Sang Penelan Pusaka

Bab 50Bayuwisesa Turun Tangan

Dira berhenti.

Itu bukan keputusannya. Tubuhnya berhenti sendiri, seperti kuda yang tiba-tiba ditarik kekangnya. Napas yang tadi berputar seperti pusaran air di bawah pusarnya tersentak, tersendat, dan berhamburan. Panas di lengan kanannya padam seperti bara yang disiram. Panas di kaki kanannya surut. Telapak tangannya yang terbuka masih terangkat di udara, tetapi tak ada lagi apa pun di baliknya.

Gajahsora juga berhenti. Tinjunya yang berpendar merah membeku setengah jalan.

Mereka berdua menoleh ke arah yang sama.

Di tepi lapangan, di ujung jalan setapak yang turun dari lereng berpohon asam, berdiri seorang pemuda.

Ia tidak tinggi seperti Gajahsora. Tidak lebar. Tubuhnya ramping dan lurus seperti batang tombak, terbungkus beskap putih gading murid dalam yang bersih tanpa noda, meskipun jelas ia baru saja berlatih. Rambutnya hitam legam, diikat rapi di belakang kepala dengan udeng putih bersulam benang emas. Wajahnya terlalu tampan untuk menjadi wajah yang ramah, dan memang tidak ramah. Wajah itu dingin dan tenang seperti permukaan telaga di musim kemarau.

Di pinggangnya, terselip dalam warangka kayu hitam berukir sisik, ada sebilah keris yang tak perlu diperkenalkan kepada siapa pun di Argasuryan.

Kyai Nagageni.

Bahkan dari jarak dua puluh langkah, Dira bisa merasakan panasnya. Bukan panas api. Panas yang lain, seperti udara di atas tungku besi pandai, yang membuat bayangan di sekitarnya bergetar sedikit.

Raden Bayuwisesa. Putra Ki Ageng Suryadharma. Pemuda yang menertawakannya di altar. Pemuda yang memberinya julukan anak yang tak tersentuh matahari. Pemuda yang menjentikkan pecahan batu sejengkal dari wajahnya di atap dapur.

"Prana Puncak," bisik Ki Jalak, dengan suara yang tiba-tiba sangat kecil. "Tidak. Lebih. Dia sudah di ambang Tenaga Dalam. Di umur segini." Jeda. "Bocah. Turunkan tanganmu. Pelan-pelan."

Dira menurunkan tangannya. Pelan-pelan.


"Raden." Gajahsora yang pertama bersuara. Tinjunya turun, cahaya merahnya padam. Ia membungkuk sedikit. Tidak terlalu dalam, tetapi cukup. "Raden tidak perlu repot. Ini cuma urusan latihan. Saya sedang..."

"Aku melihat apa yang sedang kau lakukan."

Bayuwisesa berjalan ke tengah lapangan. Langkahnya tidak cepat, tidak lambat. Ringan, nyaris tanpa suara di atas tanah merah, seperti orang yang berjalan di atas permadani. Ia berhenti tiga langkah dari Gajahsora dan menatapnya dari bawah. Gajahsora lebih tinggi sekepala darinya, tetapi entah bagaimana, ketika Bayuwisesa menatapnya, murid dalam bertubuh kerbau itu tampak lebih kecil.

"Lepaskan," kata Bayuwisesa.

Gajahsora menatap cundrik di tangan kirinya, seperti baru ingat ia memegangnya.

"Raden, pusaka ini..."

"Kyai Wulan Tumanggal." Bayuwisesa mengucapkan nama itu dengan jelas, seperti guru yang membacakan nama murid dari lontar. "Cundrik gading, bilah bulan sabit, motif melati. Dipilih di altar pada upacara pemilihan pusaka musim ini, di depan ayahku, di depan semua tetua, di bawah cahaya fajar." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Kau sedang mengatakan bahwa ayahku salah melihat? Atau bahwa Hyang salah memilih?"

Wajah Gajahsora memucat.

"Bukan begitu, Raden. Saya hanya..."

"Kau memakai sabuk murid dalam Argasuryan." Suara Bayuwisesa tidak naik sedikit pun. Tetap dingin, tetap tenang, tetap jernih. "Sabuk yang polanya dirancang kakek buyutku. Dengan sabuk itu di pinggangmu, kau merebut pusaka dari tangan murid luar. Kau memelintir tangannya. Lalu kau menendangnya ketika dia sedang berlutut." Ia berhenti. "Di depan abdi."

Matanya bergeser sekilas ke Dira. Sangat sekilas. Lalu kembali ke Gajahsora.

"Besok pagi, setiap abdi di barak akan mendengar bahwa murid dalam Argasuryan menendang perempuan di lapangan latihan. Lusa, setiap pedagang di pasar desa bawah akan mendengarnya. Lalu kadipaten. Lalu perguruan-perguruan lain." Bayuwisesa melangkah setengah langkah lebih dekat. "Kau tidak hanya mempermalukan sabukmu, Gajahsora. Kau mempermalukan padepokan ayahku."

"Raden, dia cuma adik abdi gagal itu..."

Bayuwisesa bergerak.

Dira tidak melihatnya bergerak. Dengan mata Raga Madya, mata yang bisa melihat tetesan kuah berputar di udara, mata yang membuat sendok jatuh tampak selambat daun, Dira tidak melihat apa pun. Satu kejap Bayuwisesa berdiri tiga langkah dari Gajahsora dengan tangan di sisi tubuh. Kejap berikutnya ia berdiri di tempat yang sama, dengan tangan di sisi tubuh, dan di tangan kanannya ada cundrik gading Wulansari.

Gajahsora menatap tangan kirinya yang kini kosong. Lalu ia menjerit.

Ujung sabuk murid dalamnya, yang menjuntai di pinggang kirinya, menyala. Tidak terbakar. Menyala, merah dan perlahan, seperti ujung dupa, menjalar sejengkal ke atas dan berhenti. Bau kain hangus menguar di udara senja.

Bayuwisesa tidak menyentuh keris di pinggangnya. Keris itu masih tersarung. Tetapi udara di sekitar warangka hitam itu bergetar lebih kuat dari sebelumnya.

"Astaga," bisik Ki Jalak. "Astaga, astaga. Itu bukan jurus. Itu cuma... napasnya. Napas Nagageni yang bocor dari sarungnya. Dia bahkan tidak sengaja."

Gajahsora memukul-mukul ujung sabuknya sampai nyalanya padam. Wajahnya merah padam, lalu pucat, lalu merah lagi.

Dira menatap tangan Bayuwisesa yang memegang cundrik itu. Telapak tangannya, ia lihat sekarang, dibalut kain tipis yang ujungnya kemerahan. Seperti telapak tangan orang yang terlalu lama memukul sesuatu yang lebih keras dari dirinya.

"Pergi," kata Bayuwisesa. "Malam ini juga, datangi Ki Brajanala. Ceritakan kepadanya apa yang kau lakukan di lapangan ini. Semuanya. Dengan mulutmu sendiri." Ia berhenti. "Kalau besok pagi Ki Brajanala belum mendengarnya darimu, dia akan mendengarnya dariku. Dan kau tahu yang mana yang lebih buruk untukmu."

Gajahsora membuka mulut. Menutupnya. Lalu ia membungkuk, kali ini dalam sekali, berbalik, dan berjalan pergi meninggalkan lapangan dengan langkah besar-besar, ujung sabuknya yang hangus berayun-ayun di pinggang.

Tetapi sebelum ia menghilang di balik pohon-pohon asam, ia menoleh sekali.

Bukan ke Bayuwisesa. Ke Dira.

Tatapan itu panjang, gelap, dan penuh janji.

Dira membalas tatapan itu tanpa berkedip, sampai punggung lebar Gajahsora lenyap di antara batang-batang pohon.

Baru setelah itu ia merasakan tangannya gemetar. Bukan karena takut. Karena sisa-sisa napas yang tadi berputar seperti pusaran air di bawah pusarnya masih tercecer di lengan dan kakinya, seperti bara yang tercerai-berai dari tungku yang ditendang. Panas di sini, dingin di sana, kesemutan di ujung-ujung jari.

"Kau sadar," bisik Ki Jalak, sangat pelan, "apa yang hampir kau lakukan tadi?"

Tapak Bayu Bajra.

"Dengan putaran pinggul penuh. Dengan napas yang terbelah ke lengan dan kaki sekaligus. Itu belum pernah kau lakukan, bahkan di depan karung beras di tiang dapur." Ki Jalak terdiam sebentar. "Dan kau tetap akan kalah. Tinjunya sudah berpendar. Tapak Raga Madya melawan tinju Prana Puncak. Kau akan mematahkan rusuknya, mungkin. Lalu dia akan mematahkan seluruh tubuhmu."

Dira tidak menjawab. Ia tahu itu. Ia sudah tahu sejak di balik pohon asam, ketika Ki Jalak menyebut tingkat Gajahsora.

Ia tetap akan melangkah. Ia tahu itu juga.


Bayuwisesa tidak menatap Gajahsora pergi. Ia berbalik ke arah Wulansari, yang sudah duduk di atas tanah merah sambil memegangi pergelangan tangan kanannya yang terpelintir. Wajahnya pucat dan berdebu, tetapi matanya kering.

Bayuwisesa tidak mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Ia tidak berjongkok. Ia hanya melemparkan cundrik gading itu, pelan, dari tempatnya berdiri.

Cundrik itu berputar sekali di udara senja, lalu jatuh dan menancap tegak di tanah merah, tepat sejengkal dari lutut Wulansari, bilah bulan sabitnya berkilau.

"Pusakamu," kata Bayuwisesa. "Jaga dia lebih baik. Pusaka yang direbut dari tangan pemiliknya akan ragu memilih pemiliknya lagi."

Wulansari mencabut cundrik itu dari tanah dengan tangan kirinya dan mendekapnya di dada. Ia tidak berterima kasih. Ia hanya menatap Bayuwisesa dengan mata yang keras.

Lalu Bayuwisesa berbalik kepada Dira.

Untuk pertama kalinya sejak altar, mereka saling menatap dari dekat. Dira dengan wajah bengkak dan ungu, satu mata menutup, bibir pecah, baju abdi lusuh basah keringat. Bayuwisesa dengan beskap putih gading tanpa noda, wajah bersih, mata yang tenang dan dingin seperti mata ular yang berjemur.

"Dan kau," kata Bayuwisesa.

Dira menunggu.

"Kau mau apa tadi?" Bayuwisesa memiringkan kepalanya sedikit, menatap tangan kanan Dira yang kini tergantung di sisi tubuhnya. "Dengan tangan terangkat seperti itu. Telapak terbuka. Jari rapat." Sudut bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum, lebih seperti cibiran yang ditahan. "Meniru Tapak Bayu Bajra yang kau intip dari atap dapur? Melawan murid dalam Prana Puncak, dengan tangan yang biasa mengupas bawang?"

Dira tidak menjawab.

"Kalau aku datang terlambat sekejap saja," lanjut Bayuwisesa, "Gajahsora akan memukulmu dengan tinju yang berisi prana penuh. Kau tidak akan bangun lagi. Dan adikmu harus menguburkan kakaknya di bawah pohon asam ini." Ia berhenti. "Itu yang kau inginkan untuknya?"

"Raden..." Wulansari mulai bangkit.

Bayuwisesa tidak menoleh kepadanya. Ia tetap menatap Dira.

"Kau tahu apa yang dikatakan orang tentang adikmu di asrama murid luar?" tanyanya. "Bukan Wulansari si pemilik pusaka bulan. Bukan Wulansari yang kuda-kudanya paling rapi. Mereka menyebutnya adik si anak yang tak tersentuh matahari." Suaranya tidak kejam. Itu yang paling aneh. Suaranya hanya datar, seperti orang yang membacakan hitungan panen. "Selama kau ada di dekatnya, itulah namanya. Gajahsora mengganggunya karena kau. Karena dia tahu tak ada yang akan membelanya. Karena kakaknya hanya abdi gagal yang tak dipilih pusaka mana pun."

Dira merasakan sesuatu di dadanya mengencang.

"Gajahsora bukan yang pertama," kata Bayuwisesa. "Dan dia bukan yang terakhir. Selama kau ada, akan selalu ada Gajahsora lain." Ia menatap Dira lurus-lurus. "Kalau kau memang sayang padanya, jauhi dia. Biarkan dia naik tanpa membawamu di punggungnya."

Hening.

"Raden tidak tahu apa-apa tentang kakak saya."

Wulansari sudah berdiri. Cundrik bulan sabit masih didekap di dadanya, pergelangan kanannya masih menggantung lemas, wajahnya berdebu merah. Tetapi ia berdiri tegak, dan suaranya tidak gemetar sama sekali.

Bayuwisesa akhirnya menoleh kepadanya.

"Raden tidak tahu," ulang Wulansari. "Raden melihatnya sekali di altar, waktu cahaya fajar tidak menyentuhnya, lalu Raden tertawa dan memberinya julukan, dan Raden pikir itu cukup. Raden pikir Raden tahu siapa dia." Ia menarik napas. "Raden tidak tahu apa-apa."

Untuk sesaat, Bayuwisesa menatap Wulansari dengan ekspresi yang belum pernah Dira lihat di wajahnya, sesuatu seperti keheranan, seperti orang yang menemukan bunga tumbuh di celah batu yang ia kira gersang.

Lalu ekspresi itu lenyap.

"Mungkin," katanya. "Aku tahu cukup."

Ia berbalik untuk pergi.


Ia berjalan melintasi lapangan ke arah jalan setapak yang naik ke lereng berpohon asam. Langkahnya ringan dan nyaris tanpa suara, seperti tadi. Ia tidak menoleh ke Wulansari. Ia tidak menoleh ke Dira.

Tetapi di tengah lapangan, tepat di tempat Dira berdiri tadi ketika napasnya berputar seperti pusaran air, Bayuwisesa berhenti.

Ia menunduk.

Di bawah kakinya, di tanah merah yang dipadatkan ribuan kaki selama ratusan warsa, ada retakan. Halus, nyaris tak terlihat dalam cahaya senja yang memudar. Menjalar dari satu titik ke depan seperti jaring laba-laba, sejengkal, dua jengkal.

Titik tempat tumit kanan Dira menekan tanah.

Bayuwisesa menatap retakan itu lama. Lalu, perlahan, ia meletakkan ujung kakinya yang bersandal kulit di tengah retakan itu dan menekannya sedikit, seperti orang menguji apakah papan jembatan masih kuat.

Ia tidak menoleh. Ia tidak mengangkat wajah. Ia berbicara ke tanah, pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh dua orang di belakangnya.

"Lain kali kalau kau ingin memukul seseorang," katanya, "jangan injak tanahnya sekeras itu."

Dira membeku.

"Lapangan ini dipadatkan sejak zaman kakek buyutku. Dua ratus warsa. Murid luar tidak bisa meretakkannya. Kebanyakan murid dalam juga tidak." Bayuwisesa mengangkat kakinya dari retakan itu. "Orang bisa salah paham."

Lalu ia melanjutkan langkahnya, menyeberangi lapangan, menaiki jalan setapak, dan menghilang di antara pohon-pohon asam yang kini hitam berlatar langit ungu. Daun-daun kering berderak di bawah kakinya, lalu suara itu pun lenyap ditelan angin senja dari lereng.

Suaranya masih terdengar sekali lagi, samar, dari balik pepohonan. Mungkin kepada dirinya sendiri. Mungkin kepada siapa pun yang mau mendengar.

"Tikus besar."