Bab 47Duel di Lumbung
"Bagus," kata Ki Jalak keesokan paginya. "Akhirnya."
Dira sedang menimba air di sumur dapur. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun. Dari dapur terdengar Gendhis mengomeli Gendhing yang memecahkan telur lagi.
"Akhirnya apa?"
"Akhirnya orang itu menantangmu secara terhormat. Tanpa cabai. Tanpa sumur. Tanpa pesan palsu." Ki Jalak terdengar bersemangat, seperti ayam jago tua yang mendengar ayam jago lain berkokok di kampung sebelah. "Malam ini kau akan menunjukkan kepadanya siapa yang dia dorong ke sumur. Bukan seluruhnya. Tak perlu Tapak Bayu Bajra. Cukup Langkah Jalak. Biarkan dia memukul udara sampai lengannya copot. Lalu, sekali saja, satu dorongan kecil di dadanya, persis seperti yang dia lakukan di bibir sumur. Biar dia jatuh terduduk di atas gabah dan tahu rasanya."
Dira menarik timbanya ke atas.
"Atau kau mau yang lebih?" lanjut Ki Jalak. "Aku tak keberatan kalau kau mau yang lebih. Satu tamparan. Satu saja. Untuk ratusan tamparan sejak kau kecil. Itu adil."
Dira menuang air ke gentong.
"Bocah?"
"Aku dengar."
"Lalu?"
Dira menurunkan timba lagi ke dalam sumur. Ia memperhatikan tali ijuk yang terulur di antara jari-jarinya, makin panjang, makin dalam, sampai bunyi byur terdengar dari bawah.
"Nanti malam," katanya.
Ki Jalak, untuk sekali ini, tidak menangkap apa yang tidak diucapkan.
Lumbung padepokan berdiri di ujung timur halaman belakang. Bangunan kayu jati yang tinggi, bertiang dua belas, berlantai papan yang dinaikkan setinggi pinggang dari tanah supaya tikus tak bisa naik. Di dalamnya, padi kering menggunung dalam ikatan-ikatan, gabah yang sudah dirontokkan tersimpan di bakul-bakul besar, dan lesung kayu sepanjang dua orang terbaring di sudut seperti perahu yang terdampar.
Ketika Dira mendorong pintunya sesaat setelah kentongan kedua, sebuah pelita sudah menyala di dalam. Diletakkan di atas lesung, apinya kecil dan tenang.
Gandawasa berdiri di tengah lantai papan, di antara gunungan padi.
Ia tidak membawa alu. Tidak membawa kendi arak. Tidak membawa apa pun. Kain sarungnya tidak terselempang di bahu, tetapi diikat erat di pinggang seperti orang yang hendak bekerja berat. Lengan bajunya digulung sampai siku. Dalam cahaya pelita, bekas-bekas luka bakar di lengannya tampak belang-belang, putih dan mengerut seperti kulit jeruk tua.
Matanya jernih. Untuk pertama kalinya sejak Dira bisa mengingat, mata Gandawasa jernih. Tidak merah. Tidak berair. Tidak berbau arak.
"Kau datang," katanya.
"Kakang yang minta."
Gandawasa mengangguk pelan. Ia menatap Dira dari ujung kepala sampai ujung kaki, lama, seperti orang yang menaksir harga kerbau di pasar.
"Aku sudah lama tidak berkelahi," katanya. "Berkelahi sungguhan. Bukan menampar abdi." Ia mengepalkan kedua tangannya, membukanya, mengepalkannya lagi. "Terakhir kali waktu umurku lima belas. Melawan abdi kandang yang mencuri jatah makanku. Aku kalah." Sudut bibirnya bergerak sedikit, hampir seperti senyum. "Sejak itu aku tidak pernah berkelahi lagi. Aku cuma menampar orang yang tidak bisa membalas."
Dira diam.
"Malam ini kau boleh membalas," kata Gandawasa. "Aku tidak akan lapor siapa-siapa. Tidak ada Ki Wiradhana. Tidak ada aturan dapur. Cuma kau dan aku." Ia mengangkat kedua kepalannya ke depan wajah, sikap orang yang pernah melihat murid-murid berlatih tapi tak pernah benar-benar belajar. "Ayo."
"Ini dia," bisik Ki Jalak penuh semangat. "Langkah Jalak. Hinggap. Biarkan dia..."
Gandawasa maju dan memukul.
Dira tidak menghindar.
Pukulan itu mendarat di pipi kirinya, tepat di tempat tamparan ratusan pagi. Pukulan orang yang marah dan tak terlatih, yang semua tenaganya datang dari bahu, bukan dari kaki, seperti kata Ki Jalak tentang kebanyakan murid dalam.
Kepala Dira terlempar ke samping. Kali ini ia membiarkannya terlempar. Ia mengendurkan leher dan rahangnya yang ditempa Raga Madya, membiarkan tubuhnya menerima pukulan itu seperti tubuh abdi biasa.
Sakit. Tidak terlalu sakit. Tidak sesakit dulu.
"BOCAH!" Ki Jalak menjerit. "Apa yang kau..."
Dira membalas. Ia mengayunkan tinjunya ke perut Gandawasa. Pelan. Lemah. Pukulan abdi dapur yang tak pernah belajar silat, dengan siku yang terlalu terbuka, pinggul yang tak berputar, dan tenaga yang tak lebih dari tenaga anak tiga belas warsa.
Gandawasa menangkisnya dengan lengan dan memukul lagi. Rusuk kanan. Dira terbungkuk.
"Bocah, apa-apaan ini? Hinggap! Langkah! Kau bisa menghindari itu sambil tidur!"
Dira tidak menghindar. Ia menegakkan badan dan memukul lagi. Pelan. Meleset. Gandawasa memukulnya di dada, lalu di bahu, lalu di pelipis. Dira terhuyung dan jatuh berlutut di atas papan lantai yang berdebu gabah.
"Bangun! Bangun dan lawan dia! Dia bukan apa-apa! Dia cuma..."
Dira bangun.
Ia memukul lagi. Gandawasa menangkis dan membalas. Dira jatuh lagi. Bangun lagi. Jatuh. Bangun.
Ia menghitung, seperti kebiasaannya setiap kali rasa sakit datang. Bukan pukulan. Ia menghitung pagi-pagi yang lain. Pagi ketika ia berumur enam warsa dan ditampar karena menumpahkan air cucian beras. Pagi ketika ia berumur sepuluh dan ditampar karena terlambat menyalakan tungku. Pagi ketika ia berumur empat belas dan ditampar tanpa alasan apa pun, hanya karena Gandawasa bangun dengan kepala berat oleh arak. Ia menghitung semuanya, satu per satu, dan setiap kali ia sampai pada hitungan berikutnya, ia bangun lagi dari lantai papan.
Ia tidak tahu kenapa ia menghitung. Mungkin supaya ia tidak lupa. Mungkin supaya ia bisa melepaskannya, satu per satu, seperti melepaskan kendi-kendi kosong ke dalam tumpukan jerami.
Ini berlangsung lama. Lebih lama dari yang dibutuhkan untuk menanak nasi. Pelita di atas lesung menyala tenang, menerangi dua sosok yang berputar-putar di antara gunungan padi, yang satu memukul dan yang lain jatuh, bangun, memukul lemah, dan jatuh lagi.
Dan di dalam dada Dira, Ki Jalak berhenti berteriak. Pusaka tua itu diam. Diam yang dingin, yang lebih buruk dari teriakan.
Gandawasa yang pertama berhenti.
Ia berdiri di tengah lantai papan, terengah-engah, keringat membanjiri wajah dan lehernya, kedua tangannya tergantung di sisi tubuh. Di bawahnya, Dira terbaring telentang di atas debu gabah, pipi bengkak, bibir pecah, satu mata mulai menutup.
Gandawasa tidak menatap Dira. Ia menatap tangannya sendiri.
Buku-buku jarinya robek dan berdarah. Bukan sedikit. Kulitnya terkelupas di keempat buku jari kedua tangan, merah dan basah, seperti tangan orang yang sepanjang malam meninju batang pohon asam. Jari-jarinya gemetar. Pergelangan tangan kanannya bengkak.
Ia menatap tangan itu lama sekali. Lalu ia menatap Dira.
Dira, yang wajahnya bengkak dan bibirnya pecah, tetapi napasnya tenang. Teratur. Pelan, turun ke bawah pusar, seperti napas orang yang sedang tidur siang, bukan napas orang yang baru dipukuli sepanjang malam.
"Kau tidak melawan," kata Gandawasa.
"Aku melawan, Kakang." Dira menggerakkan bibirnya yang pecah. "Aku kalah."
"Kau tidak melawan."
Dira diam.
Gandawasa berlutut, perlahan, seperti orang tua yang lututnya sakit, di samping tubuh Dira yang terbaring. Ia mengangkat tangannya yang berdarah dan menatapnya lagi, lalu menatap wajah Dira.
"Waktu aku memukulmu," katanya pelan, "rasanya seperti memukul tiang lumbung. Tanganku yang hancur. Bukan wajahmu." Suaranya mulai bergetar. "Kau bisa menghindar. Aku lihat. Waktu panci jatuh. Waktu sendok jatuh. Kau bisa menghindari semuanya. Kau bisa menghindari pukulanku sambil menutup mata." Ia menelan ludah. "Dan kau bisa membalasku. Satu pukulan. Satu saja. Dan aku akan terkapar di sini seperti kendi pecah."
"Kakang menang," kata Dira. "Semua orang boleh tahu. Kakang boleh bilang ke seluruh barak, Gandawasa memukuli Sudira di lumbung sampai babak belur. Aku tidak akan bilang lain."
Gandawasa menatapnya.
Dan Dira melihatnya. Melihat sesuatu runtuh di dalam mata kepala dapur itu, sesuatu yang lebih dalam dan lebih tua daripada amarah atau takut, yang selama ini menopang seluruh tubuhnya seperti tiang menopang lumbung. Sesuatu yang selama bertahun-tahun berkata: aku yang memukul, jadi aku bukan yang dipukul. Aku yang menampar, jadi aku bukan anak gendut sekarung beras.
Tiang itu retak. Lalu runtuh.
Karena Gandawasa mengerti. Ia tidak menang. Ia diizinkan menang. Oleh orang yang bisa menghancurkannya dengan satu pukulan, dan memilih tidak melakukannya.
Ia dikasihani.
"Kenapa?" bisiknya. Suaranya pecah. "Kenapa kau tidak membalas? Kau punya semua alasan di dunia. Aku menamparmu sejak kau bisa berjalan. Aku merobek kainmu. Aku bersaksi palsu soal ingkung. Aku melempar cabai ke matamu dan mendorongmu ke sumur dan menutupnya dengan batu." Ia mencengkeram baju Dira dengan tangan yang berdarah. "Kenapa?"
Dira menatap langit-langit lumbung, ke balok-balok jati yang menghitam di atas sana, dalam cahaya pelita yang bergoyang.
"Mbok Darsih cerita," katanya pelan. "Tentang Kakang. Tentang Ki Brangas. Tentang kuali panas dan gudang beras yang gelap. Dan tentang pohon sawo."
Cengkeraman Gandawasa mengendur.
"Mbok Darsih bilang, dia sudah lihat banyak anak yang ditampar tumbuh jadi orang yang menampar." Dira memalingkan wajahnya yang bengkak dan menatap Gandawasa. "Kakang berjanji kepada pohon sawo itu, waktu umur sembilan. Kakang tidak akan jadi seperti Ki Brangas."
Gandawasa tidak bernapas.
"Aku juga tidak mau jadi seperti Kakang," kata Dira. "Itu saja."
Gandawasa melepaskan baju Dira.
Ia duduk di atas lantai papan berdebu, di samping Dira, punggungnya bersandar ke sebuah bakul gabah, kedua tangannya yang berdarah tergeletak di pangkuan dengan telapak menghadap ke atas, seperti tangan orang yang meminta sesuatu.
Ia tidak menangis. Dira mengira ia akan menangis, tetapi ia tidak menangis. Ia hanya duduk di sana dan menatap pelita di atas lesung, dan wajahnya kosong, seperti dapur yang semua tungkunya sudah padam.
Mereka duduk lama dalam diam.
Di dalam dada Dira, Ki Jalak juga diam. Begitu diam sehingga Dira bisa merasakan diamnya, seperti dinding dingin di Balai Sukma.
Akhirnya Gandawasa bergerak. Ia bangkit dengan susah payah, berpegangan pada bakul gabah. Tubuhnya yang dulu selalu tampak terlalu besar untuk dapur kini tampak terlalu kecil untuk lumbung. Ia berjalan ke lesung dan mengambil pelitanya.
Lalu ia berhenti di ambang pintu, membelakangi Dira.
"Aku tidak akan bilang ke siapa-siapa," katanya. Suaranya datar dan pelan. "Bahwa aku menang. Atau bahwa aku kalah. Atau bahwa kau bisa menghindari panci. Atau bahwa kau keluar dari sumur yang tak bisa dikeluari orang." Ia diam sebentar. "Aku tidak tahu apa kau. Aku tidak mau tahu lagi. Tapi aku tidak akan bilang ke siapa-siapa."
Ia melangkah keluar. Lalu berhenti lagi.
"Satu hal," katanya tanpa menoleh.
Dira menunggu.
"Sebelum Ki Wiradhana berhenti menerimaku," kata Gandawasa pelan, "dia memanggilku ke biliknya. Waktu itu aku masih matanya. Dia bertanya macam-macam. Tentang dapur. Tentang kau. Tentang Mbah Karta." Ia menelan ludah. "Dan dia bertanya satu hal yang aneh. Sangat aneh. Sampai sekarang aku tidak bisa tidur karenanya."
Pelita di tangannya bergetar sedikit.
"Setelah purnama nanti, rombongan dari kadipaten akan datang membawa upeti. Ada pesta besar di balairung. Tamu-tamu bangsawan. Dan Ki Wiradhana bertanya kepadaku, siapa abdi yang biasanya mengantar hidangan ke meja tamu kehormatan." Gandawasa berhenti. "Lalu sebelum aku sempat menjawab, dia bilang, 'Pastikan anak itu. Sudira. Pastikan tangan dia yang membawa piringnya.'"
Dira bangkit duduk di atas lantai papan. Rasa sakit di wajah dan rusuknya mendadak tak terasa lagi.
"Aku tanya kenapa," lanjut Gandawasa. "Dia cuma tersenyum. Dan bilang, 'Supaya semua orang ingat siapa yang membawanya.'"
Hening.
"Aku tidak tahu apa artinya," bisik Gandawasa. "Aku tidak mau tahu. Aku cuma..." Suaranya pecah. "Aku sudah mendorongmu ke sumur. Aku tidak mau ada yang kedua."
Ia melangkah pergi ke dalam gelap tanpa menunggu jawaban. Cahaya pelitanya mengecil, mengecil, lalu lenyap di balik dinding kandang kambing.
Dira duduk sendirian di lantai lumbung dalam gelap.
Supaya semua orang ingat siapa yang membawanya.
Dan di dalam dadanya, setelah diam yang begitu panjang sampai Dira mengira pusaka itu sudah tertidur, Ki Jalak akhirnya berbicara. Suaranya tidak keras. Tidak marah. Dingin, seperti air di dasar sumur yang sudah ratusan warsa tak tersentuh matahari.
"Bocah," katanya. "Kita perlu bicara. Sekarang."