Sang Penelan Pusaka

Bab 76Malam Kritis

Dira tidak tahu ia di mana.

Kadang ia di Balai Sukma, berdiri di atas lantai batu hitam yang tertutup genangan cairan hitam setinggi mata kaki. Dingin. Kental. Bergerak. Bentuk-bentuk seperti ular kecil berenang di dalamnya, menyentuh kakinya, membelit pergelangan kakinya, naik. Di kejauhan, dua burung terkulai di lantai, yang satu hitam berbercak putih, yang satu kelabu kebiruan, setengah tenggelam dalam genangan itu.

Kadang ia di gubuk. Ia tahu itu gubuk karena ada atap ijuk di atasnya, bolong di beberapa tempat, dan dari bolongan itu ia bisa melihat bintang. Ada bau asap dari tungku batu kecil. Ada bau kunyit dan jahe dan air hangat. Ada tangan-tangan yang menyentuh dahinya, menyeka wajahnya, menekan kain basah ke dadanya.

Ada suara-suara.

"...dingin sekali. Kenapa dia dingin sekali? Demam seharusnya panas..."

"...racun ular. Bukan demam. Racun ular membuat tubuh dingin..."

"...Kangmas. Kangmas, dengar aku. Kangmas..."

Lalu Balai Sukma lagi. Genangan hitam sudah setinggi lutut. Lalu gubuk lagi. Lalu Balai Sukma. Bergantian, seperti napas. Seperti ombak.


Ketika ia membuka mata dan benar-benar melihat, langit di atas bolongan atap ijuk sudah berubah warna. Bukan hitam bertabur bintang. Kelabu. Fajar.

Malam pertama sudah lewat.

Wajah Wulansari ada di atasnya. Pucat. Matanya merah dan bengkak. Rambutnya yang biasanya diikat rapi dengan udeng biru murid luar terurai berantakan, basah oleh keringat dan embun. Ia duduk di tepi bale-bale bambu yang reyot, satu tangannya menggenggam tangan Dira, tangan yang lain menekan kain basah ke dahinya.

Ia tidak menangis. Dira bisa melihat ia sudah menangis, mungkin sepanjang malam, tetapi sekarang ia tidak menangis. Ia hanya menatap. Seperti di bawah pohon sawo, waktu Dira datang dengan wajah babak belur setelah malam di lumbung.

"Kangmas," katanya.

Dira membuka mulut. Yang keluar hanya napas, serak dan tipis.

"Jangan bicara." Wulansari menekan jari telunjuknya ke bibir Dira. Dingin. "Jangan bicara apa-apa. Terutama jangan bilang yang itu."

Dira hampir tertawa. Rasanya seperti tulang-tulangnya akan patah kalau ia tertawa.

Di belakang Wulansari, di sudut gubuk, Satyaki duduk bersandar ke dinding gedek yang bolong. Matanya terpejam. Bahu kirinya masih terbebat jarik. Kyai Pring Kuning tergeletak melintang di pangkuannya, kedua tangannya mencengkeram batang bambu itu seperti orang yang takut tongkatnya dicuri dalam tidur. Ia tidak tidur. Dira bisa mendengar napasnya. Tersendat di dada, seperti biasa. Terjaga.

Di ambang pintu, membelakangi semuanya, berdiri sesosok tubuh yang lebar dan berat. Gandawasa. Ia berdiri di sana seperti tiang. Kedua tangannya yang terbalut kain lusuh tergantung di sisi tubuhnya. Kepalanya bergerak pelan dari kiri ke kanan, ke kiri lagi, mengawasi jalan setapak yang menuju gubuk.

Dira tidak tahu sejak kapan ia berdiri di sana. Mungkin sejak tengah malam. Mungkin sejak ia membaringkan Dira di bale-bale ini.

"Dia tidak mau pergi," bisik Wulansari, mengikuti arah tatapan Dira. "Aku menyuruhnya tidur. Satyaki menyuruhnya tidur. Gendhis menyuruhnya tidur. Dia tidak mau. Dia bilang kalau dia pergi, seseorang akan datang."

"Siapa?" bisik Dira. Suaranya hampir tak terdengar.

Wulansari tidak menjawab. Tetapi tangannya yang menggenggam tangan Dira mengencang.


Racun itu tidak berhenti.

Dira bisa merasakannya sepanjang hari. Dingin yang hidup di dalam dadanya, di sisi rusuknya, merayap pelan. Kadang mundur sedikit, ketika ia bernapas dalam-dalam dan menurunkan napas ke bawah pusar. Lalu maju lagi, ketika ia terlalu lelah untuk bernapas dalam-dalam.

Di Balai Sukma, genangan hitam itu sudah setinggi pinggang. Ia berdiri di dalamnya dan merasakannya menekan, dingin dan berat, seperti berdiri di sungai di musim hujan. Ki Jalak dan Sapu Angin tidak bergerak. Keduanya terkulai di lantai batu hitam, separuh tenggelam. Dira mencoba mendekati mereka. Kakinya tidak mau bergerak. Seperti kaki orang yang bermimpi berlari.

Gendhis datang menjelang siang membawa air hangat, bubur nasi, dan sebaskom kecil air rebusan daun sirih. Ia membersihkan luka sayatan di betis Dira tanpa berkata apa-apa, dengan bibir terkatup rapat dan tangan yang tidak gemetar. Luka itu sudah tidak mengeluarkan darah hitam lagi. Hanya merah, sedikit, dan bau amis yang samar.

"Mbah Karta?" bisik Dira.

Gendhis menggeleng. "Tidak ada. Sejak tiga hari lalu. Sejak kau berangkat ke hutan. Mbok Darsih bilang dia pamit ke pasar desa bawah, membeli garam." Ia memeras kain di baskom. "Tiga hari membeli garam."

"Dia tidak pernah ke pasar."

"Aku tahu." Gendhis membalut luka itu dengan kain bersih. Simpulnya sederhana, simpul abdi dapur. "Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi."

Lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dira dan berbisik sangat pelan, supaya Wulansari, yang sedang menyuapkan bubur kepada Satyaki di sudut, tidak mendengar.

"Murid dalam itu," bisiknya. "Yang wajahnya biasa saja. Yang selalu membawa pesan Ki Wiradhana. Tadi pagi dia datang ke dapur. Bertanya kepada Mbok Darsih, di mana abdi bernama Sudira. Mbok Darsih bilang dia tidak tahu." Gendhis menelan ludah. "Lalu dia bertanya kepada Gendhing."

Dira menatapnya.

"Gendhing bilang kau di gubuk orang sakit. Kena demam kuning. Menular. Sangat menular. Siapa pun yang masuk bisa ikut kena dan matanya jadi kuning seperti kunyit dan kulitnya mengelupas seperti ular berganti kulit." Sudut bibir Gendhis bergerak sedikit, hampir tersenyum. "Gendhing bilang, kemarin Mbok Darsih masuk sebentar dan sekarang kukunya sudah mulai kuning."

"Mbok Darsih tidak pernah masuk."

"Aku tahu. Tapi murid dalam itu tidak tahu. Dan Mbok Darsih, waktu ditanya, langsung menunjukkan kukunya. Yang memang kuning. Karena dia baru selesai menumbuk kunyit." Gendhis berdiri dan mengangkat baskomnya. "Murid dalam itu tidak datang ke sini."

"Kembar itu," kata sebuah suara yang sangat lemah, sangat jauh, dari dasar Balai Sukma. "Kembar itu... kalau mereka tidak pernah jadi abdi... mereka akan jadi... jadi apa ya... jadi penari topeng... paling hebat..."

Dira menahan napas.

Ki Jalak?

Tak ada jawaban. Hanya genangan hitam yang bergerak pelan. Ki Jalak masih terkulai di lantai batu, matanya terpejam. Mungkin ia bermimpi. Mungkin ia mengigau.

Tetapi ia bicara. Itu cukup.


Malam kedua datang dengan pelan dan dingin.

Dira tidak bisa lagi membedakan gubuk dan Balai Sukma. Keduanya gelap. Keduanya dingin. Di keduanya ada sesuatu yang menekan dadanya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti mengangkat karung beras.

Garis hitam di bawah kulitnya sudah sampai ke dada. Wulansari melihatnya ketika ia membuka baju Dira untuk mengganti kain kompres. Satu garis tipis yang menjalar dari sisi perutnya, melewati rusuk, ke tengah dada. Tepat di atas jantung.

Wulansari menatap garis itu lama. Lalu ia menutupi dada Dira lagi dengan kain kompres yang baru, dan tangannya gemetar untuk pertama kalinya sepanjang hari.

"Kakang Satyaki," katanya pelan, tanpa menoleh.

Satyaki membuka mata.

"Kau bilang di hutan, Kangmas menyelamatkanmu." Wulansari tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Dira. "Kau bilang kau lupa namamu. Lupa semuanya. Dan Kangmas mengembalikannya." Ia berhenti. "Dengan apa?"

Satyaki diam. Ia menatap punggung Wulansari lama. Lalu ia menatap Dira.

Dira bisa melihat kepala murid luar itu bekerja. Menimbang. Sumpah yang diucapkan di atas Kyai Pring Kuning. Apa yang kudengar pagi ini akan mati bersamaku. Ki Jalak. Pusaka di dalam tubuh. Balai Sukma. Satyaki tidak boleh menceritakan itu. Ia sudah bersumpah demi nasi dan demi tongkat yang tidak terpotong.

Tetapi kidung itu bukan bagian dari sumpahnya.

"Kidung," kata Satyaki akhirnya. "Dia menyanyikan kidung untukku. Kidung nina bobo. Turua, turu, cah bagus." Ia berhenti. "Kidung yang katanya kau nyanyikan untuknya di depan tungku. Waktu dia demam tiga malam."

Wulansari tidak bergerak.

"Aku tidak tahu kenapa kidung itu bekerja," lanjut Satyaki pelan. "Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kidung itu. Tapi aku tahu waktu aku tidak tahu siapa diriku, kidung itu yang pertama kali kudengar. Dan aku ingat namaku."

Lama tak ada yang berbicara. Di tungku batu kecil, api berderak pelan. Di ambang pintu, Gandawasa berdiri tegak seperti tiang, membelakangi semuanya, kepalanya bergerak pelan dari kiri ke kanan.

Lalu Wulansari menarik napas.


Ia bernyanyi.

Turua, turu, cah bagus...

Suaranya pelan. Jernih. Bergetar sedikit di nada-nada tinggi, seperti air yang mengalir di atas batu-batu kecil. Bukan suara penyanyi. Suara gadis anak asuhan yang belajar menyanyi dari tetua dingin yang mengajarinya membaca aksara di atas pasir.

...lintang sumebar ing langit peteng...

Di Balai Sukma, sesuatu bergerak di genangan hitam itu. Riak. Kecil. Seperti setetes air hujan pertama yang jatuh di permukaan kolam.

...sanadyan donya lali marang kowe...

Riak lagi. Dua. Tiga. Menyebar dari suatu titik di atas Balai Sukma, di kegelapan tempat seharusnya ada atap. Seperti suara itu jatuh dari langit, setetes demi setetes, ke atas permukaan genangan hitam yang dingin.

...aja nganti kowe lali marang jenengmu.

Genangan hitam itu bergetar.

Tidak surut. Tidak mundur. Bergetar. Seperti kulit kendang yang dipukul pelan. Bentuk-bentuk ular kecil di dalamnya berhenti berenang. Diam. Seperti mendengarkan.

Lalu Wulansari mengulanginya dari awal. Dan lagi. Dan lagi. Suaranya tidak makin keras. Tetapi makin jernih. Makin dalam. Makin dekat.

Di dahan yang terbelah, sesuatu yang kelabu kebiruan bergerak sedikit. Sayap runcing yang terkulai bergetar.

Di lantai batu hitam, burung jalak yang separuh tenggelam membuka satu matanya. Sedikit. Seperti orang yang terbangun dari tidur yang sangat dalam dan belum yakin di mana ia berada.

Tetapi genangan hitam itu tidak surut.

Racun itu terlalu dalam. Terlalu lama. Kidung itu menghentikannya, tetapi tidak mengusirnya. Bentuk-bentuk ular kecil itu diam, mendengarkan, tetapi tetap di sana. Dan di dunia luar, garis hitam di dada Dira tidak bergerak maju. Tetapi tidak bergerak mundur juga.

Diam. Tepat di atas jantung.

Menunggu.


Wulansari berhenti bernyanyi.

Bukan karena lelah. Dira bisa merasakannya, bahkan dari dalam kegelapan Balai Sukma. Ia berhenti karena ragu. Karena ada sesuatu yang ia pikirkan, sesuatu yang ia timbang-timbang, seperti orang yang berdiri di depan pintu yang terkunci dan memegang anak kunci yang tak pernah boleh dipakai.

"Ada bait kedua," bisiknya.

Satyaki menatapnya.

"Nyai yang mengajarkannya padaku," kata Wulansari, sangat pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Waktu aku masih kecil. Waktu aku pertama kali belajar kidung ini, untuk menidurkan Kangmas yang selalu mimpi buruk. Nyai mengajarkan bait pertama. Lalu, setelah aku hafal, dia membawaku ke kebun obat, ke bawah pohon jambu air, dan mengajarkan bait kedua." Ia berhenti. "Dia bilang bait kedua tidak boleh dinyanyikan sembarangan. Tidak boleh dinyanyikan untuk menidurkan. Tidak boleh dinyanyikan di depan siapa pun."

"Lalu kapan boleh?"

Wulansari menatap wajah Dira. Pucat. Dingin. Napas yang pendek dan dangkal. Garis hitam di dada, tepat di atas jantung.

"Nyai bilang," bisiknya, "bait kedua hanya boleh dinyanyikan kalau orang yang paling kau sayangi hampir pergi. Dan kau sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menahannya."

Ia menggenggam tangan Dira dengan kedua tangannya.

Lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dira, begitu dekat sehingga rambutnya yang terurai jatuh menutupi wajah mereka berdua seperti tirai, dan ia bernyanyi lagi. Lebih pelan dari sebelumnya. Hampir berbisik. Nada yang sama. Lagu yang sama. Tetapi kata-kata yang belum pernah Dira dengar seumur hidupnya.

Turua, turu, cah bagus,

wit gedhe ngayomi ing pucuk gunung...

Di Balai Sukma, burung jalak yang separuh tenggelam membuka kedua matanya. Lebar.

...oyote ing langit, pange ing bumi...

Genangan hitam itu berhenti bergetar. Membeku. Seperti air yang tiba-tiba membeku di puncak gunung.

Dan jauh di ujung Balai Sukma, di dinding beku yang menjulang dari lantai batu hitam sampai ke kegelapan tak berujung, retakan setipis rambut yang belum pernah menutup sejak malam purnama tiba-tiba bersinar.

Bukan merah. Bukan seperti besi yang dipanaskan.

Biru. Biru pucat yang terang dan dingin. Seperti garis di leher Dira. Seperti cahaya bulan di dasar sumur.

...ana sing ngentèni sliramu mulih.