Bab 31Harga Pertama
"Tidak malam ini," kata Ki Jalak.
"Kenapa?"
"Karena kau belum siap. Karena lenganmu masih retak, dan retak itu harus menutup dulu sedikit supaya patahannya nanti bersih, bukan hancur berkeping-keping seperti kendi yang dijatuhkan. Karena kau belum punya ramuan. Karena kau belum punya bambu penyangga yang benar. Karena kau belum tahu cara menatanya." Ki Jalak terdiam sebentar. "Dan karena aku belum siap."
"Kau?"
"Aku yang akan menuntunmu dari dalam. Aku yang akan merasakan setiap serpih tulangmu ketika patah, dan aku yang harus memberitahumu ke mana harus mendorongnya supaya lurus kembali. Kalau aku salah, sedikit saja, tulangmu akan sembuh miring lagi. Dan kau harus mematahkannya untuk ketiga kalinya."
Dira tidak menjawab. Ia tidak mau memikirkan kali ketiga.
"Tiga hari," kata Ki Jalak. "Beri aku tiga hari. Beri lenganmu tiga hari. Kita siapkan semuanya. Lalu kita lakukan."
Hari pertama, Dira memberi tahu Satyaki.
Ia tidak berencana memberi tahu siapa pun. Tetapi Satyaki muncul di lumbung lagi sore itu, mengambil alu kedua tanpa bertanya, dan menumbuk padi di sebelahnya dalam diam. Setelah sepenanak nasi, tanpa menoleh, ia berkata:
"Kau mau melakukan sesuatu yang bodoh."
Dira berhenti menumbuk.
"Aku bisa melihatnya di wajahmu," lanjut Satyaki. "Ayahku punya wajah yang sama setiap kali mau menebang pohon kelapa sendirian padahal sudah dibilang jangan."
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena kemarin, waktu aku menyebut daun patah tulang, akar sambung, dan kunyit hutan, kau mendengarkan seperti orang menghafal mantra. Lalu hari ini kau menatap lenganmu sendiri seperti tukang jagal menatap paha kambing." Satyaki akhirnya menoleh. "Apa yang mau kau lakukan, Sudira?"
Dira menatap pemuda jangkung itu lama. Ia teringat utang sepiring nasi yang katanya hanya bisa dibayar dengan kesetiaan.
"Lenganku pernah patah waktu kecil," katanya. "Sembuh miring. Sekarang retak lagi di tempat yang sama. Kalau tidak diperbaiki, aku tidak akan pernah bisa naik tingkat."
"Lalu?"
"Lalu aku harus mematahkannya lagi. Di tempat yang sama. Lalu menatanya lurus."
Satyaki menatapnya.
Lalu ia menatap lengan Dira yang terbalut.
Lalu ia menatap Dira lagi.
"Kau," katanya pelan, "mau mematahkan lenganmu sendiri."
"Ya."
"Dengan tanganmu sendiri."
"Ya."
"Tanpa tabib."
"Tak ada tabib di padepokan yang mau mengurus abdi dapur."
Satyaki meletakkan alunya pelan-pelan di dinding lumbung. Ia menghela napas panjang. Lalu ia duduk di atas tumpukan karung gabah dan memijat dahinya dengan kedua tangan.
"Kau gila," katanya. "Kau benar-benar gila. Aku sudah curiga sejak kau keluar dari Hutan Larangan dengan enam ikat kayu bakar, tapi sekarang aku yakin."
"Mungkin."
"Siapa yang mengajarimu ide gila itu? Burung jalakmu?"
Dira tidak menjawab. Di dalam dadanya, Ki Jalak mendengus tersinggung.
Satyaki menatapnya lagi, lama, dengan mata tajam yang biasa ia pakai untuk mengamati latihan murid dalam dari balik pohon. Lalu ia mengangguk perlahan.
"Baik," katanya.
"Baik?"
"Baik. Kau sudah memutuskan. Aku bisa lihat. Ayahku juga begitu, dan tak ada yang bisa melarangnya menebang pohon kelapa. Jadi aku tidak akan melarangmu." Ia bangkit dan mengambil alunya lagi. "Tapi kau tidak akan melakukannya dengan ramuan seadanya. Kalau mau mematahkan tulang, setidaknya patahkan dengan benar dan sembuhkan dengan benar. Aku akan mencarikan semua yang dibutuhkan."
"Satyaki..."
"Utang nasi."
Hari kedua, Satyaki datang ke belakang gudang rongsokan menjelang senja dengan kantong kain yang menggembung.
Ia menuangkan isinya di atas rumput, satu per satu, sambil menyebut namanya seperti tabib desa.
"Daun patah tulang. Getahnya ditempel di kulit di atas tulang yang patah, untuk mengurangi bengkak. Hati-hati, jangan kena mata, perih sekali." Seikat ranting hijau berbuku-buku seperti jari-jari pucat.
"Akar sambung. Direbus, airnya diminum pagi dan malam. Kata ibuku, tulang yang patah akan cepat tersambung." Segenggam akar cokelat keriting seperti rambut nenek-nenek.
"Kunyit hutan. Ditumbuk dengan kapur sirih, ditempel di atas balutan. Supaya tidak bernanah." Beberapa rimpang jingga yang kotor oleh tanah.
"Daun binahong. Kau sudah tahu." Segenggam daun lebar.
"Dan ini." Satyaki mengeluarkan sesuatu yang terbungkus daun jati, membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada dua bilah bambu tua yang sudah dihaluskan, masing-masing sepanjang lengan bawah, dengan sisi dalam yang sedikit cekung. "Bidai. Ayahku memakainya waktu lengannya patah jatuh dari pohon kelapa. Ibuku menyimpannya. Kemarin pagi aku titip pesan lewat pedagang yang lewat ke Sumberwatu, dan ibuku mengirimkannya lewat pedagang yang sama sore tadi. Ongkosnya jatah tempeku sepasar."
Dira menatap kedua bilah bambu itu. Halus, kekuningan, sudah tua, dengan bekas ikatan tali di sana-sini.
"Ini milik ayahmu."
"Ayahku sudah sembuh. Dia tak butuh lagi." Satyaki membungkus bidai itu kembali dan menyerahkannya. "Kembalikan kalau sudah selesai. Ibuku akan memarahiku kalau hilang."
"Satyaki."
"Hm?"
"Aku tidak tahu harus bilang apa."
"Tidak usah bilang apa-apa." Satyaki duduk di rumput dan mengambil sebatang daun patah tulang. "Sekarang dengar. Aku akan mengajarimu cara ibuku menata tulang. Aku sering melihatnya. Petani di Sumberwatu sering patah tulang, jatuh dari pohon, diinjak kerbau, terjepit bajak. Ibuku yang selalu menatanya."
Ia mengambil sesuatu lagi dari kantongnya. Sesuatu yang kecil, kuning pucat, dan berbau samar.
Kaki ayam.
Ceker ayam mentah, lengkap dengan kuku-kukunya, yang rupanya ia ambil dari dapur murid luar.
"Ini," kata Satyaki serius, mengangkat ceker ayam itu di depan wajah Dira, "adalah lenganmu."
"Hah?" kata Ki Jalak.
"Hah?" kata Dira.
"Lihat." Satyaki memegang ceker itu dengan kedua tangan. "Tulang ayam juga ada dua di bagian ini. Seperti lengan bawahmu. Kalau patah, ujung-ujung patahannya akan bergeser. Yang satu naik, yang satu turun. Seperti ini." Ia mematahkan ceker ayam itu dengan bunyi krek yang kecil dan menjijikkan, lalu menggeser kedua potongannya hingga tidak sejajar.
Dira meringis. Di dalam dadanya, Ki Jalak mengeluarkan bunyi seperti burung yang hampir muntah.
"Untuk menatanya," lanjut Satyaki, tanpa terganggu sedikit pun, "kau harus menarik dulu. Pelan. Ke arah ujung. Supaya kedua patahan itu tidak saling menindih. Lalu, sambil tetap menarik, kau dorong patahan yang bergeser kembali ke tempatnya. Kau harus merasakan kapan kedua ujung itu bertemu. Rasanya seperti dua potong kayu yang pas, ada bunyi kecil, klek. Lalu jangan dilepas. Jangan sedikit pun. Langsung pasang bidai, ikat, sementara tanganmu yang lain masih menahan."
Ia mendemonstrasikannya dengan ceker ayam. Menarik. Mendorong. Klek. Kedua potongan ceker itu kembali sejajar.
"Begitu," katanya puas.
Dira menatap ceker ayam itu. Lalu menatap Satyaki. Lalu menatap ceker ayam itu lagi.
"Kau memakai ceker ayam," katanya pelan, "untuk mengajariku menata lenganku sendiri."
"Ibuku memakai ceker ayam untuk mengajariku. Waktu aku umur sepuluh." Satyaki mengangkat bahu. "Paling mirip. Lagi pula, mau pakai apa lagi? Lengan orang?"
"Bocah ini," kata Ki Jalak dengan suara lemas, "bocah ini lebih gila darimu."
Dira mulai tertawa. Ia tidak bisa berhenti. Ia tertawa sampai berbaring di rumput, sampai lengan kanannya yang retak berdenyut-denyut kesakitan, sampai air matanya mengalir. Satyaki menatapnya dengan wajah tersinggung, ceker ayam masih di tangan, lalu akhirnya ikut tertawa juga.
Ketika tawa mereka reda, Satyaki memasukkan ceker ayam itu kembali ke kantongnya.
"Nanti kumasak," katanya. "Sayang kalau dibuang."
Hari ketiga, Dira menyiapkan sisanya.
Ia merebus akar sambung di tungku ketujuh dan menyimpan airnya di kendi kecil yang ia buat sendiri waktu umur sepuluh. Ia menumbuk kunyit hutan dengan kapur sirih di lumpang batu sampai menjadi pasta jingga yang lengket. Ia memisahkan getah daun patah tulang ke dalam mangkuk tembikar kecil. Ia merobek sehelai jariknya yang paling bersih menjadi kain-kain panjang untuk membalut, dan menyiapkan tali ijuk baru yang lentur.
Ia juga menyiapkan alasan.
"Kalau Gandawasa bertanya," kata Ki Jalak, "bilang kau jatuh di lumbung. Waktu menumbuk padi. Terpeleset gabah."
"Itu bohong."
"Itu tidak sepenuhnya bohong. Kau memang menumbuk padi di lumbung. Kau memang pernah jatuh. Waktu umur tujuh. Dari pohon jambu."
"Itu jelas-jelas bohong, Ki Jalak."
"Kau mau bilang yang sebenarnya? 'Kakang Ganda, aku mematahkan lenganku sendiri karena pusaka di dalam tubuhku bilang tulangku bengkok'? Bagus. Lalu kau dicambuk karena gila. Lalu Nyai Rukminiwati datang. Lalu Ki Ageng tahu. Lalu..."
"Baik. Lumbung. Terpeleset gabah."
"Bagus."
Gendhis memperhatikan semua persiapan itu. Ia melihat mangkuk getah daun patah tulang di rak dekat tungku ketujuh. Ia melihat kendi kecil berisi air rebusan akar. Ia melihat pasta kunyit di lumpang. Ia melihat bidai bambu tua yang terbungkus daun jati di bawah karung beras.
Ia tidak bertanya.
Tetapi sore itu, ketika Dira kembali dari lumbung, ada semangkuk besar sup tulang sapi di atas karung beras. Sup sungguhan. Kental, berlemak, dengan potongan tulang sumsum yang besar dan daging yang empuk. Di sampingnya ada sepiring nasi putih yang menggunung, dua butir telur rebus, dan sepotong besar tempe goreng.
Dira menatap makanan itu. Lalu ia menoleh ke arah Gendhis, yang sedang mengulek bumbu di sudut dapur dengan punggung menghadapnya.
"Gendhis."
"Hm?" Gadis itu tidak menoleh.
"Ini..."
"Itu sisa." Ulekannya beradu dengan cobek lebih keras dari biasanya. "Mbah Karta masak sup tulang sapi tadi siang untuk tetua. Kebanyakan. Daripada dibuang."
Dira tahu dapur ini tidak memasak sup tulang sapi siang tadi. Ia ada di dapur sepanjang siang.
"Terima kasih," katanya.
"Makan," kata Gendhis, masih tanpa menoleh. "Semuanya. Tulang butuh makan supaya kuat. Kata nenekku."
"Nenekmu bilang garam untuk hantu."
"Nenekku bilang banyak hal. Sebagian benar." Ulekannya berhenti sebentar. "Yang ini benar."
Malam ketiga.
Seluruh barak sudah tertidur. Dengkuran Gandawasa memenuhi udara malam. Di gudang beras di seberang halaman, Mbah Karta sudah tidur sejak senja.
Atau setidaknya, Dira mengira Mbah Karta sudah tidur. Tetapi ketika ia masuk ke dapur, tungku ketujuh sudah menyala. Api kuning yang besar, kayu jati kering yang ditumpuk rapi. Dan di atas karung beras, di tempat Dira biasa tidur, terlipat sehelai kain.
Kain tebal. Jarik lurik tua yang dilipat empat, rapat dan padat. Cukup tebal untuk digigit tanpa melukai gigi.
Dira menatap kain itu lama.
Lalu ia mendengar suara dari pintu belakang dapur. Pintu itu terbuka sedikit, dan dari celahnya terdengar suara serak Mbah Karta, terlalu jauh untuk melihat wajahnya, terlalu dekat untuk tidak didengar.
"Darsa."
"Inggih, Mbah?"
"Malam ini jangan berisik, ya." Suara itu terdengar mengantuk dan pikun seperti biasa. "Tulang-tulang tua di gudang beras ini butuh tidur. Kalau ada yang menjerit-jerit di dapur tengah malam, nanti aku tak bisa tidur. Lalu besok aku lupa garam."
"Inggih, Mbah."
"Dan tungkunya jangan sampai padam. Besok pagi aku mau masak... masak..." Hening sebentar. "...pokoknya sesuatu. Jaga tungkunya."
Langkah tertatih-tatih menjauh. Pintu belakang dapur menutup sendiri, pelan.
Dira berdiri diam di tengah dapur, menatap jarik lurik tua yang terlipat di atas karung beras.
"Bocah," kata Ki Jalak pelan. "Juru masakmu itu."
"Aku tahu."
"Dia tahu apa yang akan kau lakukan."
"Aku tahu."
"Bagaimana dia bisa tahu?"
Dira tidak menjawab. Ia mengambil jarik lurik itu, lalu duduk bersila di depan tungku ketujuh, di atas lantai tanah yang hangat. Ia meletakkan semua persiapannya di sampingnya, dalam urutan yang sudah ia hafalkan selama tiga hari: mangkuk getah daun patah tulang, pasta kunyit, daun binahong, kain-kain pembalut, tali ijuk, bidai bambu tua milik ayah Satyaki, kendi kecil berisi air rebusan akar sambung.
Lalu ia membuka balutan di lengan kanannya.
Benjolan kecil itu ada di sana, di sisi luar lengan bawahnya, sedikit di bawah tengah. Kecil, keras, dan dingin. Ia meraba-rabanya dengan ujung jari kiri. Selama sebelas warsa benjolan itu ada di sana, dan ia tak pernah menyadarinya.
Ia meletakkan lengan kanannya di atas tepi tungku ketujuh, tepi batu bata yang tebal dan keras, dengan benjolan itu tepat berada di atas sudut bata. Telapak tangannya menghadap ke bawah. Siku dan pergelangannya ditopang, bagian tengahnya tergantung di atas sudut bata seperti jembatan.
Ia mengambil jarik lurik yang dilipat empat dan menggigitnya.
"Ingat," kata Ki Jalak, suaranya sangat pelan dan sangat tenang, ketenangan orang yang tahu panik tidak akan membantu. "Satu tekanan. Lurus ke bawah. Dengan seluruh berat tubuhmu, lewat tangan kirimu, tepat di atas benjolan itu. Jangan ragu di tengah jalan. Kalau ragu, tulangnya akan retak, bukan patah, dan kita harus mengulang. Satu tekanan. Bersih."
Dira mengangguk, dengan jarik di antara giginya.
"Lalu jangan bergerak. Biarkan aku merasakan patahannya dulu. Lalu aku akan memberitahumu ke mana harus menarik dan mendorong. Seperti ceker ayam itu."
Dira hampir tertawa, dengan jarik di antara giginya.
Ia meletakkan telapak tangan kirinya di atas lengan kanannya, tepat di atas benjolan kecil itu.
Di dalam Balai Sukma, burung jalak kecil yang kusut itu menegakkan diri di atas keris retaknya. Bulu-bulunya merapat. Matanya yang kuning menatap lurus ke depan.
"Aku akan menghitung," kata Ki Jalak. "Sampai tiga. Pada hitungan ketiga, tekan."
Dira menarik napas. Ia membiarkannya turun ke bawah pusar. Berputar sekali, seperti roda.
"Satu."