Sang Penelan Pusaka

Bab 109Gandawasa Mendaftar

Kandang kambing kosong ketika Dira sampai di sana.

Bukan kosong dari kambing. Kambing-kambing itu masih di sana, meringkuk di atas jerami, mengembik pelan ketika Dira berdiri di ambang pintu dengan pikulan di pundak dan dua tempayan yang baru setengah penuh dari perjalanan pertamanya ke sendang. Kosong dari yang lain.

Di sudut kandang, di tempat tikar pandan Mbah Sarju biasa terbentang, tempat Gandawasa tidur setiap malam selama secandra terakhir dengan kambing Ji di sampingnya, hanya ada jerami. Tikar itu sudah tidak ada. Buntelan kain Gandawasa sudah tidak ada. Kendi airnya, golok kecilnya, ikat kepala hitamnya yang dulu ia lilitkan di leher Dira, semuanya sudah tidak ada.

Hanya kambing Ji yang masih di sana. Berdiri di tengah tempat kosong itu dengan tanduk patah separuh, menatap Dira dengan mata jahatnya.

Ji mengembik. Sekali. Panjang. Tidak seperti embik marah. Tidak seperti embik puas setelah menceburkan Jlitheng ke kolam teratai. Embik yang lain. Embik kambing yang ditinggalkan.

"Dia pindah," kata sebuah suara di belakang Dira.

Pak Sarmun. Abdi kandang tua yang jarang berbicara. Ia berdiri di jalan setapak dengan seikat rumput di punggungnya, menatap kandang dengan wajah yang tidak menunjukkan apa-apa.

"Semalam," kata Pak Sarmun. "Ki Wiradhana datang sendiri. Bilang ada bilik kosong di belakang asrama tetua. Bekas bilik juru tulis yang sudah meninggal. Katanya peserta ujian butuh tidur yang baik. Tidak bisa tidur di kandang. Bau kambing mengganggu napas." Ia menurunkan ikatan rumputnya. "Ganda mengambil barang-barangnya dan ikut. Tidak bilang apa-apa ke aku. Tidak bilang apa-apa ke Ji."

Ji mengembik lagi.

"Kambing itu tidak mau makan dari tadi malam," kata Pak Sarmun. "Berdiri saja di situ. Menunggu."


Ji mengikuti Dira kembali ke dapur.

Dira tidak memanggilnya. Ia tidak menariknya. Ia hanya berbalik dan berjalan, dan ketika ia sampai di ambang pintu belakang dapur, ia menoleh, dan kambing bertanduk patah itu berdiri tiga langkah di belakangnya. Menatapnya. Seperti tidak ada yang aneh.

Dira masuk ke dapur. Ji masuk ke dapur.

Mbah Karta, yang sedang menanak nasi di tungku ketiga, menoleh. Ia menatap kambing itu. Kambing itu menatapnya.

"Kambing," kata Mbah Karta.

"Iya, Mbah."

"Di dapurku."

"Iya, Mbah."

Mbah Karta menatap Ji untuk waktu yang lama. Ji berjalan ke tungku ketujuh, berputar tiga kali di atas tikar Dira, lalu berbaring di sana. Kepalanya di atas kaki depannya. Matanya yang jahat terpejam.

"Sayurku," kata Mbah Karta, "akan bau kambing."

Lalu ia kembali menanak nasi. Ia tidak menyuruh Ji keluar.

Sore harinya, Dira melihat juru masak tua itu meletakkan semangkuk kecil kacang rebus di samping tungku ketujuh, di dekat kepala Ji, ketika ia mengira tidak ada yang melihat.


Dira menemukan Gandawasa di padang rumput di lereng bawah, menjelang tengah hari.

Ia masih menggiring kambing. Itu masih tugasnya. Ki Ageng menghukumnya membersihkan kandang selama secandra, dan secandra itu belum habis. Tetapi ia tidak lagi tidur di sana. Dan ia tidak lagi memakai jerami di rambutnya. Rambutnya basah, disisir rapi, diikat ke belakang dengan tali kulit yang baru.

Ia sedang duduk di atas sebongkah batu, menatap kambing-kambing yang merumput. Ia tidak menoleh ketika Dira datang. Tetapi bahunya menegang.

Dira berhenti di samping batu itu.

Mereka diam lama.

"Kakang mendaftar," kata Dira akhirnya.

"Kau keberatan?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kau datang?" Gandawasa masih tidak menoleh. "Kau mau bilang aku tidak boleh? Abdi kandang tidak boleh? Cuma abdi dapur yang boleh?"

"Tulisannya, Kakang."

Gandawasa terdiam.

"Nama Kakang di papan," kata Dira pelan. "Bukan Kakang yang menulis. Kakang tidak bisa menulis."

"Tidak," kata Gandawasa. "Aku tidak bisa menulis."

Ia akhirnya menoleh. Matanya merah. Bukan karena marah. Karena kurang tidur.

"Kau tahu siapa yang menuliskannya," katanya. "Kau melihat tulisannya. Kau pintar. Kau selalu tahu."

"Ki Wiradhana."

"Ki Wiradhana." Gandawasa mengangguk. "Dia datang ke kandang tiga malam yang lalu. Duduk di jerami. Di jerami, Dira. Tetua. Duduk di jerami di kandang kambing, di sampingku." Ia tertawa kecil. Tawa yang tidak terdengar senang. "Tidak ada tetua yang pernah duduk di sampingku. Tidak sekali pun. Dalam tiga belas warsa."


"Dia bilang dia ingat aku," kata Gandawasa.

Ia menatap kambing-kambing di padang rumput.

"Waktu aku pertama kali datang ke sini. Umur sembilan. Dari rumah Ki Brangas. Kurus. Penuh bekas cambuk. Takut pada semua orang." Ia diam sebentar. "Dia bilang dia melihatku di gerbang hari itu. Dan dia bilang dia melihat sesuatu di mataku. Bakat. Katanya, waktu itu dia ingin memasukkanku ke upacara pemilihan pusaka tahun itu. Supaya aku bisa jadi murid. Bukan abdi."

"Lalu?"

"Lalu Nyai Rukminiwati menolak." Gandawasa menatap Dira. "Ki Wiradhana bilang, Nyai bilang anak dari rumah Ki Brangas tidak boleh berdiri di depan altar. Anak dari rumah seperti itu sudah rusak. Anak dari rumah seperti itu hanya pantas jadi abdi."

Dira tidak bisa bernapas.

"Itu bohong," katanya.

"Kau tahu?"

"Nyai tidak akan..."

"Kau tahu?" ulang Gandawasa. Lebih keras. "Kau ada di sana? Tiga belas warsa lalu? Umurmu lima. Kau tidur di asrama anak asuhan. Kau tidak tahu apa-apa."

Dira terdiam.

"Ki Wiradhana bilang dia menyesal," lanjut Gandawasa. "Dia bilang dia seharusnya melawan Nyai waktu itu. Tapi Nyai sangat kuat. Nyai disayangi Ki Ageng. Jadi dia diam. Dan aku jadi abdi. Tiga belas warsa." Rahangnya mengeras. "Dan sekarang ada ujian. Dan dia bilang dia mau menebus kesalahannya. Dia bilang dia akan membantuku. Dia yang menuliskan namaku. Dia yang memberiku bilik. Dia yang..."

Ia berhenti.

"Dia yang apa, Kakang?"

Gandawasa tidak menjawab.


"Kakang," kata Dira. "Dengarkan aku."

"Aku sudah mendengarkanmu secandra ini." Gandawasa berdiri dari batu. Ia lebih tinggi dari Dira. Lebih lebar. Dulu, ketika ia masih kepala dapur, tubuhnya selalu membuat Dira merasa kecil. "Aku mendengarkanmu waktu kau bilang Joyokusumo menyembunyikan tulang ingkung. Aku mendengarkanmu waktu kau bilang Sutarga mencuri arak. Aku mendengarkanmu waktu kau menang melawanku di lumbung dan memilih kalah. Aku mendengarkanmu waktu kau pulang dari candi tua dengan lumpur di lehermu dan cahaya biru di bawahnya."

Ia menatap Dira lurus-lurus.

"Sekarang kau mau bilang apa? Ki Wiradhana jahat?"

"Dia orang yang membuat Gajahsora tertidur, Kakang."

"Kau punya bukti?"

Dira membuka mulutnya. Lalu menutupnya.

Ia punya. Ia mendengar Ki Wiradhana di candi tua. Ia melihat bekas cincin di telapak tangannya. Ia melihat matanya ketika Gajahsora jatuh tertidur di halaman. Ia melihat benang hitam yang mengalir dari balai pengobatan ke bilik-bilik tetua.

Tetapi ia tidak bisa mengatakannya. Nyai melarangnya. Apa pun yang kau dengar di candi itu, kau lupakan. Kau tidak akan menceritakannya. Kepada siapa pun. Dan benang hitam itu hanya bisa dilihat dengan mata yang terbuka bersama meridiannya. Mata yang tidak dimiliki Gandawasa.

"Kau selalu punya bukti, Dira," kata Gandawasa pelan. "Abu. Jelaga. Kaki kiri. Bayangan di air. Kau selalu punya bukti untuk semuanya." Ia diam sebentar. "Kalau sekarang kau tidak punya bukti, itu artinya cuma satu hal."

"Apa?"

"Kau tidak mau aku naik."


Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti batu ke dalam sumur.

"Itu tidak benar," kata Dira.

"Darmo," kata Gandawasa. "Tukiran. Dua abdi kandang. Kau menuliskan nama mereka di papan. Aku dengar dari Pak Sarmun. Mereka datang kepadamu, dan kau menuliskan nama mereka dengan aksara yang sangat rapi."

Dira terdiam.

"Aku berdiri di depan papan itu sore hari kelima," kata Gandawasa. "Lama. Kau melihatku. Aku tahu kau melihatku. Kau berdiri di ambang pintu belakang dapur dan menatapku." Suaranya bergetar sedikit. "Kau tidak memanggilku, Dira. Kau tidak menawarkan. Kau menuliskan nama Darmo dan Tukiran, tapi kau tidak pernah bertanya apakah aku mau kau menuliskan namaku."

Dira tidak bisa menjawab.

Karena itu benar.

Ia melihat Gandawasa berdiri di depan papan sore itu. Ia ingin memanggilnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan. Dan ia tidak memanggilnya.

"Bocah," bisik Ki Jalak. Suaranya sangat pelan. "Dia benar."

Aku tahu.

"Kau tidak salah karena tidak memanggilnya. Tapi dia juga tidak salah karena terluka."

"Ki Wiradhana yang bertanya," kata Gandawasa. "Bukan kau. Tetua yang selama ini kau bilang jahat. Dia duduk di jerami di sampingku dan bertanya, 'Ganda, kau mau namamu di papan itu?'" Ia menelan ludah. "Tidak ada yang pernah menanyakan apa yang aku mau, Dira. Tidak ayahku, yang menukarku dengan sekarung beras. Tidak Ki Brangas. Tidak Nyai. Tidak kau."


Ia berbalik. Ia berjalan beberapa langkah ke arah kambing-kambing. Lalu berhenti.

"Umurku dua puluh dua," katanya tanpa menoleh. "Ujian ini diadakan setiap tujuh warsa, kalau Ki Ageng menepati janjinya. Tujuh warsa lagi, aku dua puluh sembilan. Terlalu tua." Ia menatap langit. "Ini kesempatan terakhirku. Kau mengerti? Bukan kesempatan pertama. Kesempatan terakhir."

"Aku mengerti, Kakang."

"Tidak. Kau tidak mengerti." Gandawasa menoleh. "Kau delapan belas. Kalau kau gagal tahun ini, kau masih bisa ikut tujuh warsa lagi. Dan kau punya sesuatu di lehermu. Dan kau punya juru masak tua yang melatihmu di jalan patah kaki. Dan kau punya Nyai. Dan Satyaki. Dan Wulansari. Dan putra ketua yang mengawasimu dari pohon asam setiap hari supaya tidak ada yang memfitnahmu lagi." Ia diam. "Aku punya kambing."

Ia merogoh sesuatu dari balik bajunya. Lalu melemparkannya ke arah Dira.

Dira menangkapnya.

Tongkat. Tongkat kayu sawo. Dengan ujung berkain perca dan getah nangka yang keras. Rupanya Gandawasa membawanya di punggung, terselip di balik ikat pinggang.

"Simpan," kata Gandawasa. "Kau sudah tidak pincang. Aku sudah tidak di kandang. Tongkat itu tidak punya tempat lagi di tempatku."

Lalu ia berjalan pergi, menggiring kambing-kambing menuruni lereng, tanpa menoleh.


"Anak itu," kata Mbah Karta malam itu, "dijual sekali waktu umur sembilan."

Dira duduk di samping tungku ketujuh dengan tongkat di pangkuan. Ji berbaring di sampingnya, kepala di atas lutut Dira, mengunyah kacang rebus dengan mata terpejam.

Mbah Karta duduk di dingkliknya, mengupas bawang. Ia tidak menatap Dira. Ia menatap bawang di tangannya.

"Sekarang," katanya, "dia menjual dirinya sendiri."

"Mbah, aku harus menghentikannya."

"Bagaimana?"

Dira tidak menjawab.

"Kau tidak bisa membeli kembali orang yang menjual dirinya sendiri, Le." Mbah Karta mengupas lapisan bawang berikutnya. Pelan. "Orang yang dijual orang lain bisa ditebus. Dengan uang. Dengan beras. Dengan apa saja. Tapi orang yang menjual dirinya sendiri harus menebus dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa melakukannya untuknya."

"Kalau dia tidak bisa?"

Mbah Karta berhenti mengupas.

Ia tidak menjawab untuk waktu yang lama. Bara di tungku ketujuh berdenyut merah. Ji mengunyah kacang.

"Kalau dia tidak bisa," kata Mbah Karta akhirnya, "kau tetap di sana. Waktu dia jatuh. Supaya ada yang menangkapnya." Ia meletakkan bawang yang sudah dikupas ke dalam mangkuk. "Itu satu-satunya yang bisa kau lakukan. Itu satu-satunya yang pernah bisa dilakukan siapa pun untuk siapa pun."


Malam itu, Dira membaca angin seperti biasa.

Duduk bersila di samping tungku ketujuh. Mata tertutup. Mbah Karta sudah tidur, atau pura-pura tidur, jadi tidak ada yang membuka dan menutup pintu-pintu dapur. Dira hanya duduk dan merasakan udara. Mengalir dari celah-celah dinding gedek. Mengalir dari lubang di atap. Mengalir dari bawah pintu depan dan pintu belakang.

Lalu, menjelang tengah malam, udara itu berubah.

Bukan karena pintu dibuka. Karena sesuatu lewat di luar. Dira merasakannya di tengkuknya, di garis-garis telapak tangan kanannya. Aliran udara yang bergeser di luar dinding dapur, di jalan setapak antara dapur dan barak. Dua sosok. Berjalan pelan. Yang satu ringan. Yang lain berat.

Dan bersama aliran udara itu, menyelinap masuk lewat celah dinding, ada bau.

Minyak cendana. Beskap yang bersih. Dan di bawahnya, samar, sambal kemiri.

Bau yang lain. Bau tubuh yang berkeringat. Bau kambing yang belum sepenuhnya hilang meski rambutnya sudah dicuci.

Dan bau ketiga. Samar sekali. Hampir tidak ada.

Besi. Dan sesuatu yang manis. Seperti madu yang sudah lama membusuk.

Dira membuka matanya.

Ia bangkit. Pelan. Ji mengangkat kepala dan menatapnya. Dira berjalan ke pintu depan dapur. Ia tidak membukanya. Aturan Nyai. Ia hanya berdiri di baliknya dan mengintip melalui celah antara daun pintu dan tiang.

Di bawah cahaya bulan, di jalan setapak, dua sosok berjalan menjauh.

Ki Wiradhana di depan. Gandawasa di belakangnya.

Mereka tidak berjalan ke arah bilik-bilik tetua di timur. Mereka berjalan ke arah belakang padepokan. Ke arah lereng. Ke arah pintu butulan kecil di tembok belakang, pintu yang membuka ke mulut jalan patah kaki.

Ke arah Sendang Kalimas.

Di tengah jalan, Gandawasa berhenti.

Ia berdiri di sana, di bawah cahaya bulan, dengan punggung ke dapur. Diam. Seperti orang yang mendengar sesuatu di belakangnya.

Lalu ia menoleh.

Lurus ke arah dapur. Ke arah pintu depan. Ke celah sempit antara daun pintu dan tiang, tempat Dira berdiri di dalam gelap.

Dira tidak tahu apakah Gandawasa bisa melihatnya. Tidak mungkin. Celahnya terlalu sempit. Dapurnya terlalu gelap.

Tetapi Gandawasa menatap ke sana. Lama.

Lalu Ki Wiradhana, di depannya, berhenti juga. Ia tidak menoleh. Ia hanya berbicara. Pelan. Satu kata. Dira tidak bisa mendengarnya.

Gandawasa berbalik. Ia mengikuti Ki Wiradhana ke pintu butulan. Pintu itu terbuka tanpa suara. Mereka melangkah keluar. Pintu itu tertutup lagi.

Dira berdiri di balik pintu dapur dengan tangan yang gemetar.

"Sendang Kalimas," bisik Ki Jalak.

Aku tahu.

"Tempat kau turun setiap fajar."

Dira menatap tempayan-tempayan kosong yang bersandar di dinding di samping pintu belakang. Lalu menatap lubang di atap dapur, tempat langit malam masih hitam pekat.

Fajar masih lama.

Ia kembali ke tikarnya. Ia duduk. Ia tidak tidur.