Bab 65Kabut Penyesat
"Jangan bicara," kata Dira.
"Kenapa?"
Suara Satyaki datang dari kiri, tempat tali ijuk menarik. Lalu, sesaat kemudian, gemanya datang dari kanan, dari belakang, dari atas, kenapa, kenapa, kenapa, seperti puluhan Satyaki yang berbisik di dalam kabut.
"Karena kalau kau bicara, aku tidak tahu yang mana kau."
Hening.
Lalu tali ijuk di pinggang Dira tersentak dua kali. Pendek-pendek. Satu, dua.
Dira hampir tertawa. Kode kerikil. Satu: orang. Dua: babi hutan. Tiga: lari. Hanya saja kali ini bukan kerikil. Tali.
Ia menyentak tali itu sekali sebagai jawaban. Orang. Aku di sini.
Tali itu tersentak sekali dari seberang. Aku juga.
"Bocah itu," bisik Ki Jalak, "akan menjadi panglima. Aku sudah memutuskan. Bukan maling. Panglima."
Mereka berjalan.
Itu bukan keputusan yang baik. Dira tahu itu. Berjalan di dalam kabut yang begitu tebal sampai tangan sendiri tak terlihat adalah keputusan yang sangat buruk. Tetapi diam di tempat lebih buruk. Kabut ini hangat dan lembap dan bernapas, dan setiap kali Dira berdiri diam, ia merasakan sesuatu. Seperti tangan yang tak terlihat menyentuh tengkuknya. Seperti napas yang berembus di telinganya.
Jadi mereka berjalan. Pelan. Kaki di depan kaki. Tangan terulur ke depan, meraba-raba. Ke barat. Ke arah yang Dira kira barat.
Ia menghitung langkahnya. Seratus. Dua ratus. Tiga ratus.
Di langkah ke-tiga ratus empat puluh, tangannya menyentuh batang pohon.
Ia merabanya. Kulit kayu yang kasar, berlumut tebal. Lalu jari-jarinya menemukan sesuatu yang lain. Goresan. Tiga goresan sejajar, sedalam ruas jari, masih basah oleh getah.
Ia mengenali goresan itu. Ia yang membuatnya. Dengan pisau kupas, di langkah pertama ketika kabut naik, supaya ia tahu kalau mereka kembali ke tempat yang sama.
Mereka kembali ke tempat yang sama.
"Lingkaran," kata Ki Jalak pelan. "Kita berjalan dalam lingkaran."
Dira menyentak tali tiga kali. Lari. Lalu cepat-cepat menyentaknya lagi sekali, bukan, orang, berhenti, karena ia tidak bermaksud mengatakan lari. Ia hanya ingin Satyaki tahu bahwa ada yang salah.
Tali itu tersentak dari seberang. Sekali. Lalu sekali lagi. Lalu dua kali.
Orang. Orang. Babi hutan?
Dira tidak tahu bagaimana menjawab bukan babi hutan, kita tersesat dalam lingkaran dengan tali ijuk. Jadi ia berbisik, sangat pelan, langsung ke arah tali menarik:
"Pohon yang sama. Kita kembali."
Hening. Lalu, dari arah kirinya, suara Satyaki, juga berbisik:
"Aku tahu. Aku juga menandainya. Dengan tongkat. Ada bekas tusukan di akarnya."
Lalu gema dari segala arah. Aku tahu, aku tahu, aku juga, aku juga.
Mereka mencoba lagi.
Kali ini Dira tidak menghitung langkah. Ia menghitung pohon. Setiap kali tangannya menyentuh batang, ia menggoreskan tanda baru. Satu goresan untuk pohon pertama. Dua untuk pohon kedua. Tiga untuk pohon ketiga. Begitu seterusnya. Ia berjalan lurus, lurus, sangat lurus, dengan sangat hati-hati supaya tidak berbelok sedikit pun.
Di pohon kesembilan, ia meraba batangnya dan menemukan tiga goresan sejajar, masih basah oleh getah.
Pohon yang pertama.
"Dua kali," kata Ki Jalak.
Dira bersandar ke batang pohon itu dan memejamkan mata. Napasnya mulai cepat. Ia menurunkannya ke bawah pusar dan memutarnya. Sekali. Dua kali.
"Kangmas."
Matanya terbuka.
Suara itu datang dari depan. Dari dalam kabut putih yang hangat dan bernapas. Suara perempuan, muda, jernih, dengan nada yang setengah marah setengah lega, nada yang ia kenal lebih baik dari suaranya sendiri.
"Kangmas, kau di sini? Aku mencarimu. Aku menyusulmu dari gerbang barat. Kangmas, di sini. Aku di sini."
Wulansari.
Dira tidak bergerak.
"Kangmas." Suara itu makin dekat. Makin jelas. Ada getaran di dalamnya sekarang, getaran yang ia kenal dari malam ketika Wulansari menyanyikan Kidung Pepeling di depan tungku. "Kangmas, aku takut. Kabutnya tebal sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Kangmas, tolong. Ikuti suaraku. Di sini."
Kaki Dira bergerak setengah langkah sebelum ia sadar.
Tali ijuk di pinggangnya tersentak keras. Satu kali. Lalu satu kali lagi, lebih keras. Lalu satu kali lagi, begitu keras sampai Dira terhuyung ke kiri.
Orang. Orang. Orang. Aku di sini. Aku yang orang.
Dira berhenti.
"Itu bukan dia," kata Ki Jalak dengan suara yang sangat tajam dan sangat cepat. "Bocah, itu bukan dia. Wulansari di padepokan. Wulansari tidak tahu kau di sini. Wulansari tidak bisa melewati batu peringatan tanpa kau tahu. Itu bukan dia."
Aku tahu.
"Lalu kenapa kakimu bergerak?"
Dira tidak bisa menjawab.
"Kangmas," kata suara Wulansari, kini sangat dekat, sangat pelan, berbisik di telinganya. "Kau berjanji tidak akan bilang 'tidak apa-apa' lagi. Kau berbohong. Kangmas, kambing bermata jahat akan..."
Dira menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Dari kirinya, terdengar suara Satyaki. Bukan berbisik. Berteriak. Teriakan yang pecah dan serak, seperti teriakan anak kecil.
"Bu! Bu, aku di sini! Bu!"
Tali ijuk di pinggang Dira tersentak ke kiri. Keras. Lalu menarik. Satyaki berjalan. Bukan, berlari. Ke dalam kabut. Ke arah suara yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Dira mencengkeram tali itu dengan kedua tangan dan menariknya. Tubuh Raga Puncak-nya, tulang yang ditempa napas gunung, otot yang ditempa tungku ketujuh, menahan tarikan itu seperti tiang jati menahan kerbau yang mengamuk. Satyaki berhenti. Meronta. Menarik lagi.
"Bu!"
Dira menarik tali itu sekuat tenaga, setangan demi setangan, sampai Satyaki terjerembap ke arahnya dan mereka berdua jatuh berguling di atas lumut. Dira mencengkeram bahu Satyaki dengan kedua tangan dan mengguncangnya.
"Satyaki! Bukan ibumu! Bukan!"
Satyaki meronta. Matanya terbuka lebar, nyalang, menatap ke dalam kabut di belakang bahu Dira. Air mata mengalir di pipinya.
"Ibuku," bisiknya. "Ibuku di sana. Dia memanggil namaku. Dia bilang adik-adikku sakit. Dia bilang..."
"Ibumu di Sumberwatu," kata Dira. "Dua hari perjalanan dari sini. Dia tidak tahu kau di sini. Satyaki. Satyaki. Dengar aku. Bukan dia."
Satyaki berhenti meronta. Perlahan. Matanya yang nyalang mulai berkedip. Ia menatap Dira, lalu menatap kabut, lalu menatap Dira lagi.
"Kau dengar juga?" bisiknya. "Suara?"
"Wulan."
Satyaki menutup matanya. Napasnya tersendat di dada, seperti napas yang dulu Dira dengar waktu pertama kali mereka bertemu di belakang gudang rongsokan.
"Kabut ini tahu," bisiknya. "Siapa yang kita rindukan. Dia tahu."
"Kabut penyesat," kata Ki Jalak pelan. "Aku ingat sekarang. Aku pernah mendengarnya. Dulu sekali. Kabut yang tidak menyesatkan kaki, tapi menyesatkan hati. Dia tidak membuatmu berjalan dalam lingkaran. Dia membuatmu ingin berjalan ke arah tertentu. Ke arah suara yang paling kau rindukan. Dan suara itu selalu ada di tengah lingkaran."
Di tengah lingkaran ada apa?
Ki Jalak tidak menjawab. Mungkin ia tidak tahu. Mungkin ia tidak ingin mengatakannya.
Mereka duduk di atas lumut, punggung bersandar ke batang pohon yang bergores tiga, tali ijuk masih mengikat pinggang mereka berdua. Suara-suara di dalam kabut terus berbisik. Wulansari. Ibu Satyaki. Dan sesekali suara-suara lain. Gendhis yang berteriak Diraaa, kayu bakar!. Mbok Darsih yang bercerita tentang wewe gombel. Nyai Rukminiwati yang berkata Sudira, ikut aku.
Dira menutup telinganya dan berpikir.
Mata bisa ditipu. Kabut ini menutup mata.
Telinga bisa ditipu. Kabut ini meniru suara.
Hati bisa ditipu. Kabut ini tahu siapa yang kita rindukan.
Apa yang tidak bisa ditipu?
"Bocah," kata Ki Jalak. "Kakimu."
Kakiku?
"Tanahnya. Waktu kita masuk ke dalam kabut, tanahnya menurun. Seperti berjalan ke dalam mangkuk. Kau ingat?"
Dira ingat. Setelah kali kecil, tanah mulai menurun pelan-pelan. Makin ke barat, makin menurun.
"Kalau kau mau keluar dari mangkuk, kau harus berjalan naik. Kabut bisa menipu matamu dan telingamu. Tapi kabut tidak bisa membalik tanah. Tanah yang menurun tetap menurun. Tanah yang naik tetap naik."
Dira membuka matanya.
Lalu ia merasakan hal lain. Sesuatu yang ia rasakan sejak tadi tetapi tidak ia perhatikan karena terlalu sibuk dengan suara-suara. Kehangatan kabut itu. Tidak sama di semua arah. Di belakangnya, di arah mereka datang, kabut terasa lebih hangat. Lebih lembap. Lebih berat. Seperti napas yang lebih dekat. Di depannya, sedikit lebih sejuk.
Kabut ini naik dari tanah. Dari satu tempat. Dari tengah mangkuk. Dan makin jauh dari tengah, makin sejuk.
"Ki Jalak," bisik Dira. "Kabutnya. Dingin dan hangatnya."
"Ya. Aku juga merasakannya. Tapi bocah, kulit bisa ditipu juga. Kalau kabut ini cukup pintar meniru suara ibu bocah itu, mungkin dia juga cukup pintar meniru hangat dan dingin."
Dira diam. Ki Jalak benar.
Lalu ia teringat bungkusan di punggungnya.
Ia membuka bungkusan bekal Mbah Karta dengan tangan yang meraba-raba dalam putih. Peyek. Nasi jagung. Ikan asin. Tiga bungkusan kecil ramuan. Dan di paling bawah, seperti kata Mbah Karta, sebuah bungkusan kecil dari daun pisang kering, diikat benang.
Garam hutan.
Kalau kau tersesat dan tidak tahu jalan pulang, taburkan sedikit di tanah, lalu lihat ke mana semutnya pergi.
"Tidak ada semut di hutan ini," kata Ki Jalak. "Tidak ada serangga sama sekali. Kau sudah lihat sendiri."
Kau bilang hutan ini seperti kebun yang terlalu sering disapu. Dira membuka ikatan benang itu. Kebun yang disapu tidak punya serangga di atasnya. Tapi di bawahnya?
Ia menuang sejumput garam hutan ke telapak tangan kirinya. Butirannya kasar, kelabu kecokelatan, dan baunya aneh: asin, tetapi juga manis, seperti gula aren yang dicampur abu kayu. Lalu ia membungkuk, menyibak lapisan daun busuk di depannya sampai jari-jarinya menyentuh tanah yang lembap dan dingin di bawahnya, dan meletakkan telapak tangannya yang berisi garam di atas tanah itu.
Ia menunggu.
Satu tarikan napas. Dua. Lima. Sepuluh.
Tak ada apa-apa.
"Bocah..."
Lalu sesuatu bergerak di ujung jari kelingkingnya.
Sangat kecil. Sangat ringan. Seperti sehelai rambut yang terseret angin. Lalu bergerak lagi, di ujung jari manisnya. Lalu di punggung tangannya. Lalu lebih banyak. Puluhan. Kaki-kaki kecil yang merayap di atas kulitnya, naik dari celah-celah di dalam tanah, berkerumun di sekitar garam di telapak tangannya.
Semut.
Dira tidak bisa melihat mereka. Ia tidak bisa melihat tangannya sendiri. Tetapi ia bisa merasakan mereka. Ratusan kaki kecil yang bergerak di atas kulitnya, berkumpul di garam, mengambil butirannya, lalu pergi.
Dan mereka tidak pergi ke segala arah.
Mereka pergi ke satu arah.
Dira merasakannya dengan jelas, seperti merasakan aliran air sungai di sela-sela jari. Semut-semut yang datang dari celah-celah tanah di sekeliling telapak tangannya, dari kiri, kanan, depan, belakang, semuanya, setelah mengambil butiran garam, berbalik dan berjalan ke satu arah. Berbaris. Satu garis. Melewati pergelangan tangannya. Turun ke tanah. Menjauh.
Ke depan. Ke arah yang terasa lebih sejuk. Ke arah tanah yang naik.
"Semut tidak pernah tersesat," bisik Ki Jalak, takjub. "Semut selalu tahu jalan pulang ke sarangnya."
"Dan sarangnya," bisik Dira, "tidak mungkin di dalam kabut yang bernapas."
Mereka merangkak.
Itu satu-satunya cara. Dira di depan, telapak tangan kirinya menempel di tanah, merasakan barisan semut yang merayap di bawah dan di atas jari-jarinya. Setiap beberapa langkah ia menaburkan sejumput garam lagi di depannya, dan semut-semut itu muncul lagi, mengambil butirannya, dan berbaris lagi ke arah yang sama. Satyaki di belakangnya, terikat tali, merangkak dengan satu tangan di tanah dan satu tangan menggenggam pergelangan kaki Dira.
Mata mereka terpejam. Itu usul Satyaki. Kalau kabut ini menipu mata, kita tidak usah memakai mata.
Suara-suara terus berbisik. Wulansari menangis. Ibu Satyaki memanggil-manggil. Gendhis berteriak kayu bakar. Nyai Rukminiwati berkata ikut aku. Mbah Karta bersiul. Ki Wiradhana tertawa pelan, lembut, seperti gula aren yang dilelehkan.
Mereka tidak mendengarkan. Mereka merangkak.
Tanah di bawah lutut Dira mulai naik. Pelan. Sangat pelan. Lalu sedikit lebih curam. Kabut di sekeliling mereka terasa makin sejuk. Makin tipis. Suara-suara makin jauh, makin samar, seperti orang-orang yang berteriak dari dasar sumur.
Lalu, tiba-tiba, kabut itu habis.
Seperti keluar dari dalam air. Satu kejap Dira merangkak di dalam putih yang hangat dan bernapas. Kejap berikutnya udara dingin menampar wajahnya, dan ketika ia membuka mata, ia melihat batang-batang pohon yang tinggi, lumut yang hijau gelap, berkas-berkas cahaya kelabu dari sela dahan. Matahari sore yang rendah di barat.
Dan di depan tangannya, di atas tanah yang lembap, sebaris semut hitam kecil yang berjalan rapi menuju sebuah gundukan tanah di kaki pohon. Sarang mereka.
Dira berguling telentang di atas lumut dan tertawa. Ia tidak bisa menahannya. Ia tertawa sampai rusuknya sakit, sementara Satyaki merangkak keluar dari kabut di belakangnya dan jatuh tertelungkup di sampingnya, terengah-engah.
"Semut," kata Satyaki dengan suara teredam di lumut. "Kita diselamatkan semut."
"Dan garam Mbah Karta."
"Juru masak pikun itu," Satyaki membalik badannya dan menatap langit di sela dahan, "tahu semut ada di bawah hutan yang tidak punya serangga?"
Dira berhenti tertawa.
Ia duduk dan menoleh ke belakang.
Kabut itu masih ada di sana. Di belakang mereka, di bawah mereka. Mereka sudah merangkak keluar ke tepi mangkuk raksasa itu, ke tanah yang lebih tinggi, dan kini mereka bisa melihatnya dengan jelas untuk pertama kalinya.
Lembah. Lembah bundar selebar padepokan, dikelilingi tebing-tebing landai yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi. Dan seluruh lembah itu dipenuhi kabut putih yang tebal, bergulung-gulung pelan seperti air di dalam kuali yang hampir mendidih. Naik dan turun. Naik dan turun. Berirama.
Seperti dada yang bernapas.
Dan di tengah lembah itu, di tengah kabut yang bergulung, sesuatu menjulang. Gelap. Samar. Terlalu jauh dan terlalu tertutup kabut untuk dilihat dengan jelas. Bisa jadi batu besar. Bisa jadi pohon mati. Bisa jadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang, ketika kabut naik, ikut naik sedikit. Dan ketika kabut turun, ikut turun.
Dira menatapnya. Satyaki juga.
"Jangan," bisik Ki Jalak. "Bocah. Jangan bertanya apa itu. Jangan menatapnya terlalu lama. Bangun. Pergi. Sekarang."
Dira bangun.
Dan pada saat itu, di atas kepala mereka, terdengar bunyi.
Bunyi yang tinggi dan tipis, melengking, seperti siulan yang terlalu cepat. Seperti angin yang berembus melalui celah sempit di antara dua batu. Bunyi itu datang dari atas, dari dahan-dahan pohon yang tinggi, lalu menukik turun, makin keras, makin dekat...
Sssssshhhhhtt.
Sesuatu melesat di antara kepala Dira dan kepala Satyaki. Terlalu cepat untuk dilihat. Hanya kilatan. Seberkas cahaya kelabu kebiruan yang menyambar seperti petir kecil.
Daun-daun berguguran dari dahan di atas mereka. Terpotong. Rapi. Seperti dipangkas pisau yang sangat tajam.
Dan udeng biru di kepala Satyaki terbelah dua dan jatuh ke tanah.