Bab 81Jejak ke Candi Tua
Kambing itu tidak menunggu.
Ia berjalan di depan, tiga langkah, berhenti, menoleh, tiga langkah lagi, berhenti, menoleh. Ekornya yang pendek bergoyang-goyang gelisah. Tali yang putus di lehernya terseret di tanah, meninggalkan garis tipis di atas debu jalan setapak. Setiap kali Dira terlalu lambat, kambing itu mengembik pendek, tidak sabar, persis seperti Gendhis yang menunggu kayu bakar.
"Dia lebih galak dari aku," gumam Ki Jalak.
"Tidak ada yang lebih galak darimu."
"Kambing itu memakan sandal Mbok Darsih. Sebelah. Hanya yang kiri. Aku tidak pernah memakan sandal siapa pun."
Dira tidak menjawab. Ia terlalu sibuk berjalan.
Tongkat, kaki kanan. Tongkat, kaki kanan. Kaki kirinya terseret di belakang, lemah, setengah mati rasa dari lutut ke bawah. Setiap sepuluh langkah ia harus berhenti untuk menarik napas, menurunkannya ke bawah pusar, memutarnya sekali, dua kali, sampai jantungnya tidak lagi berdebar seperti kentongan yang dipukul anak kecil. Racun ular kepala kiri sudah keluar dari tubuhnya. Tetapi racun itu meninggalkan sesuatu. Kelelahan yang sangat dalam, sampai ke tulang. Seperti tanah yang baru saja kebanjiran dan airnya sudah surut, tetapi lumpurnya masih di sana.
Satyaki berjalan di sampingnya, Kyai Pring Kuning di tangan kanan, bahu kirinya masih terbebat. Napasnya tersendat di dada. Ia juga harus berhenti setiap sepuluh langkah.
Dua orang yang terluka, mengikuti seekor kambing, di tengah malam, ke reruntuhan yang tak pernah didatangi siapa pun.
"Kalau Gendhing melihat kalian sekarang," kata Ki Jalak, "dia akan menceritakannya ke seluruh barak sampai kalian berdua jadi dongeng. Dua abdi pincang dibawa kambing demit ke candi angker."
"Satyaki bukan abdi."
"Gendhing tidak akan peduli."
Kambing itu membawa mereka melewati belakang dapur. Melewati gudang beras yang gelap, tempat Mbah Karta seharusnya tidur tetapi entah tidur di mana malam ini. Melewati lumbung. Lalu belok ke timur, menyusuri jalan setapak sempit di balik asrama tetua, jalan yang tidak dipakai siapa pun kecuali abdi yang disuruh membuang sampah ke jurang kecil di belakang.
Lalu mereka sampai di kebun obat.
Pagar bambu. Jahe, kencur, temulawak, sirih, tumbuhan-tumbuhan lain yang namanya hanya diketahui Nyai Rukminiwati. Bangku batu. Dan di tengahnya, pohon jambu air dengan dahan-dahan bengkok yang licin dan buah-buah merah yang menggantung di ujung ranting tertinggi.
Kambing itu berhenti di sana. Di bawah pohon jambu air. Ia mengendus-endus tanah di sekitar akar pohon. Lalu mengembik pelan, sekali, dan berjalan lagi. Melewati pagar bambu di sisi seberang. Ke arah yang tidak pernah Dira lalui seumur hidupnya.
Ke belakang kebun obat, tempat tanah mulai menanjak ke lereng.
"Pohon jambu itu," bisik Ki Jalak. "Bocah, kambing itu berhenti di pohon jambu itu."
Mungkin dia lapar.
"Kambing itu tidak berhenti untuk makan. Dia berhenti untuk mencium. Seperti anjing yang mencari jejak."
Dira berhenti di bawah pohon jambu air sebentar. Ia menatap tanah di sekitar akarnya. Dalam cahaya bulan yang kempis, ia hampir tidak melihatnya. Tetapi ia melihatnya.
Bekas kaki.
Bukan bekas kaki telanjang seperti di Hutan Larangan. Bekas kaki yang diseret. Seperti orang yang berjalan dengan kaki yang lemah, setengah dipapah. Dan di sampingnya, bekas kaki lain. Rapi. Ringan. Berjarak teratur. Kaki orang yang sudah bertahun-tahun berjalan diam-diam di malam hari.
Dan sesuatu yang lain. Tergeletak di antara akar pohon jambu air, setengah tersembunyi di bawah daun-daun kering.
Dira membungkuk, dengan susah payah, bertumpu pada tongkatnya, dan memungutnya.
Sepotong gula aren. Kecil. Sudah separuh meleleh, lengket, kotor oleh tanah.
Gigitan di satu sisinya. Gigitan yang tidak rapi. Gigitan mulut yang hampir ompong.
Lereng di belakang kebun obat curam dan gelap.
Tidak ada jalan setapak. Atau dulu pernah ada, tetapi sudah lama ditelan semak. Ilalang setinggi pinggang. Semak berduri yang mencakar kaki dan lengan. Akar-akar beringin yang menjalar di atas tanah seperti ular-ular raksasa yang tertidur. Dan pohon-pohon tua yang tumbuh rapat, batangnya diselimuti lumut dan tanaman merambat, dahannya menjuntai rendah sampai Dira harus membungkuk untuk lewat di bawahnya.
Kambing itu tidak kesulitan. Ia melompat dari batu ke batu, menyelinap di bawah semak, memanjat akar-akar beringin seperti memanjat tangga. Kadang ia menghilang di dalam gelap. Lalu muncul lagi, di atas batu atau di balik semak, menoleh ke belakang, mengembik tidak sabar.
Dira dan Satyaki tidak bisa seperti kambing.
Mereka merangkak. Dira dengan satu kaki dan dua tangan dan tongkat yang lebih sering tersangkut di semak daripada membantu. Satyaki dengan satu tangan, karena bahu kirinya tidak bisa menahan beban. Lambat. Sangat lambat. Ranting-ranting mencakar wajah mereka. Duri-duri menembus kain jarik. Napas mereka terengah-engah.
Lalu Dira merasakannya.
Di tengah telapak tangan kanannya, di garis tipis putih keperakan, sesuatu bergetar.
Aliran udara. Halus. Turun dari atas lereng, dari arah yang mereka tuju. Bukan angin malam biasa yang bertiup dari puncak Lawu. Aliran yang lain. Lebih tipis. Lebih dingin. Membawa sesuatu.
Bau.
Samar. Sangat samar. Hampir tak ada di antara bau lumut, tanah basah, dan bunga-bunga liar.
Dingin. Seperti abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.
"Mereka di sana," bisik Ki Jalak.
Di dahan yang terbelah di Balai Sukma, Sapu Angin bercicit pelan. Tidak bersemangat seperti biasanya. Cicit kecil yang gemetar. Seperti burung yang mencium bau elang.
Mereka sampai di atas lereng ketika bulan sudah condong ke barat.
Tanah di atas lereng itu datar. Seperti dataran kecil yang dipotong rata di sisi gunung. Dan dataran itu dipenuhi batu.
Bukan batu alam. Batu yang dipahat. Balok-balok batu andesit hitam keabu-abuan sebesar peti, sebesar kerbau, berserakan di antara akar-akar beringin dan semak-semak. Sebagian masih bertumpuk, membentuk dinding yang runtuh separuh. Sebagian tergeletak miring, terbelah, ditumbuhi lumut sampai warnanya hijau. Di beberapa balok, Dira melihat pahatan. Sulur-suluran. Bunga-bunga teratai. Sosok-sosok manusia yang menari, wajah-wajah mereka sudah aus dimakan hujan ratusan warsa.
Dan di tengah semua itu, menjulang di balik tirai akar beringin yang menjuntai dari dahan-dahan raksasa, sebuah bangunan.
Candi.
Tidak besar. Lebih kecil dari balairung padepokan. Tetapi tinggi. Tubuhnya dari batu andesit hitam yang bersusun, meruncing ke atas seperti gunung kecil, puncaknya sudah runtuh entah sejak kapan. Akar-akar beringin membelitnya dari segala arah, menyusup ke celah-celah batunya, membelah dindingnya, memeluknya seperti tangan raksasa yang mencoba menelannya ke dalam tanah. Di beberapa tempat, akar-akar itu begitu tebal sehingga Dira tidak bisa membedakan mana batu dan mana kayu.
Di depan candi itu ada tangga batu yang naik ke sebuah pintu. Pintu yang gelap, sempit, berbentuk lengkung.
Dan di atas pintu itu, dipahat besar-besar di batu andesit hitam, ada wajah.
Wajah raksasa. Matanya melotot bulat. Hidungnya besar. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan taring-taring yang melengkung ke atas dan ke bawah. Tak ada rahang bawah. Hanya rahang atas, gigi-gigi atas, dan mata yang melotot menatap siapa pun yang berdiri di depan pintu.
Kepala Kala.
Penjaga pintu candi. Raksasa waktu yang memakan segalanya. Dira pernah mendengar Mbok Darsih menyebutnya, bertahun-tahun lalu, waktu bercerita tentang candi-candi tua di lereng Lawu yang dihuni demit. Kepala Kala di atas pintu, ngger. Raksasa yang lapar. Dia menelan matahari dan bulan, makanya ada gerhana. Dia menelan siapa pun yang masuk ke candi dengan niat jahat.
Dari dalam pintu yang gelap di bawah kepala Kala itu, merembes cahaya.
Merah. Redup. Berkedip-kedip. Seperti nyala api kecil yang dilihat dari balik tirai.
Dan bau itu. Tidak samar lagi. Kuat. Dingin. Abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.
Kambing bermata jahat berhenti.
Ia berhenti di pinggir dataran, di balik sebongkah balok batu yang tergeletak miring, lima puluh langkah dari tangga candi. Ia tidak maju lagi. Ia berdiri di sana, keempat kakinya tertanam di tanah, kepalanya menunduk, tanduknya yang melengkung mengarah ke candi. Seluruh tubuhnya gemetar. Bulu-bulu hitam belang putihnya berdiri.
Lalu ia berbaring. Pelan. Di balik balok batu itu. Dan ia tidak bergerak lagi.
Dira berlutut di sampingnya dengan susah payah. Ia meletakkan tangannya di punggung kambing itu. Gemetar. Seperti kambing-kambing di kandang yang berkerumun di sudut pagi tadi.
"Dia takut," bisik Satyaki, berlutut di sisi lain.
"Dia membawa kita ke sini."
"Lalu dia takut." Satyaki menatap pintu candi yang gelap, cahaya merah yang berkedip-kedip di dalamnya. "Kambing lebih pintar dari kita."
"Itu," kata Ki Jalak, "adalah hal paling benar yang pernah dikatakan bocah Sumberwatu itu."
Dira menatap pintu candi. Kepala Kala di atasnya, mata yang melotot, taring-taring yang melengkung. Cahaya merah yang merembes dari dalam.
"Aku masuk," katanya.
"Kau tidak bisa berjalan."
"Aku tidak perlu masuk ke pintunya. Aku cuma perlu melihat." Dira menunjuk ke samping candi, ke tempat akar-akar beringin yang tebal membelah dinding batu. Di sana, di antara akar dan batu, ada celah. Gelap. Sempit. Seperti celah di dinding bilik Ki Ageng di balairung. "Di situ. Aku bisa merangkak ke situ."
Satyaki menatap celah itu. Lalu menatap Dira.
"Aku ikut."
"Napasmu."
Satyaki diam.
"Napasmu tersendat di dada," kata Dira pelan. "Selalu. Sejak pertama kali aku mendengarnya. Kalau ada orang di dalam yang bisa mendengar napas seperti aku bisa..."
Satyaki menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk. Ia merogoh kantong ikat pinggangnya dan mengeluarkan segenggam kerikil kecil. Ia meletakkan tiga di telapak tangan Dira.
"Satu: orang," katanya. "Dua: babi hutan. Tiga..."
"Lari."
"Aku di sini. Di balik batu ini. Bersama kambing." Satyaki menggenggam Kyai Pring Kuning erat-erat. "Kalau kau melempar tiga, aku akan membuat keributan. Sesuatu. Apa saja. Supaya mereka melihat ke arahku, bukan ke arahmu."
"Satyaki..."
"Utang sepiring nasi, Dira." Satyaki tidak tersenyum. "Belum lunas."
Dira merangkak.
Dari balok batu ke balok batu. Dari akar ke akar. Tongkat kayunya ia tinggalkan di samping Satyaki. Terlalu berisik, terlalu mudah tersangkut. Ia merangkak dengan dua tangan dan satu lutut, menyeret kaki kirinya, telapak tangan menapak di atas lumut dan tanah basah dan batu dingin. Pelan. Telapak depan saja. Berat badan tak pernah tinggal di satu tempat. Hinggap, meskipun bukan dengan kaki.
Napasnya mengendap di bawah pusar. Diam. Seperti batu di dasar kolam.
Di Balai Sukma, Ki Jalak bertengger di potongan dahan yang terbelah dan tidak bersuara. Sapu Angin meringkuk di potongan yang lain, sayap-sayapnya terlipat rapat, kepalanya tersembunyi di bawah sayap.
Bau dupa hitam makin kuat. Cahaya merah makin terang.
Dan di bawah kain biru tua di lehernya, tanda itu mulai berdenyut.
Dingin. Pelan. Seperti dulu, sebelum malam purnama. Seperti jarum dingin yang ditusukkan dan ditarik, ditusukkan dan ditarik. Tetapi kain biru tua dari Mbah Karta meredamnya. Seperti air sumur yang menyejukkan bara. Denyut itu tidak menjadi panas. Tidak menjalar. Hanya berdenyut, pelan, di bawah kain yang berbau getah.
Dira sampai di celah di dinding candi.
Celah itu dibuat oleh akar beringin yang tebal, sebesar paha orang dewasa, yang menyusup di antara dua balok batu dan memisahkan mereka selebar dua jari. Cukup untuk sebelah mata. Cukup untuk melihat.
Dira menempelkan pipinya ke batu yang dingin dan berlumut, dan mengintip ke dalam.
Ruangan di dalam candi itu kecil. Bundar. Dindingnya batu andesit hitam yang dipahat penuh relief, sosok-sosok yang menari, binatang-binatang, pohon-pohon. Di tengah lantainya yang dilapisi batu datar ada sebuah lubang persegi, gelap, seperti sumur kecil atau bekas tempat arca yang sudah lama hilang.
Di sekeliling lubang itu ada lingkaran.
Lingkaran abu. Hitam pekat. Seperti jelaga. Dan di tujuh titik di sepanjang lingkaran itu, tujuh dupa hitam yang menyala. Asapnya tidak naik lurus ke atas seperti asap dupa biasa. Asapnya mengalir ke samping. Ke dalam. Ke tengah lingkaran. Seperti air yang mengalir ke dalam lubang. Berputar-putar pelan di atas sesuatu yang terbaring di tengah lingkaran itu.
Seseorang.
Kecil. Bungkuk seperti udang. Rambut tipis putih yang berantakan di atas batu. Mata yang terbuka, menatap ke langit-langit candi yang gelap, keruh dan sayu dan kosong. Mulut yang hampir ompong yang bergerak-gerak pelan, mengucapkan sesuatu tanpa suara.
Mbah Sarju.
Ia masih hidup. Dira bisa melihat dadanya naik turun. Pelan. Sangat pelan. Seperti napas orang yang tidur sangat dalam.
Asap dupa hitam itu berputar-putar di atas wajahnya. Masuk ke hidungnya. Masuk ke mulutnya yang bergerak-gerak.
Dan di sekeliling lingkaran abu itu, di luar cahaya merah tujuh dupa yang menyala, berdiri bayangan-bayangan.
Dira menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat.
Salah satunya ia kenali dari cara berdirinya. Tinggi. Kurus. Rambut panjang diikat ke belakang. Tangan kiri yang dibalut kain hitam. Pemuda bercincin. Ia berlutut di pinggir lingkaran, menjaga dupa-dupa itu, memindahkan asapnya dengan kibasan tangan yang pelan.
Yang kedua ia kenali dari janggutnya. Panjang. Keperakan. Berkilau merah dalam cahaya dupa.
Ki Wiradhana.
Dan dua lagi.
Dua bayangan yang berdiri di seberang lingkaran, membelakangi dinding relief, tak bergerak sama sekali. Tinggi. Berbalut sesuatu yang hitam dari kepala sampai ujung kaki, kain hitam yang begitu pekat sehingga cahaya merah dupa tidak memantul darinya, seperti kain itu menelan cahaya. Tudung hitam menutupi kepala mereka. Wajah mereka tidak terlihat.
Hanya mata mereka.
Dua pasang mata. Merah. Berpendar. Bukan memantulkan cahaya dupa. Bercahaya sendiri. Seperti bara yang menyala di dalam lubang gelap.
Dan kedua pasang mata itu menatap Mbah Sarju yang terbaring di tengah lingkaran abu, mulutnya bergerak-gerak, mengucapkan sesuatu tanpa suara.
Lalu, perlahan, suara itu keluar.
Serak. Pecah. Seperti bisikan orang yang mengigau dalam demam.
"...kambing hitam..." gumam Mbah Sarju. "...susunya manis... bayi itu menangis... menangis terus... hujan... hujan deras sekali malam itu..."
Salah satu bayangan berjubah hitam, yang lebih tinggi, yang lebih lebar, mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata merahnya menyala lebih terang.
"Lanjutkan," katanya. Suaranya dalam dan kasar, seperti batu yang digerus di atas batu.