Bab 24Kayu Bakar Hutan Larangan
Si kembar tidak mengizinkannya pergi tanpa bekal.
"Garam," kata Gendhis, menyelipkan sebungkus kecil daun pisang berisi garam kasar ke kantong kain Dira. "Kalau ada makhluk halus, taburkan garam. Kata nenekku begitu."
"Bawang putih," kata Gendhing, menyelipkan tiga siung bawang putih. "Kalau ada makhluk halus, gigit bawang putih lalu tiupkan napasmu ke wajahnya. Kata pamanku begitu."
"Pamanmu juga pamanku," kata Gendhis.
"Ya, makanya kita dapat nasihat yang sama."
"Nasihatnya beda. Nenek bilang garam. Paman bilang bawang."
"Itu karena nenek dan paman beda orang."
Dira menunggu mereka selesai berdebat, lalu berkata dengan sangat sopan, "Terima kasih. Aku akan menaburkan garam dan meniupkan bawang putih."
"Jangan bersamaan," kata Gendhing serius. "Nanti makhluk halusnya malah masak sayur."
Gendhis memukul kepala saudaranya dengan ulekan kayu. Pelan, tapi tetap memukul.
Lalu ia menatap Dira dengan wajah yang tidak lagi bercanda.
"Pinggirnya saja," katanya. "Jangan masuk lebih dari sepelemparan batu. Kalau ada kabut, keluar. Kalau dengar suara orang memanggil namamu, jangan menoleh. Kalau..."
"Gendhis."
"...kalau ada yang aneh, apa saja, langsung lari. Jangan peduli kayunya. Biar Kakang Ganda marah. Biar kau tidak makan sepasar. Aku yang masak untukmu diam-diam."
Dira menatap gadis itu. Ia teringat malam ketika Gendhis menjerit membangunkan seluruh barak karena menemukannya pingsan di gudang rongsokan.
"Aku akan hati-hati," katanya.
Gendhis mengangguk, tetapi ia tetap berdiri di depan pintu dapur sampai Dira menghilang di balik gudang rongsokan.
Dira tidak menoleh. Kalau menoleh, ia tahu ia akan melihat Gendhing ikut berdiri di samping saudarinya sambil menggigit kuku, dan ia tak mau berangkat ke Hutan Larangan dengan bayangan wajah dua orang yang mengira tak akan melihatnya lagi.
Hutan Larangan tidak dimulai dengan pagar atau gerbang. Hutan itu dimulai dengan batu.
Di belakang gudang pusaka rusak, rumput liar setinggi pinggang tumbuh rapat, lalu berganti semak-semak berduri, lalu berganti pepohonan muda yang batangnya kurus dan bengkok. Di antara pepohonan muda itu, di garis yang hampir lurus dari timur ke barat, berdiri batu-batu tegak setinggi lutut, berjarak kira-kira sepuluh langkah satu sama lain. Batu-batu itu berlumut tebal, miring di sana-sini, dan setengah tertutup tanaman merambat.
Dira berlutut di depan batu terdekat dan menyibak tanaman merambatnya.
Ada tulisan di permukaannya. Aksara Jawa kuno, dipahat dalam-dalam, sudah aus dimakan hujan ratusan warsa tetapi masih bisa dibaca.
AJA MLEBU.
Jangan masuk.
Ia menyibak tanaman di batu berikutnya. Tulisan yang sama. Dan batu berikutnya. Sama. Satu baris panjang batu-batu peringatan, membentang dari timur ke barat sejauh mata memandang, membatasi padepokan dari hutan di belakangnya.
"Bukan cuma tulisan," kata Ki Jalak pelan.
"Apa maksudmu?"
"Sentuh batunya."
Dira menyentuh batu itu dengan telapak tangan kanannya, telapak dengan bekas retakan merah. Batu itu dingin, tentu saja, dingin seperti batu biasa di pagi hari. Tetapi di bawah dinginnya, ia merasakan sesuatu yang lain. Getaran yang sangat halus, hampir tak terasa, seperti denyut nadi orang yang tertidur sangat lelap.
"Batu-batu ini ditanam orang yang tahu apa yang mereka lakukan," kata Ki Jalak. "Bukan sekadar penanda. Ini pagar. Pagar yang tidak terlihat. Untuk menahan sesuatu supaya tidak masuk ke padepokan, atau supaya tidak keluar dari hutan."
"Yang mana?"
"Aku tidak tahu. Mungkin dua-duanya."
Dira menarik tangannya. Ia menatap barisan batu peringatan itu, lalu menatap hutan di belakangnya.
Hutan Larangan tidak tampak menyeramkan dari luar. Itu yang paling aneh. Ia membayangkan pohon-pohon hitam yang bengkok seperti tangan setan, kabut yang merayap di tanah, tengkorak-tengkorak yang tergantung di dahan. Yang ada justru hutan yang sangat hijau. Terlalu hijau. Pohon-pohonnya tinggi dan lurus, batangnya besar dan diselimuti lumut tebal yang berwarna hijau menyala, daun-daunnya rimbun dan berkilau seperti baru dicuci hujan. Udara yang berembus dari dalamnya sejuk dan lembap, berbau tanah basah dan getah.
Dan sunyi. Sangat sunyi. Tidak ada kicau burung. Tidak ada desir serangga. Tidak ada gemeresik binatang kecil di semak-semak.
"Hutan yang tidak punya burung," gumam Ki Jalak, "adalah hutan yang ditakuti burung."
Dira menelan ludah.
"Pinggirnya saja," katanya kepada dirinya sendiri. "Sepelemparan batu."
Ia melangkah melewati barisan batu peringatan.
Begitu kakinya melewati garis batu, udara berubah.
Bukan perubahan yang bisa dilihat. Pohon-pohon masih sama hijaunya, langit masih sama birunya di sela-sela dedaunan. Tetapi Dira merasakannya di kulitnya, di napasnya, di dalam dadanya. Udara di sisi ini lebih berat. Lebih padat. Seperti udara di dapur ketika semua tungku sedang menyala, hanya saja tidak panas. Penuh.
"Prana," bisik Ki Jalak, dan suaranya terdengar takjub. "Bocah, udara di sini penuh prana. Lebih penuh dari udara di depan tungku. Lebih penuh dari apa pun yang pernah kurasakan sejak bangun di dalam dirimu."
"Itu bagus atau buruk?"
"Untuk berlatih, bagus. Sangat bagus. Satu malam bersemadi di sini sama dengan sepuluh malam di depan tungku." Ki Jalak terdiam sebentar. "Untuk hal-hal lain... tergantung apa yang hidup di sini dan sudah berapa lama mereka menghirup prana sepenuh ini."
Dira tidak bertanya lebih jauh. Ia mulai mengumpulkan kayu.
Ranting kering memang banyak di sini. Pohon-pohon besar menjatuhkan dahan-dahan mati yang tergeletak di tanah, tertutup daun gugur. Dira memungutnya satu per satu, mematahkannya menjadi potongan sepanjang lengan, dan mengikatnya dengan tali ijuk yang ia bawa dari dapur. Satu ikat. Dua ikat.
Tangannya bekerja, tetapi telinganya terus terpasang. Bunyi ranting yang ia patahkan sendiri terdengar terlalu keras di tengah kesunyian itu. Setiap kali bunyi itu terdengar, ia berhenti sebentar dan menunggu, tak tahu apakah ia berharap ada yang menjawab atau tidak.
Ia bekerja dengan cepat, tidak pernah lebih dari sepelemparan batu dari barisan batu peringatan. Setiap kali ia menegakkan badan, ia menoleh ke belakang untuk memastikan batu-batu itu masih terlihat.
Tiga ikat. Empat ikat.
Di ikat kelima, ia menemukan sesuatu yang aneh.
Sebatang pohon besar di dekat barisan batu, kulitnya tergores dalam-dalam. Bukan goresan pisau atau kapak. Goresan panjang, sejajar, dan dalam, seperti seseorang menyeret empat bilah besi berat ke batang itu dari bawah ke atas. Getah pohon yang bening masih merembes dari goresan itu. Masih basah.
Dira menyentuh goresan itu. Kedalamannya sebuku jari. Tingginya sepinggangnya.
"Jangan sentuh," kata Ki Jalak tajam.
Dira menarik tangannya.
"Apa ini?"
"Bekas sesuatu menggosokkan... sesuatu ke pohon. Seperti kerbau yang menggosokkan tanduknya. Atau seperti..." Ki Jalak ragu. "Aku tidak tahu. Tapi masih baru. Getahnya masih mengalir. Apa pun yang membuatnya, ia ada di sini tadi pagi."
Dira menoleh ke sekeliling. Hutan masih sunyi. Pohon-pohon masih hijau. Tidak ada yang bergerak.
Ia mengikat ikat kelima dengan cepat dan berjalan sedikit ke barat, menjauh dari pohon bergores itu. Sesekali ia menoleh ke belakang. Pohon itu tetap di tempatnya, diam, getahnya terus merembes pelan seperti luka yang belum mau menutup.
Di ikat ketujuh, ia menemukan yang lebih aneh lagi.
Di antara akar-akar sebatang beringin tua yang sangat besar, sedikit lebih jauh dari sepelemparan batu, ada sebuah batu datar. Bukan batu peringatan. Batu itu rata dan halus, seperti meja kecil, dan di atasnya ada sesaji.
Sesaji segar. Bunga kantil putih yang belum layu. Bunga kenanga kuning. Segenggam nasi kuning di atas daun pisang yang masih hijau. Sebatang dupa yang sudah habis terbakar, tetapi abunya masih membentuk garis utuh di atas batu, belum tertiup angin.
Seseorang meletakkannya di sini. Belum lama. Mungkin tadi malam. Mungkin tadi subuh. Bau dupanya bahkan masih tertinggal tipis di udara, manis dan berat, bercampur bau tanah basah.
"Siapa yang memberi sesaji di Hutan Larangan?" bisik Dira.
"Orang yang tidak takut pada larangan," jawab Ki Jalak. "Atau orang yang tahu sesuatu tentang hutan ini yang tidak diketahui orang lain."
Dira berjongkok di depan batu datar itu, tanpa menyentuhnya. Di sebelah sesaji, di tanah lembap di antara akar beringin, ada jejak kaki. Jejak sandal kayu. Cukup besar, milik orang dewasa. Jejak itu datang dari arah padepokan, berhenti di depan batu, lalu kembali lagi ke arah padepokan.
Dan di duri semak di samping beringin itu, tersangkut sesuatu. Secarik kain. Kecil, tak lebih besar dari kuku. Hitam pekat. Kain yang sangat halus, jauh lebih halus daripada jarik abdi atau beskap tetua.
Dira menatapnya lama. Lalu, dengan hati-hati, ia mengambil secarik kain hitam itu dan menyelipkannya ke dalam kantongnya, di samping garam Gendhis dan bawang putih Gendhing.
"Kenapa kau ambil itu?" tanya Ki Jalak.
"Karena aku menghitung," jawab Dira. "Dan aku tidak tahu ini masuk hitungan yang mana. Belum."
Delapan ikat. Sembilan ikat.
Bahunya mulai pegal, dan luka di lututnya dari jalan patah kaki perih setiap kali ia berjongkok. Ki Jalak, anehnya, tidak mengomel sedikit pun sepanjang siang. Ia hanya diam dan waspada, seperti burung yang bertengger di dahan sambil terus memutar kepala.
Matahari sudah condong ke barat ketika Dira mengikat ikat kesepuluh. Bayang-bayang pepohonan memanjang di tanah hutan, dan cahaya yang menembus dedaunan berubah dari kuning menjadi jingga.
Ia menegakkan badan, menyeka keringat, dan menatap sepuluh ikat kayu bakar yang berjajar di tanah. Ia sudah selesai. Ia bisa kembali sebelum senja. Gandawasa tidak akan punya alasan.
"Bocah," kata Ki Jalak.
"Hm?"
"Kau tidak merasakannya?"
Dira diam. Ia mendengarkan.
Hutan masih sunyi. Tetapi kesunyian itu kini berbeda. Tadi, kesunyiannya seperti ruangan kosong. Sekarang, kesunyiannya seperti ruangan yang di dalamnya ada seseorang yang sedang menahan napas.
Lalu Dira merasakannya. Bukan dengan telinga. Dengan telapak kakinya. Getaran di tanah. Pelan. Berirama. Seperti seseorang memukul kendang besar di kejauhan dengan sangat pelan.
Dug.
Dug.
Dug.
Getaran itu makin kuat. Makin dekat.
"Itu bukan kendang," kata Ki Jalak dengan suara yang sangat pelan dan sangat tenang, ketenangan orang yang tahu panik tidak akan membantu. "Itu langkah kaki."
Burung-burung yang tidak ada tidak terbang. Serangga-serangga yang tidak ada tidak berhenti berbunyi. Tetapi daun-daun di semak-semak di depan Dira, kira-kira dua puluh langkah jauhnya, mulai bergetar.
Lalu terdengar dengusan.
Dengusan yang berat dan basah, seperti napas kerbau yang sangat besar dan sangat marah. Uap putih menyembur dari balik semak-semak, mengepul di udara sore yang sejuk.
Semak-semak itu tersibak.
Yang keluar dari baliknya adalah babi hutan. Atau setidaknya, Dira mengira itu babi hutan, karena bentuknya seperti babi hutan: tubuh besar berbulu hitam kasar seperti ijuk, moncong panjang, kaki-kaki pendek yang kokoh. Tetapi babi hutan yang pernah dilihat Dira, yang kadang turun ke kebun singkong di lereng bawah dan diburu warga desa, sebesar anjing besar. Yang ini sebesar kerbau.
Punggungnya setinggi dada Dira. Bulu-bulu di tengkuknya berdiri tegak seperti duri landak. Matanya kecil, merah, dan menyala dalam cahaya sore. Dan di kedua sisi moncongnya mencuat taring. Dua pasang taring yang panjang dan melengkung ke atas, sepanjang lengan bawah Dira, berkilau dalam cahaya jingga.
Taring itu tidak berwarna putih kekuningan seperti taring babi biasa.
Taring itu berwarna abu-abu gelap, dan berkilat seperti besi yang baru diasah.
Empat garis sejajar. Getah yang masih basah. Sebatang pohon yang tergores sepinggang tinggi.
Babi hutan itu menatap Dira. Ia mendengus sekali lagi, uap menyembur dari moncongnya. Kaki depannya menggaruk-garuk tanah, mencungkil daun-daun gugur dan tanah hitam, seperti kerbau yang bersiap menyeruduk.
"Bocah," kata Ki Jalak, masih dengan suara tenang yang sangat menakutkan. "Ingat apa yang dikatakan Gendhis?"
"Garam?"
"Bukan garam."
"Bawang putih?"
"Bukan bawang putih!"
Babi hutan bertaring besi itu menunduk, mengarahkan keempat taringnya yang berkilat lurus ke dada Dira.
"Kalau ada yang aneh," bisik Ki Jalak, "apa saja, langsung lari."