Bab 77Kidung Pepeling
Di Balai Sukma, sesuatu yang beku itu retak.
Bukan dinding beku. Dinding beku di kejauhan itu tetap menjulang, utuh, retakannya bersinar biru pucat seperti cahaya bulan di dasar sumur. Yang retak adalah genangan hitam. Genangan yang tadi membeku seperti air di puncak gunung, setinggi pinggang Dira, melingkupi Ki Jalak dan Sapu Angin, membekukan bentuk-bentuk ular kecil di dalamnya di tengah gerakan mereka.
Kini genangan beku itu retak. Bunyi retakannya halus dan tinggi, seperti bunyi lapisan embun beku di permukaan kolam pegunungan ketika matahari pagi pertama menyentuhnya. Krik. Krik-krik. Retakan-retakan kecil menjalar di permukaannya, bercabang-cabang, seperti akar, seperti dahan, seperti garis di leher Dira.
Dan dari atas, dari kegelapan tempat seharusnya ada atap, suara itu terus jatuh. Setetes demi setetes. Seperti hujan yang sangat pelan.
Turua, turu, cah bagus,
wit gedhe ngayomi ing pucuk gunung...
Setiap tetes suara yang jatuh ke atas genangan beku itu membuat retakan baru. Setiap retakan baru membuat sekeping hitam yang beku terlepas, terangkat, dan melayang ke udara. Lalu, di udara, kepingan itu tidak jatuh. Ia berubah. Memudar. Dari hitam pekat ke kelabu, dari kelabu ke putih, dari putih ke tidak ada. Seperti kabut yang menguap di bawah matahari.
...oyote ing langit, pange ing bumi...
Dira berdiri di tengah Balai Sukma dan menatapnya. Bentuk-bentuk ular kecil yang membeku di dalam genangan hitam itu. Mereka tidak lagi tampak mengancam. Mereka tampak tidur. Melingkar. Kepala-kepala kecil mereka tertunduk di atas tubuh mereka sendiri, seperti anak-anak ular yang meringkuk di dalam sarang. Dan ketika genangan beku di sekeliling mereka retak dan terangkat dan memudar menjadi kabut putih, mereka ikut memudar. Pelan. Tanpa perlawanan. Seperti anak-anak yang tertidur di pangkuan dan tidak pernah bangun lagi, hanya pergi ke tempat lain yang lebih tenang.
...ana sing ngentèni sliramu mulih.
Dan Dira mengerti.
Ia mengerti dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Seperti orang yang tiba-tiba mengerti cara berenang setelah bertahun-tahun tenggelam. Seperti ketika ia berhenti menghitung langkah dan Langkah Jalak Ngumbara mengalir sendiri dari tubuhnya.
Kidung ini bukan lagu nina bobo.
Atau, kidung ini memang lagu nina bobo. Tetapi bukan untuk menidurkan dirinya. Bukan untuk menidurkan Dira, bocah yang selalu mimpi buruk, yang dulu dinyanyikan Wulansari kecil di samping tikar di asrama anak asuhan.
Kidung ini untuk menidurkan yang ada di dalam dirinya.
Ia ingat malam ketika ia demam tiga malam, ketika Wulansari menyanyikan kidung ini di depan tungku ketujuh, dan sesuatu di dalam dirinya yang meronta-ronta, yang membakar, yang mendesak dari dalam seperti air yang mendesak bendungan, perlahan menjadi tenang. Ia mengira itu demamnya. Ia mengira itu dirinya yang tenang.
Bukan.
Ia ingat di Balai Sukma, ketika Sapu Angin mengamuk dan menukik ke dinding beku, dan Dira menyanyikan kidung ini, dan burung sriti itu berhenti, melayang, lalu ingat namanya sendiri.
Ia ingat di bawah batang pohon tumbang di Hutan Larangan, ketika Satyaki lupa siapa dirinya dan merangkak ke timur, dan kidung ini yang mengembalikannya.
Ia ingat malam purnama di atap dapur, ketika tanda di lehernya membakar dan retakan di dinding beku memerah dan sesuatu yang sangat besar di baliknya bergerak dalam tidurnya. Ki Jalak berteriak nyanyikan!, dan Dira menyanyikannya, dan panas itu mereda.
Semuanya. Setiap kali. Kidung ini menenangkan.
Bukan Dira. Apa yang ada di dalam Dira.
Jiwa-jiwa. Ki Jalak. Sapu Angin. Racun ular yang hidup dan berenang seperti anak-anak ular. Dan sesuatu di balik dinding beku, yang ia tidak tahu apa, yang sangat besar, yang tidur sangat lama, dan yang kini, ketika retakan di dinding beku itu bersinar biru pucat, tampak...
Tenang.
Tidur lebih dalam. Seperti bayi yang akhirnya terlelap setelah lama menangis.
Kidung Pepeling. Kidung pengingat. Kidung yang mengingatkan.
Meski dunia melupakanmu, jangan sampai kau lupa namamu.
Kidung yang mengingatkan setiap jiwa di dalam Wadah siapa dirinya. Supaya tidak saling melupakan. Supaya tidak saling menelan. Supaya Wadah itu sendiri tidak lupa siapa dirinya, di tengah begitu banyak suara.
"Kau mengerti," kata sebuah suara.
Dira menoleh.
Ki Jalak berdiri.
Bukan terkulai. Bukan setengah tenggelam di genangan hitam. Berdiri di atas lantai batu hitam yang kini kering, di tengah kabut putih tipis yang tersisa dari genangan hitam yang memudar. Bulu-bulunya masih basah dan kusut. Sayap kirinya masih kehilangan satu bulu. Tetapi ia berdiri, dan matanya yang kecil dan hitam menatap ke atas, ke kegelapan tempat suara Wulansari jatuh setetes demi setetes.
"Aku pernah mendengar itu," bisiknya. "Bait kedua. Aku pernah mendengarnya."
"Di mana?"
"Bukan di sini. Bukan di tubuhmu. Bukan di gudang rongsokan, bukan di sumur, bukan di mana pun yang pernah kuingat sejak aku bangun." Ki Jalak memiringkan kepalanya, seperti burung yang mendengarkan suara di kejauhan. "Di pohon itu. Di dahan-dahannya. Bukan dinyanyikan orang. Dinyanyikan... angin. Angin di antara daun-daunnya, ribuan daun, seperti pasar yang sangat jauh. Kadang angin itu bernyanyi. Dan nyanyiannya seperti ini."
Ia diam. Mendengarkan.
...oyote ing langit, pange ing bumi...
"Seperti ini," bisiknya lagi. "Tepat seperti ini. Nadanya. Iramanya. Dan seseorang yang duduk di bawah pohon itu, seseorang yang bersiul menjawabku... dia juga menyanyikannya kadang-kadang. Kepada pohon. Kepada angin. Kepadaku."
"Siapa?"
Ki Jalak menggeleng. Lambat. Lelah. "Aku tidak tahu. Aku hanya ingat lagunya. Aku tidak ingat yang menyanyikannya." Ia menghela napas yang bukan napas. "Tapi bocah, siapa pun yang mengajarkan bait itu kepada tetua dingin yang mengajarkannya kepada adikmu, dia pernah duduk di bawah Ringin Sungsang. Atau dia mengenal seseorang yang pernah."
Di dahan yang terbelah, Sapu Angin bergerak.
Burung sriti kecil itu mengangkat kepalanya. Mengepakkan sayapnya sekali, lemah. Dua kali, lebih kuat. Lalu terbang. Tidak cepat. Tidak melesat seperti biasanya. Pelan, berputar-putar di udara Balai Sukma di atas kabut putih yang tersisa, seperti burung yang menari di bawah hujan pertama setelah kemarau panjang.
Dan ia bercicit. Bukan cicit marah. Bukan cicit cemas. Cicit yang berirama. Mengikuti nada suara Wulansari yang jatuh dari atas.
Mengikuti kidung itu.
"Lihat dia," gumam Ki Jalak. "Sriti bodoh. Ikut menyanyi." Jeda. "Dan sumbang."
"Kau juga sumbang."
"Aku tua. Aku boleh sumbang."
Dira tertawa. Di Balai Sukma, tawanya bergema di ruang luas tanpa ujung, bercampur dengan kidung Wulansari dan cicit Sapu Angin, dan kabut putih terakhir dari racun ular itu memudar dan lenyap.
Lantai batu hitam di bawah kakinya kering. Bersih.
Di gubuk, Dira membuka mata.
Fajar. Langit di atas bolongan atap ijuk kelabu kebiruan, seperti abu tungku. Malam kedua sudah lewat.
Ia basah kuyup. Keringat mengalir dari seluruh tubuhnya, membasahi tikar pandan di bawahnya, membasahi kain kompres di dadanya. Dan keringat itu bukan keringat biasa. Abu-abu. Kehitaman. Berbau amis dan pahit, seperti air bekas cucian kuali yang dibiarkan semalaman.
Racun itu keluar. Lewat kulitnya. Seperti kabut putih yang memudar di Balai Sukma.
Dan ia tidak dingin lagi.
Kehangatan merayap kembali ke tubuhnya. Pelan. Dari jari-jari tangan, dari jari-jari kaki, dari bawah pusar tempat ia selalu menurunkan napas. Seperti matahari yang terbit di atas sawah yang membeku oleh embun.
Ada sesuatu yang berat di dadanya. Hangat. Bernapas pelan.
Ia menunduk.
Wulansari tertidur. Kepalanya tergeletak di atas dada Dira, di atas kain kompres yang basah, rambutnya yang terurai menutupi separuh wajahnya. Kedua tangannya masih menggenggam tangan Dira. Bibirnya masih bergerak sedikit dalam tidur, membentuk kata-kata tanpa suara. Turua. Turu. Cah bagus.
Dira tidak bergerak. Ia tidak ingin membangunkannya.
Di sudut gubuk, Satyaki duduk bersandar ke dinding gedek yang bolong, Kyai Pring Kuning di pangkuannya. Matanya terbuka. Menatap Dira. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk sekali. Pelan. Lalu matanya terpejam, dan kepalanya terkulai ke samping, dan untuk pertama kalinya dalam empat malam, napasnya yang selalu tersendat di dada menjadi pelan dan teratur.
Tertidur.
Dan di ambang pintu, sesosok tubuh lebar dan berat yang berdiri seperti tiang sepanjang dua malam akhirnya merosot. Pelan. Punggungnya menyusur kusen pintu yang reyot sampai ia terduduk di ambang, kaki terjulur ke luar, kepala tersandar ke kusen.
Lalu terdengar dengkuran. Keras. Dalam. Berirama. Seperti kerbau yang mendengkur di kandang setelah seharian membajak sawah.
"Itu," bisik Ki Jalak, suaranya masih lemah tetapi jelas, "adalah bunyi paling indah yang pernah kudengar dari mulut Ki Caping."
Dira menutup matanya dan tersenyum.
Wulansari terbangun ketika matahari sudah naik setinggi pucuk pohon di timur.
Ia mengangkat kepalanya dari dada Dira, perlahan, bingung, seperti orang yang lupa ia tertidur di mana. Lalu ia melihat wajah Dira. Matanya yang terbuka. Bibirnya yang tidak lagi biru.
Lalu ia menarik kain kompres dari dada Dira dan menatap kulit di bawahnya.
Garis hitam itu tidak ada.
Tidak di dada. Tidak di sisi perut. Tidak di pinggul. Wulansari menarik jarik di atas kaki kiri Dira. Garis itu tidak ada di paha. Tidak di lutut. Hanya luka sayatan di betis yang dibalut kain bersih oleh Gendhis, dan kulit di sekelilingnya yang masih sedikit keunguan, seperti memar yang sudah tua dan hampir sembuh.
Wulansari menatap kaki itu lama. Lalu ia menatap wajah Dira.
Dan ia menangis.
Bukan tangis yang keras. Bukan tangis yang meraung. Tangis yang diam, air mata yang mengalir begitu saja dari mata yang bengkak, sementara bibirnya terkatup rapat dan bahunya bergetar. Tangis orang yang sudah menahannya terlalu lama.
"Bodoh," bisiknya. "Abdi bodoh. Kangmas bodoh. Pergi ke hutan. Melawan ular. Pulang dengan racun. Tidak bilang apa-apa." Ia memukul dada Dira dengan kepalan tangan kecilnya. Pelan. Sekali. Dua kali. "Tidak bilang apa-apa. Lagi."
"Aku tidak bilang 'tidak apa-apa'," bisik Dira. Suaranya masih serak, tetapi keluar.
"Kau tidak bilang apa-apa sama sekali! Itu lebih buruk!"
"Dia benar," gumam Ki Jalak.
Dira mengangkat tangannya, berat, lemah, dan menyentuh pipi adiknya. Menyeka air matanya dengan ibu jari, seperti dulu, waktu mereka kecil dan Wulansari menangis karena digigit kambing bermata jahat.
"Bait kedua," bisiknya. "Dari mana?"
Wulansari berhenti menangis. Ia menatapnya. Lalu menatap ke sudut gubuk, ke Satyaki yang tertidur. Ke ambang pintu, ke Gandawasa yang mendengkur. Lalu kembali ke Dira.
"Nyai," katanya pelan. "Aku sudah bilang. Nyai yang mengajarkannya. Di kebun obat."
"Dan dari mana Nyai mendapatkannya?"
Wulansari diam lama.
"Aku pernah bertanya," katanya akhirnya. "Waktu aku kecil. Setelah aku hafal bait kedua. Aku bertanya, Nyai, siapa yang membuat kidung ini? Dan Nyai..." Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Nyai tidak menjawab. Lama sekali. Dia cuma menatap pohon jambu air. Lalu dia bilang..."
Ia berhenti.
"Bilang apa?"
"Dia bilang, dari seseorang yang menyanyikannya untuk kakakmu, sebelum kakakmu bisa mengingat apa pun." Wulansari menatap Dira. "Lalu dia menyuruhku pulang. Dan tidak pernah membicarakannya lagi."
Dira tidak bernapas.
Sebelum kakakmu bisa mengingat apa pun.
Sebelum Nyai menemukannya di tepi hutan di bawah hujan. Sebelum asrama anak asuhan. Sebelum Wulansari. Sebelum segalanya.
Seseorang menyanyikan kidung ini untuknya. Untuk bayi yang belum bisa mengingat apa pun. Seseorang yang tahu tentang Wadah. Yang tahu tentang gema. Yang tahu tentang Ringin Sungsang dan akar di langit dan dahan di bumi.
Yang tahu bahwa suatu hari bayi itu akan membawa begitu banyak suara di dalam dirinya sampai lupa suaranya sendiri.
Ana sing ngentèni sliramu mulih.
Ada yang menantimu pulang.
Bayangan jatuh di ambang pintu.
Bukan bayangan Gandawasa yang mendengkur. Bayangan lain. Kecil. Bungkuk. Bayangan seseorang yang berdiri di luar gubuk, di bawah cahaya matahari pagi, menatap ke dalam.
Dira menoleh.
Di belakang Gandawasa yang tertidur di ambang pintu, berdiri seorang lelaki tua. Kepalanya botak dan mengilat seperti kendi terbalik. Wajahnya keriput. Matanya keruh dan berkedip-kedip lambat, seperti mata kura-kura. Di tangan kanannya ada sendok kayu panjang yang selalu ia bawa ke mana-mana. Di tangan kirinya ada sebuah bungkusan daun pisang yang masih mengepul.
Kakinya kotor. Sangat kotor. Lumpur kemerahan mengering sampai ke betis. Dan di atas lumpur itu, di jari-jari kakinya, di tumitnya, di sela-sela kuku-kukunya, ada debu.
Debu hitam. Halus. Berkilau sedikit di bawah matahari pagi, seperti batu asah yang digosok bertahun-tahun.
Seperti debu dari tebing hitam.
Mbah Karta menatap Dira lama. Lalu menatap Wulansari. Lalu menatap Satyaki yang tertidur. Lalu menatap Gandawasa yang mendengkur di ambang pintu, tepat di depan kakinya.
Ia melangkahi kaki Gandawasa dengan hati-hati, menyeret kakinya yang kotor, dan masuk ke dalam gubuk.
"Sup tulang sapi gosong," katanya, sambil meletakkan bungkusan daun pisang yang mengepul itu di atas bale-bale bambu, di samping tangan Dira. "Kebanyakan masak tadi pagi."