Bab 63Tugas Mustahil
Dira tidak tidur malam itu.
Ia duduk di depan tungku ketujuh sampai bara tinggal merah redup, lalu bangkit dan mulai berkemas. Tidak banyak yang bisa dikemas oleh seorang abdi dapur. Sehelai jarik cadangan. Seutas tali ijuk sepanjang tiga depa. Pisau kupas yang biasa ia selipkan di ikat pinggang. Sebungkus garam dari Gendhis yang dulu dibawanya ke Hutan Larangan dan tak pernah dikembalikan. Dan di balik kain di dadanya, tiga benda yang tak pernah ia tinggalkan: lontar Wulansari, secarik kain hitam halus, dan keping perunggu Tumenggung Sasradipa.
Lalu ia mengeluarkan bilah-bilah bambu dari balik bata longgar di dasar tungku.
Ia menatapnya lama dalam cahaya bara. Gandawasa, Sutarga, Joyokusumo, Ki Wiradhana. Ringin Sungsang.
"Kau mau membawanya?" tanya Ki Jalak.
"Tidak." Dira mengembalikan semuanya ke balik bata, kecuali satu. Bilah Ringin Sungsang. Yang itu ia selipkan ke balik ikat pinggangnya. "Kalau kau lupa namanya di dalam hutan, aku harus bisa membacakannya."
Ki Jalak tidak menjawab. Tetapi Dira merasakan sesuatu yang hangat bergerak di Balai Sukma, seperti burung kecil yang mengembangkan bulu-bulunya.
Ketika ia menutup kembali bata longgar itu dan merapikan abu di depannya, ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Kaki telanjang yang diseret.
Mbah Karta berdiri di ambang pintu gudang beras, menguap lebar, menggaruk kepalanya yang botak.
"Kau mau ke mana malam-malam?" gumamnya. "Buang air?"
"Ke gerbang barat, Mbah. Subuh nanti. Ki Wiradhana punya tugas."
"Oh." Mbah Karta mengangguk-angguk seperti orang yang tidak benar-benar mendengarkan. Ia berjalan menyeret kakinya ke rak di samping tungku ketujuh, meraba-raba di antara kendi-kendi dan bakul-bakul, lalu kembali dengan sebuah bungkusan daun pisang yang diikat tali bambu. Ia menjatuhkannya ke pangkuan Dira tanpa berkata apa-apa.
Bungkusan itu berat dan masih hangat.
"Apa ini, Mbah?"
"Bekal. Kebanyakan masak tadi sore." Mbah Karta berbalik ke gudang beras. "Peyek. Nasi jagung. Ikan asin. Tiga bungkus ramuan. Yang merah untuk luka. Yang hijau untuk racun. Yang kuning..." Ia berhenti, menggaruk kepalanya. "Yang kuning aku lupa. Pokoknya jangan dimakan kecuali sudah mau mati."
"Mbah..."
"Dan garam." Mbah Karta berhenti di ambang pintu gudang beras. "Garam hutan. Bukan garam biasa. Ada di bungkusan paling bawah. Kalau kau tersesat dan tidak tahu jalan pulang, taburkan sedikit di tanah, lalu lihat ke mana semutnya pergi." Ia terkekeh. "Semut tidak pernah tersesat. Semut selalu tahu jalan pulang ke sarangnya."
Lalu ia masuk ke gudang beras. Sebentar kemudian, dengkurnya terdengar. Pelan. Teratur.
Dira menatap bungkusan di pangkuannya.
"Ramuan untuk racun," bisik Ki Jalak. "Garam untuk tersesat. Dia tahu ke mana kau akan pergi."
"Dia selalu tahu," kata Dira.
Gerbang barat Padepokan Argasuryan bukan gerbang yang megah. Hanya sepasang tiang kayu jati tua yang menopang palang melintang, dengan pintu bambu yang jarang ditutup. Di sebelah kirinya ada pos jaga kecil beratap ijuk. Dari gerbang itu, jalan setapak menurun melintasi padang ilalang selebar dua ratus langkah, lalu berakhir di garis hitam pepohonan yang tinggi dan rapat.
Hutan Larangan.
Kabut subuh menggantung rendah di atas padang ilalang ketika Dira tiba. Kentongan pertama belum berbunyi. Langit di timur baru mulai memucat, abu-abu kebiruan seperti abu tungku.
Ki Wiradhana sudah menunggu di bawah palang gerbang.
Ia berdiri sendirian, berselimut kain tebal berwarna gelap, tangan kirinya yang terbalut kain hitam terlipat di dada, tangan kanannya memegang selembar lontar yang tergulung. Ia tersenyum ketika melihat Dira datang. Senyum yang lembut dan hangat, seperti kakek yang menunggu cucunya pulang dari sawah.
"Ah, ngger. Tepat waktu. Bagus." Ia mengangguk. "Kau sudah sarapan?"
"Sudah, Ki."
"Bagus, bagus. Perjalananmu panjang." Ki Wiradhana membuka gulungan lontar di tangannya. "Kau tahu Kertapati? Murid dalam yang pingsan di pos jaga waktu purnama?"
"Hamba dengar, Ki."
"Dia belum pulih. Pagi ini dia lupa nama ibunya. Kemarin dia lupa cara memegang sendok." Ki Wiradhana menggeleng-geleng sedih. "Dan Gusti Tumenggung bilang tiga orang desa yang ditemukan kembali juga begitu. Lupa diri. Makin hari makin lupa. Seperti lontar yang tulisannya dihapus air, sedikit demi sedikit."
Dira diam.
"Ada satu obat," lanjut Ki Wiradhana. "Hanya satu. Di dalam lontar-lontar tua di bilikku, aku menemukannya semalam. Bunga Wijayakusuma." Ia mengangkat lontarnya. Di permukaannya ada gambar setangkai bunga yang digores halus dengan ujung pisau: kelopak-kelopak panjang yang melengkung keluar seperti jari-jari tangan yang terbuka, dengan sesuatu seperti mahkota di tengahnya. "Bunga kemenangan. Bunga para raja. Hanya mekar satu malam, dan siapa pun yang memakan sari bunganya akan mengingat kembali apa yang telah ia lupakan."
"Di mana bunga itu tumbuh, Ki?"
Ki Wiradhana tersenyum. Ia menoleh ke arah padang ilalang, ke arah garis hitam pepohonan yang mulai tampak jelas dalam cahaya subuh.
"Di jantung Hutan Larangan," katanya. "Di sebuah gua di kaki tebing batu hitam, dua hari perjalanan ke arah matahari terbenam. Gua Wijayakusuma. Lontar ini menggambarkan jalannya." Ia menyerahkan lontar itu kepada Dira. "Kau bisa membaca, bukan, ngger? Nyai Rukminiwati mengajarimu diam-diam di atas pasir, waktu kau kecil. Aku tahu."
Dira menerima lontar itu. Tangannya tidak gemetar. Ia memastikan tangannya tidak gemetar.
"Kenapa hamba, Ki?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Dira bisa menahannya. Bukan pertanyaan abdi yang membosankan. Tetapi Ki Wiradhana tidak tampak tersinggung. Ia malah tampak senang, seperti guru yang mendengar muridnya bertanya.
"Karena kau beruntung, ngger." Ki Wiradhana mengangkat satu jari tangan kanannya. "Hutan Larangan itu bukan hutan biasa. Murid dalam yang masuk ke sana tidak pernah kembali. Tiga orang dalam sepuluh warsa terakhir. Murid-murid kuat. Prana Puncak. Tenaga Dalam." Ia mengangkat jari kedua. "Tapi kau sudah masuk ke sana dua kali. Sekali waktu mencari kayu bakar, dan kau lolos dari Celeng Wesi. Sekali waktu kau tersesat mengejar cahaya hijau." Ia tersenyum. "Dan kau kembali dua kali. Dengan kaki terkilir, tapi kembali."
"Itu kebetulan, Ki."
"Ya. Kebetulan. Kau anak yang penuh kebetulan." Ki Wiradhana menurunkan tangannya. "Dan aku butuh kebetulan untuk tugas ini."
"Apakah Ki Ageng tahu, Ki?"
"Ki Ageng sudah setuju." Ki Wiradhana menunjuk sudut lontar di tangan Dira. Di sana ada cap tanah liat kecil berbentuk matahari, cap Ki Ageng Suryadharma. "Semalam, setelah rapat tetua. Beliau sangat ingin Kertapati sembuh. Dan beliau ingin Gusti Tumenggung tahu bahwa Argasuryan bertindak cepat."
Dira menatap cap matahari itu. Ia ingat suara Ki Ageng di balik dinding balairung. Jauhi anak dapur itu. Biarkan mereka tenggelam di tempat mereka.
Biarkan mereka tenggelam.
"Dan Nyai Rukminiwati, Ki?"
"Ah, Nyai." Ki Wiradhana menghela napas, pura-pura menyesal. "Nyai berangkat kemarin sore, menyusul rombongan Gusti Tumenggung. Ke desa-desa di kaki Lawu sebelah barat. Untuk memeriksa orang-orang yang lupa diri itu. Ayahnya tabib, kau tahu? Nyai paling mengerti soal obat-obatan di antara kami semua." Ia tersenyum. "Ki Brajanala juga ikut. Memimpin pencarian orang hilang di tepi hutan sebelah utara. Mereka baru akan kembali lima hari lagi. Mungkin enam."
Lima hari. Mungkin enam. Dira menghitung. Bekal tiga hari. Dua hari ke gua. Dua hari kembali.
Tak ada Nyai. Tak ada Ki Brajanala. Tak ada siapa pun yang bisa bertanya ke mana abdi dapur bernama Sudira pergi, sampai ia sudah lama tidak kembali.
"Bocah," bisik Ki Jalak, sangat pelan. "Dia sudah menyiapkan ini sejak sebelum pesta. Sejak sebelum surat palsu itu dikirim ke kadipaten."
Aku tahu.
"Kalau kau menolak..."
Lalu aku abdi yang menolak perintah tetua dengan cap Ki Ageng. Di depan pos jaga. Aku dicambuk. Atau diusir. Atau dikurung. Dan Ki Wiradhana mencari cara lain. Dira menggulung lontar itu dengan hati-hati. Setidaknya di dalam hutan, aku tahu di mana dia memasang jeratnya.
"Hamba akan pergi, Ki," katanya.
Ki Wiradhana tersenyum lebih lebar.
"Saya juga."
Suara itu datang dari balik pos jaga. Datar. Tenang. Sedikit serak karena udara subuh.
Dira menoleh. Ki Wiradhana juga menoleh.
Satyaki melangkah keluar dari bayangan pos jaga. Ia memakai pakaian latihan murid luar, udeng biru di kepalanya, bungkusan bekal di punggungnya, dan di tangan kanannya, sebatang bambu kuning sebesar ibu jari, sepanjang lengan, ujungnya diikat kain merah kusam.
Tongkat penggembala bebek. Pusaka yang memilihnya di altar, yang membuat semua orang tertawa.
"Satyaki," kata Dira pelan. "Pulang."
"Tidak." Satyaki tidak menatap Dira. Ia menatap Ki Wiradhana, dan membungkuk dengan hormat yang sempurna. "Ampun, Ki. Saya mendengar soal tugas ini dari murid jaga semalam. Saya mohon izin ikut. Hutan Larangan berbahaya. Dua orang lebih baik dari satu." Ia menegakkan badan. "Saya dari Sumberwatu, Ki. Ibu saya tahu nama semua tumbuhan obat di kaki Lawu. Saya bisa mengenali Bunga Wijayakusuma kalau melihatnya."
Dira menatapnya. Ia tahu Satyaki berbohong soal yang terakhir itu. Ia juga tahu Satyaki tidak peduli.
Ki Wiradhana menatap Satyaki lama. Lalu ia menatap tongkat bambu di tangannya. Lalu ia menatap Dira.
Dan ia tertawa. Pelan, lembut, senang.
"Murid luar dan abdi dapur," katanya. "Tongkat bebek dan anak yang tak tersentuh matahari." Ia menggeleng-geleng, masih tersenyum. "Baik. Baik, ngger. Pergilah berdua. Dua anak beruntung lebih baik dari satu."
Ia melangkah mundur dari bawah palang gerbang, memberi jalan.
"Hati-hati di jalan," katanya lembut. "Ikuti lontarnya. Jangan menyimpang. Dan ngger..."
Dira berhenti.
"Kalau kau menemukan bunganya," kata Ki Wiradhana, "jangan diberikan kepada siapa pun selain aku. Bawa langsung ke bilikku. Bunga Wijayakusuma itu rapuh. Kalau dipegang tangan yang salah, khasiatnya hilang."
"Inggih, Ki."
"Bagus." Ki Wiradhana tersenyum. "Aku akan menunggumu."
Mereka berjalan melintasi padang ilalang dalam diam.
Kabut subuh mulai menipis. Ilalang setinggi pinggang basah oleh embun, dan setiap langkah membuat jarik mereka basah sampai ke lutut. Di depan mereka, garis hitam Hutan Larangan makin tinggi, makin rapat, makin gelap, seperti dinding yang tak berujung.
Ketika mereka sudah separuh jalan, Dira menoleh ke belakang.
Ki Wiradhana masih berdiri di bawah palang gerbang barat. Kecil di kejauhan. Berselimut kain gelap. Tangan kanannya terangkat, melambai pelan. Seperti kakek yang melepas cucunya pergi merantau.
Dira tidak membalas lambaiannya. Ia berbalik dan terus berjalan.
"Kau bodoh," katanya kepada Satyaki tanpa menoleh.
"Aku tahu."
"Dia ingin aku mati di hutan itu. Mungkin dia juga ingin kau mati sekarang. Kau baru saja memberinya alasan."
"Aku tahu." Satyaki mengunyah sebatang rumput yang entah kapan ia petik. "Utang sepiring nasi, Dira. Di desaku, utang nasi lebih berat dari utang emas. Nasi cuma bisa dikembalikan dengan kesetiaan." Ia meludahkan rumputnya. "Lagi pula, kau tidak bisa memasak di hutan. Kau abdi dapur yang tidak bisa memasak. Kau cuma bisa mengupas bawang dan menimba air. Aku bisa memasak."
"Aku bisa memasak."
"Kau pernah menggosongkan nasi tiga kali dalam sepekan. Gendhis cerita."
Dira membuka mulut. Lalu menutupnya.
"Bocah ini," kata Ki Jalak, "akan mati bersamamu di dalam hutan, dan dia masih sempat mengejek masakanmu. Aku mulai benar-benar menyukainya."
Mereka sampai di tepi hutan. Di bawah pepohonan pertama, di antara akar-akar yang menonjol dari tanah seperti punggung ular, berjajar batu-batu tegak setinggi dada, berlumut, berjarak kira-kira sepuluh langkah satu sama lain, membentang ke utara dan ke selatan sejauh mata memandang. Barisan yang sama yang dulu Dira lihat di belakang gudang rongsokan, waktu dihukum mencari kayu bakar.
Batu peringatan. Di permukaan masing-masing, aksara kuno yang sama, dipahat dalam-dalam dan aus dimakan hujan ratusan warsa.
Aja mlebu.
Satyaki membacanya dengan suara keras, pelan, huruf demi huruf. "Jangan masuk," katanya. Ia menyentuh batu terdekat dengan ujung jarinya, lalu menariknya kembali dengan cepat. "Batunya bergetar."
"Seperti nadi," kata Dira. "Aku tahu."
Di balik barisan batu itu, Hutan Larangan tampak seperti dulu: tidak menyeramkan sama sekali. Terlalu hijau. Pohon-pohon yang tinggi dan lurus, lumut yang hijau menyala, daun-daun yang berkilau seperti baru dicuci hujan. Udara yang berembus dari dalamnya sejuk dan lembap, berbau tanah basah dan getah.
Satyaki menatapnya lama. Lalu ia menatap Dira.
"Kau sudah membuka lontarnya?"
Dira membuka gulungan lontar itu. Di permukaannya, di bawah gambar Bunga Wijayakusuma dan cap matahari Ki Ageng, ada peta. Digores halus dengan ujung pisau. Garis-garis yang berkelok-kelok, tanda-tanda kecil, aksara-aksara yang menyebut nama tempat: beringin tua, kali kecil, batu kembar, jurang belah, tebing hitam.
Dan di ujung peta, di kaki tebing hitam, sebuah lingkaran kecil dengan setangkai bunga yang digambar di dalamnya.
Dira menatap peta itu lama.
Lalu ia menatap tanda kecil di tengah jalan, di antara batu kembar dan jurang belah. Tanda yang tidak diberi nama. Hanya sebuah lingkaran yang diarsir, kecil, nyaris tak terlihat.
Lingkaran yang sama dengan lingkaran abu di dalam hutan, yang ditemukan Ki Brajanala pada malam purnama.
Lingkaran yang dikelilingi bekas kaki telanjang tujuh kali.
"Bocah," bisik Ki Jalak. "Jalan itu. Jalan yang digambar di lontar itu."
Aku tahu.
"Jalan itu tidak menuju ke bunga. Jalan itu menuju ke dia."
Dira menggulung lontar itu dan menyelipkannya ke balik ikat pinggang, di samping bilah bambu Ringin Sungsang.
Lalu ia melangkah melewati barisan batu peringatan, masuk ke dalam bayangan Hutan Larangan, dan Satyaki mengikutinya.