Bab 11Sabar yang Menghitung
Obor pertama padam ketika bulan tepat berada di atas kepala. Obor kedua menyusul tak lama kemudian, apinya menyusut menjadi bara merah, lalu menjadi asap tipis yang naik lurus ke langit karena angin sudah berhenti bertiup.
Dira tidak tahu sudah berapa lama ia berlutut. Lututnya sudah tak terasa lagi. Lengannya yang memeluk tiang bambu kaku seperti kayu. Punggungnya tak lagi terbakar. Rasanya sudah berubah menjadi sesuatu yang lain, denyut tumpul dan berat yang datang setiap kali jantungnya berdetak, seperti ada orang yang memukul punggungnya dengan bantal basah tanpa henti.
Ketika obor kedua padam, ia mencoba melepaskan tiang itu. Lengannya tak mau bergerak.
Ia mencoba lagi. Kali ini lengannya terlepas, dan seluruh tubuhnya ikut terlepas, jatuh miring ke tanah berdebu.
Ia berbaring di sana, menatap bintang-bintang dengan satu mata, karena mata yang lain tertekan tanah. Bintang-bintang itu tampak sangat jauh dan sangat tenang.
Turua, turu, cah bagus, bisiknya kepada dirinya sendiri, tanpa suara. Lintang sumebar ing langit peteng...
Ia tak ingat bait berikutnya. Kepalanya terlalu berat.
Ia tak mendengar langkah kaki. Ia hanya merasakan sepasang tangan menyelinap di bawah tubuhnya, satu di bawah lutut, satu di bawah bahu, menghindari punggungnya yang terluka dengan ketelitian yang aneh. Lalu tubuhnya terangkat dari tanah semudah orang mengangkat sekarung kapuk.
Dira membuka mata.
Wajah Mbah Karta ada di atasnya, keriput dan keruh dan setengah ompong, diterangi cahaya bulan.
"Mbah..."
"Ssst."
Lelaki tua itu membawanya melintasi halaman barak, melewati sumur, masuk ke dapur yang gelap dan hangat. Langkahnya tidak tertatih. Napasnya tidak tersengal. Ia berjalan seperti orang muda yang membawa anak kecil tertidur. Dira, dalam kepalanya yang berkabut, mencatat itu juga.
Mbah Karta membaringkannya tengkurap di atas tumpukan karung beras, tempat tidurnya sendiri. Lalu ia pergi ke tungku ketujuh, tungku yang katanya bertahun-tahun tak dipakai, dan menyalakan api kecil.
Dira mendengar bunyi-bunyian yang tenang dan teratur. Air dituang ke kendil. Sesuatu ditumbuk di lumpang batu. Daun-daunan diremas. Bau aneh mulai memenuhi dapur, bau yang belum pernah ia cium seumur hidupnya. Bukan sirih, bukan kunyit, bukan temulawak. Bau hijau dan tajam, bau hutan dan lumut batu sungai sehabis hujan, dengan sesuatu yang manis di dalamnya, seperti madu yang sudah sangat tua.
Mbah Karta kembali dengan mangkuk tembikar berisi ramuan kental berwarna hijau tua. Ia berlutut di samping karung beras dan mulai mengoleskannya ke punggung Dira dengan dua jari.
Dira menggigit karung beras untuk menahan teriakan.
Lalu, setelah tiga tarikan napas, rasa sakit itu berubah. Bukan hilang, tetapi berubah menjadi dingin yang lembut dan dalam, seperti merendam punggung di sendang gunung. Denyut tumpul itu mereda. Napasnya memanjang.
"Ini apa, Mbah?" bisiknya.
"Obat."
"Obat apa?"
"Obat punggung." Mbah Karta terus mengoleskan ramuan itu, pelan dan rata, mengikuti setiap garis cambuk. "Kau mau tahu resepnya? Nanti kau buka warung obat, lalu aku bangkrut."
Dira hampir tertawa. Punggungnya menjerit ketika ia mencoba, jadi ia berhenti.
Mereka diam untuk waktu yang lama. Hanya ada bunyi api kecil di tungku ketujuh, dan jari-jari Mbah Karta yang bergerak di punggung Dira.
"Mbah," kata Dira akhirnya. "Tadi. Waktu Ki Wiradhana bertanya."
"Hm."
"Mbah tidak tidur, kan?"
Jari-jari Mbah Karta berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Orang tua tidurnya tak menentu," katanya. "Kadang tidur, kadang tidak. Kadang tidur sambil melek. Kadang melek sambil tidur."
"Mbah melihat siapa yang mengambil ingkung itu?"
Lama sekali Mbah Karta tidak menjawab. Lalu ia meletakkan mangkuk tembikar di lantai, mengambil sehelai kain bersih, dan menutupkannya pelan-pelan ke punggung Dira.
"Darsa," katanya. "Kalau tadi aku bilang aku melihat Joyokusumo mengambil ingkung itu, lalu menyerahkannya ke Sutarga, lalu Sutarga membungkus tulangnya dan menyelipkannya ke bawah tikarmu waktu semua abdi di balairung, siapa yang akan percaya?"
Dira terdiam.
"Juru masak tua yang pikun," lanjut Mbah Karta, "yang tak bisa membedakan Gendhing dan Gendhis, yang lupa sudah menggarami sayur atau belum, bersaksi melawan dua murid dalam, kepala dapur, dan tetua pengawas." Ia menggeleng pelan. "Kau tetap dicambuk. Lalu besok, aku juga dicambuk karena memfitnah murid dalam. Lalu lusa, dapur ini tak punya juru masak, dan Gandawasa yang memasak. Kau pernah makan masakan Gandawasa?"
"Belum."
"Bersyukurlah."
Dira tersenyum ke karung beras.
"Ada saatnya bicara, Darsa," kata Mbah Karta lebih pelan. "Ada saatnya diam. Orang yang tahu bedanya jarang kalah." Ia bangkit dengan lutut berderak dan berjalan kembali ke tungku untuk memadamkan apinya. "Orang yang menghitung tak pernah benar-benar kalah. Cuma belum menang."
Dira menoleh sedikit, mencoba melihat wajah lelaki tua itu. Tetapi Mbah Karta sudah membelakanginya lagi dan mulai bersiul pelan, siulan burung yang naik turun itu, sambil membereskan lumpang dan kendil.
Dira memejamkan mata. Ia tertidur sebelum siulan itu selesai.
Ia tidak bisa bekerja selama tiga hari.
Gandawasa mengomel, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mbah Karta, dengan nada pelupa yang sama seperti biasa, berkata kepadanya bahwa abdi yang punggungnya robek tak bisa mengangkat timba, dan abdi yang tak bisa mengangkat timba lebih baik disuruh mengupas bawang di dapur daripada mati di sumur dan merepotkan semua orang dengan upacara pemakaman. Gandawasa tak bisa membantah logika itu.
Jadi Dira duduk di bangku sudut dapur, tengkurap di atas tumpukan karung yang disusun si kembar, mengupas bawang, kentang, dan jagung. Dan ia menghitung.
Ia selalu menghitung di kepalanya. Namun kali ini, untuk pertama kalinya, ia memutuskan menuliskannya.
Pada malam pertama, ketika dapur sudah sepi dan Mbah Karta sudah mendengkur, ia mengambil sebatang bilah bambu tipis dari tumpukan kayu bakar, kira-kira sepanjang lengan bawahnya. Dengan ujung pisau kupas, ia mulai menggores.
Ia tak bisa menulis aksara di bilah itu. Kalau ada yang menemukannya, aksara bisa dibaca. Maka ia membuat tanda-tanda sendiri, tanda yang hanya ia mengerti.
Sebuah lingkaran dengan garis melintang di tengahnya: Gandawasa. Pisau.
Di sebelahnya, tiga goresan pendek dan satu titik. Gandawasa minum arak murahan setiap malam, tiga cawan, lalu tidur mendengkur paling keras di barak dan tak akan bangun walau dibangunkan. Satu titik: ia takut ular. Dira pernah melihatnya melompat ke atas meja dapur karena seekor ular sawah kecil masuk dari celah dinding.
Sebuah lingkaran penuh: Sutarga, si wajah bulat.
Di sebelahnya, sebuah bentuk seperti kendi kecil, lalu tiga garis. Arak beras Ki Wiradhana, satu kendi setiap tiga hari. Lalu sebuah segitiga. Kandang kambing, tempat kendi-kendi kosong dibuang.
Dua garis miring yang saling menyipit: Joyokusumo, si mata sipit.
Di sebelahnya, sebuah bentuk dadu yang sangat sederhana, lalu tanda bulan sabit. Dadu, malam pasaran Kliwon. Lalu dua bentuk kecil berkaki empat. Utang dua kerbau, yang setengahnya kini dilunasi seseorang.
Lalu, setelah lama ragu, Dira menggores satu tanda lagi: sebuah lingkaran dengan garis-garis panjang yang menjuntai dari bawahnya, seperti janggut.
Ki Wiradhana.
Di sebelahnya ia menggores: sebuah kotak kecil, gula aren, kebaikan yang ia bagikan kepada anak-anak. Sebuah lembaran persegi panjang, surat izin bercap untuk Sutarga. Lalu, setelah lama menatap bilah bambu itu, sebuah garis pendek yang patah di tengahnya.
Belum.
Ia menyembunyikan bilah bambu itu di celah antara batu bata tungku ketujuh, di balik abu yang tak pernah dibersihkan siapa pun karena tungku itu katanya tak pernah dipakai.
Pada malam kedua, Mbah Karta memakai tungku itu lagi untuk merebus ramuan punggung. Dira menahan napas, menunggu lelaki tua itu menemukan bilah bambunya. Tapi Mbah Karta hanya mengatur api, merebus ramuan, lalu kembali tidur. Ketika Dira memeriksa celah itu tengah malam, bilah bambunya masih di tempat yang sama, tak tersentuh.
Hanya saja, abu di depan celah itu kini tersusun sedikit lebih rapi daripada sebelumnya. Seperti ada yang sengaja menutupinya lebih baik.
Wulansari datang ke pohon sawo pada pagi pertama dan tidak menemukan kakaknya. Ia datang lagi pada pagi kedua dan tetap tidak menemukannya. Pada pagi kedua itu juga, ia mendengar kabar dari murid luar lain tentang abdi dapur yang dicambuk sepuluh kali karena mencuri ingkung tetua.
Ia tidak menunggu pagi ketiga.
Ia muncul di pintu belakang dapur tengah malam, dengan tiga ketukan, jeda, tiga ketukan, dan wajah yang begitu pucat hingga Gendhis, yang kebetulan masih terjaga, menyangkanya hantu dan hampir memukulnya dengan ulekan.
Dira tidak mengatakan "tidak apa-apa". Ia sudah berjanji.
Ia mengatakan semuanya: ingkung yang hilang, tulang di bawah tikar, kesaksian palsu Gandawasa, Ki Wiradhana yang membalik argumennya, sepuluh cambukan, Joyokusumo yang terkekeh, dan satu kata yang ia dengar di akhir. Belum.
Wulansari mendengarkan dengan tangan terkepal di pangkuan. Ketika Dira selesai, ia tidak menangis. Ia bangkit, berjalan ke rak dapur, mengambil pisau terbesar yang tergantung di sana, dan berjalan ke pintu.
Gendhing, yang terbangun karena suara-suara, menghadangnya di ambang pintu dengan wajah ngeri.
"Minggir," kata Wulansari.
"Mbakyu mau ke mana?"
"Ke asrama murid dalam."
"Dengan pisau dapur?"
"Wulan." Suara Dira dari bangku sudut, pelan dan tegas. "Taruh pisau itu."
"Mereka mencambukmu, Kangmas!"
"Aku tahu. Punggungku tahu."
"Lalu kenapa Kangmas diam saja?"
"Karena aku sedang menghitung."
Wulansari berbalik. Matanya berkilat basah di bawah cahaya pelita. "Menghitung apa?"
Dira menatap adiknya lama. Lalu ia bangkit dengan susah payah, berjalan tertatih ke tungku ketujuh, dan mengambil bilah bambu dari celah batu bata. Ia memberikannya kepada Wulansari.
Wulansari menatap goresan-goresan aneh di bilah itu. Lingkaran bergaris. Lingkaran penuh. Garis miring. Janggut. Ia tak mengerti satu pun. Tapi ia mengerti artinya.
"Kau ingat waktu kita kecil," kata Dira, "anak-anak besar suka menyembunyikan timbaku? Lalu setiap kali, besoknya, mereka ketahuan mencuri jagung bakar dari dapur?"
Wulansari mengerjap. "Itu... itu Kangmas?"
"Aku tidak pernah menuduh mereka. Aku cuma memastikan juru masak tahu ke mana harus mencari jagung yang hilang." Ia mengambil kembali bilah bambu itu. "Kalau kau datang ke asrama murid dalam malam ini dengan pisau, kau akan dikeluarkan dari padepokan. Kyai Wulan Tumanggal akan diambil darimu. Dan mereka akan tetap menjadi murid dalam, tetap mencuri arak, tetap berjudi, tetap menyakiti orang lain. Lalu apa yang kita dapat?"
Wulansari tak menjawab. Pisau di tangannya gemetar.
"Sabar, Wulan," kata Dira. "Bukan sabar yang menyerah. Sabar yang menghitung."
Lama sekali tak ada yang bicara. Gendhis dan Gendhing saling pandang di sudut.
Akhirnya Wulansari meletakkan pisau itu kembali ke rak. Ia meletakkannya dengan sangat hati-hati, seperti takut melukai sesuatu. Lalu ia berbalik, memeluk kakaknya dengan lembut, menghindari punggungnya, dan menangis tanpa suara di bahunya.
"Kalau Kangmas sudah selesai menghitung," bisiknya, "beri tahu aku. Aku mau ikut."
"Aku janji."
Di sudut dapur, Mbah Karta mendengkur dengan irama yang sangat teratur. Terlalu teratur.
Nyai Rukminiwati kembali dari Sumberwatu pada sore hari ketiga.
Ia langsung datang ke dapur, belum mengganti kemben perjalanannya yang berdebu. Ia berdiri di ambang pintu dan menatap Dira yang tengkurap di bangku sudut sambil mengupas jagung. Ia melangkah masuk, mengangkat kain penutup punggung Dira dengan dua jari, dan menatap luka-luka itu.
Dira tidak bisa melihat wajahnya. Tetapi ia mendengar napas Nyai berhenti sejenak.
"Siapa yang mengobatinya?" tanya Nyai.
"Mbah Karta, Nyai."
Nyai Rukminiwati menoleh ke sudut dapur. Mbah Karta sedang tidur di atas karung berasnya, mendengkur, dengan sendok kayu di tangan.
Untuk sesaat, sangat singkat, Nyai menatap lelaki tua itu dengan cara yang belum pernah Dira lihat. Seperti seseorang yang menatap gunung yang selama ini ia kira bukit.
Lalu ia kembali menatap Dira.
"Aturan dapur," katanya pelan. "Ki Wiradhana tetua pengawas. Keputusannya sah. Aku tak bisa membatalkannya."
"Saya tahu, Nyai."
"Aku tak bisa membalaskannya untukmu."
"Saya tak minta, Nyai."
Nyai Rukminiwati diam beberapa saat. Lalu ia membungkuk sedikit lebih dekat dan berbicara begitu pelan hingga hanya Dira yang mendengar.
"Sumur di Sumberwatu," katanya, "tidak keruh. Tidak berbau belerang. Airnya sejernih air mata."
Dira berhenti mengupas jagung.
Nyai Rukminiwati menegakkan badan, meletakkan sebungkus kecil daun jati berisi bubuk obat di samping Dira, dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Keesokan paginya, punggung Dira sudah cukup pulih untuk berjalan tanpa terhuyung. Ia sedang menimba air di sumur belakang dapur, hanya setengah timba setiap kali karena belum kuat mengangkat penuh, ketika suara lembut menyapanya dari belakang.
"Ah, ngger. Sudah bisa bekerja?"
Dira berbalik dan langsung menunduk.
Ki Wiradhana berdiri di sana dengan beskap hitamnya dan senyum ramahnya, janggut putih panjangnya berkilau oleh embun pagi. Di tangannya ada sebungkus kecil daun pisang.
"Gula aren," katanya sambil mengulurkan bungkusan itu. "Dari kebun di lereng timur. Manis sekali. Untuk menebus sedikit rasa sakitmu."
Dira menerimanya dengan kedua tangan, seperti abdi menerima pemberian tetua. "Terima kasih, Ki."
"Aku menyesal soal malam itu, ngger. Sungguh menyesal. Tapi aturan tetap aturan. Kalau aku membiarkan satu abdi lolos, abdi-abdi lain akan mengira mereka juga bisa mencuri." Ki Wiradhana menghela napas panjang. "Menjadi tetua pengawas itu berat. Kadang kita harus menghukum anak yang kita sayangi."
Dira menunduk lebih dalam. Di dalam kepalanya, ia membayangkan bilah bambu di celah tungku ketujuh, dan goresan janggut di atasnya.
"Karena itu," lanjut Ki Wiradhana dengan suara lebih ceria, "aku punya pekerjaan baru untukmu. Pekerjaan yang lebih ringan untuk punggungmu. Tak perlu menimba, tak perlu mengangkat dandang."
"Pekerjaan apa, Ki?"
Ki Wiradhana menunjuk ke arah utara, melewati dapur, melewati lumbung, ke sebuah bangunan kecil beratap ijuk yang berdiri sendirian di tepi hutan, setengah tertutup semak dan tanaman merambat. Dinding kayunya hitam dimakan lumut. Pintunya dikunci dengan gembok perunggu yang sudah hijau berkarat.
"Gudang pusaka rusak," kata Ki Wiradhana. "Tempat kita menyimpan pusaka yang patah, retak, atau sudah tak mau dipilih siapa pun selama puluhan warsa. Sudah lama tak dibersihkan. Mbah Karta mengeluh kemarin sore, katanya debunya sampai terbawa angin ke dapur dan membuat nasinya bau besi." Ia terkekeh. "Orang tua itu memang aneh. Tapi kurasa memang sudah waktunya dibersihkan."
Dira menatap gudang itu. Dari kejauhan pun, bangunan itu tampak seperti tempat yang tak ingin didatangi siapa pun.
"Kenapa saya, Ki?"
"Karena tak ada abdi lain yang mau, ngger." Ki Wiradhana tersenyum, dan untuk sesaat senyumnya terlihat seperti senyum orang yang sedang menahan rahasia lucu. "Kata orang, gudang itu angker. Kata orang, di malam hari, pusaka-pusaka yang rusak di dalamnya suka berbisik."
Ia menepuk bahu Dira pelan, menghindari punggungnya, lalu meletakkan sebuah anak kunci perunggu yang berat dan dingin di telapak tangannya.
"Mulai besok," katanya. "Bersihkan sampai tuntas."