Sang Penelan Pusaka

Bab 79Ritual yang Gagal

Gandawasa tidak minggir.

Ia berdiri di ambang pintu gubuk dengan tubuhnya yang lebar mengisi kusen yang reyot, kedua tangannya yang terbalut kain lusuh tergantung di sisi tubuh, dan ia tidak bergerak. Dari tempatnya berbaring di atas bale-bale bambu, Dira bisa melihat punggungnya. Bahu yang menegang. Leher yang kaku. Dan kedua tangan itu, yang mulai gemetar, lalu mengepal untuk menghentikan gemetarnya.

"Ampun, Ki," kata Gandawasa. Suaranya serak dan pelan, tetapi tidak pecah. "Demam kuning. Menular. Tidak baik untuk Ki."

"Ah, Gandawasa." Suara Ki Wiradhana di luar gubuk terdengar geli dan sayang, seperti kakek yang ditegur cucunya karena terlalu banyak makan gula. "Aku sudah tua. Demam tidak takut padaku. Aku sudah melihat lebih banyak demam daripada kau melihat kuali."

Gandawasa tidak bergerak.

Hening yang panjang.

"Gandawasa," kata Ki Wiradhana lagi. Kali ini suaranya tidak berubah. Tetap lembut. Tetap hangat. Tetapi ada sesuatu di bawahnya. Sesuatu yang membuat Gandawasa, yang sudah dua malam berdiri di ambang pintu itu tanpa tidur, mundur setengah langkah tanpa sadar. "Kau sudah lupa siapa yang memberimu kedudukan kepala dapur? Siapa yang menutup mata waktu kau minum arak dari bilik penyimpanan bersama Sutarga? Siapa yang tidak melapor waktu kau mendorong abdi ke dalam sumur?"

Bahu Gandawasa bergetar.

Ia tidak minggir. Tetapi ia juga tidak bisa menjawab.

"Biarkan Ki masuk, Gandawasa."

Suara itu datang dari dalam gubuk. Serak. Mengantuk. Bosan.

Mbah Karta menguap lebar di samping tungku batu kecil, menggaruk kepalanya yang botak dengan ujung sendok kayu. Ia tidak menatap ke pintu. Ia menatap api di tungku.

"Pintunya sempit," lanjut juru masak tua itu. "Kau terlalu gemuk. Ki Wiradhana terlalu tua. Kalau kalian berdua berdiri di situ terus, nanti ada yang kejepit. Lalu aku harus membuat ramuan untuk tulang yang retak. Aku sudah capek bikin ramuan."

Gandawasa menoleh ke belakang. Ke Mbah Karta. Lalu, perlahan, ke Dira.

Dira mengangguk sekali.

Gandawasa minggir.


Ki Wiradhana masuk ke dalam gubuk orang sakit seperti orang yang masuk ke balairung. Pelan. Anggun. Beskap hitamnya yang bersulam matahari tidak menyentuh dinding gedek yang bolong. Janggutnya yang panjang dan keperakan bergoyang lembut. Tangan kirinya masih dibalut kain hitam. Tangan kanannya terlipat di belakang punggung.

Ia berhenti di tengah gubuk. Ia menatap Satyaki, yang duduk bersandar di dinding gedek dengan Kyai Pring Kuning di pangkuannya. Ia menatap Wulansari, yang duduk di tepi bale-bale dengan baskom kayu di pangkuannya. Ia menatap Mbah Karta, yang menguap lagi.

Lalu ia menatap Dira.

Dira berbaring di atas bale-bale bambu, berselimut sisa jarik, wajahnya pucat dan matanya cekung, tetapi terbuka. Menatap balik.

Untuk sesaat, sekejap yang sangat singkat, sesuatu terjadi di wajah Ki Wiradhana.

Bukan perubahan. Senyumnya tidak memudar. Matanya tidak menyipit. Alisnya tidak terangkat. Wajah itu tetap wajah kakek yang ramah dan penuh iba. Tetapi Dira, yang kini bisa mendengar napas orang lain, mendengar napas tetua berjanggut itu berhenti. Bukan tersendat seperti di gerbang belakang, ketika Ki Brajanala berkata hatimu lembut sekali, Wiradhana. Berhenti. Satu tarikan napas penuh yang tidak ditarik.

Lalu napas itu kembali. Pelan. Teratur. Seperti tidak pernah berhenti.

"Ngger," kata Ki Wiradhana. Suaranya hangat dan lega. "Kau masih hidup."

"Inggih, Ki."

"Gendhing bilang kau sekarat. Kulitmu kuning seperti kunyit. Kau tidak bisa bicara."

"Demam kuningnya sudah turun, Ki. Semalam."

"Demam kuning." Ki Wiradhana mengangguk-angguk pelan, seperti orang yang mendengar penjelasan masuk akal. "Ya. Demam kuning memang bisa turun tiba-tiba." Ia melangkah mendekat, satu langkah, dan menunduk menatap kaki kiri Dira yang terjulur di bawah jarik. "Dan kakimu? Yang tergores batu di tebing?"

"Sudah membaik, Ki."

Ki Wiradhana tidak bertanya lagi. Ia tidak perlu. Dira bisa melihat matanya bergerak, cepat, sekali, ke kaki itu, ke kulit yang masih sedikit keunguan di sekitar luka sayatan yang terbalut kain bersih. Lalu ke wajah Dira. Lalu ke kain biru tua di leher Dira.

Lalu ke Mbah Karta.

"Mbah Karta," kata Ki Wiradhana. Senyumnya melebar sedikit. "Lama tidak kelihatan. Tiga hari, kata Mbok Darsih. Ke mana saja, Mbah?"

"Beli garam, Ki."

"Di mana?"

"Di tempat lain."

"Ah." Ki Wiradhana menatap kaki Mbah Karta yang terjulur di lantai tanah. Lumpur kemerahan yang mengering. Debu hitam halus yang berkilau di sela-sela kuku. Ia menatapnya lama. "Garamnya dapat?"

"Tidak, Ki." Mbah Karta menggaruk tumitnya dengan sendok kayu. Debu hitam berjatuhan. "Sia-sia saja. Orang tua memang suka sia-sia."

Kedua orang tua itu saling menatap. Satu berdiri, berbeskap hitam bersulam matahari, janggut keperakan, senyum yang hangat. Satu duduk di lantai tanah, botak, berkain lusuh, kaki berlumpur, mata keruh yang berkedip-kedip lambat.

Dira merasakannya lagi. Seperti di altar, ketika Nyai dan Ki Ageng saling menatap di atas kepalanya. Seperti di kebun obat. Seperti di meja kehormatan, ketika Ki Brajanala bertanya soal tangan kiri. Dua pisau yang saling digesek pelan-pelan.

Hanya saja kali ini, salah satunya tidak terasa seperti pisau.

Salah satunya terasa seperti gunung.

Ki Wiradhana yang pertama mengalihkan tatapannya.


"Kau anak yang sangat beruntung, ngger," katanya kepada Dira, sambil berbalik ke pintu. "Sangat, sangat beruntung." Ia berhenti di ambang pintu, di samping Gandawasa yang berdiri kaku seperti tiang. "Istirahatlah. Siang nanti, setelah matahari tinggi, aku memanggil semua abdi ke halaman belakang. Semuanya. Tanpa kecuali."

"Dira sakit, Ki," kata Wulansari tiba-tiba. "Dia tidak bisa berdiri."

Ki Wiradhana menoleh kepadanya. Menatapnya. Gadis murid luar berudeng biru dengan mata yang bengkak dan merah dan sama sekali tidak takut.

"Kalau begitu," kata Ki Wiradhana lembut, "Gandawasa bisa menggendongnya. Gandawasa sangat pandai menggendong, kudengar."

Ia melangkah keluar.

Langkahnya ringan. Nyaris tanpa suara di atas tanah yang basah oleh embun. Menjauh.

Lama tak ada yang bergerak di dalam gubuk. Lalu Gandawasa merosot lagi di ambang pintu, terduduk di tanah, wajahnya pucat, kedua tangannya yang terbalut gemetar hebat.

"Dia tahu," bisiknya. "Soal arak. Soal Sutarga. Soal sumur." Ia menatap kedua tangannya. "Dia selalu tahu. Dia cuma... menyimpannya. Untuk nanti."

Di dalam dada Dira, Ki Jalak berkata sangat pelan:

"Itu yang dia lakukan dengan semua orang, bocah. Menyimpan. Untuk nanti. Seperti kau dengan bilah-bilah bambumu."

Dira tidak menjawab. Ia menatap Mbah Karta.

Juru masak tua itu sudah mendengkur lagi di samping tungku.


Matahari naik tinggi.

Halaman belakang padepokan dipenuhi abdi. Semuanya. Abdi dapur, abdi kandang, abdi cuci, abdi kebun, abdi yang menjaga lumbung. Lebih dari lima puluh orang, berdiri berjajar di tanah lapang antara dapur dan kandang kambing, di bawah matahari siang yang terik. Bisik-bisik bergetar di antara mereka seperti lebah di sarang yang diganggu.

Dira duduk di atas sebuah karung beras di ujung barisan. Gandawasa menggendongnya ke sana dari gubuk orang sakit, seperti yang dikatakan Ki Wiradhana. Gandawasa kini berdiri di belakangnya, diam, menatap lurus ke depan. Wulansari tidak boleh ada di sana. Murid luar tidak termasuk abdi. Satyaki juga tidak. Tetapi Dira tahu keduanya ada di suatu tempat. Di balik pagar bambu. Di balik lumbung. Menonton.

Mbah Karta berdiri di barisan abdi dapur, di antara Mbok Darsih dan Gendhis, bersandar pada sendok kayunya, matanya setengah terpejam, kepalanya terangguk-angguk seperti orang yang tertidur sambil berdiri.

Ki Wiradhana berdiri di depan mereka semua. Di sampingnya, murid dalam berwajah biasa, membawa sebuah nampan kayu kecil yang ditutup kain putih.

"Aku tidak akan lama," kata Ki Wiradhana. Suaranya lembut, tetapi entah bagaimana sampai ke ujung barisan yang paling belakang. "Aku tahu kalian semua sibuk. Aku tahu matahari panas. Aku hanya ingin bertanya satu hal."

Bisik-bisik berhenti.

"Tiga malam lalu," lanjut Ki Wiradhana, "seorang abdi dengan susah payah membawakan sesuatu yang sangat berharga ke bilikku. Obat. Obat yang langka. Obat untuk Kertapati, murid dalam kita yang sakit lupa diri. Obat untuk orang-orang desa di kaki Lawu yang hilang ingatannya." Ia tersenyum sedih. "Obat itu kusimpan dengan hati-hati. Di tempat gelap. Supaya kering. Tiga malam."

Ia mengangkat kain putih yang menutupi nampan di tangan murid dalam itu.

Di atas nampan, ada segenggam serbuk. Kecokelatan. Kasar. Dan di sampingnya, sepotong kecil sesuatu yang hitam dan berkilat, seukuran separuh biji kemiri. Pecahan. Sisa yang tidak tertumbuk.

Bahkan dari tempatnya duduk di ujung barisan, dua puluh langkah jauhnya, Dira bisa menciumnya.

Kemiri bakar.

Harum. Gurih. Sedikit gosong. Seperti dapur di pagi hari ketika Mbok Darsih menyangrai kemiri untuk sambal.

"Semalam," kata Ki Wiradhana, "ketika aku hendak memberikan obat ini kepada Kertapati, aku menemukan ini. Bukan obat. Kemiri." Ia mengambil pecahan hitam itu dengan ujung jarinya dan mengangkatnya ke udara supaya semua orang bisa melihat. "Kemiri bakar. Yang biasa dipakai di dapur ini untuk sambal."

Hening.

Lalu, dari tengah barisan abdi dapur, seseorang mendengus. Tertahan. Seperti tawa yang dicekik.

Gendhing.

Gendhis menginjak kakinya dengan keras. Gendhing menjerit kecil, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya merah padam.

Ki Wiradhana menatapnya. Lama. Gendhing menunduk begitu dalam sampai dahinya hampir menyentuh dadanya.

"Seseorang," kata Ki Wiradhana, kembali menatap seluruh barisan, "masuk ke bilikku dan menukar obat untuk Kertapati dengan kemiri dari dapur. Seseorang yang tahu di mana aku menyimpannya. Seseorang yang bisa keluar masuk tanpa diketahui." Ia menurunkan pecahan kemiri itu ke nampan. "Aku tidak marah. Sungguh. Aku hanya sedih. Kertapati masih lupa nama ibunya. Dan obatnya kini tinggal sambal." Ia menghela napas. "Aku hanya ingin tahu siapa. Supaya aku bisa memaafkannya."

Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, pikir Dira. Dia tidak bisa bilang bunga itu ditukar sebelum sampai di tangannya. Karena aku yang membawanya. Dan dia memeriksanya dengan tusuk perak di depan mataku dan bilang "anak pintar". Kalau dia bilang bunganya palsu sejak awal, dia mengaku dia bodoh. Ki Wiradhana tidak pernah mengaku bodoh.

"Jadi dia membuat cerita," bisik Ki Jalak. "Seseorang masuk ke biliknya. Seseorang menukarnya di sana. Seseorang dari dapur. Dan sekarang dia akan mencari seseorang itu. Atau membuat seseorang itu."


Pencarian itu berlangsung sampai matahari tergelincir.

Murid dalam berwajah biasa menggeledah barak abdi. Setiap tikar. Setiap bakul. Setiap celah di dinding gedek. Ia tidak menemukan apa-apa.

Ki Wiradhana berjalan pelan di sepanjang barisan abdi, satu per satu. Ia berhenti di depan masing-masing. Ia bertanya dengan lembut. Di mana kau tiga malam lalu, ngger? Kau tidur di barak? Siapa yang tidur di sebelahmu? Kadang ia meminta seorang abdi mengulurkan tangan, lalu ia membungkuk dan mencium telapak tangan itu. Lama. Seperti mencari bau sesuatu.

Ia berhenti di depan Gendhing. Gendhing gemetar seperti daun pisang di musim angin.

"Kau tertawa tadi, ngger. Kenapa?"

"Am... ampun, Ki. Hamba... hamba teringat sambal. Sambal kemiri Mbok Darsih enak sekali, Ki. Hamba lapar."

Ki Wiradhana menatapnya lama. Lalu tersenyum. Lalu berjalan ke abdi berikutnya.

Ia berhenti di depan Mbah Karta.

Mbah Karta tertidur. Berdiri. Bersandar pada sendok kayunya, kepala terkulai di dada, mendengkur pelan.

Ki Wiradhana menatapnya lama. Sangat lama. Lebih lama dari ia menatap siapa pun.

Lalu ia tidak membangunkannya. Ia tidak bertanya. Ia tidak meminta Mbah Karta mengulurkan tangan. Ia hanya berdiri di sana, menatap juru masak tua yang mendengkur, dan napasnya, yang Dira dengarkan dengan seluruh tubuhnya, tidak berubah sedikit pun.

Lalu ia berjalan melewatinya.

Seperti melewati sesuatu yang lebih baik tidak dibangunkan.


Ia berhenti di depan Dira paling akhir.

Ia tidak bertanya di mana Dira tiga malam lalu. Semua orang tahu di mana Dira tiga malam lalu. Di gubuk orang sakit, sekarat karena demam kuning. Ia tidak meminta Dira mengulurkan tangan. Ia hanya menatapnya. Lalu menatap Gandawasa yang berdiri di belakangnya.

"Gandawasa," katanya.

"Inggih, Ki."

"Kau kepala dapur. Dapur ini tanggung jawabmu. Kemiri ini dari dapurmu. Dan selama tiga malam, kau tidak di dapurmu. Kau berdiri di ambang pintu gubuk orang sakit." Ki Wiradhana menggeleng-geleng sedih. "Kepala dapur yang meninggalkan dapurnya tidak bisa menjaga apa yang keluar dari dapurnya."

Gandawasa tidak menjawab.

"Mulai hari ini," kata Ki Wiradhana dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh barisan, "Gandawasa bukan lagi kepala dapur. Ia turun menjadi abdi kandang. Mbok Darsih menggantikannya sementara." Ia menatap seluruh barisan abdi. "Dan sampai pencuri obat Kertapati mengaku, jatah makan seluruh abdi dikurangi separuh."

Bisik-bisik meledak di barisan. Lalu cepat-cepat dibungkam.

Gandawasa berdiri di belakang Dira. Diam. Ia tidak membela diri. Ia tidak memohon. Ia tidak menatap siapa pun. Dira bisa mendengar napasnya. Berat. Pelan. Dan, anehnya, tenang. Lebih tenang dari yang pernah Dira dengar dari Gandawasa.

Seperti napas orang yang baru saja meletakkan karung yang sangat berat.


Ki Wiradhana berbalik untuk pergi. Barisan abdi mulai bubar, pelan, berbisik-bisik.

Lalu ia berhenti.

Di ujung barisan abdi kandang, paling belakang, berdiri seorang lelaki tua. Sangat tua. Lebih tua dari Mbok Darsih, mungkin seumur Mbah Karta. Tubuhnya kecil dan bungkuk seperti udang. Rambutnya tipis dan putih. Matanya keruh dan sayu, dan ia terus tersenyum kepada siapa pun, kepada apa pun, seperti anak kecil yang bahagia. Ia memegang seutas tali kambing di tangannya, meskipun tak ada kambing di ujung tali itu.

Mbah Sarju. Abdi kandang tertua. Separuh tuli. Separuh pikun. Yang setiap pagi berjalan ke kandang kambing, mengelus kepala setiap kambing satu per satu, dan bercerita kepada mereka tentang hal-hal yang terjadi empat puluh warsa lalu seperti baru terjadi kemarin.

Ki Wiradhana berjalan ke arahnya. Pelan. Tersenyum.

"Mbah Sarju," katanya, cukup keras supaya lelaki tua yang separuh tuli itu bisa mendengar. "Mbah masih ingat aku?"

Mbah Sarju menatapnya dengan mata yang keruh dan sayu, lalu tersenyum lebar, memperlihatkan gusi yang hampir ompong.

"Ki Wira!" katanya senang. "Ki Wira yang suka gula aren!"

"Benar, Mbah. Benar." Ki Wiradhana tertawa kecil. "Mbah masih ingat, dulu, delapan belas warsa lalu, Mbah yang memerah susu kambing setiap pagi? Untuk bayi yang dibawa Nyai Rukminiwati dari hutan?"

Mbah Sarju mengangguk-angguk penuh semangat. "Kambing hitam! Kambing betina yang hitam! Yang susunya manis! Bayi itu suka sekali. Menangis kalau susunya terlambat." Ia tertawa, tawa yang serak dan basah. "Kambing itu sudah mati. Tapi anaknya masih ada. Yang matanya jahat. Yang suka menggigit."

"Ya. Ya, aku ingat." Ki Wiradhana merogoh kantong kain di ikat pinggangnya dan mengeluarkan sepotong gula aren. Cokelat keemasan, berkilau, seukuran dadu. Ia meletakkannya di telapak tangan Mbah Sarju yang keriput. "Untuk Mbah. Karena Mbah ingat."

Mbah Sarju menatap gula aren itu dengan mata yang berbinar seperti anak kecil. Lalu memasukkannya ke mulut.

Ki Wiradhana menatapnya mengunyah. Lalu berbalik dan berjalan pergi, diikuti murid dalam berwajah biasa dengan nampan kayunya.

Ia tidak menoleh ke Dira. Tidak sekali pun.

Tetapi di samping Dira, Gendhis berbisik sangat pelan, hampir tanpa menggerakkan bibirnya:

"Kenapa dia bertanya soal susu kambing?"

Dira tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya.

Ia hanya tahu bahwa di antara lima puluh abdi yang berjajar di halaman belakang, Ki Wiradhana hanya memberikan gula aren kepada satu orang.


Malam itu, kambing bermata jahat tidak berhenti mengembik.

Dira mendengarnya dari gubuk orang sakit, tempat ia berbaring di atas bale-bale bambu dengan Wulansari tertidur duduk di sampingnya dan Satyaki bersandar di dinding gedek. Embik yang panjang dan keras, berulang-ulang, dari arah kandang kambing. Bukan embik lapar. Bukan embik marah. Embik yang lain. Tinggi dan putus-putus. Seperti memanggil.

Seperti anak yang memanggil induknya.

Embik itu berlangsung sepanjang malam. Kentongan pertama. Kentongan kedua. Kentongan ketiga.

Lalu, menjelang subuh, mendadak berhenti.

Dira membuka mata dalam gelap. Sunyi. Hanya napas Wulansari yang pelan dan teratur di sampingnya, dan napas Satyaki yang tersendat di dada.

Lalu dari arah kandang kambing, sangat jauh, sangat samar, terbawa angin malam yang dingin, sampai ke hidung Dira sebuah bau.

Bau yang dingin.

Seperti abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.