Bab 23Ingatan Bolong
Ada saat-saat ketika waktu terasa berhenti. Saat sendok jatuh dari tangan dan belum menyentuh lantai. Saat cangkir tembikar tergelincir dari meja dan seluruh tubuh tahu ia akan pecah, tetapi belum pecah.
Dira mengalami saat seperti itu sekarang, melayang di atas jurang selebar tiga depa dengan dua kendi penuh air di tangannya, sementara pusaka di dalam dadanya baru saja mengaku lupa.
Ia tidak berpikir. Tidak ada waktu untuk berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri, menarik apa saja yang sudah dipelajarinya selama tujuh pagi di jalan patah kaki.
Kaki kirinya menyapu udara ke samping, Jalak Menyibak Daun, dan tubuhnya berputar sedikit, cukup untuk mengubah arah jatuhnya. Lalu, ketika batu di seberang jurang sudah begitu dekat hingga ia bisa melihat lumut di tepinya, kaki kanannya terulur dan ujung jarinya menghentak tepi batu itu, Jalak Mematuk Batu.
Hentakan itu tidak cukup untuk mendarat. Tapi cukup untuk tidak jatuh lurus ke bawah.
Tubuhnya terbanting ke sisi batu. Dadanya menghantam lumut yang licin, lututnya menghantam bebatuan, dan ia merosot. Tangan kanannya, yang masih menggenggam kendi, terayun mencari pegangan dan menemukan akar pohon yang mencuat dari celah batu.
Ia menggantung. Tangan kanan mencengkeram akar dan gagang kendi sekaligus. Tangan kiri mencengkeram kendi kedua. Kaki menggantung di atas jurang. Angin subuh berembus dingin dari bawah.
Kendi di tangan kirinya, yang sudah licin oleh air dan keringat, perlahan-lahan tergelincir dari jari-jarinya.
Dira menatapnya. Kendi itu menatap balik, dalam arti kendi bisa menatap.
Lalu kendi itu jatuh.
Dira mendengarkan. Satu, dua, tiga, empat tarikan napas. Lalu dari dasar jurang yang gelap terdengar bunyi samar: prak.
"Ah," kata Ki Jalak.
"Satu hari tanpa makan," kata Dira, menggantung di atas jurang.
"Itu masih lebih baik daripada satu hari tanpa nyawa."
"Itu tidak membantu."
"Itu..."
"Dimaksudkan untuk jujur. Aku tahu."
Dira memanjat naik dengan satu tangan, satu kendi, dan seluruh sisa harga dirinya.
Ketika akhirnya ia berbaring telentang di atas batu, napas tersengal, lutut berdarah, dada lecet oleh lumut dan batu, ia menatap langit yang mulai memucat di timur dan berkata dengan suara yang sangat tenang:
"Ki Jalak."
"...ya?"
"Kau lupa langkah ketujuh."
"Ya."
"Saat aku sedang di udara."
"Waktunya memang kurang tepat, aku akui."
"Di atas jurang."
"Jurangnya juga kurang tepat."
Dira memejamkan mata. Ia ingin marah. Ia benar-benar ingin marah. Ia ingin meneriaki pusaka pelupa di dalam dadanya itu sampai burung-burung di seluruh lereng Lawu terbang ketakutan. Tetapi yang keluar dari mulutnya justru tawa. Tawa kecil, lalu tawa yang lebih besar, lalu tawa yang membuat perutnya sakit dan matanya berair, di atas batu di tengah jalan patah kaki, sebelum matahari terbit, dengan lutut berdarah dan satu kendi pecah di dasar jurang.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Ki Jalak curiga.
"Karena kalau aku tidak tertawa," kata Dira di sela tawanya, "aku akan menangis. Dan kalau aku menangis, nanti kau bilang aku cengeng."
"Kau memang cengeng."
"Lihat?"
Ki Jalak terdiam. Lalu, sangat pelan, dari dalam dada Dira terdengar bunyi kecil yang aneh. Seperti burung jalak yang tersedak. Seperti orang tua yang mencoba menahan tawa dan gagal.
Gandawasa sangat gembira mendengar satu kendi pecah pada pagi terakhir.
"Satu hari tanpa makan," katanya sambil menyeringai, berdiri di depan dapur dengan tangan bersedekap. "Dan sumur sudah selesai dikuras. Sayang sekali. Padahal kupikir kau mulai menikmatinya."
Dira menunduk dan menghitung.
Malam itu bungkusan nasi misterius muncul lagi di atas karung beras. Isinya nasi, sayur lodeh, dan peyek kacang. Dira memakannya di depan tungku ketujuh, yang sudah dinyalakan Mbah Karta dengan alasan "menghangatkan sisa kaldu tulang sapi yang kemarin," padahal tak pernah ada kaldu tulang sapi.
"Sekarang," kata Ki Jalak ketika Dira selesai makan. "Langkah ketujuh."
"Kau sudah ingat?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Lalu kita cari bersama-sama." Ki Jalak terdengar ragu, sesuatu yang jarang sekali terjadi. "Bocah, ingatanku seperti tampah yang dimakan rayap. Bolong di mana-mana. Kadang ada yang jatuh dari bolongnya, kadang ada yang tersangkut di pinggirnya. Langkah satu sampai enam masih tersangkut. Langkah ketujuh jatuh." Jeda. "Tapi kau punya kepala yang bagus untuk menghitung. Mungkin kita bisa menghitung bentuknya dari apa yang tersisa."
Dira meletakkan daun pisang bekas makannya dan duduk bersila menghadap tungku.
"Ceritakan apa yang kau ingat," katanya. "Apa saja. Sekecil apa pun."
Mereka bekerja seperti dua tukang yang memperbaiki atap bocor dalam gelap. Ki Jalak meraba-raba ingatannya, menyerahkan potongan-potongan kecil, dan Dira menyusunnya.
"Langkah ketujuh dimulai dengan lari," kata Ki Jalak. "Itu aku ingat."
"Lari. Baik. Lalu?"
"Lalu... ada lompatan. Lompatan yang sangat jauh. Lebih jauh dari Jalak Menukik. Tapi bukan turun. Menyeberang. Lurus ke depan."
"Seperti tadi pagi. Di atas jurang."
"Ya."
"Lalu waktu di udara, apa yang terjadi?"
Hening panjang.
"Aku tidak tahu," kata Ki Jalak akhirnya, frustrasi. "Di situlah bolongnya. Seperti ada lubang besar di tengah tampah. Aku ingat awal dan akhirnya, tapi tidak tengahnya."
"Akhirnya apa?"
"Mendarat. Ringan sekali. Seperti bulu. Seperti burung yang hinggap di ujung ranting tanpa membuat ranting itu bergoyang."
Dira mengambil sebatang ranting kecil dari tumpukan kayu bakar dan mulai menggores-gores tanah di depan tungku. Kebiasaan lamanya. Ia menggambar garis-garis: satu garis untuk lari, satu lengkungan untuk lompatan, sebuah titik untuk pendaratan. Lalu sebuah lingkaran kosong di tengah lengkungan itu. Bolongnya.
"Kau bilang dengan langkah ketujuh," katanya pelan, "orang bisa menyeberangi celah yang mustahil, berjalan di atas air sejengkal, dan melompat dari atap ke atap."
"Ya."
"Apa yang sama dari ketiganya?"
"Hah?"
"Menyeberangi celah. Berjalan di atas air. Melompat antaratap. Kalau tiga-tiganya bisa dilakukan dengan satu langkah, berarti ada sesuatu yang sama di ketiganya. Apa?"
Ki Jalak terdiam. Dira bisa merasakan pusaka itu berpikir, membolak-balik pertanyaan itu seperti orang membolak-balik sebutir batu di tangan.
"Ketiganya..." Ki Jalak berkata pelan. "Ketiganya butuh tempat berpijak yang tidak ada."
Dira mengangguk. Ia menggores tanah lagi. Di tengah lingkaran kosong itu, di bolongnya, ia menggambar sebuah titik kecil.
"Jadi di tengah lompatan," katanya, "orang yang memakai langkah ketujuh menginjak sesuatu. Sesuatu yang bukan tanah. Bukan batu. Bukan atap."
"Udara," bisik Ki Jalak.
Kata itu jatuh di antara mereka seperti batu di sendang.
"Ya," kata Ki Jalak, dan suaranya tiba-tiba bergetar. "Ya. Itu dia. Itu yang hilang. Menginjak udara. Bukan terbang, tapi menginjak. Sekali saja. Satu hentakan di udara kosong, di tengah lompatan, lalu tubuhmu terdorong maju lagi, lebih jauh, lebih tinggi..."
"Bagaimana caranya menginjak udara?"
Hening lagi. Kali ini lebih panjang, dan kali ini bukan hening orang yang lupa. Hening orang yang ingat, tetapi tidak suka dengan apa yang diingatnya.
"Dengan prana," kata Ki Jalak pelan. "Kau menghentakkan prana dari telapak kakimu ke udara di bawahnya. Udara itu menjadi padat sesaat, sekeras batu, cukup untuk dipijak satu kali. Lalu kau melompat lagi dari sana."
"Prana."
"Prana. Tingkat kedua. Setelah Raga." Ki Jalak menghela napas, kalau pusaka bisa menghela napas. "Bocah, langkah ketujuh itu tidak bisa dilakukan di Raga Awal. Tidak akan pernah bisa. Kau butuh Prana untuk menginjak udara, dan kau masih jauh sekali dari Prana. Seperti anak ayam yang mau terbang sebelum bulunya tumbuh."
Dira menatap goresan di tanah: garis lari, lengkungan lompatan, titik di tengah bolong, titik pendaratan.
"Jadi tadi pagi," katanya pelan, "kalau kau ingat langkah ketujuh, aku tetap akan jatuh."
"...ya."
"Karena aku tak punya prana."
"Ya."
"Jadi kau lupa itu sebenarnya tidak penting."
Ki Jalak terdiam sebentar.
"Hah," katanya. "Benar juga. Lihat? Aku tidak salah. Aku cuma lupa sesuatu yang tidak bisa kau pakai. Itu sama saja dengan tidak lupa."
"Kau baru saja bilang..."
"Lanjutkan berpikir, bocah. Jangan berdebat dengan orang tua."
Dira tidak menyerah. Ia memang tidak pandai menyerah, sama seperti ia tidak pandai bilang tidak apa-apa.
"Kalau aku tidak bisa menginjak udara," katanya, menatap goresan di tanah, "aku harus menginjak sesuatu yang lain di tengah lompatan."
"Tidak ada apa-apa di tengah jurang."
"Tadi pagi ada."
"Apa?"
"Akar. Di sisi batu seberang. Waktu aku jatuh, aku memegang akar." Dira menggores lagi. "Dan sebelum itu, waktu aku masih di udara, aku memutar badan pakai langkah ketiga, lalu menghentak tepi batu pakai langkah keempat. Itu yang membuatku tidak jatuh lurus ke bawah."
"Itu bukan langkah ketujuh. Itu panik."
"Itu panik yang hampir berhasil." Dira mengangkat wajah. "Ki Jalak, langkah satu sampai enam itu masing-masing satu gerakan, kan? Hinggap. Lompat. Sapu. Patuk. Putar. Tukik."
"Ya."
"Bagaimana kalau langkah ketujuh, setidaknya yang bisa kulakukan sekarang, bukan gerakan baru? Bagaimana kalau itu cuma keenam langkah sebelumnya, disambung jadi satu, cepat sekali, di udara?"
Ki Jalak tidak menjawab.
"Lari, itu hinggap yang diulang-ulang. Lalu lompat di tepi. Lalu di udara, sapu untuk mengubah arah. Lalu patuk, menghentak apa saja yang bisa dihentak. Batu, akar, dahan, tepi atap, apa saja. Lalu putar untuk mengatur badan. Lalu tukik untuk mendarat." Dira menggambar semuanya di tanah, enam tanda kecil yang berderet di sepanjang lengkungan. "Bukan menginjak udara. Menginjak apa saja yang ada di dekat udara itu."
Hening.
Lalu, dari dalam dada Dira, terdengar siulan. Bukan siulan irama seperti di jalan patah kaki. Siulan ini pendek, tinggi, dan riang, Siulan jalak yang baru menemukan ulat paling gemuk di seluruh hutan.
"Bocah," kata Ki Jalak. "Itu bukan langkah ketujuh yang asli."
"Aku tahu."
"Itu langkah orang yang tidak punya prana, yang mencoba berbuat curang dengan memakai semua yang ada di sekitarnya."
"Ya."
"Itu langkah orang nekat."
"Ya."
"Aku suka." Ki Jalak terkekeh. "Itu bukan Langkah Jalak Ngumbara ketujuh. Itu sesuatu yang lain. Itu milikmu. Kau harus memberinya nama."
Dira berpikir sebentar.
"Jalak Nekat," katanya.
Ki Jalak tersedak.
"Itu nama paling jelek yang pernah kudengar."
"Kau bilang itu langkah orang nekat."
"Ya, tapi... Jalak Nekat? Langkah Jalak Ngumbara punya nama-nama yang indah. Jalak Menyibak Daun. Jalak Mematuk Batu. Jalak Berbalik di Dahan. Lalu tiba-tiba Jalak Nekat? Seperti gending agung yang tiba-tiba ditutup dengan bunyi kentut."
"Kau lagi-lagi bawa-bawa kentut."
"Karena namamu seburuk kentut!"
Dira tertawa sampai terguling di lantai dapur. Di gudang beras di seberang halaman, entah bagaimana, dengkuran Mbah Karta berhenti sejenak, lalu berlanjut lagi dengan irama yang terdengar sedikit seperti orang yang menahan tawa.
Mereka berlatih Jalak Nekat setiap malam setelah itu, bukan di jalan patah kaki, tapi di dapur. Dira melompat dari tungku ke tungku, dari rak ke tiang, dari tumpukan karung beras ke balok atap, menghentak apa saja yang bisa dihentak di tengah lompatan. Ia jatuh berkali-kali. Ia menjatuhkan seikat cabai kering, dua kuali kecil, dan satu kendi tanah liat yang untungnya kosong. Ia membenturkan dahinya ke balok atap sampai benjol sebesar telur puyuh.
Pada malam ketiga, ia berhasil melompat dari tungku pertama ke tungku ketujuh, sepanjang seluruh dinding timur dapur, tanpa menyentuh lantai sekali pun. Ia menghentak tiang, tepi rak, gantungan sendok, dan pinggiran gentong. Enam hentakan. Enam langkah. Satu lompatan panjang yang patah-patah tapi tak putus.
Ia mendarat di atas tungku ketujuh, di samping api yang menyala, dengan kaki ringan dan napas berputar.
"Bagus," kata Ki Jalak. "Jelek, tapi bagus."
Dira tersenyum lebar. Ia turun dari tungku, mengambil bilah bambu kedua dari tumpukan kayu bakar, dan mulai menggores dengan ujung pisau kupas. Bukan tanda-tanda musuh seperti di bilah pertama. Tanda-tanda jurus. Tujuh garis pendek berderet, masing-masing dengan lekukan kecil yang berbeda: hinggap, lompat, sapu, patuk, putar, tukik. Lalu garis ketujuh: sebuah garis yang patah-patah, bersambung-sambung, dan di ujungnya sebuah titik kecil berbentuk burung.
Di samping garis ketujuh, ia menggores satu tanda lagi. Sebuah lingkaran kecil kosong.
"Apa itu?" tanya Ki Jalak.
"Tempat untuk langkah ketujuh yang asli. Yang menginjak udara." Dira meniup debu dari bilah bambu itu. "Nanti, kalau aku sudah sampai Prana. Kalau kau sudah ingat."
Ki Jalak terdiam lama.
"Kau masih percaya aku akan ingat?" tanyanya pelan.
"Kau ingat namamu. Kau ingat langkah satu sampai enam. Kau ingat kau suka kacang." Dira menyelipkan bilah kedua di celah tungku ketujuh, di samping bilah pertama yang penuh tanda musuh. "Yang lain pasti juga ada di sana. Cuma belum jatuh dari bolongnya."
Di dalam Balai Sukma, burung jalak kecil yang kusut itu duduk di atas keris retaknya, bulu-bulunya mengembang sedikit, lalu mengempis. Ia tidak berkata apa-apa lagi malam itu.
Tetapi sebelum Dira tertidur di atas karung beras, ia mendengar siulan kecil dari dalam dadanya. Bukan siulan latihan. Siulan pelan dan panjang, seperti orang tua yang bersenandung untuk dirinya sendiri ketika merasa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sedikit kurang sendirian.
Keesokan paginya, Gandawasa menunggunya di depan gudang kayu bakar.
Gudang itu kosong. Benar-benar kosong. Selama tujuh hari sumur dikuras, para abdi lain terpaksa merebus air sendang berkali-kali supaya layak diminum, dan semua kayu bakar terpakai habis.
"Hutan timur ditutup sampai bulan purnama," kata Gandawasa. "Untuk upacara bersih desa. Tak ada yang boleh mengambil kayu di sana."
Dira menunggu. Ia tahu kalimat berikutnya akan buruk.
"Jadi," kata Gandawasa, dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya, "kau ambil kayu dari tempat lain. Dari pinggir Hutan Larangan, di belakang gudang rongsokanmu itu. Sepuluh ikat. Sebelum senja."
Para abdi di sekitar mereka terdiam. Seseorang menjatuhkan timba.
Hutan Larangan. Hutan yang terbentang di belakang Padepokan Argasuryan, di sisi utara lereng Lawu. Hutan yang tak boleh dimasuki murid luar, murid dalam, bahkan tetua tanpa izin langsung dari Ki Ageng. Hutan yang, kata para abdi tua sambil berbisik, menelan tiga murid dalam tiga generasi terakhir, dan tak satu pun jasadnya ditemukan.
"Pinggirnya saja," kata Gandawasa ringan, seperti membaca pikiran semua orang. "Kau tidak perlu masuk. Pinggirnya saja. Banyak ranting kering di sana." Ia menepuk bahu Dira. "Kau kan sekarang kuat, Anak Matahari. Kuat mengangkat dandang sendirian. Kuat membawa tiga puluh kendi dari dasar tebing. Pinggir hutan pasti bukan apa-apa untukmu."
Ia berbalik dan berjalan pergi, bersiul-siul sumbang.
Di dalam dada Dira, Ki Jalak tidak bersiul. Ki Jalak diam. Lalu, sangat pelan, ia berkata:
"Bocah. Hutan itu."
"Kenapa?"
"Waktu kita berlatih di jalan patah kaki, aku mencium sesuatu dari arah utara. Dari hutan itu. Tiap pagi. Aku pikir itu cuma bau lumut tua." Ki Jalak ragu. "Sekarang aku tidak yakin."
"Bau apa?"
"Bau yang sama," bisik Ki Jalak, "seperti bau di dasar Balai Sukma-mu. Bau sesuatu yang sangat tua."