Bab 41Keluar dari Sumur
Wadah.
Dira menatap kata itu sampai benang cahaya fajar yang membelok perlahan melurus kembali, menjauh dari lempeng batu, lalu lenyap ketika matahari naik lebih tinggi dan celah di antara papan menjadi sekadar garis terang yang tak lagi mencapai dasar sumur.
Ia tetap menatap meski tak bisa melihat apa-apa lagi.
"Bocah," kata Ki Jalak akhirnya.
"Mm."
"Kau belum minum sejak semalam."
Itu benar. Dan begitu Ki Jalak menyebutnya, haus itu datang sekaligus, seperti pintu yang didobrak. Tenggorokannya kering seperti tanah sawah di musim kemarau. Lidahnya masih menyimpan sisa cabai dan abu. Bibirnya pecah-pecah.
Sumur itu kering. Tetapi tidak benar-benar kering. Dinding batanya lembap, dan di tempat-tempat yang tertutup lumut tebal, butiran air menempel di ujung helai-helai lumut seperti embun di pucuk rumput. Dira merayap di sepanjang dasar sumur dengan kaki kiri terseret, mencari lumut yang paling basah, lalu menempelkan bibirnya ke sana dan mengisapnya.
Rasanya seperti tanah, besi, dan sesuatu yang pahit. Tetapi rasanya basah.
Ia melakukannya sampai tenggorokannya tak lagi terbakar. Lalu ia duduk bersandar ke lempeng batu, di samping pahatan burung jalak, dan mulai berpikir.
"Teriak," kata Ki Jalak.
"Tidak."
"Bocah, ini bukan waktunya bersikap gagah. Siang hari. Pasti ada yang lewat. Teriak, dan seseorang akan menurunkan tali."
"Lalu apa?" Dira menyentuh pergelangan kaki kirinya. Bengkaknya sudah sebesar kepalan tangan. "Lalu semua orang bertanya bagaimana aku bisa ada di dasar sumur. Aku bilang Gandawasa mendorongku. Gandawasa bilang aku bohong, aku jatuh sendiri karena mabuk, atau karena dikejar demit. Siapa yang akan dipercaya? Kepala dapur atau abdi yang dulu pernah dicambuk karena mencuri ingkung?"
Ki Jalak diam.
"Lalu semua orang akan bertanya hal kedua," lanjut Dira pelan. "Bagaimana seorang abdi dapur bisa jatuh dari setinggi ini dan hanya terkilir. Dan pertanyaan itu akan sampai ke telinga yang salah. Kata Nyai."
"Ki Wiradhana."
"Dan dia akan turun ke sumur ini untuk melihat sendiri." Dira menoleh ke lempeng batu di sampingnya, ke pahatan yang kini tak terlihat lagi dalam gelap. "Dan dia akan menemukan ini."
Hening lama.
"Kau benar," kata Ki Jalak akhirnya, dengan nada orang yang sangat tidak suka mengakuinya. "Lalu bagaimana?"
"Tunggu malam. Lalu keluar sendiri."
"Dengan kaki terkilir. Dari sumur sedalam ini. Dengan tutup kayu dan batu besar di atasnya."
"Ya."
"Kau gila."
"Kau yang mengajariku Jalak Nekat."
Ki Jalak mendengus. Lalu, setelah jeda yang panjang, dengan suara yang jauh lebih pelan, "Baik. Tapi pertama, kaki itu. Sobek kain sabukmu. Ikat pergelangan kakimu. Kencang. Seperti yang dilakukan Nyai di lenganmu. Bukan seperti bidai, tapi lilit menyilang, seperti angka delapan."
Dira melepas sabuk kain di pinggangnya, merobeknya menjadi tiga jalur dengan gigi dan tangan, lalu melilitkannya ke pergelangan kaki kirinya menyilang seperti angka delapan, kencang, sampai kakinya berdenyut di bawah lilitan itu.
Lalu ia berbaring di atas tumpukan daun busuk, memejamkan mata, menurunkan napas ke bawah pusar, dan mengarahkannya ke pergelangan kaki. Seperti waktu lengannya patah: pelan, tanpa dipaksa, seperti air hangat yang dituang ke kain yang membalut luka.
Ribuan semut kecil mulai berjalan di dalam tulang pergelangan kakinya.
Sepanjang hari itu ia hanya mendengar suara manusia sekali.
Matahari sudah tinggi. Garis terang di celah papan menjadi paling terang, dan sedikit kehangatan merembes turun ke dasar sumur. Lalu dari atas terdengar langkah kaki dua orang, dan bunyi galah bambu yang dipukul-pukulkan ke dahan pohon.
Seseorang sedang memetik sawo.
"...jangan dekat-dekat sumurnya, Kang," kata sebuah suara perempuan yang dikenali Dira. Mbok Darsih. "Siapa tahu demitnya masih lapar."
"Demit apa? Anak itu lari ke Hutan Larangan." Kang Paidi. "Gandawasa sendiri yang lihat. Katanya tengah malam dia keluar barak buang air, lalu lihat Dira lari ke arah hutan. Mengejar cahaya, katanya. Cahaya kecil, hijau, melayang-layang di antara pohon."
"Cahaya hijau." Mbok Darsih berdecak. "Itu bukan cahaya. Itu mata. Mata Celeng Wesi. Sudah kubilang dari dulu, babi itu kalau sudah lapar..."
"Ssst. Jangan sebut namanya dekat-dekat sini."
Bunyi galah memukul dahan. Sawo-sawo berjatuhan ke tanah dengan bunyi gedebuk pelan.
"Kasihan anak itu," kata Mbok Darsih setelah lama. Suaranya berubah. "Dari bayi aku lihat dia. Anak baik. Pendiam, tapi baik. Tak pernah mengeluh disuruh apa saja."
"Nyai Rukminiwati sudah menyuruh enam murid luar menyisir tepi hutan sejak subuh. Ki Wiradhana juga datang ke dapur tadi pagi. Katanya 'sayang sekali, sayang sekali'. Lalu tanya ke Gandawasa kapan persisnya dia lihat anak itu lari."
Kapan persisnya. Dira membuka mata dalam gelap.
"Lalu Gandawasa?"
"Pucat. Seperti orang mau muntah. Ki Wiradhana menatapnya lama sekali, lalu menepuk bahunya dan pergi." Kang Paidi merendahkan suaranya. "Sejak itu Gandawasa minum terus. Belum siang sudah tiga kendi."
"Dan gadis itu?" tanya Mbok Darsih. "Adiknya anak itu. Murid luar yang dulu sering ke dapur waktu kecil. Yang dipilih pusaka bulan."
"Wulansari." Kang Paidi terdiam sebentar. "Dengar-dengar dia ikut menyisir hutan tanpa disuruh. Murid lain sudah pulang, dia belum. Tadi pagi ada yang lihat dia jatuh terduduk di tepi parit, tidak menangis, tidak apa-apa, cuma duduk saja di situ lama sekali."
Dira memejamkan mata lagi.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan.
Aku tahu.
"Kau masih bisa teriak sekarang."
Dira tidak berteriak. Ia mencengkeram segenggam daun busuk di bawah tangannya, begitu kuat sampai daun-daun itu hancur menjadi bubur di antara jarinya, dan ia mendengarkan langkah kaki Mbok Darsih dan Kang Paidi menjauh, membawa sekeranjang sawo dan kabar kematiannya.
Malam turun.
Garis terang di celah papan memudar, berubah menjadi kelabu, lalu hilang. Kegelapan yang sempurna kembali memenuhi sumur. Dari kejauhan terdengar kentongan pertama, lalu kentongan kedua.
Dira berdiri.
Pergelangan kakinya masih sakit. Tetapi sakitnya sudah berubah dari petir menjadi denyut, dan ketika ia bertumpu di atasnya, kakinya tidak lagi menolak. Ki Jalak bilang tulangnya tidak retak. Hanya uratnya yang tertarik. Setelah seharian dialiri napas, urat itu sudah separuh pulih.
"Separuh," ulang Ki Jalak. "Ingat itu. Separuh. Jangan bertumpu di kaki kiri lebih dari sekejap."
Dira meraba dinding sumur dengan kedua tangan.
Bata merah tua. Lembap, berlumut, licin. Di antara bata-bata itu ada celah-celah tempat adukan kapur tuanya sudah rontok. Celah yang cukup lebar untuk ujung jari, kadang cukup lebar untuk ujung kaki.
Ia memasukkan jari-jari tangan kanannya ke salah satu celah, lalu jari-jari tangan kirinya ke celah lain yang lebih tinggi. Lalu ujung kaki kanannya. Lalu ia menarik dirinya ke atas.
Hinggap. Telapak depan saja. Berat badan tak pernah tinggal di satu tempat.
Satu bata. Dua bata. Lima bata. Sepuluh. Lengannya yang ditempa Raga Madya menarik tubuhnya ke atas semudah mengangkat karung kapuk. Jari-jari kakinya mencari celah dalam gelap seperti jari-jari orang buta mencari aksara di atas lontar.
Dua puluh bata.
Lalu bata di bawah kaki kanannya, yang sudah ratusan warsa menunggu seseorang menginjaknya, remuk.
Dira jatuh.
Tidak jauh kali ini. Dua puluh bata. Ia mendarat di atas tumpukan daun busuk dengan punggung lebih dulu, dan napasnya terhempas keluar dari dadanya yang memar dengan bunyi seperti bantal ditinju.
Ia berbaring di sana, terengah-engah.
"Itu tadi," kata Ki Jalak, "adalah yang terjadi kalau kau memanjat seperti cicak. Kau bukan cicak. Kau jalak."
"Jalak tidak memanjat sumur."
"Jalak tidak memanjat. Jalak melompat." Ki Jalak terdiam sebentar. "Ulurkan tanganmu ke samping. Dua-duanya. Rentangkan."
Dira berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Ujung jari kanannya menyentuh dinding sumur. Ujung jari kirinya hampir menyentuh dinding di seberangnya. Hampir.
Sumur ini sempit. Tak lebih lebar dari satu depa.
"Jalak Mematuk Batu," kata Ki Jalak. "Hentakan pendek ujung kaki. Tapi bukan ke tanah. Ke dinding. Kiri, lalu kanan, lalu kiri. Seperti jalak yang melompat dari dahan ke dahan di antara dua pohon yang berdekatan. Jangan berhenti. Jangan berpegangan. Kalau berhenti, kau jatuh. Kalau terus melompat, kau naik."
"Dengan kaki kiri yang separuh."
"Kaki kiri hanya menyentuh. Kaki kanan yang mendorong. Dan tanganmu. Tanganmu juga kaki malam ini."
Dira menarik napas panjang. Turun ke perut. Berputar sekali, dua kali, tiga kali.
Lalu ia melompat.
Kaki kanan ke dinding kanan, dug, mendorong. Tubuhnya melayang miring ke kiri. Telapak tangan kiri menampar dinding kiri, ujung kaki kiri menyentuh sekejap saja, nyeri menyambar dari tumit ke betis, mendorong. Tubuhnya melayang miring ke kanan. Kaki kanan lagi, dug. Tangan kanan. Kiri. Kanan.
Satu, dua, lompat. Satu, dua, lompat.
Lalu ia berhenti menghitung.
Dan di dalam dadanya, Ki Jalak mulai bersiul.
Siulan jalak kebo, naik turun, berirama, seperti siulan Mbah Karta di dapur, seperti siulan dalam kabut setengah sadar waktu lengannya patah. Dira mengikutinya tanpa berpikir. Kiri, kanan, kiri, kanan. Tubuhnya melompat dari dinding ke dinding dalam gelap seperti burung kecil yang naik dari dasar jurang, dan setiap lompatan membawanya lebih tinggi, lebih tinggi, lebih tinggi lagi...
Kepalanya menghantam papan.
Ia hampir jatuh lagi. Kedua tangannya mencengkeram dinding dengan putus asa, jari-jari menyusup ke celah bata, kaki kanan menekan dinding seberang, punggungnya menempel ke dinding belakang. Ia tergantung di sana, terjepit di antara dinding-dinding sumur seperti biji asam di antara jari, terengah-engah, dengan kepala berdenyut dan papan kayu tua menekan ubun-ubunnya.
Ia sudah sampai.
Batu di atas papan itu berat. Dira bisa merasakannya dari tekanan papan di kepalanya. Batu sebesar anak kambing, mungkin lebih.
Ia mengatur kakinya. Kaki kanan menekan dinding depan, punggung menekan dinding belakang. Kedua telapak tangan ditekankan ke papan di atas kepala.
Lalu ia mendorong.
Papan itu tidak bergerak.
Ia mendorong lagi. Otot bahunya yang memar menjerit. Otot punggungnya yang ditempa bergetar seperti tali busur.
Papan itu berderit. Bergeser satu ruas jari.
"Bukan dengan tangan," bisik Ki Jalak. "Dengan napas. Seperti waktu kau menempa otot. Bawa napas ke punggung, ke bahu, ke telapak tangan. Biarkan napas yang mendorong. Tangan hanya jalannya."
Dira menurunkan napas ke bawah pusar. Memutarnya. Lalu, alih-alih membiarkannya naik ke tulang punggung dan terbelok di leher, ia mengarahkannya ke bahu, membelahnya menjadi dua, mengalirkannya ke kedua lengan, ke telapak tangan.
Panas itu mengalir seperti air hangat ke dalam batang bambu.
Ia mendorong.
Papan itu bergeser. Batu di atasnya bergeser. Bunyi batu besar menggeser papan kayu, grrrk, panjang dan serak di dalam malam yang sunyi. Lalu cahaya bulan menyembur masuk lewat celah yang terbuka, separuh bulan pucat, terang sekali setelah sehari semalam dalam gelap.
Dira memanjat keluar lewat celah itu dan berguling di atas rumput di samping bibir sumur.
Ia berbaring telentang di bawah pohon sawo, menatap bulan di antara dahan-dahan, menghirup udara malam yang dingin dan bersih dan berbau rumput basah, dan untuk sesaat ia tidak memikirkan apa pun.
Lalu ia bangkit dan mengembalikan papan-papan itu ke tempatnya. Persis seperti semula, dengan celah tipis yang sama di antara dua papan yang melengkung. Lalu batu sebesar anak kambing itu, didorong dengan napas dan kedua tangan sampai berada tepat di tempatnya tadi, di atas bekas yang sama di permukaan papan.
Tak ada yang akan tahu sumur ini pernah dibuka.
Ia baru melihatnya ketika berbalik untuk pergi.
Di bawah pohon sawo, di akar besar tempat ia dan Wulansari biasa duduk setiap subuh, ada sesuatu yang diletakkan di atas sehelai daun pisang.
Dira berjongkok.
Bunga. Tiga macam: mawar merah, melati putih, kenanga kuning. Kembang telon, bunga yang ditaburkan di atas makam orang yang baru meninggal. Di samping bunga-bunga itu, sepotong peyek kacang, sudah lembek oleh embun. Dan sebatang dupa kecil yang sudah lama padam, tinggal tangkainya yang hitam.
Di bawah daun pisang itu terselip sehelai lontar kecil yang terlipat dua.
Dira membukanya dengan tangan yang tiba-tiba gemetar. Dalam cahaya bulan ia mengenali aksara itu. Aksara yang ia ajarkan sendiri, bertahun-tahun lalu, di atas pasir halaman belakang asrama, kepada seorang gadis kecil berkuncir dua yang tak sabaran dan selalu menulis huruf nga terbalik.
Huruf nga di lontar itu masih terbalik.
Kangmas.
Kau berjanji tak akan berkata "tidak apa-apa" lagi kepadaku. Di sini. Di bawah pohon ini. Dengan sumpah kelingking.
Kau berbohong.
Kambing bermata jahat akan memakanmu. Aku akan memastikannya sendiri.
Pulanglah.
Di bawahnya tak ada nama. Hanya bekas setetes air yang sudah kering, yang membuat tinta di satu sudut melebar seperti bunga kecil.
Dira duduk di atas akar sawo itu lama sekali dengan lontar di tangannya.
"Bocah," kata Ki Jalak sangat pelan. "Asrama murid luar di sebelah barat. Kau bisa sampai di sana sebelum kentongan ketiga."
Dira melipat lontar itu dan menyelipkannya ke balik kain, di dada, di samping secarik kain hitam halus dari Hutan Larangan.
"Tidak," katanya. "Kalau aku datang ke asrama murid luar malam-malam, seseorang akan melihat. Lalu semua orang tahu aku pulang malam ini, dari arah pohon sawo, bukan dari Hutan Larangan."
"Lalu?"
"Besok pagi." Dira berdiri. Pergelangan kakinya berdenyut. "Besok pagi semua orang akan melihatku. Termasuk dia."
Ia kembali ke dapur lewat atap, dengan langkah setengah pincang yang tetap ringan, lalu turun ke dalam lewat lubang asap di atas tungku ketujuh.
Dapur gelap dan sunyi. Tungku-tungku sudah dingin. Kecuali satu.
Tungku ketujuh masih menyala kecil. Seseorang telah menambahkan sebatang kayu jati ke dalamnya belum lama ini, cukup untuk membuat baranya merah dan hangat. Di atas tungku itu, di atas sebuah nampan bambu, ada semangkuk nasi jagung yang masih mengepul, sepotong ikan asin bakar, sebutir telur rebus, dan semangkuk kecil ramuan berwarna kuning kecokelatan yang berbau kunyit, kencur, dan sesuatu yang pahit.
Ramuan untuk urat yang terkilir.
Dira menatap nampan itu.
Dari gudang beras di seberang halaman terdengar dengkuran Mbah Karta. Pelan. Teratur. Terlalu teratur.
Ia duduk di depan tungku ketujuh dan makan semuanya sampai habis, sampai butir nasi terakhir, lalu meminum ramuan itu dalam sekali teguk. Lalu ia berbaring meringkuk di atas tumpukan jerami di sudut tungku, tempat yang selama sebulan menjadi tempat latihannya, dan tidur seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur.
Ia terbangun karena cahaya.
Bukan cahaya fajar. Cahaya pelita. Kuning, bergoyang-goyang, makin dekat.
Ia membuka mata.
Di ambang pintu belakang dapur, sebelum kentongan subuh, seperti setiap pagi selama lima warsa terakhir, berdiri Gendhis dengan pelita tanah liat di tangan kanan dan seikat kayu bakar di tangan kiri. Matanya bengkak dan merah, seperti mata orang yang menangis semalaman.
Matanya bertemu mata Dira.
Kayu bakarnya jatuh.
Gendhis membuka mulut.