Bab 49Wulansari Diganggu
Lapangan latihan murid luar terletak di sisi barat padepokan, di bawah lereng yang ditumbuhi pohon-pohon asam tua. Lapangan itu tidak seperti lapangan murid dalam. Tak ada tiang-tiang batu andesit yang penuh bekas telapak, tak ada tembok tinggi, tak ada tetua bertubuh seperti tunggul jati yang berjalan di antara barisan. Hanya tanah merah yang dipadatkan oleh ribuan kaki, beberapa patok kayu untuk latihan tendangan, dan sebuah balai bambu beratap ijuk di pinggirnya tempat murid-murid beristirahat dan minum.
Setiap sore, seorang abdi dapur membawa dua buyung air dari sumur ke balai bambu itu. Biasanya Gendhing, karena Gendhing suka menonton murid-murid luar berlatih dan diam-diam meniru gerakan mereka di belakang kandang kambing.
Sore itu Dira menawarkan diri menggantikannya.
"Kau?" Gendhing menatapnya curiga. "Dengan muka seperti itu?"
"Mukaku tidak dipakai untuk memikul air."
"Tapi semua orang akan melihatmu. Murid-murid luar. Perempuan-perempuan." Gendhing menunjuk wajah Dira yang masih bengkak dan ungu. "Kau seperti terung yang diinjak kerbau."
"Terima kasih, Gendhing."
"Sama-sama." Gendhing menyerahkan pikulan bambunya, lalu berpikir sebentar. "Kalau ada yang bertanya kenapa mukamu begitu, bilang saja kau berkelahi dengan Celeng Wesi. Biar kelihatan gagah."
"Anak itu," kata Ki Jalak, "kadang-kadang mengucapkan hal yang benar tanpa sengaja. Seperti ayam yang mematuk butir emas di antara kerikil."
Dira memikul dua buyung air menyusuri jalan setapak ke barat. Matahari sudah condong. Bayang-bayang pohon asam memanjang di atas tanah merah. Dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan latihan yang berirama: hah! hah! hah!, bunyi kaki yang menghentak, dan sesekali suara seseorang membentak.
Suara yang berat, besar, dan terlalu senang dengan dirinya sendiri.
"Lebih rendah! Kuda-kudamu seperti nenek-nenek kencing! Lebih rendah! Kau, yang di ujung, kau mau berlatih atau mau menari tayub?"
Dira berhenti di balik sebatang pohon asam di pinggir lapangan dan menurunkan pikulannya pelan-pelan.
Kira-kira tiga puluh murid luar berbaris di tanah merah dalam lima baris, mengulang jurus dasar Argasuryan. Tangan kanan mendorong, tangan kiri menarik, kaki menghentak. Di antara mereka, Dira melihat Satyaki di barisan belakang, wajahnya datar dan basah oleh keringat. Ia juga melihat Wulansari di barisan kedua, rambutnya diikat ke belakang dengan udeng biru murid luar, gerakannya tajam dan rapi.
Dan di depan barisan, berjalan mondar-mandir dengan tangan di belakang punggung, seorang pemuda yang tubuhnya seperti sengaja diciptakan untuk memenuhi ambang pintu.
Gajahsora.
Ia lebih tinggi dari Dira sekepala, lebih lebar dari Gandawasa. Bahunya bulat dan berotot seperti punggung kerbau, lehernya tebal sampai kepalanya tampak terlalu kecil di atasnya. Sabuk murid dalam melingkari pinggangnya, dan di sabuk itu terselip sebilah keris berwarangka kayu cendana yang dihias ukiran gajah. Ia berjalan dengan dada dibusungkan, seperti orang yang tahu semua mata tertuju padanya dan menikmati setiap kejap tatapan itu.
"Prana Puncak," bisik Ki Jalak. "Dengarkan napasnya. Berat, tapi penuh. Lebih kuat dari Sutarga. Jauh lebih kuat dari Joyokusumo. Bukan setingkat Bayuwisesa, tapi..." Ia terdiam sebentar. "Bocah. Dia lebih kuat darimu. Sekarang. Kalau kau melawannya dengan Raga Madya, kau kalah."
Aku tahu.
"Lalu kenapa kau di sini?"
Dira tidak menjawab. Ia memperhatikan Gajahsora berjalan ke barisan kedua dan berhenti di depan Wulansari.
"Bagus," kata Gajahsora. Suaranya berubah. Tidak lagi membentak. Lebih lembut, lebih rendah, seperti suara orang yang berbisik kepada kekasihnya di balik tirai, hanya saja terlalu keras sehingga seluruh barisan bisa mendengar. "Bagus sekali, Wulansari. Kuda-kudamu yang paling rapi di sini. Pantas saja pusaka secantik itu memilihmu."
Wulansari tidak menjawab. Ia terus mengulang gerakannya. Dorong, tarik, hentak.
Gajahsora mengulurkan tangan dan meletakkannya di bahu Wulansari. "Tapi bahumu masih terlalu tegang. Rileks sedikit. Begini."
Wulansari menghentikan gerakannya dan menggeser bahunya ke depan, keluar dari bawah tangan itu. Dengan sangat sopan. Dengan sangat jelas.
Gajahsora tersenyum. Ia menarik tangannya kembali, perlahan, dan menatap Wulansari dengan mata yang menyipit.
Di barisan belakang, Satyaki berhenti bergerak sejenak. Lalu ia melanjutkan jurusnya, tetapi matanya kini tidak lagi menatap ke depan.
Latihan berakhir ketika matahari menyentuh punggung gunung di seberang lembah.
"Bubar," seru Gajahsora sambil bertepuk tangan dua kali. "Besok subuh, tak ada yang terlambat. Yang terlambat lari keliling padepokan sepuluh kali." Lalu, seperti baru teringat, ia menoleh ke barisan kedua. "Wulansari. Tinggal. Latihan tambahan."
Murid-murid luar bubar dengan cepat. Terlalu cepat. Tak ada yang menoleh. Tak ada yang bertanya. Mereka mengambil kendi minum dari balai bambu, membereskan kain mereka, lalu berjalan pergi bergerombol, berbisik-bisik pelan, dengan kepala menunduk.
Mereka semua tahu. Dira bisa melihatnya di cara mereka menghindari tatapan Wulansari. Mereka tahu, dan mereka tidak berani.
Satu orang tidak pergi.
Satyaki berjalan ke balai bambu, mengambil kendi minumnya, dan duduk di lantai balai itu. Ia meneguk airnya pelan-pelan, sangat pelan, seperti orang yang punya seluruh waktu di dunia.
"Kau," kata Gajahsora. "Si tongkat bebek. Pulang."
"Saya sedang minum, Kakang."
"Minum di asrama."
"Air di asrama tidak seenak air di sini."
Gajahsora menatapnya. Lalu, tanpa peringatan, ia mengayunkan tangan kirinya ke samping, tidak menyentuh Satyaki, hanya mengibas udara di dekatnya. Angin dari kibasan itu cukup kuat untuk melemparkan kendi dari tangan Satyaki. Kendi itu pecah di tiang balai bambu. Airnya membasahi baju Satyaki.
"Sekarang airnya sudah habis," kata Gajahsora ramah. "Pulang."
Satyaki menatap pecahan kendinya. Lalu ia bangkit, perlahan, dan berjalan pergi meninggalkan balai bambu. Ia tidak menoleh ke arah Wulansari. Ia tidak menoleh ke arah pohon asam tempat Dira bersembunyi.
Tetapi ketika ia melewati pohon asam itu, ia menjatuhkan sesuatu ke tanah di dekat akarnya, tanpa berhenti melangkah.
Tiga kerikil kecil.
Satu: orang. Dua: babi hutan. Tiga: lari.
Dira menatap ketiga kerikil itu.
"Bahkan bocah itu menyuruhmu lari," kata Ki Jalak pelan.
Dira tidak lari.
"Sekarang," kata Gajahsora, ketika hanya tinggal mereka berdua di tengah lapangan tanah merah yang mulai kelabu oleh senja. "Kita mulai."
"Mulai apa, Kakang?" Suara Wulansari tenang. Terlalu tenang. Dira mengenali ketenangan itu: ketenangan yang sama yang ia pakai di depan Gandawasa bertahun-tahun.
"Latihan tambahan." Gajahsora berjalan memutarinya, pelan, seperti kucing memutari ikan asin di atas tampah. "Kemarin aku sudah bilang, kan? Pusaka secantik itu seharusnya dipegang orang yang pantas. Orang yang bisa membuatnya bersinar."
"Kyai Wulan Tumanggal memilih saya di altar, Kakang. Di depan Ki Ageng dan semua tetua."
"Pusaka juga bisa salah pilih." Gajahsora berhenti di belakangnya, dekat, sangat dekat. "Coba kulihat. Tunjukkan padaku. Biar kulihat apa dia memang suka padamu."
Wulansari tidak bergerak.
Gajahsora mengulurkan tangannya melewati pinggang Wulansari dan menarik cundrik gading itu dari selipan sabuknya.
Wulansari berbalik secepat kilat dan menangkap pergelangan tangannya.
"Kembalikan."
Gajahsora tertawa. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membawa tangan Wulansari bersamanya, sampai gadis itu harus berjinjit untuk tetap memegang pergelangan itu. Cundrik gading bermotif melati itu berkilau di ujung jari-jari Gajahsora, kecil, ramping, bilahnya melengkung seperti bulan sabit.
Lalu cundrik itu berubah.
Cahaya pucat merembes dari bilahnya, dingin dan keperakan, seperti cahaya bulan yang tiba-tiba tumpah di sore hari. Cahaya itu menjalar ke jari-jari Gajahsora. Ia berteriak dan hampir menjatuhkannya. Jari-jari yang memegang gagang cundrik itu memutih seperti tertutup embun beku.
"Dia tidak mau dipegang Kakang," kata Wulansari dengan suara bergetar. "Kembalikan."
Wajah Gajahsora memerah. Ia mencengkeram cundrik itu lebih kuat. Napasnya, yang tadi berat tapi penuh, berubah. Dira bisa mendengarnya dari balik pohon asam: prana yang naik dari bawah pusar, memenuhi dada, mengalir ke lengan, ke telapak tangan. Panas. Menekan cahaya dingin cundrik itu seperti air mendidih menekan embun beku.
Cahaya bulan itu meredup, berkedip, dan padam.
Gajahsora tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Lihat? Dia bisa diajari. Seperti gadis yang memegangnya."
Lalu, dengan satu sentakan, ia memutar pergelangan tangannya yang dipegang Wulansari. Tangan Wulansari terpelintir. Ia menjerit pendek dan jatuh berlutut di atas tanah merah.
Dira sudah berjalan sebelum ia sadar ia berjalan.
Ia keluar dari balik pohon asam, memikul dua buyung air di pundaknya, dan melangkah ke tengah lapangan dengan langkah abdi yang biasa. Tidak terburu-buru. Tidak berlari.
"Air, Kakang," katanya.
Gajahsora menoleh. Matanya menyipit, lalu membelalak, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
"Astaga! Lihat ini! Lihat siapa yang datang!" Ia menunjuk Dira dengan cundrik di tangannya. "Si anak yang tak tersentuh matahari! Dengan muka seperti terung busuk!" Ia menoleh ke Wulansari yang masih berlutut, memegangi pergelangan tangannya. "Ini kakakmu? Ini? Yang membuatmu terkenal di seluruh padepokan? Adik si abdi gagal?"
Wulansari tidak menjawab. Ia menatap Dira, dan di matanya Dira membaca satu kata. Pergi.
Dira menurunkan pikulannya. Ia meletakkan kedua buyung air di atas tanah, satu di kiri, satu di kanan, dengan sangat hati-hati supaya tak setetes pun tumpah.
"Kakang," katanya pelan. "Kembalikan pusaka adik saya."
Gajahsora berhenti tertawa.
"Apa katamu?"
"Kembalikan pusaka adik saya. Dan biarkan dia pulang."
Hening sesaat. Lalu Gajahsora berjalan ke arahnya, perlahan, dengan cundrik Wulansari masih di tangan kiri. Ia berhenti tepat di depan Dira, begitu dekat sampai Dira harus mendongak untuk menatap wajahnya.
"Abdi," kata Gajahsora sangat pelan, "sedang menyuruh murid dalam."
Ia menampar Dira.
Tamparan itu bukan tamparan Gandawasa. Telapak tangan yang lebar, keras, dan dialiri prana menghantam pipi kiri Dira yang sudah bengkak. Dunia meledak putih. Kepala Dira terlempar ke samping. Ia terhuyung dua langkah dan hampir jatuh.
Hampir.
Ia tidak jatuh. Kakinya menahannya. Ia menegakkan badan perlahan dan menatap Gajahsora lagi.
"Kembalikan," katanya.
Gajahsora menatapnya. Untuk sesaat, sesuatu melintas di wajah lebar itu. Keheranan. Abdi dapur yang ditampar dengan prana seharusnya tergeletak di tanah sambil menangis. Abdi dapur yang ini masih berdiri.
Lalu keheranan itu berubah menjadi amarah.
"Kau," desisnya. "Kau dan adikmu sama saja. Tidak tahu tempat."
Ia berbalik dan menendang Wulansari.
Bukan tendangan penuh. Tendangan malas, sambil lalu, seperti orang menendang anjing yang menghalangi jalan. Tetapi kaki itu dialiri prana, dan Wulansari, yang baru saja hendak bangkit dari berlututnya, terlempar ke belakang dan jatuh telentang di tanah merah dengan bunyi yang membuat sesuatu di dalam dada Dira pecah.
Waktu melambat.
Dira melihat semuanya dengan kejelasan Raga Madya yang aneh itu, kejelasan yang membuat sendok jatuh tampak seperti daun yang melayang. Ia melihat debu merah yang beterbangan dari punggung Wulansari. Ia melihat mata adiknya yang terpejam karena sakit. Ia melihat tangan kiri Gajahsora yang masih menggenggam cundrik bulan sabit. Ia melihat bahu kanan Gajahsora yang terbuka, rusuk kanannya yang tidak terlindung, kaki kirinya yang masih setengah terangkat setelah menendang.
Dan ia merasakan napasnya.
Napas itu turun ke bawah pusar tanpa ia suruh. Berputar sekali, dua kali, tiga kali. Lebih cepat dari yang pernah ia rasakan. Lebih panas. Seperti tungku ketujuh yang tiba-tiba diisi kayu jati sebanyak satu gerobak. Napas itu naik ke tulang punggung. Lalu, alih-alih terbelok di leher, ia membelah diri di bahu, seperti waktu ia mendorong tutup sumur. Separuh mengalir ke lengan kanan. Separuh lagi mengalir turun, ke pinggul, ke paha, ke kaki kanan yang menapak di tanah merah.
Kaki kanannya menekan tanah.
Tanah merah yang dipadatkan oleh ribuan kaki selama ratusan warsa itu retak di bawah tumitnya. Retakan halus menjalar ke depan seperti jaring laba-laba, sejengkal, dua jengkal, tanpa suara.
Pinggulnya mulai berputar. Lebih dari setengah lingkaran. Seperti putaran pinggul Bayuwisesa yang membelah tiang batu.
Tangan kanannya terbuka. Telapak menghadap ke depan. Jari-jari rapat.
Tapak Bayu Bajra.
"Bocah," kata Ki Jalak, dan suaranya tidak menyuruh berhenti. Suaranya tidak menyuruh apa-apa. Suaranya hanya bertanya, sangat pelan, dengan nada orang yang sudah tahu jawabannya: "Sekarang?"
Gajahsora berbalik menghadapnya, masih tersenyum, masih menggenggam cundrik Wulansari. Ia tidak melihat retakan di tanah. Ia tidak melihat pinggul yang berputar. Ia hanya melihat abdi dapur berwajah bengkak yang berdiri dengan tangan terangkat aneh, dan ia tertawa, lalu mengangkat tinjunya sendiri. Tinju yang mulai berpendar merah pudar oleh prana yang dikumpulkan.
Dira melangkah maju.
Dan sebuah suara, dingin dan jernih seperti air sumur di subuh hari, memotong udara senja di antara mereka.
"Cukup."