA EKOR! BESAR-BESAR! DI ATAPKU!' Lalu Ki Ageng bilang, 'Terima kasih, Ki Tirta,' dengan wajah seperti orang menahan bersin."

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak tersedak.

"Lalu," kata Gendhis cepat-cepat, sebelum adiknya bisa menambahkan hal-hal yang lebih buruk, "Ki Ageng memanggil Satyaki."

"Ah," kata Dira.

"Satyaki," kata Gendhing dengan mata berbinar, "adalah pahlawan."


Menurut si kembar, dan menurut seluruh padepokan, beginilah yang terjadi:

Satyaki, murid luar kurus yang selama ini dianggap paling tak berguna di asrama, tidak bisa tidur semalam karena perutnya lapar. Ia keluar dari asrama untuk mencari sisa nasi di dapur. Di jalan, ia melihat cahaya aneh di lereng timur. Karena penasaran, dan karena, katanya, "rasa lapar membuat orang bodoh," ia mengikuti cahaya itu sampai ke candi tua. Di sana, ia melihat sosok-sosok berjubah hitam.

"Berapa orang?" tanya Ki Ageng.

"Banyak, Ki." Satyaki berdiri di tengah halaman, tubuhnya gemetar, Kyai Pring Kuning digenggam erat di depan dada. "Dua. Atau tiga. Atau empat. Gelap, Ki. Dan aku takut. Kalau aku takut, aku menghitungnya dua kali lipat."

Seluruh halaman tertawa. Ki Ageng tidak.

"Lalu kau berteriak."

"Lalu aku berteriak, Ki. Dan tongkatku menyala." Satyaki mengangkat tongkat bambu kuningnya, seperti tongkat itu bisa memberi kesaksian sendiri. "Pusakaku memang begitu kalau aku takut, Ki. Kadang juga kalau aku lapar. Semalam aku takut dan lapar sekaligus, jadi nyalanya terang sekali."

"Lalu kau lari."

"Lalu aku lari, Ki. Ke utara. Sambil berteriak. Karena kalau aku berhenti berteriak, aku akan pingsan."

"Dan malingnya?"

"Lari ke arah lain, Ki." Satyaki mengerutkan dahi, berpikir keras. "Ke timur. Eh. Ke selatan. Eh..." Ia menggaruk kepala. "Pokoknya bukan ke arahku, Ki. Aku sudah memastikan itu."

Halaman meledak dalam tawa. Bahkan beberapa tetua tidak bisa menahan senyum.

"Lalu," kata Gendhis kepada Dira, merendahkan suaranya, "Ki Wiradhana maju."

Dira berhenti mengunyah.

"Dia memuji Satyaki. Di depan semua orang. Dia bilang Satyaki anak yang berani, bahwa keberanian sejati bukan tidak takut, tapi tetap berteriak meski takut. Dia menepuk bahu Satyaki." Gendhis mengerutkan hidung. "Tapi waktu dia menepuk bahu itu, matanya tidak di wajah Satyaki."

"Di mana?"

"Di tongkatnya. Tongkat bambu kuning itu. Lama sekali."

Dira merasakan perutnya mengerut. Di dalam rongga tongkat itu, terbungkus daun talas, tersimpan biji hitam Wijayakusuma yang asli. Biji yang dicari Ki Wiradhana. Biji yang ia kira sudah ia dapatkan, sampai dupa-dupanya berbau sambal kemiri.

"Dia tidak tahu," bisik Ki Jalak. "Belum. Kalau dia tahu, Satyaki tidak akan berdiri di halaman pagi ini. Tapi dia mulai menghitung."


"Lalu yang paling seru," kata Gendhing, yang sudah tidak sabar, "kambingnya."

"Kambingnya?"

"Kambing bermata jahat! Kambing Mbah Sarju!" Gendhing melompat berdiri, karena cerita tentang kambing harus diceritakan sambil berdiri. "Para penjaga menemukannya di candi tua, Dira. Pagi-pagi. Dia berdiri di tengah candi. Satu tanduknya patah separuh. Kakinya pincang. Dan dia tidak mau pergi. Setiap kali ada yang mendekat, dia menunduk dan siap menyeruduk."

"Dia masih hidup," bisik Dira. Ada sesuatu di dadanya yang mengendur.

"Masih hidup! Dan galak sekali! Tiga murid dalam diseruduk sampai jatuh! Akhirnya Kakang Ganda yang datang. Dia jongkok di depan kambing itu dan bilang, 'Mbah Sarju tidak ada di sini, Ji. Ayo pulang.' Dan kambing itu langsung ikut dia. Seperti anjing."

Ji, pikir Dira. Kambing itu punya nama. Ia tidak pernah tahu.

"Tapi itu bukan yang paling seru," kata Gendhis. "Yang paling seru adalah apa yang ada di mulut kambing itu."

Dira menatapnya.

"Sobekan kain," kata Gendhis pelan. "Hitam. Halus. Bukan kain jarik murid. Bukan kain abdi. Kain yang mahal, tenunannya rapat. Kambing itu tidak mau melepasnya. Kakang Ganda harus membujuknya dengan gula aren."

Jubah pemuda bercincin, pikir Dira. Waktu kambing itu menyeruduknya.

"Ki Ageng memegang kain itu lama sekali," kata Gendhis. "Lalu dia bertanya ke semua orang, siapa yang punya jubah hitam dari kain seperti ini. Tidak ada yang menjawab. Lalu Ki Wiradhana bilang, 'Kain hitam banyak dijual di pasar Kadipaten, Ki Ageng. Maling mana pun bisa membelinya.' Dan Ki Ageng bilang..." Gendhis mengerutkan dahi, berusaha mengingat kata-katanya persis. "Ki Ageng bilang, 'Maling mana pun bisa membelinya. Tetapi tidak semua maling dikenal oleh kambing Mbah Sarju.'"

Gubuk itu sunyi.

"Aku tidak mengerti artinya," kata Gendhing.

"Aku juga tidak," kata Gendhis. "Tapi wajah Ki Wiradhana jadi seperti orang yang baru menggigit cabai rawit."


"Lalu yang terakhir," kata Gendhis, dan kali ini ia tidak tersenyum. "Tongkat."

Dira berhenti bernapas.

"Para penjaga menemukan sebatang tongkat di dekat candi. Tongkat kayu. Ujungnya tumpul, pegangannya halus, seperti sudah lama dipakai orang pincang." Gendhis menatapnya. Gendhing juga. Kedua pasang mata itu menatap pojok gubuk tempat seharusnya tongkat Dira bersandar. Pojok yang kosong. "Ki Ageng mengangkatnya dan bertanya, 'Milik siapa ini?'"

"Dan?"

"Dan semua orang diam. Semua orang tahu siapa di padepokan ini yang berjalan dengan tongkat sejak pulang dari Hutan Larangan." Gendhis menggigit bibir. "Aku melihat Ki Wiradhana tersenyum. Sedikit sekali. Seperti orang yang sudah menunggu kalimat itu sejak semalam."

"Lalu?"

"Lalu Kakang Ganda maju."

Dira menatapnya.

"Dia bilang itu tongkatnya," kata Gendhing. "Dia bilang dia yang membuat tongkat itu untukmu, waktu kau pulang dari Hutan Larangan. Lalu semalam dia meminjamnya kembali karena kambing Mbah Sarju lepas dan lari ke timur, dan dia butuh tongkat untuk menggiring kambing. Dia mengejar kambing itu sampai candi. Dia melihat cahaya. Dia takut. Dia lari pulang dan menjatuhkan tongkatnya."

"Kenapa dia tidak melapor?" tanya Dira dengan suara kecil.

"Itu yang ditanya Ki Ageng." Gendhis menatap tangannya sendiri. "Kakang Ganda bilang, 'Saya abdi kandang yang baru diturunkan, Ki. Kalau saya bilang saya di candi tengah malam, siapa yang akan percaya saya tidak mencuri apa-apa?'"

Sunyi lagi.

"Ki Ageng memandangnya lama sekali," kata Gendhis. "Lalu bilang, karena tidak melapor, Kakang Ganda harus membersihkan seluruh kandang padepokan sendirian selama sebulan. Lalu Ki Ageng memberikan tongkat itu kembali kepadanya. Dan Ki Wiradhana..." Ia mengerutkan hidung lagi. "Ki Wiradhana tidak tersenyum lagi."


Gandawasa pulang ke gubuk orang sakit menjelang senja, berbau kotoran kambing dari kepala sampai kaki, dengan tongkat kayu Dira di tangan kanannya dan kambing bermata jahat, yang ternyata bernama Ji, mengikuti di belakangnya dengan satu tanduk patah dan kaki pincang.

Ia menyandarkan tongkat itu di pojok gubuk. Ia tidak berkata apa-apa.

"Kakang Ganda," kata Dira.

"Tongkatku," kata Gandawasa tanpa menoleh. "Kupinjamkan. Jangan dijatuhkan lagi."

Lalu ia berbaring melintang di ambang pintu, dan dalam sekejap ia mendengkur. Kambing Ji berbaring di sampingnya, menyandarkan kepalanya yang bertanduk patah di perut Gandawasa, dan memejamkan matanya yang jahat.

Dira menatap mereka berdua lama sekali.


Malam turun.

Kain kelabu di leher Dira mulai terasa tipis. Seperti kata Mbah Karta, abu menutup bara hanya untuk sementara. Di balik kain itu, tanda di lehernya mulai menghangat. Berdenyut pelan. Dira berbaring tengkurap, wajahnya menekan tikar, supaya cahaya apa pun yang merembes tertutup oleh tubuhnya sendiri.

Ia tidak tidur.

Di luar, jangkrik bernyanyi. Di ambang pintu, Gandawasa mendengkur. Kambing Ji mendengkur juga, lebih pelan, seperti gema.

Lalu jangkrik-jangkrik itu berhenti.

Semuanya sekaligus. Seperti ada yang menutup mulut mereka dengan satu tangan.

Dira membuka matanya.

Langkah kaki. Di luar gubuk. Pelan. Ringan. Tetapi bukan langkah tanpa suara seperti pemuda bercincin. Langkah ini punya bunyi. Bunyi telapak kaki di atas tanah yang lembap. Bunyi kain yang menyentuh rerumputan. Dan bersama langkah itu, terbawa angin, ada bau.

Bukan bau dupa hitam. Bukan bau getah.

Bau debu jalan. Bau keringat kuda. Dan di bawahnya, samar, bau melati.

Kambing Ji mengangkat kepalanya. Ia menatap kegelapan di luar pintu. Ia tidak mengembik. Ia tidak menunduk untuk menyeruduk. Ia hanya menatap, lalu meletakkan kepalanya kembali di perut Gandawasa, seperti kambing yang melihat sesuatu yang ia kenal.

Sosok itu melangkahi kaki Gandawasa tanpa membangunkannya.

Ia berdiri di dalam gubuk. Siluet seorang perempuan. Tinggi. Tegak. Kebaya perjalanan yang masih berdebu. Rambut yang disanggul sederhana, beberapa helainya terlepas.

Di tangan kanannya, menggantung dari jari-jarinya, terlihat samar di bawah cahaya bulan yang masuk dari lubang atap, ada sehelai kain.

Kain yang warnanya biru tua.