Bab 42Hantu Dapur
Gendhis tidak menjerit.
Itu yang kelak paling diingat Dira dari pagi itu. Gendhis, yang menjerit melihat kecoak, yang menjerit ketika cobeknya retak, yang menjerit setiap kali Gendhing menyembunyikan katak di dalam bakul berasnya, tidak menjerit.
Ia menutup mulutnya. Pelan-pelan. Lalu ia meletakkan pelita tanah liatnya di atas bangku, sangat hati-hati, seperti orang meletakkan bayi yang sedang tidur. Lalu ia berjalan melintasi dapur yang gelap, melewati tungku pertama, kedua, ketiga, sampai ketujuh, dan berhenti di depan Dira yang masih meringkuk di atas jerami.
Ia menatapnya lama.
Lalu ia berjongkok dan mencubit lengan Dira. Keras. Dengan kuku. Dan memutarnya.
"Aduh!"
"Hantu tidak bisa kesakitan," kata Gendhis, suaranya datar dan bergetar sekaligus. Ia mencubit lagi, di tempat lain, lebih keras.
"Aduh, Gendhis, aduh, iya, iya, aku bukan hantu..."
"Hantu juga tidak ngorok." Cubitan ketiga. "Kau ngorok. Aku dengar dari pintu. Seperti Mbah Karta."
"Gendhis!"
Gadis itu berhenti mencubit. Ia menatap Dira dengan mata yang bengkak dan merah, dan bibirnya mulai bergetar, dan Dira bersiap menghadapi tangis.
Gendhis memukul kepalanya. Dengan telapak tangan. Tidak keras, tapi berkali-kali, seperti orang menepuk-nepuk bantal yang tak mau kempis.
"Bodoh! Bodoh! Abdi bodoh! Kau tahu aku menangis semalaman? Semalaman! Gendhing juga! Dia pura-pura tidak, tapi dia menangis di balik selimut, aku dengar! Mbok Darsih tidak masak sambal kemarin, tidak masak sambal, Dira, kau tahu artinya itu? Seumur hidupku Mbok Darsih tidak pernah tidak masak sambal!"
"Maaf..."
"Ke mana kau?"
Dira membuka mulut. Gendhis menunggu. Dan di dalam dada Dira, Ki Jalak berdeham.
"Hutan," bisiknya. "Ingat ceritanya. Gandawasa yang mengarangnya. Biarkan dia memilikinya."
"Hutan Larangan," kata Dira. "Aku lihat cahaya. Kecil, hijau, melayang di antara pohon. Aku ikuti. Lalu aku tersesat. Lalu aku jatuh ke jurang kecil dan kakiku terkilir." Ia menunjuk pergelangan kaki kirinya yang masih terbebat sobekan sabuk. "Seharian aku merangkak keluar. Baru sampai tengah malam tadi."
Gendhis menatap kaki itu. Lalu menatap wajah Dira yang memar. Lalu matanya yang masih bengkak.
"Cahaya hijau," ulangnya pelan.
"Ya."
"Seperti kata Gandawasa."
"Ya."
Gendhis menyipitkan mata. Dira bisa melihat kepala gadis itu bekerja, menghitung, seperti waktu ia menatap cobek yang retak dan pisau yang tertancap di bangku.
Tetapi sebelum Gendhis sempat menghitung sampai selesai, pintu belakang dapur terbuka lagi.
Gendhing masuk sambil menguap lebar, membawa dua kendi kosong, rambutnya berdiri ke segala arah seperti sarang burung manyar.
"Ndhis, kau sudah nyalakan..."
Ia berhenti. Kendi-kendinya berhenti. Mulutnya yang masih menguap berhenti di tengah jalan, terbuka lebar, seperti mulut ikan di atas talenan.
Ia melihat Dira.
Dira melambaikan tangan sedikit. "Gendhing."
Gendhing menjerit.
Itu jeritan yang luar biasa. Jeritan yang dimulai rendah seperti lenguhan kerbau, lalu naik makin tinggi, makin tinggi, sampai terdengar seperti suling yang ditiup anak kecil. Kedua kendinya jatuh dan pecah. Ia mundur, menabrak kusen pintu, berbalik, dan berlari keluar ke halaman sambil terus menjerit, kedua tangannya melambai-lambai di atas kepala.
"HANTU! HANTU! DIRA JADI HANTU! DIA DI TUNGKU KETUJUH! DIA MELAMBAI KE AKU! DIA MAU AJAK AKU MATI!"
Dira dan Gendhis saling menatap.
"Oh, tidak," kata Ki Jalak dengan nada orang yang sangat menikmati sesuatu. "Oh, ini akan bagus."
Dalam waktu yang dibutuhkan untuk menanak segenggam beras, seluruh barak abdi sudah bangun.
Mereka datang ke dapur dalam rombongan. Tidak ada yang mau datang sendirian. Dan tidak ada yang datang dengan tangan kosong.
Kang Paidi di depan, memegang sapu ijuk terbalik seperti tombak. Di belakangnya Mbok Darsih dengan sebakul garam kasar, mulutnya komat-kamit membaca mantra tolak bala yang setengahnya ia karang sendiri. Dua abdi kandang membawa alu. Seorang abdi cuci membawa seikat bawang putih yang masih bertanah. Seseorang membawa kentongan dan memukulnya terus-menerus, tok-tok-tok-tok, tanpa alasan yang jelas. Dan di paling belakang, mengintip dari balik punggung semua orang dengan wajah sepucat nasi, Gendhing, yang kini memegang cobek retak milik Gendhis sebagai perisai.
Mereka berhenti di ambang pintu dapur. Tak ada yang mau melangkah lebih dulu.
Dira, yang masih duduk di atas jerami, mengangkat tangan dengan sopan. "Selamat pagi, Mbok. Kang."
Mbok Darsih melempar segenggam garam.
Garam itu menghantam wajah Dira, masuk ke mata yang baru sembuh dari cabai, dan Dira menjerit untuk kedua kalinya dalam dua hari karena sesuatu yang dilempar ke matanya.
"Lihat!" seru Mbok Darsih penuh kemenangan. "Lihat! Dia kesakitan kena garam! Itu hantu! Garam membakar hantu!"
"Garam membakar MATA, Mbok!" teriak Dira sambil mengucek-ucek matanya.
"Hantu juga bisa bicara! Hantu pintar meniru suara orang yang sudah mati!"
"Aku belum mati!"
Seorang abdi kandang melempar seikat bawang putih. Dira menangkapnya. Dengan satu tangan. Tanpa melihat. Matanya masih terpejam karena garam.
Hening total.
"Bocah," kata Ki Jalak dengan suara tercekik, "kau... kau baru saja menangkap bawang putih dengan mata tertutup di depan dua puluh abdi."
Oh.
"Dia menangkapnya," bisik seseorang di belakang. "Tanpa lihat."
"Hantu bisa melihat tanpa mata."
"Hantu takut bawang putih, kan? Kenapa dia tidak takut?"
"Mungkin hantunya hantu dapur. Hantu dapur suka bawang putih."
"Mbok, apa ada hantu dapur?"
"Ada," kata Mbok Darsih dengan yakin, padahal ia baru saja mengarangnya. "Hantu dapur. Arwah abdi yang mati penasaran karena tidak sempat makan. Matanya merah, mukanya biru-biru, suka duduk di dekat tungku, dan..." Ia menatap Dira yang matanya merah, wajahnya memar biru-biru, dan duduk di dekat tungku. Suaranya mengecil. "...dan persis seperti itu."
Dua puluh abdi mundur selangkah serentak.
Penyelamatnya datang dari arah yang paling tidak terduga, dengan langkah yang paling lambat.
"Ada apa ini ramai-ramai? Ada selamatan?"
Mbah Karta menyibak kerumunan abdi seperti orang menyibak tirai manik-manik. Ia menguap lebar, kepalanya yang botak mengilat dalam cahaya pelita, dan di tangannya ada sendok kayu panjang yang selalu ia bawa ke mana-mana, bahkan ke kakus, kata Gendhing.
"Hantu, Mbah!" seru Kang Paidi. "Dira jadi hantu! Di tungku ketujuh!"
Mbah Karta menatap Dira. Ia berjalan mendekat, pelan, menyeret kakinya, dan berhenti tepat di depan Dira yang masih duduk di atas jerami dengan bawang putih di tangan dan garam di rambut.
Ia membungkuk. Ia menatap wajah Dira lama, dari dekat sekali, sampai hidung mereka hampir bersentuhan. Lalu ia mengangkat sendok kayunya dan menusuk-nusuk pipi Dira dengan ujungnya.
Tuk. Tuk. Tuk.
"Empuk," katanya.
Ia menusuk perut Dira. Tuk.
Perut Dira menjawab dengan bunyi keroncongan yang panjang, keras, dan sangat tidak gaib.
Mbah Karta menegakkan badan dan menoleh ke kerumunan.
"Hantu," katanya dengan nada guru yang menjelaskan hal paling sederhana di dunia kepada murid-murid paling bodoh, "tidak lapar. Hantu sudah mati. Orang mati tidak makan nasi. Kalau ada hantu yang perutnya keroncongan, itu bukan hantu. Itu abdi malas yang minta sarapan."
Ia menoleh lagi ke Dira dan mengulurkan sendok kayunya.
"Ambil piring. Tadi malam aku masak terlalu banyak. Seperti biasa. Aku sudah tua, tidak bisa menghitung nasi."
Kerumunan itu diam. Lalu, perlahan, Kang Paidi menurunkan sapu ijuknya.
"Jadi... bukan hantu?"
"Hantu," kata Mbah Karta sambil berjalan pergi, "punya kaki yang tidak menapak tanah. Lihat sendiri."
Dua puluh pasang mata serentak menatap kaki Dira.
Dira, dengan sangat perlahan, mengangkat kaki kirinya yang terbebat sobekan sabuk dari atas jerami dan menapakkannya ke lantai tanah. Lalu kaki kanannya. Lalu ia berdiri, sedikit pincang.
"Menapak," bisik Gendhing dari balik cobek.
Seseorang mulai tertawa. Lalu seseorang lagi. Lalu Mbok Darsih menjatuhkan bakul garamnya, menerobos kerumunan, dan memeluk Dira begitu erat sampai rusuknya yang memar menjerit, sambil menangis dan mengomel sekaligus tentang anak-anak zaman sekarang yang suka keluyuran mengejar cahaya ke hutan dan membuat orang tua mati berdiri.
Gandawasa datang paling akhir.
Ia datang ketika kerumunan sudah mulai bubar. Para abdi kembali ke pekerjaan mereka sambil bercerita satu sama lain dengan suara keras tentang hantu dapur yang ternyata lapar. Gendhis menyendokkan nasi ke piring Dira dengan wajah masam yang tak bisa menyembunyikan lega. Gendhing berdiri jauh-jauh, masih memeluk cobek, menatap Dira dengan curiga, dan sesekali melirik kakinya.
Gandawasa berdiri di ambang pintu belakang dengan kendi arak di tangan.
Ia tidak bergerak. Ia tidak berbicara. Wajahnya, yang biasanya merah oleh arak dan amarah, kini putih. Bukan pucat. Putih, seperti nasi yang terlalu lama direndam air. Bibirnya yang merah oleh sirih tampak seperti luka di wajah yang putih itu.
Matanya tertuju pada Dira.
Lalu, perlahan, seperti ditarik oleh tali yang tak terlihat, matanya turun.
Ke kaki Dira.
Dira tahu apa yang dilihatnya. Gandawasa takut hantu, lebih takut dari siapa pun di barak. Ia takut ular, takut babi hutan, takut gelap, dan lebih dari semuanya, takut pada arwah. Ia mendorong Dira ke dalam sumur yang semua orang tahu angker, lalu menutupnya dengan papan dan batu. Tak seorang pun bisa keluar dari sana. Tak seorang pun.
Kecuali kalau yang keluar bukan lagi orang.
Kendi arak itu bergetar di tangan Gandawasa. Isinya tumpah sedikit, menetes ke kakinya sendiri.
Dira menelan suapan nasinya, meletakkan piring, dan berdiri. Lalu ia membungkuk kepada kepala dapur itu, sopan, persis seperti seorang abdi kepada atasannya.
"Kakang," katanya. "Maaf membuat Kakang cemas."
Gandawasa tidak menjawab.
"Kakang benar," lanjut Dira dengan suara yang cukup keras untuk didengar seisi dapur. "Aku memang lari ke hutan malam itu. Mengejar cahaya hijau. Untung Kakang melihatku, jadi Nyai tahu harus mencari ke mana." Ia tersenyum. Senyum kecil, ramah, polos. "Terima kasih, Kakang."
Gendhis berhenti menyendok.
Gandawasa menatap Dira. Dan di mata merahnya, Dira melihat pikirannya bergerak, lambat dan tersendat seperti kerbau yang terperosok lumpur.
Dia tidak melapor. Dia tahu. Dia pasti tahu. Dia ada di sana. Dia melihatku. Dan dia tidak melapor. Dia malah membenarkan ceritaku. Di depan semua orang.
Kenapa?
Dan karena Gandawasa tidak bisa menemukan jawabannya, karena di dalam kepala Gandawasa tak ada satu pun alasan yang masuk akal kenapa orang yang didorong ke sumur mau menutupi kebohongan orang yang mendorongnya, ia sampai pada satu-satunya kesimpulan yang tersisa.
Dia menyimpannya. Untuk nanti.
Kendi arak itu jatuh dari tangan Gandawasa dan pecah di lantai.
Tak ada yang tertawa kali ini.
Wulansari datang ketika matahari sudah naik setinggi pucuk pohon kelapa.
Ia datang bersama dua murid luar lain. Ketiganya berlumpur sampai lutut, rambut mereka kusut penuh daun kering, dan wajah mereka lelah. Mereka baru kembali dari sisir pagi di tepi Hutan Larangan, dan seseorang di gerbang belakang sudah memberi tahu mereka.
Dira sedang menimba air di sumur dapur ketika melihatnya.
Wulansari berhenti di ujung halaman belakang, lima puluh langkah jauhnya. Ia tidak berlari. Ia tidak berteriak. Di depan dua murid luar lain dan selusin abdi yang lalu-lalang, ia tidak boleh melakukan apa pun yang menunjukkan bahwa ia mengenal abdi dapur ini lebih dari abdi dapur mana pun.
Jadi ia hanya berdiri di sana. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.
"Jadi abdi yang hilang sudah kembali," katanya kepada kawan-kawannya, dengan suara murid luar kepada abdi, datar dan berjarak. "Bagus. Kita tidak perlu ke hutan lagi besok. Aku akan melapor ke Nyai Rukminiwati."
Ia berbalik untuk pergi.
Dan sambil berbalik, tanpa menoleh, tangan kanannya terangkat ke lehernya sendiri. Dua jari. Menyentuh sekali.
Simpulnya.
Lalu, masih tanpa menoleh, tangan itu turun, dan dengan gerakan yang begitu cepat sehingga tak seorang pun selain Dira yang melihatnya, Wulansari mengacungkan kepalan tangan kecil ke arahnya. Kepalan tangan yang gemetar.
Kambing bermata jahat akan memakanmu. Aku akan memastikannya sendiri.
Dira menunduk menatap timbanya, dan untuk pertama kalinya dalam dua hari, ia tersenyum sungguhan.
"Bocah," kata Ki Jalak, "gadis itu akan membunuhmu nanti. Kau tahu itu, kan?"
Aku tahu.
"Bagus. Asal kau tahu."
Malam itu, Gandawasa tidak minum.
Dira tahu karena ia mendengarkan. Ia duduk di depan tungku ketujuh dengan pergelangan kaki terendam baskom air hangat berisi kunyit dan garam, ramuan kedua dari nampan misterius, dan mendengarkan barak abdi. Ia tidak mendengar bunyi kendi. Tidak mendengar tegukan. Tidak mendengar gumaman mabuk dari balik dinding gedek.
Yang ia dengar adalah langkah kaki. Berat, menyeret, ragu-ragu. Langkah kaki yang berhenti di depan pintu belakang dapur, lama sekali, lalu masuk.
Gandawasa berdiri di dalam bayangan, jauh dari cahaya tungku. Ia tidak mendekat.
"Apa maumu?" bisiknya.
Dira tidak menjawab. Ia menatap bara.
"Kau tidak melapor. Kau bisa melapor ke Nyai. Ke Ki Ageng. Kau bisa... Kau malah bilang aku benar. Di depan semua orang." Suara Gandawasa pecah. "Apa maumu?"
Dira mengangkat kakinya dari baskom, mengeringkannya dengan sobekan kain, dan membebatnya lagi dengan lilitan menyilang seperti angka delapan. Ia melakukannya dengan sangat pelan, sangat teliti, tanpa terburu-buru, seperti Gandawasa tidak ada di sana.
Lalu ia mendongak, dan cahaya tungku ketujuh menerangi separuh wajahnya.
"Tidak ada, Kakang," katanya lembut. "Belum."
Gandawasa mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Lalu ia berbalik dan keluar dari dapur dengan langkah yang hampir berlari, persis seperti malam ia meninggalkan sumur.
Di dalam dada Dira, Ki Jalak diam lama sekali.
"Bocah," katanya akhirnya. "Kata itu. 'Belum.' Kau tahu siapa yang mengucapkannya pertama kali?"
"Ki Wiradhana. Lewat mulut Joyokusumo, malam aku dicambuk. Jangan sampai mati. Belum."
"Dan kau mengucapkannya dengan nada yang sama."
Dira tidak menjawab. Ia merogoh ke celah batu bata di dasar tungku ketujuh dan mengeluarkan bilah bambu pertamanya, bilah yang penuh tanda-tanda yang hanya ia mengerti. Lingkaran bergaris. Lingkaran penuh. Dua garis miring. Lingkaran berjanggut. Di samping lingkaran bergaris, di sebelah dua titik yang sudah ada, ia memahat satu tanda baru dengan ujung pisau kupas: sebuah garis pendek yang menunjuk ke arahnya sendiri. Takut padaku.
Lalu jarinya bergeser ke tanda berikutnya. Lingkaran penuh. Bentuk kendi kecil, tiga garis, sebuah segitiga. Sutarga. Arak beras Ki Wiradhana. Satu kendi setiap tiga hari. Kendi kosong dibuang di kandang kambing.
Ia menatap tanda itu lama dalam cahaya bara.
"Kenapa bukan Gandawasa?" tanya Ki Jalak. "Dia yang mendorongmu."
"Gandawasa sudah selesai. Dia akan menghukum dirinya sendiri setiap malam lebih keras dari yang bisa kulakukan." Dira membalik bilah bambu itu di antara jari-jarinya. "Lagi pula, bukan Gandawasa yang menampar Wulan di malam kedua aku jadi abdi."
Ki Jalak tidak berkata apa-apa.
Lalu, dari dalam dada Dira, untuk pertama kalinya sejak dasar sumur, terdengar siulan jalak kebo. Bukan siulan pendek tiga nada. Siulan panjang, naik turun, berirama, seperti burung yang baru saja melihat cacing gemuk merayap keluar dari tanah.
"Baik," katanya. "Kita mulai dari Sutarga."