Sang Penelan Pusaka

Bab 32Malam Patah Tulang

"Dua."

Dira tidak menunggu tiga.

Ia tidak memutuskannya. Tubuhnya yang memutuskan. Mungkin karena menunggu satu hitungan lagi terasa lebih menakutkan daripada rasa sakit itu sendiri. Mungkin karena sebelas warsa ia sudah menunggu, tanpa tahu, dan ia tak mau menunggu sekejap pun lagi.

Ia menekan.

Seluruh berat tubuhnya turun lewat bahu kiri, lewat siku kiri, lewat telapak tangan kiri, tepat di atas benjolan kecil di lengan kanannya. Lurus ke bawah. Tanpa ragu.

Bunyinya tidak keras.

Itu yang paling aneh, yang kelak akan selalu diingatnya. Ia mengira bunyinya akan keras, seperti dahan patah, seperti kayu bakar yang dibelah kapak. Ternyata bunyinya kecil sekali. Klek. Seperti ranting kering yang diinjak di atas lumut. Seperti ceker ayam di tangan Satyaki.

Lalu rasa sakit itu datang.


Dira pernah merasakan sakit. Ia pikir ia tahu sakit. Sepuluh cambukan kulit kerbau. Tangan yang terkelupas oleh tali timba. Lutut yang menghantam batu di jalan patah kaki. Panas tungku yang membakar alisnya. Minyak mendidih yang mengalir di tulang punggungnya ketika meridiannya dibuka.

Semua itu bukan apa-apa.

Rasa sakit ini tidak datang dari luar. Rasa sakit ini datang dari dalam tulangnya sendiri, dari tempat yang paling dalam, paling tersembunyi, paling tak pernah disentuh apa pun. Rasa sakit ini tidak membakar dan tidak menusuk. Rasa sakit ini memekik. Seperti seluruh tubuhnya adalah kentongan dan seseorang memukulnya dengan alu besi sekuat-kuatnya, berulang-ulang, dan bunyinya menggema di setiap tulang, setiap urat, setiap gigi.

Ia menggigit jarik lurik tua itu begitu keras hingga rahangnya terasa akan retak juga.

Ia tidak menjerit.

Ia tidak tahu bagaimana caranya ia tidak menjerit. Napasnya keluar lewat hidung dalam semburan-semburan pendek yang mendesis. Air mata membanjir dari kedua matanya tanpa ia minta. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, seperti daun pisang di tengah badai. Tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya, selain erangan rendah yang tertahan di balik gigi dan kain.

Malam ini jangan berisik. Tulang-tulang tua di gudang beras butuh tidur.

"Diam," kata Ki Jalak. Suaranya datang dari jauh sekali, seperti dari dasar sumur. "Bocah. Diam. Jangan bergerak. Jangan bergerak sedikit pun. Biar aku lihat."

Dira tidak bergerak. Ia tidak bisa bergerak. Ia membeku di depan tungku ketujuh, lengan kanan masih di atas tepi bata, tangan kiri masih menekan, tubuh gemetar, mata terpejam rapat.

Ia merasakan Ki Jalak di dalam lengannya. Pusaka itu bergerak sangat cepat dan sangat hati-hati sekaligus, menyusuri tulang yang baru patah, merasakan setiap ujung, setiap serpih, setiap pergeseran.

"Patah," kata Ki Jalak. "Bersih. Di tempat yang benar. Di sambungan lama." Jeda. "Kau menekan di hitungan dua, bocah gila."

Dira tidak bisa menjawab. Jarik masih di antara giginya.

"Bagus," kata Ki Jalak, dan suaranya bergetar sedikit. "Bagus. Itu lebih bagus daripada ragu di hitungan tiga."


"Sekarang dengarkan," kata Ki Jalak. "Ujung patahannya bergeser. Yang bawah turun sedikit ke dalam, ke arah tulang besar. Yang atas naik sedikit ke luar. Seperti ceker ayam tadi. Kau harus menarik, lalu mendorong. Tapi kau cuma punya satu tangan."

Dira membuka matanya. Pandangannya kabur oleh air mata, berkunang-kunang, bergoyang seperti bayangan di air. Ia menatap lengan kanannya di atas tepi bata. Lengan itu tidak tampak berbeda. Tidak bengkok, tidak bengkak. Belum.

Tetapi ia bisa merasakannya. Sesuatu yang salah di dalamnya. Sesuatu yang tidak lagi tersambung.

Ia tidak punya tangan kedua untuk menarik.

Ia menatap ke sekeliling dapur dengan mata yang berkunang-kunang. Tungku. Rak. Kuali. Tiang dapur.

Tiang dapur. Dengan tali ijuk yang masih terikat di sana, bekas menggantung karung pasir.

Dira melepaskan tangan kirinya dari lengan kanannya. Pelan-pelan, sangat pelan, ia menggeser tubuhnya mundur dari tungku, menyeret lengan kanannya di sepanjang lantai tanah, sampai punggungnya hampir menyentuh tiang dapur. Setiap gerakan membuat rasa sakit memekik lagi di dalam tulangnya, dan setiap kali, ia menggigit jarik lebih keras.

Dengan tangan kiri, ia meraih tali ijuk yang tergantung di tiang. Ia melilitkannya dua kali ke pergelangan tangan kanannya, di atas telapak, dan mengikatnya dengan simpul yang ia buat menggunakan tangan kiri dan giginya. Jarik sempat terlepas dari mulutnya. Ia menggigitnya lagi.

"Apa yang kau..." Ki Jalak berhenti. "Ah."

Dira duduk dengan punggung menghadap tiang. Lengan kanannya terulur ke belakang, pergelangannya terikat tali ijuk ke tiang. Tangan kirinya bebas.

Ia mulai mencondongkan tubuhnya ke depan. Pelan-pelan.

Tali ijuk menegang. Lengan kanannya tertarik ke arah tiang, ke arah ujung, ke arah yang berlawanan dengan tubuhnya.

Rasa sakit memekik lagi. Lebih keras. Dira membungkuk lebih jauh, jarik di antara giginya, keringat menetes dari dagunya ke lantai.

"Ya," bisik Ki Jalak. "Ya. Patahannya terpisah. Tidak menindih lagi. Tahan. Tahan di situ. Jangan tambah, jangan kurangi."

Dira menahan. Tubuhnya membungkuk ke depan, lengannya tertarik ke belakang, tali ijuk menegang seperti senar rebab.

"Sekarang tangan kirimu. Ke tempat patahan. Rasakan dengan jari-jarimu."

Dira meraih lengan kanannya dengan tangan kiri, menyusuri kulitnya dari siku ke bawah dengan ujung-ujung jari yang gemetar. Di tempat benjolan kecil itu dulu berada, ia merasakannya. Tonjolan kecil yang tidak rata, seperti anak tangga yang pecah.

"Itu ujung yang bawah. Dorong ke luar. Ke arah jari kelingking. Pelan. Sedikit demi sedikit. Aku akan bilang kapan berhenti."

Dira mendorong.

Rasa sakit itu tak lagi bisa ia gambarkan. Pandangannya memutih di tepi-tepinya. Telinganya berdenging. Lantai dapur di bawahnya seperti miring ke satu sisi, lalu ke sisi lain.

"Sedikit lagi," kata Ki Jalak dari tempat yang sangat jauh. "Sedikit lagi. Ke luar. Sedikit lagi..."

Dira mendorong.

"Sekarang!"

Klek.

Bunyi kedua. Lebih kecil dari yang pertama. Seperti dua keping kayu yang pas satu sama lain.

Rasa sakit di dalam tulangnya tidak hilang. Tetapi berubah. Pekikan itu turun menjadi erangan. Erangan yang dalam dan berat, tetapi tidak lagi seperti kentongan yang dipukul alu besi.

"Itu dia," bisik Ki Jalak. "Itu dia. Lurus. Bocah, tulangmu lurus. Jangan lepaskan. Jangan lepaskan tali, jangan lepaskan tangan kirimu. Sekarang bidai."


Memasang bidai dengan satu tangan dan gigi, sementara lengan yang patah masih tertarik oleh tali ke tiang dapur, adalah hal tersulit yang pernah dilakukan Dira. Lebih sulit daripada mematahkan tulang itu sendiri.

Ia meraih bidai bambu tua milik ayah Satyaki dengan tangan kiri dan menyelipkannya ke bawah lengan kanannya. Lalu bidai kedua di atasnya. Ia mengoleskan getah daun patah tulang di kulit di antara keduanya dengan ujung jari, merasakan getah itu dingin dan sedikit membakar. Ia menempelkan daun binahong. Lalu pasta kunyit.

Lalu kain pembalut.

Ia menggigit salah satu ujung kain dan melilitkan sisanya dengan tangan kiri, berputar-putar di sekeliling lengan kanan, di atas bidai, dari pergelangan sampai siku. Setiap lilitan harus cukup kencang untuk menahan, tetapi tidak terlalu kencang sampai darah tak bisa mengalir. Wulansari pernah bilang, nanti tanganmu kebas.

Lilitan pertama. Kedua. Ketiga.

Ia harus melepaskan jarik lurik dari mulutnya untuk menggigit kain pembalut, dan begitu jarik itu lepas, sebuah erangan lolos dari tenggorokannya. Erangan yang pendek dan tercekik, seperti anak anjing yang terinjak.

Ia langsung menutup mulutnya. Jangan berisik.

Lilitan keempat. Kelima.

Lalu tali ijuk. Ia mengikat bidai itu di tiga tempat: dekat pergelangan, di tengah, dan dekat siku. Masing-masing dengan simpul yang ia buat dengan tangan kiri dan gigi, lambat, gemetar, berulang-ulang karena simpulnya terlepas lagi.

Ketika simpul ketiga akhirnya terikat, ia melepaskan tali ijuk dari tiang dapur.

Lengan kanannya, terbalut dan terbidai, jatuh pelan ke pangkuannya. Lurus.

Dira bersandar ke tiang dapur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Rambutnya menempel di dahi. Napasnya pendek-pendek dan bergetar. Pandangannya berputar-putar, berkunang-kunang.

"Akar sambung," kata Ki Jalak pelan. "Minum. Sedikit saja."

Dira meraih kendi kecil di sampingnya, kendi yang ia buat sendiri waktu umur sepuluh, dan menuangkan air rebusan akar sambung ke mulutnya. Rasanya pahit dan getir seperti empedu kerbau. Ia hampir memuntahkannya. Ia menelannya.

Lalu ia meletakkan kendi itu dan memejamkan mata.


Ia tidak pingsan. Belum. Tetapi ia berada di tempat di antara sadar dan tidak sadar, di mana dunia terasa jauh dan tipis seperti kabut, dan rasa sakit di lengannya terasa seperti milik orang lain.

Ia mulai bersenandung.

Ia tidak memutuskannya. Bibirnya bergerak sendiri. Suaranya serak, pecah, hampir tak terdengar.

Turua, turu, cah bagus,

lintang sumebar ing langit peteng...

Kidung Pepeling. Tembang nina bobo Nyai Rukminiwati. Tembang yang dinyanyikan Wulansari di depan tungku dapur ini, pada malam kedua ia menjadi abdi.

Sanadyan donya lali marang kowe,

aja nganti kowe lali marang jenengmu...

Di dalam Balai Sukma, sesuatu berubah.

Dira tidak bisa melihatnya dengan mata. Tetapi ia merasakannya. Burung jalak kecil yang kusut itu, yang sepanjang malam berdiri tegang di atas keris retaknya dengan bulu-bulu merapat dan mata kuning menatap lurus, perlahan-lahan mengendur. Bulu-bulunya mengembang sedikit. Kepalanya tertunduk.

"Lagu apa itu?" bisik Ki Jalak, suaranya tiba-tiba sangat pelan, sangat lelah, seperti anak kecil yang mengantuk.

"Kidung Pepeling," bisik Dira.

"Aku tidak kenal." Jeda panjang. "Tapi enak. Nyanyikan lagi."

Dira menyanyikannya lagi. Bait pertama, lagi dan lagi, karena hanya itu yang ia ingat dengan jelas. Suaranya makin pelan, makin serak.

Di dalam Balai Sukma, burung jalak kecil itu meringkuk di atas keris retaknya, menyelipkan kepalanya di bawah sayap, dan untuk pertama kalinya sejak bangun di dalam tubuh Dira, ia tertidur.

Rasa dingin di leher Dira, rasa dingin yang sepanjang malam berdenyut-denyut di bawah kain, juga ikut tenang. Mencair seperti embun disentuh matahari pagi.

Dira tidak menyelesaikan bait terakhir. Suaranya berhenti di tengah kalimat. Kepalanya terkulai ke dada.


Ia tidak tahu berapa lama ia tidak sadar.

Ketika kesadarannya kembali, kembalinya tidak utuh. Seperti air yang merembes ke dalam kendi retak, sedikit-sedikit, tidak penuh. Ia tidak bisa membuka mata. Kelopak matanya terasa seberat batu. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia hanya bisa merasakan.

Ia merasakan lantai tanah dapur di bawahnya, hangat oleh tungku. Ia merasakan tiang dapur di punggungnya. Ia merasakan lengan kanannya di pangkuan, berat, berdenyut, terbalut.

Lalu ia merasakan sesuatu yang lain.

Sepasang tangan.

Tangan-tangan itu menyentuh lengan kanannya. Bukan dengan kasar. Dengan sangat hati-hati, sangat terlatih, seperti tangan seorang empu yang memeriksa bilah keris yang baru ditempa. Tangan-tangan itu melepaskan simpul tali ijuk yang ia ikat dengan gigi, satu per satu, tanpa menggerakkan lengan sedikit pun. Lalu tangan-tangan itu menyentuh bidai bambu, menggesernya, sangat sedikit, hampir tak terasa, seujung kuku ke arah dalam.

Lalu sebuah jari menekan tepat di atas tempat patahan, di bawah kain pembalut. Tekanan yang sangat tepat. Tidak keras, tidak lemah. Seperti orang yang tahu persis di mana harus menekan dan berapa kuatnya.

Rasa sakit menyengat sekejap, lalu mereda. Mereda lebih jauh daripada sebelumnya.

"Sedikit lagi ke dalam," bisik sebuah suara. Sangat pelan. Begitu pelan hingga Dira tidak yakin apakah itu suara sungguhan atau hanya bayangan di dalam kabut kepalanya. "Nah. Begitu."

Tangan-tangan itu mengikat kembali tali ijuk. Simpulnya lebih rapat, lebih rapi, lebih kuat daripada simpul yang dibuat Dira dengan giginya. Lalu sesuatu yang hangat dan berbau hijau dioleskan di atas balutan. Bau hutan sehabis hujan. Bau lumut di batu sungai. Bau madu yang sudah sangat tua.

Ramuan yang sama. Ramuan yang dulu dioleskan ke punggungnya yang dicambuk.

Dira mencoba membuka mata. Kelopaknya bergetar, tetapi tetap tertutup.

Lalu ia mendengarnya.

Siulan.

Pelan dan rendah, hampir tak terdengar, di dekat telinganya. Siulan pendek-pendek yang naik turun, terputus-putus. Siulan jalak kebo.

Dira menunggu Ki Jalak berbicara. Menunggu Ki Jalak bilang, itu aku, bocah, aku yang bersiul.

Ki Jalak tidak berbicara.

Di dalam Balai Sukma, burung jalak kecil yang kusut itu masih meringkuk di atas keris retaknya, kepala terselip di bawah sayap, tertidur pulas sejak Kidung Pepeling yang terakhir.

Ki Jalak tidak sedang bersiul.

Siulan itu datang dari luar.