Bab 86Kejar-kejaran di Atap
"Jangan," kata Ki Jalak.
Satu kata saja. Tetapi di dalam Balai Sukma, burung jalak kebo itu sudah berdiri tegak di atas potongan dahannya. Bulu-bulunya mengembang, sayapnya setengah terbuka. Gemetarnya yang tadi sudah hilang. Yang tersisa hanya sesuatu yang keras dan dingin, seperti batu kali di musim kemarau.
Aku tahu, jawab Dira.
Ia memang tahu. Kain biru tua itu bukan sekadar kain. Benangnya direndam getah Ringin Sungsang. Simpulnya simpul tiga lilitan yang saling mengunci, simpul Mbah Karta. Kalau kain itu jatuh ke tangan sosok jangkung bermata merah itu, kain itu akan menunjuk dua orang sekaligus. Dirinya, dan juru masak tua yang selalu pura-pura pikun.
Lagi pula, ia tidak bisa melepasnya cepat-cepat meski mau. Simpul ini tidak bisa dibuka, kata Mbah Karta dulu sambil mengencangkannya. Hanya oleh tangan yang tahu cara mengikatnya.
Pemuda bercincin itu masih mengulurkan tangannya. Sabar. Seperti orang yang meminta garam di meja makan.
Dira menelan ludah.
"Ambil sendiri," katanya.
Di dalam dadanya, Ki Jalak mengerang panjang. "Bocah. Kenapa setiap kali kau takut, mulutmu malah jadi berani?"
Aku tidak tahu. Lari sekarang?
"LARI SEKARANG."
Dira berbalik dan berlari di sepanjang bubungan.
Berlari bukan kata yang tepat. Ia melompat-lompat dengan kaki kanan, seperti burung pipit di pematang. Kaki kirinya hanya menyentuh ijuk sekejap untuk menjaga keseimbangan, lalu terangkat lagi. Telapak tangan kanannya terbuka ke belakang, dan setiap kali ia melompat, Sapu Angin menyembur dari sana. Hembusan pendek dan keras yang mendorongnya maju dua kali lebih jauh dari lompatan biasa.
"Cicit!" Burung sriti kecil itu melesat-lesat di Balai Sukma. Seperti anak yang diajak bermain kejar-kejaran untuk pertama kalinya. Seperti tidak tahu bahwa yang mengejar mereka bisa membunuh.
"Jangan terlalu senang, kau," gerutu Ki Jalak. "Ini bukan main."
"Cicit."
Atap asrama tetua panjang. Di ujungnya, atap itu menurun menjadi atap serambi yang rendah, lalu bersambung dengan atap bangunan lain, bilik-bilik para tetua yang berjajar menghadap halaman samping. Dari bubungan, Dira bisa melihat seluruh padepokan di bawah bulan yang kempis.
Obor di mana-mana.
Di halaman utama. Di depan asrama murid luar. Di depan asrama murid dalam. Barisan obor bergerak cepat ke timur, ke arah kebun obat, ke arah lereng, ke arah candi tua. Suara-suara bersahutan.
"Ke candi! Ke candi tua!"
"Maling pusaka!"
"Siapa yang berteriak tadi?"
"Anak murid luar! Tongkatnya menyala!"
Tak seorang pun mendongak ke atap.
Dira melompat dari bubungan asrama tetua ke atap serambi. Ijuk berderak keras di bawah kakinya. Ia tergelincir, meluncur di atas lereng atap yang curam, lalu mencengkeram tepinya dengan kedua tangan dan berhenti tepat di ujung, kakinya menggantung di udara.
Di belakangnya, tak ada bunyi.
Tak ada ijuk yang berderak. Tak ada napas. Tak ada langkah.
Dira menoleh.
Pemuda bercincin itu berjalan di atas bubungan asrama tetua. Berjalan. Tidak berlari. Tidak melompat. Kedua tangannya tergantung di sisi tubuh. Ia melangkah di atas bubungan yang sempit seperti sedang berjalan di pematang sawah di siang hari. Dan entah bagaimana, dengan langkah yang begitu tenang, jaraknya dengan Dira tidak bertambah. Malah berkurang.
"Dia tidak berlari karena dia tidak perlu berlari," bisik Ki Jalak. "Orang yang berlari punya sesuatu untuk ditakuti. Orang itu tidak."
Terima kasih. Itu sangat menenangkan.
"Aku tidak sedang menenangkan. Aku sedang menghitung. Teruslah lompat."
Dira menarik dirinya naik ke atas atap serambi, lalu melompat lagi ke atap bilik tetua yang pertama. Lalu yang kedua.
Di bawah atap bilik yang kedua, sesuatu bergerak.
Bunyi kayu bergeser. Daun jendela kayu kecil di dinding gedek terbuka dengan kasar, dan sebuah kepala menyembul keluar. Kepala tua. Botak di tengah, rambut putih di pinggir seperti kapas yang ditempelkan sembarangan. Mata menyipit, tidak bisa melihat jauh, apalagi ke atas.
Ki Tirtakusuma. Tetua tertua di padepokan. Umurnya hampir sembilan puluh warsa. Pendengarannya sudah separuh hilang, dan ia tidur begitu nyenyak sehingga kentongan tanda bahaya pun tidak membangunkannya. Tetapi ijuk yang berderak tepat di atas kepalanya rupanya membangunkannya.
"KUCING!" teriaknya ke arah kegelapan, ke arah yang sama sekali salah. "PERGI KALIAN! TIAP MALAM! TIAP MALAM KALIAN BERKEJAR-KEJARAN DI ATAP ORANG TUA!"
Dira membeku di atas atap, tepat di atas kepala orang tua itu.
"KALAU KALIAN MAU BERCUMBU," lanjut Ki Tirtakusuma dengan sangat marah, "BERCUMBULAH DI ATAP LUMBUNG! JANGAN DI ATAS BILIKKU! AKU INI SUDAH TUA! AKU BUTUH TIDUR!"
Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak tidak bersuara.
Lalu bahunya berguncang.
"Dia," kata burung itu dengan suara tercekik, "dia mengira kalian berdua sepasang kucing yang sedang..."
Diam.
"...kucing jantan dan kucing betina yang sedang kasmaran di bawah bulan..."
Ki Jalak. Ada orang yang mau membunuhku sepuluh langkah di belakang.
"Aku tahu. Aku tahu. Maaf." Bahu burung itu masih berguncang. "Tapi lihat dia."
Dira menoleh.
Pemuda bercincin itu berhenti. Di atas atap bilik tetua yang pertama, satu atap di belakang. Ia berdiri diam dan menatap ke bawah, ke arah jendela yang terbuka dan kepala botak yang menyembul dari sana. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya yang biasa dan pucat menunjukkan sesuatu. Ragu.
Ia tidak boleh terlihat. Kala Ireng tidak boleh terlihat. Itu sebabnya mereka pergi dari candi ketika kentongan berbunyi.
Dan seorang tetua, meski hampir buta dan separuh tuli, tetap seorang tetua.
Dira tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melompat.
Atap bilik tetua yang ketiga. Yang keempat. Lalu ujung jajaran bilik, tempat atap ijuk berakhir dan di bawahnya terbentang kegelapan. Halaman samping. Dan di tengah halaman samping, berkilau samar di bawah bulan, kolam teratai.
Kolam yang ikannya sudah mati semua sejak malam purnama. Kolam yang kini hanya berisi air hijau keruh, lumpur, dan daun-daun teratai lebar yang mulai membusuk di pinggirnya.
Dira berhenti di tepi atap terakhir. Napasnya tersengal. Kaki kanannya gemetar. Telapak tangannya panas dan perih, seperti habis menggenggam bara, karena Sapu Angin sudah menyembur dari sana puluhan kali.
"Bocah." Suara Ki Jalak tiba-tiba tajam. "Di depanmu."
Dira mendongak.
Pemuda bercincin itu berdiri di sana. Di depannya. Di atas bubungan atap yang sama, lima langkah jauhnya, di antara Dira dan kolam teratai.
Dira tidak melihatnya lewat. Tidak mendengarnya. Tidak merasakan angin dari gerakannya. Satu saat ia di belakang, dan saat berikutnya ia di depan, seperti malam itu sendiri sudah memindahkannya.
"Cukup," kata pemuda itu.
Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua.
Dira mengangkat tangannya untuk menangkis, seperti sayap yang terbuka. Tangan kiri di depan dada, tangan kanan di samping kepala.
Pemuda itu bahkan tidak menangkis. Ia hanya mengulurkan tangannya melewati sela-sela lengan Dira, seperti lengan-lengan itu tidak ada, seperti tangkisan itu hanya kibasan asap. Jari-jarinya yang panjang dan pucat menyentuh leher Dira.
Dingin.
Dingin seperti batu di dasar sungai. Dingin seperti tangan orang yang sudah lama mati.
Jari-jari itu mengait kain biru tua dan menariknya.
Simpul tiga lilitan itu tidak terbuka.
Tetapi kain itu menegang, dan leher Dira tertarik ke depan. Napasnya tercekik. Kakinya terangkat dari ijuk. Pemuda bercincin itu mengangkatnya dengan satu tangan, hanya dengan kain di lehernya, seperti orang mengangkat ayam dari kandang.
Di bawah kain itu, tanda di leher Dira berdenyut. Keras. Liar. Seperti binatang yang mencakar-cakar dinding sangkarnya.
Mata pemuda itu turun ke leher Dira. Ke tepi kain yang tersingkap. Ke sesuatu di bawahnya yang mulai berpendar biru.
Matanya melebar.
"SEKARANG!" teriak Ki Jalak.
Dira tidak berpikir. Ia menghantamkan kedua telapak tangannya ke dada pemuda itu. Bukan pukulan. Ia tidak punya tenaga untuk memukul. Yang ia lakukan adalah membuka kedua telapak tangannya, membuka seluruh Balai Sukma, dan membiarkan Sapu Angin keluar.
Bukan hembusan pendek. Bukan semburan untuk melompat.
Seluruhnya.
Burung sriti kecil itu menjerit di dalam Balai Sukma, jeritan tinggi dan girang, dan melesat keluar dari dada Dira, menyusuri lengannya, keluar dari kedua telapak tangannya, seperti badai yang selama ini dikurung dalam kendi.
WHUSSS.
Angin itu menghantam dada pemuda bercincin. Rambutnya yang diikat terlepas dan berkibar ke belakang. Baju hitamnya mengembang seperti layar. Kakinya tergeser di atas ijuk, satu langkah, dua langkah, bubungan atap itu berderak untuk pertama kalinya di bawah kakinya.
Tetapi tangannya tidak melepas kain itu.
Yang terlempar adalah Dira.
Angin yang menyembur dari telapak tangannya mendorong tubuhnya sendiri ke belakang, sekuat angin itu mendorong pemuda di depannya. Tubuhnya terlontar dari bubungan. Lehernya tertarik sesaat, kain itu menegang dan mencekiknya. Lalu kain itu bergeser naik, melewati dagunya, melewati mulutnya, hidungnya, matanya, ubun-ubunnya.
Dan lepas.
Utuh. Dengan simpul tiga lilitan yang masih terikat rapi. Seperti kalung yang ditarik lepas lewat kepala.
Dira jatuh.
Ia melihat atap itu menjauh. Ia melihat bulan yang kempis. Ia melihat, di tepi atap, pemuda bercincin itu berdiri dengan rambut terurai dan kain biru tua menggantung dari jari-jarinya seperti ular yang mati.
Lalu air.
BYUR.
Kolam teratai itu tidak dalam. Sedalam pinggang orang dewasa. Tetapi dasarnya lumpur, lumpur hitam yang tebal dan lembek dan berbau busuk, dan Dira terbenam ke dalamnya sampai ke dada sebelum ia sempat menyadari ia sudah jatuh.
Air hijau masuk ke hidungnya. Ke mulutnya. Rasanya seperti daun busuk dan tanah dan sesuatu yang lebih buruk lagi, sisa-sisa ikan mati yang belum sempat dibersihkan.
Ia muncul ke permukaan, terbatuk-batuk tanpa suara, menekan mulutnya dengan telapak tangan. Daun-daun teratai yang lebar dan setengah busuk menempel di kepalanya, di bahunya.
"Jangan bergerak," bisik Ki Jalak. "Jangan bersuara. Dan bocah..."
Apa?
"Lihat ke bawah."
Dira melihat ke bawah.
Di sekeliling lehernya, di dalam air hijau yang keruh, ada cahaya.
Biru. Pucat. Berdenyut pelan. Seperti kunang-kunang yang tenggelam. Garis tipis bercahaya yang bercabang dari tulang selangka kirinya ke arah belakang telinga, seperti akar, dan cabangnya yang baru, yang kelabu kebiruan, menjalar ke tengkuk. Tanpa kain biru tua yang meredamnya, tanda itu menyala lebih terang dari yang pernah ia lihat. Cahayanya menembus air keruh dan menerangi akar-akar teratai di sekitarnya.
Dari atas, dari tepi atap, cahaya itu akan terlihat seperti lentera yang dicelupkan ke dalam kolam.
"LUMPUR," desis Ki Jalak. "Lumpur, bocah! Sekarang!"
Dira membenamkan kedua tangannya ke dasar kolam, meraup lumpur hitam yang lembek dan dingin dan busuk, lalu melumurkannya ke leher. Tebal-tebal. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sampai lehernya terbungkus lumpur seperti batang pisang dibungkus tanah liat.
Cahaya itu meredup. Lalu hilang.
Dira merunduk sampai hanya hidungnya yang menyembul di antara daun-daun teratai busuk. Lalu ia menunggu.
Di tepi atap bilik tetua, pemuda bercincin itu berdiri diam.
Ia menatap kolam. Kepalanya sedikit miring. Hidungnya bergerak, mengendus. Mengendus seperti anjing pemburu yang kehilangan jejak di tepi sungai.
Dira tahu apa yang ia endus. Bau getah. Bau madu bercampur besi. Bau yang tadi menempel di kain biru tua.
Tetapi kain itu kini di tangan pemuda itu sendiri. Dan kolam teratai berbau lumpur dan daun busuk dan ikan mati, bau yang begitu tebal dan pekat sampai bau apa pun yang lain tenggelam di dalamnya.
Pemuda itu mengangkat kain biru tua ke wajahnya dan mengendusnya. Lalu ia menatap kolam lagi.
Satu langkah ke tepi atap.
Lalu cahaya obor.
Dari arah halaman utama, dari balik sudut asrama tetua, barisan obor muncul. Enam. Tujuh. Delapan. Murid-murid dalam dengan golok terhunus, berlari ke arah timur, ke arah kebun obat. Dan di depan mereka, berjalan lebih tenang dari yang lain, dengan beskap putih gading yang rapi meski semua orang lain hanya memakai kain tidur, Raden Bayuwisesa.
Dira menoleh ke atap.
Tepi atap itu kosong.
Pemuda bercincin itu sudah tidak ada. Tidak ada bunyi. Tidak ada bayangan yang melompat. Seperti asap dupa yang buyar.
Dan kain biru tua pergi bersamanya.
Barisan obor itu lewat di samping kolam teratai. Cahaya oranye menari-nari di atas permukaan air yang hijau.
Raden Bayuwisesa berhenti.
Dira menahan napas. Dari balik daun teratai busuk, dari celah-celah di antara batang-batangnya, ia bisa melihat wajah Raden Bayuwisesa. Tenang. Tajam. Matanya yang selalu menghitung menatap permukaan kolam. Riak-riak kecil yang masih bergerak dari tengah ke tepi, pelan, seperti ada sesuatu yang besar yang baru saja jatuh ke dalamnya.
Matanya bergerak. Dari riak ke daun teratai. Dari daun teratai ke daun teratai yang lain. Ke tempat Dira bersembunyi.
Berhenti di sana.
Tikus besar, pikir Dira. Dia tahu aku tikus besar. Dia melihatku menukar piring. Dia tidak melapor.
Tapi itu dulu.
"Raden?" tanya salah satu murid dalam di belakangnya, obor terangkat. "Ada apa?"
Raden Bayuwisesa tidak menjawab. Ia menatap daun teratai itu untuk waktu yang terasa sangat lama. Lalu:
"Kodok," katanya. "Kodok besar." Ia berbalik dan berjalan lagi. "Ke candi. Cepat. Malingnya tidak akan menunggu kita."
Barisan obor itu bergerak. Menjauh. Cahaya oranye meninggalkan kolam, dan kegelapan kembali.
Dira tetap di dalam air sampai suara-suara itu benar-benar hilang. Sampai jangkrik mulai berbunyi lagi. Baru kemudian ia merangkak keluar dari kolam, tubuhnya berlumur lumpur hitam dari kepala sampai kaki, berbau seperti kubangan kerbau yang ditinggalkan seratus warsa.
"Dia melihatmu," kata Ki Jalak pelan.
Aku tahu.
"Dan dia menyebutmu kodok."
Aku tahu.
"Kodok besar." Burung itu terdiam sebentar. "Retakan di lapangan. Anak tangga ketiga. Sekarang kolam ini. Itu ketiga kalinya dia memilih tidak melihat. Orang yang memilih tidak melihat sampai tiga kali sedang mengumpulkan sesuatu. Ingat itu."
Perjalanan pulang ke gubuk orang sakit adalah perjalanan terpanjang yang pernah ditempuh Dira.
Bukan karena jauh. Gubuk itu hanya di balik dapur abdi, tiga ratus langkah dari kolam teratai. Tetapi tongkatnya tertinggal di candi tua. Sapu Angin sudah kehabisan napas, burung sriti kecil itu tergeletak di atas potongan dahan dengan sayap terbentang, terengah-engah dan sangat bangga pada dirinya sendiri. Dan kaki kiri Dira, yang tidak pernah kuat sejak racun ular itu, kini sama sekali tak mau menahan beban.
Jadi ia merangkak. Menyusuri bayangan dinding. Di balik semak-semak. Di bawah serambi. Setiap kali obor lewat, ia menempel ke tanah dan diam seperti batu.
Ketika akhirnya ia sampai di gubuk orang sakit, bulan sudah hampir menyentuh puncak pohon sawo.
Pintu gubuk itu terbuka.
Di ambang pintu, berdiri dengan golok di tangan dan wajah tegang, Gandawasa. Ia pasti terbangun oleh kentongan. Pasti mendapati tikar Dira kosong. Pasti sudah berdiri di sana entah sejak kapan.
Ia melihat sosok berlumpur yang merangkak dari kegelapan, dan goloknya terangkat.
"Siapa?"
"Aku," bisik Dira. "Kakang Ganda. Ini aku."
Golok itu turun. Gandawasa melangkah keluar, berjongkok, dan menarik lengan Dira ke atas bahunya. Ia mengangkat Dira dan membawanya masuk seperti karung beras. Ia tidak bertanya. Tidak sepatah kata pun. Ia menurunkan Dira ke atas tikar, mengambil kendi air, dan mulai membasuh lumpur dari wajah Dira dengan sobekan kain.
Dari wajah. Ke rambut. Ke bahu.
Ke leher.
Tangan Gandawasa berhenti.
Lumpur di leher Dira sudah mengering dan retak-retak selama perjalanan merangkak. Dan dari retakan-retakan itu, di dalam gelapnya gubuk tanpa pelita, merembes cahaya. Biru. Pucat. Berdenyut pelan, seperti napas.
Gandawasa menatapnya.
Lama.
Kain basah di tangannya meneteskan air ke tikar. Setetes. Dua tetes.
"Dira," katanya. Suaranya sangat pelan. Sangat datar. Suara orang yang berusaha keras untuk tidak merasakan apa pun. "Apa itu di lehermu?"