Sang Penelan Pusaka

Bab 110Pil Darah Hitam

Fajar datang lambat malam itu.

Dira duduk di samping tungku ketujuh dengan tongkat di pangkuan dan kambing Ji tidur di sampingnya. Ia menatap lubang di atap dapur. Langit di sana hitam. Lalu hitam keunguan. Lalu ungu kelabu. Ia menghitung setiap perubahan warna itu seperti menghitung butir-butir beras yang jatuh dari karung yang bocor.

Ketika akhirnya segaris tipis cahaya pucat muncul di ufuk timur, ia sudah berdiri di ambang pintu belakang dengan pikulan di pundak.

"Bocah," kata Ki Jalak. "Kau yakin?"

Ini fajar. Aku turun ke sendang setiap fajar. Sudah delapan belas hari. Tidak ada yang aneh.

"Bukan itu yang kutanyakan."

Dira tidak menjawab. Ia berjalan ke pintu butulan.


Pintu butulan itu tidak dikunci. Hanya diganjal palang kayu dari dalam, seperti setiap pagi. Dira mengangkat palangnya, membuka pintunya, dan melangkah keluar ke mulut jalan patah kaki.

Kabut.

Lebih tebal dari biasanya. Kabut pagi di lereng Lawu selalu tebal, tetapi pagi ini kabut itu seperti kapas yang dijejalkan ke dalam lembah. Putih. Pekat. Ia tidak bisa melihat lebih dari sepuluh langkah ke bawah. Jalan setapak yang berkelok-kelok itu menghilang ke dalam putih seperti ular yang menyelam ke dalam susu.

Dira mulai turun.

Ia sudah menuruni jalan ini empat puluh kali lebih. Ia tahu setiap batu. Batu yang licin di tikungan ketiga. Batu yang goyah di tikungan ketujuh. Akar pohon yang mencuat di tengah jalan sebelum turunan terakhir. Kakinya menemukan semuanya tanpa melihat. Kaki kirinya tidak lagi bergetar. Tempayan-tempayan kosong di pikulannya berayun pelan, tidak berbunyi.

Di tengah jalan, sekitar batu ke-tiga ratus, ia berhenti.

Ia tidak tahu kenapa. Kakinya berhenti sendiri.

Lalu ia merasakannya. Di kulitnya. Di garis-garis telapak tangan kanannya. Aliran udara.

Bukan angin pagi yang biasa, yang turun pelan dari puncak bukit ke lembah. Aliran udara yang lain. Naik. Dari bawah. Dari arah sendang. Hangat. Terlalu hangat untuk udara pagi di lereng gunung. Seperti udara yang naik dari mulut tungku.

Dan baunya.

Besi. Madu yang membusuk. Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tajam dan amis, seperti darah ayam yang baru disembelih, tetapi lebih tua. Lebih kental.

"Bocah," bisik Ki Jalak. Suaranya tegang. "Pelan-pelan."

Dira menurunkan pikulannya. Pelan. Ia meletakkan kedua tempayan di balik sebongkah batu besar di tepi jalan setapak, supaya tidak berbunyi. Lalu ia melanjutkan turun tanpa pikulan. Merunduk. Dari batu ke batu. Seperti yang ia lakukan di candi tua.

Kabut mulai menipis.


Sendang Kalimas terbentang di bawahnya.

Kolam alam berbentuk seperti mangkuk, di dasar tebing, dikelilingi batu-batu hitam berlumut. Airnya biasanya jernih seperti air mata, sedingin embun gunung, berasal dari mata air yang menyembur dari celah tebing. Dira mengisi tempayannya di sini setiap pagi. Ia mengenal setiap batunya.

Pagi ini, air sendang itu mengepul.

Uap putih naik dari permukaannya. Tidak di seluruh sendang. Hanya di satu tempat. Di tengah. Di sekeliling sesosok tubuh besar yang berdiri di dalam air sampai ke pinggang.

Gandawasa.

Ia berdiri tak bergerak, dengan mata terpejam dan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Bajunya sudah dilepas. Punggungnya yang lebar penuh bekas cambuk lama, garis-garis pucat yang saling bersilangan seperti jala. Bekas cambuk dari rumah Ki Brangas. Bekas tiga puluh pukulan rotan dari Nyai. Bekas lima cambukan karena air tempayan yang tinggal seperempat di Tangga Seribu.

Dan dari kulitnya, dari punggungnya, dari bahunya, dari lengannya, uap mengepul. Air di sekelilingnya bergolak pelan, seperti air di dalam dandang yang hampir mendidih.

Di atas sebongkah batu datar di tepi sendang, duduk Ki Wiradhana.

Ia duduk bersila dengan tenang, beskap hitamnya kering meskipun kabut basah di mana-mana, janggut putihnya bergoyang pelan ditiup udara hangat yang naik dari sendang. Di pangkuannya ada sebuah kotak kecil dari kayu hitam. Tertutup.

Dira merunduk di balik batu, dua puluh langkah di atas mereka. Di tempat yang tinggi, di antara semak harendong dan batu-batu berlumut.

Ia menutup matanya. Lalu membukanya lagi, dengan mata yang lain. Mata yang terbuka bersama meridiannya.

Prana.

Di sekeliling Gandawasa, prana bergolak. Bukan seperti prana yang biasa Dira lihat, benang-benang sutra yang mengalir pelan, hijau di pohon sawo, keemasan di balairung. Prana di sekeliling Gandawasa merah. Merah gelap. Merah seperti bara yang dicelupkan ke dalam darah. Benang-benangnya tidak mengalir. Benang-benangnya menggeliat. Seperti cacing-cacing yang dilempar ke atas wajan panas.

Dan di tengah-tengahnya, di dalam dada Gandawasa, di tempat mata air prana seharusnya berada, ada sesuatu yang hitam.

Kecil. Bulat. Berdenyut. Seperti jantung kedua.

"Bocah," bisik Ki Jalak. Suaranya gemetar. "Itu bukan prana miliknya."


"Cukup," kata Ki Wiradhana.

Gandawasa membuka matanya. Uap berhenti mengepul dari kulitnya. Air di sekelilingnya berhenti bergolak. Ia berdiri di sana, terengah-engah, dengan air sendang yang kini hangat mengalir di dadanya.

"Keluar," kata Ki Wiradhana. "Pelan-pelan."

Gandawasa berjalan keluar dari sendang. Langkahnya berat. Ia berhenti di depan batu datar, berlutut di atas batu-batu berlumut, dan menundukkan kepala.

"Bagaimana rasanya?" tanya Ki Wiradhana.

"Panas, Ki." Suara Gandawasa serak. "Di dada. Terus-menerus. Seperti ada bara di dalam. Tiga malam ini aku tidak bisa tidur. Kalau aku memejamkan mata, aku melihat api."

"Itu bakatmu, ngger." Ki Wiradhana tersenyum. "Bakat yang tertidur selama tiga belas warsa karena tidak pernah ada yang membangunkannya. Sekarang dia bangun. Dan bakat yang bangun setelah tidur terlalu lama selalu lapar. Selalu gelisah. Itu wajar."

"Kapan panasnya berhenti?"

"Setelah ujian." Ki Wiradhana membuka kotak kayu hitam di pangkuannya. "Setelah kau menjadi murid luar. Setelah kau berdiri di depan altar. Setelah pusaka memilihmu. Seperti yang seharusnya terjadi tiga belas warsa yang lalu."

Dari dalam kotak itu, ia mengambil sesuatu.

Sebutir pil.

Dira bisa melihatnya bahkan dari dua puluh langkah. Bulat. Sebesar biji kemiri. Warnanya merah gelap, hampir hitam, seperti darah yang sudah lama mengering di atas batu. Permukaannya tidak rata, berkerut-kerut halus seperti kulit jeruk yang mengering. Dan dari pil itu, samar, naik seutas asap yang sangat tipis.

Bau besi dan madu yang membusuk menguat.

"Yang kedua," kata Ki Wiradhana. Ia mengulurkan pil itu di atas telapak tangannya. "Yang pertama sudah kau telan tiga malam yang lalu. Di kandang. Ingat?"

"Ingat, Ki."

"Satu setiap tujuh hari. Tidak lebih. Tidak kurang. Yang ketiga, kau telan pada pagi hari ujian. Sebelum Tangga Seribu." Ki Wiradhana menatapnya. "Kalau kau menelan lebih dari satu dalam tujuh hari, bakatmu akan bangun terlalu cepat. Dan bakat yang bangun terlalu cepat bisa membakar rumahnya sendiri. Kau mengerti?"

"Mengerti, Ki."

"Bagus."

Gandawasa mengambil pil itu dari telapak tangan Ki Wiradhana. Ia menatapnya sebentar. Tangannya gemetar sedikit.

Lalu ia memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya.


Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa.

Lalu Gandawasa terbatuk. Sekali. Keras. Tubuhnya membungkuk ke depan. Tangannya mencengkeram batu-batu berlumut di bawahnya.

Dan di lehernya, di bawah kulitnya yang basah, sesuatu muncul.

Urat-urat. Di sisi kiri lehernya, dari tulang selangka ke arah belakang telinga. Urat-urat yang biasanya tidak terlihat, kini menonjol dan menggelap. Bukan biru seperti urat biasa. Hitam. Hitam seperti tinta. Menjalar ke atas. Bercabang. Seperti akar pohon.

Dira menyentuh lehernya sendiri tanpa sadar. Ke kain biru tua. Ke tanda di bawahnya. Tanda yang juga menjalar dari tulang selangka kiri ke belakang telinga. Tanda yang juga bercabang seperti akar.

Tetapi tandanya biru. Dan dingin.

Urat di leher Gandawasa hitam. Dan dari uap yang kembali mengepul dari kulitnya, panas.

Lalu urat-urat itu memudar. Pelan-pelan. Seperti tinta yang meresap ke dalam kain. Sampai leher Gandawasa kembali seperti leher biasa.

Gandawasa mengangkat kepalanya. Napasnya tersengal. Matanya, untuk sesaat, sesaat saja, memantulkan cahaya pagi dengan warna yang aneh. Kemerahan.

Lalu ia berdiri.

Ia berjalan ke sebongkah batu di tepi sendang. Batu hitam yang besar, setinggi pinggang, yang biasa Dira pakai untuk meletakkan tempayan ketika mengisinya. Batu yang sudah ada di sana sejak sebelum padepokan berdiri.

Gandawasa mengangkat tinjunya.

Dan memukulnya.

KRAAK.

Batu itu retak. Dari tempat tinju Gandawasa menghantamnya, retakan menjalar ke segala arah, seperti jaring laba-laba. Lalu sepotong batu sebesar kepala kerbau terlepas dari sisinya dan jatuh ke dalam sendang dengan bunyi BYUR yang keras.

Gandawasa menatap tinjunya. Buku-buku jarinya bahkan tidak lecet.

"Lihat?" kata Ki Wiradhana lembut. "Bakat."


Dira tidak bisa bernapas.

Ia merunduk di balik batu, di antara semak harendong, dengan kedua tangan mencengkeram lumut. Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut bunyinya terdengar sampai ke sendang.

Raga, pikirnya. Sepasar yang lalu Gandawasa masih abdi biasa. Belum berkultivasi. Tidak pernah berkultivasi. Dan sekarang dia memecahkan batu dengan tinju.

"Raga Puncak," bisik Ki Jalak. "Dalam tiga hari. Bocah, kau butuh tiga puluh hari untuk sampai ke Raga Puncak. Dengan aku di dalam dirimu. Dengan napas gunung di malam purnama."

Pil itu.

"Pil itu." Burung itu diam. Lalu, sangat pelan, dengan suara yang Dira belum pernah dengar dari Ki Jalak, suara yang kecil dan bergetar seperti suara anak burung yang jatuh dari sarangnya: "Bocah. Bau itu."

Apa?

"Aku pernah menciumnya."

Dira menoleh ke dalam. Ke Balai Sukma. Ke potongan dahan tempat Ki Jalak bertengger.

Burung jalak kebo itu gemetar. Seperti di candi tua, ketika ia pertama kali mendengar nama Kala Ireng. Bulu-bulunya mengembang. Sayapnya setengah terbuka. Matanya menatap ke suatu tempat yang jauh, yang tidak ada di Balai Sukma.

"Bau itu," bisiknya. "Besi dan madu busuk. Aku pernah menciumnya. Dulu sekali. Waktu dahan-dahan terbakar. Waktu ada yang tertawa di atas api."

Ki Jalak...

"Mereka membakar pohon itu dengan bau ini, bocah. Aku ingat sekarang. Asapnya. Asap yang naik dari akar-akarnya sebelum api datang. Asap merah gelap. Berbau besi dan madu busuk."

Sapu Angin melesat dari potongan dahannya dan merapatkan tubuhnya ke Ki Jalak, seperti di candi tua.

Dira menatap pil yang tinggal tiga di dalam kotak kayu hitam di pangkuan Ki Wiradhana.


"Pulanglah," kata Ki Wiradhana kepada Gandawasa. "Lewat jalan patah kaki. Jangan bicara kepada siapa pun. Kalau ada yang bertanya kenapa kau basah, bilang kau mandi di sendang. Murid yang mau ujian mandi di sendang setiap pagi. Tidak ada yang aneh."

Gandawasa mengambil bajunya dari atas batu. Ia memakainya. Lalu ia mulai mendaki jalan patah kaki. Pelan. Dengan langkah yang berat dan mantap.

Ke arah Dira.

Dira menunduk lebih dalam. Ia menahan napas. Ia memanggil Sapu Angin, dan burung sriti kecil itu, meski masih gemetar, mengerti. Udara di sekeliling Dira diam. Tidak bergerak. Tidak membawa baunya ke mana pun.

Langkah Gandawasa mendekat. Batu demi batu. Lima langkah. Tiga langkah. Ia lewat tepat di samping batu besar tempat Dira bersembunyi. Dira bisa mendengar napasnya. Napas yang panas dan tersengal, seperti napas kerbau yang terlalu lama di bawah matahari.

Lalu langkah itu berhenti.

Tepat di samping batu itu.

Dira tidak bergerak. Bahkan tidak berkedip.

Gandawasa berdiri di sana. Lama. Lalu ia berbicara. Pelan. Tanpa menoleh. Ke udara di depannya.

"Tempayanmu," katanya, "kau taruh di balik batu di tikungan kesembilan. Kelihatan dari jalan."

Lalu ia melanjutkan mendaki.

Langkahnya menjauh. Batu demi batu. Sampai hilang ke dalam kabut di atas sana.


Dira tetap di balik batu.

Ia tidak tahu berapa lama. Sampai napasnya kembali. Sampai jantungnya berhenti berdebar seperti kendang. Sampai kabut mulai menipis dan matahari mulai menembus putih dengan cahaya kuning pucat.

Lalu, dari bawah, dari batu datar di tepi sendang, terdengar suara.

"Ngger."

Lembut. Ramah. Seperti kakek yang memanggil cucunya dari teras.

Dira membeku.

"Kau bisa keluar sekarang," kata Ki Wiradhana. "Ganda sudah pergi. Dan aku sudah tahu kau di sana sejak kau berhenti di batu ke-tiga ratus." Ia terkekeh pelan. "Kau masih harus banyak belajar soal angin, ngger. Kau bisa menahan bau tubuhmu. Tapi kau tidak bisa menahan bau kain di lehermu. Getah pohon itu. Madu dan besi yang masih segar. Aku bisa menciumnya dari sini."

Dira menatap batu di depannya.

Lalu ia berdiri.

Ia berdiri di antara semak harendong, dua puluh langkah di atas sendang, dan menatap ke bawah. Ke laki-laki tua berjanggut putih yang duduk bersila di atas batu datar dengan kotak kayu hitam di pangkuannya. Kotak yang sudah tertutup lagi.

Ki Wiradhana menatapnya balik. Tersenyum.

"Pagi, ngger," katanya. "Kau mau mengisi tempayan?"

Dira tidak menjawab.

"Silakan." Ki Wiradhana bangkit dari batu. Pelan. Dengan tangan di lutut, seperti orang tua yang sendi-sendinya sudah lelah. Ia menyelipkan kotak kayu hitam itu ke balik beskapnya. "Airnya masih bagus. Sedikit hangat, tapi bagus. Hati-hati dengan batu di tepi itu. Ada yang retak."

Ia mulai mendaki jalan patah kaki. Ke arah Dira. Pelan. Batu demi batu.

Ketika ia lewat di samping Dira, ia berhenti. Ia tidak menoleh. Ia hanya menatap kabut di atas sana, ke arah padepokan.

"Kau mau menceritakan ini kepada siapa, ngger?" tanyanya lembut. "Kepada Nyai? Nyai yang bilang kau tidak boleh ikut campur? Kepada Ki Ageng? Dengan bukti apa? Seorang abdi kandang yang mandi di sendang, dan seorang tetua yang menemaninya pagi-pagi, dan pil jamu penguat untuk peserta ujian?" Ia terkekeh lagi. "Pil jamu penguat, ngger. Banyak tetua yang memberikannya kepada murid kesayangan mereka sebelum ujian. Itu bukan rahasia."

Ia menepuk bahu Dira. Pelan. Lembut.

"Dan kepada Ganda?" Suaranya menjadi lebih pelan lagi. "Kau sudah mencoba kemarin, kan? Di padang rumput. Bagaimana hasilnya?"

Lalu ia melanjutkan mendaki.

"Airnya jangan sampai tumpah, ngger," katanya tanpa menoleh. "Enam hari lagi. Seribu anak tangga. Aku ingin sekali melihatmu sampai di puncak."

Langkahnya menjauh. Lalu hilang.

Dira berdiri sendirian di jalan patah kaki, dengan kabut yang perlahan-lahan tersibak di sekelilingnya, dan sendang di bawah sana yang masih mengepul hangat.

Di dalam Balai Sukma, Ki Jalak masih gemetar.

"Bocah," bisiknya. "Asap itu. Asap yang membakar pohonku. Sekarang ada di dalam dada anak itu."