Bab 66Pusaka Liar
"Turun!"
Dira tidak tahu siapa yang berteriak. Mungkin dirinya. Mungkin Satyaki. Mungkin Ki Jalak. Ia hanya tahu bahwa tubuhnya sudah bergerak sebelum teriakan itu selesai, menjatuhkan diri ke atas lumut dan menarik tali ijuk di pinggangnya sehingga Satyaki ikut terjerembap di sampingnya.
Sssssshhhhhtt.
Bunyi itu melesat di atas punggung mereka, tepat di tempat kepala mereka berada sekejap sebelumnya. Angin dari lintasannya menyibakkan rambut Dira. Sebatang ranting sebesar jempol di pohon di belakang mereka terpotong dan jatuh, potongannya licin dan miring seperti dipangkas sabit.
Lalu bunyi itu naik lagi, melengking, menjauh ke atas, ke antara dahan-dahan tinggi.
Lalu diam.
Dira tidak bergerak. Ia berbaring tertelungkup di atas lumut, pipi menempel ke tanah yang lembap, dan menurunkan napasnya ke bawah pusar. Mendengarkan. Bukan dengan telinga saja. Dengan kulit. Dengan seluruh tubuhnya.
Angin. Hanya angin di antara dahan-dahan tinggi. Tidak, bukan angin. Tak ada angin di Hutan Larangan. Sejak mereka masuk, tak ada daun yang bergoyang, tak ada ranting yang berderak. Tetapi sekarang ada. Di atas sana. Satu titik kecil di mana udara bergerak, berputar, seperti pusaran air di permukaan kali.
Berputar-putar. Menunggu.
"Pusaka," bisik Ki Jalak.
Apa?
"Itu pusaka. Aku bisa merasakannya. Seperti merasakan kerabat dari jauh. Pusaka tanpa tuan. Pusaka liar." Suara Ki Jalak bergetar. "Dan dia marah. Bocah, dia sangat marah."
"Udengku," bisik Satyaki di sampingnya.
Dira menoleh sedikit. Satyaki berbaring tertelungkup, Kyai Pring Kuning tergenggam di tangan kanannya, wajahnya pucat. Rambutnya yang biasanya diikat rapi di bawah udeng biru kini terurai berantakan di dahinya. Udeng itu tergeletak di atas lumut sejengkal dari kepalanya, terbelah dua dengan rapi seperti dipotong pisau cukur.
"Sejengkal lagi," bisik Satyaki, "dan yang terbelah kepalaku."
"Jangan bergerak."
"Aku tidak berencana bergerak."
Di atas mereka, pusaran udara kecil itu berputar. Lalu berhenti berputar. Diam. Seperti mata yang mengamati dari atas.
Dira mengangkat wajahnya sedikit. Hanya sedikit. Ia menyipitkan mata ke arah dahan-dahan tinggi, ke arah titik di mana udara tadi berputar.
Dan ia melihatnya.
Kecil. Lebih kecil dari Ki Jalak. Tak lebih panjang dari jengkal tangan Dira. Sebilah keris, lurus, tanpa luk, ramping seperti daun ilalang yang tajam. Bilahnya kelabu kebiruan, warna langit sebelum hujan, dan di permukaannya ada pamor yang bergerak-gerak pelan seperti riak air yang ditiup angin. Tak ada gagang. Pesinya, ekor bilah yang biasanya dimasukkan ke dalam gagang, telanjang dan berkarat sedikit. Tak ada warangka. Tak ada hiasan. Hanya bilah kecil yang lurus dan tajam, melayang di udara di antara dua dahan, ujungnya menunjuk ke bawah.
Ke arah mereka.
Di sekeliling bilah itu, udara bergetar. Daun-daun di dahan terdekat bergemeresik sendiri, meskipun tak ada angin. Debu dan serbuk sari yang melayang di berkas cahaya kelabu tersedot ke arahnya, berputar-putar di sekelilingnya seperti laron di sekitar pelita.
"Kyai," bisik Ki Jalak. "Itu Kyai. Itu pusaka berjiwa. Bukan sekadar besi tempaan. Aku bisa merasakan jiwanya. Muda. Liar. Seperti burung yang belum pernah dikurung." Ia terdiam sebentar. "Dan sedih. Bocah, dia sangat sedih. Di bawah marahnya, dia sedih sekali."
Bilah kecil itu bergetar.
Lalu menukik.
Kali ini Dira melihatnya datang. Bukan dengan mata. Mata Raga Puncak masih terlalu lambat. Ia melihatnya dengan kulitnya, dengan rambut di tengkuknya yang berdiri, dengan pusaran udara yang bergerak mendahului bilah itu seperti gelombang mendahului perahu.
Ia berguling ke kanan.
Bilah itu menghantam lumut di tempatnya tadi berbaring, menancap sedalam jari, lalu melesat keluar lagi sebelum Dira sempat menoleh. Naik. Berputar. Menukik lagi.
Bukan ke Satyaki.
Ke Dira.
Dira berguling lagi. Bangkit setengah. Hinggap, telapak depan, berat badan tak pernah tinggal di satu tempat. Bilah itu menyambar pundaknya. Kain bajunya robek, dan sebaris garis merah tipis muncul di kulitnya, panas dan perih.
"Langkah Jalak!" teriak Ki Jalak. "Jangan berhenti! Jangan pernah berhenti!"
Dira tidak berhenti. Jalak Menyibak Daun, kaki kiri menyamping dan menyapu. Jalak Berbalik di Dahan, putaran di atas satu kaki. Bilah itu menyambar di samping kepalanya, sssshht, memotong sejumput rambutnya. Menyambar di samping pinggangnya, memotong sebagian tali ijuk yang masih mengikatnya ke Satyaki. Tali itu putus. Ujung-ujungnya jatuh ke lumut.
Bilah itu berputar di udara, naik, berhenti.
Lalu menukik lagi.
Ke leher Dira.
Dira tidak tahu bagaimana ia tahu. Tetapi ia tahu. Bilah itu tidak membidik dadanya, tidak membidik kepalanya, tidak membidik kaki atau tangannya. Setiap tukikan, setiap sambaran, setiap lintasan makin dekat ke satu tempat. Ke kain biru tua di lehernya. Ke apa yang ada di bawahnya.
Seperti burung yang terbang berputar-putar di sekitar pelita, makin dekat dan makin dekat, karena tak bisa menahan diri.
"Dia mencium Wadahmu!" teriak Ki Jalak. "Bocah, dia bisa mencium Wadahmu! Pusaka liar yang sudah lama tak bertuan, dia..."
Jalak Menukik. Dira menjatuhkan diri ke depan, berguling di atas lumut, dan bilah itu melesat di atas punggungnya.
"...dia lapar!"
Satyaki bergerak.
Dira melihatnya dari sudut matanya, setengah berguling, setengah bangkit. Murid luar berwajah datar itu sudah berdiri. Kyai Pring Kuning tergenggam di kedua tangannya seperti tongkat pemukul, kakinya terbuka dalam kuda-kuda dasar Argasuryan yang rapi, wajahnya pucat tetapi rahangnya mengatup keras.
"Satyaki, jangan!"
Bilah kecil itu berputar di udara di atas mereka, berhenti sejenak, lalu menukik lagi ke arah Dira.
Satyaki mengayunkan tongkatnya.
Tongkat bambu kuning sebesar jempol, tongkat yang ditertawakan seluruh altar, tongkat yang disebut tongkat jemuran dan tongkat penggembala bebek, berayun di udara dalam lengkungan yang canggung. Ujungnya yang diikat kain merah kusam bersinar kuning pucat, berkedip-kedip seperti kunang-kunang yang sakit.
Dan ujung itu menghantam bilah kelabu kebiruan di tengah tukikannya.
Ting.
Bunyinya jernih dan tinggi, seperti dua bilah gamelan yang saling disentuh. Bilah kecil itu terpental ke samping, berputar-putar di udara seperti daun yang ditiup, lalu menghantam batang pohon dan terpantul lagi, naik, berhenti di udara.
Bergetar.
Satyaki terhuyung mundur dua langkah. Ia menatap tongkatnya. Ujungnya masih bersinar kuning pucat, sedikit lebih terang dari biasanya. Tak ada goresan sedikit pun di batang bambunya. Tak ada retak.
"Dia..." Satyaki menatap tongkatnya dengan mata membelalak. "Dia tidak terpotong."
"Tongkat jemuran itu," kata Ki Jalak, suaranya penuh takjub, "baru saja menangkis pusaka angin yang bisa memotong ranting sebesar jempol seperti memotong rambut. Dan dia tidak tergores sedikit pun."
Bilah kecil di udara itu bergetar makin keras. Pusaran udara di sekelilingnya makin cepat, makin besar. Daun-daun di dahan-dahan sekitarnya tercabut dari tangkainya dan tersedot ke dalam pusaran itu, berputar-putar seperti kawanan burung kecil. Bunyi lengkingnya naik, makin tinggi, makin tajam, sampai menusuk telinga.
"Dia marah," bisik Ki Jalak. "Dia benar-benar marah sekarang."
Bilah itu tidak menukik ke Dira kali ini.
Ia menukik ke Satyaki.
Dira melihatnya terjadi. Ia melihat semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan, kejelasan Raga Puncak yang membuat dunia melambat. Pusaran daun yang tiba-tiba buyar. Bilah kelabu kebiruan yang melesat ke bawah, lebih cepat dari sebelumnya, jauh lebih cepat, terlalu cepat. Satyaki yang mengangkat tongkatnya untuk menangkis, sama seperti tadi, tetapi terlambat. Sedikit saja. Sekejap saja.
Ujung tongkat bambu kuning itu menyerempet bilah kecil itu. Tidak menghantamnya. Menyerempet. Membelokkan lintasannya sedikit, sejengkal, dari jantung ke samping.
Tidak cukup.
Bilah itu menembus bahu kiri Satyaki. Masuk di bawah tulang selangka. Keluar di punggungnya.
Satyaki tidak menjerit. Ia hanya terkesiap, sekali, pendek, seperti orang yang tiba-tiba tercebur ke air dingin. Tongkatnya jatuh dari tangannya. Ia menatap ke bawah, ke bahunya, ke titik di bawah tulang selangkanya tempat darah mulai merembes, merah dan cepat, membasahi bajunya.
Lalu lututnya tertekuk, dan ia jatuh.
"SATYAKI!"
Bilah kecil itu melesat keluar dari punggung Satyaki, berlumur darah, dan naik ke udara. Berputar sekali. Dua kali. Lalu berhenti, melayang di udara di antara Satyaki yang terkapar dan Dira yang berlari ke arahnya.
Dira jatuh berlutut di samping Satyaki.
Darah. Begitu banyak darah. Merembes dari luka di bawah tulang selangka kiri, merembes dari luka di punggung, membasahi lumut di bawahnya, merah gelap dan hangat. Satyaki terbaring telentang dengan mata terbuka, menatap dahan-dahan tinggi di atasnya. Napasnya pendek-pendek. Tersendat. Dan di setiap tarikan napas, ada bunyi yang tidak seharusnya ada. Bunyi seperti udara yang keluar dari kendi retak. Desis kecil yang basah.
"Paru-parunya," bisik Ki Jalak. "Bocah, bilah itu menembus terlalu dekat ke paru-parunya."
Dira menekan luka di bawah tulang selangka itu dengan kedua telapak tangannya. Darah merembes di sela jari-jarinya. Hangat. Licin. Terlalu banyak.
Ia pernah melihat darah sebanyak ini sekali. Waktu seorang abdi kandang terinjak kerbau di musim tanam, bertahun-tahun lalu, dan Mbok Darsih menekan perutnya dengan kain sampai kain itu merah semua. Abdi kandang itu tidak bangun lagi. Dira masih ingat wajah Mbok Darsih sesudahnya. Bukan menangis. Kosong. Seperti dapur yang semua tungkunya padam.
Ia tidak mau memakai wajah itu. Tidak hari ini.
"Satyaki. Satyaki, lihat aku."
Mata Satyaki bergerak. Perlahan. Dari dahan-dahan tinggi ke wajah Dira. Bibirnya bergerak.
"Tidak... terpotong..." bisiknya. Napasnya mendesis. "Tongkatku... tidak... terpotong..."
"Jangan bicara."
"Dia... tidak terpotong... Dira..." Satyaki tersenyum. Senyum kecil, aneh, di wajah yang memucat dengan cepat. "Tongkat bebek... menangkis... pusaka..."
Lalu matanya terpejam.
Di atas mereka, bilah kecil itu bergetar.
Dira mendengarnya. Lengkingnya yang tinggi dan tajam. Pusaran udara di sekelilingnya yang mulai berputar lagi, menyedot daun-daun, menyedot debu, menyedot darah yang menetes dari ujung bilahnya menjadi butiran-butiran merah yang berputar-putar seperti manik-manik.
Ia mengangkat wajahnya.
Bilah itu melayang sepuluh langkah di atasnya. Ujungnya kini menunjuk lurus ke bawah. Ke Dira. Ke lehernya.
Tetapi kali ini Dira tidak berguling. Tidak bangkit. Tidak menghindar.
Ia berlutut di atas lumut yang basah oleh darah, kedua tangannya menekan luka di dada Satyaki, dan ia menatap bilah kecil itu lurus-lurus.
Napasnya turun ke bawah pusar. Berputar sekali. Dua kali. Tiga kali. Panas. Lebih panas dari yang pernah ia rasakan. Lebih panas dari malam di lapangan murid luar, ketika Gajahsora menendang Wulansari dan tanah di bawah tumitnya retak. Napas itu naik ke tulang punggung, terbelah di bahu, mengalir ke kedua lengannya, ke telapak tangannya yang menekan dada Satyaki.
Di bawah kain biru tua di lehernya, tanda itu tidak berdenyut. Tanda itu terbakar.
"Bocah," kata Ki Jalak. Suaranya tidak takut lagi. Tidak marah. Suaranya tenang dan dalam, seperti air di dasar sumur. "Aku tahu apa yang kau pikirkan."
Dia akan menyerang lagi. Kalau aku menghindar, dia akan menyerang Satyaki lagi. Satyaki tidak bisa menghindar.
"Ya."
Jadi aku tidak akan menghindar.
"Bocah, dia pusaka liar. Dia bisa memotong ranting seperti rambut. Kalau kau mencoba menangkapnya dengan tangan..."
Kau bilang dia lapar. Dira tidak memalingkan matanya dari bilah kecil itu. Kau bilang dia mencium Wadahku. Kau bilang dia sedih.
Ki Jalak diam.
Kalau dia lapar, pikir Dira, biar dia datang kepadaku.
Ia mengangkat satu tangan dari dada Satyaki. Tangan kanannya, berlumur darah sampai pergelangan. Ia mengangkatnya ke udara, telapak terbuka, menghadap ke atas, ke arah bilah kecil yang melayang di antara dahan-dahan.
Seperti dulu, di gudang rongsokan, di depan sebilah keris kecil yang retak dari ujung ke pangkal.
Bilah kelabu kebiruan itu berhenti bergetar.
Pusaran udara di sekelilingnya melambat. Daun-daun yang berputar-putar jatuh perlahan, satu per satu, seperti hujan yang reda.
Lalu, dengan lengking yang tiba-tiba berubah, bukan lagi tajam dan marah, tetapi tinggi dan tipis dan putus-putus seperti tangis burung kecil yang kehilangan induknya, bilah itu menukik.
Lurus ke telapak tangan Dira yang terbuka.