Sang Penelan Pusaka

Bab 48Menyembunyikan Taring

Dira tidak langsung pulang ke barak.

Ia berjalan ke belakang gudang rongsokan, ke tempat yang paling sepi di seluruh halaman belakang, dan duduk di atas tunggul kayu tempat ia biasa berlatih Jalak Berbalik di Dahan. Wajahnya berdenyut. Bibirnya yang pecah terasa asin. Mata kanannya kini hampir menutup sama sekali, sehingga dunia hanya tampak separuh: separuh bulan, separuh pohon, separuh gudang.

Ia menunggu.

Ki Jalak tidak membuatnya menunggu lama.

"Kau," kata pusaka tua itu.

Lalu diam.

Dira menunggu lagi.

"Kau, bocah, yang sudah kuajari bernapas. Yang sudah kuajari Langkah Jalak Ngumbara. Yang mematahkan lengannya sendiri dan menatanya dengan satu tangan. Yang memanjat keluar dari sumur yang tak bisa dipanjat. Yang membuat Sutarga menyembah kambing dan Joyokusumo dicambuk di depan seluruh murid dalam..." Suaranya makin tinggi, makin cepat, seperti air yang mendidih di kuali tertutup. "Kau berbaring di lantai lumbung. Dipukuli. Oleh KI CAPING."

"Ya."

"Dan kau tidak melawan!"

"Aku melawan."

"Kau memukul seperti anak perawan mengusir lalat!" Di dalam Balai Sukma, Dira bisa merasakan Ki Jalak mondar-mandir, menghentak-hentak, seperti burung yang mengamuk di dalam sangkar. "Aku pusaka, bocah! Aku keris! Aku pernah... aku tidak ingat apa yang pernah kulakukan, tapi aku yakin aku pernah melakukan hal-hal besar! Aku pernah ditempa di api yang... di api yang sangat panas! Dan tuanku, Wadahku, orang yang membawaku di dalam tubuhnya, berbaring di lantai berdebu gabah sementara kepala dapur pemabuk meninju wajahnya sampai bengkak seperti kendi!"

"Kau bukan tuanku," kata Dira pelan. "Dan aku bukan tuanmu."

Ki Jalak berhenti mondar-mandir.

"Apa?"

"Kau sendiri yang bilang. Waktu pertama kali. Di gudang rongsokan. Kau bilang kau tak mau dipilih, tak mau memilih." Dira menyentuh bibirnya yang pecah dengan ujung jari. "Kita bukan tuan dan pusaka. Kita... aku tidak tahu kita apa. Tapi kau tidak perlu malu karena aku dipukuli. Yang dipukuli aku. Bukan kau."

"Itu tidak menjawab apa-apa."

"Aku tahu."

Ki Jalak diam sebentar. Lalu, dengan suara yang lebih pelan tetapi masih bergetar, "Kenapa?"


Dira mengangkat tiga jari. Dalam cahaya bulan, bayangan jari-jari itu jatuh di atas tanah di depan tunggul.

"Satu," katanya. "Kalau aku menang, Gandawasa akan bercerita. Mungkin bukan malam ini. Mungkin bukan besok. Tapi suatu hari, waktu dia mabuk, waktu dia marah, waktu dia ingin seseorang merasa kasihan padanya, dia akan bercerita. Anak dapur itu memukulku sekali dan aku terbang ke tumpukan gabah. Lalu cerita itu sampai ke Sutarga. Ke Joyokusumo. Ke kawan-kawan mereka. Lalu ke Ki Wiradhana."

"Dia tidak akan cerita sekarang?"

"Orang yang menang diam-diam tidak punya cerita. Orang yang diizinkan menang tidak mau bercerita. Karena kalau dia bercerita, dia harus mengaku bahwa dia diizinkan." Dira menurunkan satu jari. "Malam ini Gandawasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa dia ceritakan kepada siapa pun. Dia akan menyimpannya sampai mati."

Ki Jalak tidak menjawab.

"Dua." Jari kedua turun. "Ki Brajanala. Dia menemukan bekas kaki telanjang di rak paling atas bilik penyimpanan. Dia menatap atap dapur. Dia sedang mencari seseorang yang bisa memanjat rak tanpa suara dan mengintip latihannya dari bubungan." Dira menyentuh pipinya yang bengkak. "Besok pagi seluruh barak akan melihat wajah ini. Mereka akan berbisik, Sudira dipukuli Gandawasa di lumbung semalam sampai matanya tak bisa terbuka. Bisikan itu akan sampai ke mana-mana. Termasuk ke Ki Brajanala."

"Dan Ki Brajanala akan berpikir..."

"Abdi dapur yang dipukuli kepala dapur pemabuk sampai babak belur bukan orang yang bisa memanjat rak tanpa suara." Dira tersenyum. Tersenyum dengan bibir pecah itu sakit, tetapi ia tersenyum juga. "Tidak ada yang mencurigai orang yang kalah."

Hening lama di Balai Sukma.

"Dan yang ketiga?"

Dira menatap jari terakhirnya lama. Lalu ia menurunkannya, pelan.

"Yang ketiga," katanya, "aku sendiri."


Ia tidak segera melanjutkan. Angin malam bertiup dari arah puncak Lawu, membawa bau kayu basah dan bunga-bunga liar. Jauh di arah balairung, kentongan ketiga berbunyi.

"Kau ingat waktu Gandawasa datang ke dapur," kata Dira akhirnya. "Malam setelah aku keluar dari sumur. Dia bertanya apa mauku. Dan aku bilang, belum."

"Aku ingat."

"Kau bilang aku mengucapkannya dengan nada yang sama seperti Ki Wiradhana."

"Ya."

"Aku memikirkannya setiap malam sejak itu." Dira menatap kedua tangannya. "Rasanya enak, Ki Jalak. Mengucapkan kata itu. Melihat wajahnya pucat. Melihatnya mundur. Rasanya seperti... seperti makan peyek kacang waktu lapar. Aku ingin melakukannya lagi. Aku ingin melihat Sutarga lari dikejar kambing lagi. Aku ingin mendengar Joyokusumo menjerit di cambukan kesebelas, kedua belas..."

Ia berhenti.

"Waktu Mbok Darsih bercerita tentang Ki Brangas, aku mengerti sesuatu," lanjutnya, lebih pelan. "Gandawasa tidak lahir jahat. Dia dibuat. Ditampar setiap hari sampai yang tersisa di dalam dirinya cuma tangan yang menampar. Lalu dia menjadi Ki Brangas. Lalu aku..." Ia menelan ludah. "Kalau tadi aku membalas, aku tidak akan berhenti di satu tamparan. Aku tahu itu. Kau juga tahu. Aku akan memukulnya sampai dia merasakan semua pagi yang pernah dia berikan padaku. Dan besok, aku akan merasa enak lagi. Dan lusa aku akan mencari orang lain."

Ki Jalak tidak berkata apa-apa.

"Jadi aku tidak membalas." Dira mengepalkan tangannya, lalu membukanya. "Bukan karena aku baik. Karena aku takut. Takut pada apa yang ada di sini." Ia menyentuh dadanya. "Takut menjadi orang yang tidak bisa berhenti."


Diam yang panjang.

Lalu Ki Jalak menghela napas. Sebuah pusaka tidak bernapas, tetapi itulah yang terdengar di dalam dada Dira: helaan napas panjang orang tua yang lelah.

"Bocah bodoh," katanya. Tetapi suaranya tidak marah lagi.

"Aku tahu."

"Bocah bodoh yang berpikir terlalu banyak."

"Aku tahu."

"Kau tahu apa yang dikatakan orang tentang harimau muda?" Ki Jalak tidak menunggu jawaban. "Harimau muda yang terlalu cepat menunjukkan taringnya akan dibunuh pemburu sebelum taringnya tumbuh penuh. Itu yang dikatakan orang. Pepatah lama. Aku tidak ingat siapa yang mengajarkannya padaku." Ia diam sebentar. "Tapi ada bagian kedua yang jarang diucapkan orang. Harimau yang terlalu lama menyembunyikan taringnya, lama-lama lupa bahwa ia punya taring. Lalu ia menjadi kucing. Lalu ia mati sebagai kucing, padahal ia lahir sebagai harimau."

Dira diam.

"Aku tidak keberatan kau menyembunyikan taring," lanjut Ki Jalak. "Alasan pertamamu bagus. Alasan keduamu lebih bagus. Alasan ketigamu..." Ia ragu. "Alasan ketigamu membuatku takut dan bangga sekaligus. Dan aku tidak suka merasakan dua hal sekaligus. Itu membuat Balai Sukma terasa sempit."

"Maaf."

"Jangan minta maaf. Dengar." Suara Ki Jalak menjadi sangat serius. "Sembunyikan taringmu. Tapi jangan pernah lupa kau punya taring. Dan jangan pernah biarkan rasa takutmu pada dirimu sendiri membuatmu diam waktu seharusnya kau bergerak. Ada saat untuk kalah dengan sengaja. Ada saat untuk menang dengan segala cara. Pendekar yang baik tahu bedanya."

"Bagaimana aku tahu bedanya?"

"Aku tidak tahu." Ki Jalak terkekeh pelan, kekeh yang sedih. "Aku cuma keris tua yang ingatannya bolong. Kalau aku tahu jawabannya, mungkin aku tidak akan berakhir di tumpukan kayu bakar."

Dira tertawa. Tertawa membuat bibirnya sakit dan rusuknya sakit, tetapi ia tertawa juga, pelan, sendirian di atas tunggul kayu di belakang gudang rongsokan, di bawah bulan yang hampir penuh.

"Dan satu lagi," kata Ki Jalak.

"Apa?"

"Lain kali kalau kau mau kalah dengan sengaja, BILANG DULU. Aku hampir mati berdiri tadi. Kalau pusaka bisa mati kaget, aku sudah mati kaget tiga kali."


Pagi berikutnya, wajah Dira menjadi tontonan seisi barak.

Pipi kiri yang membengkak sebesar jambu. Mata kanan yang ungu dan menutup seperti pintu yang terkunci. Bibir yang pecah di dua tempat. Lebam kebiruan di pelipis. Ia berjalan dari barak ke dapur dengan kepala menunduk, dan di setiap langkahnya, bisik-bisik bermunculan seperti jamur sehabis hujan.

"Lihat mukanya..."

"Gandawasa, katanya. Di lumbung. Semalam."

"Gandawasa? Bukannya dia sudah tidak berani menampar siapa-siapa?"

"Mungkin dia marah soal caping. Mungkin dia butuh seseorang untuk..."

"Kasihan anak itu. Baru keluar dari hutan, sekarang..."

Di ambang pintu dapur, Gendhis menjatuhkan bakul berasnya.

"Dira!"

Ia menyerbu ke arahnya, menangkap dagunya dengan dua jari, dan memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan seperti memeriksa terung di pasar. Matanya membelalak, lalu menyipit, lalu membelalak lagi.

"Siapa?" desisnya.

"Aku jatuh."

"Jatuh dari mana? Dari langit? Ke atas tinju seseorang?"

"Di lumbung. Lumbung licin."

Gendhis menatapnya dengan mata yang menyipit sampai tinggal segaris. Di belakangnya, Gandawasa lewat membawa sekarung bawang merah di pundak. Kepala dapur itu tidak menoleh. Kedua tangannya dibalut kain lusuh di sekitar buku-buku jari. Pergelangan kanannya bengkak.

Ia mendengar kata lumbung licin. Dira melihat bahunya menegang sesaat.

Lalu Gandawasa meletakkan karung bawang itu di sudut dapur dan berkata, kepada tak seorang pun, dengan suara datar yang serak:

"Lumbung itu memang licin."

Lalu ia keluar lagi.

Gendhis menatap punggung Gandawasa. Lalu tangan Gandawasa yang terbalut. Lalu wajah Dira. Lalu tangan Gandawasa lagi. Kepala gadis itu bekerja, menghitung, cepat, seperti biasanya.

"Tangannya," bisik Gendhis. "Kenapa tangannya lebih parah dari mukamu?"

Dira tidak menjawab. Ia mengambil bakul beras yang dijatuhkan Gendhis dan membawanya ke tungku ketiga.

Dari tungku ketujuh, Mbah Karta menatapnya sekilas. Lalu, tanpa berkata apa-apa, juru masak tua itu meletakkan sebuah mangkuk kecil di atas bangku di dekat tungku Dira. Isinya pasta kekuningan yang berbau kunyit, jahe, dan sesuatu yang pahit.

"Sup tulang sapi gosong," gumamnya. "Untuk dioles. Jangan diminum."


Wulansari tidak berkata apa-apa ketika melihatnya.

Itu lebih buruk dari apa pun yang bisa dikatakannya.

Ia duduk di akar sawo tua di subuh yang kelabu, dengan bungkusan daun pisang di pangkuannya, dan ketika Dira muncul dari balik lumbung, ia hanya menatap. Wajahnya tidak berubah. Tangannya tidak bergerak. Ia hanya menatap wajah kakaknya yang bengkak, ungu, dan pecah-pecah, lama sekali, sampai Dira merasa lebih sakit oleh tatapan itu daripada oleh semua pukulan Gandawasa.

Dira duduk di sampingnya.

"Wulan..."

"Jangan." Suaranya tipis. "Jangan bilang 'tidak apa-apa'. Kalau kau bilang 'tidak apa-apa', aku akan memanggil kambing itu sekarang juga. Aku serius."

Dira menutup mulutnya.

Lalu membukanya lagi.

"Aku sengaja kalah," katanya.

Wulansari menoleh perlahan.

"Gandawasa menantangku di lumbung semalam. Aku bisa menang. Aku bisa menang dengan mudah. Aku memilih kalah." Dira menatap sumur kering di depan mereka, papan-papan tua, batu besar di atasnya. "Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Tapi aku memilih. Aku tidak dipaksa. Aku tidak takut padanya. Aku memilih."

Wulansari menatapnya lama.

"Kangmas," katanya akhirnya, "kau orang paling aneh yang pernah kukenal."

"Satyaki bilang aku orang paling menakutkan."

"Satyaki belum melihatmu menangis waktu kambing itu makan sandal Mbok Darsih." Wulansari membuka bungkusan daun pisangnya. Nasi jagung. Telur rebus. Ia membelah telurnya menjadi dua dan memberikan separuhnya kepada Dira, seperti ratusan pagi waktu mereka kecil. Lalu ia menyentuh sudut bibir Dira yang pecah, sangat pelan, dengan ujung jari.

"Lain kali," bisiknya, "beri tahu aku dulu."

"Ki Jalak... maksudku, semua orang bilang begitu."

"Siapa?"

"Tidak. Bukan siapa-siapa."

Wulansari menatapnya dengan curiga, tetapi tidak bertanya lagi. Mereka makan dalam diam, mendengarkan burung-burung yang mulai bangun di dahan-dahan sawo.

Lalu, ketika telur sudah habis dan nasi jagung tinggal separuh, Wulansari berhenti mengunyah. Tangannya bergerak tanpa sadar ke pinggangnya, ke cundrik gading kecil bermotif melati yang terselip di sana. Kyai Wulan Tumanggal. Pusaka bulan sabit yang memilihnya di altar.

Ia menggenggam gagang cundrik itu erat-erat.

"Kangmas," katanya pelan. "Ada yang ingin kuceritakan. Aku sudah ingin cerita sejak tiga hari lalu, tapi kau baru keluar dari hutan, lalu urusan Sutarga, lalu Joyokusumo..."

"Apa?"

Wulansari menunduk.

"Ada murid dalam," katanya. "Namanya Gajahsora. Sejak Kakang Sutarga turun ke kandang kambing, dia yang mengawasi latihan murid luar setiap sore." Ia menelan ludah. "Dia selalu berdiri terlalu dekat. Dia selalu menyuruhku tinggal setelah yang lain pulang. Untuk latihan tambahan, katanya."

Dira berhenti mengunyah.

"Kemarin sore dia memegang cundrikku," bisik Wulansari. "Tanpa izin. Dia bilang pusaka bulan seharusnya dimiliki orang yang lebih pantas. Dia bilang adik abdi dapur yang tak tersentuh matahari tidak layak memegang pusaka secantik ini." Genggamannya pada gagang cundrik itu mengeras sampai buku-buku jarinya memutih. "Dan dia bilang... dia bilang sore ini aku harus tinggal lagi. Sendirian. Kalau tidak, dia akan melapor ke Ki Ageng bahwa aku malas berlatih dan tidak pantas memegang pusaka."

Di dalam dada Dira, Ki Jalak berhenti mengunyah peyek kacang yang entah dari mana muncul di Balai Sukma.

Dan Dira, yang semalam berbaring di lantai lumbung tanpa melawan sekali pun, merasakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat hati-hati mulai bergerak di dalam dirinya. Pelan. Dingin. Seperti taring yang mulai tumbuh.

"Bocah," bisik Ki Jalak.

Aku tahu, pikir Dira.

"Ingat apa yang kubilang semalam. Ada saat untuk kalah dengan sengaja..."

Dira meletakkan sisa nasi jagungnya di atas daun pisang dan menatap ke arah barat, ke arah lapangan latihan murid luar yang masih tertutup kabut subuh.

"Sore ini," katanya pelan, "aku yang mengantar air ke lapangan murid luar."