Bab 80Abdi yang Hilang
Gandawasa yang menemukannya.
Atau lebih tepatnya, Gandawasa yang menemukan bahwa tidak ada yang bisa ditemukan.
Pagi itu adalah pagi pertamanya sebagai abdi kandang. Ia bangun sebelum kentongan subuh, seperti bertahun-tahun sebelumnya ketika ia masih kepala dapur, dan berjalan ke kandang kambing dengan langkah berat dan menyeret, membawa seember air dan seikat rumput. Ia tidak mengeluh. Ia tidak menggerutu. Para abdi yang melihatnya lewat di jalan setapak berbisik-bisik bahwa Gandawasa tidak pernah sesunyi itu, bahkan waktu ia masih ditampar Ki Brangas.
Pintu kandang kambing terbuka.
Bukan terbuka lebar. Hanya sedikit. Sejengkal. Pasak kayu yang biasa menguncinya tergeletak di tanah, di samping tiang. Tidak patah. Tidak dicabut paksa. Dilepas dengan rapi, seperti oleh tangan yang tahu caranya.
Di dalam kandang, kambing-kambing berkerumun di sudut, gelisah, mengembik pelan. Kambing bermata jahat tidak ada di antara mereka. Ia berdiri sendirian di tengah kandang, di depan sebuah tikar pandan yang tergelar di atas jerami. Tikar tempat Mbah Sarju tidur setiap malam, di antara kambing-kambingnya, karena ia sudah terlalu tua untuk berjalan ke barak abdi dan karena, katanya, kambing lebih hangat dari selimut.
Tikar itu kosong.
Di atasnya tergeletak seutas tali kambing yang usang. Tali yang selalu dipegang Mbah Sarju ke mana-mana, meskipun tak ada kambing di ujungnya.
Kambing bermata jahat berdiri di depan tikar itu dan menatap Gandawasa dengan sepasang mata kuning berpupil melintang. Ia tidak mengembik. Ia tidak menyeruduk. Ia hanya menatap.
Gandawasa meletakkan ember dan rumputnya. Ia berlutut di samping tikar itu dan meletakkan telapak tangannya di atasnya.
Dingin.
Dira mendengarnya dari Gendhis, yang mendengarnya dari Gendhing, yang mendengarnya dari Gandawasa sendiri, karena Gandawasa berjalan langsung dari kandang kambing ke dapur dan berdiri di ambang pintu dan berkata, kepada tak seorang pun dan kepada semua orang, Mbah Sarju tidak ada.
Lalu seisi dapur keluar mencarinya.
Mereka mencari di barak. Di lumbung. Di gudang beras. Di bawah pohon sawo dekat sumur kering. Di balik kandang, di parit, di kebun obat di belakang asrama tetua. Mereka memanggil-manggil namanya. Mbah Sarju! Mbah! Mbaaah! Mbok Darsih menangis lagi. Kang Paidi memanjat pohon kelapa di pinggir halaman untuk melihat lebih jauh.
Tak seorang pun menemukannya.
Menjelang siang, murid dalam berwajah biasa datang ke halaman belakang dan membawa pesan dari Ki Wiradhana. Ia membacanya dari selembar lontar kecil, dengan suara datar, seperti membaca daftar belanjaan.
"Ki Wiradhana sangat sedih mendengar kabar ini. Mbah Sarju sudah sangat tua dan sering lupa. Mungkin beliau berjalan dalam tidur, seperti orang tua yang pikun, dan tersesat. Ke arah barat, kemungkinan besar. Ke Hutan Larangan." Ia menggulung lontarnya. "Ki Wiradhana akan mengirim tiga murid dalam untuk mencarinya di tepi hutan. Para abdi diminta kembali bekerja."
Lalu ia pergi.
"Ke barat," bisik Ki Jalak. "Dia bilang ke barat."
Supaya tak ada yang mencari ke arah lain.
Dira mencoba berdiri.
Kaki kirinya masih lemah. Lebih lemah dari yang ia kira. Ketika ia bertumpu di atasnya, lututnya tertekuk dan ia jatuh kembali ke atas bale-bale bambu. Ia mencoba lagi dengan tongkat kayu yang dipotong Satyaki di Hutan Larangan. Kali ini ia bisa berdiri. Terhuyung. Seperti orang tua.
"Mau ke mana?" tanya Wulansari dari ambang pintu, tempat ia baru kembali dengan kendi air.
"Kandang kambing."
"Kangmas tidak bisa berjalan."
"Aku bisa berjalan." Dira melangkah. Tongkat, kaki kanan. Tongkat, kaki kanan. Kaki kiri terseret di belakang. "Pelan."
Wulansari menatapnya lama. Lalu ia meletakkan kendi airnya, berjalan ke samping Dira, dan menyelipkan bahunya di bawah lengan kiri Dira.
"Pelan," katanya.
Mereka berjalan ke kandang kambing. Satyaki menyusul di belakang mereka dengan Kyai Pring Kuning di tangan kanan, terseok-seok, bahu kirinya masih terbebat. Tiga orang yang terluka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di belakang dapur, di bawah matahari siang, dan para abdi yang lewat menatap mereka dengan heran. Bukannya Sudira sekarat?
Gendhing, yang lewat membawa dua kendi air, berhenti dan menatap Dira dengan mulut menganga.
"Kau..." katanya. "Kau seharusnya kuning."
"Sudah sembuh."
"Secepat itu?"
"Demam kuning memang turun tiba-tiba," kata Satyaki datar dari belakang. "Kata Ki Wiradhana."
Gendhing menatap Satyaki. Lalu menatap Dira. Lalu, perlahan, mengangguk dengan wajah orang yang tahu ia sedang dibohongi tetapi memutuskan bahwa kebohongan itu terlalu bagus untuk dibantah.
"Kalau begitu," katanya, "aku harus bilang ke Kang Paidi supaya berhenti mengumpulkan kayu."
Kandang kambing sepi kecuali Gandawasa.
Ia duduk di tanah di depan pintu kandang yang terbuka sejengkal, punggungnya bersandar ke tiang, menatap tikar pandan kosong di dalam. Ketika melihat Dira datang dipapah Wulansari, ia tidak bangkit. Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit, memberi jalan.
"Pasaknya dilepas," katanya pelan, tanpa ditanya. "Dengan rapi. Bukan dicabut. Mbah Sarju tidak bisa melepas pasak itu. Tangannya gemetar. Tiap pagi aku... tiap pagi abdi kandang yang lain yang membukakannya untuk dia."
Dira menatap pasak kayu itu, tergeletak di tanah di samping tiang.
"Dan kambing-kambingnya," lanjut Gandawasa. "Lihat mereka."
Dira melihat. Kambing-kambing itu masih berkerumun di sudut kandang, saling berdesakan, gelisah. Kecuali satu.
Kambing bermata jahat masih berdiri di depan tikar kosong Mbah Sarju. Seperti penjaga. Seperti kambing yang menunggu seseorang pulang.
Dira melepaskan diri dari papahan Wulansari dan melangkah masuk ke kandang dengan tongkatnya. Pelan. Ia berjongkok di samping tikar itu, dengan susah payah, kaki kirinya terjulur kaku.
Lalu ia mendekatkan wajahnya ke tikar.
Jerami. Kotoran kambing. Keringat orang tua. Bau badan yang asam dan hangat, seperti bau orang tua yang sudah lama tidak mandi dengan air hangat.
Dan di bawahnya, samar, sangat samar, hampir tak ada.
Dingin.
"Dupa hitam," bisik Ki Jalak. "Di sini. Semalam."
Dira menatap tikar itu. Lalu ia menatap tali kambing yang usang yang tergeletak di atasnya.
Ia mengulurkan tangan dan menyentuh tali itu. Sejuk. Sedikit lembap oleh embun. Dan di salah satu ujungnya, di tempat yang biasa dipegang Mbah Sarju, ada sesuatu yang lengket.
Ia mengangkat ujung tali itu ke hidungnya.
Gula aren.
"Kenapa dia?"
Wulansari yang bertanya. Mereka bertiga duduk di bawah pohon sawo dekat sumur kering, di akar besar tempat Dira dan Wulansari biasa bertemu setiap subuh. Tempat yang ditakuti orang. Tempat yang paling aman untuk berbicara.
Satyaki duduk di seberang mereka, bersandar ke batang sawo, Kyai Pring Kuning di pangkuannya.
"Kenapa Mbah Sarju?" ulang Wulansari. "Dia cuma orang tua. Separuh tuli. Separuh pikun. Dia tidak tahu apa-apa. Dia bahkan tidak ingat hari ini hari apa. Kemarin dia bilang padaku Ki Ageng yang sekarang masih bocah yang suka mencuri jambu."
"Dia tidak ingat hari ini," kata Dira pelan. "Tapi dia ingat delapan belas warsa lalu."
Wulansari menatapnya.
"Ki Wiradhana bertanya kepadanya di depan semua abdi," lanjut Dira. "Soal susu kambing. Soal bayi yang dibawa Nyai dari hutan. Dan Mbah Sarju ingat. Kambing hitam. Susunya manis. Bayi itu menangis kalau susunya terlambat." Ia menatap sumur kering di depan mereka, papan-papan tua di atasnya, batu besar yang menindih. "Orang tua yang pikun lupa apa yang terjadi kemarin. Tapi kadang mereka ingat apa yang terjadi empat puluh warsa lalu, lebih jelas dari siapa pun."
"Lalu?"
"Lalu Mbah Sarju mungkin ingat hal lain juga. Tentang bayi itu. Malam itu. Siapa yang membawa bayi itu ke padepokan. Apa yang ada di lehernya. Siapa yang datang mencarinya." Dira menelan ludah. "Hal-hal yang tidak diingat siapa pun lagi. Kecuali orang tua pikun yang memerah susu kambing untuknya setiap pagi."
Hening.
"Dan dupa hitam," kata Satyaki pelan, "membuat orang lupa."
"Atau," kata Dira, "membuat orang mengeluarkan ingatannya. Seperti biji yang ditumbuk. Seperti sari yang diperas." Ia menatap kedua tangannya. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan dupa itu. Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
"Kalau aku memberikan biji yang asli," kata Dira, "Ki Wiradhana akan membakarnya di hutan semalam. Asapnya akan membuat orang lupa. Mungkin Kertapati. Mungkin orang desa. Mungkin siapa saja." Ia berhenti. "Tapi aku memberinya kemiri. Dan kemirinya berbau sambal. Dan ritualnya gagal."
"Dan karena ritualnya gagal," kata Satyaki, mengerti, "dia butuh cara lain."
"Dan cara lain itu..." Dira tidak bisa menyelesaikannya.
Wulansari meraih tangannya.
"Bocah," kata Ki Jalak dari dalam dadanya. Suaranya pelan dan tegas. "Dengar aku. Bukan kau yang membuka pasak kandang itu. Bukan kau yang memberi gula aren kepada orang tua itu. Bukan kau yang membakar dupa di samping tikarnya. Bukan kau."
Kalau aku memberikan biji yang asli...
"Kalau kau memberikan biji yang asli, Kertapati akan lupa semuanya. Dan orang-orang desa. Dan siapa pun yang dia pilih berikutnya. Dan dia tetap akan mencari Mbah Sarju, karena dia sudah tahu Mbah Sarju ingat. Dia bertanya di depan semua orang. Dia memberinya gula aren. Dia sudah memilihnya sebelum ritual itu gagal." Ki Jalak berhenti. "Orang yang menghitung tidak boleh menghitung kesalahan orang lain sebagai kesalahannya sendiri. Itu bukan menghitung. Itu menghukum diri."
Dira memejamkan mata.
Mbah Karta duduk di samping pintu kandang kambing ketika mereka kembali menjelang senja.
Ia duduk di tanah, di tempat Gandawasa tadi duduk, punggungnya bersandar ke tiang. Kambing bermata jahat berbaring di sampingnya. Kepala kambing itu, dengan tanduknya yang melengkung dan matanya yang kuning, terletak di pangkuan juru masak tua itu. Dan Mbah Karta mengelus-elus kepalanya. Pelan. Berulang-ulang. Seperti mengelus kepala anak kecil.
Ia tidak menoleh ketika mereka datang. Ia terus mengelus.
"Sarju," katanya, pelan, kepada kambing itu, atau kepada dirinya sendiri, atau kepada siapa pun yang mendengar. "Sarju itu kawan lamaku. Lebih lama dari siapa pun di padepokan ini." Elus. Elus. "Waktu aku pertama kali datang ke sini, dia sudah di sini. Masih muda. Masih kuat. Bisa mengangkat dua kambing sekaligus. Dia yang mengajariku di mana dapur, di mana sumur, di mana gudang beras." Elus. "Dia yang..."
Ia berhenti.
Tangannya berhenti mengelus.
"Dia yang membantuku," katanya, sangat pelan. "Dulu. Satu malam. Di bawah hujan."
Dira tidak bernapas.
Mbah Karta mengangkat wajahnya. Matanya keruh. Berkedip-kedip lambat. Seperti biasa. Tetapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak biasa. Sesuatu yang basah.
"Dia tidak ingat," kata Mbah Karta. "Dia sudah lupa sebagian besar malam itu. Pikun. Untung pikun. Aku pikir..." Ia menggeleng pelan. "Aku pikir pikun akan melindunginya. Orang pikun tidak bisa ditanya. Orang pikun tidak bisa menjawab." Ia menunduk menatap kambing di pangkuannya. "Aku lupa bahwa ada orang yang tidak butuh jawaban. Ada orang yang cuma butuh... sisanya. Apa pun yang masih tertinggal. Sedikit saja."
Ia berhenti lagi.
Lalu, dengan suara gumam pikun yang biasa, seperti tidak pernah mengatakan apa-apa:
"Kambing ini lapar. Siapa yang lupa memberinya makan? Gendhing! Kau!"
"Aku Dira, Mbah."
"Itu yang kubilang."
Malam itu, Dira tidak bisa tidur.
Ia berbaring di atas bale-bale bambu di gubuk orang sakit. Wulansari sudah kembali ke asrama murid luar, karena kalau ia tidak kembali malam ini, pembimbing kelompoknya akan melapor ke Ki Wiradhana. Satyaki tidur bersandar di dinding gedek. Gandawasa tidak ada di ambang pintu. Ia sekarang abdi kandang, dan abdi kandang tidur di dekat kandang.
Dira menatap bintang-bintang dari bolongan atap ijuk.
"Kau mau pergi," kata Ki Jalak.
Aku tidak bisa berjalan.
"Kau tidak bisa berjalan jauh. Tapi kau mau pergi."
Aku tidak tahu ke mana.
"Kau tahu ke mana dia tidak pergi. Dia tidak pergi ke barat. Orang berjanggut itu bilang ke barat."
Jadi ke arah lain.
"Ada empat arah, bocah."
Dira memejamkan mata.
Lalu ia mendengarnya. Dari arah kandang kambing. Bunyi kayu yang berderak. Bunyi tali yang putus. Bunyi kuku-kuku kecil yang keras berlari di atas tanah.
Ia membuka mata.
Di ambang pintu gubuk, di bawah cahaya bulan yang kempis, berdiri seekor kambing.
Hitam belang putih. Tanduk melengkung. Sepasang mata kuning berpupil melintang. Di lehernya masih tergantung seutas tali yang putus, ujungnya terburai. Napasnya mengepul di udara malam yang dingin.
Kambing bermata jahat menatap Dira.
Lalu ia berbalik. Melangkah tiga langkah menjauh dari gubuk. Berhenti. Menoleh ke belakang. Menatap Dira lagi.
Lalu melangkah lagi. Tiga langkah. Berhenti. Menoleh.
Bukan ke barat. Bukan ke arah gerbang barat dan Hutan Larangan.
Ke timur. Ke belakang padepokan. Ke arah lereng yang naik di balik kebun obat dan asrama tetua, tempat yang tak pernah didatangi siapa pun, tempat yang kata para abdi tua dulu ada bangunan batu yang sangat tua, lebih tua dari padepokan, lebih tua dari kadipaten. Reruntuhan yang sudah ditelan semak dan akar beringin.
Candi tua.
Kambing itu mengembik sekali. Pendek. Tidak sabar. Seperti orang yang berkata ayo.
Dira menatapnya. Lalu meraih tongkat kayunya.
"Bocah," kata Ki Jalak. "Kau baru saja selamat dari racun. Kau tidak bisa berdiri tanpa tongkat. Kau mau mengikuti kambing di tengah malam ke reruntuhan yang tak pernah didatangi siapa pun."
Ya.
Diam sebentar.
"Baik," kata Ki Jalak. "Tapi kalau kambing itu menggigitmu, aku tidak mau dengar keluhanmu."
Di sudut gubuk, Satyaki membuka matanya. Ia menatap Dira yang sedang berdiri dengan tongkat. Lalu menatap kambing di ambang pintu. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia meraih Kyai Pring Kuning dan bangkit juga.