Bab 112Peringatan yang Ditertawakan
Lapangan murid luar ramai sore itu.
Bukan oleh murid luar. Sejak lima hari yang lalu, atas izin Ki Ageng, para peserta ujian boleh memakai lapangan di sore hari, setelah murid-murid luar selesai berlatih. Anak-anak desa dari Sumberwatu dan desa-desa lain di kaki Lawu. Abdi-abdi muda. Beberapa murid luar tahun pertama yang ingin naik lebih cepat. Mereka berlatih kuda-kuda di tanah merah yang dipadatkan, menendang patok-patok kayu, berlari mengelilingi lapangan sambil memikul karung pasir.
Dan di tengah lapangan, dikelilingi kerumunan kecil, Gandawasa.
Dira mendengarnya sebelum melihatnya. Bunyi kayu yang patah. KRAK. Lalu sorak-sorai. Lalu bunyi kayu lagi. KRAK. Lalu sorak-sorai lagi, lebih keras.
Ia berjalan ke tepi lapangan. Di belakangnya, sepuluh langkah jauhnya, ia merasakan aliran udara yang bergeser. Bayuwisesa. Seperti biasa.
Di tengah lapangan, Gandawasa berdiri di depan sebaris patok kayu. Patok-patok jati sebesar paha orang dewasa, yang ditanam sedalam lutut di tanah merah, yang biasa dipakai murid luar untuk berlatih tendangan sampai kaki mereka memar. Tiga dari patok itu sudah patah. Terbelah di tengah, serpihannya berserakan di tanah.
Gandawasa mengangkat kaki kanannya dan menendang patok keempat.
KRAK.
Patok itu patah seperti batang tebu.
Anak-anak desa bersorak. Beberapa abdi muda bertepuk tangan. Darmo dan Tukiran, dua abdi kandang yang namanya ditulis Dira di papan, berdiri di barisan depan dengan mata membelalak dan mulut menganga.
"Kakang Ganda!" teriak Tukiran. "Kakang Ganda, lagi!"
Gandawasa tertawa. Keras. Tawa yang terlalu keras untuk lapangan sekecil itu. Ia berbalik ke arah kerumunan, mengangkat kedua tangannya seperti jagoan sabung ayam yang baru menang, dan matanya menemukan Dira di tepi lapangan.
Tawanya berhenti sebentar. Lalu dilanjutkan, lebih keras lagi.
"Lihat siapa yang datang!" teriaknya. "Abdi dapur! Nomor satu di papan! Mau menendang patok juga?"
Dira berjalan ke tengah lapangan.
Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan. Ia sudah memikirkannya sepanjang malam, di antara empat puluh tiga kali jatuh di dapur, dan sepanjang pagi, di antara empat kali naik jalan patah kaki. Tetapi setiap kali ia memikirkannya, kata-katanya terdengar salah. Terlalu banyak. Terlalu sedikit. Terlalu mirip Nyai. Terlalu mirip Ki Wiradhana.
Ia berhenti tiga langkah di depan Gandawasa.
Dari dekat, ia bisa melihat yang tidak terlihat dari tepi lapangan. Mata Gandawasa merah di pinggirnya. Bukan merah karena marah. Merah karena urat-urat kecil yang pecah. Kulit di bawah matanya gelap dan cekung. Bibirnya pecah-pecah. Dan di lehernya, sangat samar, hampir tidak terlihat kecuali kalau dicari, ada garis-garis kelabu tipis di bawah kulit. Dari tulang selangka kiri ke belakang telinga.
Dira menarik napas.
"Kakang," katanya. "Bisa bicara sebentar? Berdua?"
"Berdua?" Gandawasa tertawa lagi. Ia menoleh ke kerumunan. "Dengar itu? Abdi dapur mau bicara berdua denganku! Mau apa? Mau menuliskan namaku di papan?" Ia menoleh kembali ke Dira. "Terlambat. Sudah ada yang menuliskannya."
Kerumunan tertawa.
"Kakang..."
"Bicara di sini," kata Gandawasa. "Di depan semua orang. Kau suka bicara di depan semua orang, kan? Di sidang halaman. Abu tungku. Kaki kiri. Bayangan di air." Ia merentangkan tangannya. "Silakan. Semua orang mendengarkan."
Dira menatapnya.
"Bocah," bisik Ki Jalak. "Jangan."
Aku harus.
"Dia ingin kau bicara di sini karena dia tahu kau tidak bisa mengatakan semuanya di sini."
Aku tahu.
"Lalu?"
Aku akan mengatakan apa yang bisa kukatakan.
"Pil itu, Kakang," kata Dira.
Kerumunan berbisik.
"Pil yang Kakang telan," kata Dira, cukup keras supaya Gandawasa mendengar, cukup pelan supaya tidak terdengar seperti teriakan. "Pil merah gelap. Dari kotak kayu hitam. Jangan telan yang ketiga."
Gandawasa menatapnya. Lama.
Lalu ia tertawa.
Bukan tawa yang keras seperti tadi. Tawa yang pelan, di dalam dada, yang perlahan-lahan naik dan naik sampai seluruh tubuhnya berguncang. Ia membungkuk. Ia memegangi lututnya. Ia tertawa sampai air mata keluar dari matanya yang merah.
"Jamu!" teriaknya akhirnya, menegakkan tubuh, menunjuk Dira dengan jari yang gemetar karena tertawa. "Dengar itu? Jamu! Abdi dapur ini takut pada jamu!"
Kerumunan meledak.
"Ki Wiradhana memberiku jamu penguat!" Gandawasa berbalik ke kerumunan, berteriak supaya semua orang mendengar. "Jamu! Seperti yang diberikan tetua-tetua lain kepada murid kesayangan mereka! Dan abdi dapur ini datang ke sini untuk memperingatkanku!" Ia menoleh ke Dira. "Kenapa? Kau takut aku lebih kuat darimu? Kau takut aku lulus dan kau tidak?"
"Kakang tidak bisa tidur," kata Dira.
Tawa Gandawasa berhenti.
Hanya sesaat. Sesaat yang sangat singkat. Tetapi Dira melihatnya. Mata yang merah itu berkedip. Rahang yang lebar itu mengeras.
"Kakang tidak bisa tidur sejak beberapa malam yang lalu," kata Dira, lebih pelan. "Setiap kali Kakang memejamkan mata, Kakang melihat api. Dada Kakang panas terus-menerus. Dan ada urat di leher Kakang. Di sini." Ia menyentuh lehernya sendiri. Di atas kain biru tua. Dari tulang selangka kiri ke belakang telinga. "Kelabu. Kalau Kakang menelan pil ketiga, urat itu tidak akan memudar lagi. Urat itu akan menjadi hitam. Dan menjalar."
Lapangan menjadi sunyi.
Gandawasa menatapnya. Tangannya terangkat ke lehernya sendiri. Ke sisi kiri. Lalu berhenti di tengah jalan. Lalu turun lagi.
"Aku tidak bisa tidur," kata Gandawasa pelan, "karena aku bersemangat."
Lalu, lebih keras, kepada kerumunan: "Aku tidak bisa tidur karena aku bersemangat! Enam hari lagi ujian! Siapa yang bisa tidur?"
Tawa lagi. Lebih ragu-ragu kali ini. Tetapi tawa.
Dari barisan belakang, seseorang mulai menyanyikan pantun itu. Ada abdi berkaki pincang, mau jadi murid membawa sendok... Beberapa anak desa ikut bernyanyi. Darmo dan Tukiran tidak.
"Kakang," kata Dira. "Dengarkan aku. Sekali saja. Aku tidak meminta Kakang mundur dari ujian. Aku tidak meminta Kakang membenci Ki Wiradhana. Aku cuma meminta satu hal." Ia menelan ludah. "Jangan telan pil ketiga. Ikut ujian tanpa itu. Kalau Kakang gagal, Kakang gagal sebagai Kakang. Bukan sebagai sesuatu yang lain."
Gandawasa menatapnya.
Untuk sesaat, sangat singkat, sesuatu bergerak di wajah lebar itu. Sesuatu yang bukan tawa. Sesuatu yang Dira kenal dari malam di lumbung, dari pagi di gubuk orang sakit ketika Gandawasa membasuh lumpur dari wajahnya tanpa bertanya. Sesuatu yang ragu. Sesuatu yang lelah.
Lalu mata itu berkedip. Dan untuk sesaat, sesaat yang lebih singkat lagi, pinggir mata itu memantulkan cahaya sore dengan warna yang aneh. Kemerahan. Seperti bara.
Dan sesuatu yang ragu itu hilang.
"Kau tahu," kata Gandawasa, "kau selalu begini, Dira. Selalu tahu apa yang terbaik untuk orang lain. Untuk Wulansari. Untuk Satyaki. Untuk si kembar. Untuk Mbok Darsih dan abdi-abdi tua dan dua abdi kandang yang tidak bisa menulis." Ia melangkah maju. Satu langkah. Sekarang mereka hanya terpisah dua langkah. "Dan sekarang untukku. Kau datang ke sini dan memberitahuku apa yang terbaik untukku. Seperti aku anak kecil yang tidak bisa memutuskan sendiri."
"Kakang..."
"Kau mau aku tidak menelan pil ketiga?" Gandawasa tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Baik. Pukul aku."
Kerumunan terdiam.
"Pukul aku," ulang Gandawasa. "Sekali. Kalau kau bisa membuatku mundur satu langkah, satu langkah saja, aku tidak akan menelan pil ketiga. Aku bersumpah. Di depan semua orang ini."
Dira tidak bergerak.
"Oh." Gandawasa memiringkan kepalanya. "Aku lupa. Kau tidak boleh. Aturan Ki Ageng. Peserta yang berkelahi sebelum ujian, gugur." Ia tertawa kecil. "Abdi dapur nomor satu di papan, tidak boleh memukul abdi kandang nomor seratus dua belas. Kasihan sekali."
Lalu tangannya bergerak.
Tidak cepat. Tidak seperti tinju. Hanya jari. Jari telunjuk dan jari tengah, ditekuk di belakang ibu jari, seperti anak-anak yang menyentil kepala kawannya di sungai.
Ia menyentil dahi Dira.
Dira tidak sempat menghindar. Bukan karena sentilan itu cepat. Karena ia tidak menduganya. Jari-jari itu menyentuh dahinya, dan sesuatu meledak dari sana.
Bukan rasa sakit. Belum. Dorongan. Seperti dihantam kepala kerbau. Seluruh tubuhnya terlempar ke belakang. Kakinya meninggalkan tanah. Lapangan berputar. Langit, tanah merah, kerumunan, langit lagi.
Lalu tubuhnya bergerak sendiri.
Langkah Jalak Ngumbara. Langkah keempat. Jalak Mendarat. Kaki kanan menyentuh tanah lebih dulu, menekuk, menyerap. Kaki kiri menyusul, menahan. Tubuhnya berputar setengah lingkaran di udara dan mendarat, berjongkok, dengan satu tangan di tanah merah, enam langkah dari tempat ia berdiri tadi.
Ia tidak jatuh.
Kerumunan terdiam. Seseorang menahan napas dengan bunyi yang terdengar sampai ke tepi lapangan.
Dira mengangkat kepalanya. Dahinya berdenyut. Sesuatu yang hangat mengalir dari pelipisnya ke pipinya. Darah. Tidak banyak. Kulitnya robek sedikit di tempat jari-jari Gandawasa menyentuhnya.
Gandawasa menatapnya dari enam langkah jauhnya. Wajahnya tidak lagi tersenyum. Ia menatap Dira yang berjongkok, tidak jatuh. Lalu ia menatap jari-jarinya sendiri.
"Satu sentilan," bisik Ki Jalak. "Bocah. Satu sentilan dengan dua jari, dan kau terlempar enam langkah. Beberapa hari yang lalu dia masih abdi yang belum berkultivasi."
Lalu sesuatu berlari dari tepi lapangan.
Kambing Ji.
Kambing itu mengikuti Dira dari dapur sejak siang. Seperti setiap hari sejak Gandawasa meninggalkan kandang. Berjalan tiga langkah di belakangnya, berhenti ketika ia berhenti, berbaring ketika ia duduk. Tadi ia berdiri di tepi lapangan, di dekat Bayuwisesa, mengunyah rumput.
Sekarang ia berlari. Ke tengah lapangan. Bukan ke arah Dira.
Ke arah Gandawasa.
Ia tidak menunduk untuk menyeruduk. Kepalanya terangkat. Telinganya tegak. Ia berlari ke arah Gandawasa seperti kambing yang berlari ke arah orang yang memberinya makan setiap pagi selama secandra. Seperti kambing yang ditinggalkan dan akhirnya menemukan orang yang meninggalkannya.
Ia mengembik. Panjang. Embik yang Dira dengar di kandang kosong kemarin pagi.
Ia berhenti di depan Gandawasa. Ia menyundul lutut Gandawasa dengan kepalanya. Pelan. Seperti dulu, setiap malam, ketika ia menyandarkan kepalanya yang bertanduk patah di perut Gandawasa sebelum tidur.
Gandawasa menunduk dan menatap kambing itu.
Lalu ia menendangnya.
Tidak keras. Tidak dengan seluruh tenaganya. Tetapi tenaganya sekarang bukan tenaga beberapa hari yang lalu. Ji terlempar. Tubuhnya yang kecil terbang tiga langkah di udara dan jatuh di tanah merah dengan bunyi yang membuat seluruh kerumunan tersentak. Ia mengembik kesakitan. Tinggi dan pecah.
Ia mencoba berdiri. Kaki depannya yang kiri menekuk. Ia jatuh lagi. Ia mencoba lagi. Kali ini ia berdiri, dengan kaki depan kiri terangkat dari tanah, gemetar.
Lapangan sunyi.
Gandawasa menatap kakinya sendiri. Kaki kanannya. Yang baru saja menendang. Wajahnya, untuk sesaat, tampak seperti wajah orang yang baru terbangun dari mimpi dan tidak tahu di mana ia berada. Kosong. Bingung.
Lalu ia mengangkat kepalanya. Ia menatap Ji, yang berdiri dengan tiga kaki dan menatapnya balik dengan mata jahat yang kini tampak sangat basah.
"Kambing bau," kata Gandawasa.
Suaranya terlalu keras. Terlalu cepat.
Ia berbalik dan berjalan pergi. Keluar dari lapangan. Ke arah timur. Ke arah bilik-bilik tetua. Kerumunan memberi jalan. Tak seorang pun bersorak.
Ji berjalan pincang ke arah Dira dengan tiga kaki.
Dira berlutut di tanah merah dan menangkapnya. Ia meraba kaki depan kiri kambing itu. Tidak patah. Terkilir. Bengkak. Ji menyandarkan kepalanya yang bertanduk patah di dada Dira dan gemetar.
Dira menatap punggung Gandawasa yang menjauh.
"Bocah," kata Ki Jalak sangat pelan. "Kau lihat wajahnya? Setelah dia menendang?"
Aku lihat.
"Itu bukan wajah orang yang mau menendang kambingnya sendiri." Burung itu diam lama. "Itu wajah orang yang tidak tahu kenapa kakinya bergerak."
Raden Bayuwisesa berdiri di samping Dira.
Dira tidak mendengarnya mendekat. Putra ketua itu berdiri di sana dengan tangan bersilang, menatap ke arah timur, ke arah Gandawasa yang sudah menghilang di balik sudut asrama murid luar.
"Matanya," kata Bayuwisesa.
Dira mengangkat kepalanya.
"Waktu dia menyentilmu," kata Bayuwisesa. "Pinggir matanya. Merah. Seperti bara." Ia diam sebentar. "Aku pernah melihat mata seperti itu. Sekali. Bertahun-tahun lalu. Di pasar Kadipaten. Seorang jagoan pasar yang tiba-tiba bisa mengangkat pedati. Sepasar kemudian dia membunuh tiga orang tanpa sebab. Secandra kemudian dia hilang. Tidak ada yang tahu ke mana."
Dira tidak berkata apa-apa.
"Pil jamu penguat tidak dilarang di padepokan ini," kata Bayuwisesa. "Ki Wiradhana tidak melanggar aturan apa pun. Kalau aku melapor kepada ayahku, ayahku akan bertanya buktinya. Dan buktinya adalah mata merah yang kulihat sekejap dan kambing yang ditendang." Ia mendengus. "Dan abdi dapur yang terlempar enam langkah karena satu sentilan."
"Saya tidak jatuh, Raden."
"Aku lihat." Bayuwisesa menatapnya. Lama. "Langkah apa itu?"
Dira tidak menjawab.
Bayuwisesa tidak menunggu jawaban. Ia menatap Ji, yang masih gemetar di pelukan Dira.
"Kambing itu," katanya, "tidak pernah salah menilai orang. Sejak dulu. Dia menyeruduk Joyokusumo. Dia menyeruduk pemuda di candi tua. Dia menyeruduk Jlitheng." Ia diam. "Tapi dia tidak pernah menyeruduk abdi kandang itu. Tadi pun tidak. Tadi dia berlari kepadanya."
Ia berbalik untuk pergi.
"Itu yang membuatku takut, kodok," katanya tanpa menoleh. "Bukan matanya. Kambing itu masih mengira dia orang yang sama."
Dira membawa Ji kembali ke dapur.
Mbah Karta membebat kaki kambing itu dengan daun jarak yang dihangatkan di atas bara dan sobekan kain jarik. Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Ia hanya menatap kaki Ji, lalu menatap luka kecil di dahi Dira, lalu kembali membebat.
Malam turun.
Dira duduk di samping tungku ketujuh dengan Ji di pangkuannya. Kambing itu tidur, sesekali mengembik kecil dalam tidurnya, seperti anak yang bermimpi buruk.
Melalui lubang di atap dapur, Dira bisa melihat bulan. Setengah. Bulan separuh yang sedang menebal, menuju purnama. Putih dan tenang di langit yang hitam.
Ia menatapnya. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena itu satu-satunya hal yang tenang malam ini.
Lalu ia melihatnya.
Di tepi bulan itu. Di sisi yang bulat. Sebuah garis gelap.
Tipis. Sangat tipis. Seperti seutas rambut yang jatuh di atas piring putih.
Dira berkedip. Garis itu masih di sana. Lalu, sangat perlahan, garis itu menebal. Melebar. Merayap ke dalam bulan seperti tinta yang meresap ke dalam kain. Bukan bayangan awan. Awan bergerak. Garis ini tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menggerogoti. Ke dalam. Sedikit demi sedikit.
Seperti gigitan.
Di bawah kain biru tua, tanda di leher Dira berdenyut. Sekali. Keras. Dingin seperti embun di puncak gunung.
Ji terbangun dan mengembik.
Dan dari arah barak abdi, dari kegelapan di luar dapur, terdengar suara Mbok Darsih. Melengking. Pecah. Suara yang membangunkan seluruh padepokan:
"BATARA KALA! BULANNYA DIMAKAN BATARA KALA!"