Sang Penelan Pusaka

Bab 111Racun yang Menguatkan

Dira mengisi tempayannya di Sendang Kalimas pagi itu.

Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena tubuhnya sudah terbiasa. Mungkin karena kalau ia tidak melakukannya, ia harus berdiri di sana dan memikirkan apa yang baru saja ia lihat. Ia turun ke tepi sendang, ke tempat batu hitam yang retak itu masih berdiri dengan sepotong sisinya hilang, dan ia mencelupkan tempayan ke dalam air.

Airnya hangat.

Sendang Kalimas, yang selama delapan belas pagi selalu dingin seperti air mata, pagi ini hangat seperti air mandi bayi. Dan di permukaannya, di tempat Gandawasa berendam tadi, mengambang selapis tipis sesuatu yang berkilat. Seperti minyak. Merah gelap. Berputar-putar pelan mengikuti arus, lalu terbawa ke celah batu di ujung sendang, tempat air mengalir keluar ke sungai di bawah sana.

Tidak ada ikan.

Dira baru menyadarinya sekarang. Setiap pagi, ada ikan-ikan kecil di sendang ini. Ikan wader, perak dan gesit, yang berenang menjauh setiap kali ia mencelupkan tempayan. Pagi ini tidak ada satu pun.

Ia mengangkat tempayannya. Ia mengisinya sampai penuh, tetapi tidak dari tengah. Dari ujung yang lain, dari dekat mata air yang menyembur dari celah tebing, tempat airnya masih dingin dan jernih.

Lalu ia naik.

Ia tidak menumpahkan setetes pun. Ia baru menyadarinya ketika sampai di atas. Kedua tempayan penuh sampai bibir. Seperti tempayan Mbah Karta di hari pertama.

Ia tidak merasa senang.


"Wiji Getih," kata Ki Jalak.

Malam itu. Di samping tungku ketujuh. Dira duduk bersila dengan mata tertutup, dan kambing Ji tidur dengan kepala di atas lututnya, dan Mbah Karta mendengkur di dipannya, dan Ki Jalak akhirnya berhenti gemetar.

Ia sudah gemetar sepanjang hari. Sejak sendang. Sepanjang Dira naik jalan patah kaki tiga kali lagi. Sepanjang Dira berdiri di atas kaki kiri mengupas bawang. Sepanjang sore di sumur, ketika Wulansari dan Satyaki melemparinya dan ia terkena sebelas kali karena pikirannya tidak di sana. Burung jalak kebo itu bertengger di potongan dahannya dengan bulu mengembang dan mata yang menatap ke tempat yang jauh, dan ia tidak berbicara sama sekali.

Sampai sekarang.

Apa?

"Wiji Getih. Biji darah. Itu nama pil itu." Suara Ki Jalak pelan dan datar. Seperti orang yang membaca sesuatu dari lontar yang sangat tua. "Aku ingat sekarang. Tidak semuanya. Tapi cukup."

Dira menunggu.

"Dulu," kata Ki Jalak. "Dulu sekali. Sebelum pohon itu terbakar. Ada orang-orang yang datang ke kaki gunung. Ke desa-desa di bawah. Berjubah hitam. Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa kotak kayu kecil. Hitam. Seperti kotak di pangkuan orang tua berjanggut itu."

Kala Ireng.

"Waktu itu mereka belum punya nama. Atau aku belum tahu namanya." Ki Jalak diam sebentar. "Mereka memberikan pil kepada pemuda-pemuda desa. Pemuda yang lemah. Pemuda yang miskin. Pemuda yang ingin menjadi kuat dan tidak punya jalan lain. Mereka bilang pil itu jamu. Jamu penguat. Pemberian para dewa untuk orang-orang yang dilupakan."

Dira merasakan perutnya mengerut.

"Dan pemuda-pemuda itu menjadi kuat. Sangat kuat. Dalam tiga hari, mereka bisa mengangkat kerbau. Dalam tujuh hari, mereka bisa memecahkan batu dengan tinju. Mereka menjadi jagoan desa. Semua orang menghormati mereka. Semua gadis menatap mereka."

Lalu?

"Lalu mereka mulai tidak bisa tidur. Lalu mereka mulai melihat api setiap kali memejamkan mata. Lalu mereka mulai lupa." Suara Ki Jalak menjadi lebih pelan. "Lupa nama ibu mereka. Lupa jalan pulang. Lupa kenapa mereka ingin menjadi kuat. Dan urat-urat hitam di leher mereka tidak lagi memudar. Urat-urat itu menjalar. Ke dada. Ke wajah. Ke mata."

Dira menatap kegelapan Balai Sukma.

"Satu pil," kata Ki Jalak, "membangunkan sesuatu. Tiga pil, membuat seseorang kuat. Lima pil, membuat seseorang lupa siapa dirinya. Tujuh pil..."

Ia berhenti.

Tujuh pil?

"Tujuh pil," kata Ki Jalak, "membuat seseorang bukan lagi seseorang. Yang tersisa hanya kulit. Kulit yang berjalan dan berbicara dan menurut. Kulit yang bisa melompat dari tanah ke atap tanpa suara. Kulit yang, kalau ditebas pedang, tidak berdarah."

Hening.

"Kulit yang, kalau ditebas pedang," kata Ki Jalak sangat pelan, "menjadi abu yang membatu."


Dira membuka matanya.

Ia merogoh kantong di pinggangnya. Kantong kain kecil yang ia bawa ke mana-mana sejak pagi di tangga pendapa. Ia membukanya dan mengeluarkan isinya.

Sebutir abu yang membatu. Bulat sempurna. Keras seperti kerikil. Dengan tanda cincin di permukaannya yang hitam.

Kutemukan di tepi hutan barat semalam, kata Ki Brajanala waktu itu. Di tempat orang berjubah hitam itu jatuh, setelah Nyai menebasnya.

Dira menatap butiran abu itu di telapak tangannya.

"Pemuda bercincin," bisik Ki Jalak. "Dulu dia juga pemuda desa. Pemuda yang lemah. Yang miskin. Yang ingin menjadi kuat."

Dan sekarang?

"Sekarang dia pengendus. Dia mencium bau getah di kainmu dari seberang candi. Dia melompat ke atap tanpa suara. Dia berdiri di depanmu tanpa kau melihatnya lewat." Ki Jalak diam lama. "Dan dia bahkan tidak ingat namanya sendiri, bocah. Aku yakin itu. Kalau kau bertanya siapa namanya, dia tidak akan bisa menjawab."

Dira menggenggam butiran abu itu.

Gandawasa sudah menelan dua.

"Dua."

Pil ketiga pada pagi hari ujian.

"Pil ketiga pada pagi hari ujian," ulang Ki Jalak. "Dan setelah ujian, kalau dia lulus, kalau dia menjadi murid luar, kalau dia berdiri di depan altar dan tidak ada pusaka yang memilihnya karena pusaka mana pun bisa mencium apa yang ada di dalam dadanya..."

Ki Wiradhana akan memberinya yang keempat.

"Dan yang kelima. Dan yang keenam. Sambil bilang, sedikit lagi, ngger, bakatmu belum sepenuhnya bangun, sedikit lagi."

Dan yang ketujuh.

Ki Jalak tidak menjawab.


"Mbah," kata Dira.

Ia tidak tahu apakah Mbah Karta tidur atau pura-pura tidur. Ia tidak peduli. Ia berbicara ke arah dipan bambu di sudut dapur, dengan suara pelan yang cukup keras untuk didengar orang yang terjaga.

"Mbah. Aku tahu Mbah tidak tidur."

Dengkuran itu tidak berhenti.

"Aku melihat Gandawasa di Sendang Kalimas tadi pagi," kata Dira. "Dengan Ki Wiradhana. Ki Wiradhana memberinya pil. Merah gelap. Hampir hitam. Berbau besi dan madu busuk. Gandawasa menelannya, dan ada urat hitam di lehernya, dan dia memecahkan batu dengan tinju." Ia menelan ludah. "Ini pil kedua, Mbah. Pil ketiga pada pagi hari ujian."

Dengkuran itu berhenti.

Lama tidak ada bunyi apa pun di dapur. Hanya bara di tungku ketujuh yang berdenyut, dan napas Ji yang pelan dan teratur.

Lalu dipan bambu itu berderit. Mbah Karta duduk.

Dira tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas di dalam gelap. Hanya bentuknya. Punggung yang tegak, bukan bungkuk. Tangan di atas lutut. Kepala yang menoleh ke arah Dira.

"Wiji Getih," kata Mbah Karta.

Dira berhenti bernapas.

"Burung itu yang memberitahumu namanya," kata Mbah Karta pelan. Bukan pertanyaan.

Dira tidak menjawab. Ia tidak bisa. Selama ini Mbah Karta tidak pernah, sekali pun, menyebut apa yang ada di dalam diri Dira. Tidak keris kecil yang retak. Tidak burung jalak. Tidak Balai Sukma. Ia membuat kain biru tua untuk leher Dira, ia mengajari Dira mengaduk santan, ia duduk di batu datar di atas jalan patah kaki dengan dua tempayan penuh. Tetapi ia tidak pernah menyebutnya.

"Bocah," bisik Ki Jalak, terdengar sama terkejutnya. "Bocah, dia tahu."

"Aku tidak mau mendengar jawabanmu," kata Mbah Karta. "Jangan dijawab. Dengarkan saja."

Dira mendengarkan.


"Wiji Getih tidak bisa dimuntahkan," kata Mbah Karta. "Begitu ditelan, dia menanam akar. Di dalam mata air prana. Di bawah pusar. Seperti benalu yang menanam akar di dahan pohon. Semakin lama, semakin dalam. Semakin besar." Ia diam sebentar. "Dua pil, akarnya masih tipis. Masih bisa dicabut. Kalau ada yang tahu caranya, dan kalau ada yang mau menanggung harganya."

"Mbah tahu caranya?"

Mbah Karta tidak menjawab pertanyaan itu.

"Tiga pil," katanya, "akarnya sudah menembus mata air. Mencabutnya berarti mencabut mata airnya juga. Orang itu akan hidup. Tapi dia tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi. Seumur hidupnya. Seperti sawah yang mata airnya dibendung. Tanahnya tetap ada. Tapi tidak ada yang bisa tumbuh."

Dira menatap kegelapan.

"Lima pil," kata Mbah Karta, "mencabutnya membunuhnya."

Ia tidak menyebutkan tujuh.

"Jadi kalau Gandawasa menelan pil ketiga..."

"Dia tidak akan pernah menjadi pendekar," kata Mbah Karta. "Apa pun yang terjadi setelahnya. Lulus ujian atau tidak. Dipilih pusaka atau tidak. Tiga pil, dan mimpinya selesai. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah apakah dia akan hidup sebagai abdi kandang yang tidak bisa berkultivasi, atau mati sebagai sesuatu yang lain."

Dira merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari perutnya ke dadanya.

"Tujuh hari," katanya. "Pil kedua tadi pagi. Pil ketiga tujuh hari lagi. Ujian enam hari lagi. Ki Wiradhana bilang pil ketiga pada pagi hari ujian."

"Kalau begitu," kata Mbah Karta, "kau punya enam hari."


"Kenapa Mbah tidak menghentikannya?"

Dira tidak bermaksud mengatakannya sekeras itu. Tetapi kata-kata itu keluar, dan Ji mengangkat kepalanya dari lutut Dira dan menatapnya.

"Mbah tahu," kata Dira. "Mbah tahu nama pil itu. Mbah tahu bagaimana cara kerjanya. Mbah tahu cara mencabutnya. Mbah bisa memikul dua tempayan penuh dengan satu tangan dan sampai di atas jalan patah kaki sebelum aku. Mbah bisa..."

Ia berhenti.

"Mbah bisa menghentikan Ki Wiradhana," katanya, lebih pelan. "Kan?"

Mbah Karta diam lama.

Lalu ia bangkit dari dipan. Ia berjalan ke tungku ketujuh. Pelan. Dengan langkah yang bukan langkah orang tua yang pikun, tetapi juga bukan langkah orang muda. Langkah orang yang sudah sangat, sangat lama berjalan. Ia berjongkok di depan tungku, mengambil sebatang kayu jati, dan memasukkannya ke dalam bara.

Api menyala. Cahaya kuning menerangi wajahnya.

Wajah juru masak tua. Keriput. Setengah ompong. Tetapi matanya tidak keruh. Matanya jernih dan sangat lelah.

"Kalau aku menghentikan Wiradhana," katanya, "dengan cara yang bisa menghentikannya, semua orang di padepokan ini akan melihat apa yang kulakukan. Dan semua orang akan bertanya siapa juru masak tua yang bisa melakukan itu. Dan pertanyaan itu akan sampai ke telinga yang tidak boleh mendengarnya. Telinga yang sudah delapan belas warsa mencari jawabannya." Ia menatap api. "Dan pada hari itu, Le, mereka tidak akan datang ke padepokan ini dengan satu pengendus dan satu pemuda bercincin. Mereka akan datang dengan semuanya."

Dira tidak bisa bernapas.

"Nyai menjaga pisau di dalam sarungnya," kata Mbah Karta. "Aku juga. Kami semua. Dan pisau itu," ia menoleh dan menatap Dira, menatap kain biru tua di lehernya, "bukan untuk Wiradhana. Bukan untuk Gandawasa. Pisau itu untuk hari yang lain. Hari yang lebih buruk."

Ia bangkit. Lututnya berbunyi krek.

"Enam hari, Le," katanya. "Aku tidak bisa menghentikan Wiradhana. Tapi kau bisa mencoba menghentikan Gandawasa."

"Bagaimana?"

Mbah Karta berjalan kembali ke dipannya. Ia berbaring. Ia memunggungi Dira.

"Dengan cara yang sama kau keluar dari sumur waktu dia mendorongmu ke sana, dulu," katanya. "Dengan cara yang sama kau menang di lumbung lalu memilih kalah. Kau selalu menemukan caranya. Itu satu-satunya hal yang aku tidak perlu mengajarimu."

Lalu ia mendengkur.


Dira tidak bisa tidur malam itu.

Ia duduk di samping tungku ketujuh. Ia menarik prana. Seperempat. Ia mengaduknya. Satu arah. Pelan. Sapu Angin mengikuti di belakangnya, mengepakkan sayap di dinding-dinding meridian yang mulai mengeras.

Lalu, karena pikirannya terlalu penuh untuk diam, ia berdiri.

Ia berdiri di atas kaki kiri. Kaki kanannya terangkat. Ia memejamkan matanya. Ia menarik prana dari mata air di bawah pusar, tidak seperempat, tidak setengah. Sedikit. Sangat sedikit. Sebanyak setetes embun.

Udara tidak suka ditendang, kata Ki Jalak dua puluh hari yang lalu. Udara suka diketuk.

Ia mengalirkan setetes prana itu ke kaki kanannya yang terangkat. Ke telapaknya. Ke tumitnya.

Lalu ia menurunkan kaki kanannya. Pelan. Ke udara sejengkal di atas lantai tanah dapur.

Dan mengetuk.

Ia tidak menendang atau menginjak. Ia mengetuk, seperti orang mengetuk pintu rumah tetangga di tengah malam. Pelan. Sopan. Sekali.

Di bawah telapak kakinya, udara itu menjadi padat.

Hanya sekejap. Sekejap yang lebih singkat dari kedipan mata. Seperti menginjak tampah yang diletakkan di atas air. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang menahan. Lalu tidak ada lagi.

Kaki kanannya jatuh ke lantai. Tubuhnya oleng. Ia menabrak karung beras dan jatuh terduduk di atasnya.

Ji mengangkat kepala dan menatapnya dengan mata jahatnya yang setengah terpejam.

Dira duduk di atas karung beras, terengah-engah, menatap telapak kaki kanannya.

"Bocah," bisik Ki Jalak. Lalu, lebih keras, dengan suara yang tiba-tiba tidak lagi lelah dan tidak lagi gemetar: "BOCAH."

Aku merasakannya.

"Kau merasakannya! Sekejap! Setengah kedipan! Tapi kau merasakannya!" Burung jalak kebo itu mengepakkan sayapnya di Balai Sukma, berputar sekali di udara, dan mendarat kembali di potongan dahannya dengan bulu-bulu berantakan. "Langkah ketujuh, bocah! Setetes embun! Kau mengetuk udara dan udara membukakan pintunya!"

Dira menatap telapak kakinya.

Lalu ia berdiri lagi. Di atas kaki kiri. Mengangkat kaki kanan. Memejamkan mata.

Ia mengetuk lagi. Jatuh lagi.

Lagi. Jatuh lagi.

Sampai fajar, ia jatuh empat puluh tiga kali. Tetapi empat kali dari empat puluh tiga itu, udara di bawah kakinya menahan. Sekejap. Setengah kedipan.

Itu cukup untuk sekarang.

Ketika kentongan subuh berbunyi, ia mengambil pikulannya dan berjalan ke pintu butulan. Bukan karena ia tidak memikirkan Gandawasa. Karena ia sudah memikirkannya sepanjang malam, di antara empat puluh tiga kali jatuh. Dan ia tahu apa yang harus ia lakukan pertama.

Enam hari, pikirnya. Lima, sekarang.

Aku akan bicara kepadanya. Sekali lagi. Di depan semua orang, kalau perlu.

"Dia akan menertawakanmu," kata Ki Jalak.

Aku tahu.

"Dan kau tetap akan melakukannya."

Iya.

Ki Jalak diam sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya sejak sendang, ia bersiul. Siulan jalak kebo. Pendek. Naik di ujungnya.

"Bagus," katanya.