Bab 83Kala Ireng
Kala Ireng.
Kata itu jatuh ke dalam Balai Sukma seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur.
Dira merasakannya. Bukan dengan telinga. Dengan seluruh tubuhnya. Seperti gempa kecil yang bermula di dasar perut dan merambat naik, ke dada, ke tenggorokan, ke ujung-ujung jari. Seperti tali busur yang dipetik terlalu keras.
Lalu ia merasakan sesuatu yang lain.
Ki Jalak gemetar.
Bukan gemetar seperti dulu, ketika ia menahan racun ular dengan sayap yang terkembang. Gemetar ini datang dari tempat yang sangat dalam, lebih dalam dari Balai Sukma, lebih dalam dari ingatan. Seperti tanah yang bergetar sebelum gunung meletus.
Dira melihatnya. Di Balai Sukma, di atas potongan dahan yang terbelah, burung jalak kebo yang hitam berbercak putih itu tidak lagi bertengger. Ia berdiri dengan kaki-kaki yang mencengkeram dahan begitu kuat sampai kayunya retak. Bulu-bulunya mengembang, semuanya, sampai tubuhnya tampak dua kali lebih besar. Sayap-sayapnya setengah terbuka, gemetar. Matanya yang kecil dan hitam membelalak, menatap ke atas, ke kegelapan tempat seharusnya ada atap. Menatap sesuatu yang tidak ada di sana.
Dan dari paruhnya, keluar bunyi. Bukan suara. Bukan siulan. Bunyi yang tinggi dan tipis dan putus-putus, seperti burung yang melihat ular menyelinap ke sarangnya.
Ki Jalak.
Tak ada jawaban. Hanya bunyi itu. Dan gemetar itu.
Ki Jalak, ada apa?
"Aku..." Suaranya pecah. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, bocah. Nama itu. Nama itu..."
Di dunia luar, tubuh Dira mulai gemetar juga.
Ia tidak bisa menghentikannya. Gemetar itu merambat dari dalam, dari Balai Sukma, dari Ki Jalak, ke seluruh tubuhnya. Tangannya yang mencengkeram tepi celah di dinding candi bergetar. Lututnya yang menempel di tanah bergetar. Giginya mulai bergemeletuk.
Dan di bawah kain biru tua di lehernya, tanda itu berdenyut. Keras. Cepat. Seirama dengan gemetar Ki Jalak. Seperti jantung kedua yang berdetak terlalu kencang.
Kain biru tua itu meredamnya. Dira bisa merasakannya. Sejuk, seperti air sumur. Tetapi denyut itu terlalu kuat. Terlalu cepat. Seperti bara yang terus ditiup, dan kain itu seperti tangan yang mencoba menutupinya.
"Bocah," bisik Ki Jalak, gemetar. "Bocah, aku tidak bisa berhenti. Aku tidak bisa... aku tidak tahu kenapa... nama itu..."
Di dalam candi, sosok berjubah hitam yang lebih tinggi menoleh.
Tidak ke arah celah. Ke arah lingkaran abu. Ke arah dupa-dupa hitam yang menyala di sepanjang lingkaran itu.
Asap dari salah satu dupa, dupa yang paling dekat dengan dinding tempat Dira bersembunyi, tidak lagi mengalir ke tengah lingkaran. Asapnya bergoyang. Pelan. Ke samping. Ke arah dinding.
Ke arah celah.
Seperti kepala ular yang mengendus udara.
"Ki Jalak," bisik Dira di dalam kepalanya, sekeras yang ia bisa tanpa suara. "Ki Jalak, berhenti. Dupanya. Dupanya mencium kita."
"Aku tidak bisa!"
Lalu Sapu Angin bergerak.
Burung sriti kecil itu mengangkat kepalanya dari bawah sayap. Ia menatap Ki Jalak yang gemetar di potongan dahan yang lain. Lalu, tanpa bercicit, tanpa suara apa pun, ia terbang. Pelan. Bukan melesat seperti biasanya. Pelan, seperti burung yang terbang di dalam rumah yang penuh orang tidur.
Ia hinggap di potongan dahan yang sama dengan Ki Jalak. Di sampingnya. Begitu dekat sampai bulu-bulu kelabu kebiruannya menyentuh bulu-bulu hitam berbercak putih Ki Jalak.
Lalu ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Ki Jalak.
Seperti anak burung yang merapat ke induknya di malam yang dingin. Seperti adik yang memeluk kakaknya yang ketakutan.
Ki Jalak tersentak. Gemetarnya terhenti sejenak. Lalu mulai lagi. Lalu terhenti lagi.
Dan Dira, di dunia luar, dengan gigi bergemeletuk dan tangan gemetar dan tanda di leher yang berdenyut terlalu kencang, memejamkan mata dan bernyanyi.
Tanpa suara. Di dalam kepalanya. Seperti di atas atap dapur pada malam purnama.
Turua, turu, cah bagus...
Kidung itu jatuh ke dalam Balai Sukma. Pelan. Setetes demi setetes. Seperti hujan yang sangat ringan.
...lintang sumebar ing langit peteng...
Bulu-bulu Ki Jalak yang mengembang mulai turun. Sedikit demi sedikit.
...sanadyan donya lali marang kowe...
Sayap-sayapnya yang setengah terbuka mulai terlipat. Pelan.
...aja nganti kowe lali marang jenengmu.
Ki Jalak menutup matanya.
Gemetar itu tidak hilang sama sekali. Tetapi mereda. Seperti gempa yang surut menjadi getaran halus. Seperti badai yang reda menjadi gerimis. Burung jalak itu bertengger di potongan dahan yang retak dengan mata terpejam, dengan Sapu Angin merapat di sisinya, dan napasnya, napas yang bukan napas, pelan-pelan menjadi teratur.
Di dunia luar, tanda di leher Dira berhenti berdenyut kencang. Kembali pelan. Kembali dingin. Kain biru tua menyelimutinya seperti air yang menyelimuti bara.
Dan di dalam candi, asap dari dupa yang paling dekat dengan dinding itu berhenti bergoyang. Pelan-pelan, ia kembali mengalir ke tengah lingkaran. Ke wajah Mbah Sarju.
Sosok berjubah hitam yang lebih tinggi menatapnya sebentar. Lalu kembali menatap Ki Wiradhana.
"Api," bisik Ki Jalak.
Suaranya sangat pelan sekarang. Sangat jauh. Seperti orang yang berbicara dalam tidur.
Apa?
"Waktu mendengar nama itu... aku melihat api. Bukan melihat. Merasakan. Api di dahan-dahan. Dahan-dahan yang sangat tua. Sangat tinggi. Terbakar. Dan daun-daun. Ribuan daun. Terbakar semua. Dan bunyi angin di antara daun-daun itu, yang dulu seperti pasar yang sangat jauh, berubah menjadi..." Ia berhenti. "Menjadi jeritan."
Dira tidak bernapas.
"Dan ada yang tertawa," bisik Ki Jalak. "Di atas api itu. Di tempat yang lebih tinggi dari api. Seseorang tertawa. Dan aku jatuh. Aku jatuh dari dahan. Dalam api. Jatuh dan jatuh dan jatuh."
Ringin Sungsang, pikir Dira. Pohon yang terbakar tujuh hari tujuh malam. Petir yang turun bukan dari awan, tapi dari tempat yang lebih tinggi lagi.
"Aku tidak tahu siapa yang tertawa," kata Ki Jalak. "Aku tidak tahu kenapa nama itu membuatku melihat api. Aku tidak tahu apakah mereka yang membakar pohon itu. Aku tidak tahu apa-apa." Suaranya bergetar. "Aku cuma tahu satu hal, bocah. Waktu aku mendengar nama itu, sesuatu di dalam diriku yang sudah tidur ratusan warsa bangun dan berteriak. Lari. Lari. Lari sejauh-jauhnya."
Tiga kerikil, pikir Dira. Satu: orang. Dua: babi hutan. Tiga: lari.
Di genggamannya, tiga kerikil dari Satyaki terasa dingin dan berat.
Ia tidak melemparnya. Belum.
Di luar, di balik balok batu lima puluh langkah dari tangga candi, ia tahu Satyaki sedang menunggu. Mungkin sedang menggigiti kuku. Mungkin sedang menahan kambing hitam itu supaya tidak mengembik. Dira membayangkan wajah sahabatnya yang datar, yang cemasnya hanya tampak di mata, Kyai Pring Kuning di pangkuan, mata yang tidak lepas dari pintu berukir Kepala Kala.
Kalau ia melempar tiga kerikil sekarang, Satyaki akan membuat keributan. Apa saja. Itu janji mereka. Dan semua mata merah di dalam candi ini akan berpaling kepada murid luar kurus yang membawa tongkat bambu kuning.
Tetapi Mbah Sarju masih terbaring di tengah lingkaran abu. Dan nama itu, nama yang dibawa dari hutan, belum diucapkan.
Sedikit lagi, pikir Dira. Sedikit lagi saja.
"Bocah," gumam Ki Jalak, masih setengah tertidur dalam kidung, "kau selalu bilang begitu. Dan selalu ada yang patah sesudahnya."
Dira tidak menjawab. Ia menggenggam kerikil itu lebih erat.
Di dalam candi, Mbah Sarju masih bergumam.
Suaranya sudah sangat lemah sekarang. Seperti bisikan angin di antara daun kering. Asap dupa hitam masih berputar-putar di atas wajahnya, tetapi asap itu sudah tipis. Dupa-dupa di sepanjang lingkaran abu hampir habis. Bara-bara merah kecil di ujungnya meredup. Dupa yang terakhir, yang ditancapkan pemuda bercincin di samping kepala Mbah Sarju, tinggal sejengkal.
"Nama," kata sosok yang lebih tinggi. Suaranya tidak sabar. "Orang tua. Nama bayi itu. Siapa yang menamainya?"
Mbah Sarju bergumam. Tidak jelas.
Sosok yang lebih tinggi melangkah maju. Ia berjongkok di tepi lingkaran abu, jubah hitamnya jatuh di sekelilingnya seperti genangan tinta. Ia mencondongkan wajahnya, wajah yang tersembunyi di dalam kegelapan tudung, ke arah wajah Mbah Sarju yang keriput. Mata merahnya menyala terang.
"Nama," desisnya.
Mbah Sarju terkesiap. Matanya yang kosong berkedip-kedip cepat.
"...Rukmini," gumamnya. "Rukmini... memberinya nama... di dapur... di depan tungku... Rukmini bilang... namanya Su... Sudira..."
Sosok yang lebih tinggi tidak bergerak.
"Sudira," ulangnya. "Itu nama abdi dapur. Bukan nama yang diberikan ibunya." Ia mendekatkan wajahnya lagi. "Ada nama lain. Nama yang dibawa bayi itu dari hutan. Kau melihatnya, orang tua. Kau memegang obor. Kau melihat bayi itu dari dekat. Ada nama lain."
Mbah Sarju terdiam. Lama. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara.
Dupa terakhir di samping kepalanya tinggal setengah jengkal.
Lalu:
"...kain," bisik Mbah Sarju. "Kain bayi... kain putih yang basah... ada... ada jahitan... di pinggirnya... benang... benang merah... aksara..."
"Aksara apa?"
"...aku tidak bisa membaca... aku abdi kandang... aku tidak pernah belajar aksara..." Mbah Sarju tertawa kecil, tawa yang lemah dan basah. "...tapi aku ingat bentuknya... yang pertama... bentuknya seperti... seperti..."
Dupa terakhir tinggal sejari.
"...seperti ka..."
Dira berhenti bernapas.
"...lalu..." Mbah Sarju mengangkat tangannya yang gemetar ke udara, jari telunjuknya menggambar sesuatu di udara, garis-garis yang tidak beraturan, bentuk-bentuk yang tidak bisa dilihat siapa pun. "...lalu ada yang seperti... seperti..."
Dupa terakhir padam.
Bara merahnya meredup, menjadi kelabu, menjadi abu. Asap hitam terakhir naik dari ujungnya, tipis, bergoyang sebentar di atas wajah Mbah Sarju, lalu buyar.
Tangan Mbah Sarju yang terangkat jatuh ke batu.
Matanya tertutup.
Napasnya tetap ada. Pelan. Sangat pelan. Seperti napas orang yang tidur sangat dalam dan tidak akan bangun untuk waktu yang sangat lama.
Sosok yang lebih tinggi berdiri. Perlahan. Ia menatap Mbah Sarju yang terbaring diam di tengah lingkaran abu. Lalu ia menatap dupa-dupa yang sudah padam semua. Lalu ia menatap pemuda bercincin.
"Dupanya?"
"Habis," kata pemuda bercincin dengan suara datar. "Itu yang terakhir. Bijinya..." Ia melirik Ki Wiradhana. "Bijinya kemiri."
Sosok yang lebih tinggi tidak berkata apa-apa. Tetapi tangannya, yang besar dan pucat dengan kuku hitam panjang, mengepal di sisi tubuhnya. Dan dari kepalan itu, terdengar bunyi. Bunyi kecil, seperti ranting kering yang patah. Tulang-tulang jari yang beradu.
"Ka," bisik Ki Jalak di dalam dada Dira. Pelan. Gemetarnya sudah reda, tetapi suaranya masih jauh. "Bocah. Dia bilang ka."
Aku dengar.
"Nama yang dibawa bayi itu dari hutan. Dijahit dengan benang merah di kain bayinya. Dimulai dengan ka."
Dira menyentuh kain biru tua di lehernya. Ia tidak tahu kenapa. Tangannya bergerak sendiri.
Siapa yang memberimu nama itu, kata Ki Ageng Suryadharma di altar, pada hari upacara pemilihan pusaka, ketika cahaya fajar membelok di sekitar kepala Dira. Lalu tangan Ki Ageng terkepal.
Sudira, kata Nyai Rukminiwati. Di dapur. Di depan tungku. Delapan belas warsa lalu.
Bukan nama yang diberikan ibunya.
Ada nama lain.
Di dalam candi, sosok berjubah hitam yang lebih ramping, yang dipanggil Bayangan, mengangkat kepalanya.
Untuk pertama kalinya sejak Dira mulai mengintip, mata merahnya yang redup tidak menatap ke lantai. Tidak menatap lingkaran abu. Tidak menatap Mbah Sarju yang terbaring diam.
Mata itu menatap dinding.
Dinding candi. Dinding batu andesit hitam yang dipahat penuh relief, sosok-sosok yang menari, binatang-binatang, pohon-pohon.
Dinding tempat akar beringin menyusup di antara dua balok batu dan membuat celah setebal dua jari.
Mata merah yang redup itu menatap tepat ke celah itu.
Tepat ke mata Dira.
Dira membeku.
Mereka saling menatap. Lewat celah setebal dua jari, lewat kegelapan di dalam candi, lewat sisa-sisa asap dupa hitam yang buyar. Mata merah yang redup seperti bara yang hampir padam, dan mata Dira yang tidak berani berkedip.
Satu tarikan napas. Dua.
Sosok yang dipanggil Bayangan tidak bergerak. Tidak berteriak. Tidak menunjuk. Tidak berkata apa-apa kepada sosok yang lebih tinggi di sampingnya, atau kepada Ki Wiradhana, atau kepada pemuda bercincin.
Ia hanya menatap.
Lalu, perlahan, sangat perlahan, ia memalingkan wajahnya. Kembali ke lantai. Kembali ke lingkaran abu.
Dan dengan suara perempuan yang jernih seperti genta kecil, ia berkata pelan, kepada tak seorang pun dan kepada semua orang:
"Dupanya sudah habis. Tak ada lagi yang bisa diambil malam ini."