Sang Penelan Pusaka

Bab 84Percakapan dalam Gelap

Candi itu menjadi gelap.

Tujuh dupa hitam di sepanjang lingkaran abu sudah padam semua. Bara-bara merahnya sudah menjadi abu kelabu. Asap terakhir sudah buyar. Yang tersisa hanyalah kegelapan yang pekat di dalam ruang bundar berdinding relief itu, dan di dalam kegelapan itu, dua pasang mata merah yang berpendar.

Satu pasang terang, seperti bara yang ditiup.

Satu pasang redup, seperti bara yang hampir padam, menatap ke lantai.

Dira tidak bergerak dari celah di dinding. Ia tidak berani. Ia menempelkan pipinya ke batu andesit yang dingin dan berlumut, menahan napas di bawah pusar, dan mendengarkan. Ia tidak bisa melihat apa-apa lagi selain dua pasang mata merah itu. Tetapi ia bisa mendengar. Telinga Raga Puncak. Telinga yang bisa mendengar napas orang dari dua puluh langkah.

Bunyi batu titik yang digesekkan. Percikan api kecil. Lalu cahaya. Kuning. Lemah. Sebuah pelita kecil dari tanah liat, dinyalakan oleh pemuda bercincin di lantai di samping lubang persegi. Cahayanya hanya cukup untuk menerangi lingkaran kecil di sekelilingnya. Wajah Mbah Sarju yang terbaring diam dengan mata tertutup. Tepi lingkaran abu hitam. Ujung jubah hitam yang menelan cahaya.

"Sang Kantha," kata sosok yang lebih tinggi.

Ia mengucapkannya pelan. Seperti orang yang menyebut nama sesuatu yang sangat ia inginkan dan sangat lama ia cari.

"Sang Kantha," ulang Ki Wiradhana. Suaranya lembut dan hangat seperti biasa. "Anak yang disembunyikan di Lawu."


Di dalam dada Dira, Ki Jalak tidak bergerak.

Sang Kantha.

Dira tidak tahu kata itu. Ia tidak pernah mendengarnya. Tidak dari Nyai, tidak dari Mbok Darsih yang tahu semua cerita, tidak dari lontar-lontar di gudang rongsokan. Tetapi ketika sosok berjubah hitam itu mengucapkannya, sesuatu di bawah kain biru tua di lehernya berdenyut. Sekali. Pelan. Bukan dingin. Bukan panas.

Seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari seberang sungai, dan menoleh sebelum tahu siapa yang memanggil.

"Bocah," bisik Ki Jalak, sangat pelan. "Kata itu..."

Kau tahu kata itu?

"Tidak." Jeda. "Ya. Tidak. Aku tidak tahu. Tapi tandamu tahu."


"Delapan belas warsa," kata sosok yang lebih tinggi. Ia berjalan pelan di sepanjang tepi lingkaran abu, jubah hitamnya menyapu lantai batu tanpa suara. "Delapan belas warsa Hyang mencarinya. Sejak malam itu. Sejak malam hujan di tepi hutan. Kami mengikuti jejaknya sampai ke kaki Lawu, lalu jejak itu..." Ia berhenti. "Hilang. Seperti dihapus tangan."

"Juru masak tua itu," kata Ki Wiradhana.

Hening.

"Kau yakin?"

"Tidak." Ki Wiradhana tertawa kecil. Bukan tawa geli. Tawa yang tidak nyaman. Tawa yang belum pernah Dira dengar dari mulut tetua berjanggut itu. "Tidak, aku tidak yakin. Dia pikun. Botak. Tidur di atas karung beras. Tidak bisa membedakan si kembar. Lupa sudah menggarami sayur atau belum. Aku sudah mengawasinya bertahun-tahun, dan tak sekali pun aku melihatnya melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan juru masak tua yang pikun."

"Tapi?"

Ki Wiradhana diam lama.

"Tapi tadi pagi," katanya akhirnya, pelan, "di gubuk orang sakit, ketika aku menatapnya, dan dia menatapku balik, dan kakinya berlumpur dan debu tebing hitam berkilau di sela-sela kukunya..." Ia berhenti. "Aku merasa seperti menatap gunung. Bukan orang. Gunung. Dan aku yang memalingkan muka lebih dulu."

Sosok yang lebih tinggi berhenti berjalan.

"Lumpur. Dan debu tebing hitam."

"Selama tiga hari anak itu di Hutan Larangan, juru masak itu hilang. Katanya membeli garam. Dia pulang pagi hari ketiga, ketika anak itu sudah kembali dengan bunga dan racun ular di kakinya." Ki Wiradhana menghela napas. "Dan racun ular kepala kiri, yang menurut lontar tidak ada obatnya, tidak membunuh anak itu."

Sosok yang lebih tinggi tidak bergerak. Di kegelapan tudungnya, mata merahnya menyipit.

"Kalau dia orang yang kami pikirkan," katanya pelan, "dia seharusnya sudah mati. Lama sekali. Lebih lama dari umur padepokanmu."

"Dan kalau dia bukan?"

"Kalau dia bukan, dia tidak akan bisa menghapus jejak dari mata Hyang." Sosok yang lebih tinggi kembali berjalan. "Jangan sentuh dia, Wiradhana. Jangan uji dia. Jangan tatap dia terlalu lama. Kalau dia orang yang kami pikirkan, satu-satunya alasan kau masih hidup adalah karena dia belum memutuskan kau layak dibunuh."

Hening yang panjang.

Di balik celah di dinding candi, Dira mendengar napas Ki Wiradhana. Untuk pertama kalinya, napas itu tidak pelan. Tidak teratur. Tersendat. Sekali. Dua kali.


"Dan ular berkepala dua," kata sosok yang lebih tinggi tiba-tiba. Suaranya berubah. Lebih keras. Lebih dingin. "Kau mengirimnya ke gua itu. Kau tahu ular itu ada di sana. Kau tahu racun kepala kirinya."

"Aku tahu."

"Hyang menginginkannya hidup, Wiradhana. Utuh. Wadah yang rusak tidak bisa menampung apa pun. Wadah yang mati tidak berguna sama sekali." Sosok yang lebih tinggi berhenti tepat di depan Ki Wiradhana. Ia lebih tinggi sekepala, lebih lebar setengah tubuh. Jubah hitamnya menelan cahaya pelita di belakangnya, sehingga Ki Wiradhana tampak berdiri di dalam bayangan. "Kau ingin membunuhnya?"

"Aku ingin mengujinya."

Sosok yang lebih tinggi tidak bergerak.

"Kau sendiri yang bilang," lanjut Ki Wiradhana tenang, "orang tua ini hanya memberi kita kepastian, bukan Wadah. Kepastian bahwa bayi yang dibawa Rukminiwati delapan belas warsa lalu adalah bayi yang dicari Hyang. Tapi bayi itu sudah menjadi pemuda. Bagaimana kita tahu Wadah di dalamnya masih utuh? Bagaimana kita tahu dia tidak rusak? Tidak lemah? Tidak mati di dalam?" Ia tersenyum. "Wadah sejati tidak mati oleh racun ular. Wadah sejati tidak mati di dasar sumur. Wadah sejati tidak mati oleh demam tiga malam. Aku sudah menguji anak itu empat kali. Dan empat kali dia lulus."

"Dan kalau dia gagal?"

"Kalau dia gagal, dia bukan Wadah sejati. Dan Hyang tidak kehilangan apa-apa."

Lama sosok yang lebih tinggi menatapnya. Lalu, dari kegelapan tudungnya, terdengar bunyi batu-batu kecil yang berguling di dalam kendi.

Tawa.

"Kau berbahaya, Wiradhana," katanya.

"Aku setia."

"Itu yang membuatmu berbahaya."

Jangan sampai mati, pikir Dira, di balik celah di dinding. Belum.

Sekarang ia mengerti kata itu.

Bukan belum waktunya mati. Bukan belum saatnya disingkirkan.

Belum diuji.


"Rukminiwati," kata sosok yang lebih tinggi.

"Dia tahu sesuatu," kata Ki Wiradhana. "Tidak semuanya. Tapi lebih dari yang seharusnya. Dia yang membawa bayi itu malam itu. Dia yang memasang kain di lehernya. Dia yang mengajari bayi itu membaca diam-diam di atas pasir. Dia yang berbohong di altar soal luka bakar. Dan dia..." Ki Wiradhana berhenti. "Dia mencium dupa kita. Dua kali. Di bilik penyimpanan, waktu persediaan itu baru datang. Dan di kebun obat, dari tubuhku."

"Singkirkan dia."

"Belum." Ki Wiradhana menggeleng. "Dia tetua. Ki Ageng menghormatinya. Brajanala menghormatinya. Kalau dia hilang, seluruh padepokan akan bertanya. Dan sekarang Brajanala sudah mulai bertanya terlalu banyak." Ia mengangkat tangan kirinya yang terbalut kain hitam. "Biarkan dia untuk nanti. Ketika semuanya sudah siap. Ketika tak ada lagi yang perlu ditanya."

"Dan Suryadharma?"

Nama itu jatuh di dalam candi seperti batu.

Ki Wiradhana tidak segera menjawab. Lalu, pelan:

"Ki Ageng tahu sebagian. Lebih dari Rukminiwati, kurasa. Dia tahu siapa anak itu. Dia tahu sejak hari pertama Rukminiwati membawanya ke padepokan." Ki Wiradhana menghela napas. "Dan dia memilih diam. Dia memilih membiarkan anak itu tenggelam. Menjadi abdi dapur. Tidak dipilih pusaka. Tidak dilihat siapa pun." Ia tersenyum. "Dia takut, kurasa. Takut pada anak itu. Atau takut pada apa yang akan terjadi kalau anak itu ditemukan."

"Dia punya utang," kata sosok yang lebih tinggi. Suaranya rendah dan dingin. "Utang lama kepada Hyang. Dari malam yang sama."

Di dalam dada Dira, Ki Jalak tersentak.

Di altar. Hari upacara pemilihan pusaka. Cahaya fajar yang membelok di sekitar kepala Dira. Ki Ageng yang bertanya siapa yang memberimu nama itu, lalu kepalannya. Ki Ageng di balik dinding bilik di balairung, menampar putranya. Jauhi anak dapur itu. Biarkan mereka tenggelam. Ki Ageng yang menatap lurus ke celah di dinding, ke mata Dira. Belum waktunya.

Dari malam yang sama.


"Orang tua ini," kata sosok yang lebih tinggi, menunjuk Mbah Sarju yang terbaring diam di tengah lingkaran abu.

"Buang ke hutan barat," kata Ki Wiradhana. "Biarkan dia ditemukan di tepi Hutan Larangan. Pikun. Tersesat. Berjalan dalam tidur. Sesuai cerita yang sudah kusebar." Ia menatap Mbah Sarju dengan mata yang lembut dan penuh iba. "Dia tidak akan ingat apa-apa. Tidak ada lagi yang tersisa untuk diingat."

Pemuda bercincin berlutut dan mengangkat tubuh Mbah Sarju yang kecil dan bungkuk itu. Ia menggendongnya seperti menggendong karung beras yang setengah kosong. Kepala Mbah Sarju terkulai di bahunya. Mulutnya yang hampir ompong terbuka sedikit. Ia masih bernapas. Pelan. Seperti orang yang tidur sangat dalam.

Dira mencengkeram tepi celah di dinding candi.

"Jangan," bisik Ki Jalak. "Bocah. Jangan. Kau tidak bisa berjalan tanpa tongkat. Kau tidak bisa melawan empat orang. Dua di antaranya bukan manusia biasa. Kalau kau keluar sekarang..."

Aku tahu.

Ia tahu. Dan ia tetap mencengkeram tepi celah itu, begitu kuat sampai batu andesit di bawah jari-jarinya mulai retak halus.


"Bawakan aku kain lehernya," kata sosok yang lebih tinggi.

Ki Wiradhana menoleh kepadanya.

"Kain yang melilit leher anak itu sejak bayi," lanjut sosok yang lebih tinggi. "Kain yang pernah menyentuh tanda itu setiap hari selama delapan belas warsa. Kain itu menyimpan bau Wadah. Lebih kuat dari apa pun. Lebih kuat dari dupa. Dengan kain itu, pengendus kita bisa menemukannya di mana pun. Tanpa bunga. Tanpa biji. Tanpa asap." Mata merahnya menyala. "Dan Hyang bisa merasakannya dari jauh. Bisa memastikan sendiri apakah Wadah itu sudah bangun atau belum."

"Kain itu diikat dengan simpul yang tidak bisa dibuka orang lain," kata Ki Wiradhana pelan. "Simpul Rukminiwati. Dan beberapa hari lalu..." Ia berhenti. "Beberapa hari lalu kainnya berganti. Kain biru tua. Simpulnya juga berganti. Simpul tiga lilitan yang saling mengunci."

Hening.

"Simpul itu," kata sosok yang lebih tinggi pelan.

"Simpul yang sama dengan yang diingat orang tua ini. Di lengan Rukminiwati. Malam itu."

Sosok yang lebih tinggi tidak bergerak lama. Lalu, sangat pelan, seperti orang yang berbicara kepada dirinya sendiri:

"Kalau begitu juru masak itu sudah memilih."


Lalu ia berhenti.

Ia mengangkat kepalanya yang tertudung. Pelan. Ke atas. Seperti anjing yang mengangkat moncongnya ke udara.

Ia menghirup napas. Panjang. Dalam. Bunyinya seperti angin yang terhisap ke dalam gua kosong.

"Bau," katanya.

Ki Wiradhana menoleh. Pemuda bercincin, dengan Mbah Sarju di bahunya, berhenti di tengah langkah.

Sosok yang lebih ramping, yang dipanggil Bayangan, tidak bergerak. Tetapi Dira, yang masih menempelkan matanya ke celah di dinding, melihat tangannya yang muncul sedikit dari lengan jubah hitamnya. Terkepal lagi. Gemetar lagi.

"Ada bau di sini," kata sosok yang lebih tinggi. Ia menghirup lagi. Lebih panjang. Kepalanya bergerak pelan, ke kiri, ke kanan, mencari. "Bukan dupa. Bukan orang tua ini. Bukan kalian." Ia menghirup lagi. "Manis. Seperti madu."

Kepalanya berhenti bergerak.

"Madu yang dicampur besi."

Di leher Dira, di bawah simpul tiga lilitan yang saling mengunci, kain biru tua dari Mbah Karta, kain yang benangnya direndam getah Ringin Sungsang, terasa tiba-tiba sangat hangat.

"Kain itu," bisik Ki Jalak, dan suaranya pecah oleh ngeri. "Bocah. Kain itu. Dia mencium kain itu."

Sosok berjubah hitam yang lebih tinggi menoleh. Perlahan. Sangat perlahan.

Ke dinding candi.

Ke dinding batu andesit hitam yang dipahat penuh relief.

Ke tempat akar beringin menyusup di antara dua balok batu dan membuat celah setebal dua jari.

Mata merahnya menyala terang di kegelapan tudung. Menatap. Mencari. Seperti bara yang ditiup.

"Getah," katanya. "Getah pohon itu. Di sini. Sekarang."