Bab 33Ramuan di Nampan
Dira terbangun karena bau.
Bukan bau busuk seperti saat ia naik ke Raga Awal, juga bukan bau bawang dan jelaga dapur yang biasa. Bau ini lain. Dalam dan tajam, seperti tanah hutan setelah hujan pertama di musim kemarau, bercampur sesuatu yang manis, sedikit pahit, dan sangat tua. Bau yang membuat hidungnya berkedut dan perutnya, entah kenapa, langsung berbunyi.
Ia membuka mata.
Atap dapur yang hitam oleh jelaga ada di atasnya. Ia berbaring di atas tumpukan karung beras, bukan di lantai dapur di depan tiang tempat ia terakhir ingat duduk. Seseorang telah memindahkannya. Selimut jarik pudar menutupi tubuhnya sampai ke dada. Lengan kanannya, terbalut dan terbidai, diletakkan di atas perutnya dengan hati-hati, ditopang segulung kain supaya tidak tergeser.
Di samping karung beras, di atas lantai tanah, ada sebuah nampan kayu.
Di atas nampan itu ada semangkuk nasi putih yang masih mengepul, sebutir telur rebus yang sudah dikupas, sepotong ikan asin goreng, dan secawan kecil sambal. Di tengah-tengahnya, terpisah dari yang lain, ada sebuah mangkuk tembikar kecil berwarna hitam, ditutup daun jati.
Bau itu datang dari mangkuk hitam itu.
Dira bangkit perlahan dengan bertumpu pada siku kiri. Lengan kanannya berdenyut, tetapi denyutnya tidak seperti semalam. Tidak memekik. Hanya berdenyut, dalam dan teratur, seperti luka yang sedang sembuh. Ia mengangkat daun jati yang menutupi mangkuk hitam itu.
Isinya cairan kental berwarna cokelat tua, hampir hitam, berkilat seperti madu. Di permukaannya mengapung beberapa irisan tipis sesuatu yang berwarna kemerahan, seperti akar atau kulit kayu, dan sebutir benda kecil yang keras dan pucat, sebesar biji kemiri.
Uapnya naik pelan, dan bau dalam yang manis-pahit itu memenuhi hidungnya.
"Hmmh," kata sebuah suara di dalam dadanya, mengantuk dan serak. "Bau apa itu?"
"Ki Jalak," bisik Dira. "Kau sudah bangun."
"Aku tidur?" Ki Jalak terdengar bingung. "Pusaka tidak tidur. Aku cuma... memejamkan mata sebentar. Kalau pusaka punya mata." Jeda. "Kau menyanyi. Lagu nina bobo. Lalu aku... lalu..."
"Lalu kau tidur."
"Aku memejamkan mata sebentar."
"Kau tidur, Ki Jalak. Sampai pagi. Aku bisa merasakanmu. Kau meringkuk di atas kerismu dengan kepala di bawah sayap."
Hening yang sangat panjang dan sangat malu.
"Jangan beri tahu siapa pun," kata Ki Jalak akhirnya.
"Memangnya aku mau memberi tahu siapa? Satyaki? 'Satyaki, pusaka di dalam tubuhku tertidur karena lagu nina bobo'?"
"Bagus. Jangan." Lalu, dengan nada yang tiba-tiba waspada: "Bocah, bau itu. Mangkuk hitam itu. Dekatkan ke hidungmu."
Dira mendekatkan mangkuk hitam itu ke wajahnya dan menghirup dalam-dalam.
Ki Jalak tidak berbicara untuk waktu yang lama. Dira bisa merasakan pusaka itu memilah-milah bau itu, seperti juru masak yang mencicipi kuah dan menebak bumbunya satu per satu.
"Akar sambung," kata Ki Jalak pelan. "Itu yang mudah. Kunyit hutan, juga mudah. Madu hutan. Madu tua, sangat tua, mungkin sudah tujuh atau delapan warsa disimpan." Jeda. "Lalu ada yang lain."
"Apa?"
"Benda kecil yang keras itu. Seperti biji kemiri. Itu tanduk. Tanduk kijang muda, tanduk yang baru tumbuh, yang masih dilapisi kulit beledu. Diambil saat kijang itu sedang ganti tanduk, sebelum tanduknya mengeras. Itu obat tulang yang sangat baik. Sangat langka. Butuh pemburu yang sabar menunggu di tempat yang tepat di waktu yang tepat."
"Dan irisan merah itu?"
Ki Jalak tidak langsung menjawab.
"Kulit kayu," katanya akhirnya. "Dari pohon yang... yang..." Ia berhenti. "Aku kenal bau ini. Aku tidak tahu dari mana. Pohon yang tumbuh di tempat tinggi. Sangat tinggi. Di atas awan. Di tempat di mana udaranya tipis dan dinginnya menggigit. Pohon yang daunnya merah sepanjang tahun dan getahnya bisa menyambung tulang yang hancur sekalipun."
"Pohon apa?"
"Namanya... sukma... sukma sesuatu." Ki Jalak menggeram frustrasi. "Jatuh dari bolong. Tapi aku tahu ini: pohon itu tidak tumbuh di lereng Lawu. Tidak di bawah sini. Pohon itu hanya tumbuh di dekat puncak. Di tempat yang bahkan murid dalam Argasuryan tidak berani naik."
Dira menatap mangkuk hitam di tangannya.
Puncak Lawu. Ia pernah mendengar cerita tentang puncak Lawu. Tempat para pertapa dulu bersemadi dan tak pernah kembali. Tempat yang selalu tertutup awan. Tempat di mana, kata para abdi tua, udara begitu tipis sehingga orang biasa akan pingsan dalam sepenanak nasi.
Siapa yang naik ke puncak Lawu untuk mengambil kulit kayu ini?
Siapa yang menunggu kijang muda berganti tanduk?
Siapa yang menyimpan madu hutan selama tujuh warsa?
"Minum," kata Ki Jalak. "Siapa pun yang membuatnya, dia membuatnya dengan benar. Ini akan menyembuhkan tulangmu lebih cepat dari apa pun."
Dira meminumnya.
Rasanya pahit, lalu manis, lalu pahit lagi. Hangat mengalir dari tenggorokan ke perut, lalu menyebar ke seluruh tubuh, dan entah bagaimana, dengan jelas sekali, hangat itu mengalir ke lengan kanannya. Ke tempat patahan. Ke tulang yang baru ditata.
Denyutan di lengannya mereda. Tidak hilang, tetapi mereda, seperti api yang dikecilkan.
Mbah Karta sedang mengaduk sayur di tungku pertama ketika Dira bangkit dari karung beras dengan nampan di tangan kiri.
"Mbah."
"Hm?" Lelaki tua itu tidak menoleh. Ia sedang bersiul pelan, siulan jalak kebo yang biasa.
"Nampan ini. Mbah yang..."
"Nampan?" Mbah Karta menoleh, menatap nampan di tangan Dira dengan mata keruh yang berkedip-kedip. "Oh, itu. Ya. Semalam aku mau merebus tulang sapi, kan? Untuk kaldu. Kau ingat? Kau yang kusuruh jaga tungkunya."
"Ya, Mbah."
"Nah. Gagal." Mbah Karta mengangkat bahu. "Tulang sapinya tidak empuk. Kurang lama. Jadi aku buat sup saja. Itu sup." Ia menunjuk mangkuk hitam yang sudah kosong. "Sup tulang sapi. Sedikit pahit karena gosong."
"Mbah, itu bukan sup tulang sapi."
"Masa?"
"Isinya tanduk kijang muda dan kulit kayu merah dari..."
"Tanduk?" Mbah Karta mengernyit. "Tanduk apa? Aku tidak masak tanduk. Siapa yang makan tanduk? Kau ini habis jatuh kepalamu terbentur, ya?" Ia menunjuk lengan Dira yang terbalut dengan sendok kayunya. "Itu kenapa?"
Dira menatapnya.
Lelaki tua itu menatap balik dengan wajah yang sangat polos, sangat pikun, sangat tidak tahu apa-apa.
"Bilang terpeleset gabah," bisik Ki Jalak.
"Terpeleset gabah, Mbah," kata Dira pelan. "Di lumbung. Semalam."
"Ooh." Mbah Karta mengangguk-angguk. "Terpeleset gabah. Gabah memang licin. Dulu aku juga pernah terpeleset gabah. Kepalaku benjol sebesar kendi." Ia menepuk kepalanya yang hampir botak. "Makanya sekarang botak. Rambutnya kaget, lalu rontok semua."
Gendhing, yang baru masuk dari pintu belakang membawa seikat kayu bakar, tertawa terbahak sampai kayunya jatuh.
"Mbah," kata Dira lagi, lebih pelan. "Semalam. Waktu aku tertidur. Ada yang membetulkan bidai di lenganku. Ada yang mengoleskan ramuan. Ramuan yang sama dengan ramuan punggungku dulu. Lalu ada yang bersiul. Siulan jalak."
Mbah Karta mengerjap. Lalu ia mengangkat bahu, kembali ke kualinya, dan mulai mengaduk.
"Semalam aku tidur nyenyak di gudang beras," katanya. "Nyenyak sekali. Tidak ada yang berisik. Bagus. Terima kasih sudah tidak berisik." Ia mengaduk dua kali. "Kalau ada yang bersiul, mungkin jangkrik. Jangkrik di sini suka bersiul. Atau mungkin kau mimpi. Orang yang tulangnya patah sering mimpi aneh-aneh."
"Tulangku tidak patah. Aku terpeleset gabah."
Sendok kayu itu tertahan di tengah adukan. Lalu bergerak lagi.
"Ya, ya," kata Mbah Karta tanpa menoleh. "Terpeleset gabah. Itu maksudku."
Ia mulai bersiul lagi.
"Siulan," kata Ki Jalak ketika Dira kembali ke bangku sudut dan mulai mengupas bawang dengan satu tangan. "Kau bilang ada siulan semalam. Waktu aku... memejamkan mata."
"Siulan jalak kebo. Di dekat telingaku."
"Bukan aku."
"Aku tahu bukan kau. Kau sedang tidur."
"Memejamkan mata."
"Tidur."
Ki Jalak tidak membantah lagi. Ia terdiam lama sekali. Ketika ia berbicara lagi, suaranya terdengar sangat pelan dan sangat tidak nyaman.
"Bocah. Kau pernah bertanya kenapa siulan juru masakmu itu membuat kepalaku sakit."
"Ya."
"Aku masih tidak tahu kenapa. Tapi aku tahu satu hal sekarang. Siulan itu. Siulan jalak kebo yang pendek-pendek, naik turun, terputus-putus itu." Jeda. "Itu bukan siulan jalak biasa. Jalak kebo di alam tidak bersiul seperti itu. Siulannya lebih panjang, lebih lancar. Siulan yang terputus-putus itu siulan orang yang belajar meniru jalak. Orang yang belajar dari seseorang yang meniru jalak."
"Dari siapa?"
"Dariku," bisik Ki Jalak. "Waktu kau di jurang. Waktu aku menuntunmu dengan irama. Itu siulanku. Aku bersiul seperti itu. Aku selalu bersiul seperti itu." Hening. "Dan juru masakmu bersiul persis sama."
Pisau kupas di tangan Dira berhenti di tengah siung bawang.
Ia menoleh ke arah tungku pertama. Mbah Karta masih mengaduk sayur, membelakanginya, bersiul pelan, siulan pendek-pendek yang naik turun dan terputus-putus.
"Mungkin kebetulan," bisik Dira.
"Mungkin," kata Ki Jalak. Tetapi ia tidak terdengar percaya.
Gandawasa melihat lengan Dira tak lama kemudian.
Kepala dapur itu masuk dengan langkah berat dan mata merah, seperti biasa setelah tiga cawan arak semalam. Ia berhenti di tengah dapur, menatap lengan Dira yang terbalut dan terbidai, dan untuk pertama kalinya sejak Dira mengangkat dandang sendirian, ia tersenyum lebar.
"Wah, wah," katanya. "Anak Matahari kenapa?"
"Terpeleset gabah, Kakang. Di lumbung. Semalam."
"Terpeleset gabah," ulang Gandawasa, senyumnya makin lebar. "Jadi jin tungkumu tidak bisa menolongmu dari gabah, ya?"
Beberapa abdi tertawa.
"Kebetulan sekali," lanjut Gandawasa. "Hari ini kita perlu orang untuk mengupas kelapa. Dua puluh butir. Untuk santan selamatan. Dengan dua tangan saja sudah susah. Dengan satu tangan..." Ia mengangkat bahu dengan sangat puas. "Ya sudah. Kerjakan sebisamu. Kalau tidak selesai sebelum siang, tak ada makan siang."
Dira membuka mulut.
"Kakang," potong Gendhis dari sudut dapur, tanpa berhenti mengulek. "Lantai lumbung memang licin. Gabah yang tumpah dari karung bocor itu belum disapu sejak kemarin. Aku sudah bilang ke Kakang dua hari lalu. Kakang bilang nanti saja." Ia menoleh dengan wajah sangat datar. "Kalau Nyai Rukminiwati tanya kenapa abdi asuhannya terpeleset di lumbung yang lantainya tidak disapu atas perintah kepala dapur, aku harus jawab apa?"
Senyum Gandawasa membeku.
"Siapa bilang aku memerintahkan tidak disapu?"
"Kakang bilang nanti saja. Itu perintah, kan? Kepala dapur yang bilang."
Gandawasa menatap Gendhis lama. Gendhis menatap balik tanpa berkedip, ulekan masih di tangannya.
"Sepuluh butir kelapa," kata Gandawasa akhirnya, dengan suara yang kehilangan setengah tenaganya. "Sebelum makan malam."
Ia keluar dari dapur dengan langkah yang terlalu cepat.
Dira menoleh ke arah Gendhis. Gadis itu sudah kembali mengulek, punggungnya menghadap Dira.
"Gabah tumpah di lumbung," kata Dira pelan. "Benar ada?"
"Sekarang ada," kata Gendhis tanpa menoleh. "Aku menumpahkannya tadi subuh. Waktu aku lihat lenganmu."
Dira mengupas sepuluh butir kelapa dengan satu tangan dan sebilah golok kecil sepanjang hari. Ia memotong ujung kelapa, menancapkan golok, mencungkil sabutnya sedikit demi sedikit, menjepit kelapa di antara lutut dan lantai. Lambat dan canggung. Satyaki datang sore hari tanpa diminta dan mengupas empat butir terakhir dengan cekatan, tangannya bergerak seperti anak petani yang sudah memanjat kelapa sejak bisa berjalan.
"Bidai ayahku," kata Satyaki sambil mengupas, menatap lengan Dira. "Ikatannya bukan ikatanmu."
Dira terdiam.
"Aku tahu ikatanmu," lanjut Satyaki. "Kau mengikat timba, mengikat kayu bakar, mengikat karung. Ikatanmu rapi tapi longgar, ikatan abdi dapur. Ikatan di bidai itu lain." Ia mencungkil sabut kelapa dengan satu gerakan bersih. "Ibuku mengikat bidai dengan simpul kerbau. Kuat, tapi bisa dilepas dengan satu tarikan kalau lengannya bengkak. Ikatan di lenganmu bukan simpul kerbau. Aku belum pernah lihat simpul seperti itu. Tiga lilitan yang saling mengunci, lalu ujungnya diselipkan ke bawah. Rapi sekali. Seperti..."
"Seperti apa?"
Satyaki meletakkan kelapa yang sudah terkupas di tumpukan. Ia menatap bidai itu sekali lagi, lama.
"Seperti ikatan yang dipakai pendekar di medan perang," katanya pelan. "Ayahku pernah cerita. Waktu masih muda, dia jadi prajurit sewaan untuk kadipaten. Dia lihat pendekar-pendekar tua mengikat luka kawan mereka di tengah pertempuran. Dengan ikatan yang tidak bisa lepas meskipun orangnya berguling-guling di lumpur." Ia mengangkat wajah. "Siapa yang mengikat bidaimu, Sudira?"
Dira tidak menjawab.
Di dalam dadanya, Ki Jalak juga tidak menjawab.
Lalu terdengar langkah kaki di ambang pintu dapur. Ringan. Cepat. Langkah yang sudah sangat dikenal Dira sejak ia bisa mengingat.
Dira dan Satyaki menoleh bersamaan.
Nyai Rukminiwati berdiri di ambang pintu, mengenakan kemben gelap dan selendang kelabu, rambut berubannya disanggul rapi. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun, seperti biasa.
Tetapi matanya tertuju lurus ke lengan kanan Dira. Ke bidai bambu. Ke tiga lilitan tali ijuk yang saling mengunci.
"Sudira," katanya pelan. "Ikut aku."