Sang Penelan Pusaka

Bab 40Dasar Sumur

Hal pertama yang dilakukan Dira di dasar sumur adalah menangis.

Itu bukan tangis karena sedih atau takut. Matanya yang memaksanya. Serbuk cabai rawit dan abu dapur masih menempel di kelopak mata, di bulu mata, di sudut-sudut mata yang paling dalam, dan tubuhnya menjawabnya dengan satu-satunya cara yang ia tahu. Air mata mengalir deras, panas, tak berhenti-henti. Hidungnya berair. Ia terbatuk sampai dadanya sakit.

"Jangan digosok," kata Ki Jalak. "Bocah. Dengar. Jangan digosok. Kau hanya akan menggosok cabainya lebih dalam."

"Panas," desis Dira.

"Aku tahu panas. Biarkan air matanya bekerja. Itu gunanya air mata. Bernapas. Turun ke perut."

Dira bernapas. Turun ke perut. Napas itu tersendat di dada yang masih memar, tetapi akhirnya turun juga ke bawah pusar dan berputar, sekali, dua kali, seperti roda yang macet lalu didorong.

Panas itu tidak hilang. Tetapi entah bagaimana menjadi sesuatu yang bisa ditanggung.

Ia berbaring telentang dalam gelap, membiarkan air mata mengalir ke telinga, dan menghitung tulang-tulangnya satu per satu, seperti Nyai Rukminiwati dulu menghitung jari-jarinya setiap kali ia pulang dengan memar waktu kecil.

Tengkorak: utuh, berdenyut, ada benjolan di belakang. Leher: kaku, tetapi bisa digerakkan. Kain di lehernya masih di tempatnya, simpulnya masih simpul Nyai. Bahu kiri: memar. Bahu kanan: memar lebih parah. Lengan kanan: yang baru sembuh itu sakit di tempat alu menyerempet, tetapi tulangnya masih lurus. Tulang rusuk: satu atau dua terasa nyeri setiap kali menarik napas, mungkin retak, mungkin hanya memar. Panggul: utuh. Lutut: utuh. Pergelangan kaki kiri...

Ia menggerakkannya. Rasa sakit melesat dari tumit ke betis seperti petir kecil.

"Terkilir," gumamnya.

"Atau retak."

"Terkilir," ulang Dira, karena ia tak mau memikirkan kemungkinan yang lain.

"Baik. Terkilir." Ki Jalak terdiam sebentar. "Bocah, kau tahu seberapa dalam sumur ini?"

"Tidak."

"Aku juga tidak tahu pasti. Tapi kau jatuh lama sekali. Orang biasa yang jatuh dari setinggi ini akan pecah kepalanya seperti kendi. Orang Raga Awal akan patah kedua kakinya dan mungkin punggungnya." Ada sesuatu dalam suara Ki Jalak yang belum pernah Dira dengar. Sesuatu seperti kebanggaan yang malu-malu. "Kau terkilir."

"Dan menangis."

"Itu cabai. Cabai tidak peduli tingkat kultivasimu."

Dira hampir tertawa, tetapi rusuknya melarang.

Ia berbaring diam dan, karena tak ada lagi yang bisa dilakukan dalam gelap, ia memikirkan wajah Gandawasa sesaat sebelum serbuk cabai itu dilempar. Bukan wajah yang marah. Wajah yang lain, yang hanya muncul sekejap, lalu tenggelam lagi di bawah arak dan dendam. Wajah bocah gemuk yang pernah ditampar orang.

Ia tak tahu harus berbuat apa dengan ingatan itu. Jadi ia menyimpannya, seperti menyimpan bilah bambu di balik bata tungku ketujuh.

Lalu ia memikirkan Wulansari.

Besok subuh Wulan akan datang ke pohon sawo seperti biasa, membawa bungkusan daun pisang berisi nasi jagung dan telur, dan duduk di akar besar itu, tepat di atas kepalanya, menunggu. Ia tak akan tahu bahwa orang yang ditunggunya terbaring dua puluh depa di bawah kakinya, dipisahkan papan kayu tua dan sebongkah batu.

"Jangan," kata Ki Jalak, seperti bisa membaca pikirannya. "Jangan pikirkan itu dulu. Pikirkan yang bisa kau kerjakan. Yang tidak bisa kau kerjakan, simpan untuk nanti."

"Itu ajaran siapa?"

"Ajaranku sendiri. Baru saja kukarang." Jeda. "Bagus, kan?"


Air matanya berhenti setelah lama sekali.

Matanya masih perih, kelopaknya bengkak, tetapi ketika Dira mengedip-ngedipkannya dalam gelap, rasanya tak lagi seperti mengedipkan bara. Ia duduk perlahan, bersandar ke dinding sumur, dan meraba-raba sekelilingnya.

Dasar sumur itu tidak basah. Kering, seperti kata para abdi tua. Tetapi tanahnya tidak keras. Lantainya tertutup lapisan tebal daun-daun busuk, ranting kering, dan sesuatu yang lembut seperti lumut kering atau sarang burung yang sudah lama ditinggalkan. Daun-daun dari pohon sawo, mungkin, yang selama puluhan warsa jatuh ke mulut sumur dan menumpuk di bawah sini, dan yang menyelamatkan nyawanya.

Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan halus. Ia menariknya keluar dari tumpukan daun dan merabanya.

Tulang. Kecil, ringan, berongga. Tulang burung, atau tulang kucing.

Ia meletakkannya kembali dengan hati-hati.

Ada yang lain. Sebuah timba kayu tua yang sudah lapuk, talinya putus, papan-papannya merenggang. Sebuah kendi tembikar yang retak. Sepotong kain yang sudah begitu tua sehingga hancur menjadi debu di antara jari-jarinya.

Lalu dinding sumur itu sendiri.

Dira menekan telapak tangannya ke dinding di belakangnya. Batu bata, seperti di bibir sumur. Lembap dan berlumut. Ia merabanya ke atas, sejauh tangannya bisa menjangkau. Bata, bata, bata. Lalu ke kanan. Bata, bata, bata.

Lalu ke kiri, dan batu batanya berhenti.

Di sana, di bagian dinding yang paling dekat ke dasar, setinggi dada orang yang duduk, bata merah berganti dengan sesuatu yang lain. Permukaannya lebih halus, lebih dingin, dan tidak tersusun dari potongan-potongan kecil. Satu lempeng batu yang lebar, rata, dan sangat tua.

Dan di permukaannya ada sesuatu.

"Bocah," bisik Ki Jalak.

Dira tidak menjawab. Ia menempelkan ujung-ujung jarinya ke batu itu dan merabanya perlahan, seperti orang buta yang membaca wajah kekasihnya.

Garis. Garis-garis yang dipahat ke dalam batu. Halus, dalam, dan sangat teliti. Ia mengikutinya satu per satu.

Sebuah lengkung. Sebuah lengkung lain di bawahnya. Bentuk yang membulat, lalu meruncing. Sesuatu yang tajam dan terbuka seperti...

Paruh.

Paruh yang terbuka, seperti hendak bernyanyi.

Jari-jari Dira berhenti.

Ia pernah melihat paruh itu. Dalam cahaya sumbu yang bergoyang di gudang rongsokan, di ganja sebilah keris kecil yang retak dari ujung ke pangkal. Burung jalak kecil dengan paruh terbuka dan mata yang dipahat sebagai titik kecil di logam hitam. Mata yang tampak berkilat.

Ia mencari matanya.

Ia menemukannya. Sebuah titik kecil yang dipahat dalam, tepat di tempat yang seharusnya.

"Ini kau," bisiknya.

Ki Jalak tidak menjawab.

Dira terus meraba. Burung jalak itu tidak terbang. Ia hinggap. Kakinya yang kecil mencengkeram sesuatu, sebatang dahan. Dahan itu menjulur dari sesuatu yang lebih besar, batang pohon yang tebal dan berbonggol, yang memenuhi hampir seluruh lempeng batu. Cabang-cabangnya menyebar ke atas seperti tangan yang terbuka. Dan di bawahnya, di bagian paling bawah lempeng batu, akar-akarnya juga menyebar, panjang, berkelok-kelok, menembus ke bawah, makin ke bawah, sampai keluar dari tepi lempeng dan hilang di dalam tanah dasar sumur.

Akar pohon yang dipahat itu seperti masih terus tumbuh ke dalam bumi.

"Wreksa," bisik Ki Jalak, sangat pelan.

"Apa?"

"Pohon. Wreksa. Itu namaku. Separuh namaku. Jalak Wreksa. Jalak di atas pohon." Suaranya bergetar. "Aku tidak pernah bertanya kenapa namaku begitu. Aku tidak ingat siapa yang memberikannya. Aku selalu mengira... aku mengira itu nama yang indah saja."


Di bawah pahatan pohon itu, tepat di tengah-tengah akarnya, jari Dira menemukan sebuah lubang.

Bukan retakan. Lubang yang sengaja dipahat, berbentuk ceruk sempit memanjang, dalamnya kira-kira satu ruas jari. Dira merabanya dari ujung ke ujung. Panjangnya tak sampai sejengkal setengah. Bentuknya tidak lurus. Ceruk itu berkelok-kelok sedikit, tidak beraturan, seperti...

Seperti luk keris yang tak tentu.

Dira menarik tangannya, seperti ceruk itu panas.

Ceruk itu kosong. Tak ada apa pun di dalamnya kecuali debu dan sehelai akar halus yang menembus dari celah batu. Tetapi bentuknya, panjangnya, kelokannya...

"Kau pernah di sini," kata Dira. Itu bukan pertanyaan.

Ki Jalak diam lama. Begitu lama sampai Dira mengira ia sudah pergi, kembali ke sudut Balai Sukma tempat ia biasa meringkuk ketika ingatannya sakit.

Lalu, akhirnya, sangat pelan:

"Air."

"Apa?"

"Dulu di sini ada air. Dingin. Sangat dingin. Dan gelap, seperti sekarang, tapi gelap yang lain. Gelap yang basah." Suara Ki Jalak terdengar jauh, seperti datang dari dasar sumur lain yang lebih dalam dari sumur ini. "Aku tidur. Lama. Sangat lama. Aku tidak tahu berapa lama. Air di atasku, batu di bawahku, dan akar-akar... akar-akar itu memelukku. Seperti tangan."

Dira tidak bernapas.

"Lalu ada tangan. Tangan sungguhan. Yang meletakkanku di sini. Aku ingat tangan itu. Besar. Hangat. Berbau..." Ki Jalak berhenti. "Aku tidak ingat baunya. Aku tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingat tangan itu meletakkanku di sini, lalu berkata sesuatu."

"Apa katanya?"

"Tunggu."

"Tunggu apa?"

"Itu katanya. 'Tunggu.' Hanya itu." Ki Jalak tertawa kecil, tawa yang tidak lucu sama sekali. "Lalu aku menunggu. Lama. Lalu airnya surut. Lalu ada tangan lain yang mengambilku. Tangan yang lain, lebih kecil, lebih kasar, dan berbau... berbau asap."

"Asap?"

"Asap. Kayu bakar. Dapur." Ki Jalak terdiam lagi. "Lalu aku tidak ingat apa-apa. Lalu tiba-tiba aku berada di antara tumpukan kayu bakar di belakang dapur. Lalu di gudang rongsokan. Lalu di dalam tubuh seorang abdi bodoh yang mau saja diperintah gadis kecil memanjat pohon jambu."

Dira teringat catatan di lontar paling bawah di lemari jati, yang ditulis dengan aksara kecil, miring, dan tergesa-gesa. Ditemukan di antara tumpukan kayu bakar di belakang dapur. Tak bertuan. Tak bernama. Jangan dibuang.

"Siapa yang mengambilmu dari sini?" bisiknya.

"Aku tidak ingat."

"Ki Jalak..."

"Aku tidak INGAT, bocah!" Suara itu tiba-tiba meledak, menggema di dinding Balai Sukma. Lalu menjadi pelan lagi, malu, hampir memohon. "Maaf. Aku tidak ingat. Ingatanku seperti kain yang dimakan ngengat. Aku hanya punya lubang-lubangnya. Setiap kali aku mencoba mengingat, aku hanya menemukan lubang yang lebih besar."

Dira menempelkan telapak tangannya ke pahatan burung jalak itu dan membiarkannya di sana.

"Tidak apa-apa," katanya. "Kita susun sisanya. Seperti Langkah Jalak Ngumbara. Dengan akalku."

Ki Jalak tidak menjawab. Tetapi di dalam dada Dira, sangat pelan, terdengar siulan jalak kebo. Hanya tiga nada. Lalu hening.


Ia tertidur, atau pingsan. Ia tak tahu yang mana.

Ketika ia membuka mata lagi, gelapnya sudah berbeda.

Masih gelap. Tetapi tidak sempurna lagi. Di atas sana, jauh sekali, papan-papan tutup sumur yang dipasang Gandawasa tidak menutup dengan rapat. Papan-papan itu tua dan melengkung, dan di antara dua di antaranya ada celah. Celah yang sangat tipis, tak lebih lebar dari sehelai daun ilalang.

Dan dari celah itu, sangat pelan, cahaya mulai masuk.

Cahaya fajar.

Dira menatapnya. Seberkas cahaya kelabu kebiruan yang sangat tipis, seperti benang yang ditarik lurus dari mulut sumur ke dalam kegelapan. Benang cahaya itu jatuh ke dinding di seberangnya, ke batu bata berlumut, dan tak menyentuh apa pun yang penting.

Lalu benang cahaya itu bergerak.

Bukan karena matahari naik. Matahari naik terlalu lambat untuk dilihat. Benang cahaya itu membelok, perlahan, melengkung di udara, seperti air yang mengalir menuruni lereng mencari jalan. Membelok menjauhi dinding bata. Membelok ke arah Dira.

Ke arahnya, seperti di altar pada hari upacara pemilihan pusaka, ketika berkas cahaya fajar dari cermin perunggu membelok mengitari kepalanya dan seluruh halaman menahan napas.

Benang cahaya itu menyentuh lempeng batu di samping bahunya.

Dan untuk pertama kalinya, Dira melihat apa yang sejak semalam hanya ia raba dalam gelap.

Burung jalak kecil dengan paruh terbuka, hinggap di dahan sebatang pohon raksasa. Pohon yang cabang-cabangnya menyebar ke atas seperti tangan terbuka, dan akarnya menembus ke bawah tanpa ujung. Ceruk kosong berbentuk keris kecil di tengah-tengah akar. Dan di bawah ceruk itu, sesuatu yang semalam tak sempat ia raba: sebaris aksara.

Aksara Jawa kuno, dipahat kecil-kecil. Sebagian besar sudah aus dimakan waktu dan air, tinggal lekukan dangkal yang tak terbaca. Hanya beberapa yang masih bisa dikenali dalam cahaya fajar yang tipis itu.

Dira mendekatkan wajahnya yang masih bengkak dan membacanya pelan, huruf demi huruf, seperti yang diajarkan Nyai di atas pasir halaman belakang asrama.

...ing wreksa... sing... ngentèni...

...di pohon... yang... menanti...

Lalu lekukan-lekukan yang aus. Lalu, di ujung baris, satu kata yang masih utuh, dipahat lebih dalam dari yang lain, seperti si pemahat ingin memastikan tak seorang pun melewatkannya.

Dira membacanya. Lalu membacanya lagi.

Dingin di lehernya, di bawah kain lurik cokelat tua, tiba-tiba berdetak. Sekali. Keras. Seperti jantung kedua yang terbangun.

Kata itu adalah Wadah.