Sang Penelan Pusaka

Bab 12Gudang Pusaka Rusak

Gembok perunggu itu tidak mau terbuka.

Dira memutar anak kunci ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi. Karat hijau di lubang kunci berderit seperti gigi yang digesekkan. Ia menuang sedikit minyak kelapa dari kendi kecil yang ia bawa dari dapur, menunggu sebentar, lalu memutar lagi.

Klik.

Gembok itu terbuka dan jatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk berat.

Dira mendorong pintu kayu. Engselnya mengerang panjang, dan udara dari dalam gudang menyembur keluar menerpa wajahnya: debu, karat, lumut, dan sesuatu yang lebih tua dari semuanya, bau logam yang sudah lama tak tersentuh tangan manusia. Ia terbatuk-batuk dan mundur selangkah.

"Bau besi," gumamnya. "Mbah Karta tidak bohong."


Gudang pusaka rusak tidak besar. Panjangnya kira-kira sepuluh langkah, lebarnya enam. Atap ijuknya sudah bolong di beberapa tempat, dan berkas-berkas cahaya pagi masuk dari lubang-lubang itu seperti tombak-tombak tipis yang menancap ke lantai tanah. Debu beterbangan di dalam berkas cahaya, berputar pelan seperti bintang-bintang kecil.

Di sepanjang dinding berderet rak-rak kayu yang sudah reyot. Sebagian miring, sebagian ambruk sebelah, sebagian lagi ditopang batu bata yang diganjalkan sembarangan. Di atas rak-rak itu dan di bawahnya, di sudut-sudut, di lantai, bertumpuk-tumpuk benda yang sekilas tampak seperti rongsokan biasa.

Lalu mata Dira terbiasa dengan cahaya yang redup, dan ia melihat apa sebenarnya rongsokan itu.

Keris. Puluhan keris. Ada yang patah di tengah bilahnya, ada yang ujungnya tumpul, ada yang luknya bengkok tak beraturan seperti dipukul palu. Tombak-tombak yang mata tombaknya retak, landeannya lapuk dimakan rayap. Pedang-pedang yang bilahnya bopeng oleh karat. Cundrik, kujang, badik, trisula kecil, tameng perunggu yang penyok, gelang-gelang besi yang patah, rantai-rantai yang mata rantainya terlepas.

Semuanya pusaka. Semuanya pernah dipilih seseorang, atau setidaknya pernah menunggu dipilih. Dan semuanya kini berada di sini, di gudang gelap di tepi hutan, tertimbun debu.

Dira berdiri di ambang pintu untuk waktu yang lama.

Ia merasakan sesuatu. Tidak kuat, tidak jelas, tetapi ada. Udara di dalam gudang terasa lebih berat daripada udara di luar, seperti udara di dalam balairung saat semua tetua sedang bersemadi. Dan di lehernya, di bawah kain yang dililit Nyai, rasa dingin itu bangun pelan-pelan, seperti hewan yang mengangkat kepala karena mencium sesuatu.

Ia menyentuh kainnya dengan dua jari. Simpulnya.

Lalu ia melangkah masuk.


Ia mulai dengan cara yang paling sederhana: mengeluarkan semuanya.

Satu per satu ia mengangkat pusaka-pusaka itu dari rak dan lantai, membawanya ke luar, dan meletakkannya di atas tikar pandan tua yang ia gelar di rerumputan depan gudang. Ia memisahkannya menjadi tumpukan-tumpukan: yang patah di sini, yang retak di sana, yang berkarat parah di sudut, yang masih tampak utuh tetapi entah kenapa dibuang di tumpukan terakhir.

Pekerjaan itu lambat. Punggungnya masih kaku dan setiap kali membungkuk, luka-luka cambuk di bawah kain penutupnya berdenyut. Tetapi pekerjaan itu juga tenang. Tak ada Gandawasa. Tak ada Sutarga atau Joyokusumo. Hanya pusaka-pusaka bisu, cahaya matahari yang bergerak pelan di rumput, dan sesekali suara burung dari hutan di belakang gudang.

Satu hal aneh ia perhatikan sejak awal.

Setiap kali tangannya mendekati sebilah pusaka, bahkan sebelum menyentuhnya, ada perasaan aneh, seperti benda itu sedikit menjauh. Bukan bergerak. Pusaka-pusaka ini sudah terlalu lama tertidur untuk bergerak. Hanya perasaan, seperti saat ia mengulurkan tangan ke kucing liar dan kucing itu tidak lari, tetapi seluruh tubuhnya menegang dan telinganya rata ke belakang.

Persis seperti di altar. Persis seperti saat cahaya fajar membelok.

Sekali, ketika ia mengangkat setumpuk cundrik patah dari rak bawah, salah satunya meluncur dari tumpukan dan jatuh ke lantai tanah, padahal ia memegang tumpukan itu dengan erat. Cundrik itu jatuh dan berguling sejauh dua jengkal ke arah dinding, menjauh darinya.

Dira menatapnya lama. Lalu ia memungutnya dan meletakkannya di atas tikar bersama yang lain.

"Aku tak akan menyakitimu," katanya kepada cundrik itu, merasa bodoh sekali.

Cundrik itu, tentu saja, tidak menjawab.


Menjelang tengah hari, Gendhing datang membawa bekal.

Ia tidak masuk. Ia berdiri di jalan setapak sepuluh langkah dari gudang, memeluk bungkusan daun pisang dan kendi air, dan menolak mendekat satu langkah pun.

"Kemari," kata Dira.

"Tidak."

"Gendhing."

"Tidak mau. Kata Mbok Darsih, abdi yang dulu membersihkan gudang ini mimpi buruk tujuh malam berturut-turut. Kata Kang Paidi, ia pernah mendengar suara orang menangis dari dalam waktu lewat di sini tengah malam. Kata..."

"Kata Mbok Darsih, Kang Paidi juga pernah melihat kuntilanak di jamban."

Gendhing berpikir sejenak. "Itu juga benar."

Dira tertawa. Ia berjalan ke jalan setapak dan mengambil bungkusan itu. Isinya nasi, sayur bayam, dan sepotong tempe goreng, ditambah sesendok kecil Sambal Lawu Murka di sudut daun pisang.

"Dari Gendhis," kata Gendhing. "Katanya supaya kau tak lupa siapa kawanmu, walau sekarang tiap hari bergaul dengan besi-besi berhantu."

"Bilang terima kasih padanya."

"Bilang sendiri. Nanti malam." Gendhing melongok dari balik bahu Dira ke arah tikar penuh pusaka di depan gudang. Matanya membesar. "Wah. Banyak sekali."

"Ratusan."

"Ada yang bagus?"

"Semuanya rusak."

"Kalau ada yang bagus," kata Gendhing dengan mata berbinar, "kau bisa diam-diam mengambilnya. Siapa tahu ada yang mau memilihmu. Pusaka rusak kan tak punya pilihan lain."

Dira tersenyum, tetapi senyumnya tak sampai ke mata. "Pusaka rusak pun tak mau mendekatiku, Gendhing."

"Hah?"

"Tidak apa-apa." Ia menyadari kata-kata itu sudah keluar, dan teringat janjinya kepada Wulansari. Ia buru-buru menambahkan, "Maksudku, aku belum tahu. Nanti kuceritakan."

Gendhing menatapnya dengan kening berkerut, lalu mengangkat bahu. "Ya sudah. Hati-hati. Kalau ada suara orang menangis, lari."

Ia berbalik dan berjalan cepat-cepat ke arah dapur, setengah berlari, tanpa menoleh.


Setelah makan, Dira menemukan rak terakhir di sudut paling belakang gudang, setengah tertutup tirai sarang laba-laba. Rak itu berbeda dari yang lain. Kayunya jati tua yang gelap, bukan bambu atau mahoni, dan bentuknya seperti lemari kecil dengan pintu yang sudah lepas engselnya.

Di dalamnya tidak ada pusaka. Yang ada adalah setumpuk lontar.

Dira menariknya keluar dengan hati-hati. Daun-daun lontar itu diikat tali ijuk dan dijepit dua bilah kayu tipis sebagai sampul. Debu tebal menutupi permukaannya, dan ketika ia meniupnya, debu itu berhamburan ke udara seperti asap.

Itu catatan. Daftar pusaka rusak yang pernah dimasukkan ke gudang ini, dari warsa ke warsa, ditulis dalam aksara Jawa yang rapi oleh tangan-tangan yang berbeda.

Dira bisa membaca. Nyai Rukminiwati yang mengajarinya ketika ia kecil, diam-diam, dengan menulis aksara di atas pasir halaman belakang asrama. Lalu ia mengajari Wulansari dengan cara yang sama. Abdi tidak seharusnya bisa membaca. Ia tak pernah memberitahu siapa pun.

Ia membalik lontar-lontar itu satu per satu, pelan-pelan, di bawah berkas cahaya yang masuk dari lubang atap.

Keris luk tujuh, patah di sor-soran. Pemilik terakhir: Ki Jaga Wiraga, murid dalam, gugur dalam ujian. Tak mau dipilih lagi. Warsa Wawu.

Tombak pendek, mata retak. Ditolak tiga anak di upacara berturut-turut. Warsa Jimawal.

Cundrik gading bermotif melati, bilah bulan sabit. Tak dipilih empat puluh warsa. Dipindah ke gudang atas perintah...

Dira berhenti. Lalu membaca baris itu lagi. Dipindah ke gudang atas perintah Ki Wiradhana. Warsa Alip. Dibatalkan. Dikembalikan ke altar atas permintaan Nyai Rukminiwati.

Kyai Wulan Tumanggal. Pusaka yang memilih adiknya. Nyai yang mengembalikannya ke altar musim lalu.

Ia terus membaca. Catatan-catatan itu makin lama makin tua, tintanya makin pudar, aksaranya makin kuno. Puluhan, lalu ratusan warsa. Beberapa nama pemilik ia kenali dari cerita-cerita para abdi tua tentang pendekar-pendekar lama Argasuryan. Sebagian besar tak ia kenali sama sekali.

Lalu, di lontar paling bawah, yang paling rapuh dan paling kuning, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti.

Catatan itu ditulis dengan tangan yang berbeda dari semua catatan lain. Aksaranya kecil-kecil dan miring, ditulis dengan tergesa-gesa. Tintanya hampir hilang. Dan tidak ada tahun yang tercatat, hanya ruang kosong di tempat tahun seharusnya tertulis.

Keris kecil, panjang tak sampai sejengkal setengah. Retak memanjang dari pucuk ke ganja. Luk tak tentu. Di ganja terukir burung jalak. Asal tak diketahui. Ditemukan di antara tumpukan kayu bakar di belakang dapur. Tak bertuan. Tak bernama. Tak mau dipilih, tak mau memilih. Simpan di sudut. Jangan dibuang.

Jangan dibuang.

Dua kata terakhir itu ditulis dengan tekanan lebih kuat, seperti si penulis ingin memastikan tak ada yang melewatkannya.

Dira menatap catatan itu lama. Ditemukan di antara kayu bakar di belakang dapur. Burung jalak.

Ia teringat siulan Mbah Karta, siulan pendek-pendek naik turun yang selalu ia dengar setiap hari di dapur. Ia pernah bertanya kepada Gendhing burung apa yang suaranya seperti itu. Gendhing menjawab tanpa berpikir: jalak, tentu saja. Jalak kebo. Mbah Karta sudah bersiul seperti itu sejak nenekku masih gadis.

Ia menggulung lontar itu kembali dengan sangat hati-hati dan meletakkannya di dalam lemari jati.


Matahari sudah condong ke barat ketika rak-rak di sepanjang dinding sudah kosong, lantai tanah sudah disapu, dan sarang laba-laba di langit-langit sudah dibersihkan dengan sapu ijuk bergagang panjang. Gudang pusaka rusak, untuk pertama kalinya dalam entah berapa warsa, tampak seperti ruangan, bukan kuburan.

Hanya satu sudut yang belum ia sentuh.

Sudut paling dalam, di belakang lemari jati, di bawah bagian atap yang paling rendah dan paling gelap. Di sana bertumpuk sesuatu yang ditutup karung goni tua, karung yang sudah begitu lapuk hingga warnanya sama dengan warna tanah. Tumpukan itu setinggi lutut, lebarnya kira-kira dua lengan.

Dira sengaja meninggalkannya untuk terakhir. Ia tak tahu kenapa. Setiap kali ia melewati sudut itu sepanjang hari, langkahnya melambat sendiri. Dan setiap kali, dingin di lehernya berdenyut sedikit, bukan seperti di altar, ketika dingin itu terasa seperti pusaka yang meringkuk ketakutan, melainkan lain. Seperti menyimpan sesuatu. Seperti menunggu.

Langit di luar sudah memerah. Gendhing pasti datang lagi sebentar lagi, berdiri sepuluh langkah dari pintu, memanggilnya makan malam dengan suara gemetar.

Dira mengambil pelita minyak yang ia bawa dari dapur dan menyalakannya dengan batu api. Nyalanya kecil dan kekuningan, cukup untuk menerangi sudut yang gelap itu.

Ia berlutut di depan tumpukan bertutup karung goni dan mengangkat ujung karungnya.

Karung itu hancur di tangannya seperti abu.

Di bawahnya bertumpuk besi. Bukan pusaka utuh seperti di rak-rak lain. Ini potongan-potongan. Mata tombak yang patah dua, bilah keris yang tinggal separuh, pecahan tameng, mata rantai yang berkarat menyatu satu sama lain seperti gumpalan tanah liat, paku-paku besar, sisa-sisa logam yang tak lagi berbentuk apa pun. Semuanya hitam oleh karat dan debu, ditimbun di sudut ini seperti sampah yang terlalu berat untuk dibuang dan terlalu tak berguna untuk disimpan.

Dira mengangkat pelitanya lebih tinggi dan menyisir tumpukan itu dengan mata.

Lalu ia melihatnya.

Hampir di dasar tumpukan, terjepit di antara mata tombak patah dan sepotong tameng penyok, terselip sebilah keris kecil. Sangat kecil, panjangnya tak sampai sejengkal setengah. Bilahnya hitam kusam. Retakan halus memanjang dari ujung bilahnya sampai ke pangkal, seperti sungai kering di musim kemarau. Luknya aneh, tak beraturan, seperti empu yang menempanya tak pernah memutuskan keris ini harus berluk berapa.

Dan di ganjanya, di bagian pangkal bilah yang melebar, terukir seekor burung kecil. Paruhnya terbuka, sayapnya setengah terkembang, siap terbang atau siap bernyanyi.

Burung jalak.

Dira tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap, dengan pelita gemetar di tangannya.

Lalu, dari tumpukan besi itu, terdengar sebuah bunyi.

Tik.

Pelan sekali, seperti ujung jari mengetuk mangkuk tembikar.

Tik. Tik.

Seperti paruh burung kecil yang mengetuk dahan.

Dira menahan napas. Bulu-bulu di lengannya berdiri. Dingin di lehernya tidak lagi berdenyut. Dingin itu berdetak, seirama dengan bunyi kecil itu, seperti dua jantung yang sedang mencoba saling mencocokkan iramanya.

Dan di tangannya, tanpa angin, tanpa embusan napas, nyala pelita minyak itu perlahan-lahan miring, condong ke arah tumpukan besi, ke arah keris kecil yang retak, seperti tangan yang terulur untuk menyentuh.