Bab 85Ranting Patah
Dira menarik matanya dari celah.
Pelan. Sangat pelan. Seperti menarik tangan dari sarang tawon. Pipinya meninggalkan batu andesit yang dingin dan berlumut. Jari-jarinya melepaskan tepi celah yang tadi ia cengkeram sampai retak halus. Ia mundur. Sejengkal. Dua jengkal. Merangkak mundur di atas tanah lembap dan akar-akar beringin, dengan dua tangan dan satu lutut, kaki kirinya terseret di belakang seperti karung basah.
Di dalam candi, ia mendengar langkah kaki.
Berat. Lambat. Tanpa gema. Seperti langkah sesuatu yang tidak sepenuhnya menyentuh lantai.
"Dia mendekat," bisik Ki Jalak. "Ke dinding. Ke celah."
Aku tahu.
"Kain itu. Bocah, buka kain itu. Buang. Bau getahnya..."
Kalau aku membukanya, tandanya terbuka. Dan dia sedang mengendus.
Ki Jalak diam.
Langkah kaki di dalam candi berhenti. Tepat di balik dinding tempat celah itu berada. Dira bisa merasakannya. Bukan mendengarnya. Merasakannya. Seperti merasakan dingin yang merembes dari balik dinding batu, dingin yang tidak berasal dari batu andesit atau udara malam. Dingin seperti napas yang berembus dari gua kosong.
Lalu bunyi itu lagi. Napas panjang yang dihirup. Mengendus.
Dira berhenti merangkak. Ia menempelkan dadanya ke tanah di antara dua akar beringin yang besar, wajahnya di atas lumut, dan menurunkan napasnya ke bawah pusar. Diam. Seperti batu di dasar kolam. Seperti kelinci yang membeku di rumput ketika bayangan elang melintas.
"Beringin."
Suara itu. Jernih seperti genta kecil. Pelan.
Bayangan.
"Akar beringin di dinding itu," lanjut suara perempuan itu. "Sudah ratusan warsa menyusup ke celah-celah batu. Getahnya merembes ke dalam candi. Beringin juga bergetah. Manis. Lengket."
Hening.
"Bukan beringin," kata suara yang lebih dalam, yang seperti batu digerus di atas batu. "Aku tahu bau getah beringin. Ini bukan."
"Beringin tua," kata Bayangan. "Yang sangat tua. Yang sudah tumbuh sejak sebelum candi ini dibangun. Getahnya bisa berbau seperti apa saja."
Hening lagi. Lebih panjang.
Dira tidak bernapas. Di balik dinding, ia merasakan dingin itu. Diam. Menimbang.
"Dia melindungimu," bisik Ki Jalak, takjub. "Lagi. Bocah, perempuan berjubah hitam itu..."
Aku tahu.
"Kenapa?"
Aku tidak tahu.
Lalu suara Ki Wiradhana, lembut dan hangat seperti gula aren yang dilelehkan:
"Pengendus. Periksa luar."
Dira bergerak.
Ia tidak menunggu. Ia tidak berpikir. Kakinya, kaki kanannya yang masih kuat, mendorong tanah, dan tubuhnya merayap maju di antara akar-akar beringin, menjauh dari dinding candi, menuju balok-balok batu yang berserakan di dataran, menuju tempat Satyaki dan kambing bermata jahat bersembunyi lima puluh langkah jauhnya.
Dua tangan. Satu lutut. Tarik. Dorong. Lumut. Tanah. Akar.
Di belakangnya, ia mendengar bunyi pintu candi. Bukan pintu kayu. Candi itu tidak punya pintu kayu. Bunyi langkah kaki di atas tangga batu. Ringan. Nyaris tanpa suara. Langkah kaki orang yang sudah bertahun-tahun berjalan diam-diam di malam hari.
Pemuda bercincin keluar dari candi.
Dira tidak menoleh. Ia terus merangkak. Sepuluh langkah dari dinding candi. Lima belas. Dua puluh. Balok batu terdekat ada di depannya, miring, berlumut, cukup besar untuk bersembunyi di baliknya.
Telapak tangan kanannya mendarat di atas sesuatu yang kering.
Ranting.
Bukan ranting basah yang lentur seperti ranting-ranting lain di dataran itu, yang lembap oleh embun dan lumut. Ranting kering. Sebatang ranting beringin mati sebesar jari, yang entah bagaimana jatuh di atas batu datar dan tidak tersentuh embun.
Telapak tangan Dira menekannya dengan seluruh berat tubuh Raga Puncak.
KRAK.
Bunyinya seperti cambuk.
Tajam. Keras. Menggema di dataran candi yang sunyi seperti petir kecil yang menyambar di tengah malam. Burung-burung yang tidur di dahan-dahan beringin terbangun dan terbang berhamburan dengan suara kepak sayap yang riuh.
Dira membeku.
Di belakangnya, langkah kaki ringan di atas tangga batu berhenti.
Sesaat. Hanya sesaat. Seperti tarikan napas sebelum seseorang berteriak.
Lalu langkah kaki itu bergerak lagi. Tidak lagi ringan. Tidak lagi pelan. Cepat. Sangat cepat. Menuruni tangga batu dan melintasi dataran ke arah bunyi ranting patah.
"LARI!" teriak Ki Jalak.
Dira tidak bisa lari. Ia tahu itu. Kakinya tidak bisa menahan tubuhnya tanpa tongkat. Tongkatnya ada di samping Satyaki, empat puluh langkah lagi.
Ia membuka kepalan tangan kirinya. Tiga kerikil. Dingin. Berat.
Ia melemparkannya. Ke arah balok batu tempat Satyaki bersembunyi. Satu. Dua. Tiga. Ketiganya terbang di udara malam dalam satu lemparan, lalu jatuh di atas batu dengan bunyi tik-tik-tik yang kecil dan jelas.
Tiga: lari.
Satyaki tidak lari.
Dari balik balok batu lima puluh langkah jauhnya, sesuatu menyala.
Kuning keemasan. Terang. Seperti obor yang tiba-tiba dinyalakan di tengah malam. Seperti matahari kecil yang terbit di antara reruntuhan.
Kyai Pring Kuning.
Satyaki berdiri di atas balok batu itu, kakinya terbuka dalam kuda-kuda dasar Argasuryan yang rapi, bahu kirinya terbebat, dan di tangan kanannya, tongkat bambu kuning sebesar jempol yang ditertawakan seluruh altar menyala seperti obor. Ujungnya yang diikat kain merah kusam memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan terang, menerangi dataran candi, menerangi balok-balok batu yang berserakan, menerangi akar-akar beringin yang menjalar.
Dan Satyaki berteriak.
"MALING! MALING DI CANDI TUA! TOLONG! ADA MALING! MALING PUSAKA!"
Suaranya serak dan pecah, suara yang dipaksa keluar dari dada yang napasnya selalu tersendat. Tetapi keras. Sangat keras. Menggema di dataran candi, turun ke lereng, ke kebun obat, ke asrama tetua, ke seluruh padepokan yang tertidur.
"MALING! BANGUN! SEMUANYA BANGUN! ADA MALING DI CANDI TUA!"
Lalu ia mengayun-ayunkan Kyai Pring Kuning di atas kepalanya seperti obor, cahaya keemasan berputar-putar di udara malam, dan ia melompat turun dari balok batu itu dan berlari.
Bukan ke arah Dira. Ke arah yang berlawanan. Ke utara. Ke arah lereng yang lebih jauh dari padepokan, berteriak-teriak sepanjang jalan, cahaya keemasan di tangannya bergoyang-goyang di antara pepohonan seperti kunang-kunang raksasa yang mabuk.
Langkah kaki di belakang Dira berhenti lagi.
Dira menoleh. Untuk pertama kalinya ia menoleh.
Pemuda bercincin berdiri di tengah dataran candi, sepuluh langkah darinya. Tubuh tinggi kurus. Rambut panjang diikat ke belakang. Wajah biasa yang pucat. Tangan kiri yang dibalut kain hitam. Ia tidak menatap Dira. Ia menatap ke utara, ke arah cahaya keemasan yang berlari menjauh di antara pepohonan, ke arah suara serak yang terus berteriak MALING.
Di dalam candi, terdengar suara. Dalam. Seperti batu digerus di atas batu.
"Padepokan akan bangun."
"Kalau penjaga datang ke sini dan melihat kalian..." Suara Ki Wiradhana. Cepat. Tidak lagi lembut.
"Kami pergi." Sosok yang lebih tinggi. "Sekarang. Pengendus..."
Pemuda bercincin menoleh ke arah candi.
"...kejar yang punya bau getah itu. Bukan yang berteriak. Yang punya bau getah. Bawakan aku kainnya."
Pemuda bercincin menoleh kembali. Kali ini menatap Dira. Lurus. Dengan mata yang biasa, pucat, tak berkedip, seperti mata ular yang menatap telur.
Dan di bawah kain biru tua di leher Dira, tanda itu berdenyut. Sekali. Keras. Seperti jantung kedua yang tersentak bangun.
Lalu sesuatu menghantam pemuda bercincin dari samping.
Hitam belang putih. Bertanduk melengkung. Bermata kuning berpupil melintang.
Kambing bermata jahat.
Ia muncul dari balik balok batu yang lain, entah sejak kapan ia meninggalkan tempat persembunyiannya di samping Satyaki, dan ia menyeruduk dengan seluruh tubuhnya. Tanduknya yang melengkung menghantam pinggang pemuda bercincin dengan bunyi duk yang keras. Pemuda itu terhuyung ke samping. Tidak jatuh. Tidak terlempar. Tubuhnya terlalu ringan dan terlalu lincah untuk itu. Tetapi terhuyung. Sekejap.
Kambing itu tidak berhenti. Ia mundur dua langkah, menundukkan kepalanya, dan menyeruduk lagi.
Kali ini pemuda bercincin menghindar. Dengan mudah. Satu langkah ke samping, tanpa suara, seperti bayangan yang bergeser. Kambing itu melesat melewatinya dan menghantam balok batu dengan bunyi yang membuat Dira meringis.
Lalu kambing itu berbalik, menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menyeruduk untuk ketiga kalinya.
Mbah Sarju memerah susu ibunya setiap pagi untuk bayi yang dibawa dari hutan. Mbah Sarju mengelus kepalanya setiap pagi dan bercerita tentang hal-hal yang terjadi empat puluh warsa lalu. Mbah Sarju tidur di antara kambing-kambingnya karena kambing lebih hangat dari selimut.
Dan pemuda ini membawa Mbah Sarju pergi dari tikarnya.
"Kambing itu," bisik Ki Jalak dengan suara yang tidak bisa memutuskan antara tertawa dan menangis, "kambing itu sedang membalas dendam."
Dira tidak menunggu melihat bagaimana akhirnya.
Ia bangkit. Ia tidak tahu bagaimana. Kakinya yang kiri tidak mau menahan. Lututnya tertekuk. Ia jatuh. Ia bangkit lagi.
Di dalam dadanya, di Balai Sukma, sesuatu yang kelabu kebiruan melesat dari potongan dahan yang retak.
Cicit!
Bukan cicit takut. Cicit yang keras. Bersemangat. Seperti anak burung yang akhirnya melihat langit terbuka di atas sarangnya.
Angin menyembur dari telapak tangan kanan Dira.
Ke bawah. Ke belakang. Seperti di gua Wijayakusuma, ketika ia melayang tanpa pijakan di atas air hitam yang penuh ular. Tidak cukup untuk terbang, apalagi melayang. Tetapi cukup untuk mendorongnya. Cukup untuk membuat kakinya yang lemah tidak perlu menahan seluruh berat tubuhnya.
Ia berlari.
Bukan berlari. Melompat. Hinggap. Telapak depan kaki kanan saja. Lompat. Angin dari telapak tangan kanan mendorongnya ke depan. Kaki kiri hanya menyentuh tanah sekejap, tidak menahan, tidak menapak. Hinggap. Lompat. Seperti burung yang sayapnya terluka tetapi masih bisa melompat dari dahan ke dahan.
Ki Jalak bersiul.
Siulan jalak kebo. Cepat. Berirama. Satu, dua, lompat. Satu, dua, lompat.
Ia melintasi dataran candi. Melompati balok-balok batu yang berserakan. Melompati akar-akar beringin. Ke tepi dataran. Ke lereng.
Di belakangnya, kambing bermata jahat mengembik panjang. Embik marah. Lalu bunyi tubuh yang menghantam tanah. Lalu sunyi.
Lalu langkah kaki. Ringan. Cepat. Sangat cepat. Mengejar.
Lereng di belakang kebun obat curam dan gelap. Waktu naik tadi, Dira dan Satyaki merangkak dengan susah payah, ranting-ranting mencakar wajah mereka, duri-duri menembus kain jarik.
Turun lebih cepat.
Dira tidak merangkak. Ia meluncur. Ia melompat. Ia jatuh, berguling, bangkit, melompat lagi. Jalak Menukik: lompatan turun yang sangat jauh. Angin Sapu Angin menyembur dari telapak tangannya setiap kali ia hampir jatuh terlalu keras, memperlambat jatuhnya sedikit, cukup untuk tidak mematahkan tulang. Tulang Raga Puncak yang ditempa napas gunung. Tulang yang tidak bisa retak dengan mudah.
Semak berduri mencakar wajahnya. Ranting-ranting mencambuk lengannya. Ia tidak merasakannya.
Di belakangnya, langkah kaki ringan itu tidak pernah terlalu jauh. Selalu sepuluh langkah. Lima belas. Sepuluh lagi. Tanpa suara napas. Tanpa bunyi ranting yang terinjak. Seperti bayangan yang mengikuti.
Dari kejauhan, dari padepokan di bawah sana, Dira mendengar bunyi. Kentongan. Dipukul cepat dan keras, berirama, tung-tung-tung-tung-tung. Kentongan tanda bahaya. Lalu suara-suara. Teriakan. Obor-obor yang mulai menyala di halaman, di asrama murid luar, di asrama murid dalam.
Padepokan bangun.
MALING DI CANDI TUA!
Satyaki.
Kebun obat muncul di depannya. Pagar bambu. Pohon jambu air dengan dahan-dahan bengkok. Bangku batu.
Dira melompati pagar bambu itu. Kaki kanannya mendarat di atas bangku batu. Ia tidak berhenti. Ia melompat lagi, ke atas dahan terendah pohon jambu air, pohon yang sama tempat seorang bocah berumur tujuh warsa dulu jatuh dan mematahkan lengannya. Dahan itu melengkung di bawah kakinya, berderak, tetapi menahan. Ia melompat lagi. Ke dahan yang lebih tinggi. Lalu, dengan angin yang menyembur dari telapak tangannya dan siulan Ki Jalak yang berirama di dalam dadanya, ia melompat dari dahan tertinggi pohon jambu air.
Ke atap.
Atap asrama tetua. Atap ijuk yang tinggi dan curam, yang menjulang di samping kebun obat seperti punggung kerbau raksasa.
Kakinya mendarat di atas bubungan. Ijuk berderak di bawah telapaknya. Ia tergelincir, terhuyung, mencengkeram ijuk dengan kedua tangan, dan menahan dirinya di sana.
Lalu ia berbalik.
Di bawah sana, di kebun obat, di bawah pohon jambu air, berdiri pemuda bercincin. Ia mendongak. Menatap Dira di atas atap. Wajahnya biasa. Pucat. Tak berkedip.
Lalu ia melompat.
Tidak ke dahan pohon jambu air. Tidak ke bangku batu. Langsung. Dari tanah ke atap. Satu lompatan. Tanpa ancang-ancang. Tanpa suara.
Ia mendarat di bubungan atap asrama tetua, sepuluh langkah dari Dira. Ringan. Seperti daun kering yang jatuh di atas air. Ijuk di bawah kakinya bahkan tidak berderak.
Ia berdiri di sana, di bawah bulan yang kempis, dengan angin malam yang menyibakkan rambut panjangnya yang diikat ke belakang. Ia mengangkat tangan kanannya, jari-jari panjang dan pucat terulur ke arah Dira. Ke leher Dira. Ke kain biru tua yang berbau getah.
"Kainnya," katanya. Suaranya datar. Muda. Biasa. "Berikan."