Sang Penelan Pusaka

Bab 78Pagi yang Selamat

Sup tulang sapi gosong itu bukan sup tulang sapi.

Dira tahu sejak suapan pertama. Wulansari menyuapkannya dengan sendok kayu Mbah Karta, pelan-pelan, sesendok demi sesendok, seperti menyuapi bayi. Kuahnya kental, cokelat kehitaman, dan baunya bukan bau tulang sapi yang dimasak terlalu lama. Baunya seperti hutan sehabis hujan. Lumut. Akar-akaran. Madu yang sangat tua. Dan di bawahnya, samar, sesuatu yang manis dan logam, seperti madu yang dicampur besi.

Getah. Sedikit sekali. Hanya setetes, mungkin, dilarutkan ke dalam satu kuali penuh. Tetapi Dira bisa merasakannya. Ki Jalak juga.

"Itu..." bisik Ki Jalak, suaranya masih lemah. "Bocah, itu..."

Aku tahu.

"Dari mana dia mendapatkannya? Dia memberikan sebutir kepada bocah Sumberwatu itu. Sekarang dia punya lagi. Dari mana? Pohon itu terbakar ratusan warsa lalu!"

Dira tidak menjawab. Ia menatap Mbah Karta, yang duduk di lantai tanah gubuk di samping tungku batu kecil, bersandar ke dinding gedek yang bolong, menggaruk-garuk kakinya yang berlumpur dengan ujung sendok kayu. Juru masak tua itu menguap lebar. Matanya keruh. Ia tampak seperti orang tua yang baru pulang dari pasar setelah perjalanan jauh, lelah dan mengantuk dan tidak memikirkan apa-apa selain tidur.

"Mbah," kata Dira pelan, di antara dua suapan. "Mbah ke mana tiga hari ini?"

"Beli garam."

"Tiga hari?"

"Garamnya habis di pasar desa bawah." Mbah Karta menggaruk tumitnya. Debu hitam halus berjatuhan ke lantai tanah. "Jadi aku cari di tempat lain."

"Di mana?"

"Di tempat lain."

Di sudut gubuk, Satyaki yang sudah terbangun membuka sebelah matanya. Ia menatap kaki Mbah Karta. Lumpur kemerahan. Debu hitam berkilau.

"Garam," katanya datar, "di tebing hitam?"

Mbah Karta berhenti menggaruk. Ia menatap Satyaki dengan mata keruh yang berkedip-kedip lambat, seperti mata kura-kura. Lama.

Lalu ia terkekeh.

"Anak Sumberwatu," katanya. "Ibumu yang tahu nama semua tumbuhan obat di kaki Lawu. Dia pernah bilang padamu bahwa batu hitam di kaki gunung sebelah barat itu asin kalau dijilat?"

Satyaki tidak menjawab.

"Tidak?" Mbah Karta mengangguk-angguk. "Memang tidak asin. Aku cuma bertanya." Ia kembali menggaruk tumitnya. "Garamnya tetap tidak ketemu. Pulang dengan tangan kosong. Sia-sia saja."

Satyaki menatapnya lama. Lalu ia menutup matanya lagi. Tetapi Dira melihat sudut bibirnya berkedut.


Setelah sup itu habis, Mbah Karta bangkit dengan bunyi lutut berderak seperti ranting kering.

"Lehernya," katanya kepada Wulansari, tanpa menoleh ke Dira. "Buka."

Wulansari menatapnya. Lalu menatap Dira.

Dira mengerti tatapan itu. Selama delapan belas warsa, sebelum Mbah Karta di tepi kolam, hanya dua orang yang pernah mengikat dan membuka kain di lehernya. Nyai Rukminiwati, waktu ia masih bayi. Dan Wulansari, waktu mereka sudah cukup besar, setiap pagi di bawah pohon sawo, memeriksa simpulnya dengan dua jari. Wulansari tahu ada sesuatu di bawah kain itu. Memar biru, seperti yang dilihat para abdi waktu Gandawasa merobeknya. Tetapi Wulansari belum pernah melihat yang lain.

Belum pernah melihat garis yang bercahaya.

Jangan pernah lepas kain itu di depan orang asing, kata Mbah Karta di tepi kolam. Atau orang yang matanya tidak kau kenal sejak kecil.

Dira mengenal mata Wulansari sejak Wulansari belum bisa berjalan. Ia mengenal mata Satyaki sejak... belum lama. Tetapi Satyaki sudah bersumpah demi nasi dan demi tongkat yang tidak terpotong, dan Satyaki hampir mati menangkis pusaka liar untuknya.

Ia mengangguk.

Wulansari menyelipkan jari-jarinya ke bawah kain biru tua itu. Ia meraba simpulnya. Simpul tiga lilitan yang saling mengunci. Jari-jarinya berhenti.

"Ini bukan simpul Nyai," bisiknya.

"Simpul tukang masak," kata Mbah Karta. "Tidak bisa dibuka kalau tidak tahu cara mengikatnya. Cari ujung yang terselip di bawah. Tarik itu dulu, lalu lilitan yang tengah, ke kiri."

Wulansari menurut. Ujung yang terselip, lalu lilitan yang tengah, lalu yang lain. Simpul itu terbuka lilitan demi lilitan. Kain biru tua itu jatuh ke pangkuan Dira.

Udara pagi menyentuh kulit lehernya. Dingin. Asing.

Wulansari menatap. Satyaki menatap.

Tak ada yang berbicara.


Mbah Karta mengambil kendi tanah liat berisi air dari samping tungku. Ia tidak menuangnya ke dalam baskom. Ia mengangkat kendi itu di atas dada Dira, miring, dan menuangkan airnya perlahan. Satu aliran kecil, tipis, jernih. Air yang mengalir, bukan air yang diam. Air itu jatuh dari mulut kendi ke dalam baskom kayu yang dipegang Wulansari di bawahnya, membentuk tirai kecil yang bening dan bergerak di depan wajah Dira.

"Lihat," kata Mbah Karta.

Dira melihat.

Di dalam tirai air yang mengalir itu, bayangannya bergoyang-goyang, terpecah-pecah, menyatu lagi. Wajahnya sendiri yang pucat. Rambutnya yang kusut dan basah keringat. Dan lehernya.

Memar biru-ungu yang lebar, dari bawah telinga ke tulang selangka kiri. Seperti yang ia lihat di kolam kecil di belakang lumbung.

Dan di tengahnya, garis itu.

Garis biru tipis yang bercahaya redup di bawah kulit, timbul seperti urat, naik lurus sejengkal dari tulang selangka. Lalu bercabang di bawah rahang. Dua. Empat. Delapan. Makin halus, makin banyak, menyebar seperti jari-jari tangan yang terbuka ke arah belakang telinga.

Dira menatapnya, dan matanya mencari sesuatu yang ia tahu ada di sana.

Di sana.

Di antara cabang-cabang halus yang menyebar ke belakang telinga, ada satu cabang yang tidak ada di kolam belakang lumbung. Satu cabang baru. Lebih pendek dari yang lain, setengah ruas jari, menjulur sedikit lebih jauh ke belakang, ke arah tengkuk. Dan warnanya tidak sama dengan cabang-cabang lain. Bukan biru pucat yang dingin. Kelabu kebiruan. Seperti langit sebelum hujan. Seperti bilah kecil yang lurus dan tajam, melayang di antara dahan-dahan Hutan Larangan.

Sapu Angin.

"Satu cabang," kata Mbah Karta pelan. Ia berhenti menuang. Tirai air itu putus. Bayangan di dalamnya lenyap. "Seperti kubilang."

"Setiap kali kau menelan sesuatu, akarnya tumbuh," bisik Ki Jalak, mengulang kata-kata juru masak itu dari tepi kolam. "Satu cabang. Dua cabang."

Dira menyentuh lehernya dengan ujung jari. Di tempat cabang baru itu. Ia merasakannya. Halus. Timbul. Sedikit lebih hangat dari kulit di sekitarnya.

"Tanda itu melebar," bisiknya.

"Sedikit." Mbah Karta meletakkan kendi di samping tungku. "Masih sedikit. Masih bisa ditutup kain." Ia mengambil kain biru tua dari pangkuan Dira. "Belum waktunya khawatir."


Wulansari tidak berkata apa-apa ketika Mbah Karta melilitkan kain itu kembali dan mengikatnya dengan simpul tiga lilitan yang saling mengunci.

Ia hanya duduk di tepi bale-bale bambu dengan baskom kayu di pangkuannya, menatap air di dalam baskom. Air yang tadi mengalir dari kendi, kini diam. Bening. Tak ada bayangan apa-apa di dalamnya. Hanya langit-langit gubuk yang bolong, dan sepotong langit pagi.

Lalu, sangat pelan, ia berkata:

"Waktu kecil, aku pernah bertanya kepada Nyai kenapa Kangmas harus selalu memakai kain di leher. Nyai bilang luka bakar. Aku percaya." Ia mengangkat wajahnya dan menatap Dira. "Waktu Gandawasa merobeknya dan semua orang melihat memar biru, aku pikir, oh, bukan luka bakar. Tanda lahir. Nyai berbohong supaya Kangmas tidak diejek." Ia menelan ludah. "Aku tidak pernah bertanya lagi."

"Wulan..."

"Itu bukan tanda lahir." Wulansari meletakkan baskom di lantai. "Tanda lahir tidak bercahaya. Tanda lahir tidak tumbuh cabang."

Dira tidak menjawab.

Wulansari menatapnya lama. Lalu ia mengangkat tangan kanannya, yang masih dibalut kain tipis bekas pergelangan yang dipelintir Gajahsora, dan menyentuh kain biru tua di leher Dira dengan dua jari. Pelan. Sekali.

Simpulnya.

Isyarat rahasia mereka dari bawah pohon sawo. Sejak mereka kecil.

"Nanti," katanya. "Kangmas akan cerita nanti. Semuanya. Aku tidak mau dengar sekarang. Sekarang Kangmas harus tidur." Ia menatap Dira dengan mata yang bengkak dan merah tetapi kering. "Tapi nanti. Kangmas janji."

"Janji."

"Sumpah kelingking."

Dira mengangkat kelingkingnya yang lemah. Wulansari mengaitkan kelingkingnya. Seperti dulu.

"Kalau melanggar," kata Wulansari, "dimakan kambing bermata jahat. Dan kali ini aku yang akan membuka pintu kandangnya."


Mbah Karta tidak pergi setelah itu.

Ia duduk di samping tungku batu kecil sepanjang hari, terkantuk-kantuk, kadang mendengkur pelan, kadang bangun untuk menambah kayu ke api atau mengaduk sesuatu di dalam periuk tanah liat yang ia bawa entah dari mana. Ketika Satyaki bangun dan berjalan terseok-seok ke ambang pintu untuk buang air, Mbah Karta menatap Kyai Pring Kuning yang dibawanya.

"Tongkat itu," gumamnya. "Berat, ya?"

Satyaki berhenti di ambang pintu. Ia menatap Mbah Karta. Lalu menatap tongkatnya. Ujungnya yang diikat kain merah kusam, dengan simpul tiga lilitan. Di dalam rongganya, terbungkus daun talas kecil, sebutir biji hitam berkilat seukuran kemiri.

"Tidak, Mbah," katanya hati-hati. "Biasa saja."

"Ah." Mbah Karta mengangguk-angguk, matanya setengah terpejam. "Bambu kuning memang ringan. Tapi kadang yang ringan bisa membawa yang berat." Ia menguap. "Simpan saja di situ. Jangan dibuka. Jangan dibakar. Jangan dibuang ke kali. Tempat itu yang paling baik."

Satyaki berdiri membeku di ambang pintu.

Mbah Karta sudah mendengkur lagi.

Satyaki menoleh ke Dira. Dira menoleh ke Satyaki. Mereka saling menatap lama sekali tanpa berkata apa-apa.

"Juru masak itu," bisik Ki Jalak dengan suara orang yang sudah terlalu lelah untuk kaget, "tahu segalanya. Aku sudah berhenti bertanya bagaimana. Aku hanya ingin tahu satu hal sekarang."

Apa?

"Kalau dia tahu segalanya, kenapa dia membiarkanmu digigit ular?"

Dira tidak bisa menjawab.

Tetapi ia teringat sesuatu. Malam di bawah batu yang menjorok seperti atap, di lereng sebelah barat lembah kabut. Celeng Wesi yang datang dari utara, mata merah di dalam gelap, dua taring melengkung. Babi hutan itu menatapnya lama. Lalu pergi. Dengan dengusan yang terdengar, kata Ki Jalak, seperti gerutu orang tua.

Babi hutan yang sudah membunuh tiga pencari kayu dewasa. Babi hutan yang tidak lapar malam itu, atau yang mengenali orang yang membuatnya kehilangan dua taring.

Atau babi hutan yang mencium sesuatu di dalam gelap di belakang Dira. Sesuatu yang lebih ia takuti.

Dira menatap Mbah Karta yang mendengkur di samping tungku batu, kakinya yang berlumpur terjulur di lantai tanah, debu hitam berkilau di sela-sela kukunya.

Ia tidak bertanya.


Malam ketiga datang dengan tenang.

Gendhis datang menjelang senja membawa nasi, sayur, dan kabar. Kabar dari Gendhing, yang sepanjang hari menyebarkan cerita bahwa Sudira di gubuk orang sakit sudah tidak bisa bicara, sudah tidak bisa makan, kulitnya sudah kuning seperti kunyit, dan Mbah Karta yang pikun sudah duduk di sampingnya seharian seperti orang yang menunggu ajal.

"Mbok Darsih menangis di dapur tadi siang," kata Gendhis, meletakkan nampan di lantai. "Dia tidak memasak sambal lagi. Kang Paidi mulai mengumpulkan kayu untuk..." Ia berhenti. "Untuk pembakaran."

"Kau tidak memberitahu mereka?"

"Gendhing bilang lebih baik mereka percaya. Kalau mereka percaya, orang lain juga percaya." Gendhis menatap Dira. "Dan murid dalam berwajah biasa itu datang lagi ke dapur sore tadi. Dia bertanya kepada Mbok Darsih. Mbok Darsih menangis di depannya. Sungguhan. Murid dalam itu tersenyum dan pergi."

Malam itu tak seorang pun datang ke gubuk orang sakit.

Wulansari bernyanyi sekali. Bait pertama saja. Pelan, hampir berbisik, sambil menyeka dahi Dira dengan kain basah. Di Balai Sukma, Ki Jalak bertengger di salah satu potongan dahan yang terbelah, memejamkan mata, dan Sapu Angin bertengger di potongan yang lain, bersenandung cicit-cicit kecil mengikuti irama. Lantai batu hitam kering. Tenang.

Dira tidur. Untuk pertama kalinya dalam lima malam, ia tidur sungguhan. Tanpa mimpi. Tanpa genangan hitam. Tanpa kakinya mengetuk-ngetuk lantai.

Malam ketiga lewat.


Ia terbangun karena tawa.

Bukan tawa keras. Tawa yang ditahan, tercekik, seperti orang yang menutup mulutnya dengan kedua tangan dan masih tidak berhasil. Dira membuka mata.

Fajar hari keempat. Langit di atas bolongan atap ijuk kelabu kemerahan.

Gendhing berdiri di ambang pintu gubuk, terengah-engah seperti baru berlari dari dapur, rambutnya yang seperti sarang manyar berdiri ke segala arah. Ia menatap Satyaki, yang duduk bersandar di dinding gedek dengan wajah merah padam dan kedua tangan menutupi mulutnya, bahunya berguncang-guncang.

"Apa?" bisik Dira. "Ada apa?"

Gendhing menoleh ke Dira. Matanya membelalak. Lalu, karena ia Gendhing, karena ia tidak pernah bisa menyimpan apa pun lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk merebus telur, ia langsung menceritakannya.

"Penjaga gerbang barat," katanya terengah-engah. "Murid luar yang jaga malam. Tadi subuh dia ke dapur minta wedang jahe. Dia cerita ke Mbok Darsih. Katanya semalam, tengah malam, dari arah Hutan Larangan, dari tempat yang jauh di dalam, ada asap. Asap tipis. Naik ke langit." Gendhing menelan ludah. "Dan baunya..."

"Baunya?"

"Baunya," kata Gendhing, "seperti orang bikin sambal."

Dira menatapnya.

"Sambal kemiri," lanjut Gendhing. "Kemiri bakar. Kata penjaga itu, baunya sampai ke gerbang barat, kuat sekali, harum sekali, sampai perutnya keroncongan semalaman. Dia bilang pasti ada orang gila yang bikin sambal kemiri di tengah Hutan Larangan tengah malam." Gendhing mengerutkan dahinya. "Siapa yang bikin sambal kemiri di Hutan Larangan?"

Di sudut gubuk, Satyaki kehilangan kendali. Ia tertawa. Terbahak. Tawa yang serak dan pecah dan membuatnya memegangi dadanya yang terbebat dan meringis kesakitan, tetapi ia tidak bisa berhenti.

Dira juga tidak bisa.

Ia tertawa sampai rusuknya sakit, sampai air mata keluar, sampai Wulansari yang terbangun di sampingnya menatapnya dengan bingung, sampai Mbah Karta yang mendengkur di samping tungku membuka sebelah matanya dan bergumam sesuatu tentang anak-anak zaman sekarang yang tidak bisa membiarkan orang tua tidur.

Biarkan kering tiga malam. Di tempat gelap. Jangan disentuh tangan. Lalu kita tumbuk.

Tiga malam. Kemiri bakar yang digosok getah bunga. Ditumbuk. Dicampur. Dibakar di lingkaran abu di tengah Hutan Larangan, di depan orang-orang berjubah hitam yang menunggu asap dingin yang membuat orang lupa diri.

Dan yang keluar adalah bau sambal.

"Bocah," kata Ki Jalak, terengah-engah oleh tawa, "bocah, aku... aku tidak bisa... sambal... SAMBAL KEMIRI..."

"Cicit!" kata Sapu Angin.

Lalu tawa itu berhenti.

Mendadak. Seperti pintu yang dibanting. Karena dari luar gubuk, dari arah jalan setapak yang menuju dapur, terdengar langkah kaki.

Bukan langkah kaki Gendhis. Bukan langkah kaki Gandawasa yang berat dan menyeret. Langkah kaki yang ringan. Pelan. Nyaris tanpa suara di atas tanah yang basah oleh embun.

Langkah kaki orang yang sudah bertahun-tahun berjalan diam-diam di malam hari.

Gandawasa, yang duduk di ambang pintu, bangkit. Perlahan. Tubuhnya yang lebar mengisi kusen pintu yang reyot, membelakangi gubuk, menghadap ke luar.

Satyaki berhenti tertawa. Tangannya bergerak ke Kyai Pring Kuning.

Mbah Karta membuka matanya. Keduanya. Dan untuk sesaat, sekejap saja, mata itu tidak keruh.

Lalu suara itu terdengar. Lembut. Hangat. Seperti gula aren yang dilelehkan di atas tungku.

"Gandawasa," kata Ki Wiradhana dari luar gubuk. "Minggir, ngger. Aku ingin menjenguk anak itu."