Bab 46Gandawasa Sendirian
Mereka datang untuk Gandawasa dua malam kemudian.
Dira tidak mencarinya. Ia hanya kebetulan ada di sana, di belakang gudang rongsokan, mengulang Jalak Berbalik di Dahan di atas tunggul kayu dalam cahaya bulan yang kini bulat penuh di sisi kanannya dan hanya sedikit kempis di sisi kiri. Purnama tinggal beberapa malam lagi. Di dalam dadanya Ki Jalak bersiul pelan, menjaga irama.
Lalu siulan itu berhenti.
"Dengar."
Dira berhenti di atas tunggul, satu kaki terangkat.
Suara-suara. Dari balik kandang kambing, di ujung halaman belakang, di tempat yang selama setahun menjadi tempat Sutarga meneguk arak curian. Bunyi tubuh yang didorong ke pagar bambu. Napas yang terengah. Suara yang Dira kenal.
"...bukan aku! Demi bapak-ibuku, bukan aku!"
Gandawasa.
Dira turun dari tunggul dan berjalan ke sana tanpa suara, menyusuri bayangan dinding gudang, lalu bayangan tumpukan kayu bakar, sampai ia bisa melihat celah di antara bilah-bilah pagar kandang.
Ada tiga orang. Sutarga, wajah bulatnya kini tanpa udeng, bajunya masih kotor dan berbau kotoran kambing. Dan dua murid dalam yang tak dikenal Dira, kawan-kawan Joyokusumo, bertubuh tegap, bersabuk. Joyokusumo sendiri tidak ada. Punggungnya yang bergaris-garis merah belum mengizinkannya berdiri lama.
Di tengah mereka, terpojok ke pagar kandang, berdiri Gandawasa.
Kepala dapur itu tampak lebih kecil dari biasanya. Ia memang tidak pernah besar. Selama ini ia hanya terlihat besar, seperti katak yang menggembungkan perutnya di depan ular. Sekarang perutnya kempis. Hidungnya berdarah.
"Siapa lagi yang tahu?" desis Sutarga. "Siapa lagi yang minum bersama kami di sini? Siapa lagi yang tahu jalan Joyo ke jurang barat?"
"Aku tidak pernah bilang siapa-siapa! Aku bersumpah! Aku..."
Salah satu murid dalam meninjunya di perut. Gandawasa terbungkuk, terbatuk-batuk, dan merosot ke tanah dengan punggung bersandar di pagar.
"Kau dimarahi Ki Wiradhana," kata Sutarga. Ia berjongkok di depan Gandawasa. "Semua orang tahu. Kau tak becus mengawasi anak dapur itu. Ki Wiradhana tak mau lagi menerimamu di bilik tetua. Jadi kau cari sesuatu untuk dipersembahkan. Kau cari cara supaya kelihatan berguna." Ia mencengkeram rambut Gandawasa dan menarik kepalanya ke belakang. "Dan kau pilih kami."
"Bukan aku..." Suara Gandawasa pecah. Bukan suara kepala dapur yang membentak abdi. Suara orang yang tahu tak seorang pun akan percaya padanya. "Bukan aku, Sutarga. Kita kawan. Sudah lima warsa. Aku tak pernah..."
Sutarga menamparnya.
Dira berdiri di balik pagar kandang dengan tangan terkepal.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan.
Dia tidak melakukannya.
"Tidak. Kau yang melakukannya."
Dira tidak menjawab. Ia tahu itu. Ia sudah tahu sejak di bawah pohon asam, ketika Sutarga meludahkan nama itu seperti biji salak. Ia hanya belum membiarkan dirinya memikirkannya.
Gandawasa, yang mendorongnya ke dalam sumur. Gandawasa, yang menamparnya ratusan kali sejak kecil, yang merobek kain di lehernya, yang bersaksi palsu soal ingkung. Gandawasa pantas dipukul. Gandawasa pantas jauh lebih dari dipukul.
Tetapi bukan untuk ini. Bukan untuk hal yang tidak ia lakukan.
"Dan kau tidak bisa keluar," bisik Ki Jalak, seperti membaca pikirannya. "Kalau kau melompat ke sana dan melawan tiga orang, dua di antaranya murid dalam, kau harus memakai sesuatu yang bukan milik abdi dapur. Dan besok pagi, seluruh padepokan akan tahu."
Di balik pagar, salah satu murid dalam mengangkat kakinya untuk menendang.
Dira menunduk, memungut sebutir kerikil dari tanah, dan menimbangnya di telapak tangan.
Lalu ia menjentikkannya.
Tidak ke Sutarga. Tidak ke murid-murid dalam itu. Ke tiang kayu di ujung kandang, ke pasak kayu kecil yang mengunci pintu bilah bambu kandang kambing.
Kerikil itu melesat dalam gelap seperti lebah. Tak. Pasak itu terlempar dari lubangnya.
Pintu kandang berderit terbuka.
Dan dari dalam kandang, seperti sudah menunggu kesempatan ini sepanjang hidupnya, kambing bermata jahat melangkah keluar.
Ia tidak terburu-buru. Ia berjalan pelan ke tengah halaman, kepalanya yang bertanduk melengkung terangkat tinggi, sepasang mata kuning berpupil melintang berkilat dalam cahaya bulan. Ia menatap keempat orang di depan pagar satu per satu, seperti hakim menatap terdakwa.
Lalu tatapannya berhenti pada Sutarga. Orang yang tiga hari terakhir mengeruk kotorannya setiap pagi sambil memaki-makinya.
Kambing itu menunduk.
"Oh, tidak," kata Sutarga.
Kambing itu menyeruduk.
Dira tidak menunggu sampai selesai. Ia hanya sempat melihat Sutarga lari terbirit-birit melintasi halaman dengan kambing di belakangnya, kedua murid dalam itu melompat ke atas tumpukan jerami sambil menjerit, dan Gandawasa terduduk di tanah sambil menatap semua itu dengan mulut menganga dan hidung berdarah.
Lalu Dira menyelinap pergi.
"Kambing itu," kata Ki Jalak dengan suara tercekik oleh tawa yang ditahan, "adalah binatang paling hebat di seluruh lereng Lawu. Aku ingin dia menjadi pusaka."
Kambing tidak bisa menjadi pusaka.
"Kau yang menelan pusaka. Kau tidak bisa bilang apa yang bisa dan tidak bisa."
Dira tidak tertawa. Ia berjalan pulang ke dapur dengan kepala menunduk, dan di belakangnya, sayup-sayup, terdengar jeritan Sutarga dan embik panjang yang penuh kemenangan.
Hari-hari berikutnya, Gandawasa runtuh sedikit demi sedikit, seperti tebing yang tergerus hujan.
Bukan karena pukulan. Hidungnya yang berdarah sembuh dalam sehari. Yang tidak sembuh adalah hal-hal lain.
Ki Wiradhana tidak lagi menerimanya. Gendhing yang menceritakannya, karena tentu saja Gendhing. Sepupu Gendhing yang menjadi abdi di asrama tetua melihat Gandawasa berdiri di depan pintu bilik Ki Wiradhana sepanjang pagi, menunggu dipanggil masuk. Ia tidak pernah dipanggil. Menjelang siang, seorang murid dalam keluar dari bilik itu dan menyampaikan pesan pendek, cukup keras untuk didengar sepupu Gendhing dari ujung lorong.
Ki Wiradhana tidak membutuhkan mata yang buta.
Lalu para abdi berhenti takut.
Itu terjadi perlahan, lalu sekaligus. Mula-mula hanya bunyi tok di belakang punggungnya. Lalu seseorang meletakkan caping petani di atas bangku bambu tempat ia biasa duduk mengunyah sirih di depan gudang beras. Gandawasa menatap caping itu lama, lalu duduk di sampingnya, di tanah, dan tidak menyingkirkannya. Lalu Mbok Darsih berhenti menjalankan perintahnya. Ketika Gandawasa menyuruhnya menggoreng tempe lebih dulu, Mbok Darsih menggoreng tahu, tanpa berkata apa-apa, tanpa menatapnya. Gandawasa tidak membentaknya. Ia hanya berjalan pergi.
Lalu Gendhing, yang dulu bersembunyi di balik karung beras setiap kali Gandawasa lewat, mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan buku jari di depan wajah Gandawasa. Tok, tok. Persis di depan wajahnya. Sambil nyengir.
Gandawasa menatapnya.
Gendhing berhenti nyengir. Ia menurunkan tangannya pelan-pelan, seperti orang yang baru sadar sedang mengganggu anjing tidur. Tetapi Gandawasa tidak menampar. Tidak berteriak. Tidak melakukan apa pun. Ia hanya menatap Gendhing dengan mata merah yang kosong, lalu berbalik dan pergi.
Gendhing berdiri diam di tengah dapur lama sekali.
"Aneh," katanya akhirnya, kepada siapa pun. "Rasanya tidak enak."
Tak ada yang menjawab.
"Dia dulu sama sepertimu," kata Mbok Darsih.
Mereka duduk di bangku belakang dapur, mencabuti bulu ayam untuk sesaji purnama. Tumpukan bulu putih dan cokelat di antara kaki mereka makin tinggi. Bau air panas dan daging ayam memenuhi udara.
Dira tidak bertanya siapa. Ia sudah tahu dari cara Mbok Darsih menatap ke seberang halaman, ke bangku bambu kosong di depan gudang beras. Caping itu masih tergeletak di sana.
"Waktu itu paceklik," lanjut Mbok Darsih. Tangannya terus bergerak, mencabuti bulu ayam dengan cepat dan cekatan. "Panjang sekali paceklik itu. Tiga musim tak ada hujan. Orang-orang desa di bawah makan akar pisang. Bapaknya membawanya naik ke sini. Umurnya baru sembilan. Gendut, karena biarpun paceklik, emaknya selalu menyisakan nasi untuknya, katanya. Bapaknya menukarnya dengan sekarung beras." Ia berhenti sebentar. "Sekarung. Bukan dua. Bapaknya sempat menawar dua, lalu kepala dapur yang lama bilang anak gendut makannya banyak, jadi sekarung saja."
Dira berhenti mencabuti bulu.
"Kepala dapur yang lama itu namanya Ki Brangas. Kau mungkin ingat dia samar-samar. Waktu itu kau masih bocah, dan anak asuhan jarang masuk dapur." Mbok Darsih menyentak sehelai bulu yang membandel. "Orangnya keras. Tangannya keras. Setiap pagi, Gandawasa kecil ditampar karena terlambat bangun. Setiap siang ditampar karena terlalu lambat. Setiap malam ditampar karena makan terlalu banyak. Bekas luka bakar di lengannya itu, yang belang-belang seperti kulit jeruk, kau tahu dari mana?"
Dira menggeleng.
"Ki Brangas menyuruhnya memegang kuali panas dengan tangan kosong. Supaya tangannya tebal, katanya. Supaya tidak cengeng." Mbok Darsih menggeleng-geleng pelan. "Dan kalau dia menangis, dia dikurung semalaman di gudang beras yang gelap. Tanpa pelita. Ki Brangas bilang ada wewe gombel di sana yang suka makan anak cengeng."
Gandawasa takut hantu, pikir Dira. Lebih takut dari siapa pun di barak.
"Setiap malam waktu dia kecil," kata Mbok Darsih, lebih pelan sekarang, "kalau tidak dikurung, dia menyelinap keluar barak. Ke pohon sawo tua itu. Duduk di bawahnya. Menangis di sana, diam-diam, supaya tak ada yang dengar. Aku tahu karena aku pernah mengikutinya sekali." Ia tersenyum pahit. "Dia memilih pohon angker supaya tak ada yang mau mendekat. Pintar, kan, untuk anak sembilan warsa?"
Tangan Dira berhenti sama sekali.
Tempat yang ditakuti orang adalah tempat yang paling aman untuk bersembunyi. Kalimat itu ia ucapkan sendiri kepada Wulansari, berbulan-bulan lalu, waktu memilih pohon sawo sebagai tempat pertemuan rahasia mereka.
"Lalu Ki Brangas mati," kata Mbok Darsih. "Jatuh dari tangga lumbung, mabuk. Dan Gandawasa, yang sudah bertahun-tahun ditampar, menjadi kepala dapur." Ia meletakkan ayam yang sudah bersih ke dalam baskom. "Dan hal pertama yang dia lakukan sebagai kepala dapur adalah menampar abdi yang terlambat bangun."
Hening lama.
"Kenapa Mbok cerita ini kepadaku?" tanya Dira akhirnya.
Mbok Darsih mengambil ayam berikutnya dan mulai mencabutinya.
"Karena kau dulu juga ditampar setiap pagi," katanya tanpa mengangkat wajah. "Dan sekarang kau tak lagi ditampar. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak mau tahu. Tapi aku sudah tua, Dira, dan aku sudah lihat banyak anak yang ditampar tumbuh jadi orang yang menampar." Ia menyentak sehelai bulu lagi. "Aku cuma tidak mau melihatnya sekali lagi. Itu saja."
Malam itu Dira tidak bisa tidur.
Ia keluar dari barak setelah kentongan kedua dan berjalan tanpa tujuan. Melewati dapur. Melewati lumbung. Melewati kandang kambing, tempat kambing bermata jahat sudah kembali dan sedang tidur dengan kepala tegak seperti penjaga gerbang. Ia tidak sadar ke mana kakinya membawanya sampai ia mencium bau arak.
Ia berhenti di balik lumbung.
Di bawah pohon sawo tua, di bibir sumur kering, duduk Gandawasa.
Ia duduk sendirian dengan kendi arak di pangkuan. Bulan yang hampir penuh menerangi wajahnya, dan wajah itu basah. Ia menatap papan-papan tua yang menutup mulut sumur, dan batu besar di atasnya, dan ia berbicara. Pelan. Kepada sumur itu.
"...aku tak tahu kenapa aku begini," gumamnya. Suaranya serak. "Aku tak tahu. Dulu aku duduk di sini. Di bawah pohon ini. Setiap malam. Aku bilang ke pohon ini, kalau aku besar nanti aku tak akan seperti Ki Brangas. Aku tak akan menampar anak kecil. Aku tak akan..."
Ia meneguk araknya.
"...lalu aku besar. Dan aku seperti Ki Brangas. Lebih buruk. Ki Brangas tak pernah mendorong anak ke sumur."
Dira berdiri diam di balik lumbung.
"Kau dengar aku?" Gandawasa mengetuk papan tutup sumur dengan buku jarinya. Tok, tok. "Kau di bawah sana? Atau kau di dapur, makan nasi dua piring, pura-pura jadi orang? Aku tak tahu lagi. Aku tak tahu apa kau. Aku cuma tahu sejak kau keluar dari sini, semua orang meninggalkanku. Sutarga. Joyo. Ki Wiradhana. Para abdi. Bahkan Gendhing tak takut lagi padaku." Ia tertawa, tawa yang pecah di tengah-tengah dan berubah menjadi sesuatu yang lain. "Kau mengambil semuanya. Tanpa menyentuhku sekali pun. Kau tahu itu? Tanpa menyentuhku sekali pun."
Ia meletakkan kendi araknya di bibir sumur.
Lalu, perlahan, ia menoleh. Ke arah lumbung. Ke bayangan di balik lumbung. Tepat ke tempat Dira berdiri.
Dira tidak bergerak. Ia tidak bernapas. Ia menurunkan napasnya ke bawah pusar dan membiarkannya diam, seperti batu di dasar kolam.
Tetapi Gandawasa tidak membutuhkan suara napas. Ia tidak membutuhkan mata. Ia selalu berpikir dengan hidung, seperti kata Ki Jalak. Seperti anjing.
"Aku tahu kau di situ," katanya pelan. "Aku cium bau rumput basah dan sesuatu yang pahit. Seperti waktu subuh itu."
Dira melangkah keluar dari bayangan lumbung.
Mereka saling menatap di bawah pohon sawo tua, di antara cahaya bulan dan bayangan dahan-dahan, dengan sumur kering di antara mereka. Gandawasa tidak bangkit. Ia tidak mundur. Ia hanya menatap kaki Dira lama sekali, kaki yang menapak di atas rumput, lalu mengangkat wajahnya dan menatap mata Dira.
"Besok malam," katanya. Suaranya tidak gemetar lagi. Datar dan kering seperti tanah di musim kemarau. "Di lumbung. Setelah kentongan kedua. Kau dan aku. Tanpa cabai. Tanpa sumur. Tanpa kambing."
Dira diam.
"Kalau kau orang," kata Gandawasa, "lawan aku seperti orang. Biar aku tahu apa yang terjadi padamu. Biar aku tahu kenapa aku kalah." Ia meneguk araknya sekali lagi, lalu membuang kendinya ke semak-semak. "Dan kalau kau bukan orang..."
Ia berdiri. Ia berjalan melewati Dira, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan, cukup dekat sampai Dira bisa mencium bau arak, keringat, dan sesuatu yang lain di bawahnya. Sesuatu yang lama dan asam, seperti bau anak kecil yang ketakutan.
"...kalau kau bukan orang," bisiknya, tanpa menoleh, "bawa aku sekalian."