Bab 13Bisikan dari Tumpukan Besi
"Diraaa!"
Suara itu memecah kesunyian gudang seperti batu dilempar ke kolam.
Dira tersentak. Pelita di tangannya bergoyang, dan nyalanya, yang tadi condong ke arah tumpukan besi, kembali tegak seperti nyala pelita biasa. Bunyi tik-tik itu berhenti. Dingin di lehernya berhenti berdetak, kembali menjadi dingin yang diam.
"Diraaa! Makan malaaam!"
Gendhing. Dari jalan setapak, sepuluh langkah dari pintu gudang, tidak satu langkah lebih dekat.
Dira menatap keris kecil di dasar tumpukan itu. Bilahnya hitam kusam, retakannya halus seperti rambut, burung jalak di ganjanya diam dengan paruh terbuka. Tak ada yang aneh. Hanya sebilah keris rusak di antara besi-besi rusak lainnya.
Apa tadi ia hanya membayangkannya? Bunyi itu, detak itu, nyala pelita yang miring?
"Dira! Kau masih hidup? Kalau sudah mati, bilang!"
"Aku datang!"
Ia meletakkan potongan karung goni yang masih utuh kembali ke atas tumpukan, menutupi keris kecil itu, lalu bangkit. Lututnya gemetar. Ia baru sadar sejak tadi menahan napas. Ia mengembuskannya pelan-pelan, sekali, dua kali, sampai jantungnya berhenti memukul-mukul dada.
Di pintu gudang, ia menoleh sekali lagi. Sudut itu gelap dan diam.
Ia mengunci gembok perunggu dan berjalan ke arah suara Gendhing.
Makan malam di dapur malam itu ramai. Si kembar bercerita bergantian tentang seekor kambing yang lepas dari kandang dan masuk ke balairung saat para tetua sedang bersemadi. Kambing itu, kata Gendhing dengan mata berbinar, mengunyah ujung selendang Ki Wiradhana sebelum ada yang menyadarinya. Kata Gendhis, kambing itu adalah kambing bermata jahat yang dulu hampir menggigit seorang murid luar perempuan di dekat lumbung.
Dira tertawa bersama mereka. Tapi pikirannya tidak di sana.
Gendhis menyendokkan sayur asem ke daun pisangnya tanpa bertanya, lalu menambahkan sejumput Sambal Lawu Murka dengan gaya tabib meracik obat. Gendhing berebut tempe goreng terakhir dengan Kang Paidi, kalah, lalu menghibur diri dengan menceritakan ulang kisah kambing itu dari awal, kali ini dengan tambahan bahwa kambing itu sempat bersendawa di depan para tetua.
Ia memikirkan lontar tua di lemari jati. Ditemukan di antara tumpukan kayu bakar di belakang dapur. Tak mau dipilih, tak mau memilih. Jangan dibuang.
Ia memikirkan siulan jalak kebo Mbah Karta.
Ia memikirkan nyala pelita yang miring tanpa angin.
Mbah Karta sendiri tidak ikut makan bersama mereka. Ia sudah tidur sejak senja di atas karung berasnya, mendengkur dengan sendok kayu di tangan. Tetapi sekali, ketika Gendhis tertawa terlalu keras hingga tersedak, Dira melirik ke sudut itu dan melihat mata lelaki tua itu terbuka sedikit, hanya segaris, menatap ke arahnya. Lalu mata itu terpejam lagi.
"Kau kenapa?" tanya Gendhis setelah batuknya reda. "Dari tadi melamun."
"Capek."
"Gudang itu..." Gendhing merendahkan suara. "Ada yang aneh di sana?"
Dira ragu. Ia ingat janjinya kepada Wulansari: tak ada "tidak apa-apa". Tapi janji itu kepada Wulansari, bukan kepada si kembar. Dan ia tak tahu harus menceritakan apa. Aku mendengar keris rusak mengetuk-ngetuk seperti burung. Mereka akan mengira punggungnya yang dicambuk sudah membuat kepalanya ikut rusak.
"Debunya banyak sekali," katanya akhirnya.
Gendhing mengangguk-angguk penuh pengertian, seperti debu adalah jawaban yang sangat menyeramkan.
Ia tidak bisa tidur.
Barak abdi gelap dan pengap. Belasan abdi tidur berjajar di atas tikar, mendengkur dengan irama yang berbeda-beda. Gandawasa yang paling keras, seperti kerbau yang sedang bermimpi buruk. Setelah tiga cawan arak, kepala dapur itu tak akan bangun walau atap runtuh. Dira tahu itu. Ia sudah menggoresnya di bilah bambu.
Ia berbaring tengkurap di sudut paling lembap, menatap dinding gedek yang ditambal lumpur, dan mendengarkan. Punggungnya sudah tidak perih, tinggal gatal yang datang dan pergi, tanda luka mulai mengering. Di luar, angin malam menggoyang rumpun bambu, dan sesekali seekor tokek berbunyi dari balik atap.
Lalu, di bawah dengkuran-dengkuran itu, ia mendengarnya lagi.
Tik.
Sangat pelan. Begitu pelan hingga ia tak yakin apakah itu bunyi atau denyut nadinya sendiri. Bunyi itu tidak datang dari luar, dari arah gudang yang jaraknya dua ratus langkah. Bunyi itu terasa datang dari dalam kepalanya, dari tempat yang sama dengan rasa dingin di lehernya.
Tik. Tik.
Lalu sesuatu yang lain. Bukan ketukan. Sesuatu yang lebih panjang, naik turun, pendek-pendek, terputus-putus, seperti seseorang yang mencoba bersiul tetapi kehabisan napas di tengah jalan.
Dira duduk tegak di atas tikarnya.
Siulan itu. Ia mengenalnya. Ia mendengarnya setiap hari di dapur sejak menjadi abdi. Siulan jalak kebo. Siulan Mbah Karta.
Tetapi Mbah Karta sedang tidur di dapur, dan siulan ini tidak datang dari dapur.
Siulan ini datang dari gudang pusaka rusak.
Bulan sudah tinggi ketika Dira menyelinap keluar dari barak.
Ia tidak membawa pelita. Pelita terlalu mudah terlihat dari jauh. Ia membawa batu api dan sumbu kecil di kantong kainnya, dan berjalan dalam bayang-bayang lumbung, menunduk di bawah jemuran, melewati kandang kambing tempat kambing bermata jahat itu terbangun dan menatapnya dengan mata kuning yang berkilat. Dira menatap balik. Kambing itu mendengus dan memejamkan mata lagi.
Jalan tersingkat ke gudang melewati sisi belakang balairung. Dira menunduk di balik pagar tanaman puring dan berjalan merapat ke dinding batu, selangkah demi selangkah, seperti yang dulu ia lakukan bersama Wulansari ketika mereka mencuri mangga.
Di jendela tertinggi balairung, satu pelita masih menyala.
Dira berhenti. Ia tidak berniat berhenti, tetapi kakinya berhenti sendiri. Malam ketika Gendhis mengantar wedang jahe dan mendengar kata hujan, pelita itu juga menyala. Malam ketika Wulansari datang dengan pipi ditampar, pelita itu juga menyala.
Dari bawah, ia bisa melihat bayangan di balik tirai jendela. Bayangan seorang lelaki yang duduk tegak, tak bergerak, seperti sedang bersemadi. Atau sedang menunggu.
Bayangan itu menoleh.
Dira merapatkan tubuhnya ke dinding batu, menahan napas, dan tak bergerak sama sekali. Ia menghitung. Sepuluh tarikan napas. Dua puluh. Tiga puluh. Jantungnya berdebar begitu keras hingga ia yakin suaranya terdengar sampai ke jendela.
Ketika ia memberanikan diri mengintip lagi, bayangan itu sudah kembali menghadap ke depan, duduk tegak dan diam seperti semula.
Dira tak tahu apakah bayangan itu melihatnya. Ia tak tahu apakah ia hanya menoleh karena mendengar burung hantu. Yang ia tahu, di seluruh Padepokan Argasuryan hanya satu orang yang berhak duduk sendirian di ruangan tertinggi balairung pada tengah malam.
Ia melanjutkan langkahnya, lebih pelan dan lebih hati-hati daripada sebelumnya.
Gudang pusaka rusak berdiri sendirian di tepi hutan, hitam di bawah cahaya bulan. Atap ijuknya yang bolong-bolong memantulkan sinar keperakan. Dari dalam hutan di belakangnya terdengar suara-suara malam: jangkrik, burung hantu, sesekali gemeresik ranting yang patah oleh sesuatu yang tak terlihat.
Dira berdiri di depan pintu, anak kunci perunggu di tangannya. Logam itu dingin di telapaknya, lebih dingin daripada malam. Ia teringat senyum Ki Wiradhana ketika menyerahkannya, dan untuk sesaat ia tak yakin apakah ia sedang membuka pintu atau melangkah masuk ke perangkap.
Kata orang, di malam hari, pusaka-pusaka yang rusak di dalamnya suka berbisik.
Ia memasukkan anak kunci ke gembok. Klik.
Begitu pintu terbuka, siulan itu berhenti.
Gudang itu sunyi. Lebih sunyi daripada hutan di belakangnya. Lebih sunyi daripada balairung saat semadi. Cahaya bulan masuk dari lubang-lubang atap, menimbulkan bercak-bercak perak di lantai tanah yang sudah ia sapu bersih tadi siang. Rak-rak di sepanjang dinding kosong. Hanya sudut paling dalam, di belakang lemari jati, yang masih gelap pekat. Tanpa barang-barang yang tadi siang memenuhinya, gudang itu terasa lebih besar dan lebih asing, seperti rumah yang penghuninya baru saja pindah. Bau karat masih tertinggal di udara, tipis dan getir.
Dira melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Ia menyalakan sumbu kecil dengan batu api. Cahayanya hanya sebesar kunang-kunang, cukup untuk menerangi jari-jarinya sendiri.
Lalu ia berjalan ke sudut itu.
Karung goni yang ia letakkan kembali tadi sore masih di tempatnya, menutupi tumpukan besi. Dira berlutut di depannya. Dingin di lehernya bangun lagi, perlahan, seperti air pasang.
"Kau yang bersiul?" bisiknya.
Ia merasa sangat bodoh, berbicara kepada setumpuk besi rongsokan di tengah malam. Kalau Gendhing melihatnya sekarang, anak itu akan lari sampai ke desa bawah.
Tak ada jawaban.
Dira mengangkat karung goni itu dan menyingkirkannya. Lalu, perlahan, ia mulai menyingkirkan besi-besi di atas tumpukan, satu per satu, dengan sangat hati-hati. Mata tombak patah. Pecahan tameng. Gumpalan rantai berkarat. Ia meletakkannya di lantai di sampingnya tanpa suara, seperti orang membongkar sarang lebah. Setiap kali logam beradu dengan logam, ia berhenti dan menunggu, telinganya terpasang ke arah pintu.
Keris kecil itu ada di dasar tumpukan, terjepit di antara sepotong mata tombak yang patah dua dan sepotong tameng penyok. Untuk mengambilnya, ia harus menyingkirkan mata tombak itu lebih dulu.
Mata tombak itu tua, karatan, dan bilahnya patah dengan tepi yang tajam dan tak beraturan seperti gigi gergaji. Dira memegangnya di bagian yang tumpul dan mengangkatnya pelan-pelan.
Mata tombak itu tidak mau terangkat. Ujungnya tersangkut di sesuatu di bawah, di antara pecahan tameng dan keris kecil itu. Dira menariknya sedikit lebih kuat.
Mata tombak itu terlepas tiba-tiba, dan jari-jarinya, yang terlalu lelah dan terlalu tegang, meleset dari bagian tumpul ke tepi yang patah.
Rasa sakit yang tajam dan singkat. Seperti digigit semut api.
Dira menarik tangannya dan menatap jari telunjuknya dalam cahaya sumbu yang sekecil kunang-kunang. Ada luka di ujungnya, tidak besar tetapi dalam, dan darah langsung mengalir keluar, gelap dan berkilat.
Ia meletakkan mata tombak itu di lantai dan menekan jarinya dengan ibu jari.
Lalu ia membeku.
Di depannya, di dasar tumpukan besi yang kini terbuka, keris kecil itu bergerak.
Tidak melompat. Tidak melayang. Tidak seperti Kyai Nagageni yang melonjak ke udara di altar, berselimut api dan bayangan naga. Keris kecil itu hanya bergetar, sedikit sekali, seperti dada yang bernapas dalam tidur. Dan di sepanjang retakan halus yang memanjang dari ujung bilahnya sampai ke pangkal, sesuatu bersinar.
Bukan cahaya. Lebih redup dari cahaya. Seperti bara yang sangat jauh di dalam abu, yang hanya terlihat ketika seseorang meniupnya.
Retakan itu berdenyut. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Seirama dengan denyut di jari Dira yang terluka.
Dira tak bisa bernapas. Ia menatap keris itu, dan keris itu, entah bagaimana, terasa sedang menatapnya balik. Burung jalak kecil di ganjanya, yang paruhnya terbuka seperti hendak bernyanyi, tampak bukan lagi sekadar ukiran. Dalam cahaya sumbu yang bergoyang, mata burung itu, titik kecil yang dipahat di logam hitam, tampak berkilat.
Dan dari dalam kepalanya, dari tempat yang sama dengan rasa dingin, datanglah bunyi itu lagi. Bukan tik. Bukan siulan. Sesuatu yang lain, lebih seperti napas, lebih seperti bisikan dari seberang dinding yang sangat tebal, terlalu jauh untuk dimengerti kata-katanya, tetapi cukup dekat untuk dimengerti nadanya.
Nadanya lapar.
Tidak jahat, juga tidak buas. Lapar orang yang sudah terlalu lama menunggu di luar pintu dalam hujan dan akhirnya mencium bau nasi hangat dari dalam rumah.
Dira tak sadar ia sudah mengangkat tangannya yang terluka.
Setetes darah menggantung di ujung jari telunjuknya, gemuk dan gelap, berkilat dalam cahaya sumbu. Tetes itu bergoyang, melawan tarikan yang tak terlihat, lalu memanjang. Tidak lurus ke bawah, tetapi condong ke arah keris kecil itu, seperti nyala pelita tadi sore. Seperti tangan yang terulur.
Di lehernya, dingin itu kini berdetak begitu kuat hingga ia bisa merasakannya di gigi.
Tetes darah itu terlepas dari ujung jarinya.
Ia tidak jatuh lurus ke tanah. Ia jatuh miring, melengkung di udara seperti cahaya fajar yang membelok di altar, dan menimpa retakan di bilah keris kecil itu tepat di tengahnya.