Sang Penelan Pusaka

Bab 25Babi Hutan Bertaring Besi

Dira lari.

Ia tidak berpikir ke mana. Ia hanya berbalik dan lari secepat-cepatnya, menjauh dari moncong berkilat itu, dan di belakangnya terdengar bunyi seperti pohon tumbang. Babi hutan itu meledak dari tempatnya berdiri, menerjang maju dengan kecepatan yang mustahil untuk makhluk sebesar itu.

Tanah bergetar. Daun-daun gugur beterbangan. Dengusan basah itu makin dekat, makin dekat, cukup dekat hingga Dira bisa merasakan uap panasnya di tengkuk.

"KIRI!"

Dira membanting tubuhnya ke kiri. Babi hutan itu melesat lewat sejengkal di sampingnya, taring-taringnya merobek udara, lalu menabrak semak-semak di depan dan menghancurkannya menjadi serpihan ranting dan daun. Hewan itu tidak berhenti. Ia berbelok di tengah semak, keempat kakinya menggaruk tanah, dan berbalik menghadap Dira lagi.

"Itu bukan lari!" bentak Ki Jalak. "Itu lari kambing dikejar anjing! Lari dengan tumit! Kaki berat! Kau mau mati?"

"Aku sedang dikejar babi sebesar kerbau!"

"Justru karena itu! Pakai yang sudah kau pelajari! Hinggap! Telapak depan! Jangan berat di satu tempat!"

Babi hutan itu menerjang lagi.

Kali ini Dira tidak berbalik dan lari. Ia menarik napas, membiarkan panas di bawah pusarnya berputar sekali, dan mendengarkan. Bukan mendengarkan dengusan babi hutan, bukan mendengarkan detak jantungnya sendiri yang berdebar seperti genderang perang. Ia mendengarkan siulan kecil yang mulai terdengar dari dalam dadanya.

Satu, dua, lompat.

Ia melompat ke samping, ringan, dengan telapak depan. Babi hutan itu lewat lagi, kali ini lebih jauh darinya. Dua jengkal. Tiga.

Satu, dua, hinggap.

Kakinya mendarat di atas akar pohon yang mencuat. Lututnya melentur. Berat badannya tidak tinggal di sana.

Satu, dua, lompat.

Ia sudah melompat lagi, ke akar berikutnya, lalu ke batu berlumut, lalu ke batang pohon tumbang. Setiap langkahnya ringan dan cepat, setiap pijakannya hanya sekedip mata, seperti burung jalak yang melompat dari dahan ke dahan.

Babi hutan itu berbalik lagi dan menerjang lagi. Tetapi kali ini, setiap kali ia sampai di tempat Dira tadi berdiri, Dira sudah tidak ada di sana.


"Bagus," kata Ki Jalak, terengah-engah, kalau pusaka bisa terengah-engah. "Bagus. Sekarang dia tidak bisa mengenaimu. Tapi kau juga tidak bisa lari selamanya. Dia lebih besar, lebih kuat, dan dia di rumahnya sendiri. Kau yang akan kehabisan napas duluan."

Dira tahu itu. Ia sudah merasakannya. Kakinya yang ringan mulai terasa berat. Napasnya yang berputar mulai tersendat. Delapan, sembilan, sepuluh kali ia melompat menghindari terjangan, dan setiap kali, babi hutan itu berbalik lebih cepat, menerjang lebih ganas, seperti hewan itu sedang belajar membaca gerakannya.

Pada terjangan kesebelas, salah satu taring itu menyerempet pahanya.

Tidak dalam. Tidak menembus. Hanya menyerempet, seperti ujung pisau dapur yang meleset ketika mengiris bawang. Tetapi jarik Dira robek dari pinggul sampai lutut, dan kulit di bawahnya tergores panjang. Darah mengalir hangat ke betisnya.

Dira mendarat di atas batu dengan lutut gemetar. Babi hutan itu berbalik di kejauhan, mendengus, menggaruk tanah. Matanya yang merah menyala menatap darah yang menetes ke batu.

Dengusannya berubah. Lebih dalam. Lebih lapar.

"Dia mencium darahmu," kata Ki Jalak. "Bocah, kita harus melakukan sesuatu. Sekarang."

Dira menatap babi hutan itu. Lalu ia menatap pohon-pohon di sekelilingnya. Pohon-pohon yang tinggi, lurus, dan besar, batangnya diselimuti lumut tebal.

Pohon-pohon yang tergores empat garis sejajar setinggi pinggang.

Ia teringat goresan di pohon dekat barisan batu peringatan. Dalamnya sebuku jari. Getahnya masih basah. Babi hutan ini suka menggosokkan taringnya ke pohon. Mengasahnya. Atau melampiaskan amarahnya. Dan taringnya cukup keras untuk menembus kayu.

Cukup keras untuk menembus kayu.

Dira berhenti melompat. Ia berdiri tegak di depan sebatang pohon beringin yang sangat besar, pohon yang batangnya selebar tiga kali lebar tubuhnya, punggung menempel ke lumut yang lembap. Ia mengangkat dagu dan menatap babi hutan itu lurus-lurus.

"Apa yang kau lakukan?" desis Ki Jalak. "Kenapa berhenti?"

"Menghitung," bisik Dira.

Babi hutan itu menunduk. Keempat taringnya yang berkilat mengarah lurus ke dada Dira. Kaki depannya menggaruk tanah sekali, dua kali, tiga kali.

Lalu ia menerjang.

Dira tidak bergerak. Satu tarikan napas. Dua. Babi hutan itu sudah separuh jalan, tanah bergetar di bawah kakinya, dengusannya memenuhi udara.

Tiga.

Babi hutan itu tinggal lima langkah. Empat. Tiga.

Dua, satu...

Dira melompat.

Bukan ke samping. Ke atas. Jalak Mematuk Batu: hentakan pendek dengan ujung kaki ke akar beringin di bawahnya, melontarkan tubuhnya lurus ke atas. Lalu tangannya meraih dahan beringin yang paling rendah, setinggi dua kali tubuhnya, dan ia mengayunkan tubuhnya ke atas dahan itu.

Di bawahnya, babi hutan itu tidak bisa berhenti.

Hewan sebesar kerbau itu menerjang dengan seluruh berat tubuhnya, dan keempat taringnya yang berkilat seperti besi menghantam batang beringin tepat di tempat dada Dira tadi berada.

Bunyi yang terdengar seperti kapak raksasa menghantam kayu. Lalu bunyi yang lebih buruk lagi: bunyi taring yang terbenam dalam-dalam, menembus lumut, menembus kulit kayu, menembus sampai ke dalam batang.

Babi hutan itu menjerit, jeritan yang tinggi dan aneh untuk hewan sebesar itu, dan menarik kepalanya ke belakang.

Kepalanya tidak bergerak.

Keempat taringnya tertancap begitu dalam di batang beringin tua itu sehingga tak bisa dicabut. Hewan itu meronta, menarik, mendorong, menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Daun-daun beringin berguguran seperti hujan. Dahan tempat Dira berpegangan bergoyang hebat. Tetapi taring-taring itu tetap tertancap.

Dira menggantung di dahan beringin, napas tersengal, darah mengalir dari pahanya, dan menatap ke bawah.

"...kau," kata Ki Jalak dengan suara orang yang baru melihat sesuatu yang tak masuk akal. "Kau sengaja."

"Taringnya bisa menembus kayu," kata Dira terengah-engah. "Pohon tadi. Goresannya dalam. Kalau dia menerjang pohon sebesar ini dengan seluruh tenaga..."

"Kau menghitung semua itu sambil berdiri menunggu diseruduk?"

"Aku selalu menghitung."

Ki Jalak terdiam. Lalu ia tertawa, tawa jalak kecil yang serak dan kering, dan tawanya terdengar seperti tawa orang tua yang bangga sekaligus ketakutan.

"Bocah gila," katanya. "Bocah gila yang menghitung."


Babi hutan itu masih meronta di bawah. Batang beringin tua itu berderak dan mengerang, dan Dira tahu cepat atau lambat sesuatu akan patah, entah taring hewan itu atau batang pohonnya.

Ia meluncur turun dari dahan di sisi seberang, menjauh dari moncong yang meronta-ronta, dan mendarat dengan kaki yang gemetar.

"Lari," kata Ki Jalak. "Ke batu peringatan. Sekarang."

Dira mulai lari. Lalu ia berhenti.

"Kenapa berhenti?"

Dira menoleh ke belakang. Di tanah di antara pepohonan, kira-kira dua puluh langkah dari beringin tua tempat babi hutan itu terperangkap, berjajar sepuluh ikat kayu bakar yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah sejak siang.

"Tidak," kata Ki Jalak. "Tidak, tidak, tidak. Bocah, jangan bilang kau mau..."

"Sepuluh ikat," kata Dira. "Kalau aku pulang tanpa kayu, Gandawasa..."

"Biar Gandawasa! Biar kau tidak makan sepasar! Gendhis sudah bilang!"

"Tapi aku sudah mengumpulkannya seharian."

"BOCAH!"

Dira sudah berlari ke arah ikat-ikat kayu itu. Ia menyambar dua ikat, memanggulnya di punggung. Menyambar dua ikat lagi, mengapitnya di ketiak. Menyambar dua ikat lagi dan memegangnya dengan kedua tangan.

Enam ikat. Tubuhnya tertutup kayu bakar seperti landak yang bulunya terbuat dari ranting.

Di belakangnya terdengar bunyi retakan yang sangat keras.

Dira menoleh. Babi hutan itu berhasil mencabut kepalanya dari batang beringin. Dua dari empat taringnya patah, tertinggal tertancap di batang pohon seperti paku-paku besi raksasa. Dua yang lain masih utuh, berkilat, dan kini tampak lebih marah daripada sebelumnya. Mulut hewan itu berdarah. Matanya yang merah menyala menatap lurus ke arah Dira, ke arah pemuda kurus yang dibungkus kayu bakar seperti landak.

Hewan itu menjerit.

"LARI!" pekik Ki Jalak.

Dira lari.


Ia tidak bisa melompat ringan dengan enam ikat kayu di tubuhnya. Ia lari seperti kambing dikejar anjing, persis seperti yang dimarahi Ki Jalak tadi, dengan tumit, dengan kaki berat, dengan ranting-ranting yang mencuat dari ikat kayu dan tersangkut di setiap semak yang dilewatinya.

Di belakangnya, babi hutan itu mengejar dengan suara seperti pohon-pohon tumbang.

"Buang kayunya!"

"Tidak!"

"BUANG!"

"Sudah sejauh ini!"

Barisan batu peringatan terlihat di depan, di antara pepohonan muda yang kurus dan bengkok. Tiga puluh langkah. Dua puluh. Lumut hijau di permukaannya berkilau dalam cahaya senja. AJA MLEBU. AJA MLEBU. AJA MLEBU.

Babi hutan itu makin dekat. Dira bisa merasakan uap napasnya di belakang lutut.

Sepuluh langkah.

Lima.

Ia tidak punya tenaga untuk melompati batu peringatan dengan enam ikat kayu. Maka ia melakukan satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan. Ia menjatuhkan diri ke depan, menggelinding di atas rumput dengan seluruh ikat kayunya, dan berguling melewati celah di antara dua batu peringatan seperti gulungan tikar yang ditendang.

Ia berhenti berguling di sisi padepokan, telentang di antara rumput liar, tubuhnya tertindih kayu bakar, dan menatap langit senja yang jingga dengan napas tersengal.

Di belakangnya, terdengar dengusan.

Dira mengangkat kepala.

Babi hutan bertaring besi itu berdiri tepat di sisi lain barisan batu peringatan. Satu langkah lagi, dan ia akan melewati garis itu, satu terjangan lagi, dan taringnya yang tersisa akan menembus tubuh Dira.

Hewan itu tidak melangkah.

Ia berdiri di sana, dengan dua taring patah dan dua taring utuh, mulut berdarah, mata merah menyala, dan menatap Dira melewati celah di antara dua batu berlumut. Dengusannya keras dan marah. Kaki depannya menggaruk tanah.

Tetapi ia tidak melangkah.

Ia mendengus sekali lagi, keras, uap putih menyembur ke udara senja. Lalu, perlahan, ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam Hutan Larangan, menghilang di antara pepohonan yang terlalu hijau dan terlalu lurus, sampai dengusannya tak terdengar lagi.

Hutan kembali sunyi.

"Pagar," bisik Ki Jalak. "Benar-benar pagar. Batu-batu itu menahan apa yang ada di dalam supaya tidak keluar."

Dira tidak menjawab. Ia berbaring di rumput, menatap langit, dan tertawa pelan. Tawa yang tersengal, gemetar, tawa orang yang baru saja lolos dari maut dengan enam ikat kayu bakar di dadanya.

"Enam ikat," katanya. "Gandawasa minta sepuluh. Aku bawa enam."

"Enam ikat dan satu paha robek."

"Enam ikat dan satu paha robek," Dira setuju. "Masih lebih baik daripada nol ikat dan satu badan robek."

Ki Jalak mendengus. "Kau belajar itu dariku."

"Belajar apa?"

"Itu dimaksudkan untuk jujur."


Ketika napasnya sudah tenang, ketika darah di pahanya sudah ia hentikan dengan menekankan sobekan jarik ke lukanya, Dira bangkit dan duduk di rumput.

Ia tak langsung pulang. Ia duduk di sana, di antara rumput liar setinggi pinggang, di belakang gudang rongsokan, dan menatap kedua tangannya.

Tadi, sebelum enam ikat kayu bakar membuatnya berat seperti kerbau, ia melompat. Ia melompat dari akar ke akar, dari batu ke batu, menghindari terjangan babi hutan sebesar kerbau sebelas kali. Ia membaca hewan itu, menghitung goresan di pohon, memancingnya menabrak beringin, dan memanjat dahan setinggi dua kali tubuhnya dengan satu hentakan kaki.

Belum sepuluh hari lalu, ia bahkan tak bisa menuruni jalan patah kaki tanpa memecahkan empat kendi.

Ada sesuatu yang naik di dalam dadanya. Sesuatu yang hangat dan ringan dan belum pernah ia rasakan sejak cahaya fajar membelok di sekitar kepalanya di altar. Ia butuh waktu lama untuk menamainya, dan ketika akhirnya ketemu, namanya sederhana sekali.

Percaya. Untuk pertama kalinya, ia percaya pada tubuhnya sendiri.

Dira berdiri. Rumput liar di sekitarnya cukup lapang. Matahari sudah hampir tenggelam, dan cahaya terakhirnya menyiram tanah dengan warna jingga keemasan. Tak ada siapa pun di sini. Tak pernah ada siapa pun di belakang gudang rongsokan.

Ia menarik napas. Ia membiarkan panas berputar sekali.

Lalu ia mulai bergerak.

Hinggap. Lompat. Sapu. Patuk. Putar. Tukik. Satu demi satu, langkah-langkah Langkah Jalak Ngumbara mengalir dari tubuhnya. Tanpa kendi, tanpa kayu bakar, tanpa babi hutan. Hanya dirinya, rumput liar, dan cahaya senja. Ia melompat dari batu ke batu, berputar di atas tunggul pohon, menukik dari atas tumpukan kayu tua di belakang gudang, dan setiap langkahnya terasa lebih ringan daripada langkah sebelumnya.

Lalu, untuk pertama kalinya tanpa tungku dan tanpa rak dapur, ia mencoba Jalak Nekat. Lari, lompat, menghentak dinding gudang rongsokan, berputar di udara, menghentak cabang pohon kemuning, menukik, mendarat.

Ia mendarat di atas tunggul pohon dengan satu kaki, ringan, lutut melentur, tangan terentang seperti sayap.

Dan di saat yang sama, dari balik semak-semak di sudut gudang rongsokan, terdengar bunyi ranting patah.

Krek.

Dira membeku di atas tunggul pohon, masih dalam posisi Jalak Nekat. Satu kaki, tangan terentang, napas berputar.

Semak-semak itu diam.

Lalu bergoyang sedikit, seperti seseorang di baliknya sedang mencoba mundur tanpa suara dan gagal.

"Siapa di situ?" seru Dira.