Bab 64Masuk Hutan Larangan
Hal pertama yang Dira sadari begitu melewati barisan batu peringatan adalah kesunyian.
Bukan sunyi yang tenang, seperti dapur di tengah malam atau lumbung sesudah panen. Sunyi yang lain. Sunyi yang terasa seperti tangan yang menutup telinga. Di padang ilalang di belakang mereka, jangkrik masih berbunyi, burung-burung pagi mulai berkicau, dan angin bergemeresik di antara rumput. Lalu, begitu kaki mereka melangkah ke bawah pohon-pohon pertama, semua bunyi itu lenyap. Seperti pintu yang ditutup.
Satyaki berhenti dan menoleh ke belakang. Padang ilalang masih ada di sana, terang dan berkabut tipis, dua puluh langkah jauhnya. Tetapi bunyinya tidak ada.
"Burung," katanya pelan. "Tidak ada burung."
Dira mendongak. Dahan-dahan tinggi di atas mereka saling bertaut seperti jari-jari tangan yang terkunci, rimbun, hijau, berkilau. Tak ada seekor burung pun yang hinggap di sana. Tak ada kepak sayap. Tak ada kicau. Bahkan serangga pun tidak.
"Dulu juga begini," kata Dira. "Waktu aku mencari kayu bakar. Tapi waktu itu aku cuma di pinggir."
"Dan sekarang?"
"Sekarang kita masuk."
Ia mengeluarkan lontar peta dari ikat pinggangnya dan membukanya. Beringin tua. Tanda pertama. Garis yang berkelok dari batu peringatan ke arah barat laut, kira-kira setengah pagi perjalanan.
"Bocah," bisik Ki Jalak. "Kalau peta itu menuju ke dia, kenapa kau masih membacanya?"
Karena peta yang menuju ke jerat juga menunjukkan di mana jeratnya, pikir Dira. Aku tidak akan berjalan di garisnya. Tapi aku akan berjalan di dekatnya. Supaya aku tahu kapan harus menyimpang.
Mereka berjalan sepanjang pagi.
Hutan Larangan tidak seperti hutan yang pernah Dira masuki. Hutan di lereng Lawu yang biasa, tempat para abdi mencari kayu bakar dan para murid berlatih, penuh semak berduri, akar yang melintang, dan tanah licin yang menurun tajam. Hutan Larangan berbeda. Tanahnya rata dan empuk, tertutup lapisan daun busuk yang tebal dan lumut yang hijau menyala. Pohon-pohonnya tinggi dan lurus, batangnya besar dan berjajar seperti tiang-tiang balairung raksasa. Cahaya matahari menembus di sela-sela dahan dalam berkas-berkas tipis yang miring, kuning keemasan, dan di dalam berkas-berkas itu debu dan serbuk sari melayang pelan seperti butiran emas di dalam air.
Indah. Begitu indah sehingga Dira terus merasa sedang diawasi.
"Itu yang salah," kata Ki Jalak. "Hutan tidak seharusnya serapi ini. Hutan itu berantakan. Pohon tumbang. Semak berduri. Sarang semut. Kotoran rusa. Di sini tidak ada apa-apa. Seperti kebun yang terlalu sering disapu."
Satyaki berjalan di samping Dira dengan Kyai Pring Kuning di tangan kanannya, tongkat bambu kuning berkain merah, yang ia pegang seperti orang memegang obor dalam gelap. Sesekali ujung tongkat itu bergetar sendiri dan bersinar kuning pucat, sangat redup, seperti kunang-kunang yang sakit. Setiap kali itu terjadi, Satyaki berhenti, menatap tongkatnya dengan kening berkerut, lalu berjalan lagi.
"Dia gelisah," katanya akhirnya. "Pusakaku. Sejak kita lewat batu peringatan. Dia belum pernah begini."
"Gelisah bagaimana?"
"Seperti anjing yang mencium bau harimau." Satyaki mengangkat tongkat itu sedikit. Getarannya makin kuat, lalu reda. "Atau seperti bebek yang melihat elang."
"Tongkat jemuran itu," gumam Ki Jalak, "lebih pintar dari yang kukira."
Menjelang siang, mereka sampai di beringin tua.
Dira mengenalinya sebelum melihatnya. Dari bau. Bau kayu yang terluka, getah yang mengering, dan sesuatu yang lain, samar, seperti bau kandang babi yang sudah lama ditinggalkan. Lalu pohon itu muncul di antara batang-batang lurus di depan mereka. Besar, tua, bengkok, dengan akar-akar yang menjuntai dari dahannya sampai ke tanah seperti tirai. Satu-satunya pohon yang berantakan di seluruh hutan yang rapi ini.
Dan di batangnya, setinggi pinggang, tertancap dua taring.
Taring babi hutan. Panjang, melengkung, berwarna abu-abu kehitaman seperti besi tua. Separuhnya terbenam di dalam kayu beringin, separuhnya mencuat keluar, patah di pangkalnya. Masih di sana. Persis seperti waktu Dira meninggalkannya, lebih dari dua candra lalu, ketika Celeng Wesi menyeruduk pohon ini sampai taringnya tertancap dan harus mematahkannya untuk meloloskan diri.
Satyaki berhenti di depan taring-taring itu. Lama. Lalu ia menoleh kepada Dira dengan mata yang tajam.
"Kau bilang kau lolos dari babi hutan itu dengan berlari."
"Aku memang berlari."
"Ke pohon ini. Supaya babi itu menyeruduk pohon ini, bukan kau. Lalu taringnya tertancap." Satyaki menyentuh salah satu taring itu dengan ujung jari. Dingin. Keras. Berat seperti besi. "Kau tidak lari menjauh. Kau lari ke tempat yang kau pilih."
Dira tidak menjawab.
"Bocah itu," kata Ki Jalak, "suatu hari harus kita beri tahu. Dia sudah menebak separuhnya. Lebih baik dia mendengar separuh sisanya dari kita daripada menebaknya sendiri dan salah."
Belum, pikir Dira.
"Kau terlalu sering mengucapkan kata itu, bocah."
Di balik akar-akar beringin tua itu, sedikit lebih jauh dari sepelemparan batu, ada batu datar yang rata dan halus seperti meja kecil. Batu sesaji. Waktu Dira pertama kali melihatnya, ada bunga kantil putih dan kenanga kuning yang masih segar di atasnya, segenggam nasi kuning di atas daun pisang, dan abu dupa yang masih membentuk garis utuh.
Sekarang bunga-bunganya sudah lama layu dan hitam. Nasi kuningnya sudah habis dimakan sesuatu. Tetapi di tengah batu itu ada sesaji yang baru.
Tiga puntung dupa. Hitam. Sudah habis terbakar, tinggal tangkainya yang hangus. Dan abunya bukan abu kelabu biasa. Abunya hitam pekat, seperti jelaga, dan membentuk lingkaran kecil yang sempurna di atas batu.
Dira tidak mendekat. Ia tidak perlu mendekat.
Bau dingin itu sampai ke hidungnya dari tempatnya berdiri. Bau abu dupa yang dibakar di tempat yang tak pernah kena matahari.
Dan di bawah kain biru tua di lehernya, tanda itu berdenyut. Sekali. Pelan. Seperti orang yang terbangun dari tidur dan mendengar sesuatu di kejauhan.
Lalu, perlahan, denyut itu mereda. Kain biru tua itu terasa sejuk di kulitnya, seperti air sumur. Dan tanda itu tenang lagi.
"Kain itu," bisik Ki Jalak, takjub. "Kain dari orang tua itu. Dia meredamnya."
Mereka makan siang di tepi kali kecil.
Tanda kedua di peta. Sebuah sungai sempit yang mengalir di antara batu-batu besar berlumut, airnya jernih dan dingin dan berbunyi pelan. Satu-satunya bunyi yang mereka dengar sejak masuk hutan. Dira hampir menangis lega mendengarnya.
Satyaki tidak membuka bekal dari Mbah Karta. Ia menyuruh Dira mengumpulkan ranting kering, lalu menyalakan api kecil di antara dua batu dengan batu titik dan sejumput serabut kelapa yang ia bawa dari Sumberwatu. Lalu ia mengeluarkan sebuah periuk tanah liat kecil dari bungkusan di punggungnya, mengisinya dengan air kali, memasukkan segenggam beras, sejumput garam, sepotong jahe, dan beberapa helai daun yang ia petik dari tepi kali.
"Daun apa itu?" tanya Dira.
"Daun salam hutan." Satyaki mengaduk periuknya dengan ranting. "Ibuku bilang daun salam hutan lebih wangi dari daun salam kebun. Karena tumbuhnya susah."
Dira menatap Satyaki memasak. Gerakannya cekatan, tenang, tanpa sia-sia. Ia mengatur api supaya tidak terlalu besar. Ia menambahkan air sedikit demi sedikit. Ia mencium uap yang mengepul, mengerutkan kening, menambahkan sejumput garam, mencium lagi, lalu mengangguk puas.
"Kau bisa memasak," kata Dira.
"Sudah kubilang." Satyaki tidak menoleh. "Aku sulung dari lima bersaudara. Ibuku sibuk mencari tumbuhan obat. Ayahku sibuk di sawah. Siapa yang memasak untuk empat adikku?"
"Lebih baik dari masakanmu," kata Ki Jalak. "Jauh lebih baik. Kau menggosongkan nasi tiga kali dalam sepekan."
Kau juga dengar itu?
"Aku tinggal di dalam dirimu. Aku dengar semuanya. Termasuk waktu kau menggosongkan nasi."
Bubur nasi itu matang. Satyaki menuangkannya ke dua lembar daun talas yang ia petik dari tepi kali, lalu menyodorkan satu kepada Dira. Mereka makan dalam diam. Bubur itu hangat, wangi jahe dan daun salam hutan, dan sedikit asin. Dira tidak tahu bubur nasi bisa seenak itu.
"Sekarang," kata Satyaki setelah buburnya habis. Ia membersihkan periuknya di kali, lalu duduk di atas batu dan menatap Dira lurus-lurus. "Ceritakan."
"Cerita apa?"
"Kenapa orang tua berjanggut itu ingin kau mati di hutan ini."
Dira menatap air kali yang mengalir.
Ia tidak menceritakan semuanya. Ia tidak menceritakan Ki Jalak, atau gudang rongsokan, atau keris yang masuk ke dalam telapak tangannya seperti batu yang dijatuhkan ke kolam. Ia tidak menceritakan Balai Sukma, atau dinding beku, atau garis biru di lehernya yang bercabang seperti akar.
Tetapi ia menceritakan yang lain.
Bilik penyimpanan tetua dan dupa hitam di dalam peti. Pemuda bercincin. Perintah bakar di tempat biasa, tiga batang setiap malam. Garis asap hitam di atas hutan malam purnama. Piring Tumenggung. Lipatan kecil di sudut daun pisang. Bau bawang putih busuk. Ikan-ikan mati di kolam teratai.
Satyaki mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya datar. Hanya sekali, ketika Dira menyebut piring yang tertukar, alisnya terangkat sedikit.
"Jadi kau menukar piringnya," kata Satyaki ketika Dira selesai. "Di depan tiga ratus orang. Di depan Ki Ageng."
"Isinya. Bukan piringnya."
"Bedanya?"
"Piring Tumenggung berukir teratai. Kalau aku menukar piringnya, semua orang akan lihat."
Satyaki menatapnya lama. Lalu, perlahan, wajah datarnya pecah menjadi sesuatu yang hampir seperti senyum, dan ia menggeleng-geleng.
"Ayahku pernah bilang," katanya, "di medan perang, prajurit yang paling berbahaya bukan yang paling kuat. Bukan yang paling cepat. Tapi yang paling tenang waktu semua orang lain panik." Ia mengambil sebatang ranting dan melemparkannya ke kali. Ranting itu hanyut, berputar-putar, lalu hilang di balik batu. "Kau menukar isi piring beracun di depan tiga ratus orang, lalu menjatuhkannya ke kolam dengan pura-pura tergelincir. Lalu kau memakan gula aren dari tangan orang yang mencoba meracuni Tumenggung." Ia menggeleng lagi. "Dira, kau bukan abdi dapur."
"Aku abdi dapur."
"Kau abdi dapur seperti Kyai Pring Kuning adalah tongkat bebek." Satyaki mengangkat tongkat bambu kuningnya. "Kelihatannya begitu. Semua orang bilang begitu. Tapi bukan."
Dira tidak menjawab.
Satyaki tidak bertanya lagi. Ia hanya bangkit, memadamkan api dengan air kali, dan mengemasi periuknya.
"Batu kembar," katanya, menunjuk peta di ikat pinggang Dira. "Tanda berikutnya. Kita ikuti petanya?"
"Tidak." Dira mengeluarkan lontar itu dan membukanya. Ia menunjuk lingkaran kecil yang diarsir di antara batu kembar dan jurang belah. "Di sini. Lingkaran ini. Itu tempat dia membakar dupa hitam. Tempat yang sama dengan lingkaran abu yang ditemukan Ki Brajanala." Ia menggeser jarinya. "Jalan di peta ini lewat tepat di sampingnya. Kita tidak akan lewat sana. Kita lewat utara. Memutar. Lebih jauh, tapi..."
"Tapi tidak lewat jerat."
"Tidak lewat jerat."
Satyaki mengangguk. "Kau tahu jalan memutar ke utara?"
"Tidak." Dira menggulung lontarnya. "Tapi aku tahu arah matahari terbenam. Dan aku tahu tebing hitam itu ada di kaki gunung di sebelah barat. Kalau kita terus ke barat, kita akan sampai."
"Itu," kata Ki Jalak, "adalah rencana paling bodoh yang pernah kudengar."
Kau punya yang lebih baik?
"Tidak."
Mereka menyeberangi kali kecil di tempat batu-batunya berjajar seperti anak tangga, lalu berjalan ke barat laut, menjauh dari garis di peta.
Hutan berubah setelah kali kecil. Pohon-pohon masih tinggi dan lurus, tetapi lebih rapat. Cahaya matahari yang menembus di sela dahan lebih tipis, lebih redup, lebih kelabu. Lumut di batang-batang pohon tidak lagi hijau menyala, tetapi hijau gelap, hampir hitam. Dan tanahnya, yang tadi rata dan empuk, mulai menurun pelan-pelan, seperti mereka berjalan ke dalam mangkuk raksasa.
Mereka berjalan lama. Matahari bergeser dari tengah langit ke barat. Bayang-bayang pepohonan memanjang dan berbaur menjadi satu.
Lalu Satyaki berhenti.
"Dira."
Dira berhenti juga. Ia menoleh.
Satyaki menunjuk ke tanah di depan mereka. Di antara daun-daun busuk yang tebal, tepat di jalur yang hendak mereka lewati, ada bekas kaki.
Bekas kaki telanjang. Manusia. Dewasa. Menapak di atas lumut dengan jarak langkah yang biasa, tidak terburu-buru, tidak berlari. Berjalan dari arah kanan ke arah kiri, dari utara ke selatan, memotong jalur mereka. Ke arah lingkaran yang diarsir di peta.
Bekas kaki itu masih baru. Lumut yang terinjak belum sempat bangkit lagi.
Dira berjongkok di sampingnya. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap. Lalu, perlahan, ia mengikuti bekas kaki itu dengan matanya. Satu langkah. Dua langkah. Tiga. Lima. Sepuluh. Menjauh di antara pohon-pohon, ke selatan, makin samar.
Lalu di langkah kesebelas, bekas kaki itu berhenti.
Tidak berbelok. Tidak berlari. Tidak memanjat pohon. Berhenti. Satu langkah ada, langkah berikutnya tidak ada. Seperti orangnya terbang.
"Seperti yang ditemukan Ki Brajanala," bisik Ki Jalak.
Satyaki menelan ludah. Kyai Pring Kuning bergetar di tangannya, kuat sekarang, ujungnya bersinar kuning pucat dan berkedip-kedip seperti nyala pelita yang ditiup angin.
"Dira," katanya pelan. "Lihat ke bawah."
Dira melihat ke bawah.
Dari tanah di sekeliling mereka, dari celah-celah di antara daun busuk dan lumut, dari bawah akar-akar pohon, sesuatu mulai naik. Putih. Tipis. Seperti uap yang mengepul dari kuali nasi. Mula-mula hanya sejumput di sana-sini, lalu makin banyak, makin tebal, makin cepat, merayap naik di sepanjang batang-batang pohon, berbaur menjadi satu, menutupi kaki mereka, lutut mereka, pinggang mereka.
Kabut.
Tetapi bukan kabut yang turun dari langit seperti kabut subuh di padang ilalang. Kabut ini naik dari tanah. Dan kabut ini tidak dingin. Kabut ini hangat, lembap, dan berbau aneh, seperti napas binatang besar yang sedang tidur.
"Tali," kata Dira cepat. "Tali ijuk. Ikat pinggangmu ke pinggangku. Sekarang."
Satyaki tidak bertanya. Ia mengulurkan tangannya, dan Dira melilitkan tali ijuk tiga depa itu di pinggang Satyaki, lalu di pinggangnya sendiri, dan mengikatnya dengan simpul yang kencang.
Ketika ia mengangkat wajahnya, kabut sudah setinggi dada. Lalu setinggi leher. Lalu menutupi seluruhnya.
Dunia menjadi putih.
Ia tidak bisa melihat Satyaki, meskipun Satyaki hanya berdiri dua langkah darinya, terikat tali di pinggangnya. Ia tidak bisa melihat pohon-pohon. Ia tidak bisa melihat tanah di bawah kakinya. Ia bahkan tidak bisa melihat tangannya sendiri ketika mengangkatnya ke depan wajah.
Hanya putih. Hangat. Lembap. Bernapas.
"Satyaki?"
"Di sini." Suara Satyaki terdengar dari arah kirinya. Lalu, sesaat kemudian, suara yang sama terdengar lagi, dari arah kanannya. "Di sini, Dira."
Dira membeku.
"Satyaki. Bicara lagi."
"Aku di sini." Dari depan. "Aku di sini." Dari belakang. "Aku di sini." Dari atas.
Tali ijuk di pinggang Dira tetap tegang. Menarik ke kiri. Hanya ke kiri. Satyaki ada di kiri.
Tetapi suaranya ada di mana-mana.
"Bocah," kata Ki Jalak, dan suaranya sangat pelan, sangat hati-hati, seperti orang yang berbicara di samping ular yang sedang tidur. "Kabut ini bukan kabut."
Lalu apa?
"Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal." Jeda. "Kabut ini tidak turun dari langit. Kabut ini naik dari tanah. Seperti napas. Dan kita sedang berdiri di atas sesuatu yang bernapas."