Bab 82Jubah Hitam
Mbah Sarju melanjutkan.
Bukan karena ia mendengar perintah itu. Dira yakin lelaki tua yang separuh tuli itu tidak mendengar apa-apa. Matanya yang terbuka menatap kosong ke langit-langit candi yang gelap. Mulutnya yang hampir ompong bergerak-gerak seperti orang yang bermimpi. Kata-kata keluar dari mulut itu bukan karena diminta, tetapi karena asap dupa hitam yang berputar-putar di atas wajahnya terus masuk ke hidungnya, ke mulutnya, ke dalam dirinya, dan menarik sesuatu keluar.
Seperti tangan yang memeras kain basah. Setetes. Setetes lagi.
"...hujan," gumam Mbah Sarju. "Hujan deras... aku di kandang... kambing-kambing gelisah... petir... lalu ada yang memanggil... dari gerbang belakang... ada yang memanggil namaku..."
Pemuda bercincin mengibaskan tangannya pelan di atas salah satu dupa. Asapnya bergeser. Makin tebal di atas wajah Mbah Sarju.
"...Sarju, Sarju, katanya... buka gerbangnya... cepat..."
"Siapa?" tanya sosok berjubah hitam yang lebih tinggi. Suaranya seperti batu digerus di atas batu.
Mbah Sarju tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak mendengarnya. Ia hanya terus bergumam, seperti air yang mengalir dari kendi yang retak.
"...aku buka... gerbang belakang... lalu mereka masuk... dua... perempuan... basah kuyup... menggendong sesuatu di dada... dibungkus kain... dan lelaki..."
Ia berhenti.
Mulutnya terus bergerak, tetapi tak ada suara yang keluar. Bibirnya membentuk kata-kata tanpa bunyi. Matanya yang kosong berkedip-kedip cepat.
Ki Wiradhana melangkah setengah langkah mendekat ke lingkaran abu. "Dia melawan," katanya pelan.
"Orang tua selalu melawan," kata sosok yang lebih tinggi. "Ingatan yang paling tua adalah yang paling dalam. Akarnya jauh." Mata merahnya berkilat. "Tambah."
Pemuda bercincin mengambil sebatang dupa hitam dari balik kain bajunya. Tinggal sebatang, Dira melihat. Hanya sebatang. Ia menyalakannya di api salah satu dupa yang sudah terbakar, lalu menancapkannya di tengah lingkaran abu, tepat di samping kepala Mbah Sarju.
Asap hitam yang dingin mengepul tebal.
Dan Mbah Sarju terkesiap. Napasnya tertahan. Tubuhnya yang kecil dan bungkuk melengkung di atas batu datar, seperti udang yang dilemparkan ke atas wajan panas.
Lalu suaranya keluar lagi. Lebih keras. Lebih cepat. Seperti bendungan yang jebol.
"...MAS KARTA!"
Di balik celah di dinding candi, Dira tidak bernapas.
"...Mas Karta," gumam Mbah Sarju, lebih pelan, terengah-engah. "Mas Karta... yang di belakang... lengannya... tidak... bukan lengannya... dia yang mengikat... lengan perempuan itu berdarah... dia mengikatnya... cepat sekali... tangannya cepat sekali... tiga lilitan... tiga..."
Di Balai Sukma, Ki Jalak menegakkan tubuhnya di potongan dahan yang terbelah.
"Simpul tiga lilitan," bisiknya. "Di lengan Nyai. Delapan belas warsa lalu. Di tepi hutan. Di bawah hujan."
"...dan perempuan itu," lanjut Mbah Sarju, "perempuan itu menggendong... bayi... bayi yang menangis... tidak berhenti menangis... dan aku memegang obor... dan aku melihat..."
"Apa yang kau lihat?" sosok yang lebih tinggi mencondongkan tubuhnya ke depan, hampir menyentuh lingkaran abu. Mata merahnya menyala seperti bara yang ditiup. "Apa yang kau lihat, orang tua?"
"...di belakang mereka," gumam Mbah Sarju, matanya yang kosong membelalak, menatap sesuatu di langit-langit candi yang tidak ada di sana. "Di hutan. Di balik hujan. Ada... ada mata. Merah. Banyak. Seperti kunang-kunang. Seperti bara. Di antara pohon-pohon. Menatap. Mencari."
Hening di dalam candi.
Lalu sosok yang lebih tinggi menegakkan tubuhnya. Perlahan. Dan dari balik tudung hitamnya, terdengar bunyi. Bunyi yang serak dan rendah, seperti batu-batu kecil yang berguling di dalam kendi.
Tawa.
"Itu kami," katanya.
Dira mencengkeram tepi celah di dinding batu begitu kuat sampai lumut di bawah jari-jarinya hancur menjadi bubur hijau.
Itu kami.
Delapan belas warsa lalu. Di tepi hutan. Di bawah hujan. Nyai menggendong bayi. Mbah Karta mengikat lengannya yang berdarah dengan simpul tiga lilitan. Mbah Sarju membukakan gerbang belakang padepokan dengan obor di tangan.
Dan di belakang mereka, di dalam hutan, di balik hujan, mata merah yang banyak. Mencari.
Mencari bayi itu.
Mencari dia.
"Bocah," bisik Ki Jalak, suaranya sangat tegang. "Napasmu. Turunkan napasmu. Sekarang."
Dira baru sadar napasnya cepat. Pendek-pendek. Tersendat di dada. Seperti napas Satyaki. Ia menurunkannya ke bawah pusar dengan susah payah. Memutarnya. Sekali. Dua kali. Sampai mengendap. Seperti batu di dasar kolam.
Di dalam candi, tak seorang pun menoleh ke arah celah itu.
Untuk pertama kalinya, Dira melihat kedua sosok berjubah hitam itu dengan jelas.
Bukan wajah mereka. Wajah mereka tetap tersembunyi di bawah tudung, hanya mata merah yang berpendar di dalam kegelapan. Tetapi ia melihat bentuk mereka. Cara mereka berdiri. Cara jubah hitam itu jatuh dari bahu mereka sampai ke lantai batu tanpa satu lipatan pun yang memantulkan cahaya.
Yang lebih tinggi bertubuh besar dan lebar, hampir selebar Ki Brajanala, tetapi lebih tinggi sekepala. Berdirinya tegak dan kaku, seperti tiang batu. Tangannya, yang sesekali muncul dari balik lengan jubah ketika ia bergerak, besar dan pucat, kukunya panjang dan hitam seperti kuku orang yang mati.
Yang satunya lebih ramping. Lebih pendek. Berdiri sedikit di belakang yang lebih tinggi, sedikit ke samping, seperti bayangan yang mengikuti. Ia belum bergerak sama sekali sejak Dira mulai mengintip. Belum berbicara. Mata merahnya tidak menyala seterang mata yang lebih tinggi. Lebih redup. Seperti bara yang hampir padam.
Dan mata itu tidak menatap Mbah Sarju.
Mata itu menatap ke bawah. Ke lantai. Ke lingkaran abu.
Seperti tidak ingin melihat.
"Yang satu itu," bisik Ki Jalak, "berbeda."
Berbeda bagaimana?
"Aku tidak tahu. Napasnya berbeda. Dengarkan."
Dira mendengarkan.
Napas Ki Wiradhana: pelan, dalam, tenang, seperti biasa. Napas pemuda bercincin: hampir tak terdengar, tipis, seperti napas orang yang sudah lama berlatih menyembunyikan diri. Napas sosok berjubah yang lebih tinggi: berat, lambat, dan dingin. Tidak, bukan dingin. Kosong. Seperti angin yang bertiup melalui gua kosong.
Dan napas sosok yang lebih ramping.
Tersendat. Sedikit. Sangat sedikit. Seperti napas orang yang menahan sesuatu di tenggorokannya.
"...lalu Mas Karta bilang," lanjut Mbah Sarju, suaranya makin lemah, makin serak, seperti kendi yang hampir kosong, "Mas Karta bilang... Sarju... lupakan malam ini... lupakan... jangan ceritakan kepada siapa pun... dan dia menyentuh dahiku... dengan jarinya... dan aku..."
Ia tertawa. Tawa yang serak dan basah dan sangat lemah.
"...dan aku lupa. Aku lupa. Aku lupa semuanya. Bertahun-tahun. Sampai sekarang." Ia terkekeh lagi. "Sekarang aku ingat. Kenapa aku ingat? Aku tidak mau ingat. Mas Karta bilang lupakan..."
"Bayinya," kata sosok yang lebih tinggi, tidak sabar. "Ceritakan bayinya. Apa yang kau lihat pada bayinya?"
Mbah Sarju terdiam. Matanya yang kosong berkedip-kedip lambat.
"...bayinya," gumamnya. "Menangis. Menangis terus. Dibungkus kain. Kain putih. Basah. Dan di lehernya..."
Dira berhenti bernapas lagi.
"...di lehernya ada kain lagi. Kain kecil. Dililitkan. Dan dari balik kain itu..." Mbah Sarju mengangkat tangannya yang keriput dan gemetar ke udara, ke atas wajahnya, seperti mencoba menyentuh sesuatu yang tidak ada di sana. "...ada cahaya. Kecil. Biru. Seperti kunang-kunang. Seperti cacing yang bercahaya di dalam tanah basah. Berkedip-kedip. Di leher bayi itu."
Hening.
Hening yang begitu dalam sehingga Dira bisa mendengar asap dupa hitam berdesis pelan di atas lingkaran abu.
Lalu sosok yang lebih tinggi bergerak. Lambat. Ia mengangkat tangannya yang besar dan pucat dengan kuku hitam panjang, dan mengepalkannya di depan dadanya.
"Itu dia," katanya.
Suaranya tidak lagi seperti batu digerus di atas batu. Suaranya bergetar. Bukan karena takut. Karena sesuatu yang lain. Sesuatu seperti lapar. Seperti anjing pemburu yang akhirnya mencium bau buruan setelah berhari-hari mencari.
"Itu dia. Delapan belas warsa kami mencari. Di setiap desa di kaki Lawu. Di setiap padepokan. Di setiap gubuk. Dan dia di sini. Di bawah hidung kita. Dibungkus kain. Dijadikan abdi dapur."
Ki Wiradhana tersenyum. Lembut. Hangat. Seperti kakek yang melihat cucunya akhirnya belajar berjalan.
"Sudah kubilang," katanya pelan.
Lalu Ki Wiradhana melakukan sesuatu yang membuat Dira hampir tersentak mundur dari celah itu.
Ia mengangkat tangan kirinya. Tangan yang sejak malam purnama dibalut kain hitam, tangan yang ia sembunyikan di balik beskap di depan Tumenggung Sasradipa, tangan yang ia tunjukkan dengan malu-malu di meja kehormatan sambil bercerita tentang pelita yang terguling.
Ia membuka balutan kain hitam itu. Pelan. Lilitan demi lilitan.
Di telapak tangannya, ada luka bakar.
Bukan luka bakar biasa dari pelita yang terguling. Luka bakar yang membentuk lingkaran. Sempurna. Hitam pekat, seperti kulit yang hangus sampai ke daging. Melingkar di tengah telapak tangannya seperti cincin. Seperti tanda yang dicap dengan besi panas.
Seperti bekas luka di punggung tangan kiri pemuda bercincin.
Hanya saja yang ini masih baru. Masih basah di pinggirnya. Masih merah di sekelilingnya, seperti daging yang baru saja dibakar.
"Brajanala," kata Ki Wiradhana pelan, menatap telapak tangannya sendiri. Suaranya tetap lembut. Tetapi ada sesuatu di bawahnya yang belum pernah Dira dengar. Sesuatu yang dingin dan tajam, seperti pisau yang disembunyikan di bawah kain sutra. "Orang tua keras kepala itu. Dia memutus asapku tepat ketika aku hampir menemukannya. Malam purnama. Di atas atap dapur. Aku hampir melihat cahayanya. Hampir."
Ia menatap sosok yang lebih tinggi.
"Asap itu terhubung ke tanganku. Ke tanda ini. Ketika dia memutusnya, apinya kembali kepadaku."
"Itu harga," kata sosok yang lebih tinggi. "Setiap pengendus membayar harga. Kau tahu itu waktu menerima tanda."
"Aku tahu." Ki Wiradhana mulai membalut tangannya lagi dengan kain hitam. Pelan. Rapi. "Dan aku sudah membayarnya. Sekarang giliran Hyang membayar janjinya."
Hyang.
Di Balai Sukma, sesuatu bergerak. Bukan Ki Jalak. Bukan Sapu Angin. Sesuatu yang jauh. Di ujung Balai Sukma. Di balik dinding beku.
Bergerak. Sedikit. Dalam tidurnya. Seperti orang yang mendengar namanya disebut dari tempat yang sangat jauh.
Lalu diam lagi.
Sosok yang lebih tinggi berbalik menghadap Ki Wiradhana sepenuhnya. Mata merahnya menyala terang di dalam kegelapan tudung.
"Janji Hyang akan dibayar," katanya, "ketika Wadah itu diserahkan. Bukan sebelumnya." Ia mengangkat tangannya yang pucat dan menunjuk Mbah Sarju yang terbaring di tengah lingkaran abu, masih bergumam tanpa suara. "Orang tua ini memberi kita kepastian. Bukan Wadah."
"Wadah itu ada di gubuk orang sakit di belakang dapur," kata Ki Wiradhana tenang. "Sedang memulihkan diri dari racun ular berkepala dua yang seharusnya membunuhnya dalam tiga malam. Dan tidak membunuhnya."
Hening.
"Tidak membunuhnya," ulang sosok yang lebih tinggi.
"Tidak." Ki Wiradhana tersenyum. "Dan sebelumnya, dia keluar dari sumur yang tidak bisa dikeluari orang. Dan sebelumnya lagi, dia selamat dari demam yang seharusnya membunuhnya. Dan malam purnama, dia menempa tulangnya sendiri di bawah bulan dengan napas gunung, sementara pengendus kita mengendus lehernya dari dalam hutan." Ia menyelesaikan balutan di tangannya. "Dan dia menukar biji Wijayakusuma dengan kemiri di depan mataku, dan aku tidak melihatnya."
Sosok yang lebih tinggi tidak bergerak.
"Kau bilang dia belum bangun," katanya akhirnya.
"Belum," kata Ki Wiradhana. "Tapi dia sedang belajar berjalan."
Lalu, dari balik tudung yang lebih ramping, di belakang sosok yang lebih tinggi, untuk pertama kalinya, terdengar suara.
Pelan. Jernih. Seperti bunyi genta kecil yang tertiup angin. Suara perempuan.
"Dan kalau dia sudah bisa berlari," katanya, "siapa yang akan mengejarnya?"
Sosok yang lebih tinggi menoleh kepadanya. Perlahan. Mata merahnya menyala.
"Diam, Bayangan."
Sosok yang lebih ramping itu menunduk. Diam.
Tetapi Dira melihat sesuatu. Sesuatu yang sangat kecil. Sesuatu yang mungkin tidak dilihat siapa pun di dalam candi itu kecuali dia, karena dia sedang menatap tepat ke sana.
Tangan sosok yang lebih ramping itu, yang muncul sedikit dari balik lengan jubah hitamnya, terkepal. Begitu erat sampai jari-jarinya gemetar.
Lalu sosok yang lebih tinggi berbalik kembali ke Ki Wiradhana.
"Sebut nama kami, Wiradhana," katanya. "Sebut dengan keras. Di depan orang tua ini. Supaya dia tahu, di sisa-sisa ingatannya yang terakhir, kepada siapa dia menyerahkan malam yang paling ingin ia lupakan."
Ki Wiradhana menatap Mbah Sarju yang terbaring di tengah lingkaran abu. Mata yang kosong. Mulut yang bergerak-gerak tanpa suara. Tangan keriput yang masih terangkat ke udara, mencoba menyentuh cahaya biru yang tidak ada di sana.
Lalu ia tersenyum. Lembut. Hangat. Penuh iba.
"Kala Ireng," katanya.